Pidato Presiden
Pembekalan Kepada Peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XV Lemhanans
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBEKALAN KEPADA PESERTA PROGRAM PENDIDIKAN SINGKAT ANGKATAN (PPSA) XV LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL (LEMHANNAS) TAHUN 2007
ISTANA NEGARA, 17 JULI 2007
Bismilllahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati para Menteri Koordinator, para Menteri dan Anggota Kabinet Indonesia Bersatu, para Kepala Staf Angkatan, para Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen, Saudara Gubernur Lemhannas, Saudara Mantan Gubernur Lemhannas, para Pimpinan dan Pejabat Teras Lemhannas, para Peserta Program Pendidikan Singkat Angkatan XV Lemhannas yang saya cintai,
Saya ingin pula mengajak Saudara semuanya untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan dan kekuatan untuk melanjutkan karya, tugas, dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Forum hari ini adalah forum yang penting bagi saya. Pertama, Saudara semua yang insya Allah dalam waktu dekat akan mengakhiri pendidikan di Lemhannas adalah yang mengawaki kepemerintahan di negeri kita atau lembaga-lembaga yang singkat pada level menengah ke atas, pada tingkat high level management dan juga policy making.
Yang kedua, tema dan topik seminar yang Saudara angkat pada hari ini juga sesuatu yang sangat mendasar. Saudara bicara transformasi, Saudara bicara perekonomian nasional, Saudara bicara globalisasi, Saudara bicara ketahanan nasional dan stabilitas nasional. Oleh karena itu, belum pernah ada forum di Istana Negara ini yang dihadiri begitu banyak Menteri hari ini, paling tidak ada 16 Menteri, ada Pimpinan LPND, para Kepala Staf Angkatan yang mewakili Kapolri, Panglima TNI, Kabin dan semuanya. Ini menunjukkan bahwa kita ingin merespon secara konstruktif apa yang Saudara angkat dan yang Saudara sarankan kepada saya selaku Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan dihadapan juga oleh para pengambil keputusan pada bidangnya dan penentu kebijakan pada sektor masing-masing.
Sebelum saya merespon apa yang Saudara pikirkan bersama, tentu saya awali dengan ucapan terima kasih saya, penghargaan saya kepada Saudara Gubernur Lemhannas dengan jajarannya yang telah menyelenggarakan pendidikan ini, membimbing Saudara-saudara untuk lebih siap lagi melanjutkan tugas dan pengabdian kepada profesi Saudara masing-masing. Saya juga tentunya mengucapkan selamat atas terpilihnya Saudara-saudara untuk mengikuti PPSA ini yang tentu akan menambah wawasan, pengetahuan, dan bahkan
Saya perlu menjelaskan kembali, paling tidak mengingatkan bahwa kepemerintahan atau governance itu sangat penting dalam mendorong kemajuan sebuah bangsa. Kalau tidak salah, mungkin waktu Gubernurnya masih, sudah Pak Muladi atau masih beliau dulu? Pak Ermaya, waktu saya meminta disebarluaskan buku yang berjudul “Reinventing Government in 21st Century”. Saya kira masih beliau. Saya ingin peserta Lemhannas membaca. Buku itu amat bagus, karena intinya adalah dalam era globalisasi, dalam membangun sebuah bangsa, peran Pemerintah sangat-sangat penting. Jadi governance, governance matters. Dan ini ada satu produk tulisan dan pengamatan dari World Bank yang baru terbit beberapa minggu yang lalu, yang itu juga mengangkat judul bahwa pemerintahan itu sangat penting, governance matters. Dan Saudara semuanya, pada tingkatnya akan mengawaki governance itu pada tingkat puncak panah, paling tidak menengah ke atas. Oleh karena itu, apa yang saya Saudara timba di Lemhannas ini akan sangat berguna untuk melanjutkan karier Saudara, tentunya harapan kita dengan prospek yang lebih baik.
Saya ingin menggarisbawahi bawah governance itu matters ya. Tahun lalu saya berpidato di Kuba, Havana Kuba dalam Pertemuan Puncak Gerakan Non Blok. Saudara tahu kalau Forum Non Blok itu tentu sangat kritis, karena yang tergabung dalam Non Blok biasanya negara-negara berkembang, yang masih berjuang untuk sebuah keadilan di dunia ini. Jadi tentu tidak sepi dari retorika dan sebuah acara untuk membangun solidaritas bagaimana sekali lagi, berjuang untuk sebuah keadilan dunia, tatanan dunia yang tentu bermanfaat bagi semua.
Waktu itu saya sampaikan 4 hal Saudara-saudara. Negara maju harus melakukan sesuatu yang signifikan, yang meaningfull untuk sebuah keadilan dan kemakmuran dunia. Yang pertama, harus membuka akses pasar bagi komoditas negara-negara berkembang, harus juga mengalirkan foreign direct investment mereka ke negara-negara berkembang, harus memikirkan mengurangi atau bahkan mengampuni hutang bagi negara yang sangat-sangat menghadapi kesulitan dan hampir tidak mampu membayar hutangnya. Alhamdulillah, Indonesia tidak termasuk itu. Dan yang keempat, harus betul-betul melakukan alih teknologi kepada negara-negara berkembang. Sebaliknya, negara-negara berkembang, saya mengajak para world leaders yang termasuk developing countries untuk juga melakukan hal yang sama untuk kepentingan rakyatnya, kepentingan bangsa dan negaranya.
Yang pertama adalah membangun pemerintahan yang baik. Di sini poinnya, harus punya good governance. Tanpa itu, hilang saja resources-nya yang mengalir ke negara yang bersangkutan. Yang kedua, memiliki iklim untuk sebuah kerjasama internasional yang baik, termasuk di bidang investasi. Kemudian yang ketiga, sistem pendidikannya harus baik, sehingga memungkinkan terjadinya transfer of technology. Dan kemudian, karena persoalan planet kita, bumi kita sekarang sangat disoroti, bertanggung jawab, sebagaimana tanggung jawab semua untuk memelihara lingkungan hidup.
