Pidato Presiden

Sambutan Acara Pertemuan dengan Peserta Munas Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Seluruh Indonesia (APETISI)

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN PESERTA MUNAS
ASOSIASI PERGURUAN TINGGI SWASTA SELURUH INDONESIA (APETISI)
ISTANA NEGARA, 13 JULI 2007



Bismillahirrahmairrahiim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati Saudara Menko Kesra, Mendiknas dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Ketua Umum APETISI dan para Pengurus Pusat APETISI, para Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta,

Hadrin sekalian yang saya muliakan,
Marilah pada kesempatan yang membahagiakan dan Insya Allah penuh berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas rahmat dan ridho-Nya kepada kita masih diberi kesempatan dan kekuatan untuk melanjutkan karya kita, tugas kita, dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.

Saya selalu merasa senang, berbahagia, dan bersemangat setiap kali bertemu dan bertatap muka dengan para pendidik. Bukan hanya pendidik adalah profesi yang mulia, bukan hanya seorang pendidik, apakah guru, dosen, telah banyak memberikan pengabdian, bahkan sering disertai dengan pengorbanan kepada rakyat kita, anak didik kita, tetapi kalau kita bicara masa depan bangsa, berarti kita bicara dunia pendidikan. Kalau kita bicara manusia Indonesia yang unggul, kita berpikir pendidikan dan kalau kita ingin benar-benar meningkatkan daya saing bangsa untuk mengarungi tantangan abad 21 ini, maka jawabannya adalah peningkatan kualitas pendidikan kita. Oleh karena itu, marilah kita gunakan kesempatan yang baik pagi ini untuk bersama-sama meningkatkan semangat pengabdian, komitmen, tanggung jawab, kreativitas, dan inovasi kita untuk memajukan dunia pendidikan di tanah air, sekali lagi dalam rangka membangun keunggulan dan daya saing manusia dan bangsa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Saya tentu harus mengucapkan selamat atas selesainya Musyawarah Nasional APETISI yang ke-3 dan selamat atas terpilihnya Ketua Umum dan para Pengurus dalam Masa Kepengurusan 2007-2011. Harapan saya, harapan kita semua, semoga pengurus baru ini benar-benar dapat memimpin asosiasi ini sebaik-baiknya, sehingga manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh anggota APETISI, tetapi untuk mengembangkan dunia pendidikan, utamanya perguruan tinggi swasta di seluruh tanah air.

Hadirin sekalian yang saya cintai,
Saya telah mendengar tadi apa yang disampaikan oleh Pimpinan APETISI dan Menteri Pendidikan Nasional dan tentunya kalau itu merupakan kewajiban dan tugas Mendiknas, saya minta ditindaklanjuti, direspon secara konstruktif dan dipenuhi apa yang dapat dipenuhi oleh Pemerintah untuk memajukan pendidikan swasta di negeri ini, utamanya perguruan tinggi swasta, tentu dalam batas-batas kemampuan kita dan lazimnya dilaksanakan secara bertahap. Tetapi bahwa itu menjadikan prioritas adalah satu kewajiban.

Yang kedua, saya ingin mengajak Saudara untuk sedikit back to basic, apa sesungguhnya yang menjadi misi besar dari dunia pendidikan kita. Tentunya perguruan tinggi swasta memiliki peran yang sangat penting, melihat jumlah mahasiswa yang dididik dan peran-peran yang disebutkan tadi, terutama menghadapi tantangan masa kini, baik di dalam negeri maupun dalam percaturan dan kerjasama global.

Saudara-saudara,
Dari satu perspektif, kita bisa melihat dimensi atau arena pendidikan dari 3 sudut dan ini sudah saya renungkan, saya konklusikan, setelah kita sama-sama mengelola dunia pendidikan di negeri ini. Dalam karier pertama saya, sebelum saya masuk dunia politik dan pemerintahan kurang lebih selama 30 tahun, 5-6 tahun saya berkecimpung dan sangat aktif dalam dunia pendidikan, baik sebagai instruktur maupun sebagai dosen. Oleh karena itu, beberapa terminologi, saya kira sudah sama-sama kita pahami, memudahkan saya untuk berbicara dengan Saudara-saudara menggunakan bahasa pendidikan, bahasa seorang pendidik, bahasa seorang yang ingin pendidikannya makin berkualitas.

