Pidato Presiden
Sambutan Silaturahmi dengan Paskibraka, Juara Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Provinsi serta Para Teladan
TRANSKIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHMI DENGAN PASUKAN PENGIBAR
BENDERA PUSAKA, PARA JUARA LOMBA DESA DAN KELURAHAN TINGKAT PROVINSI SERTA PARA TELADAN
KEMAYORAN JAKARTA,18 AGUSTUS 2007
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya cintai Saudara Wakil Presiden beserta Ibu Mufidah Yusuf Kalla, Ibu Negara, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu. beserta para Ibu, Saudara Wakil Gubernur DKI Jakarta atau Gubernur DKI Jakarta terpilih, para Pimpinan Lembaga Non Departemen, Pimpinan Pekan Raya Kemayoran, Ibu Titiek Puspa ada di sini.
Saudara-saudara para Teladan, para Pemenang Lomba, Anggota Paskibraka, Paspampres yang saya cintai dan saya banggakan,
Kita bersyukur sekali lagi kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Pertama, karena negara yang kita cintai genap berusia 62 tahun. Yang kedua, kita dapat berkumpul ditempat ini dengan harapan, agar Tuhan Yang Maha Kuasa membimbing perjalanan bangsa kita, memberikan petunjuk kepada kita semua untuk membangun hari esok yang lebih baik. Tadi saya bersama Wapres dan para undangan telah diperkenalkan Saudara-saudara, para teladan, para pemenang lomba, Paskibraka, maka giliran saya untuk memperkenalkan siapa yang hadir bersama kita.
Ada pepatah tak kenal, maka tak sayang. Tentu pendamping saya, meskipun sudah melihat fotonya bersama foto saya dimana-mana, tapi ada bagusnya kalau beliau juga berdiri pada malam hari ini, Bapak Muhammad Yusuf Kalla, Wakil Presiden beserta Ibu. Terima kasih Pak Yusuf. Pendamping saya, Ibu Negara, terima kasih. Kemudian yang tadi menyampaikan sambutan awal, tapi tetap harus berdiri, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Bapak Aburizal Bakrie beserta Ibu. Supaya negara kita juga aman, ada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Bapak widodo AS.
Sekarang saya perkenalkan Menteri yang hadir bersama kita, Menteri Sekretaris Negara, Bapak Hatta Radjasa. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Bapak Jero Wajik. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Bapak Erman Suparno. Menteri Agama, Bapak Maftuh Basyuni beserta Ibu. Sebelah kanannya, Panglima TNI, Marsekal TNI Djoko Suyanto beserta Ibu. Menteri Pertanian, Bapak Anton Apriantono beserta Ibu. Menteri Kesehatan, Ibu Siti Fadillah Supari. Menteri Pendidikan, Bapak Bambang Sudibyo. Kemudian Wakil Gubernur DKI Jakarta, ya saya kira yang tinggal di Jakarta sudah tahu fotonya dimana-mana, Bapak Fauzi Bowo beserta Ibu. Dan tentunya para pejabat dan staf utama. Sudah kita perkenalkan semua.
Saudara-saudara,
Ini hari baik, kemarin kita memperingati Proklamasi Kemerdekaan yang ke-62 Tahun dan hari ini, 18 Agustus masih dalam suasana kegembiraan, tapi belum saya perkenalkan ada Pak Arif Rahman yang juga pendidik kita sebelah sana. Saya mengajak Saudara untuk menyanyi satu lagu bersama-sama, Satu Nusa Satu Bangsa.
Berdiri kita. Saya kasih suara dulu. Satu nusa, satu bangsa, ulangi ya, satu, dua, tiga, empat.
Satu nusa satu bangsa satu bahasa kita
Tanah air pasti jaya untuk selama-lamanya
Indonesia pusaka, Indonesia tercinta
Nusa bangsa dan bahasa, kita bela bersama.
Duduk kembali terima kasih.
Kita semua adalah satu bangsa Indonesia, dari Merauke sampai Sabang, dari Miangas sampai Pulau Rote, kita satu bangsa Indonesia. Apapun agamanya, apapun sukunya, apapun etnisnya, darimana pun asal daerahnya, semua bangsa Indonesia.
Saudara-saudara,
Saya mengucapkan selamat kepada semua, Teladan, Pemenang Lomba, Paskibraka yang telah mencatat prestasi yang baik prestasi yang bersejarah, prestasi yang membanggakan. Terima kasih atas semuanya itu, terima kasih atas pengabdian Saudara, terima kasih telah memberikan contoh kepada saudara-saudara yang lain untuk berbuat yang terbaik, untuk berprestasi, untuk berbuat lebih demi sesama, demi bangsa Indonesia yang kita cintai bersama. Saudara semua, saya katakan adalah warga negara terhormat, warga negara terpilih. Pertahankan itu dan teruslah melakukan yang lebih baik lagi bagi masyarakat, bangsa, dan negara yang sama-sama kita cintai.
Malam hari ini dalam suasana yang masih penuh dengan rasa syukur, rasa bahagia dan bangga sebagai bangsa Indonesia, saya ingin menyampaikan beberapa hal untuk sama-sama kita camkan, kita pedomani, kita amalkan dan kita laksanakan secara bersama.
Pertama, saya mengajak Saudara semua untuk benar-benar mencintai dan bangga kepada negara sendiri. Saya tidak senang, kalau ada bangsa Indonesia kurang mencintai, kurang menghormati, kurang bangga pada dirinya sendiri, malah senangnya membanggakan bangsa-bangsa lain. Indonesia negara yang besar, besar sejarahnya, besar wilayahnya, besar penduduknya, besar kekayaan dan keindahan alamnya, insya Allah kalau bangsa ini tidak menyia-nyiakan, kemudian bersatu, membangun semua yang kita miliki, Indonesia di kelak kemudian hari akan menjadi bangsa yang maju, yang adil, dan yang makmur.
Dan dalam era globalisasi jangan terkesima dengan seolah-olah yang maju, yang benar, yang berhasil hanya bangsa-bangsa tertentu ya. Jangan pula menganggap yang unggul itu bangsa lain, lantas bangsa kita kurang unggul. Tidak ada di dunia ini satu pun bangsa yang merasa super, super dalam arti paling hebat bangsa lain itu kecil. Tidak ada yang super, tidak bangsa Amerika, tidak bangsa China, tidak bangsa Jepang, tidak bangsa Arab, tidak bangsa Korea, bangsa Eropa, semua memiliki keunggulannya masing-masing. Termasuk kita juga memiliki banyak keunggulan. Sampaikan kepada seluruh rakyat bangsa Indonesia seluruh tanah air, bangga pada bangsa sendiri, mencintai tanah air sendiri, mencintai negeri sendiri. Saudara-saudara, itu yang pertama.
Yang kedua, sayangi, rukun, bersatulah dengan saudara-saudara kita di seluruh tanah air, sesama komponen bangsa. Saya ulangi lagi, sesama bangsa jangan terlalu, jangan senang membeda-bedakan dalam arti yang negatife. Ah itu kan agamanya beda, sukunya beda, etnisnya beda, daerahnya beda. Jangan. Jangan ah itu kan anggota partai politik yang berbeda, tidak perlu. Ah itu kan kaya, dia terhormat, kita ini belum mampu. Tidak perlu kecil hati seperti itu dan juga jangan membedakan profesi. Semua profesi mulia apakah petani, apakah nelayan, apakah guru, apakah PNS, apakah TNI, semua profesi mulia. Yang tidak mulia penjahat, koruptor, yang lain semua profesi mulia. Oleh karena itu, benar-benar jangan mengkotak-kotakan, membeda-bedakan, ya apalagi harus berjarak di antara kita. Kalau berbeda itu kekayaan sunatullah, tetapi ditengah perbedaan itulah kita satu, kita harus mampu hidup dalam perbedaan dengan penuh persaudaraan. Ingat Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda satu, kita hidup dalam kemajemukan, tetapi tetap bersatu. Itu pesan saya yang kedua.
Pesan yang ketiga Saudara-saudara, jangan senang di antara kita saling salah-menyalahkan, bermusuhan, mencerca, memaki-maki dan lain-lain. Tidak ada kepribadian bangsa yang luhur, kepribadian bangsa yang baik seperti itu. Seperti itu tidak ada gunanya. Bikin bangsa kita tidak maju-maju dan kita akan makin tertinggal, berhenti. Mulai sekarang di antara kita harus saling bermusuhan, salah-menyalahkan, memaki-maki, mencerca dan sebagainya, berhenti. Tidak ada gunanya, bahkan menjauhkan kita harusnya kompak, bersatu, membikin sesuatu apapun menjadi terganggu.
Pesan yang keempat, sebagai bangsa yang majemuk, saya katakan tadi tentu ada sesuatu yang membedakan identitas, permasalahan juga banyak di negeri ini yang juga dihadapi oleh bangsa lain. Pesan saya adalah di seluruh Indonesia di daerah manapun, jika ada katakanlah konflik ataupun perselisihan, maka pertama-tama selesaikan secara damai, tidak perlu dengan kekerasan, mesti ada solusinya kalau semua ingin menyelesaikan secara damai. Kalau konflik itu serius, kalau bisa selesaikan dengan cara musyawarah, pendekatan adat, pendekatan budaya, bahkan dalam agama pun juga bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik. Kalau tidak bisa, tetap tidak boleh dengan kekerasan. Tidak boleh main hakim sendiri, hukumlah yang menyelesaikan kalau ada konflik atau ada persengketaan itu. Ini penting Saudara-saudara, jangan sampai terjadi lagi di negeri tercinta ini konflik atau tragedi kemanusiaan yang tidak perlu terjadi sesungguhnya, yang mengakibatkan korban jiwa dan raga yang tidak terhingga, seperti dulu yang terjadi di Ambon, di Maluku, di Poso, di Sampit dan di tempat-tempat yang lain.
Biarkan menjadi bagian dari sejarah. Sekarang ke depan saya minta seluruhnya sampaikan kepada yang lain, kalau ada konflik, perbedaan pertentangan, mari selesaikan secara damai, secara bijak tanpa kekerasan. Apakah bisa? Insya Allah bisa. Semua terletak di hati kita. Kalau kita ingin menyelesaikan secara damai karena hati kita ingin, maka hati menuntun pikiran kita, pikiran menuntun tindakan kita, dan di situ akan ada solusi yang baik.
Yang kelima, sebagai bangsa kita berkewajiban untuk memelihara kedaulatan dan keutuhan negara. Utuh berdaulat sekali lagi dari Sabang sampai Merauke dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Kalau ada negara manapun di dunia ini yang mengganggu, yang mengancam kedaulatan kita, keutuhan negara kita, maka kita harus melakukan sesuatu, menindaknya, mengusirnya, menyelamatkan kedaulatan dan keutuhan negara kita.
Jika di dalam negeri kita ada kelompok-kelompok yang tiba-tiba atau ternyata ingin memisahkan diri, akhirnya mengganggu, mengancam kedaulatan dan keutuhan negara, tentu juga harus kita cegah, kita hentikan. Janganlah kita ini sudah berjuang sekian lama dengan tetesan darah dan air mata yang dilakukan oleh para pejuang, para pendahulu, para pahlawan kesuma bangsa, mengapa harus terganggu keutuhan negara kita. Mari bersama-sama kita jaga, kita pelihara kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bisa Saudara-saudara? Mampukah kita mempertahankan keutuhan dan kedaulatan kita? Terima kasih. Tuhan Yang Maha Kuasa mendengar ikrar kita, tekad kita, hati kita, insya Allah akan diberikan jalan dan tuntunan, agar negara kita tetap utuh tegak berdiri, berdaulat sampai kapan pun juga.
Yang keenam, agar negara kita makin maju dan makin sejahtera, sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri Republik 62 tahun yang lalu, maka pertama-tama negara kita agar bisa membangun harus aman, harus stabil. Politik memang kadang-kadang panas, kadang-kadang keras, tetapi tidak boleh membikin negara kita tergoncang, negara kita tidak stabil selamanya, negara kita gaduh kesana kemari. Tidak aman, kerusuhan dimana-mana, tidak mungkin kita bisa membangun negara, membangun ekonomi, membangun daerah, kalau keadaannya seperti itu. Mari semua kita bikin stabil, aman, tertib negeri kita. Mari ingatkan saudara-saudara kita yang lupa, tidak memikirkan semua saudara-saudara membikin kerusuhan dimana-mana, bikin gonjang-ganjing terus begitu sampai kita tidak bisa membangun berbuat apa-apa. Ingatkan, jangan egois, ingatkan, merugikan Saudara-saudara yang lain, merugikan rakyat dan bangsa Indonesia.
Setelah keadaannya aman tertib stabil, maka semua harus bekerja keras untuk membangun ekonomi. Ekonomi kita bangun pertanian, industri, jasa, agar kalau bisa kita bangun seperti itu, sektor riil semua di pusatkan dan daerah, maka ekonomi tumbuh, pertumbuhan itu untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kalau ekonomi tumbuh, dunia usaha tumbuh, sektor riil tumbuh, entah telekomunikasi, entah kontruksi, entah perdagangan, entah pertanian, entah pengolahan, entah pariwisata, semua bergerak, lapangan pekerjaan tersedia. Kalau lapangan pekerjaan tersedia, yang menganggur berkurang, punya penghasilan. Kalau punya penghasilan, bisa membeli beras, bisa membeli pakaian, bisa membeli minyak, bisa dan lain-lain, akhirnya akan berkurang kemiskinannya. Usaha tumbuh, ekonomi tumbuh, negara mendapatkan penerimaan dari pajak misalnya, penerimaan negara itulah yang digunakan untuk meningkatkan pendidikan, meningkatkan kesehatan, meningkatkan gaji, meningkatkan kesejahteraan, bangun jalan dan lain-lain. Ekonomi harus tumbuh, yang pertumbuhan itu digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita.
Setelah itu, maka hukum juga harus ditegakkan. Tidak boleh kejahatan merajalela, karena hasil pembangunan, hasil ekonomi kalau dibiarkan kejahatan-kejahatan juga akan berkurang, termasuk penyimpangan-penyimpangan seperti korupsi. Setelah itu, penyelenggara negara, negara ini yang bertugas mengelola, bukan hanya Pemerintah, bukan hanya Presiden, bukan hanya Menteri, bukan hanya Gubernur, bukan hanya Bupati, bukan hanya Walikota, bukan hanya Camat, Kepala desa, Lurah, semua, DPR-nya, DPD-nya, DPRD-nya, MPR-nya, MA, MK, semua penyelennggara negara tentu bersama-sama Pemerintah, Pemerintah bahkan di depan bertanggung jawab bekerja untuk mengelola negara ini demi kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya.
Kemudian Pemerintah yang sekarang ini atas amanah yang saya emban, saya pimpin bersama Saudara Wakil Presiden, termasuk jajaran Pemerintah Daerah memang harus berdiri di depan, harus bekerja lebih keras dan lebih giat lagi. Setelah semuanya bekerja, maka harapan kita rakyat mendukung program Pemerintah itu, karena program Pemerintah itu juga untuk rakyat untuk pendidikan, untuk kesehatan, usaha kecil dan menengah dan segala macam program yang dilaksanakan oleh Pemerintah.
Kemudian rakyat mendukung, rakyat bekerja, rakyat menjalankan kewajibannya masih ditopang lagi, agar semua juga melaksanakan kerjasama yang baik, perguruan tinggi, pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, semua juga bersatu. Di daerah pun begitu, kalau Kabupatennya ingin maju ya semua bekerjasama bukan hanya Pemdanya, tapi juga dunia usahanya, pendidikannya, lembaga swadaya masyarakat, pemuka agama, pemuka adat, pemuka masyarakat, semua bekerjasama kaum perempuan generasi muda semua juga harus bekerja secara bersama-sama.
Dan dalam era globalisasi, kita tentu juga harus menjalin kemitraan dan kerjasama dengan negara-negara sahabat, kerjasama yang baik, kerjasama yang konstruktif, kerjasama yang membikin keuntungan bangsa kita, negara kita. Tentu tidak mungkin bekerjasama dengan pihak di luar negeri yang merugikan kita, yang tidak ada untungnya, mesti resepnya, syaratnya membawa keuntungan dan bagi kita, tapi dalam era globalisasi tidak mungkin kita hidup sendiri, tidak mungkin kita mengisolasi diri. Globalisasi Saudara tahu, ada yang baik-baiknya, globalisasi banyak membawa hal-hal yang buruk, kita cegah, kita tolak, kita tangkal. Tapi globalisasi juga membawa hal-hal yang baik, ada sisi baiknya, itulah yang kita ambil manfaatnya untuk kepentingan bangsa dan negara kita. Kemudian itu yang keenam Saudara-saudara, apa yang kita lakukan di negeri ini semua pihak untuk Indonesia bisa lebih maju dan sejahtera.
Yang ketujuh, ajakan dan harapan saya adalah mari kita bangun hubungan yang harmonis, hubungan yang baik antara pemimpin dengan rakyat. Kalau saya bicara pemimpin, bukan hanya Presiden dan Wakil Presiden, tapi semua strata pemimpin, semua pemimpin-pemimpin yang mengemban tugas di negeri ini. Bagi pemimpin, mana yang berprofesi sebagai Camat angkat tangan? Saudara pemimpin, Kepala desa, Lurah, Saudara pemimpin. Ada Kepala sekolah di sini? Saudara pemimpin. Ada Ketua Penggerak PKK? Saudara pemimpin. Coba angkat tangan semuanya, angkat tangan semuanya, semua angkat tangan semua, ya Saudara semua pemimpin, pada lingkungannya, pada keluarganya.
Pemimpin itu mulai dari saya wajib, juga saya menjalankan, harus mengayomi dan membimbing pemimpin-pemimpin di bawahnya. Pemimpin juga menghormati dan royal kepada pemimpin diatasnya. Kalau Saudara Bupati bimbing, sayangi, bantu Camat-camatnya, tapi sang Bupati itu juga harus menghormati loyal dan menjalankan garis Gubernurnya, begitu etikanya. Pemimpin, pemimpin atasan menyayangi, membimbing bawahnya, pemimpin yang bawah juga menghormati dan loyal terhadap atasannya dan semua pemimpin harus menyayangi rakyatnya, mengayomi rakyatnya. Tidak boleh pemimpin membeda-bedakan rakyatnya, seorang Camat, seorang Bupati. “Ah, itukan agamanya lain, sukunya lain”. Kalau punya partai politik, partai politiknya lain tidak boleh, salah, dosa dia. Pemimpin harus adil, pemimpin menyayangi semua, pemimpin mengayomi semua.
Rakyat, rakyat menghormati pemimpinnya, tentu penghormatan karena sang pemimpin juga menjalankan amanah, melaksanakan tugas, menjalankan program, bekerja untuk rakyatnya. Rakyat dimanapun juga harus mendukung program-program Pemerintah, program pemimpin. Siapapun pemimpin itu tidak boleh masyarakat x, komunitas z, “Ah itu pemimpinya kan agamanya lain sukunya lain, parpolnya lain”. Tidak. Menjalankan tugas kepemimpinan pemerintahan tetap satu, tetap garisnya lurus, semua untuk negara, semua untuk bangsa dan semua untuk rakyat. Bisa dimengerti Saudara-saudara? Bagi yang menjadi pemimpin bisa adil seperti itu? Bisa mengayomi semua? Bisa tidak membeda-bedakan rakyatnya? Terima kasih, tepuk tangan.
Negara kita akan indah, negara kita akan teduh, negara kita akan memiliki optimisme yang tinggi, kalau hati kita, pikiran kita, sikap kita seperti itu. itulah yang dicita-citakan oleh pendiri Republik, pahlawan kesuma bangsa, orang-orang tua kita, leluhur-leluhur kita, melihat bangsanya bangsa yang beradab, lihat bangsanya yang mempunyai kepribadian yang baik, bangsanya yang bersatu dan sayang-menyayangi, rukun dengan persaudaraan yang tinggi. Itulah yang diharapkan Saudara-saudara.
Kalau ketujuh hal itu dapat kita laksanakan bersama-sama, termasuk diri saya, pemimpin itu tidak boleh, Saudara-saudara laksanakan abcdef, kalau saya tidak, tidak boleh. Pemimpin melarang A, menganjurkan B, berlaku bagi dirinya, itu. Tidak boleh ada standard ganda, sama-sama.
Saudara-saudara,
Dengan mulianya profesi Saudara dikenalkan oleh Menkokesra tadi, saya membayangkan yang daerah terpencil, yang tugasnya berat, jauh dari mana-mana, sarananya tidak ada, cuacanya kadang-kadang tidak bersahabat, gajinya pas-pasan dan lain-lain, insya Allah dengan ekonomi yang makin baik penerimaan negara yang baik, belanja yang makin baik, kita akan tingkatkan dan perbaiki terus kesejahteraan Saudara. Sudah dengar pidato saya kemarin, di DPR RI? Saya dengar katanya mau naik gaji? Betul? Wah lebih tahu. Insya Allah, tentu sesuai dengan kemampuan negara, kalau sudah dinaikan gajinya, sudah dinaikan kesejahteraannya, kerja lebih produktif, kerja lebih rajin, lebih berdisiplin, akhirnya kita dapat meningkatkan ekonomi dan semua program-program pembangunan kita.
Saudara-saudara.
Saya sangat berharap melalui para Teladan, Paskibraka, Pemenang Lomba disampaikan kepada Saudara-saudara kita di seluruh tanah air, katakan kepada mereka semua, insya Allah negara kita yang arah pembangunannya sudah benar sekarang ini, menuju masa depan yang lebih baik. Tetapi masa depan yang lebih baik itu tidak akan datang dengan sendirinya. Tuhan tidak akan merubah nasib sebuah kaum, apabila kaum itu tidak berusaha untuk merubahnya. Tuhan Yang Maha Kuasa tidak akan merubah nasib dan masa depan bangsa Indonesia, kalau kita malas, kita apatis, kita senangnya menyalahkan orang lain, kita tidak rajin, sebagian masih senang korupsi dan lain-lain tidak akan datang kemakmuran itu.
Tetapi kalau kita sadar, negara kita besar saya katakan tadi potensinya besar arahnya sudah benar tinggal mohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT disertai kita semua kompak, bersatu, melangkah bersama, bekerja keras, Tuhan akan kasih jalan dan jalan itu akan membawa bangsa kita menuju bangsa kita yang lebih baik.
Itulah Saudara-saudara, yang ingin saya sampaikan sebagai terima kasih dan penghargaan saya yang tinggi kepada Saudara, para Teladan, para Pemenang Lomba, Paskibraka, Paspampres yang tahun ini meraih prestasi yang besar, berbuat baik kepada sesama, dan melakukan berbagai terobosan untuk kemaslahatan saudara-saudara kita di seluruh Tanah air.
Dan sekembalinya dari Jakarta ini, saya mendoakan dalam perjalanan mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, selamat sampai di tempat tujuan, sampaikan salam sayang saya, salam hormat saya, salam bangga saya kepada keluarga di rumah. Saya, Wapres, semua menyayangi saudara-saudara kita, keluarga-keluarga yang ada di seluruh tanah air. Saya meminta maaf, kalau masih ada hal-hal yang belum bisa kita capai, meskipun Alhamdulillah banyak pula yang telah kita hasilkan, yang kita capai setelah kita mengalami krisis beberapa tahun yang lalu. Tapi percayalah kami akan terus bekerja siang dan malam mencurahkan pikiran waktu dan tenaga untuk mereka semua, mohonkan doa restu. Sampaikan saya mohon doa restu dari saudara-saudara kita, agar kami bisa bekerja baik untuk kepentingan bangsa dan negara kita.
Sebelum saya serahkan nanti untuk memimpin doa dan barangkali akan ada foto bersama sebagai memori kebersamaan kita, Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Tahun 2007 ini, saya mengajak Saudara untuk bernyanyi satu kali lagi, yaitu menyanyikan lagu Bagimu Negeri. Mari kita berdiri bersama-sama. Yang belum hafal liriknya begini,
Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami
Hafal? Harus hafal.
Satu, dua, tiga, empat.
Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kamia mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami
Duduk kembali.
Sekian Saudara-saudara, selamat berjuang, selamat mengabdi Tuhan beserta kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