Saya ingin mengangkat di situ, bahwa peran Pemerintah sangat-sangat penting. Dan meskipun saya akan masuk sedikit nanti belakangan, menanggapi diskursus atau wacana ekonomi mana yang kita pilih sekarang ini, apakah kapitalisme, apakah sosialis komunisme, apakah neoliberalisme atau ikut-ikutan Washington Concensus dan lain-lain? Saya sudah beberapa kali menyampaikan, yang terakhir pada Peringatan Hari Puncak Koperasi di Denpasar, tetapi saya sampaikan di sini, bahwa yang kita pilih adalah ekonomi terbuka. Mengapa terbuka? Karena sudah terintegrasi dengan ekonomi global yang berkeadilan sosial. Ini amanah, ini nafas dan jiwa dari konstitusi kita. Kembali kalau kita memilih ekonomi seperti itu, open economy with social justice, maka peran Pemerintah sekali lagi, sangat-sangat penting. Meski ada good governance yang bisa mengelola seperti itu, memadukan antara kaidah-kaidah pasar dalam sebuah open economy dengan kepentingan kita untuk menghadirkan kesejahteraan sosial bagi rakyat kita.
Saya betul-betul mengingatkan Saudara karena minggu depan barangkali sudah selesai mengikuti Candradimuka-nya Pak Muladi dan saya tunggu Saudara-saudara di jajaran pemerintahan, terutama yang di lembaga lain, saya persilakan, sehingga apa yang Saudara sarankan, silakan jalankan nanti. Jadi bagus semuanya, cocok semuanya, mari kita jalankan bersama-sama. Mungkin setelah kita jalankan, ada ternyata hambatan di sana-sini, ada sesuatu yang harus kita pikir ulang, tetapi saya tangkap semangatnya baik. Saya melihat logika dan konstruksi berpikir peserta yang tadi disampaikan juga baik. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih.
Saya akan masuk sekarang pada butir-butir pemikiran Saudara yang perlu saya respon, ini para Menteri juga siap untuk merespon semua. Tetapi kalau kita buka acara itu, besok enggak sempat nonton bola kita, karena perlu waktu dua hari dua malam kira-kira. Beliau sudah siap untuk menjelaskan, untuk merespon, bersetuju, mungkin juga ada yang di-update, mungkin ada yang berbeda perspektifnya, tapi beginilah forum yang kita bangun. Oleh karena itu, meskipun ini policy forum, tetapi tidak bisa dihindari dari intelectual discussions diantara Saudara dengan kami semua.
Kalau saya baca judulnya di sini, ini lengkap sekali. Ambil nafas dulu, karena panjang judulnya. ”Transformasi Perekonomian Indonesia dalam Era Globalisasi sebagai Upaya Percepatan Pembangunan, Guna Meningkatkan Ketahanan Nasional dalam Rangka Stabilitas Nasional”. Berapa kata Bapak ini? 30 kata barangkali ini ya. Memang kalau naskah sekolah harus paripurna, judulnya pun diperhitungkan 3 hari ini, saya kira judulnya ini.
Saya masih teringat begini, ada tiga, empat, lima orang di situ, ahli masak, akhirnya bikin masakan, yang akhirnya masakannya itu enak, akhirnya disampaikanlah apa jenis masakan itu. Di situ ada kumpulan ahli gado-gado, ahli rujak cingur, ahli semuanya di situ, pecel, berdebat akhirnya muncullah sebuah masakan. Masakan ini adalah gado-gado yang terdiri dari sayur, buah, tahu, tempe, kerupuk, yang rasanya sangat enak. Tapi karena di situ ada ahli rujak cingur, seenak rujak cingur, karena ada juga yang dari Jawa Timur, seperti yang ada di Jawa Timur itu ya. Boleh-boleh saja, meskipun judul yang pertama sudah cukup, ini rujak cingur, ini rasanya enak. Tapi karena, wah ini sayang ini, gado-gado tadi, rujak cingur juga bagus sih ini.
Jadi memang tidak bisa dipisah-pisahkan ketahanan nasional, stabilitas nasional, globalisasi, transformasi dan segala macam. Oleh karena itu, karena semua pernah membikin seperti ini harus kita pahami, bahwa ingin dituangkan semua di situ, semua pikiran, semua hal-hal yang kita anggap pas, relevan dan cocok untuk menjadi sebuah kertas karya.
Saudara-saudara,
Inti dari yang Saudara sampaikan tadi, Saudara Suwarno dan Saudara Didin Damanhuri tadi adalah pertama bicara globalisasi. Yang kedua, Saudara bicara stabilitas nasional. Saudara bicara transformasi, transformation. Ini barang penting ini. Kemudian dikaitkan dengan perekonomian nasional kita, transformasi perekonomian nasional. Sebelum saya merespon apa yang Saudara pikirkan, Saudara masih ingat barangkali pada tanggal 17 April yang lalu di depan IKAL, waktu itu saya mengingatkan kepada, forumnya besar waktu itu lebih dari hampir 1000 mungkin, 800-an itu. Saya ingatkan bahwa reformasi atau transformasi itu proses panjang yang dinamis. Jadi transformasi itu, enggak ada yang 3 tahun selesai. Membangun kemandirian bangsa, kita putuskan sekarang, bulan depan selesai, enggak mungkin, 3 tahun selesai, enggak mungkin, mungkin 15, 20, 30 tahun. Proses yang dinamis, yang tentunya syarat dengan tantangan, permasalahan dan isu-isu yang dihadapi dalam transformasi itu.
Yang kedua, saya ingatkan juga ada kesalahan berpikir, falacies. Yang pertama, kalau sudah bicara reformasi, seolah-olah semua harus diubah, yang dulu-dulu harus dibuang, diubah semuanya. Padahal reformasi itu hakekatnya continuition and change, kesinambungan dan perubahan. Yang baik-baik sejak mendiang Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega, dan seterusnya nanti ya kita lanjutkan. Tetapi yang tidak sesuai dengan kondisi dan situasi jaman yang bersangkutan dilakukan perubahan-perubahan. Jadi kembalikan pada the nature of reform, hakekatnya continuition and change.
Kesalahan berpikir yang kedua, kalau kita bicara globalisasi, itu yang terbayang adalah ancaman, threat. Dan banyak sekali kalau kita dengar doa-doa, dengar pidato-pidato, globalisasi itu seperti barang haram, sesuatu yang akan merusak kehidupan, nilai dan jati diri sebuah bangsa, yang akhirnya harus kita musuhi dan kita lawan habis-habisan. Padahal Saudara sendiri mengatakan tadi dalam presentasinya, bahwa globalisasi mendatangkan kebaikan, kalau itu cerdas kita dalam mengalirkan kebaikan itu. Tetapi juga mendatangkan malapetaka, manakala hal-hal yang buruk, yang ikut serta dalam globalisasi tidak kita tangkal dan kita cegah untuk berpengaruh terhadap kehidupan kita. Saya ingatkan waktu itu.
