Pidato Presiden
Sambutan Peresmian Pabrik PT Caprifarmindo Laboratories
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PABRIK
PT CAPRIFARMINDO LABORATORIES
BANDUNG, 16 JULI 2007
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menko Kesra, Saudari Menteri Kesehatan dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Pimpinan Badan POM dan BKPM,
Badan POM ini bertanggung jawab atas tersedianya obat-obatan dan makanan yang berkhasiat, yang berkualitas, yang terjangkau harganya dan tentunya membawa kebaikan kita semua. BKPM, seperti yang disuarakan anak-anak kita yang cantik-cantik dan tampan-tampan tadi, bertanggung jawab untuk mengembangkan investasi, utamanya investasi dalam negeri.
Saudara Gubernur Jawa Barat dan para Pejabat Negara dan Pejabat Pemerintahan yang bertugas di Jawa Barat, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif, maupun TNI dan Polri, Saudara Bupati Bandung dan Bandung Barat,
Yang saya hormati Pimpinan Muhammadiyah, Prof. Dien Syamsudin, Pimpinan Ikatan Dokter Indonesia, Mantan Gubernur, beliau hadir di sini, para Pengusaha Industri Farmasi, para Pimpinan Perguruan Tinggi, para Tokoh Masyarakat, Pemuka Agama, Usahawan dan utamanya, tuan rumah kita yang amat berbahagia, Pimpinan PT Sanbe Farma dengan jajarannya yang telah berbakti dan mengabdi kepada bangsa, negara yang telah mengembangkan industri farmasi ini.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Saya mengajak Hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
Sebelum saya melanjutkan sambutan saya pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, saya ingin menyampaikan satu, dua pengantar. Dulu saya sangat sering datang ke Padalarang, karena selama lebih kurang 30 tahun saya bertugas di karier pertama sebagai Perwira TNI, 15 tahun atau separuh kurang lebih, saya bertugas di sekitar Bandung di Dayeh Kolot, di Cimahi dan juga di Cibangkong, di Gatot Subroto. Masa itulah saya sering mondar-mandir, Jakarta-Bandung, pertama naik bus sampai pangkat-pangkat Letnan atau Kapten begitu. Kemudian baru punya mobil kecil-kecilan, sering pula kereta api. Dan ketika lewat Padalarang hampir pasti, saya berhenti di tahu Sumedang, di pinggir jalan, sebelah kiri Pak Gubernur itu, langganan saya itu. Apa masih ada sekarang? Mudah-mudahan masih, Insya Allah, sampaikan salam saya kepada beliau, karena telah memberikan semangat kepada saya dulu sebagai prajurit yang membeli tahu, yang memang hobi saya, khasiatnya tinggi dan harganya murah. Saya tentu melihat perkembangan yang sangat cepat Pak Gubernur, dari Jawa Barat, Bandung, Bandung Barat dan mudah-mudahan teruslah berkembang, sehingga negeri kita ini makin sejahtera untuk rakyat kita semua.
Pengantar saya yang kedua, saya betul-betul merasa berbahagia dengan apa yang dinyanyikan anak-anak kita tadi, yang mencerminkan Indonesia kita, dengan lagu-lagu yang menggugah perasaan kita tentang ke-Indonesia-an, tentang kebanggaan kepada diri sendiri, tentang usaha dalam negeri dan lain-lain. Dan saya kenal dengan komposer dari lagu itu, Saudara Siwi Purwono, mana orangnya? Di belakang. Kalau bikin lagu memang seperti itu, indah, teduh, membawa semangat untuk kebaikan negara kita. Ciptakan lagu yang seperti itu Pak Siwi, di waktu yang akan datang.
Dan tentunya saya awali sambutan saya Hadirin, dengan mengucapkan selamat dengan kepada PT Sanbe Farma atas hari jadinya yang ke-30. Saya mendoakan, tentu dengan kerja keras pimpinan dan seluruh keluarga besar Sanbe Farma, agar industri ini terus berkembang, berkembang makin pesat, dari masa ke masa, sekaligus kemajuan itu diabdikan untuk membantu masyarakat sekitar dan masyarakat luas sebagai bentuk corporate social responsibility.
