Pidato Presiden
Sambutan Panen Raya Padi Sri Organik
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PANEN RAYA PADI SRI ORGANIK
CIANJUR, JAWA BARAT
30 JULI 2007
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Pertanian dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, para Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen, hadir Pimpinan BULOG, Pimpinan Bank Rakyat Indonesia dan pejabat yang lain,
Yang saya hormati Saudara Gubernur Jawa Barat, Saudara Bupati Cianjur, dan para Pejabat Negara dan Pemerintahan yang bertugas di Jawa Barat, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri, Saudara Gubernur Kalimantan Tengah dan para Pejabat Pemerintahan yang berasal dari Provinsi lain,
Yang sama-sama kita cintai sesepuh kita, Bapak Solihin GP, Pimpinan Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Teater Sunda. Saya mengenal Beliau sudah lama, Beliau disamping pernah memimpin Jawa Barat juga seorang prajurit dan hingga hari ini terus peduli dan melakukan sesuatu untuk rakyat dan pembangunan di negeri tercinta ini.
Saudara Pimpinan MEDCO Foundation, Pak Arifin Panigoro, Saudara Pimpinan Yayasan Aliksa Organik SRI,
Yang saya cintai para petani, baik yang berasal dari Jawa Barat maupun daerah-daerah lain dari seluruh tanah air,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah pada kesempatan yang membahagiakan dan Insya Allah penuh berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT karena kepada kita masih diberi kesempatan, diberi kekuatan dan juga kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Kita juga bersyukur ke hadirat Allah SWT karena hari ini dapat bersilaturrahim dan berdialog dalam suasana yang penuh dengan semangat dan tekad yang tinggi untuk memajukan dunia pertanian kita pada khususnya dan meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia pada umumnya.
Hadirin yang saya hormati,
Sebagai pengantar, saya ingin sedikit bernostalgia, tadi waktu saya istirahat sejenak di rumah tunggu bersama Pak Gubernur dan saudara-saudara yang lain, saya mengatakan itu melakukan perjalanan darat tadi dari Cikeas, Bogor ke Ciawi terus naik ke Cipanas dan sampai ke tempat ini, saya melihat kiri-kanan dan saya merasakan bahwa sangat akrab dengan daerah ini. Dulu saya mengabdi di TNI selama kurang lebih 30 tahun, separuh itu bertugas di Jawa Barat kurang-lebih 15 tahun dan kedua anak saya juga lahir di Bandung.
Kemudian yang ingin saya ceritakan, liku-liku jalan, waktu itu Cipularang belum ada, Pak Solihin. Jadi mesti lewat jalan utama ini, seperti hafal karena 15 tahun mondar-mandir Jakarta-Bandung, Bandung-Jakarta, begitu, bersama keluarga. Dan yang menjadi kenangan saya hampir setiap tikungan-tikungan, rumah makan-rumah makan, itu sampai sekarang sangat saya kenali, bahkan tempat mobil saya dulu sering mogok di tempat-tempat itupun masih saya kenali, belum berubah. Ya, kalau saudara sering dari Bandung ke Jakarta banyak sekali pilihan kalau kita belok sedikit untuk mengisi perut kita mulai dari Cimahi, kemudian pertigaan ke batu jajar itu, lantas masuk ke Citatah juga ada Rumah Makan Pamuju kalau nggak salah dulu di situ. Di Cipatat, di Raja Mandala, di Ciranjang, di Cianjur, banyak sekali pilihannya ganti-ganti rumah makan saya. Naik ke atas, kemudian di Cipanas sendiri tadi pelayan atau yang punya rumah makan Simpang Raya langganan saya berjejer tadi Pak, melambai-lambaikan tangan karena saya dekat, akrab dengan beliau-beliau. Kemudian di Padang Sati dulu, menjadi Roda, apa namanya itu, Rindu Alam, terus ke bawah.