Kemudian di ruangan ini, kalau tidak salah tahun lalu Pak Muladi di depan mungkin PPRA ya. Saya mengatakan, “What is the meaning of stability?” Sekarang ini, saya katakan bahwa cara-cara kita menegakkan stabilitas di era semi otoritarian dulu sangat berbeda dengan stabilitas pada era demokrasi ini. Stabilitas yang hendak kita bangun dan sekarang sedang terus-menerus kita bangun supaya kokoh, mapan adalah stabilitas dalam era keterbukaan, dalam era demokrasi, an open society, an open democracy. Stability that is open, yang tentu saja berbeda cara-cara menegakkan stabilitas itu, tapi stabilitas itu sangat penting, negara manapun, negara demokrasi yang super liberal pun memerlukan stabilitas di dalam negerinya masing-masing.
Oleh karena itu, saya menganjurkan tahun lalu, agar kita memiliki mindset, cara berpikir, yang pas untuk alam reformasi dan demokrasi dewasa ini. Kalau tidak, keliru. Kalau alam berpikir kita masih seperti tahun-tahun 70-an, 60-an, 70-80-an, tidak kena. Mesti ada konflik, kok begini, kok begitu. Jaman saya dulu dan seterusnya, dan seterusnya, berbeda. Kita hidup pada era sekarang ini, cara berpikir kita harus compatible, harus klop dengan alam ataupun suasana era reformasi dan demokratisasi ini.
Para Peserta yang saya cintai,
Dari judul seminar Saudara, highlight ataupun hal-hal yang penting, yang disampaikan oleh kedua pemapar tadi, ada berapa catatan saya yang ingin saya letakkan dalam konteks yang benar, supaya tidak terjadi mispersepsi dan misunderstanding diantara kita. Saudara mengangkat tadi, jangan sampai ekonomi kita terjebak dalam neoliberalisme, apalagi mempraktekkan, menjalankan yang disebut dengan market fundamentalism. Saya setuju, cocok 200%. Dengan pemahaman tentu kita tidak memilih sistem kapitalisme yang semuanya diserahkan kepada mekanisme dan hukum pasar. Mengapa? Pasar gagal untuk menciptakan, katakanlah yang disebut keadilan sosial. Singkatnya begitulah. Kita juga tidak menganut sistem ekonomi komunis, karena ekonomi komando itu, peran pasar dikesampingkan, diganti oleh peran negara, juga gagal untuk membangun efisiensi ekonomi yang akhirnya meningkatkan, yang akhirnya juga tidak bisa menegakkan kemakmuran dan kesejahteraan yang menganut paham ekonomi komunis itu.
Kita pun juga tidak serta-merta dan ikut-ikutan untuk mengatur di kaidah-kaidah neoliberalisme yang kadang-kadang berdekatan dengan yang disebut dengan Washington Consensus antara lain memang harus ada liberalisasi perdagangan, liberalisasi investasi, liberalisasi capital, flow of capital, peran Pemerintah sangat dikecilkan dan tidak dianjurkan, kemudian public sector juga sangat dikurangi, privatisasi didorong habis-habisan dan kadang-kadang resources dunia, apakah sumber daya alam, labour dan market ingin diintegrasikan, negara-negara yang belum masuk dalam tatanan dipaksa, too far and too fast untuk mengikuti cara-cara seperti itu, sehingga menimbulkan masalah-masalah internal negara itu. Bahkan tidak peduli, apakah masing-masing sudah punya level playing field, sudah punya kemampuan awal untuk bisa berkompetisi dan bekerja sama dalam era globalisasi itu.
Saudara rasakan, peran Pemerintah tetap exist di negeri kita ini, banyak contohnya yang tidak perlu saya jelaskan satu per satu. Artinya kita tidak begitu saja mengikuti hukum-hukum pasar, meskipun lebih lunak sekarang yang ada dalam tatanan neoliberalisme ataupun Washinton Consensus. Kita punya pilihan sendiri, kita punya mainstream sendiri yang tentunya kebaikan dari paham-paham itu bisa kita adopsi, sebagaimana dulu yang telah disampaikan oleh para Founding Fathers kita. Jadi jangan kita habis waktu untuk mendebatkan, kita ini kemana, kapitalisme, komunisme, neoliberalisme, Washington Consensus, seperti yang sering saya dengar di banyak kesempatan, di unjuk-unjuk rasa. Jelas yang kita pilih, yang kita anut, yang kita jalankan open economy with social justice.
Kalau kita betul-betul menyerah, surrender kepada kapitalisme, neoliberalisme, mana bisa Pemerintah bisa mengatur, bisa me-regulate, misalnya harga BBM, harga beras dan gabah, upaya untuk stabilisasi minyak goreng dengan intervensi Pemerintah, kemudian ada subsidi yang begini besar, yang jumlahnya 100 trilyun lebih dari 650 trilyun APBN kita dan sejumlah policy yang ingin mencegah kesenjangan, mencegah disvaritas, tidak meratanya pembangunan, bahkan masalah keadilan di negeri ini. The government rules yang masih kita jalankan itulah sebetulnya cerminan bahwa kita betul-betul tidak surrender pada fundamentalisme yang disampaikan tadi. Itu yang pertama.
Yang kedua tadi dikatakan makro ekonomi bagus, sektor riil belum pulih benar. Ada yang mengatakan di luar makro ekonomi baik, sektor riil hancur. Mari kita telaah, kita pahami bagaimana logika dan pemahaman tentang ekonomi kita. Kalau ekonomi tumbuh 6% Saudara-saudara, berarti komponen penyumbang pertumbuhan itu, konsumsi, pengeluaran Pemerintah, investasi dan ekspor, nett export, agregatif jumlahnya juga 6%. Kalau ekonomi tumbuh 6%, maka sektor riil yang bisa kita break down, lengkap itu, sektor demi sektor, sektor manufacture pun, pengolahan pun bisa kita break down menjadi 9 komponen, agregatif juga 6% tumbuh.
