Pidato Presiden
Sambutan Pembukaan Munas Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBUKAAN MUNAS
GABUNGAN PERUSAHAAN FARMASI INDONESIA
ISTANA NEGARA, 3 AGUSTUS 2007
Bismillahirrahmanirrahiim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Kesehatan,
Yang saya hormati para mantan Menteri dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Pimpinan Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia dan para Pengurus Pusat, Saudara Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Pimpinan Ikatan Dokter Indonesia, Pimpinan Badan POM dan para Pejabat Negara yang turut hadir dalam acara ini,
Yang saya hormati para Pimpinan Industri dan Usaha Farmasi,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan karya kita, tugas dan pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
Pertama-tama, tentu saya mengucapkan selamat melaksanakan Musyawarah Nasional yang Insya Allah akan segera dilaksanakan di Palembang, Sumatera Selatan. Saya berharap Munas ke-13 kali ini benar-benar menghasilkan sesuatu yang dapat meningkatkan industri dan usaha farmasi di negeri kita ini, sekaligus dapat meningkatkan sumbangan dunia farmasi kepada masyarakat Indonesia yang sama-sama kita cintai.
Hadirin yang saya muliakan,
Saya menyimak apa yang disampaikan oleh Saudara Anthony tadi, termasuk rekomendasi kepada Pemerintah, saya juga menyimak apa yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan, kebijakan dan langkah-langkah apa yang dilakukan Pemerintah di sektor kesehatan atau di bidang pembangunan kesehatan yang saya berharap dapat disinergikan dengan baik di masa depan. Dengan demikian, tujuan mulia di pembangunan kesehatan, termasuk pengembangan usaha dan industri farmasi dua-duanya dapat dicapai.
Saudara-saudara,
Kita ketahui bahwa obat dan obat-obatan dari satu perspektif itu dapat kita sebutkan sebagai sub sistem dari sistem kesehatan. Demikian juga farmasi dengan segala cabang-cabang industri dan usahanya juga menjadikan komponen penting dalam sektor kesehatan. Oleh karena itu, komitmen Pemerintah sangat jelas untuk terus mengembangkan dan memajukan industri dan usaha farmasi, baik dalam usahanya di tanah air maupun dalam meningkatkan daya saingnya di pasar internasional, sebagaimana yang menjadi tema dari Musyawarah Nasional ke-13 ini.
Saya senang dengan tema itu, karena Saudara menyadari bahwa globalisasi ini mendatangkan, baik ancaman maupun peluang, threat and opportunity. Kalau kita hanya memaknai globalisasi ini sebagai ancaman, apabila kita bisa mengatasi ancaman itu, kemenangan kita hanya separuh, kita hanya menang dan beruntung 50% saja. Apalagi kalau kita tidak mampu menghadapi terobosan, ancaman globalisasi yang sering tidak membawa serta keadilan dan bisa menyusahkan kehidupan sebuah negara. Tetapi kalau Saudara, kita semua disamping bisa menghadapi ancaman itu, tapi juga bisa merebut peluang, mengalirkan sumber-sumber kemakmuran dari negara lain dalam era globalisasi ini, maka kemenangan kita menjadi berlipat ganda. Kita akan menjadi bangsa yang beruntung dan bukan bangsa yang merugi karena tahu persis hukum-hukum globalisasi. Oleh karena itu, tuangkanlah cara pandang ini menjadi kebijakan dan program-program GP Farmasi Indonesia untuk betul-betul dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Saudara-saudara,
Saya kira saudara semua mengikuti apa yang dilaksanakan oleh Pemerintah bahwa sektor kesehatan adalah merupakan prioritas dari pembangunan yang kita jalankan dewasa ini. Kita ingin derajat kesehatan manusia Indonesia, masyarakat Indonesia terus meningkat dari masa ke masa. Ini pertama-tama, karena kesehatan adalah salah satu hak dasar manusia, bagian dari quality of life of the people sering diukur dalam human development index. Dan tentunya, manusia tidak akan berdaya dan kemudian bisa menjalani kehidupan sehari-harinya, memilih profesi, meningkatkan kecerdasannya dan aktivitas sosial lainnya, jika ia tidak sehat. Kalau tidak sehat, maka kita gagal untuk memberikan hak dasar, pelayanan dasar kepada manusia Indonesia. Lebih dari itu kesehatan yang baik, nutrisi dan gizi yang baik, lingkungan masyarakat yang baik akan membikin bangsa kita menjadi bangsa yang sehat dan bangsa yang sehat itu adalah kesehatan sebuah masyarakat, salah satu pilar dari daya saing bangsa. Sehingga bagi orang seorang sangat penting, meningkatkan derajat kesehatannya, bagi society and nation juga sangat penting, agar dia bisa berkompetisi dengan bangsa manapun di dunia ini.