Arena pertama atau dimensi pertama, pendidikan sebagai hak dasar, hak azasi manusia. Negara berkewajiban untuk memenuhi salah satu hak dasar manusia itu. Itulah sebabnya kita terus-menerus dan pemerintahan yang saya pimpin ini benar-benar meletakkan pendidikan sebagai prioritas yang tinggi dengan anggaran yang makin kita tingkatkan dan berbagai aktivitas yang benar-benar ingin memberikan ruang, peluang bagi peserta didik untuk mengikuti, terutama pendidikan dasar 9 tahun.

Setiap saya datang ke daerah-daerah Saudara-saudara, mungkin saya jarang masuk ke perguruan tinggi, hanya beberapa yang saya datangi. Tetapi hampir pasti, ketika kesempatan ada saya datangi, kadang-kadang secara mendadak sekolah-sekolah dasar, sekolah-sekolah menengah pertama, karena bagi saya kepedulian kita untuk mengembangkan pendidikan dasar ini adalah memenuhi rasa keadilan, justice bagi rakyat kita, terutama saudara-saudara kita yang miskin dan setengah miskin, the poor and the near poor. Negara memiliki kewajiban moral untuk betul-betul memberikan atensi yang tinggi. Apabila mereka mengenyam pendidikan dasar, maka mereka akan memiliki pengetahuan dasar, keberdayaan yang cukup untuk hidup dalam kesehariannya. Barangkali bisa memiliki modal awal untuk memilih profesi tertentu, bisa berpartisipasi, tidak dieksploitasi oleh siapa pun secara tidak adil. Ini arena pertama.

Arena yang kedua adalah pendidikan dalam konteks peningkatan ekonomi dan kesejahteraan nasional. Satu dimensi yang tidak boleh kita abaikan. Oleh karena itu, di berbagai kesempatan, saya minta triangle ini, tripartit ini betul-betul dihidupkan. Satu the government, the policy makers misalnya Mendiknas dan unsur pemerintahan yang lain. Yang kedua adalah lembaga pendidikan itu sendiri, the schools dalam arti luas. Yang ketiga adalah the market, the industry. Mereka yang akan menyerap hasil didik dari lembaga pendidikan kita, termasuk perguruan tinggi swasta. Tidak boleh ada miss match di sini. Oleh karena itu, saya senang kalau Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi juga diundang, agar bisa diberikan peta tenaga kerja, peta kebutuhan labour, baik yang skill maupun unskill atau semiskill untuk tahun-tahun ini, 5-10 tahun mendatang. Dengan demikian, klop betul apa yang di-design oleh Pemerintah dalam bentuk policy dan supporting policy, termasuk anggaran, infrastruktur dan lain-lain. Dengan yang di-design dan diselenggarakan di lembaga pendidikan itu, kurikulumnya dan aspek-aspek lain dari sistem pendidikan dan klop dengan apa yang dibutuhkan oleh pasar, oleh the market, sehingga dengan demikian meskipun di negara manapun selalu ada pengangguran, termasuk pengangguran intelektual. Tapi harapan kita anatominya baik, cukup simetris, jangan sampai ada satu lulusan pendidikan atau perguruan tinggi yang sekian puluh persen tidak terserap oleh pasar.

Sebaliknya ada cabang-cabang profesi yang diharapkan oleh dunia industri, dunia jasa, dunia pertanian modern dan lain-lain tidak terpenuhi oleh hasil didik dari perguruan tinggi swasta. Ini penting teruslah bersinergi, hidupkan tripartid ini. Dan nanti acara-acara berikutnya, Saudara Suharyadi, tolong diundang Menteri-menteri terkait, pimpinan-pimpinan barangkali dunia usaha dan siapa saja untuk betul-betul perguruan tinggi tahu peta kebutuhan dari jobs. Dengan demikian, apa yang saudara lakukan untuk anak didik kita, para mahasiswa kita itu betul-betul part of job creation. Ini satu langkah sudah dilompati daripada nanti kita yang mencetak saja, mendidik saja, ternyata surplus pada sarjana-sarjana tertentu, defisit pada sarjana tertentu di tempat lain, keliru.

Saya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, mari mulai sekarang kita hidupkan betul tripartid ini. Dengan demikian, antara supply dan demand pas betul, skill yang diperlukan, apa yang saudara berikan juga betul. Knowledge yang sangat penting untuk mendorong ekonomi kita, pembangunan negeri kita klop juga dengan yang saudara design dalam kurikulum dan metodelogi yang ada di lembaga pendidikan saudara, itu arena kedua.