Alhamdulillah, setelah kita pernah tumbuh 6-7 sempet di 7% dalam Orde Baru, dulu era Pak Harto, drop kita minus 13% waktu krisis. Merangkak pelan-pelan, kembali sekarang Alhamdulillah, triwulan pertama ini 6%. Sesungguhnya sektor riil juga memiliki kebangkitan seperti itu. Memang benar, ada sektor riil yang tumbuhnya sangat baik, 2 digit, 11, 12%, ada ya, Pak Rusman yah? Tapi juga ada sektor riil yang tumbuh, tapi tidak terlalu tinggi. Ada sektor riil yang ada masalah sekarang, misalnya elektronika, sebelumnya barangkali footwear, seperti tekstil, sepatu, meskipun sekarang sudah moving, sudah ke atas juga. Benar, negara mana pun juga harus begitu juga sejak sektor riil tumbuh 6%, 6% semua, 10%, 10% semua, tidak. Tetapi ada kebangkitan-kebangkitan itu. Dan kesimpulannya, kalau makro ekonomi baik, pertumbuhan terjadi, sesungguhnya komponen-komponennya juga membaik, kemudian sektor riilnya juga tumbuh, bahwa belum sebagaimana kita harapkan, benar. Bahwa harus kita tingkatkan lagi, iya. Bahwa harus kita lakukan spectrum policy untuk sektor-sektor riil yang sedang megap-megap misalkan, di situ karena kompetisi global, macam-macam faktornya, betul. Tetapi cara membacanya adalah seperti itu. 6% pertumbuhan triwulan pertama disumbang konsumsi. Konsumsi ini dulu pernah baik, era orde baru berapa Ibu Sri Mulyani waktu? 5%. Kita pernah rendah sekali, ya karena krisis. Tapi sekarang sudah mendekati, berapa sekarang? 4,9%, almost back to, konsumsi jaman kita pertumbuhan tinggi dulu.
Yang kedua, investasi. Meskipun kita semua belum puas, ini Saudara Lutfi ada di sini. Baik PMA maupun PMDN, baik persetujuan maupun realisasi juga mengalami kenaikan. Kontribusi investasi pada pertumbuhan 6% triwulan pertama kemarin, sekitar 7 koma sekian persen. Lantas ekspor juga menyumbang, pengeluaran Pemerintah juga menyumbang. Mari kita melihat dan saya persilakan nanti Saudara-saudara, kalau ingin akses data yang lebih lengkap, ada para Menteri yang memelihara itu. Dengan demikian, mari kita biasakan bicara dengan fakta dan data yang terkini, tentu yang reliable. Sebab, kalau terlalu retorik, terlalu banyak retorikanya, kehilangan sifat ilmiah dari apa yang sesungguhnya kita lakukan dalam ekonomi kita ini.
Anomali. Begini, ada Hukum Okun dalam ekonomi itu. Kalau pertumbuhan terjadi, mestinya lapangan kerja tercipta pararel dengan pertumbuhan itu. Di negara kita pernah, pertumbuhannya baik, kok lapangan kerjanya tidak cukup sejajar dengan itu. Ada semacam anomali. Kita lihat, ada instrumen yang tidak pas atau cara mengukurnya atau ada faktor-faktor X dan lain-lain. Ini juga pekerjaan rumah, bagaimana untuk mengatasi.
Tetapi untuk diketahui, meskipun betul Saudara-saudara, kemiskinan dan pengangguran adalah tantangan terbesar bagi kita, terberat bagi kita, sama juga dengan India, sama juga dengan China, apalagi kita pernah mengalami krisis 10 tahun yang lalu. Tetapi akhir-akhir ini terjadi pembaikan. Pengangguran yang tahun 2005 itu sebelas koma sekian persen. Tahun 2006, sepuluh koma sekian persen. Awal tahun 2007 ini, kalau enggak salah, 9.7%, ada pembaikan. Apa sudah puas? Belum, jelas belum. Harus kita percepat lagi.
Kemiskinan ketika kita harus menaikkan bahan bakar, karena tidak bisa kita elakkan dari krisis harga minyak sedunia. Terjadi kelesuan waktu itu, tahun 2005 akhir, 2006 awal, sektor rill juga lesu waktu itu, tentu ada pembengkakkan kemiskinan yang naik sampai jumlahnya 39 juta. Sekarang indikatornya menurun dan pada saatnya nanti akan diumumkan. Ini pararel dengan perbaikan ekonomi, pararel dengan kebangkitan sektor riil.
Yang ketiga Saudara-saudara, kita bicara kemandirian dan kedaulatan negara. Sering sekali sekarang, dimana-mana; kita tidak mandiri, kita tidak berdaulat, dan seterusnya, dan seterusnya. Tolong dipahami apa artinya kemandirian dan kedaulatan itu. Ya kedaulatan itu, selama negara ini bisa menentukan nasibnya sendiri, menata kehidupannya sendiri, Sang Merah Putih berkibar, teritorial kita utuh, konstitusi kita exist dan lain-lain, berarti kita berdaulat, tentu dengan penjelasan-penjelasan setelah itu.
Kemandirian itu, kalau kita tidak tergantung kepada negara lain, kalau enggak negara lain bantu kita, tidak bisa hidup. Tetapi kita punya capital, punya potensi, punya kekuatan untuk bisa menata ini, berarti sesungguhnya kita tidak hilang, tidak hilang kemandirian kita. Memang ada aliran old party, self sufficiency, semua kita cukupi di dalam negeri. Mari produksi pangan, kita tingkatkan habis-habisan, beras misalnya, kebutuhan-kebutuhan dasar, seelok-eloknya kita cukupi di dalam negeri, self sufficiency yang memang tidak mungkin kita cukupi Saudara-saudara, tentu kita lakukan dengan kerjasama dalam era globalisasi ini, integrasi ekonomi ini, sepanjang dengan tatanan yang adil, dengan kerjasama yang fair, tentu membawa manfaat bagi kita dan lain-lainnya. Di situlah kecerdasan dan kepiawaian kita dalam era globalisasi.
Dengan demikian, kalau ditanya, apakah kita setuju negara kita tetap berdaulat di negeri kita? Ya 200% setuju. Apakah kita setuju, kita bangun kemandirian? Ya itu. Tapi ingat, kemandirian sebuah bangsa pada terminologi masa kini adalah self generating nation. Kita punya sumber daya alam, kita punya sumber daya manusia, kalau teknologi kita, finance kita, capital yang lain kita, bisa kita gunakan sedemikian rupa, sehingga negara ini akan maju dengan sendirinya, dengan proses yang ada di dalam negeri, yang saya katakan dengan self generating wealth, self generating nation tadi, berarti kita memiliki kemandirian yang cukup tinggi, ya kita menuju ke sana.