Apa yang disampaikan oleh saudara Yahya Santosa tadi tentang berbagai pengabdian masyarakat, menunjukkan bahwa Sanbe Farma juga tidak meninggalkan tanggung jawab sosialnya. Atas nama Pemerintah, bangsa, dan negara saya ucapkan terima kasih dan penghargaan. Teruslah dilanjutkan. Saya ingin Sanbe Farma dengan jajarannya makin sukses, obat-obatan yang diproduksi bisa masuk regulated market, di dalam dan di luar negeri, sehingga memberikan profit yang lebih besar sekaligus alirkan pula hasil usaha itu, keuntungan itu untuk membantu masyarakat sekitar, seperti program-program tadi dan juga Insya Allah nanti untuk ikut membikin obat murah yang telah dicanangkan oleh Saudari Menteri Kesehatan dan tentunya akan membantu masyarakat luas. Ini fair, perusahaannya berkembang maju, kita berikan ruang, kebijakannya tepat, tapi sebagian dari hasil usahanya bisa digunakan untuk membantu rakyat kita.
Selamat pula atas selesainya dibangun pabrik PT Caprifarmindo Laboratories yang tadi sudah dijelaskan tentang teknologi yang digunakan, output yang akan dihasilkan dan segi-segi teknis yang lainnya. Saya mendoakan Pak Yahya Santosa, semoga kehadiran PT Caprifarmindo Laboratories ini betul-betul bisa memajukan dunia industri farmasi pada khususnya dan sektor kesehatan di negeri kita pada umumnya di waktu mendatang.
Saudara-saudara,
Minggu lalu, saya berbicara di depan APTISI, Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta se-Indonesia di Jakarta. Saya berbicara dengan para rektor dan pimpinan perguruan tinggi swasta seluruh Indonesia yang jumlahnya kurang lebih 400 orang waktu itu. Saya senang, karena tema yang diangkat adalah bagaimana kita bisa betul-betul membangun manusia Indonesia yang unggul dan bangsa Indonesia yang berdaya saing tinggi. Saya katakan, semua itu dapat kita lakukan, Insya Allah kita tidak takabur, tapi bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, putra-putrinya cerdas, kalau dikelola dengan benar, pendidikannya benar, Insya Allah kita akan betul-betul menjadi bangsa yang unggul dan berdaya saing tinggi.
Ada lima pilar waktu itu atau lima hal yang tidak boleh dilupakan untuk menjadi bangsa yang unggul dan berdaya saing tinggi itu, adalah yang pertama sejak dini anak-anak kita harus sehat dan kuat, sehat jasmani dan rohani, sehat tidak kurang gizi, terlatih fisiknya. Dengan demikian, mereka sudah memiliki modal awal, initial capital, kesehatan jasmaninya, kekuatan badannya. Tentu kalau saya bicara seperti itu, maka program di bidang kesehatan yang kita lakukan sekarang ini sudah benar, karena kita ingin meningkatkan derajat kesehatan rakyat kita di seluruh tanah air, terutama di pelosok-pelosok dan di komunitas saudara kita yang miskin ataupun setengah miskin. Tujuannya sekali lagi, membuat mereka semua sehat dan kuat, tidak kekurangan gizi dan hal-hal yang mengganggu kesehatannya.
Setelah itu harapan kita cerdas. Erat kaitannya dengan kesehatan seseorang untuk menjadi cerdas, cerdas secara intelektual, cerdas secara emosional dan cerdas secara spiritual, knowlegdeable, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Yang ketiga, setelah sehat, kuat dan cerdas, maka dia harus berakhlak baik, berbudi pekerti baik, tentunya cerminan dari bangsa yang juga berkepribadian baik.
Yang keempat, bangsa kita harus tough, harus memiliki ketangguhan mental yang tinggi, tidak cengeng, tidak mudah menyerah, ulet, gigih, mau bekerja keras dan kita jangan mau menjadi soft nation, soft people, kita harus kompakan seperti itu, kita menjadi bangsa yang kuat, yang ulet, yang gigih, yang mau bekerja keras.
