Pidato Presiden
Sambutan Peringatan Isra Mi`raj Nabi Muhammad SAW Tahun 1428 H
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN ISRA MI’RAJ NABI MUHAMMAD SAW
TAHUN 1428 H/2007 M
MASJID AGUNG AN-NUR, PEKANBARU
11 AGUSTUS 2007
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saudara-saudara kaum muslimin dan muslimah, di seluruh tanah air,
Hadirin dan hadirot sekalian yang saya muliakan,
Marilah kita bersama-sama sekali lagi memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena hanya atas rahmat dan karunia-Nya, pada malam ini kita kembali dapat menyelenggarakan Peringatan Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW tahun 1428 Hijriah yang dipusatkan di Pekanbaru, Riau.
Salawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabat dan pengikut-pengikut Rasul sampai akhir zaman.
Hadirin kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Pada malam yang baik ini, saya mengajak Saudara-saudara semua untuk kembali merenungkan makna Peringatan Isra Mi’raj yang setiap tahun kita selenggarakan di berbagai tempat di seluruh tanah air.
Kita memperingati Isra Mi’raj pada setiap tanggal 27 Rajab, selain untuk menyemarakkan syiar Islam, juga mengajak kaum muslimin untuk dapat mengambil hikmah dan pelajaran guna memperkokoh keimanan dan keyakinan kita kepada-Nya, sekaligus meyakini dengan sepenuh hati akan kebenaran kitab suci Al-Qur’an yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
Jika kita merenungkan peristiwa Isra Mi’raj yang dijalani oleh Nabi Besar Muhammad SAW, dalam perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu naik ke Sidratul Muntaha, tentu banyak kandungan hikmah dan pelajaran yang dipetik oleh kita semua.
Peristiwa perjalanan Nabi Besar Muhammad SAW, diawali dengan pembersihan hati, melalui media rukyah, sebagai bekal cahaya dalam perjalanan suci itu, pembersihan hati sebagai bagian dari dimensi kerohanian merupakan awal dari suatu proses perubahan atau proses transformasi sebelum melakukan berbagai pekerjaan besar.
Oleh karena itu, sebagai bangsa yang besar, kita hendaknya dapat memetik hikmah Isra Mi’raj, kita juga harus melakukan upaya pembersihan hati dan kejernihan berpikir sebelum mengantarkan bangsa ini menuju bangsa yang kuat, jaya dan bermartabat.
Membangun bangsa sesuai dengan peran dan fungsi kita ibarat melakukan sebuah perjalanan suci yang memerlukan kebersihan hati dan kejernihan nurani, sehingga berbagai kesulitan yang kita hadapi dapat kita atasi dengan baik.
Dengan hati yang bersih itu, kita dapat saling memelihara harmoni dan kebersamaan kita dalam membangun martabat dan peradaban bangsa yang lebih maju. Ini sesuai dengan pesan-pesan moral dan spiritual yang tadi disampaikan oleh Saudara Prof. Nazil Karim. Dengan hati yang bersih pula kita dapat terhindar dari rasa kebencian, saling salah menyalahkan dan fitnah.
Peristiwa Isra Mi’raj yang kemudian mewajibkan umat Islam untuk menunaikan shalat 5 waktu memberikan pelajaran kepada umat mengenai kepatuhan, keikhlasan, kesabaran dan ketawakalan. Kita mengetahui bagaimana Rasulullah SAW harus mempertaruhkan kenabiannya untuk menjelaskan peristiwa besar itu. Banyak umatnya yang tidak percaya dan bahkan kembali murtad. Tetapi banyak pula yang semakin kuat keyakinannya akan ke-Maha Besaran Allah SWT, dan akhirnya menjadi seorang muslim yang kokoh keimanan dan ketakwaannya.
Hadirin, hadirot yang saya muliakan,
Dalam membangun peradaban umat manusia, kita dapat mencontoh kehidupam masyarakat Madinah. Rasulullah SAW telah memberikan teladan dalam membangun peradaban ummat manusia di Madinah. Kaum muslimin bersatu padu, bahu membahu, mewujudkan tatanan masyarakat yang aman, damai, adil dan sejahtera, sebagaimana masyarakat yang kita cita-citakan sekarang ini.
Masyarakat yang dicontohkan oleh Rasulullah itulah yang kemudian dikenal sebagai masyarakat khairo ummah, umat yang terbaik dan utama. Suatu masyarakat yang dibangun di atas fondasi tauhid, serta masyarakat yang taat dan patuh kepada hukum.
Saudara-saudara,
Pembangunan yang kita lakukan ini pun harus berorientasi pada nilai-nilai Ilahiah, nilai-nilai yang bersumber dari Allah SWT dan Rasulnya. Dengan cara itu, kita akan mampu mengemban amanah ini dengan baik. Ajaran Islam memerintahkan umatnya untuk membangun persatuan dan kesatuan. Islam melarang umatnya untuk berpecah belah.
Ajaran Islam juga mendorong umatnya untuk meraih kemajuan. Umat Islam bahkan disuruh untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan dan dilarang untuk berbuat kerusakan dan kemungkaran. Nilai-nilai seperti itu masih sangat relevan dengan situasi bangsa kita, ketika keutuhan bangsa dan negara kita sedang mengalami berbagai ujian. Nilai-nilai itu juga sangat relevan ketika bangsa kita tengah berjuang untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan. Semua itu adalah tantangan yang sangat besar bagi kita semua,
Kita tidak boleh berpangku tangan menghadapi semuanya itu, kita harus giat bekerja dan berusaha agar bangsa kita menjadi bangsa yang maju, bangsa yang sejahtera lahir dan batin. Masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa dan negara kita, tidak akan terselesaikan kalau kita tidak bersikap pro aktif, menjemput untuk menyelesaikannya. Kita tidak boleh menunggu atau membiarkan segalanya terjadi tanpa ada upaya yang sistematis dan terencana untuk menyelesaikannya.