Saya ingin jelaskan sedikit Saudara untuk paham betul, mengapa kerjasama dan kemitraan dengan negara-negara sahabat, dengan masyarakat global tidak bisa dielakkan dalam era globalisasi? Kalau kita kerjasama, tidak berarti kita tidak mandiri. Kalau kita bermitra, tidak berarti kita tidak berdaulat. Mari kita pahami. Yang kita perjuangkan apa Saudara-saudara? Kepentingankan? Kita melakukan hubungan internasional to defend, to fullfil our nation interest. China begitu juga untuk kepentingan nasionalnya. India begitu, Malaysia begitu, Singapura begitu, Amerika, Eropa, Afrika dan sebagainya. Indonesia juga begitu. Tidak ada kita hubungan luar negeri untuk kepentingan bangsa lain, ya merugi, ya salah, kok bodoh bener begitu. Kita bekerja sama sekali lagi, untuk menuju, mencapai kepentingan nasional kita.
Saya ingin berikan contoh, sebentar lagi akan ada Pertemuan APEC. Tahu APEC ya? Yang insya Allah akan datang di Sydney, gantian diantara 21 negara. Setelah itu ada Pertemuan ASEAN Puncak yang akan dilaksanakan di Singapura bersamaan dengan Pertemuan East Asia Forum, negara-negara Asia Timur juga di Singapura. Tentu bagi Indonesia bukan yang pertama kali sejak Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega, kita aktif dan hadir. Saya sudah tiga kali mau keempat kali mestinya. Pertama di Chile, yang kedua di Busan, yang ketiga di Hanoi, saya mau yang keempat ini. Apa yang terpikir bagi saya, para Menteri, delegasi semua tadi, apa yang bisa kita perjuangkan, kita bahas, kita negosiasikan untuk sebesar-besar kepentingan Indonesia bukan kepentingan negara lain? Akhirnya kita bikin list, misalnya apapun APEC, ASEAN Summit, ASEAN+ dan macam-macam itu, kita harus mendapatkan akses untuk barang-barang kita dijual di negara itu, access global, access regional untuk barang-barang kita. Kalau barang kita ditolak, tidak punya pangsa pasar, ekspor hancur. Ekspor hancur, pertumbuhan hancur, susah rakyat dan negara kita. Ada diplomasi kita seperti itu.
Yang kedua, dalam APEC, kita juga ingin memperjuangkan, agar kemarin DOHA Development Agenda, itu juga bisa kita perjuangkan. Mengapa? WTO, inikan belum adil, negara-negara kaya, negara maju itu tidak mau membuka pasarnya secara baik itu. Barang-barang kita sulit untuk masuk, ya memang semua punya kepentingan. Ini perjuangan kita, dalam pertemuan itu pun kita suarakan, bagaimana caranya agar betul-betul lebih terbuka.
Yang ketiga, flow of investment to Indonesia, jangan sampai ngalirnya semua ke Vietnam, ke India, ke China, ke Malaysia dan tidak ada ngalir ke negara kita, macam-macam alasannya mungkin. Ya kita fight, disamping investasi dalam negeri, juga investasi negara-negara sahabat untuk engine of growth kan begitu.
Yang keempat, kita juga tidak ingin sama-sama ASEAN, sama-sama APEC, tapi negara kita pada posisi yang belum siap untuk berkompetisi. Itulah kita mencegah inadequatable economic development diantara kawasan ini. Kita ingin ada level playing field, kita ingin ada opportunity sama atau lebih besar dari yang lain.
Yang kelima, kita berjuang agar rezim fiskal di APEC, di ASEAN, ASEAN+, ini juga baik. Saudara ingat, waktu kita kena krisis dulu, awalnya kan kena krisis financial baru krisis ekonomi dan lain-lain. Kemudian kita sudah melunasi hutang pada IMF, betul. Tetapi meskipun kita tidak berharap, mudah-mudahan tidak terjadi, kalau Indonesia mengalami kesulitan fiskal misalnya, kan mesti ada mechanisms, ada cara-cara bagaimana saling membantu. Kalau negara ASEAN yang lain, negara ASEAN+ yang lain juga mengalami kesulitan fiskal, negara yang lain saling membantu, bukan hanya untuk Indonesia. Kita memiliki namanya Bilateral Swap Arrangement, standby fund di negara-negara itu yang bisa digunakan negara lain dalam kawasan ini, apabila mengalami financial, kita berjuang untuk itu.
Saudara masih ingat tahun 2005, ketika minyak harganya naik, nilai tukar goyang, masih ingat dulu ya, sangat melemah, kemudian macam-macamlah waktu itu. Dengan kelincahan kita, kita berkomunikasi dengan Jepang, dengan Tiongkok, dengan negara-negara lain terbangun satu trust, satu confidence, meskipun kita yakin tidak terjadi apa-apa waktu itu. Tapi andaikata terjadi apa-apa, sudah ada mekanisme baru, bagaimana saling membantu diantara negara-negara ASEAN, maupun negara-negara ASEAN+3. Kepentingan kita yang lain, kita butuh IT, ICT, ya kita harus kerjasama dengan Korea Selatan, dengan Jepang, dengan Eropa, Amerika untuk itu. Inikan kepentingan untuk kita yang tidak mungkin kita menutup kerjasama seperti itu.
Kemudian kerjasama menghadapi crimes, boundary crimes, illegal logging, penyelundupan-penyelundupan, banyak sekali kita dirugikan, ekonomi kita terganggu karena itu. Kita perlu kerjasama dengan negara sahabat, cooperation and combating corruption. Kalau ada yang kabur dari Indonesia, bawa uang sekian trilyun, sekian ratus M, kita cari, kita bawa kembali. Ini juga kerjasama dengan negara sahabat. Memerangi Avian Flu, flu burung dan penyakit-penyakit menular perlu kerjasama, baik teknologi maupun finance-nya. Gempa bumi, bencana alam, Aceh, Yogyakarta, kita kerjasama mendapatkan asistensi dan bantuan yang cukup, termasuk memasang early warning system. Energi, perlu kerjasama, listrik misalnya, kita kerjasama dengan negara-negara sahabat untuk pembangunan power plan. UKM, Usaha Kecil dan Menengah, kita kerjasama. Sekarang sedang getol-getolnya dengan Korea Selatan, supaya ada akses untuk UKM kita memasuki pasar di negara sahabat. Kerjasama pariwisata, transfer of technology dan lain-lain.
