Pidato Presiden
Sambutan Silaturahmi dengan Peserta Raker Departemen Perdagangan
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHMI DENGAN PESERTA RAPAT KERJA
DEPARTEMEN PERDAGANGAN TAHUN 2007
ISTANA NEGARA, 19 JULI 2007
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudari Menteri Perdagangan dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Saudara Ketua, Wakil Ketua dan Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Saudara Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Nasional, para Pejabat jajaran Departemen Perdagangan, baik pusat maupun daerah, baik yang bertugas di dalam negeri maupun di luar negeri
Marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan dan Insya Allah kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
Saya juga senang bisa bertatap muka dan berdialog dengan Saudara-saudara yang mengemban peran yang penting dalam memajukan perekonomian nasional, utamanya di sektor perdagangan. Saya berharap Rapat Kerja yang Saudara-saudara ikuti selama tiga hari ini betul-betul dapat meningkatkan semangat, komitmen, dan kinerja Saudara di waktu yang akan datang dalam mengemban tugas yang penting, yang telah saya sampaikan tadi.
Saya menyimak apa yang disampaikan oleh Menteri Perdagangan tadi dan memang itulah substansi penting, isu, dan agenda utama kita dalam bidang perdagangan sebagai bagian dalam pembangunan ekonomi nasional yang kita jalankan secara sungguh-sungguh dewasa ini. Yang ingin saya sampaikan ada tiga agenda katakanlah begitu, ringkas.
Pertama, mari kita pahami dulu apa yang menjadi kebijakan, strategi, dan langkah-langkah pembangunan ekonomi kita pasca krisis dewasa ini. Yang kedua, saya ingin bicara khusus, bagaimana kita bisa menumbuhkan perdagangan di dalam negeri, jangan dilupakan itu. Dan yang ketiga, baru kita berbicara, bagaimana kita memenangkan perdagangan di luar negeri, utamanya di dalam mendorong perkembangan ekspor kita sebagai bentuk kontributor penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional kita.
Saudara-saudara,
Sebelum saya menjelaskan policies, strategies, actions kita di dalam perekonomian nasional ini, saya kira semua mengetahui bahwa ekonomi itu sesungguhnya bicara supply dan demand, barang dan jasa, bicara produksi dan konsumsi, bicara jumlah barang atau kuantitas dan harga barang atau jasa itu, price yang bertemu di pasar. Semua itu dekat dan menjadi lingkup pekerjaan dari sektor perdagangan yang dalam jajaran Pemerintah diawaki oleh Ibu Mari Pangestu dan Saudara-saudara semua di jajaran Departemen Perdagangan.
Tentu yang diharapkan untuk rakyat kita, untuk 230 juta saudara-saudara kita di seluruh Indonesia tersedia cukup barang dan jasa yang bisa dikonsumsi, bisa dibeli dengan harga yang terjangkau. Intinya di situ. Menyangkut perdagangan luar negeri, makin banyak barang dan jasa Indonesia yang dapat dipasarkan di luar negeri dengan harga yang baik, yang akan memberikan devisa dan akan memberikan sumbangan penting dalam growth kita atau pertumbuhan ekonomi kita. Sederhana, simple, gamblang, meskipun prakteknya tidak semudah apa yang kita teorikan seperti itu. Justru itulah diperlukan Saudara-saudara yang sudah memiliki pengalaman, jam terbang yang tinggi, teori yang luas dan banyak hal yang saya percayakan penuh bisa mengatasi masalah-masalah di bidang perdagangan, bisa mengemban tugas untuk mengembangkan perdagangan kita, baik di dalam maupun di luar negeri.
Saudara-saudara,
Sambil saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Saudara, jajaran Departemen Perdagangan dan seluruh komponen bangsa, alhamdulillah ekonomi kita mulai bangkit kembali. Sepuluh tahun yang lalu, tepat tahun 1997 bulannya juga bulan Juli, masih ingat semuanya, kita mengalami krisis, diawali dengan krisis moneter, krisis ekonomi berlanjut sampai krisis nasional. Sepuluh tahun kita berjuang keras, bangsa ini merangkak, merayap, berjalan pelan-pelan, menahan badai, topan, goncangan-goncangan dan lain-lain. Alhamdulillah Tuhan Maha Besar, bangsa ini ulet, tidak terjatuh dan kita bisa bangkit kembali.