Dan arena ketiga yang menjadi tema Munas APETISI kali ini, kalau tidak salah judulnya peningkatan daya saing global perguruan tinggi swasta. Tidak keliru, karena kita hidup dalam perkampungan dunia, kita hidup dalam era globalisasi yang selalu menghadirkan persaingan atau kompetisi yang keras, kadang-kadang kejam dan tidak adil, di satu sisi kerjasama atau kemitraan yang bisa memberikan kebaikan bagi kita, manfaat bagi kita. Itulah keniscayaan dan realitas globalsasi. Oleh karena itu, kalau jawabannya tidak usah teriak kesana kemari, tidak usah menuding dan salah- menyalahkan siapa-siapa, mari kita bikin kompetitif negara kita lebih unggul, lebih berdaya saing dan siap berlaga di forum manapun juga dalam kerjasama global. Itu adalah positive thinking, positive approach. Kalau terus berpikirnya begitu, yakin saya 5, 10, 15 tahun negara kita akan makin maju, akan makin berdaya saing karena cara berpikir kita, berpikir yang sehat, yang rasional, yang betul-betul, agar kita menang kita harus kuat, kuat dalam arti kompetitif dan memiliki keunggulan-keunggulan. Oleh karena itu, saya cocok dengan tema ini dan nanti di bagian akhir, saya singgung sedikit bagaimana letak kita dalam global competitiveness dynamic-lah begitu.

Saudara-saudara hadirin yang saya cintai,
Sedikit kalau kita merenung kembali, refleksi back to basic dari apa yang menjadi tugas kita bersama. Kalau kita bicara apa kriteria, sumber daya manusia yang unggul, human resources, human capital yang unggul, yang berdaya saing, yang top itu seperti apa. Pertama-tama, ini yang sering dimengerti oleh banyak kalangan, tentu kecerdasan, knowledge and skills. Kecerdasan ini, orang mengatakan bukan hanya kecerdasan intelektual, tapi juga kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Apapun definisinya, tapi kita memang ingin meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, dan ketrampilan manusia-manusia Indonesia melalui pendidikan, cerdas.

Yang kedua, bagaimanapun bangsa kita harus sehat dan kuat, physically. Saya datang ke perbagai penjuru tanah air, di desa-desa, di Kecamatan inilah PR kita untuk betul-betul pendidikan, kesehatan kita berikan perhatian yang setinggi-tingginya dengan anggaran yang makin besar, agar di seluruh negeri ini manusia Indonesia, anak-anak kita, siswa kita, mahasiswa kita sehat dan kuat jasmani dan rohani. Kalau mereka sakit, lemah, tentu memiliki produktivitas yang rendah. Jangan lupa, pendidikan dalam arti umum juga membikin mereka sehat, kuat badannya.

Yang ketiga adalah moral yang baik, budi pekerti yang baik. Tentu akan merugi kalau kita punya anak-anak yang cerdas, tapi tidak memiliki budi pekerti yang baik yang juga berlaku di negara manapun juga. Oleh karena itu, komponen kurikulum, komponen pengasuhan dari pendidikan juga harus bisa menciptakan sikap dan perilaku, creating the values and behavior, bukan hanya transferring knowledge kepada anak didik kita.

Yang keempat, yang harus kita bangun manusia Indonesia, manusia yang bersemangat, yang ulet, yang mau bekerja keras, tough, bukan menjadi shock nation, shock people, mudah menyerah, menggerutu, menyalahkan, tidak. Kuat, ulet. Lihat bangsa Korea tidak mau kalah sama Jepang, dikejar dan bangsa-bangsa lain so competitive, hard work, ini kurang berhasil jalan lagi, gagal, jalan lagi, masih gagal keempat berhasil. Metodelogi kita, kurikulum kita, pengasuhan kita harus mampu sedini mungkin sejak Taman Kanak-Kanak, SD, SMP dimatangkan pada Perguruan Tinggi, agar manusia Indonesia tough. Kalau bangsa kita menjadi bangsa yang shock tidak jadi apa-apa, 10 tahun tidak banyak berubah negeri kita dari sekarang ini. Kita harus tidak boleh berkompromi kepada karakter dari bangsa yang seperti itu.