Dan yang terakhir, yang kelima, setelah kita memiliki semuanya itu, bangsa kita harus rukun, bersatu, penuh persaudaraan, toleran satu sama lain, sebagai bangsa Indonesia. Lima hal itulah yang hendak kita bangun dengan sungguh-sungguh sekarang dan ke depan. Dan saudara-saudara yang mengemban tugas di sektor kesehatan, termasuk farmasi, sangat tahu bahwa peran saudara-saudara sangat penting untuk membangun, menciptakan manusia dan bangsa yang unggul seperti itu.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Pemerintah dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki ingin terus membangun sektor kesehatan kita, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat kita. Saya berikan beberapa informasi yang penting, bahwa dengan Alhamdulilah makin tumbuhnya ekonomi kita, growth, penerimaan negara, serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, baik pusat maupun daerah, kita ingin dan telah sesungguhnya mengalokasikan anggaran di bidang kesehatan yang lebih tinggi. Sejak tahun 2004 sampai tahun ini, anggaran di bidang kesehatan telah dapat kita naikkan 250 %. Tahun 2007 ini, kita punya anggaran 17,24 trilyun ditambah dengan DAK 3,2 trilyun, setara dengan 20 trilyun dan itu sangat memadai untuk terus meningkatkan kesehatan kita.
Kita dengan program ASKESKIN, Asuransi Kesehatan untuk Rakyat Miskin telah menggratiskan saudara-saudara kita berobat di Puskesmas dan di Rumah Sakit-Rumah Sakit dengan kartu ASKESKIN itu yang bisa digunakan oleh saudara kita yang jumlahnya 51 juta manusia. Kalau jumlah orang miskin menurut BPS catatan terakhir dari 39 menjadi 36 juta, Alhamdullilah turun. Tetapi kita tambah dengan setengah miskin, dengan demikian jumlahnya lebih dari itu, menjadi 51 juta. Kita juga melakukan revitalisasi Puskesmas dan Posyandu. Kita juga menggiatkan kembali program-program Pekan Imunisasi Nasional. Hasilnya, Alhamdullilah tahun 2005, saudara-saudara kita yang mengalami kasus gizi buruk yang jumlahnya 17 sekian ribu, tahun 2006 turun secara signifikan menjadi 19 sekian ribu. Tentu menjadi PR kita, saya, Ibu Menteri, Pak Gubernur, Pak Bupati Walikota untuk terus-meneruskan mengurangi kasus-kasus gizi buruk saudara-saudara kita di seluruh tanah air.
Penurunan harga obat salah satu tujuan kita untuk membikin terjangkaunya harga obat oleh masyarakat kita. Dan saya berterima kasih kepada Menkes, catatan saya ada 150 jenis obat generik yan diturunkan harganya, 80%-70%. Ada juga obat-obat essential antara 10-80% yang berjumlah 1.418 jenis obat dan saya sambut, saya sudah memelopori dulu, sudah ikut mencanangkan diproduksinya obat-obatan murah dengan harga semua sama, seribu rupiah. Ini salah satu upaya untuk betul-betul memberikan akses dan kemudahan saudara-saudara kita, terutama golongan miskin dan setengah miskin untuk mereka juga bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.
Hadirin yang saya hormati,
Tahun 2004 akhir, ketika saya baru saja mengemban amanah sebagai Presiden, datang beberapa teman kepada saya, ”Pak SBY, sudah saatnya kita membangun lebih banyak lagi modern hospitals, world class hospitals, first class hospitals, agar jangan terlalu banyaklah orang-orang Indonesia sedikit-sedikit berobat keluar negeri, ke Singapura, ke Malaysia, ke Australia, ke Jepang, ke Eropa, Amerika dan lain-lain. Kita mampu Pak SBY”. Waktu itu seperti itu. Saya katakan bagus, saya senang. Tetapi mari kita prioritaskan dulu sekarang ini untuk membenahi, membangun kembali, merevitalisasi semua infrastruktur, kemudian kapasitas, termasuk segi-segi pelayanan dari Puskemas kita, Rumah-rumah Sakit kita di seluruh tanah air, terutama untuk melayani saudara-saudara kita yang sangat memerlukan. Setelah itu terwujud atau bersamaan dengan itu, mari kita pikirkan untuk tujuan yang kedua tadi.
Alhamdulillah 2005, 2006, 2007 ini, di tengah-tengah ujian dan cobaan yang kita hadapi, Saudara merasakan semua dari satu bencana alam ke bencana yang lain, ada shock ataupun krisis harga minyak sedunia, kita bergulat, kita terus berjuang untuk meningkatkan kesehatan itu. Sekarang sudah pada saatnya, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, dengan kerja sama yang dapat kita lakukan dengan semua pihak di dalam dan di luar negeri, maka saya mendukung, saya mendorong segera direvitalisasikannya, dimantapkannya dan dibangunnya Rumah Sakit-Rumah Sakit andalan di negeri ini, seperti contohnya Santosa Bandung International Hospital. Dengan demikian, tidak terlalu banyak lagi atau tidak terlalu mudah, saudara-saudara kita harus berobat ke luar negeri.