Dengan penetapan sektor kesehatan menjadi prioritas, maka wajib Pemerintah untuk memberikan anggaran, memberikan sumber daya atau resources melalui berbagai kebijakan dan program aksi yang nyata, yang akhirnya benar-benar dapat diketahui bahwa kita sungguh memberikan prioritas yang tinggi pada pembangunan kesehatan.
Beberapa saat yang lalu, ketika saya meresmikan salah satu bagian dari Sanbe Farma di Bandung, saya sampaikan waktu itu kepada saudara-saudara kita yang hadir dalam acara itu, bahwa dari tahun ke tahun Pemerintah terus meningkatkan anggaran kesehatan. Sejak 2004, ketika saya mulai mengemban amanah bersama Pemerintah yang saya pimpin hingga tahun 2007 ini, anggaran kita naik 250%. Tahun 2007 ini, yang sedang kita jalankan, anggaran kita sudah mencapai 17,24 trilyun plus DAU 3,2 trilyun.
Kemudian kita telah menjalankan Program Askeskin yang sangat dirasakan oleh saudara-saudara kita yang tergolong miskin dan setengah miskin, poor and the near poor yang itu jumlahnya 51 juta, bahkan saya dengar lebih. Kita juga melakukan revitalisasi Puskesmas, Posyandu dan infrastruktur kesehatan di pedesaan di seluruh negeri ini, karena itu sangat penting untuk memelihara kesehatan, baik orang seorang maupun masyarakat kita.
Program-program di waktu yang lalu yang dalam era reformasi, terutama babak awal kemarin tidak kita jalankan secara sungguh-sungguh, saya putuskan untuk dihidupkan lagi. Apa yang tepat, yang baik dan masih relevan dari yang dilaksanakan Pemerintah-pemerintah sebelumnya sejak mendiang Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega harus tetap kita jalankan karena negara ini harus kita kelola dengan memelihara kesinambungan. Ingat, reformasi itu sendiri harus kita maknai dengan kesinambungan dan perubahan. Yang baik-baik, kita lanjutkan karena menguntungkan rakyat, memberikan manfaat bagi rakyat. Yang sudah tidak cocok, bersama-sama kita perbaiki, change and continuity, perubahan dan kesinambungan.
Kemudian anggaran untuk DB, flu burung, HIV/AIDS dan lain-lain juga kita alokasikan secara signifikan. Pekan Imunisasi Nasional kita hidupkan kembali. Dan Alhamdulillah meskipun masih panjang jalan yang harus kita lalui, masih harus bekerja keras kita semua, tetapi tentu kasus gizi buruk yang tahun 2005 katakan saja 176.176 orang turun menjadi 19.567 orang pada tahun 2006 harus terus-menerus kita upayakan. Ini pekerjaan kita semua Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, dinas-dinas kesehatan, masyarakat luas dan para pejuang di bidang kesehatan tentunya juga saudara-saudara yang bergerak di industri dan usaha farmasi.
Masih menyangkut kebijakan kita, nanti akan saya ajak saudara untuk membicarakan satu policy untuk menurunkan harga obat generic, bahkan hingga 70% 150 jenis dan antara 10 sampai 80% meliputi 1418 jenis obat essensial. Ini adalah program aksi, ini adalah langkah-langkah konkret yang akhirnya pembangunan kesehatan bisa berjalan, derajat kesehatan manusia Indonesia dan masyarakat Indonesia dapat kita tingkatkan.
Hadirin yang saya hormati,
Menyangkut industri dan usaha farmasi sebagaimana yang disampaikan oleh Pimpinan GP Farmasi Indonesia tadi, ada tiga dimensi. Beliau mengatakan dimensi ekonomi begitu, dimensi teknologi dan juga dimensi sosial kemanusiaan. Saya bersama-sama Pemerintah yang saya pimpin akan terus mendorong, mendukung, memfasilitasi agar sebagai bidang usaha yang memiliki dimensi ekonomi, industri dan usaha farmasi terus maju dan berkembang. Tidak ada resepnya Pemerintah tidak sungguh-sungguh mendorong, memajukan industri ini. Tidak ada resep, kamusnya Pemerintah bahkan tidak memberikan ruang yang cukup, apalagi kalau ada kasus-kasus yang menghalang-halangi, menghambat kebangkitan dan pertumbuhan industri dan farmasi di negeri ini.