Jadi itulah keindahan, kebesaran rute atau wilayah di Jawa Barat ini meskipun ada Cipularang tidak bisa digantikan itu. Cipularang-cipularang memang lebih cepat jalan dari Bandung ke Jakarta atau sebaliknya mungkin 2 jam Pak Gubernur, ya? Tetapi apa yang kita dapatkan sepanjang jalan utama ini tidak bisa digantikan. Oleh karenanya, saya menganjurkan sekali-kali lewat Cipularang silakan, sekali-kali lewat sinilah supaya menjadi bagus begitu.
Kemudian sebagai pengantar yang kedua, terima kasih Bapak Solihin tadi untuk mengucapkan selamat pernikahan saya yang berusia 31 tahun. Isteri saya itu biasanya mendampingi dalam acara-acara seperti ini, tadi menyampaikan salam hormat kepada Bapak dan para Petani. Tadi malam isteri saya atau Ibu Negara berangkat ke Beijing karena diundang oleh PBB dalam hal ini UNESCO untuk menyampaikan pidato tentang program yang sekarang dijalankan di negeri kita ini, yaitu program mobil pintar, motor pintar dan rumah pintar, yaitu satu program seperti perpustakaan keliling, begitu, yang datang di berbagai tempat, terutama di daerah-daerah terpencil, daerah-daerah yang kurang mampu masyarakatnya untuk memberi kemudahan anak-anak membaca dengan apa yang sudah disiapkan di mobil, rumah dan motor pintar itu, termasuk hal-hal lain seperti komputer dan keterampilan yang memang perlu untuk kita tingkatkan. Jadi kita dianggap memiliki inisiatif yang baik oleh PBB dan inisiatif kita semua itu mendapatkan apresiasi dan diminta untuk menjelaskan hal itu kepada negara-negara lain agar saling berbagi pengalaman.
Hadirin yang saya muliakan,
Saya sangat senang mendengar apa yang disampaikan oleh Bapak Solihin GP tadi dan juga Pak Gubernur dan Saudara Menteri Pertanian karena semuanya itu sungguh melegakan, bagaimana kita membangun pertanian di negeri ini secara baik, bagaimana kita bisa meningkatkan kecukupan dan ketahanan pangan juga secara baik, yang tentunya sangat diharapkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Tadi ketika saya panen bersama dengan saudara-saudara petani kita, saya senang dengan dua spanduk yang ada di belakang kita, di sawah tadi yang berbunyi, “SRI datang membawa peluang, persembahan anak negeri untuk pangan dan alam lestari”. Kemudian juga satunya lagi ada spanduk yang berbunyi, “Padi jiwa negeri dan darah bangsaku”, bagus.
Saudara-saudara,
Ini kesempatan yang baik untuk saya bisa berbicara dari hati ke hati dan nanti saya juga ingin mendengar pandangan-pandangan para petani. Silakan disampaikan kepada saya nanti dan banyak Menteri juga mendampingi saya, Pak Gubernur, Pak Bupati, semuanya. Apa yang bisa kita lakukan secara bersama untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan juga untuk memajukan pertanian di negeri ini. Yang penting Saudara-saudara, petani atau pertanian yang baik itu adalah atau saya katakan petani dan pertanian yang baik itu jasanya besar karena menyelamatkan dunia. Mengapa saya harus mengatakan menyelamatkan dunia? Penduduk di bumi ini makin banyak, sekarang jumlahnya 6,4 miliar manusia, bayangkan. Dan masih akan bertambah pada tahun-tahun mendatang. 6,5 miliar manusia itu semua memerlukan pangan, memerlukan makanan, sebagian besar justru memerlukan beras atau padi.