Mengapa? Rasanya kalau soal dokter yang bermutu, kita juga punya banyak. Peralatan yang canggih, kita bisa adakan. Sebagai contoh, dulu banyak orang periksa keluar negeri untuk mengecek dengan instrumen yang disebut CT-scan 64 slice itu, sekarang kita sudah punya, lebih dari satu di RSGS, di Waluyo dan di tempat-tempat lain. Kita bisa adakan seperti itu. Mungkin sekali lagi mungkin IDI di sini, ibu Menkes di sini, para dokter di sini, tingkat pelayanan, kualitas pelayanan yang harus ditingkatkan. Dokternya ada, ahlinya banyak, peralatan ada, kemudian berikan pelayanan paripurna, jangan kelihatan terburu-buru, jangan kelihatan tergesa-gesa, menunggu pasien yang lain, saking banyaknya, coba rasionya yang pas. Dengan demikian, mereka yang diperiksa, yang di-check-up kesehatannya itu merasa paripurna sudah. Dengan demikian, mereka sure, bahwa hasilnya itu, kemudian terapinya juga tepat dan benar. Saya mendorong seperti itu.
Dan saya menunggu inisiatif dari Saudara-saudara, Rumah Sakit-Rumah Sakit apa yang harus kita bangun. Alhamdullilah, kita sudah punya pusat jantung, pusat kanker, pusat mata. Saya kemarin berpikir, apakah tidak perlu punya stroke centre seperti itu dengan sistemnya yang utuh, apabila ada orang kena stroke karena makin tinggi jumlahnya. Gawat daruratnya bagaimana, terapi lanjutannya bagaimana, push stroke rehabilitazing-nya seperti apa, pencegahan bagaimana dan lain-lain? Ini adalah dorongan dari saja, tapi yang penting tolong diciptakan seperti itu. Bergandengan dengan industri farmasi, padukan barangkali cara-cara barat dengan cara-cara oriental, cara-cara timur. Dengan demikian, negara kita segalanya ada, harapan kita rakyat kita makin sehat, tetapi kalau ada yang sakit tidak harus terlalu banyak keluar.
Kalau kita terlalu banyak keluar, yang dapat untung negara lain, padahal kita perlu income dalam negeri. Bagi yang kaya, bagi yang mampu, agar penerimaan negara itu kita alirkan lagi untuk membantu saudara-saudara kita yang miskin tadi dengan berbagai kemudahan dan insentif di bidang kesehatan. Itu saya kira kerjasama yang baik, yang adil dan semuanya untuk kepentingan rakyat kita.
Dan Saudara-saudara, saya ingin mendorong juga para peneliti, researchers untuk juga mengembangkan inovasi-inovasinya, untuk menemukan berbagai obat-obatan katakanlah, kalau di bidang kesehatan yang bisa menjawab tantangan sekarang ini. Sekarang ini Saudara-saudara, jumlah korban di dunia karena peperangan itu sudah sangat sedikit. Dulu jaman Perang Dunia I, Perang Dunia II yang tewas, yang gugur, yang cacat itu jutaan. Sekarang peperangan tidak seperti itu, justru korban terbesar itu antara lain karena penyakit, bencana alam, kekurangan pangan dan lain-lain. Ini musuh kita yang sekarang. Oleh karena itu, diperlukan tekad besar, prakarsa besar, karya besar dari bangsa kita masyarakat sedunia untuk bisa mengatasi itu.
Putra-putri Indonesia cerdas-cerdas, saya bangga sekali. Tiga tahun ini, banyak sekali saya memberikan tanda penghargaan negara, anak-anak kita yang menjadi juara dalam olimpiade internasional di berbagai negara, luar biasa. Ini kalau di dorong terus, saya yakin tidak kalah intelektual-intelektual kita, peneliti-peneliti kita, inovator-inovator kita, penemu-penemu kita untuk mengembangkan semuanya itu dengan mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju, tolong kembangkan itu.