Tiga tahun terakhir ini, pertumbuhan ekonomi kita mencapai 5% lebih. Tiga triwulan terakhir ini, ekonomi kita mencapai pertumbuhan 6% atau lebih sedikit. Dengan fundamental yang makin kuat, dengan makro ekonomi yang makin baik, dengan sektor riil yang makin tumbuh, meskipun harus kita akui angka pengangguran dan angka kemiskinan masih tinggi, meskipun sudah susut satu tahun terakhir ini, tetapi dengan kebangkitan ini, momentum ini, jangan kita sia-siakan. Marilah kita lanjutkan terus untuk betul-betul bisa memulihkan dan bahkan meningkatkan kembali ekonomi kita yang insya Allah bisa kita distribusikan secara adil kepada rakyat kita, sehingga akhirnya bisa meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Itu potret kita sekarang ini. Oleh karena itu, strategi kita, kebijakan kita yang sudah kita tetapkan bersama-sama Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat luas, termasuk lembaga-lembaga negara yang lain, Dewan Perwakilan Rakyat dan semua yang ada di negeri ini, bersama-sama untuk betul-betul meningkatkan pertumbuhan yang ingin betul kita investasi dan ekspor memberikan kontribusinya yang utama, menciptakan lapangan pekerjaan dengan menggerakan sektor riil, dan yang ketiga mengurangi kemiskinan dengan merevitalisasi pertanian dan pembangunan perdesaan kita.
Oleh karena itu, kita kenal sama-sama bahwa policy ini, strategi ini, kita sebut dengan pro growth, pro jobs and pro poor policy, yang insya Allah kalau kita tetap konsisten, tetap gigih dan kita jalankan bersama-sama hampir pasti akan mencapai tujuan dan sasaran yang kita kehendaki.
Dari semuanya itu, saya ingin menyampaikan betapa pentingnya peran dari sektor perdagangan, peran Saudara-saudara yang mengawaki sektor itu, yang mengembangkan kebijakan, yang mengambil keputusan-keputusan pada bidangnya dan yang lebih penting menjalankannya dalam praktek perdagangan di dalam maupun di luar negeri.
Masuk saya sekarang kepada apa yang mesti kita lakukan untuk meningkatkan perdagangan di dalam negeri. Saudari Menteri Perdagangan tadi sudah menjelaskan, marilah kita mulai dari yang basics. Tentu pihak lain, Departemen terkait, seperti Departemen Pertanian, Departemen Perindustrian, Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dan yang lain-lain juga bekerja, agar tersedia barang dan jasa yang cukup, yang bisa ditawarkan di dalam pasar, yang kemudian bisa dikonsumsi di dalam negeri kita, apakah oleh rumah tangga, oleh swasta maupun oleh pemerintah.
Di sini persoalannya adalah bagaimana pasar di dalam negeri ini efisien, Undang-undangnya benar, kebijakannya benar, peraturan-peraturannya benar, prakteknya pun juga benar. Kalau itu kita dapat lakukan, tanpa terjadi banyak distorsi dalam perdagangan di dalam negeri, maka tentu akan baik situasinya. Dukungan yang lain juga tidak kalah penting, perhubungan, infrastrukturnya, pemindahan barang dan jasa harus makin efisien. Dengan kemudian, harga jualnya pun makin terjangkau, sesuai dengan daya beli rakyat kita. Tugas kita, meskipun saya tahu dalam ekonomi terbuka, dalam ekonomi dewasa ini, peran pasar penting. Tetapi dilihat ekonomi kita, bukan menyerahkan diri pada ekonomi pasar semata, kapitalisme, neoliberalisme, tetapi selalu ada peran Pemerintah. The government rules inilah yang bisa memastikan bahwa keadilan sosial itu hadir. Open economy with sosial justice, ekonomi terbuka diserta keadilan sosial.