Jadi Saudara-saudara, kalau kita kerjasama, kita bermitra dengan negara-negara lain, jangan buru-buru, wah tidak mandiri itu, wah itu kita dijajah itu, kedaulatan kita hancur. Yang sampaikan 14 poin, apakah betul kedaulatan kita tidak ada? Apakah betul kita tidak mandiri? Ya inilah yang diperjuangkan semua negara di dunia ini. Kalau kita tidak, kita hanya menerima getah globalisasi, dapat yang jelek-jeleknya, yang harusnya kita dapat, malah enggak dapat. Kita ingin, kita tekan negative impact of globalization, tapi kita ambil, kita eksploitasi, kita daya gunakan peluang yang baik-baiknya. Ini masalah kemandirian dan kedaulatan negara.
Berikutnya lagi Saudara, penguatan kembali pra negara, disarankan oleh peserta ya, yang dimaksudkan apa kira-kira itu? Negara harus kuat atau lebih kuat atau apa, kira-kira yang terbayang apa? Bisa satu menjelaskan, singkat saja apa yang terbayang sebetulnya, apa negara kita ini lemah sekarang, weak state? Silakan.
Peserta Lemhannas
Terima kasih.
Saya kira, kami merasa peran negara di Indonesia memang cukup decidesive, barangkali yang kami bisa sampaikan bahwa contoh yang masih perlu diberdayakan adalah bagaimana misalnya ada beberapa Undang-undang, Migas misalnya, dimana dimungkinkan ada privatisasi sampai batas tertentu yang ini mungkin salah satu ya, Undang-undang sumber daya air, ada Undang-undang hutan lindung, barangkali begitu. Jadi kami membayangkan mungkin yang terakhir, 3 hari yang lalu kami membaca bahwa Pemerintah Perancis menetapkan 18 industri strategis mereka yang dipertahankan dari upaya privatisasi. Barangkali disini perlunya mungkin Undang-undang semacam privatisasi yang bisa negara tetap decidesive dengan industri-industri yang statik, seperti Telkom ataupun Indosat. Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Ada. Baik itu sebetulnya tidak langsung berkaitan negara harus kuat begitu ya, tetapi harus ada policy, basic policy yang betul-betul membawa kebaikan untuk pembangunan ekonomi kita dan tidak memunculkan kelemahan-kelemahan kalau policy itu tidak diambil. Sebagai contoh, yang tadi itu. Ada pendapat lain yang dimaksudkan barangkali negara? Silakan.
Peserta Lemhannas
Mohon ijin Bapak Presiden. Mengawali dari rujukan kertas yang sudah kami ajukan kepada Bapak, kami melihat di sini, bahwa untuk penguatan negara, itu intinya yang juga kami belajar di Lemhannas adalah national character building, Pak. National character building ini di setiap lini, baik itu tingkat pemerintahan sampai dengan tingkat masyarakat. Di sisi lain, pertanggungjawaban dari pihak lini yang memegang wewenang untuk katakanlah mengelola sumber kekayaan alam yang kemudian mekanismenya itu dikelola secara profesional untuk kemudian itu mendapatkan market yang bagus, ini merupakan satu kegiatan yang sinergis bersama. We have no doubt that right now we have a good statement like was the best President we have ever had. Bapak Presiden sudah mencanangkan beberapa programnya, cukup bagus. Tapi intinya, kami melihat bahwa etika profesi juga lemah. Yang perlu ditingkatkan sekarang ini adalah national character building dengan, pertama mungkin, mohon saran Pak. Kami mengajukan saran, mengikutsertakan pengusaha-pengusaha pilihan dimasukkan ke Lemhannas bersama-sama dengan departemen teknis. Bapak sudah memutuskan, Gubernur bersama dengan DPRD ikut serta di Lemhannas, yang intinya kita melihat kepada Bhineka Tunggal Ika kita, nilai-nilai praktis Pancasila yang harus diterapkan secara aplikatif. Mohon ijin Bapak Presiden. Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Terima kasih para Peserta. Diskusi atau diskursus tentang seberapa kuat sebuah negara dalam tatanan demokrasi ini memang pernah dulu kita diskusikan pada awal reformasi, karena dianggap masa lalu, negara terlalu kuat, civil society lemah atau negara disempitkan lagi, the government is atau was too strong, waktu itu. Sehingga tidak membuka ruang yang cukup bagi partisipasi publik, bagi partisipasi rakyat untuk pengambilan keputusan pada masalah-masalah yang fundamental pada kehidupan bernegara, itu dulu, maka didorong ada the state dan ada the society, ada the people. Kemudian setelah kita melaksanakan reformasi dengan segala euforianya, kebebasan mekar Alhamdulillah, partisipasi publik berkembang, bagus, kemudian rakyat tahu haknya, termasuk hak azasinya. Sehat itu. Kemudian di tengah-tengah disorder waktu itu, kegamangan atau disorientasi dianggap negara itu tidak cukup untuk menegakkan law and order, tidak cukup menegakkan aturan-aturan, rule of law dan lain-lain, sehingga yang dilihat freedom, kebebasan sangat tinggi. Tetapi pasangannya, partner-nya, order, keteraturan itu tidak terjadi. Itulah yang pernah dikatakan, ya dalam demokrasi pun, negara tidak boleh terlalu lemah.
Menurut pendapat saya, sebenarnya tidak perlu kita debatkan negara harus kuat atau harus lemah dalam sebuah kehidupan bernegara sepanjang sebuah kehidupan itu balance, penuh keseimbangan, ada freedom, ada rule of law, ada liberty, ada security, ada seperti-seperti itu. Dengan demikian, tidak harus kita halang-halangi kebebasan atau demokrasi yang makin mekar sekarang ini, hak azasi manusia yang makin tumbuh sekarang ini, tetapi yang harus segera kita pacu adalah rule of law ke semuanya itu ada aturannya, ada tatanannya, kemudian toleransi atau tolerance, harmoni. Itu yang menurut saya harus kita bangun, konstitusi kita menjadi sangat penting.
