Pidato Presiden
Sambutan Silaturahmi dengan Peserta Meeting dan Workshop Hutan Lestari
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHMI DENGAN PESERTA MEETING DAN
WORKSHOP HUTAN LESTARI
ISTANA NEGARA, 22 JULI 2007
Bismillahirrahmanirrahiim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang saya hormati Saudara Menteri Kehutanan dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Mantan Menteri Kehutanan,
Yang saya muliakan dan saya cintai para Pimpinan Nahdlatul Ulama,
Hadirin Peserta Seminar yang Insya Allah akan segera mengemban tugas yang mulia untuk melakukan gerakan penyelamatan hutan dan lingkungan.
Hadirin-hadirot yang dimuliakan Allah SWT,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak Hadirin-hadirot sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT karena kepada kita masih diberi kesempatan, diberi kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, tugas dan pengabdian kita kepada umat, kepada masyarakat dan kepada bangsa, serta negara.
Saya amat senang sore hari ini bisa bersilaturahim dengan Bapak/Ibu, Hadirin sekalian, setelah pada hari Jum’at yang lalu, saya menerima para Pimpinan Nahdlatul Ulama dan panitia penyelenggara. Saya masih ingat waktu itu sebelum kita menjalankan Shalat Jum’at dan meskipun hari ini acara saya padat, hari libur, tapi ada 5 kegiatan saya sejak pasca shubuh tadi. Tetapi karena saya menilai apa yang dlakukan oleh Saudara-saudara, Keluarga Besar NU untuk ikut memecahkan masalah yang dihadapi bangsa ini adalah kegiatan yang mulia, kegiatan yang penting, kegiatan yang tepat waktu sekarang ini, maka dengan senang hati, saya bisa, akhirnya bertemu dan berdialog pada sore hari ini.
Sebagaimana disampaikan oleh Bapak Prof. DR. Said Agil Shirodz tadi, bahwa permasalahan yang dihadapi oleh negeri kita ini kompleks, banyak, termasuk permasalahan lingkungan hidup. Permasalahan ini juga bukan hanya dihadapi oleh bangsa Indonesia, juga dihadapi oleh bangsa-bangsa lain, dihadapi oleh umat manusia sedunia, penghuni bumi ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Permasalahan di luar lingkungan hidup yang beliau sampaikan tadi kemiskinan, ketidakadilan, kejahatan, korupsi itupun juga dihadapi oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini. Oleh karena itu, bagi bangsa kita jawabannya tiada lain, mari kita bersatu padu, melangkah bersama mengatasi masalah-masalah itu demi kita semua, demi anak cucu kita, demi generasi yang akan datang dan demi masa depan yang tentunya Insya Allah lebih baik dari masa sekarang ini.
Dalam kaitan itulah, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Keluarga Besar NU atas tekadnya untuk melakukan gerakan nyata, bukan gerakan politik, tapi gerakan ibadah sesungguhnya ini, membantu masyarakat luas, membantu negara, membantu Pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah, utamanya yang berkaitan dengan lingkungan hidup, yang lingkungan hidup itu juga memiliki pengaruh kepada kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Hadirin sekalian yang saya cintai dan saya muliakan,
Saya kira kita semua sudah tahu, bahwa bumi kita ini usianya makin tua, penduduknya bertambah makin banyak. Penduduk bumi sekarang jumlahnya 6,3 milyar. Jumlah yang besar itu mengkonsumsi kebutuhan sehari-hari pangan, energi, air bersih dan lain-lain. Dan komoditas-komoditas yang dipergunakan untuk memenuhi hajat hidup umat manusia itu berasal dari bumi. Oleh karena itu, apabila tidak kita kelola dengan baik, kita lestarikan keberlangsungannya, kita cegah kerusakannya, maka terus terang masa depan kita akan gelap. Kalau ini terjadi, kita semua bersalah dan berdosa karena tidakkah diajarkan dalam ajaran Islam kepada kita semua diwajibkan untuk memelihara alam semesta ini dengan sebaik-baiknya, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, tepat sekali apabila Nahdlatul Ulama kali ini melakukan langkah-langkah yang tidak biasa dilakukan oleh organisasi massa keislaman, tapi karena dipanggil oleh tugas negara, tugas yang mulia, maka lahirlah prakarsa ini. Dan atas nama Pemerintah, saya menyambut baik, saya mendukung gerakan ini mudah-mudahan bisa menghasilkan sesuatu yang nyata, sesuatu yang konkret yang juga dilaksanakan oleh rakyat kita.