Dalam konteks ini, mari kita pastikan bahwa kalau barang itu ada, harganya pas, terjangkau oleh rakyat kita, manakala meskipun barangnya ada, jasanya ada, tapi rakyat kita tidak bisa membeli, tidak bisa mengkosumsi, tidak punya purchasing power, buying power yang cukup, negara tidak bisa membiarkan dinamika ini kita serahkan pada hukum pasar semata. Itulah kita melakukan intervensi yang bertujuan baik. Peran Pemerintah seperti itu sah, karena untuk sekali lagi, menegakkan keadilan, maka meregulasi harga, apakah harga BBM, apakah harga beras dan gabah, termasuk solusi harga minyak goreng dan lain-lain, sembako yang sudah dibahas sangat-sangat penting.
Saya hampir tiap minggu mengecek, mengikuti perkembangan harga sembako, beras, gula, minyak goreng, daging sapi, telur, cabe dan sebagainya. Karena itulah yang sangat diinginkan oleh masyarakat. Alhamdulillah, ekonomi tumbuh, inflasi dua tahun terakhir ini, kita kelola pada tingkat 6% lebih sedikit, bagus. Tapi ingat, secara nasional, secara agregat bagus 6%, tetapi pastikan betul bahwa harga beras, harga minyak goreng, harga gula dan sembako itu betul-betul baik terjangkau di masyarakat kita.
Ini memerlukan upaya bersama kita, sinergi antara usaha dan Pemerintah. Oleh karena itu, waktu harga beras beberapa bulan yang lalu mengalami kenaikan yang sangat tinggi. Jangan dikira saya diam saja, Menteri bekerja, saya berbicara dengan sebelas pedagang beras terbesar di negeri ini. Ketika minyak goreng kemarin seperti itu, jangan dikira saya membiarkan saja, saya bertemu dengan para pengusaha besar minyak goreng, CPO dan lain-lain. Ok di luar negeri luar biasa harganya, tapi tidakkah dengan kewajiban negara ini, Pemerintah ini, kita untuk membikin rakyat kita bisa membeli minyak goreng dengan harga yang terjangkau.
Dirumuskanlah kebijakan, sehingga pajak ekspor itu punya tujuan dan peran Pemerintah menjadi sah, karena kita ingin melindung konsumen kita yang tentu memiliki daya beli yang terbatas. Itu dari segi perdagangannya. Kami pun, kita pun ingin income atau pendapatan orang-seorang, rumah tangga makin tinggi. Caranya? Lapangan pekerjaan, ekonomi tumbuh, usaha tumbuh lapangan pekerjaan ada. Belum cukup, Pemerintah punya program, scheme untuk pengurangan kemiskinan, meringankan spending mereka dari income yang katakanlah masih pas-pasan, terutama yang miskin dan setengah miskin dengan bantuan pendidikan, bantuan kesehatan dan lain-lain. Harapan kita, daya beli itu makin besar, makin pantas. Kalau kita berjuang untuk itu, pasar pun diharapkan bisa memberikan harga yang bisa dijangkau oleh rakyat kita. Itu memerlukan usaha all out, paripurna dari kita semua, agar rakyat kita bisa memenuhi kebutuhan dasarnya, sembakonya dan kebutuhan-kebutuhan lain dengan kemampuan beli mereka yang kita ketahui masih dalam tahap pertumbuhan dan pengembangan.