Oleh karena itu jelas, kalau pertanian itu berkembang dengan baik, petani berkontribusi untuk meningkatkan beras dan padi secara sungguh-sungguh berarti benar-benar menyelamatkan dunia karena bisa mencukupi kebutuhan pangan dunia, termasuk penduduk Indonesia. Yang kedua, mengapa saya juga mengatakan petani dan pertanian yang baik menyelamatkan dunia? Saudara tahu, bumi kita ini makin tua. Karena makin tua, maka lingkungan ini rawan. Saudara mendengar yang disebut perubahan iklim sedunia, climate change. Saudara mendengar yang disebut pemanasan global. Bumi makin panas, udara di atas bumi juga makin panas atau global warming.
Akibat pemanasan global dan perubahan iklim di seluruh dunia, terjadi banyak perubahan tata, cuaca, dan iklim. Saudara saksikan sekarang, kebakaran dimana-mana, hutan yang tadinya baik-baik saja banyak terjadi kebakaran di negara-negara di dunia ini. Minggu lalu, ada 500 orang di Hongaria meninggal karena panasnya luar biasa, yang tidak lazim. Hujan tiba-tiba curahnya tinggi sekali di negara-negara tertentu, banjir bandang terjadi dimana-mana. Yang terakhir, terjadi di negara kita di Kabupaten Morowali.
Ini menandakan perubahan iklim sedunia. Perubahan iklim itu pada hakekatnya terjadi karena kesalahan manusia. Memang ada peristiwa alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, itu memang peristiwa alam terjadi justru untuk mengatur keseimbangan alam semesta. Barangkali kali kalau tidak ada seperti itu malah lebih buruk dan itu adalah kuasa, kehendak Allah SWT. Ini para ulama, para kyai ada di sini, para Pemimpin, ada tokoh masyarakat mengetahui betul bahwa ada kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang secara keimanan harus kita percayai. Tetapi banyak bencana di negeri ini karena perubahan iklim, karena pemanasan global, karena kelalaian kita, keserakahan kita, termasuk kesalahan di dalam mengelola hutan. Kesalahan di dalam melaksanakan kegiatan pertanian.
Dengan pertanian yang baik, petani yang baik, termasuk teknologi atau cara-cara SRI ini, maka diharapkan kerusakan lingkungan dapat makin kita cegah, terutama di negeri tercinta ini. Dengan demikian, kita menjadi bagian penyelamatan dunia dan bukan menjadi bagian perusakan dunia.
Saya mengatakan dengan gamblang seperti ini dan para wartawan boleh diangkat di tulisan-tulisan bahwa petani dan pertanian yang baik, termasuk metodologi SRI benar-benar dapat menyelamatkan bumi kita, dunia kita, dan negeri kita.
Hadirin sekalian,
Tadi Pak Solihin mengatakan, kehutanan juga sangat penting untuk kita rawat, kita lestarikan dengan baik. Beliau mengatakan tadi kalau tidak ada hutan ya sulit atau tidak ada air katakanlah, kalau tidak ada air, ya tidak ada masa depan. Kita tidak mungkin hidup tanpa air, betul? Makan, makanan, minuman adalah kebutuhan paling dasar manusia. Mungkin tidak pakai baju selama seminggu masih bisa hidup kita. Mungkin kita tidak bernaung di bawah rumah atap selama dua minggu, mungkin masih tetap hidup kita. Tapi kalau kita tidak makan, tidak minum selama seminggu belum tentu kita selamat.
Oleh karena itu, persoalan air, ini adalah persoalan kehidupan bersama, persoalan masa depan kita. Hutan kalau tidak kita kelola, menyumbangkan asap, kebakaran, asap hutan itulah, kebakaran hutan itulah yang menyebabkan terjadinya polusi karena diproduksi CO2 karbondioksida, yang itu bikin pemanasan global, yang itu bikin merubah iklim. Akhirnya bencana terjadi dimana-mana. Hutan harus kita lestarikan, hutan harus kita rawat karena sekaligus juga bisa menyimpan kandungan dan bisa memberikan kebutuhan air bagi kehidupan kita.