Saudara tahu, sekarang sedang menjadi isu perdebatan di dunia yang akhirnya bangsa-bangsa di dunia ini memberikan perhatian yang sungguh-sungguh, yaitu yang disebut pemanasan global. Pemanasan global atau global warming, karena kerusakan ruang udara atmosfer yang kerusakan itu disumbang oleh zat-zat yang tidak semestinya tidak ada di situ seperti CO2, karbondioksida, yang akhirnya dengan pemanasan global ini mengakibatkan perubahan iklim sedunia. Akibat perubahan iklim, banyak sekali kita saksikan bukan hanya di negeri kita, di negara-negara lain berbagai bencana alam terjadi.
Sering saya katakan, bumi berputar pada porosnya dalam putaran itu bumi dan bulan juga mengelilingi matahari, rotasi dan revolusi. Dalam rangka memelihara keseimbangan itu, maka Yang Maha Kuasa dengan kuasa-Nya melakukan sesuatu yang barangkali kita sering tidak memahaminya. Gempa bumi, letusan gunung berapi, gelombang tsunami. Yang seperti-seperti itu sesungguhnya kalau kita pahami struktur bumi adalah sesuatu yang memang kehendak Allah SWT dilakukan untuk memelihara keseimbangan, kalau tidak terjadi itu barang kali lebih dasyat lagi apa yang terjadi di bumi ini. Tetapi banyak bencana yang terjadi karena kelalaian umat manusia, keserakahan kita dan dosa-dosa dari penghuni bumi ini. Yang ini menjadi tugas kita semua untuk mencegahnya, untuk mengatasinya dan berharap tidak terjadi kelalaian, kecerobohan, dan keserakahan yang tidak semestinya terjadi di bumi ini sekarang dan di masa depan.
Bayangkan Saudara-saudara, kalau akibat pemanasan global, global warming permukaan air laut itu naik dan terus naik, Indonesia negara kepulauan yang jumlah pulaunya lebih dari 17.000 ribu konon, berapa banyak yang tersisa nanti? Itu baru sekitar luas Indonesia, belum perubahan iklim yang lain musim kemarau, musim penghujan, es meleleh di kutub utara, kemudian menyebabkan gejala-gejala geografi dan geologi yang lain pula, Kemudian juga badai topan Elnino, Lanina dan lain-lain. Karena perubahan iklim itu, maka umat manusia hampir pasti akan menderita kesulitan yang sangat besar, termaksud penyediaan kebutuhan sehari-harinya. Oleh karena itu, jawabannya marilah kita selamatkan bumi kita, save our world, dengan cara, mari kita pelihara hutan kita, karena menurut statistik di dunia ini penyumbang CO2 itu bisa dari pabrik, bisa dari kendaraan-kendaraan atau bisa dari hutan. Kalau soal sumbangan pabrik dan kendaraan, negeri kita tidak termaksud besar, negara seperti Amerika, Tiongkok itu penyumbang luar biasa. Tetapi kalau hutan Indonesia, Brazilia termasuk negara-negara yang menyumbang CO2. Oleh karena itu, hutan harus kita selamatkan. Kalau tidak selamat, lalai, ceroboh, tebang sana, tebang sini, bakar sana, bakar sini, ada kandungan CO2 yang kita sumbangkan ke muka bumi ini.
Kemudian kelalaian kita menebang sana sini terjadi banjir banding, tanah longsor dan sejumlah bencana alam, akibatnya kehidupan sosial sulit, kemiskinan terjadi dan lain-lain. Solusinya, mari kita pelihara hutan kita, stop illegal logging, stop penebangan liar. Mari kita tanam kembali, mari kita hijaukan kembali lahan-lahan yang tidak tergunakan dengan baik, lahan kritis, lahan tidur, mari kita bikin berguna semuanya tumbuh dengan baik, lingkungannya baik, kehidupan masyarakat sekitar itu juga baik.
Itulah pekerjaan-pekerjaan konkret yang harus kita lakukan. Tentu Pemerintah bertanggung jawab, Pemerintah berada di depan, tetapi keberhasilan gerakan ini juga sangat dibutuhkan, apakah masyarakat luas, komponen bangsa ini, civil society, juga ikut serta, ikut berkontribusi dalam penyelamatan hutan dan lingkungan hidup kita. Oleh karena itulah, saya sekali lagi memberikan apresiasi karena NU memberikan contoh kepeloporan untuk ikut serta bersama-sama melakukan gerakan penyelamatan hutan dan lingkungan ini.
Saya berharap gerakan ini dilaksanakan secara nyata, ada falsafah Jawa itu “sepi ing pamrih, rame ing gawe”, rakyat akan senang nanti melihat karya nyata, kerja nyata kita semua dan mereka akan berterima kasih. Rakyat kita ini sangat pandai berterima kasih. Rakyat kita ini tahu sebenarnya siapa yang tulus, yang ikhlas untuk bekerja untuk memperbaiki negeri ini mengatasi masalah-asalah mereka dan siapa yang hanya berbicara saja, tetapi tidak turun, tidak bekerja secara tulus, secara sungguh-sungguh untuk mengatasi mereka. Saya yakin yang ada di ruangan ini, Saudara-saudara ingin menjadi bagian yang sepi ing pamrih, rame ing gawe, Insya Allah.
Saudara-saudara,
Bulan Desember nanti, Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang perubahan iklim atau climate change. Indonesia dipilih menjadi tuan rumah, tentu dengan tujuan. Tujuannya adalah Indonesia negara berkembang, negara yang besar yang juga memiliki masalah-masalah lingkungan hidup, sekarang makin peduli, makin nyata apa yang harus dilakukan utnuk menyelamatkan lingkungannya. Dengan menjadi tuan rumah, tentu harapannya betul-betul menggugah, mengajak, menyemangati negara-negara lain untuk melakukan hal yang sama. Yang mengajak negara-negara maju juga mengurangi sumbangan CO2-nya kepada atmosfer. Oleh karena itu, kita harus menjadi tuan rumah yang baik, harus berhasil menyelenggarakan konferensi itu. Dan apa yang kita lakukan tahun ini dan Insya Allah tahun-tahun berikutnya lagi, termasuk partisipasi dan kontribusi dari Nahdlatul Ulama juga merupakan bagian dari bagaimana kita menjadi tuan rumah yang baik, menjadi bagian upaya penyelamatan bumi kita ini.
Tentu dalam pidato saya nanti, Insya Allah bulan Desember di Denpasar, saya akan laporkan kepada forum besar nanti, apa saja yang dilakukan oleh bangsa Indonesia dalam makin bertanggung jawab, makin melakukan kebijakan dan langkah-langkah nyata menyelamatkan buminya, menyelamatkan lingkungannya. Saya berharap, kita semua bukan hanya karena ada konferensi internasional, tapi ini sudah lampu kuning Hadirin-hadirot yang saya cintai, untuk kita bersama-sama menyadari bahwa bumi yang makin tua ini akan tidak bisa menampung, tidak bisa mendukung kebutuhan-kebutuhan manusia yang lebih dari 6,3 milyar yang apabila kehidupan ini penuh dengan kelalaian, penuh dengan ketidaktanggungjawaban dan hal-hal lain yang merugikan keselamatan bumi kita.
Sering saya katakan di dunia ini, 850 juta saudara-saudara kita di seluruh jagad itu kalau malam tidak bisa tidur, 220 juta diantaranya anak-anak, karena lapar. Mereka lapar, karena miskin. Oleh karena itu, solidaritas keumatan, kemanusiaan, keglobalan adalah bagaimana masing-masing negara bekerja penuh di negerinya masing-masing untuk benar-benar terus-menerus mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, membangun ekonominya, membangun kesejahteraannya dan lingkungannya. Itulah tanggung jawab global yang patut kita lakukan. Dengan demikian, Indonesia menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah yang dihadapi oleh dunia kita.
Itulah yang ingin saya sampaikan dan saya senang karena para ulama, para sesepuh juga turun gunung memberikan semangat, memberikan dorongan kepada kita semua untuk tampil dan bertanggung jawab menyelamatkan negeri tercinta kita ini. Itulah yang saya sampaikan. Saya ucapkan selamat berkarya, selamat beribadah dan selamat berjuang dan saya ingin terus-menerus memelihara komunikasi nanti, apa yang dapat kita lakukan secara bersama untuk kebaikan bersama.
Demikian Saudara-saudara, semoga Allah SWT selalu memberikan bimbingan, petunjuk dan lindungan-Nya kepada kita sekalian semoga karya kita, prakarsa kita mendapatkan ridho-Nya dan mencapai hasil yang sebaik-baiknya.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