Yang kelima, untuk melengkapi semuanya karena manusia-manusia itu hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dan Indonesia sangat majemuk kita tahu semuanya, maka pendidikan kita harus bisa menghasilkan, mencetak manusia-manusia yang berkarakter, rukun satu sama lain, bersatu, toleran. Penting karena social capital ini seringkali menjadi kunci dari keberhasilan, setelah kita punya semuanya. Kita dianugerahi Tuhan Yang Maha Kuasa sumber daya alam yang besar, natural resources, natural capital. Kita Alhamdulillah membangun sejak mendiang Bung Karno sampai sekarang ini banyak sekali infrastruktur, hasil-hasil pembangunan physical capital. Manusianya makin bagus terima kasih pada Saudara-saudara, human capital. Keuangan makin bergerak sekarang ini, financial capital. Satu lagi, kalau masyarakatnya cerai-berai, masyarakatnya terpecah-pecah, tidak kompak, tidak rukun, ada satu capital yang lepas yaitu social capital. Oleh karena itu, pendidikan pun harus bisa membentuk karakter begitu dia masuk ke masyarakat tidak egois, tidak individualistik, independen memang untuk independen itu tidak sama dengan egois, tidak sama dengan individualis. Independen, saya bisa harus begini, tapi mesti rukun, mesti bersatu dengan yang lain-lainnya. Tolong 5 hal ini, meskipun lebih banyak porsinya pada pendidikan dasar, tapi Perguruan Tinggi masih bertanggung jawab untuk membulatkan, untuk mematangkan karakter-karakter yang diharapkan dari manusia yang unggul tersebut.

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Dari cerita itu semua, maka jawabannya sudah kita ketahui semua, bagaimana cara Indonesia, cara kita semua menuju ke tingkat keunggulan manusia dan daya saing bangsa seperti itu. Solusinya adalah kualitas pendidikan kita harus baik, kualitas pendidikan kita harus meningkat dari masa ke masa, guess the answer, guess the solution dan mari kita jalankan secara bersama.

Untuk betul-betul memiliki kualitas pendidikan yang baik, ada beberapa unsur. Yang pertama, saya titip saja Saudara-saudara, sistem pendidikannya tolong, Mendiknas ada disini betul-betul yang credible. Memilih kurikulum jangan sekedar dari dulu begini kok, 60-an juga begini, 70-an begini. Lihat dulu apakah yang diajarkan itu pas dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat kita, ekonomi kita, cabang-cabang profesi di negeri ini. Metodologinya seperti apa dan kemudian evaluasinya juga seperti apa, harus klop satu mata rantai. Apa yang diajarkan, bagaimana mengajarkan, apa yang diujikan untuk mengetahui mereka semua. Sinergi tadi, tripartid tadi bisa menjadi bahan untuk sebuah updating kurikulum, dikemas kinikan, diubahsuaikan kurikulum itu, agar pas betul dengan kebutuhan.

Unsur yang lain adalah infrastruktur. Tugas Pemerintah, Pak Bambang Sudibyo dan kita semua. Pak Ical, makin banyak alokasi anggaran kita untuk membangun infrastruktur, bukan hanya bangunan-bangunannya, tapi juga sarana dan prasarana yang lain.

Kualitas pengajaran, termasuk kuantitasnya, termasuk kesejahteraanya. Ini juga menjadi PR sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, penerimaan negara, peningkatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta daerah, kita akan terus-menerus meningkatkan kesejahteraan ini. Dan anggaran pendidikan saya setuju, tidak ada yang tidak setuju di ruangan ini untuk terus meningkatkan anggaran pendidikan mencapai apa yang telah diamanatkan oleh konstitusi kita.

Kalau Saudara seperti saya, melihat kertas seperti ini dengan berapa pertumbuhan ekonomi kita, berapa GDP kita, berapa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara kita tahun ini sekitar 659 trilyun, tahun depan sekitar 750 trilyun. Kita coba lihat Saudara-saudara, jumlah itu untuk bayar utang 130 trilyun, cicilan dan bunga. Untuk subsidi bahan bakar minyak, utamanya minyak tanah dan solar, plus listrik, plus subsidi pupuk dan yang lain-lain, itu jumlahnya 100 trilyun. 200 trilyun, sudah capted itu tinggal sebagian. Sebagian lagi dengan desentralisasi dan otonomi daerah, dengan desentralisasi fiskal, saya serahkan kepada Gubernur, Bupati, Walikota yang jumlahnya cukup besar DAU, DAAK, bagi hasil dan lain-lain, tinggal sisanya, untuk rutin. Sisanya baru untuk anggaran belanja modal dan belanja barang. Itu baru dari struktur dari APBN kita.