Kita sudah melaksanakan 4 kali amandemen. Sekarang ada pikiran melakukan amandemen yang baru. Tolong dilihat secara utuh, kerangka bernegara seperti apa yang hendak kita bangun, konstitusi seperti apa pula yang harus menjadi dasar dari kehidupan bernegara itu. Hubungan Eksekutif, Legislatif, Yudikatif itu seperti apa? Apakah kita ingin menuju Kabinet Parlementer atau Kabinet Presidensil? Bagaimana power, kekuatan dari Mahmakah Konstitusi, Mahkamah Agung misalnya dalam satu keseimbangan yang baku dan lain-lain?
Saya kira kalau itu kita tata, konstitusionalisme tumbuh dan berkembang di negeri ini, maka saya yakin kehidupan akan makin terkelola dengan baik. Negara kuat dalam arti negara bisa menegakkan konstitusi, bisa menegakkan aturan main, bisa menjalankan semua itu dengan sistem bernegara, sistem ketatanegaraan yang sama-sama kita anut tanpa harus memasung, mengecilkan sekali lagi, nilai dan praktek-praktek demokrasi. Kalau itu yang dimaksudkan, saya bisa memahami pikiran-pikiran di luar sekarang, dimana sebetulnya peran negara, peran society, peran rakyat, dimana konstitusi dan lain-lain. Ini pekerjaan rumah kita, pekerjaan bersama, bukan hanya MPR yang secara Undang-Undang Dasar bisa melakukan perubahan terhadap Undang-Undang Dasar, tapi ini pemikiran bersama seluruh rakyat Indonesia seperti apa bangun negara yang hendak kita, negara seperti apa yang hendak kita bangun?
Poin berikutnya lagi, Saudara masalah daya saing bangsa. Di situ dikatakan tadi, kita harus meningkatkan daya saing bangsa, saya kira benar. Tapi untuk tidak, gini ya jangan sampai kita ini, Indonesia ini jelek semua, tertinggal semua, negara lain pasti baik, negara lain pasti maju. Jangan. Ini tidak jujur pada diri sendiri. Katakanlah kalau negara kita dibandingkan masa lalu mulai baik, ya harus kita syukuri. Kalau negara kita dibandingkan negara lain lebih unggul, ya kita harus berbahagia. Tetapi kalau justu sebaliknya, mari kita bangun bersama-sama, kita kejar ketertinggalan itu, daya-daya saing bangsa, keunggulan bangsa meningkat. Kalau itu saya setuju dengan pikiran-pikiran semua.
Untuk diketahui, menurut World Economic Forum yang menetapkan global competitiveness index tahun 2006-2007, dulu pernah ada perbaikan yang signifikan dari ranking kita, dari 200, ulangi dari 125 negara, waktu itu kita mendapatkan ranking 50, naik 19 peringkat dari sebelumnya, 69 menjadi 50. Apa yang dinilai supaya kita tidak merasa kecil terus, meskipun ya belum cukup, kita ingin lebih bagus lagi? Yang dinilai adalah institution, infrastructure, macro economy, health and primary education, higher education and training, market efficiency, technological readiness, business sophistication and innovation. Indonesia ranking 50 dari 125. China di bawah kita? Jadi jangan terlalu berkecil hati, meskipun kita belum terlalu puas. Saudara belajar 5,5 bulan karena tidak puas tadi untuk meningkatkan itu, tapi mulai membaik, mari terus kita dorong, terus kita dorong.
Tadi dalam catatan World Bank yang namanya governance matters, posisi kita diukur 1996, 2004 dan 2006 membaik. Meskipun ya saya lihat, ya membaiknya masih bisa banyak lagi, paling tidak di bidang invoice and accountability, di bidang government effectiveness dan satu lagi fighting corruption. Dari tiga indikator, pemerintahan kita dari 1996, 2004, 2006 naik dengan baik. Tetapi yang naiknya tidak banyak adalah seperti masalah regulatory, kemudian political stability bagus, membaik, tapi sedikit membaiknya, kemudian ada hal-hal lain. Jadi improving, tetapi saya melihat ya masih perlu kita lebih pacu lagi.
Berikutnya lagi ini untuk Indonesia Incorporated, maksudnya didirikan PT ya, PT Indonesia Incorporated itu ya? Saya setuju Saudara-saudara. Sebenarnya begini, national power ataupun capital, itukan semuakan sebetulnya. Ya kecil-kecilannya beginilah, setiap kami hadiri APEC Conference, APEC Meeting, menghadiri ASEAN Summit atau kunjungan ke luar negeri, disamping para Menteri yang kita ajak adalah parlemen, DPR kita, DPR, DPD, ada perwakilan dari beliau yang bersama-sama kita, supaya klop nanti. Yang ketiga, saya ajak kalangan dunia usaha, KADIN, kita ajak. Kadang-kadang Rektor Perguruan Tinggi, kita ajak. Pemuda, KNPI, kita ajak. Gubernur yang terkait dengan kerjasama, itu kita ajak. Ide saya adalah ya mari kita dalam membangun policy dengan satu negosiasi untuk kepentingan yang lebih besar kita bersama-sama di situ dan ternyata hasilnya lebih bagus. Waktu sebelum kita berangkat, kita briefing dulu seperti ini, semua bicara, berangkat kita, kesana kita bawa satu suara, kembali di-briefing apa yang telah kita capai. Ini contoh kecil saja, bahwa sesungguhnya ide untuk Indonesia Incorporated itu mesti kita kembangkan. Tetapi tidak cukup hanya event-event seperti itu dalam berbagai pengambilan keputusan, menetapkan strategi, menetapkan kebijakan dasar perlu diajak semua, yang seolah-olah kita sebut dengan Indonesia Incorporated.
Yang berikutnya lagi, komite globalisasi. Ini mestinya bukan organisasi yang permanen gitu kan, bukan kan. Tapi Pak Muladi barangkali semacam forum ya, dimana kita bisa berinteraksi. Enggak tahu kalau Pak Menlu punya pandangan komite globalisasi, mungkin semacam forum, kita bisa bertukar pikiran. Saya melihat opportunity and threat, strength and weakness, negara sahabat seperti apa, India policy-nya apa, China apa, pasarnya bagaimana, apa yang dapat kita lakukan dan perkembangan geopolitic, geoeconomy, geoculture negara-negara lain itu, mungkin itu perlu dipahami bersama-sama, sehingga semua policy di negeri ini, klop dengan persoalan itu, mungkin begitu komite globalisasi, mungkin ya. Tapi saya pahami maksudnya, supaya kita memiliki bacaan yang sama, persepsi yang sama terhadap the nature of globalization dengan segala yang baik dan yang buruknya, termasuk impact dan opportunity-nya.