Aspek lain dari perdagangan dalam negeri, disamping mengatur tadi itu supply dengan demand, bertemu di pasar harga yang pas, kadang-kadang kita intervensi untuk kepentingan rakyat kita, agar regulasi di sana, regulasi di sini juga tolong diberikan ruang untuk bergeraknya saudara-saudara kita dalam proses jual beli. Oleh karena itu, saya telah bertemu dengan para pengusaha pengelola pasar tradisional, jangan sampai mereka tidak punya ruang, tidak punya nafas, tidak punya tempat lagi untuk menjalankan usahanya. Jangan sampai keliru kita mengambil kebijakan, terutama Pemerintah Daerah, Gubernur, Bupati, Walikota, sehingga supermarket, hypermarket, makro, carrefour, yang besar-besar itu, jangan sampai kehadirannya mematikan pasar-pasar tradisional. Kita tata yang baik, tidak perlu harus tabrakan, semuanya punya kontribusi kepada perekonomian nasional, semuanya membayar pajak, terutama yang besar-besar. Pajak itu untuk rakyat juga, yang penting ditata, dikelola oleh kita semua, utamanya yang memberi ijin, yang mengeluarkan aturan daerah, sehingga terjadi koordinasi yang baik, tidak tabrakan di sana, di sini.
Banyak sekali yang harus terus kita lakukan di dalam negeri ini untuk memastikan perdagangan berhasil dengan baik. Oleh karena itu, sensitifitas, keperdulian, respon yang tepat dari Saudara-saudara sangat diperlukan. Saya kalau sudah denger, baca, lihat di TV, cabe keriting naik misalkan, agak banyak kalau saya sempat telepon, telepon Beliau, kalau nggak lompat ke Sekretaris Kabinet. Jadi Pak Sudi Silalahi ini mesti urusan cabe, urusan beras, urusan entah apa. Itulah saya mengemban amanah untuk rakyat, dikiranya bicara yang besar-besar, strategy, policy meskipun itu iya. Negara, mengelola negara, pemerintahan punya visi, punya kebijakan, tapi kami juga terus mengikuti dinamika keseharian persoalan rakyat kecil, pertanian, nelayan, di pasar dan sebagainya. Mari kita semua, Saudara-saudara pemimpin, Saudara semua pejabat harus bertanggung jawab, harus sensitif, harus peka, harus yang responsif, harus. Jangan dibiarkan akhirnya terlambat, tidak terkelola. Stabilitas harga penting, inflasi yang tergolak penting, sambil meningkatkan daya beli rakyat kita. Itu yang ingin saya sampaikan, khusus kepada perdagangan dalam negeri.
Perdagangan luar negeri, kita harus siap menghadapi kompetisi yang keras dan kadang-kadang kejam, dan kadang-kadang tidak adil. Tidak ada negara-negara sahabat, termasuk multinational corporation di dunia mau berbagi benefit ataupun hasil dengan yang lain-lain. Biasanya perlu orientasi pada dirinya sendiri, memang begitu hukum ekonomi, hukum persaingan, hukum pasar. Oleh karena itu, bagaimanapun namanya jualan, kalau kita menjual sesuatu supaya ini dibeli oleh orang lain, kita harus baik barangnya. Setelah barangnya baik, orang tahu kalau ini barang baik. Setelah tahu barang baik, ternyata harganya pas. Disitulah urusan productions, urusan politic control, urusan produk disain, branding, packaging, di situlah urusan promotion, itulah urusan marketing, itulah urusan delivery, itulah just in time delivery. Kalau persennya sekian, dijawab sekian, jangan short, jangan under sampai orang, wah Indonesia ini. Kalau komitmen klop, tidak pernah ingkar, mutunya pas, datangnya cepat, jumlahnya sesuai, senang saya punya mitra dagang dengan Indonesia. Itu dulu, jangan sebaliknya, wah Indonesia contohnya yang dikirim jelek, katanya sebulan nggak tahunya tiga bulan baru datang. Katanya sanggup 1000 ton, cuma datang 600 ton. Bagaimana kita mendapatkan chance dalam global market. Itu dulu, kita dulu.
10000 ton, China punya obyekan, kita dulu. Mari kita pastikan, yang kita jual barang dan jasa ini, yang kita pasarkan bener, pas, bagus, kompetitif. Yang kedua, Saudara-saudara menjadi mata dan telinga saya, apakah di Timur Tengah, apakah di China apakah di Eropa, apakah di Amerika, apakah di Hongkong, di Taiwan dimana-mana. We have to understand global market, we have to understand demand yang ada di situ. Market intelligent harus tajam dan serba enggak tahu, kapan-kapan. Mesti tahu.