Harapan kita, makin ke depan hutang makin kecil, pajak makin banyak, penerimaan makin banyak, subsidi makin selektif yang betul-betul untuk rakyat bukan untuk yang lain-lain. Dengan demikian more healthy, lebih sehat. Kemudian juga, beliau datang, ”Pak, ini amanah konstitusi”. Setuju. ”Pendidikan penting 200 %. Ini untuk membantu semua”. Bagus sekali. Datang Menteri Pertanian, ”Pak ini pangan, pupuk”. Datang Menteri Kelautan, ”Pak, ini nelayan kasihan”. Datang Menteri Kesehatan, ”Pak, bidan daerah terpencil”. Semua penting, penting dan sebagainya. Tetapi tetap pendidikan prioritas, pendidikan paling penting. Oleh karena itu, percayalah bahwa Pemerintah dengan segala pikiran yang jernih, rasional yang tinggi, tentu ada wisdom juga untuk mengelola, menata anggaran ini, sehingga lebih adil menjangkau ke depan.

Saudara-saudara,
Tadi bicara Pak Bambang Sudibyo Alhamdulillah perguruan tinggi kita sudah masuk 500 besar dunia begitu kan, 300 besar lebih dunia gitu, ya lebih bagus daripada tidak masuk kemana-mana begitu. Tapi ada juga good news, jadi bangsa itu jangan senang memperolok-olok diri sendiri, kita ini jelek, bangsa lain hebat, tunggu dulu, jangan. Kita punya banyak kelebihan, kita punya banyak keunggulan. Negara lain tidak semuanya baik, banyak yang tidak bagus, termasuk negara-negara maju banyak yang tidak bagus. Kenapa kita harus tidak membanggakan diri sendiri, nilai kita, jati diri kita, keunggulan kita, budaya kita, peradaban kita dan lain-lain. Tolong bahwa kita ini ingin terus maju, iya. Bahwa kita ingin menata dan memperbaiki diri, iya, tetapi jangan kita merasa kita ini yang paling buruk di dini.

Contohnya, pada tahun 2006-2007 diukur yang disebut dengan global competitiveness index yang dilakukan oleh World Economic Forum dengan metodologi, dengan instrumen, dengan cara-cara yang reliable. Dari 125 negara, posisi kita adalah peringkat 50, not bad 50. Dibandingkan sebelumnya naik 19 peringkat. Kemudan dari segi quality of educational system, kualitas sistem pendidikan tolong didengarkan, dari 125 negara, saya ulangi dari 125 negara, kita nomor 23. Yang di atas kita, ASEAN hanya 2, Singapura nomor 2, Malaysia nomor 10, kita nomor 23 dan 7 anggota anggota ASEAN lain di bawah kita. Not bad, moving, getting better. Mari kita jadikan semangat, kita bisa lebih bagus lagi. Sistem tahun depan, tahun depannya lagi, 5 tahun lagi liat Indonesia. Baik, ada opportunity, kita punya kemampuan untuk bangkit dan lebih bagus, percayalah. Mari kita jemput dan kita lakukan seperti itu.

Kalau Saudara ingin tahu sedikit, bagaimana sebuah daya saing diukur, menggunakan metodologi yang ada dalam World Economic Forum itu, ada 9 pilar, 9 ukuran untuk mengukur daya saing sebuah bangsa.

Yang pertama, institution, pemerintahannya, rules of law-nya, praktik dalam kehidupan dan segala macamnya itu. Yang kedua, infrastructure seluruh tanah air. Yang ketiga macro economy. Macro ekonomi bukan hanya growth, unemployment, inflation, balance of payment, tetapi juga sebagai contoh bagaimana daya tabung, saving rate-nya, interest rate-nya, stock market-nya, currency stability-nya, research-nya dan lain-lain. Untuk Indonesia Alhamdulillah, makin baik meskipun tidak saya jelaskan, silahkan lihat sendiri dibandingkan dari tahun ke tahun, utamanya sejak kita mengalami krisis. Kita syukuri meskipun harus terus kita lanjutkan.