Mengapa? Kalau industri yang Saudara kelola tumbuh baik, tentu negara dan rakyat mendapatkan manfaat. Yang pertama, obat-obatan tersedia. Meskipun kita terus berusaha memelihara kesehatan masyarakat kita jangan sakit, tapi hukum alam mengatakan di negara manapun mesti ada yang sakit. Bagaimana kalau obatnya tidak tersedia?
Yang kedua, kalau usaha ini tumbuh dan berkembang negara mendapatkan penerimaan dari pajak, Saudara menyumbang pajak. Kalau industri dan usaha ini juga terus berkembang dari hulu sampai hilir, produksi, distribusi, pelayanan, apotek, toko obat dan semua sub sistemnya, komponen-komponen bisnisnya, lapangan kerja akan terbuka. Kalau saudara kita bisa bekerja lebih banyak lagi, artinya pengangguran bisa kita turunkan, mereka akan mendapatkan penghasilan, bisa memenuhi kehidupan sehari-harinya, kemiskinan akan berkurang. Itu di dalam negeri dan kami juga ingin Saudara tidak menjadi macan kandang. Saya ingin betul-betul produk farmasi Indonesia juga bisa masuk mainstream dari usaha farmasi dan obat-obatan secara global. Dengan demikian, nilai tambahnya, devisanya yang ini juga menjadi komponen growth. Kalau growth ini terjadi, sekali lagi Pemerintah mendapatkan keuntungan, keuntungan yang kita salurkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita. Kami sangat commited untuk tumbuh dan berkembangnya industri dan usaha farmasi yang Bapak/Ibu sekalian kelola sekarang dan ke depan.
Saudara-saudara,
Dimensi yang kedua, yang saya katakan tadi sosial kemanusiaan tentu tidak boleh diabaikan. Saya senang pikiran ini, komitmen ini, tanggung jawab ini muncul pada Saudara-saudara semua. Saya sering mengatakan, kalau kita ingin tahu nasib, kesulitan hidup saudara-saudara kita yang masih tergolong miskin, setengah miskin di perdesaan, daerah tertinggal sering-seringlah datang, sering-seringlah melihat kehidupan mereka, sering-seringlah berdialog dan berkomunikasi. Itulah sebabnya saya terus memelihara komunikasi saya, baik langsung, melalui SMS maupun saluran-saluran yang lain dengan petani, dengan nelayan, dengan buruh, dengan guru, dengan bidan, dengan Puskesmas semua. Saya berharap, termasuk Saudara-saudara sekali-kalilah ke pelosok-pelosok, bagaimana mereka mengkonsumsi obat, sejauh mana daya beli mereka, bagaimana kalau mereka sakit disamping mereka ada Askeskin, ada program-program Pemerintah, apa yang dapat saudara lakukan untuk meringankan kesulitan hidup mereka.
Dan tentunya, sebagaimana saya katakan tadi, asosiasi juga ikut bertanggung jawab untuk mensukseskan program Pemerintah, program bersama kita sebetulnya, kemudian memastikan ada ketersediaan obat dan obat itu dijangkau oleh masyarakat di dalam pembeliannya. Dan obat murah dan berkualitas menurut saya salah satu upaya kita untuk melaksanakan program pro rakyat, pro poor policy, pro poor action. Kita harus mengkoreksi teori pembangunan yang mungkin secara teoritis benar, tetapi dalam praktek tidak begitu. Kalau ekonomi tumbuh terus 5%, 6%, 7% dan terus kemiskinan akan berkurang, pengangguran akan berkurang, kesenjangan akan berkurang begitu teorinya, dalam prakteknya tidak selalu, apalagi negara berkembang, di negara kita juga sudah kita rasakan. Oleh karena itu, kita harus mengubah cara pandang, paradigma dan melakukan revolusi dalam kebijakan pembangunan kita.
Sejak awal, saya ingin setiap growth terjadi, langsung disertai, dirasakan pemerataannya, growth with equity. Growth itu harus enklusif, harus broad based dan harus didistribusikan tidak harus menunggu sampai di puncak menetes ke bawah yang disebut trackle down effect, yang tidak kunjung menetes, berhenti di simpul-simpul, di kantong-kantong tertentu. Kalau itu yang kita lakukan, mungkin bagus growth-nya, mungkin bagus fundamentalnya, tetapi kesenjangan dan kemiskinan tidak segera berkurang.