Saudara menulis di sini, merombak sistem pendidikan, dianjurkan, apa kira-kira sistem pendidikannya yang dirombak apanya kira-kira? Untuk meningkatkan daya saing? Ada Mendiknas di sini. Ini sudah merombak terus ini. Tapi begini, kalau yang dimaksudkan itu, agar human capital kita itu betul-betul competitve, jaya di dalam negeri, unggul di luar negeri, ya setuju saya. Di ruangan ini, kalau enggak salah minggu lalu, Pak Bambang Sudibyo ya, saya bicara dengan 400 Rektor Perguruan Tinggi Swasta ataupun pejabat senior di perguruan tinggi itu, saya katakan human resources yang kita bangun inikan 4. Satu, sehat jasmani dan rohani. Yang kedua, cerdas. Yang ketiga, ya baik akhlaknyalah, budi pekertinya. Yang keempat, ini penting ini, tough, jangan jadi soft nation. Gigih, mau kerja keras, tidak cengeng, tidak mudah menyalahkan, pokoknya dia harus all out, seperti bangsa Korea, Jepang dan bangsa-bangsa lain yang kita anggap adalah bangsa yang kuat. Yang kelima, yang rukun. Kalau yang Saudara maksudkan, sistem pendidikan dirombak menuju ke situ, ya setuju-setuju saja, karena memang yang kita bangun seperti itu.
Ada saran Saudara lagi, dua lagi di sini. Agar demokrasi dan dalam melaksanakan demokrasi, demokratisasi, jangan ditinggalkan budaya bangsa. Kira-kira apa maksudnya, apa jangan kita masuk ke demokrasi yang liberal, yang seperti liberal, begitu kira-kira ya? Tadi disebut-sebut, China itu baik-baik saja, meskipun mungkin kurang demokratis itu. Amerika Latin yang dianggap demokratis, ekonominya kurang bagus. Tapi ingat ekonomi Amerika Latin banyak yang mulai bagus sekarang, Brazillia bagus, tidak-tidak tahun 60-an, 70-an kan begitu, sekarang sudah berubah.
Tapi begini Saudara-saudara, ya mudah-mudahan tidak salah perasaan saya ya. China ini kan luar biasa, nilai-nilai demokrasi barangkali diletakkan di bawah nilai-nilai harmonis, harmony, ini China. Bolak-balik saya kesana, bolak-balik saya ketemu pemimpin China, saya tangkap itu, harmony di atas democracy atau freedom dan China seperti itu. Mungkin juga, karakter bangsa China, bangsa Timur itu lebih senang harmoni, dibandingkan demokrasi model Barat. Mungkin benar, asalkan 10, 20 tahun lagi tidak ada masalah-masalah misalkan di negara-negara dalam dunia yang makin berdemokrasi sekarang ini, saya pun juga belajar memahami, mengapa China ekonomi itu tumbuh dengan baik, stabilitasnya baik, seperti itu ya. Sehingga poin yang Saudara angkat, demokrasi dan budaya bangsa jangan begitu dipisahkan, saya setuju. Karena kita tidak bisa ikut-ikutan bergaya hidup, bergaya demokrasi negara-negara lain, apakah Amerika, apakah Eropa, apakah China, Jepang, Korea, Arab dan lain-lain, ya kita-kita sendiri. Saya kira pastikan itu. Yang terakhir, Saudara menggarisbawahi good governance dan pemberantasan KKN. Saya kira itulah jantung dari upaya kita ini.
Saudara-saudara,
Saya sudah merespon semuanya itu. Dan saya boleh kasih PR ke Lemhannas, Pak Muladi ya? 10, ulangi, tahun depan itu 10 tahun reformasi, 100 kebangkitan nasional, tolong Lemhannas menyusun satu pikiran besar, katakanlah begitu, satu refleksi, refleksi kritis atas perjalanan reformasi kita yang tahun depan berusia 10 tahun. Lihat secara utuh, mana yang sudah benar, mana yang belum benar, meskipun Insya Allah dinaungi Inpres tadi, tetapi selalu ada yang belum pas dan apa kira-kira proposal Lemhannas kepada kita semua, apa yang harus kita lakukan ke depan lagi untuk melanjutkan proses besar reformasi dan demokratisasi. Sekarang bulan Juli, Agustus, September, Oktober, senang kalau saya bulan Oktober sudah bisa dipresentasikan kepada kita semua di sini. Bisa Bapak ya? Ya 3 bulan, apalagi 3 minggu pun siap itu. 3 bulan untuk Lemhannas.
Saudara-saudara,
Itu yang ingin saya sampaikan dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas pikiran-pikiran Saudara. Saya tunggu proposal Saudara dan saya katakan tadi, saya tunggu inikan pengabdian. Jadi kalau kita bicara seperti ini, jangan dianggap ini omong kosong, jangan dianggap ini hanya wacana saja, ini akan kita tuangkan. Jadi kalau saya pada bulan Januari menyampaikan pidato program pro rakyat ini, ini juga bukan wacana, ini adalah Program Pemerintah Tahun 2007 dengan anggaran tertentu, dengan prioritas tertentu, dengan kegiatan tertentu yang dilaksanakan di seluruh tanah air. Tanpa kita jelaskan, rakyat tidak tahu, apakah Pemerintah punya arah ini, apakah ada kebijakan yang pas, strategi yang pas dan apa yang dilakukan? Kita jelaskan, kalau menjelaskan seperti ini bukan wacana, itu yang kita lakukan, supaya semua menjadi bagian untuk menyukseskan program ini. Jadi kalau hari ini kita seperti ini, Saudara punya paper yang diringkas di sini tadi, saya sudah merespon sebagian telah dan sedang dilaksanakan Pemerintah, sebagian lagi harus kita jalankan secara keseluruhan, semua elemen nasional, komponen bangsa. Berarti kita, betul-betul ingin melakukan sesuatu secara konkret, bukan hanya diskursus ataupun wacana yang tidak pernah kita jalankan secara bersama.
Itu Saudara-saudara, sekali lagi terima kasih. Selamat nanti pada saatnya. Dan mudah-mudahan Saudara memiliki karier yang lebih baik lagi, setelah mengikuti PPSA angkatan ke-15 Lemhannas ini.
Sekian.
Selamat bertugas.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