Saudara-saudara,
Dari situ saya menyambut baik, saya mendukung penuh berbagai inisiatif kegiatan sebagaimana yang dilakukan oleh tadi, Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Teater Sunda, MEDCO Foundation, Yayasan Aliksa Organik SRI dan semua pihak yang benar-benar ingin membangun pertanian kita yang baik, pertanian yang berkelanjutan, pertanian yang ramah lingkungan dan tentunya makin mendatangkan keuntungan bagi para petani dan rakyat kita.
Tadi saya dijelaskan dipanel sana satu per satu tentang teknologi, tentang cara-cara bercocok tanam padi menggunakan metode SRI, System of Rice Intensification. Sebetulnya namanya lebih dari itu, karena setelah saya pelajari tadi, saya lihat, saya saksikan bukan hanya System of Rice Intensification, tapi boleh ditambahkan meskipun tidak usah ditulis System of Enviromentaly Friendly Rice Intensification, sistem intensifikasi padi atau beras yang ramah lingkungan. Banyak cara untuk meningkatkan produktivitas padi naik begitu, tapi ternyata intervensi pupuk kimia yang berlebihan. Akibatnya peningkatkan produktivitas makin banyak panennya, tapi lingkungannya jebol. Tahun ini masih aman, tahun depan rusak, tahun depannya lagi lebih rusak lagi.
SRI ini menurut saya dua-duanya terpenuhi karena kita ingin produksinya naik, lingkungannya aman. Saya pernah belajar di IPB selama 3 tahun. Ini juga banyak di IPB. Saya pernah diundang di Padang, Universitas Andalas untuk menyampaikan semacam orasilah begitu. Saya sampaikan pembangunan pertanian di Indonesia harus bergeser dari yang dulu kita kenal revolusi hijau, green revolution, ini Pak Anton tahu persis, memang meningkat luar biasa produksi pangan sedunia, tetapi ternyata muncul kerusakan-kerusakan setelah itu. Harus kita ganti dengan pembangunan pertanian yang sekali lagi ramah lingkungan yang berkelanjutan, sustainable agricultural development.
Jadi green revolution harus yang baik-baik boleh kita pertahankan, tetapi yang tidak sesuai kita ganti dengan yang ramah lingkungan. Menurut saya, SRI inilah contoh nyata pembangunan pertanian berkelanjutan sebagai koreksi dari green revolution, pembangunan hijau yang dulu banyak menggunakan pupuk-pupuk kimia dan cara-cara yang ternyata bisa mengganggu lingkungan, terutama untuk jangka panjang. Dan disamping secara umum metode SRI ini solusi, sebagai bagian dari solusi bukan masalah dan juga menciptakan peluang yang baik dalam pembangunan pertanian untuk Indonesia juga sangat cocok.
Saudara-saudara,
Jangan dikira air yang ada di Pulau Jawa masih melimpah ruah. Pulau Jawa ini dari segi air sudah lampu kuning, tidak boleh kita boros-boroskan, dihambur-hamburkan, lalai, tidak pandai. Pada saat harusnya kita tahan di hutan-hutan, hutannya gundul. Pada saat airnya banyak, jadi banjir, merusak, yang ada hanya merugi saja. Oleh karena itu, karena air ini harus sangat dihemat di pulau jawa khususnya, meskipun di tempat lain juga tidak berarti tidak ada masalah, maka pertanian pun yang mengkonsumsi air dari irigasi itu harus sehemat mungkin. Ternyata SRI telah memberikan solusi cara bercocok tanam, cara menanam padi yang tidak banyak menggunakan air dengan hasil yang paling tidak sama, bahkan lebih besar dari yang terlalu banyak menggunakan air. Ini contoh konkret dari metode SRI ini.
Solusi yang kedua mengapa SRI penting? Cara bercocok tanam yang terlalu banyak menggunakan pupuk kimia disamping secara lingkungan tidak baik, mungkin juga kalau salah, kalau berlebihan mencemari produk-produk pertanian itu. Tapi saudara juga harus tahu bahwa pupuk kimia itu harganya juga tidak murah. Dan kemudian kebutuhan untuk pupuk kimia kalau diikuti terus akan besar sekali. Pupuk itu, bahannya dari gas, antara lain. Gas itu juga suatu saat akan habis. Oleh karena itu, kita harus berhemat gas.