Mari kita lakukan gerakan nasional langkah bersama kita menuju ke situ. Oleh karena itulah, dengan pertumbuhan ekonomi yang Alhamdulillah dalam triwulan terakhir sudah mencapai 6% mudah-mudahan ke depan makin baik lagi, penerimaan kita makin banyak, APBN makin banyak. Saya mengajak DPR RI untuk mengalokasikan anggaran yang cukup untuk pengurangan kemiskinan, termasuk kesehatan, pendidikan, usaha kecil dan lain-lain yang sifatnya pro poor policy, pro poor fact. Dengan demikian, ketika statistik kita bagus, ekonomi tumbuh, mereka pun wajib mengucap syukur Alhamdulillah karena Pemerintah juga memperhatikan tingkat kesejahteraan mereka. Saudara bisa mengambil bagian dalam program yang mulia ini.
Dengan penjelasan tadi, di satu sisi ekonomi harus tumbuh maksud saya usaha dan industri farmasi harus tumbuh dengan menggunakan hukum-hukum ekonomi, dengan menggunakan semua yang berlaku dalam good corporate governance, good business pratice dan kami akan dukung. Di sisi lain, Saudara bisa untuk berkontribusi dari aspek sosial kemanusiaan. Tentunya Pemerintah harus bersama-sama Saudara merumuskan supaya adil. Bagaimana mungkin saudara kita harap makin produktif, makin kompetitif, makin berkembang kalau beban, kalau itu dianggap sebagai beban, meskipun menurut saya harus dimaknai sebagai kontribusi sosial dan kemanusiaan itu tidak balance.
Oleh karena itu, saya ingin usahanya tumbuh, tumbuh betul secara ekonomi juga tumbuh nyata, tetapi saudara tetap bisa memberikan kontribusi untuk masyarakat yag memerlukan bantuan kita. Di sini saya sudah bicara dengan para Menteri, mari kita rumuskan policy yang tepat seperti apa? Misalnya kami sudah mengeluarkan Askeskin berarti ada komponen anggaran negara, anggaran Pemerintah untuk itu, Pemerintah yang memberikan subsidi kepada rakyat kecil, rakyat miskin, harus.
Saya tidak senang kalau anggaran itu entah APBN, APBD boros, mengadakan yang tidak perlu diadakan, melakukan sesuatu yang tidak diperlukan dilakukan, entah perjalanan dinas, entah pembangunan gedung-gedung yang mewah, kendaraan-kendaraan yang tidak perlu dan seterusnya. Lebih bagus kita hemat di situ, efisien di situ, optimal di situ, sebagian kita alirkan untuk mengembangkan ekonomi kita, infrastruktur misalnya, sebagian lagi masuk kepada pendanaan program pro kemiskinan. Dan saya katakan, tidak salah, tidak harus ikut negara lain subsidi sekecil mungkin, subsidi masih kita perlukan untuk betul-betul membantu saudara-saudara kita yang memerlukan. Sekarang subsidi kita sekarang sekitar 130 atau 100 trilyun lebih begitu untuk listrik, untuk BBM, untuk pertanian dan lain-lain enggak apa-apa untuk rakyat kita kok, mereka belum memiliki daya beli yang baik kok, mereka belum betul-betul sejahtera. Lebih bagus begitu daripada diboros-boroskan dengan pengeluaran dan pembelanjaan yang tidak perlu.
Yang kedua, mari kita rumuskan kebijakan harga, pricing policy. Tadi dikatakan, semua sama dari Jakarta sampai Belawan sampai Merauke. Coba dilihat lagi seperti pricing policy-nya apa plus minusnya, sehingga kita punya satu policy yang pas untuk obat ini, yang baik bagi semua.
Yang ketiga, kebijakan perpajakkan. Sangat bisa dibicarakan nanti, ketika Saudara harus memproduksi obat-obat yang murah, obat serba seribu, di situ ada harganya saya sudah pegang kemarin itu. Seperti-seperti itu dengan hitung-hitungan pajak yang tepat sangat bisa dibicarakan. Tentu kalau Saudara memproduksi obat untuk dipasarkan di Asia, di Eropa dan lain-lain ya tidak bisa lantas begitu saja meminta insentif fiskal, tetapi kalau untuk obat yang murah untuk rakyat kita itu bisa dibicarakan, scheme-nya seperti apa untuk keringanan pajak misalnya. Dengan demikian, tetap dua-dua terpenuhi seperti yang saya sampaikan tadi, dimensi ekonomi bisnis dan dimensi sosial kemanusiaan.