Saya kemarin senang menerima seseorang yang konon sedang mengembangkan penelitian dan menemukan obat anti HIV/AIDS dari tumbuh-tumbuhan yang ada di Indonesia. Saya dorong orang-orang seperti itu, putra-putri bangsa terbaik seperti itu, agar terus berkembang di negeri kita ini temuan-temuan yang bisa mengatasi masalah di bidang kesehatan.
Di BATAN kemarin, di Badan Tenaga Atom Nasional, saya menyampaikan kepada para peneliti, saya tantang mereka, I challenged them untuk betul-betul dengan kekuatan intelektualnya, dengan semangatnya, dengan kecintaan yang mendalam pada negeri dan kemanusiaan sejagad untuk juga mereka mengembangkan berbagai inovasi dan temuan-temuan, invention atau discoveries, apakah di bidang pangan, di bidang kesehatan maupun di bidang energi. Apa yang saya ikuti menjanjikan sekali dan mudah-mudahan tahun demi tahun di negeri ini makin banyak lagi orang-orang yang menemukan sesuatu yang berguna bagi bangsanya dan bahkan bagi umat manusia sedunia.
Itulah yang ingin saya sampaikan Saudara-saudara. Dan sebelum saya mengakhiri sambutan ini, ada pesan saya, karena sekarang musim kompetisi sepak bola. Saya sangat bersyukur, saya kira Saudara-saudara juga bersyukur, bangga dan senang sekali melihat putra-putra terbaik bangsa kita kemarin yang tergabung dalam PSSI dalam perjuangannya besarnya menaikkan citra bangsa, Sang Merah Putih pada pentas global. Menurut yang saya lihat sendiri, kualitas dan teknik permainan PSSI kita tidak kalah dengan tim-tim besar dunia itu. Bahrain yang tadi malam menaklukkan Korea Selatan, kita kalahkan pada putaran pertama, meskipun kita kalah 2-1 dengan Saudi Arabia, tapi kekalahan terhormat, tegak kita karena sesungguhnya kuat teknik, kuat fisik, kuat kualitas permainan, PSSI kita tidak kalah. Tentu saja gol terakhir itu tidak bisa dielakkan memang ada serangan cepat dari pihak Saudi Arabia yang mengakibatkan itu kalah.
Tanggal 18, tim kita akan berlaga lagi melawan Korea Selatan. Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, termasuk Saudara-saudara di sini untuk memberikan dukungan penuh, memberikan semangat sambil berdoa semuanya, apakah datang langsung di Stadion Gelora Bung Karno atau di kediaman Bapak/Ibu sekalian, doakan dengan khusuk, bantu, berikan dorongan, agar tim kita ini berhasil dengan baik.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada suporters kemarin, penonton yang ada di stadion yang jumlahnya puluhan ribu itu tertib, bersemangat, yel-yel-nya membangkitkan patriotisme, nasionalisme, dan mendukung pemain kita. Harapan kita dapat dipertahankan, jadilah tuan rumah yang tertib, suporter yang tertib, dengan demikian citra kita di dunia internasional juga baik.
Satu koreksi melalui mimbar ini, ketika lagu kebangsaan dikumandangkan, apakah lagu kebangsaan negara sahabat maupun Indonesia Raya, saya minta semuanya tegak berdiri, tertib, hormatilah lagu-lagu kebangsaan itu, apakah itu sekali lagi, negara sahabat, maupun lagu kebangsaan kita sendiri, karena itu dimuliakan. Oleh karena itu, cegah jangan sampai ada teriakan-teriakan yang tidak perlu ketika lagu kebangsaan negara sahabat dinyanyikan.
Ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan, nyanyikanlah secara bersama dengan meriah, agar semua itu meningkatkan moril dan semangat dari pemain-pemain kita. Ini adalah ajakan saya, saya tidak dibayar oleh PSSI, tetapi ini kebanggan kita. Mereka sudah berjuang siang dan malam ketika kemarin kalah 2-1 dengan Saudi Arabia, langsung telepon saya, pada mereka saya tetap bangga saya senang, teruslah berjuang untuk mengharumkan nama bangsa dan negara kita. Itulah pesan sponsor berkaitan dengan PSSI dan olahraga kita.
Hadirin sekalian,
Akhirnya menutup sambutan saya ini dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa seraya mengucapkan ”Bismillahhirahmannirahim”, Pabrik PT Caprifarmindo Laboratories dengan resmi saya nyatakan dimulai operasinya.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