Saya pernah datang ke negara-negara, saya tanya Dubes-dubes apa yang dibutuhkan di sini, tenaga kerja ini apa yang cocok di sini, profesi apa, masih mencari-cari, tidak boleh. Saya datang ketemu Saudara Atase atau Konjen atau Dubes bagaimana pasar. “Pak ini, Pak, ini komoditas pesaing kita begini, produk kita di sini, yang kurang begini, peluangnya di sini”. Begitu, understanding of the local market, market intelligent. Setelah itu, tahu rules-nya, tahu policies-nya, tahu lost-nya, Undang-undang di negara itu, tahu competitors kita, siapa. Kalau sudah begitu di dalam negeri, melakukan sesuatu yang baik, di luar negeri punya pengetahuan, punya cara, punya alat, maka terjadilah seperti itu. Dan tentunya masih ada rezim lagi, ada WTO, Free Trade Area, ada macam-macam, Saudara tahu kebiasaan negara-negara itu memberlakukan tarif, non tariff barriers, kuota, kontrol sana, kontrol sini, ya harus kita tembus.
Di situlah diperlukan orang-orang yang piawai untuk mengawaki perdagangan internasional. Orang bijak, orang yang dedikatif, orang yang responsif. Hal di situ ngga usah takut dengan siapapun, dengan China, dengan Vietnam, dengan India, dengan siapapun. We can compete. Banyak peluang kita untuk memasarkan barang kita di luar negeri. Banyak apakah barang jasa, pertanian, industri, manufaktur, termasuk heritage economy, termasuk creative economy, banyak sekali. Mari kita terus berinspirasi, apa yang bisa kita lakukan, yang kita tembus.
Ekspor harus tumbuh. Memang strategi kita Saudara-saudara, ini mulai saya ajak bicara Pak Hidayat, teman-teman pengusaha, para ekonom, teman-teman DPR, semua, kalau negara-negara tertentu itu kebanyakan Asia ini, Korea, Taiwan, Hongkong, Singapura, itu export oriented economy, karena pasar dalam negerinya tidak besar. Indonesia someday pasarnya, getting bigger and bigger, stronger and stronger. Kalau kita kuat pasar kita dengan daya beli yang tinggi, 230 juta, maka kita punya dual strategy. Satu, ekspor. Yang kedua, kita pasarkan di dalam negeri. Tapi eksport tetap lebih penting, karena untuk komponen pertumbuhan. Oleh karena itu, mari kedua wilayah ini, perdagangan dalam negeri, perdagangan luar negeri, kita menangkan, kita dorong, kita pacu dan kita semua bertanggung jawab.
Itulah Saudara-saudara, yang harus saya sampaikan. Indonesia in incorporateness, incorporated. Mari kita hidupkan, bersatu kita, Pemerintah, dunia usaha, DPR, masyarakat luas, semua, NGO bersatu kita untuk Sang Merah Putih untuk negara kita. Saatnya akan tiba, ekonomi kita tumbuh kembali. Saatnya akan tiba, perdagangan kita akan hidup kembali di dalam dan luar negeri. Kuncinya kita semua, hati kita, pikiran kita, tekad kita semua untuk bikin baik dan bikin tumbuh semuanya itu.
Itulah pesan saya. Mari kita sambut masa depan dengan baik. Saya ingin terus berkomunikasi, kalau saya datang ke daerah, kalau ketemu Saudara, yang akan saya tanya, yang itu-itu, mana sembako, bagaimana pasarnya, harganya, stabilitasnya, ini, itu. Keluar negeri saya cek apa, peluang kita, bagaimana volumenya, naik turun perdagangan dengan negara itu dan lain-lain. Saya minta Saudara laksanakan dengan sebaik-baiknya. Itulah harapan rakyat, itulah harapan kita semua.
Sekian.
Selamat bertugas.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