Joint research, Saudara punya research center? Pemerintah juga punya research center. Mengapa tidak kita kerjasamakan dengan baik sehingga ada efesiensi, ada component cost yang sama-sama bisa kita reduksi, misalnya. Jadi tolong dirumuskan saya meminta Menteri Kesehatan, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Menteri Keuangan, Meneg BUMN, coba berlima nanti ketemu dengan asosiasi, rumuskan yang baik, bagaimana policy yang tepat sekarang ke depan ini sehingga dua-dua tadi tercapai. Kalau itu bisa kita lakukan, saya kira menjadi fair, menjadi adil, tidak boleh saling “Wah Pemerintah sih atau sebaliknya bagaimana nih farmasi kita tidak kontributif”. Bicarakan dengan baik-baik. Dengan demikian, kita akan bisa melangkah ke depan dengan keikhlasan, dengan keyakinan bahwa yang kita laksanakan secara bersama ini benar. Rumuskan policy itu yang saya katakan tadi hanya sebagian saja, mungkin ketemu lagi apa saja yang betul-betul akhirnya rakyatlah yang diuntungkan, saudara-saudara kita yang belum mampulah yang diringankan bebannya.
Hadirin yang saya hormati,
Akhirnya menutup sambutan saya ini, saya ingin mengajak dan memberikan, menyampaikan harapan kepada Saudara-saudara semua para pengusaha industri farmasi untuk terus melaksanakan penelitian, pengembangan, dan inovasi teknologi untuk bisa memproduksi obat-obatan yang makin berkualitas, harus aman memang, harus tinggi mutunya dan harus berkhasiat.
Kita negara yang masih memiliki ancaman penyakit-penyakit menular, communitable diseases, DB, malaria, flu burung, HIV/AIDS dan lain-lain. Dunia juga, teknologi yang kita miliki belum mampu memproduksi misalkan untuk obat-obatan untuk HIV/AIDS, untuk kanker barangkali yang cespleng begitu. Siapa tahu dari bumi Indonesia, putera-puteri Indonesia mendapatkan hidayah dari Allah SWT dan akhirnya bisa memproduksi sesuatu yang bisa mengubah sejarah kemanusiaan, terutama menghadapi berbagai ancaman penyakit. Saya dorong bagi yang sudah berusaha di mancanegara, tingkatkan kualitasnya, rebut peluang, dapatkan opportunity pasar, agar Saudara bisa segera masuk ke mainstream sekali lagi usaha di bidang farmasi sedunia. Jangan kalah sama China dan India.
Waktu saya bertemu dengan pemimpin-pemimpin di kedua negara itu, saya pun mengajak, menganjurkan untuk bekerja sama di bidang farmasi. Karena saling menimba pengalaman, mungkin ya kita juga bisa meningkatkan kinerja kita, bisnis kita. Sukseskan kebijakan obat murah berkualitas. Saya minta, saya mohon kepada Saudara-saudara demi rakyat kita, bicarakan sekali lagi scheme-nya seperti apa, policy design-nya seperti apa supaya bisa kita sukseskan. Jalankan corporate social responsibility. Saya tahu sebagian dari Saudara sudah memberikan banyak bantuan kepada masyarakat, pendidikan, pengasuhan, ini dan itu lanjutkan dan kalau mungkin tingkatkan dan utamakan segmen-segmen masyarakat, komunitas-komunitas masyarakat yang rawan terhadap ancaman penyakit, yang rawan di bidang kesehatan.
Saya kira itulah yang ingin saya sampaikan Saudara-saudara. Dan setelah Munas nanti di Palembang, saya ingin mendengar apa komitmen, langkah-langkah nyata dari asosiasi, dari semua untuk bersama-sama Pemerintah menyukseskan pembangunan di sektor kesehatan ini dalam langkah-langkah yang nyata. Dengan demikian, negara kita makin baik. Kita tahu bahwa masalah yang kita hadapi kompleks, tidak seperti membalik telapak tangan, tidak berjalan di bawah bulan purnama, tapi percayalah kalau kita ingin betul memperbaiki negara ini bersama—sama selalu berjalan, jalan Tuhan dan Insya allah masa depan kita akan lebih baik dari sekarang ini.
Demikianlah dan akhirnya seraya memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim”, Musyawarah Nasional ke-13 Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia dengan resmi saya nyatakan dibuka.
Sekian
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