Yang keempat, health and primary education masuk dari situ mulainya. Oleh karena itulah, kalau kita punya program besar-besaran pengurangan kemiskinan yang terus meningkat anggarannya, berobat gratis bagi yang miskin, pendidikan yang gratis tapi yang betul-betul miskin dengan scheme tertentu untuk itu.

Yang kelima, higher education and training. Bapak/Ibu sekalian masuk pilar, lulusan perguruan tinggi specialized training juga sangat penting. Yang keenam, market effciency. Market efficiency ini luas sebetulnya, kompetisinya bagaimana, size-nya bagaimana, pelaku-pelakunya seperti apa dan lain-lain. Technologycal readiness. siap enggak secara teknologi. Tadi IT akan dibantukan, salah satu untuk menjemput teknologi yang makin tinggi. Yang kelima, business of investigation, bagaimana sebuah dunia usaha berkembang di negara itu. Dan yang terakhir, less but not least, innovation. Apakah kita menghargai penelitian, pengembangan, penemuan dan lain-lain.

Saya baru berbicara di BATAN, saya bicara di banyak tempat, saya tantang, saya challenge para peneliti, para researchers, tolong ubah negeri ini dengan penelitian, pengembangan dan inovasi, bisa, bisa. Insya Allah dalam waktu dekat, tahun-tahun mendatang, kita akan mengaplikasikan penemuan-penemuan, baik di bidang pangan, di bidang energi, di bidang lain-lainnya, yang merupakan komoditas utama bagi bangsa kita. Cerdas-cerdas orang Indonesia. Barangkali belum tertantang, saya menantang daripada ditantang oleh negara lain. Tantang dalam arti, saya berikan kesempatan, ruang, penghargaan, semua untuk menggunakan kecerdasannya, inovasi, kreativitasnya, daya inovasinya untuk menciptakan sesuatu.

Kalau sekarang ini, tahun-tahun lalu, produktivitas padi itu 6 ton per hektar rata-rata nasional, mesti harus bisa 10 ton nantinya dan lebih tinggi lagi. Sekarang varietas unggul ditemukan oleh banyak pihak ada 12 ton, 13 ton, ternyata bisa untuk itu. Kemudian juga, bagaimana kita bisa membikin bahan bakar yang hemat, bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, bahan bakar yang berangkat dari komponen-komponen yang lebih ada, lebih kita memiliki ternyata juga mulai muncul penemuan itu, kita dorong.

Hadirin sekalian,
Akhirnya terhadap yang diusulkan oleh Pimpinan APETISI tadi, badan hukum pendidikan saya kira, saya sudah mengeluarkan Ampres, Pak Bambang sudah mengikuti terus untuk pembahasan yang tuntas, sehingga kita memiliki Undang-undang tentang badan hukum pendidikan. Lantas Saudara concern pada unemployment ya, pengurangan kemiskinan, pengurangan pengangguran, peningkatan pendapatan rakyat, pertumbuhan ekonomi among others adalah prioritas kita. Dan itu bisa kita kurangi kalau ekonomi tumbuh. Ekonomi bisa tumbuh, kalau antara lain investasi bisa berkembang.

Saudara menggarisbawahi investasi, good news memang realisasi dan persetujuan investasi tahun lalu dan tahun ini mengalami peningkatan yang tajam. Kalau persetujuannya luar biasa, karena naik 5 kali lipat untuk yang PMA kemudian naik 1 kali lipat untuk yang domestik. Untuk realisasinya, ada pertumbuhan sekitar 17% untuk yang asing, cukup tinggi ini, kemudian juga ada sedikit pertumbuhan di dalam negeri malah naik 154% realisasinya. Ini menurut saya harus kita dorong supaya growth terjadi, employment bisa diciptakan. Kemiskinan, saya setuju. Tolonglah menjadi salah satu darma perguruan tinggi swasta untuk ikut dalam mengurangi kemiskinan masyarakat.