Pemerintah telah dan akan terus bekerja keras untuk mengatasi masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa kita, terutama dalam mengatasi masalah kemiskinan dan masalah pengangguran serta upaya untuk meningkatkan kesejahteraan. Namun, pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri tanpa dukungan dan keikutsertaan seluruh lapisan masyarakat. Tidak akan ada kemajuan tanpa perjuangan dan usaha bersama.
Ajaran Islam telah mengajarkan kepada kita, bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu bangsa kalau bangsa itu tidak berjuang keras untuk memperbaiki nasibnya sendiri. Rasulullah SWT juga telah mencontohkan kepada kita bahwa ajaran Islam itu mustahil tersebar tanpa perjuangan. Sebagaimana saya katakan tadi, masyarakat Madinah yang adil, aman, tenteram dan sejahtera pun tidak mungkin terwujud tanpa kerja keras dan pengorbanan dari seluruh komponen masyarakatnya.
Saudara-saudara,
Bangsa dan negara kita pun tidak akan pernah berubah nasibnya kalau segenap komponen bangsa tidak bersatu padu, berjuang dan bekerja keras untuk memperbaiki nasibnya.
Di tengah persaingan global dewasa ini, bangsa kita harus pandai-pandai memanfaatkan segala peluang yang ada. Kita tidak boleh lengah dan lalai. Kelemahan dan kelalaian akan menyebabkan kita kehilangan kesempatan dan momentum dan akhirnya menjadi bangsa yang merugi.
Hadirin yang saya muliakan,
Peringatan Isra Mi’raj pada malam ini sungguh memiliki makna sangat dalam bagi bangsa kita. Peringatan ini berdekatan waktunya dengan Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Negara kita yang ke-62 yang insya Allah beberapa hari lagi akan kita peringati bersama.
Di masa perjuangan pergerakan kemerdekaan, semangat Islam yang berpadu dengan semangat kebangsaan telah mengilhami kaum muslimin, para santri, para ulama serta umat beragama lainnya di seluruh tanah air untuk berjuang dengan gigih mengusir penjajah dalam mencapai cita-cita kemerdekaan.
Selama 62 tahun kita merdeka, Bangsa kita telah mengalami begitu banyak ujian dan cobaan. Namun, semuanya itu dapat kita lalui dengan penuh kesabaran. Sebuah bangsa tidak akan maju tanpa ujian. Sebagaimana iman seseorang tidaklah akan bertambah teguh tanpa cobaan. Untuk menghadapi berbagai ujian dan cobaan itu, marilah kita bekerja keras dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Komunikasi dan kedekatan seseorang manusia sebagai makhluk dengan Allah SWT sebagai Khalik mutlak diperlukan. Komunikasi dan kedekatan itu dapat kita bangun melalui ibadah dan dzikir yang berkesinambungan.
Dalam kaitan itu, saya menyambut gembira tumbuh dan berkembangnya perkumpulan majelis taklim dan kajian agama di tanah air. Mudah-mudahan melalui kegiatan keagamaan yang semakin marak, menjadi jalan yang baik dalam menata kehidupan individu dan kesolehan sosial. Kita bertekad untuk melanjutkan proses perjalanan bangsa kita menuju ke kehidupan yang lebih baik.
Sebagai manusia yang beriman, kita harus selalu optimis menatap masa depan, jangan bersikap pesimis, apalagi putus asa. Sebaliknya kita harus mampu berdiri tegak dan bertekad bulat untuk secepatnya mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain.
Hadirin yang saya muliakan,
Melalui momentum Peringatan Isra Mi’raj tahun ini, saya mengajak kepada umat Islam di seluruh tanah air untuk memperteguh keyakinan dan semangat kita untuk melanjutkan pembangunan bangsa dan negara. Kita bangun negeri kita di atas fondasi keimanan dan ketakwaan. Kita bangun negeri kita dengan kebersihan jiwa dan kesucian nurani sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Dengan kebesaran jiwa dan kesucian nurani, kita yakin dan percaya Allah SWT akan senantiasa melimpahkan rahmat dan karuniaNya dan akan membimbing perjalanan Bangsa kita menuju masa depan yang lebih baik. Marilah kita isi kemerdekaan dengan karya nyata. Marilah kita lanjutkan pengabdian kita kepada Bangsa dan Negara dengan dilandasi oleh niat ikhlas karena Allah SWT semata.
Kita harus menyadari bahwa perjuangan untuk membangun bangsa dan negara, menuju masyarakat yang aman dan damai, adil, makmur dan sejahtera lahir batin adalah perjuangan yang panjang. Perjuangan yang masih memerlukan kerja keras dan pengorbanan. Oleh karena itu, pada kesempatan yang baik ini sekali lagi, saya mengajak kepada kaum muslimin di seluruh tanah air untuk meningkatkan iman, ilmu dan amal saleh. Marilah kita perkukuh persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai persaudaraan, kebersamaan dan kerukunan diantara umat beragama.
Akhirnya hanya kepada Allah SWT kita memohon segala pertolongan, dan hanya kepadaNya juga, kita mengembalikan segala persoalan. Marilah kita berdoa semoga Allah SWT senantiasa memberkati langkah-langkah kita bersama dalam menghadapi setiap ujian dan tantangan. Serta dalam perjuangan kita membangun hari depan bangsa yang lebih cerah dan gemilang.
Sekian Saudara-saudara,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