Minyak kita kalau tidak ditemukan yang baru tinggal 20 tahun lagi. Gas kita kalau tidak diketemukan yang baru tinggal 60 tahun lagi. Batu bara kita kalau diboros-boroskan 150 tahun lagi habis. Oleh karena itu wajib hukumnya bagi bangsa Indonesia, bagi kita semua menghemat semuanya, termasuk menghemat gas. Supaya gasnya tidak habis, tidak terlalu banyak untuk pupuk, maka pupuk kimianya dikurangi, diganti dengan pupuk organik Ini juga jawaban. Kalau sudah diproses seperti tadi yang saya lihat, limbah ya toh, sesuatu yang selama ini kita buang-buang didaur ulang, termasuk kotoran-kotoran ternyata sehat, subur jadi pupuk organik tidak merusak lingkungan.
Saya kira ini solusi yang ketiga pengaturan limbah yang baik. Pernah suatu saat saya masuk kota Bandung itu baunya nggak karuan-karuan itu. Pernah Bapak ya? Ini persoalan sampah saja sampai kita ikut berpikir semua. Marilah kita mulai dari rumah-rumah, dari RT-RT, RW sampai kota pandai-pandai mengelola sampah. Jangan dibuang sembarangan, baunya kemana-mana, lalatnya beterbangan, tidak sehat. Oleh karena itu, bagus SRI yang limbah-limbah pun, yang ini didaur ulang dijadikan pupuk organik.
Cerita bekas-bekas pasar, saya tadi lewat pasar Cipanas yang terbakar, saya ikut sedih dan Insya Allah saya akan mampir nanti Pak Gubernur. Saya ingin dengan para Menteri, apa yang bisa kita bantukan, Pak Menteri PU, Menteri Sosial, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah ada di sini, Pak Gubernur, Pak Bupati. Mari kita kita bersama-sama bergotong-royong membantu pembangunan pasar itu.
Dan mumpung masih ingat, pasar itu harus ada sistem yang baik, managemen yang baik, pengamanan yang baik. Pengamanan dari kejahatan, pengamanan dari, misalnya konsleting listrik, kebakaran-kebakaran, pengamanan dari sabotase. Siapa tahu zaman sekarang itu ada yang tidak ikhlas kalau ada kemajuan dalam kehidupan kita ini, yang jahat begitu. Kita harus punya sistem, oleh karena saya akan ketemu pimpinan pasarnya nanti. Pak Bupati, tolong nanti ketemukan saya. Bagaimana selama ini meyakinkan aman, tidak akan ada kebakaran, tidak akan diganggu dan seterusnya. Ini harus kita pikirkan sambil kita bangun baru lagi nanti dengan, ya mudah-mudahan ada bantuan. Pimpinan BRI, Pak Sofyan Basir, tolong pikirkan juga nanti bagaimana kredit yang ringan, agar ini bisa dibangun kembali. Ya, bisa kita berbagi rasalah karena kasihan itu penghidupannya berjual beli di pasar, pasarnya terbakar bagaimana bisa memenuhi kehidupannya sehari-hari.
Hadirin sekalian,
Kembali ke masalah SRI, saya dukung penuh dan saya minta para Menteri apalagi Menteri Pertanian tentu akan mendukung penuh. Mari kita kembangkan SRI ini seluas-luasnya. Mengapa? Tadi cerita pangan kita harus kita naikkan. Tahun ini kita harus tambah dua juta ton. Ini para Gubernur, Bupati, Walikota harus berjuang habis-habisan. Nanti yang tidak serius kita kasih kartu merah nanti. Bukan hanya kartu kuning tadi malam Irak melawan Saudi Arabia. Kalau saya tidak peduli, tidak mau bekerja, tidak mau apa-apa terus rakyatnya menderita ya kartu merah begitu, kan begitu? Setujukan? Karena kalau pangan kita kurang, harganya bergejolak, kasihan semuanya. Harganya harus pas, harga melindungi petani, tapi juga bisa dibeli oleh saudara-saudara kita yang lain. Begitu cara kita memproduksi dan menetukan harga.
Sekali lagi mengapa saya dukung SRI dan mari kita kembangkan seluas-luasnya karena produktivitas naik tanpa merusak lingkungan. Itu kuncinya. Jadi Saudara bertanggung jawab kepada anak cucu kita, kepada generasi mendatang, jangan dihabis-habiskan yang ada di tempat kita ini tanpa memikirkan nasib mereka.
Dan kalau solusinya itu kembali ke alam, beliau mengatakan back to basic atau back to nature kembalikan pada hukum alam, kembalikan pada dasarnya, itu sudah benar. Karena Allah SWT menciptakan alam semesta dengan segala kehidupannya, itu sudah dipikirkan ada satu ekosistem, satu siklus kehidupan yang bisa mengatasi masalah-masalah itu dengan akal pikiran manusia, dengan jiwanya, dengan karakternya, dengan tanggung jawabnya. Jadi kalau kita kembalikan apa yang ada di alam semesta ini, musti benar. Oleh karena itu, para peneliti, para sarjana, semua yang ada dalam keluarga besar SRI ini, tolong didayagunakan penuh MEDCO Foundation dan Yayasan Aliksa juga berkontribusi penuh agar semuanya bisa berjalan dengan baik.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Dan menutup dari sambutan saya ini, saya hanya ingin menyampaikan pesan pribadi kepada para petani. Profesi petani itu mulia, di negara manapun petani menjadi soko guru dari kehidupan di negerinya dan juga menjadi penyelamat. Lihat petani Jepang, petani Eropa, petani Amerika dan lain-lain, itu profesi yang terhormat. Saya ingin kehormatan, harga diri, jati diri petani kita hidupkan kembali. Pertanian itu bukan hanya sektor pembangunan. Pertanian itu juga way of life, jalan hidup, peradaban, civilization, nilai, tradisi.
Jadi banggalah dengan profesi petani sebagai sebuah peradaban, sebagai sebuah way of life dan sebagai sebuah komunitas yang dengan penuh tanggung jawab, penuh ketulusan, penuh gotong-royong bersama-sama memajukan kehidupan pertanian itu. Dan sudah mulai terdengar oleh banyak pihak, mereka-mereka yang hidup dalam modernitas, teknologi canggih di kota-kota besar, main komputer siang dan malam, mereka merindukan sesuatu yang alami, merindukan bertutur sapa, bersahabat dengan yang lain, mereka merindukan alam yang lepas, yang tidak serba robotic, serba komputer dan lain-lain. Ternyata mereka ingin kembali ke basic, kembali ke nature.
Kita yang memiliki segalanya dengan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mari kita rawat baik-baik, mari kita lestarikan, kita kembangkan kehidupan petani, sehingga mendatangkan kebahagiaan. Ternyata mereka yang hidupnya penuh dengan komputer, penuh dengan itu juga memerlukan sesuatu yang menurut mereka lebih bahagia. Saya kira hidup dengan tentram, lingkungan yang bersih, pertanian yang baik, rasa persaudaraan yang kuat, sapa-menyapa, bantu-membantu adalah kehidupan yang indah, kehidupan yang membawa kebahagiaan dan mari kita lestarikan secara bersama.
Demikian Saudara-saudara sambutan saya. Selamat berjuang, Tuhan beserta kita. Saya akan kembali ke tempat untuk menjawab pertanyaan Saudara dan marilah kita majukan terus SRI ini pada khususnya dan pertanian pada umumnya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