Anggaran pengurangan kemiskinan Bapak/Ibu, Saudara-saudara untuk diketahui tahun 2004 dulu sudah 19 trilyun kita anggarkan, 2005 sudah 24 trilyun, 2006 itu naik 42 trilyun, tahun ini 51 trilyun, Insya Allah tahun depan 57,5 trilyun. Ini penting, supaya betul-betul lebih adil, lebih merata pertumbuhan ekonomi kita. Pertama kali dalam sejarah sejak krisis, Saudara tahu sebelum krisis era Pak Harto dulu pertumbuhan 6-7% per tahun, krisis minus 13 % konstraksi sekitar 21 %. Setelah itu bergulat kita semua terus gitu sejak Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega, saya lanjutkan sekarang. Tahun 2004 akhir, saya mengemban amanah, sudah sedikit promising 5,1%, dua tahun berturut-turut 2005-2006 6,55% dan tahun 2007 ini, triwulan pertama sudah tembus 6 %.

Kalau ini bisa kita pertahankan tahun 2007, pertumbuhan kita 6 atau 6 sekian berarti kita back to pre crisis levels. Pertumbuhan ini bukan pertumbuhan itu sendiri, tapi komponen-komponen sertaannya dan pengaruhnya untuk menggiatkan semuanya. Kalau ekonomi tumbuh 6%, maka kumpulan dari konsumsi, pengeluaran Pemerintah, ekspor dan investasi, ya 6% itu. Kalau ekonomi tumbuh 6%, agregat pertumbuhan sektor riil ya 6% itu. Jangan keliru, makro ekonomi bagus, mikronya hancur. Fundamentalnya kuat, sektor riil kolaps. Baca utuh pengertian dari ekonomi, termasuk apa arti dan statistik yang menyertai dari pertumbuhan itu semua. Saya kira para ekonom di sini juga memahami tentang konteks itu semua.

Yang ini harus bersama-sama kita pelihara dan kita tingkatkan. Kemudian bantuan untuk swasta tadi untuk PTS, ICT, semua sudah kita catat. Dan Mendiknas tentu, sebagaimana saya instruksikan segera dipelajari apa yang segera bisa dibantu, dibantu sesuai dengan sistem dan policy yang kita anut secara bersama. Yang terakhir Bapak/Ibu menginginkan wira usaha, entrepreneurship itu betul-betul ditingkatkan.

Dua hari yang lalu, saya membuka sebuah Produk Gelar Budaya di Jakarta. Saya kenalkan yang saya sebut dengan ekonomi gelombang keempat atau new economy. yang intinya bidang, pertanian, industri dan jasa, yaitu yang saya sebut dengan creative economy, termasuk ekonomi yang berbasiskan warisan budaya, warisan sejarah dan keindahan alam, heritage economy, environment based economy. Itu diperlukan orang-orang yang punya ideas, punya daya inovasi, punya kreativitas yang setinggi-tingginya. Indonesia kaya, sangat kaya. Sebenarnya kalau ada waktu, baik menonton Gelar Produk Budaya yang sekarang masih ada di Jakarta Convention Centre.

Saya ini pencinta produk seni, produk budaya handicraft, arsitektur, batik dan lain-lain. Sejak muda Bapak/Ibu senang mengoleksi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dulu tahun 70-an produk luar negeri dengan Indonesia itu agak jauh. Tahun 80-an Indonesia mulai naik, 90-an makin naik. Sekarang, kita justru maksud saya banyak, banyak handicraft kita, produk seni kita yang jauh lebih baik dibandingkan negara-negara lain. Ini memerlukan pengembangan lebih lanjut dan memerlukan kreativitas, creative economy. Tolong nanti dalam kurikulum, dalam metodologi, dalam praktek, dalam apapun, jangan dilupakan dimensi ini, sehingga nanti kiata akan lengkap sudah ekonomi kita secara luas, baik pertanian, industri, jasa maupun ekonomi kreatif yang saya sampaikan tadi.

Itulah Saudara-saudara yang dapat saya sampaikan. Dan saya ucapkan selamat untuk melanjutkan karya dan pengabdian Saudara. Dan bagus untuk tidak menunggu 4 tahun lagi baru melaksanakan pertemuan-pertemuan. Tiap tahun, kalau bisa pertemuan bagus dan tolong pertemuan itu yang tentu membawa manfaat, terus mencari, mencari apa yang bisa dilakukan untuk mengembangkan PTS, mengembangkan pendidikan dan kontribusinya untuk pembangunan bangsa, termasuk ekonomi kesejahteraan.

Demikianlah Saudara-saudara. Selamat berjuang, Tuhan beserta kita, selamat kembali ke daerah masing-masing. Sampaikan salam saya kepada seluruh civitas akademika.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan