Pidato Presiden

Pengarahan Kepada Peserta Forum Strategis Bank Indonesia

 

TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PENGARAHAN KEPADA PESERTA FORUM STRATEGI
BANK INDONESIA
GEDUNG BANK INDONESIA, 29 AGUSTUS 2007



Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum warahmattulahi wabarakatuh,

Selamat sore,
Salam sejahtera untuk kita semuanya,

Yang saya hormati Saudara Gubernur Bank Indonesia dan para Pimpinan Bank Indonesia, baik pusat, daerah maupun yang bertugas di luar negeri, para Pimpinan Perbankan Nasional, baik yang di pusat maupun yang ada di daerah, para Menteri,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang membahagiakan dan Insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak sekali lagi Saudara-saudara untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan karya kita, tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Saudara Gubernur Bank Indonesia, karena saya diminta untuk datang, menyampaikan pandangan-pandangan saya dan akan saya gunakan sebaik-baiknya untuk mengajak Saudara semua bersama-sama dengan saya dan jajaran Pemerintahan mengemban tugas bangsa dan negara yang penting dewasa ini, melanjutkan reformasi, mengelola demokratisasi, dan membangun ekonomi kita pasca krisis.

Saya mengawali sambutan saya ini dengan mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh Keluarga Besar Bank Indonesia, para Pimpinan dan para Keluarga Besar Perbankan di tanah air yang dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini telah berjuang keras melakukan konsolidasi, reformasi, dan restrukturisasi perbankan kita, baik sistem, policy, maupun langkah-langkah tindakan yang alhamdulillah hasilnya makin kita rasakan dewasa ini. Saya harus mengatakan banyak pers di sini, bahwa jerih payah dan kerja keras dunia perbankan yang tentu dimotori oleh Bank Indonesia dalam proses reformasi dan restrukturisasi ini berada dalam posisi on track dan telah menghasilkan sejumlah capaian dan kemajuan. Ini patut kita syukuri dan saya berikan apresiasi yang tinggi kepada Saudara-saudara.

Di negara tercinta ini, kadang-kadang kita tidak mudah untuk memberikan terima kasih pada sesuatu yang kita semua merupakan capaian. Kalau ada yang salah cepet-cepetan untuk mengatakan, ”Ah salah ini.” Kadang-kadang belum salah pun, ”Pasti salah toh, pasti salah toh.” Tapi kalau berhasil, kadang-kadang lupa atau mungkin tidak terbiasa, kita harus generous memberikan apresiasi, menghormati kerja keras dan jerih payah siapapun, termasuk Bank Indonesia, seraya memberikan semangat bahwa pekerjaan masih banyak, tantangan cukup besar dan mari kita lanjutkan tugas kita bersama untuk memperbaiki keadaan kita menuju masa depan yang lebih baik.

Tadi Pak Burhanudin mengatakan bahwa, kalau kita ingin mengukur keberhasilan apa yang kita lakukan, termasuk reformasi di bidang perbankan adalah apakah sistem dan praktek perbankan nasional kita ini sudah resilient, sudah lebih tahan manakala kita menghadapi shocks atau turbulence atau goncangan-goncangan baru. Sama saja, kalau saya ditanya, apa ukurannya reformasi di Indonesia ini telah berhasil? Saya katakan ukurannya adalah apabila kita mengalami goncangan baru, shocks baru, sebagaimana yang kita alami di akhir tahun di 1997 dan kemudian kita tahan, tidak collapse, tidak terjatuh di krisis baru, maka kita berani mengatakan, bahwa reformasi telah berhasil kita lakukan. Dalam arti, kita memiliki fundamental yang lebih kuat, strongers fundamental misalnya. Dan kita punya mechanisms, punya cara-cara untuk merespon, mengantisipasi, bahkan sebelumnya atas kemungkinan datangnya shocks atau turbulences itu. Sebagaimana kita rasakan, saya kira tahun 2005, kita mengalami sedikit goncangan waktu itu ketika harga minyak mentah dunia meroket, kita menghadapi serangkaian bencana alam, terjadi kegaduhan sosial, kegaduhan politik waktu itu, tetapi alhamdulillah berkat kerjasama kita, monetary and fiscal policy mix yang kita lakukan waktu itu akhirnya bisa kita lalui dengan dampak yang kecil dan kita survive, sustainable.

Sekarang ini juga kita menghadapi gonjang-ganjing, tadi saya lihat di CNBC, hari ini pasar Asia merah semua. Dan nilai tukar sedikit ada kenaikan it’s ok karena memang belum settle. Tetapi alhamdulillah dan diskusi kita dengan Menteri Ekonomi, dengan Pimpinan Bank Indonesia, kita bisa mengelola dan kita boleh mengatakan, bahwa kita telah memiliki mekanisme, telah memiliki katup-katup pengaman, telah melakukan antisipasi, tentu saja semua itu karena kita memiliki fundamental yang lebih kuat.

Itu yang mesti kita jadikan pelajaran dengan satu keyakinan, strong belief, bahwa reformasi, restrukturisasi memiliki destination statement untuk lima tahunan, asalkan kita jalankan betul, kita catat betul sasaran-sasaran itu, tentu kita memiliki sesuatu yang lebih kuat, lebih tahan, lebih sehat, sehingga bisa mengemban fungsi kita bersama. Kalau perbankan tentunya mengemban fungsi-fungsi perbankan yang sangat dibutuhkan untuk menggerakkan roda perekonomian di seluruh tanah air, termasuk untuk menggerakkan kembali sektor riil kita.

Hadirin yang saya muliakan,
Saya melihat ekonomi makro kita ini, menurut saya makin baik, makin stable, makin kokoh, makin sehat dan itu juga tidak luput dari kontribusi dari dunia perbankan. Inflasi yang insya Allah kita bisa kelola pada tingkat sekitar 6%, suku bunga yang juga kita lihat sekarang ini, jauh lebih sehat dari 5, 4, 3 tahun yang lalu. Nilai tukar yang relatif mulai stable, meskipun dunia masih follow time, masih terjadi banyak imbalances, banyak dinamika di kawasan dunia ini, termasuk di Paman Sam yang tentu menjadi barometer dan kalau ada apa-apa di sana dampaknya dirasakan oleh seluruh ekonomi dunia. Demikian juga cadangan devisa yang pada tingkat yang nyaman, sehingga Insya Allah kalau ada masalah-masalah yang berkaitan dengan nilai tukar misalnya kita punya banyak pilihan, dan pilihan itu mudah-mudahan bisa mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi dengan baik.

Dan jasa perbankan yang Saudara-saudara kelola dari waktu ke waktu saya juga mencatat, saya mengikuti, makin melakukan, makin dilakukan dengan baik, the business of supply of credit, supply of money, supply of capital. Itu memang sangat-sangat diperlukan, agar semua roda ekonomi bergerak, bukan hanya big businesses, tapi juga smaller medium enterprises yang ibarat bagian dari tubuh dimana pun perlu ada aliran darah sampai ujung-ujung kaki, ujung-ujung tangan, dan di situ sangat penting, semangat saudara untuk terus meningkatkan fungsi, intermediasi. Dengan demikian, tidak ada di negeri ini di wilayah manapun, cabang bisnis apapun yang lumpuh, karena tidak dialiri oleh darah itu, tidak mendapatkan supply of credit, tentu yang sesuai dengan demand dan kebutuhan mereka.

Saudara-saudara,
Forum ini adalah forum strategis. Saya tidak ingin masuk terlalu dalam yang menjadikan domain dari Saudara semua, apakah itu monetary policy, apakah itu banking policy, apakah itu pekerjaan-pekerjaan teknis operasional dunia perbankan, it is your bussiness, it is not my bussiness. Bisnis saya adalah bagaimana kita semua di negeri ini bekerja secara sinergis, kita semua memiliki cara pandang yang sama, berangkat dari strategic vision dan kemudian apa yang dapat kita lakukan, sehingga not only sinergis, tapi juga compatible satu sama lain dan hasilnya juga akan lebih baik, dibandingkan kita berjalan sendiri-sendiri dan seperti tidak diikat oleh suatu blue print, oleh suatu roadmap, bagaimana membangun negeri kita, 5 tahun ke depan, 10 tahun ke depan, bahkan Indonesia pada tahun 2030 misalnya atau 2050 yang akan datang.

Saya mengajak pada forum yang baik ini untuk memikirkan kembali masalah-masalah yang fundametal, yang dihadapi oleh negara kita. Demikian juga saya ingin mengangkat permasalahan ekonomi nasional secara lebih luas, agar dengan strategic thinking yang sama-sama kita lakukan. Sekali lagi, kita tahu kita ini berada dimana, ingin menuju kemana, jalan yang akan kita lalui seperti apa, dunia tempat kita hidup dan menjalankan tugas-tugas kita ini juga seperti apa. Dengan demikian, kita bisa hitung, bisa kita kalkulasikan, kalau ada risk, risk itu adalah calculated, sama-sama kita hitung dengan baik.

Saudara-saudara
Tidak keliru kalau kita memiliki visi yang lebih jauh ke depan. Karena bangsa yang tidak memiliki visi, ah tentu bangsa yang kering dan tanpa idealisme, tanpa visi, tanpa cara pandang, bagaimana negara yang dikelola, maka kita akan berjalan tertatih-tatih dan manakala kita menghadapi masalah, kita bisa keliru mengatasi masalah itu dan berada di satu tempat yang salah dikelak kemudian hari. Oleh karena itu, meskipun kita bekerja kontekstual, situasional, tahunan, tetapi marilah kita pada level Saudara-saudara melihat masa yang jauh ke depan. Indonesia yang kita tuju ini seperti apa.

Indonesia 2050 katakanlah dalam jangkauan waktu kita abad 21 ini, dream kita adalah Indonesia yang maju, developed country, Indonesia yang sejahtera, yang lebih prosperous dari kondisi sekarang ini. Developed country berarti kita akan menjadi bangsa yang self generating dengan penguasaan ilmu dan teknologi dan resources yang lain kita akan bisa membangun diri kita dengan sustainability yang tinggi dan tidak mesti harus tergantung pada bangsa-bangsa lain. Berarti kita akan lebih mandiri, memiliki kemandirian yang baik, dan kita akan kuat. Kuat dalam arti memiliki ketahanan yang tinggi dan tidak mudah rontok atau collapse, apabila menghadapi goncangan ataupun turbulence.

Tapi jangan lupa, upaya kita untuk menuju Indonesia seperti itu bukan dalam dunia yang vakum. Dunia pun memiliki dinamika yang sangat tinggi, volabilitasi juga yang sangat tinggi, dengan berbagai ketimpangan dan juga conflict of interests. Oleh karena itu, siap mental kita, seraya membangun negeri kita, kita berada dalam environment, dalam lingkungan global seperti itu. Dan jangan lupa, bahwa sekarang ini masyarakat dunia menjadi sangat-sangat serius dan itu benar terhadap gejala-gejala alam yang disebut dengan climate change ataupun global warming, yang apabila tidak kita lakukan langkah-langkah yang tepat, yang juga memiliki implikasi pada kebijakan ekonomi secara menyeluruh, maka dunia tidak selamat, negeri kita juga tidak selamat. Oleh karena itu, dalam rangka kita membangun negeri kita, dalam lingkaran dunia yang seperti itu, itupun kita menghadapi satu new challenge, a great challenge, yang kita sebut dengan climate change tadi.

Saudara-saudara,
Hari Senin yang lalu saya dengan beberapa Menteri Ekonomi berdiskusi dengan Prof. Stiglich. Saya kira saudara kenal semua, saya ajak berdiskusi selama dua jam, kemudian saya mojok lagi one on one talk sama Prof. Stiglich. Stiglich, kita kenal adalah meskipun percaya pada pasar yang efisien, tapi juga mendorong peran Pemerintah secara proporsional dalam mengelola ekonomi nasionalnya yang masing-masing. Stiglich critical terhadap neoliberalism, critical terhadap Washington Consensus, meskipun dia juga percaya kompetisi dan informasi sebagai pilar-pilar pasar yang sehat tidak boleh diabaikan.

Dalam konteks itulah, kita berdiskusi untuk melihat pandangan dia bagaimana melihat negara kita dibandingkan dengan negara-negara yang lain. Menarik memang apa yang disampaikan oleh Stiglich, tetapi satu hal yang musti kita pahami bahwa dunia kadang-kadang tidak peduli, apakah dalam kompetisi yang makin luas ini, semua negara memiiliki posisi bersaing yang sama, even level playing field misalnya. Ya kita tidak bisa merengek, tidak bisa meminta belas kasihan negara-negara lain, kecuali membangun daya saing kita sendiri, membangun competitiveness kita sendiri, agar menghadapi apapun, apakah free trade area, liberalisasi, investasi dan perdagangan WTO. Apapun kita lebih siap, karena kita lebih kuat, lebih berketahanan dengan daya saing yang lebih tinggi. Saya kira semangat kita harus ke situ dan sekali lagi, jangan terlalu banyak berharap pada negara lain, pada dunia pada pihak manapun juga, kecuali kita sendiri yang harus memperkuatnya. Ingat ajaran agama, Tuhan tidak akan merubah nasib sebuah kaum, kecuali kaum itu merubahnya sendiri, demikian kita, bangsa Indonesia.

Dalam diskusi saya dengan Stiglich, hari Senin itu, saya sampaikan, ya kalau saya harus mengatakan kalau Indonesia tahun 2030 katakanlah begitu, maka pikiran kita kurang-lebih sama, tentunya Indonesia dimana kemiskinan makin berkurang dengan kualitas hidup yang makin baik, better quality of life of our people. Di situ juga diharapkan terjadi pertumbuhan ekonomi yang sustainable, sustainable economic growth bukan hanya seasonal, tetapi longterm sustainability dari pertumbuhan ekonomi kita. Kita juga merindukan hadirnya good governance, good corporate governance, sehingga semua bisa dikelola dengan baik, tanpa terlalu banyak keborosan dan kebocoran. Kita juga ingin rule of law itu menjadi order of the day, bukannya sekali-kali muncul, termasuk public order, ketertiban public yang mencerminkan civilization yang baik.

Dan yang kelima, saya sampaikan, Indonesia terus memekarkan kehidupan demokrasinya, tapi demokrasi yang kita tuju adalah demokrasi yang juga menghadirkan harmoni, bukan demokrasi yang mengedepankan kalah menang, yang kuat menang, yang kalah harus ngikut, yang kecil harus ngikut dan sebagainya. Tetapi sekali lagi, demokrasi with harmony. Itulah kira-kira apa yang ingin kita tuju pada bentangan waktu itu.

Saudara-saudara
Pekerjaan untuk mencapai sasaran itu ternyata karena kita mengalami krisis yang luar biasa, maka menjadi saya harus mengatakan kerja dua kali, double effort, kalau ndak ada krisis mungkin kita bisa mempercepat sesuatu, tapi kita pun harus memulihkan keadaan dari krisis, reformasi, konsolidasi, sambil mencapai sasaran-sasaran itu.

Saudara-saudara
Krisis yang terjadi, saya kira 10 tahun yang lalu, 1997. Terus terang ekornya masih kita rasakan, kita semua merasakan hari-hari yang berat waktu itu, siang, malam menjadi saksi sejarah kita, betapa kita sangat was-was kalau negeri kita tidak selamat waktu itu. Dan banyak ramalan Indonesia akan kolaps, Indonesia akan runtuh, terjadi balkanisasi dan sebagainya, dan sebagainya. Alhamdulillah, negara kita selamat dan terus membangun menuju masa depan yang baik. Tetapi yang jelas, krisis itu membuahkan berbagai tantangan yang luar biasa, challenges yang besar.

Satu, membengkaknya kemiskinan, membengkaknya pengangguran, membengkaknya hutang dalam arti debt to GDP ratio, justru men-drop-nya atau menurun drastisnya pertumbuhan kita. Padahal kemiskinan bisa dikurangi, pengangguran bisa dikurangi, hutang bisa dikurangi, apabila terjadi growth, pertumbuhan ekonomi yang bagus. Oleh karena itulah, yang harus kita lakukan, kita harus membalik, mengubah semuanya itu, yang tadinya naik-naik-naik, kemiskinan, pengangguran, dan hutang terhadap GDP kita bikin turun, sebaliknya growth harus kita bikin tumbuh. Dan Alhamdulillah, tiga triwulan terakhir kita sudah mencapai pertumbuhan 6%, mudah-mudahan saya ikuti BI cenderung lebih konservatif biasanya. Kemudian Pemerintah sedikit lebih progresif, tengah-tengahnya baik. Insya Allah, kita bisa mencapai 6,3% tahun ini.

Saya sejak tahun 2004 akhir, sebelum mengalami musibah tsunami sebetulnya sudah mengajak Saudara-saudara untuk fokus saja kepada sebuah policy yang pro job, pro poor, pro growth. Oleh karena itulah, triple track strategy menurut saya masih masih relevan untuk kita jalankan sekarang ini. Growth harus kita tingkatkan terus dengan harapan saya pilarnya pada ekspor dan investasi, meskipun government spending, Alhamdulillah kita mengadakan revolusi dalam budget kita yang lebih banyak lagi memberikan anggaran untuk belanja modal, another part of government expenditure yang bisa stimulating growth. Konsumsi yang jaman Pak Harto menjadi sabuk pengaman dan pilar dari pertumbuhan, Alhamdulillah juga makin baik. Oleh karena itu, mari growth ini betul-betul kita pertahankan pertumbuhannya.

Kemudian unemployment, meskipun sudah mulai turun, saya belum puas karena masih cukup tinggi. Jadi kalau sembilan koma sekian masih tinggi. 2005, sebelas koma sekian. 2006, sepuluh koma sekian. Sekarang, sembilan koma sekian, masih tinggi. Mari kita bawa terus sampai menuju ke 5-6%. Oleh karena itu, pekerjaan rumah yang besar dan sektor riil memang harus bangkit to create more jobs untuk saudara-saudara kita.

Kemudian untuk kemiskinan, ya habis-habisan dari anggaran kami, dari segi fiscal policy kami untuk kita chanel-kan untuk poverty reduction programme. Tapi perlu, tetap perlu waktu Saudara-saudara, meskipun sudah membaik dibandingkan dengan 2006, 2007 ini, tapi masih belum cukup. Oleh karena itulah, karena kemiskinan lebih banyak di sektor pertanian, di perdesaan, revitalisasi sektor pertanian dan pembangunan perdesaan juga menjadi penting untuk kita laksanakan. Semuanya itu tentu tidak boleh mengabaikan pemeliharaan lingkungan yang menjadi ideology dari ekonomi dunia abad 21, ekonomi gelombang keempat yang sama-sama kita masuki.

Hadirin yang saya muliakan,
Saya ingin mengajak kembali Saudara-saudara untuk kembali memahami paradigma pembangunan ekonomi kita. Kita sudah mendengar berulang kali mungkin sejak tahun 60-an, 70-an yaitu yang disebut dengan growth with equity. Dulu ada segitiga pertumbuhan, stabilitas pertumbuhan, dan pemerataan. Banyak bicara tentang pemerataan-pemerataan, tetapi dengan jujur harus kita akui dari segi-segi pelaksaannya ada gap. Ini juga dialami oleh negara-negara berkembang dimanapun, bagaimana mendekatkan antara growth dengan equity. Yang terjadi justru social this content yang makin tinggi, jarak kesenjangan disparitas yang makin tinggi, dan ini tidak baik. Negara yang meletakkan legacy-nya pada growth semata, ketika terjadi goncangan dan growth itu jatuh, maka collapse. Tetapi negara yang meletakkan growth with equity bisa saja ada gangguan terhadap growth, tetapi basisnya, fundamentalnya, keterlibatan masyarakatnya cukup tinggi di situ, sehingga lebih tahan terhadap goncangan-goncangan yang menyangkut growth itu.

Oleh karena itu, saya mengajak, mari kita jadikan ”Ideology” kita, pilihan kita, paradigma kita, growth with equity itu kita bangun sejak dini. Jadi kalau ada investasi di cabang manapun industri, pertanian, jasa, di wilayah manapun, Kabupaten, Desa, Kecamatan, mari kita pastikan bahwa terjadinya aktivitas ekonomi yang mendatangkan growth itu mesti disertai from the beginning, equity, partisipasi, involvement dari local community. Ini yang mesti kita pahami dari growth must be inclusive, must be broadbased, dan must be sustainable. Tidak ada gunanya kita kejar, 6-7, 7.5; 8, tapi tidak cukup untuk memperkuat fundamental kita, social economic fundamentals kita. Dengan demikian, dia kebawa serta dalam mencapai petumbuhan yang kita harapkan.

Kita mengenal dulu trickle down effect theory yang dalam banyak hal tidak berjalan dengan baik di negeri kita, tidak berjalan dengan baik di banyak negara. Bisa saja sudah sabar dulu, nanti kalau sudah makmur akan kita meratakan pembangunan ini, sudahlah ngalah dulu, uang ini untuk negara, setelah masuk negara akan kita alokasikan lagi untuk saudara-saudara semua, pendidikan, kesehatan. Teorinya benar, konsepnya benar, rencananya barangkali benar, tetapi tidak semulus itu. Oleh karena itu, sejak awal pun kalau ada investasi di sebuah tempat, pikirkan pendidikan lokal di situ, kesehatan lokal di situ, corporate social responsibility, community development program, tenaga kerjanya, apapun. Dengan demikian, secara nasional, agregatif nanti ada pertumbuhan, tetapi sejak awal dia berada dalam pertumbuhan itu.

Ini akan sangat mengena nanti pada kampanye kita untuk mengalirkan kredit pada small and medium enterprises. Itulah pilar yang paling kokoh, memastikan bahwa growth with equity itu berjalan betul untuk mencegah. Dulu ada yang mengkritik ini untuk rakyat, untuk pembangunan atau pembangunan untuk rakyat. Mari kita pastikan pembangunan untuk rakyat, sejak awal rakyat kita ajak serta di situ.

Saudara-saudara
Kebijakan dasar, kemudian yang mesti kita pilih dan kembangkan adalah semua resources yang kita miliki, termasuk financial capital, kredit yang disalurkan oleh perbankan kita, semuanya betul-betul harus diarahkan kepada yang saya sebutkan tadi sisi growth, sisi equity, yang dua-duanya berada dalam suatu keterpaduan. Sebagai contoh, dalam lima tahun ini menyadari daya saing yang lemah, menyadari sesuatu yang mestinya menggerakkan ekonomi nasional kita tidak terjadi, karena krisis, yaitu infrastructure yang kurang, maka kita harus melakukan pembangunan besar-besaran infrastructures ini, apakah itu listrik yang sangat kita perlukan untuk kita tambahkan dayanya, apakah jaring-jaring transportasi ataupun infrastruktur yang lain, yang tanpa itu ekonomi tidak bergerak, potensi ekonomi tidak bisa didayagunakan dengan baik, daya saing kita dalam kerja sama global turun. Tidak menarik untuk investasi dalam dan luar negeri dan sebagainya. Ini harus kita sentuh, agar pembangunan infrastruktur ini mengarah betul pada peningkatan pertumbuhan.

Yang kedua, investasi dan ekspor yang juga merupakan sub sektor yang penting. Industri, petanian dan jasa yang mesti berkembang dan berbagai sektor rill yang itu semua tentu menjadi kontributor utama dalam peningkatan pertumbuhan. Pengeluaran Pemerintah sendiri yang menjadi domain saya, domain Pemerintah untuk ditata, agar bisa memberikan stimulasi pada pertumbuhan yang pas, tanpa mengabaikan kewajiban kami untuk yang lain-lain seperti pendidikan, kesehatan, dan pengurangan kemiskinan. Dan kemudian juga berbagai hal yang, termasuk daya beli rakyat kita untuk meningkatkan pertumbuhan.

Saya mengajak Saudara-saudara melalui Pimpinan Bank Indonesia dan para pimpinan dunia Perbankan, tolong alirkan kredit Saudara untuk membiayai semua yang menunjang growth tadi. Saya lebih melihat yang tadi itu dalam kaitan dengan peningkatan pertumbuhan. Bagian kedua yang tidak kalah pentingnya yang saya katakan dengan peningkatan equity tadi dalam arti luas, saya menggarisbawahi pentingnya memberdayakan, meningkatkan dan mengembangkan usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah, small and medium enterprises.

Kita punya tradisi yang baik, BRI dan berbagai Bank dulu menyalurkan untuk usaha kecil. Waktu saya mengundang Saudara Muhammad Yunus, penerima Nobel perdamaian tahun lalu, tentang apa yang dilakukan di Bangladesh dengan Grameen Bank-nya itu bank for the poor. Ternyata pikiran-pikiran dasarnya tidak jauh berbeda dengan pikiran kita, bahkan magnitude, jangkauan networking-nya kitapun tidak kalah. Tapi satu hal, yang oleh Saudara Yunus disampaikan kepada kita, bagaimana akses terhadap kredit itu, yang easier, mudah di sana dan kemudian siapa yang mengelola kredit itu, yang ditekankan peranan kaum wanita lokal, yang ternyata sangat aktif mengelola micro credit di Bangladesh. Ini bagi kita, kita sudah tahu tapi mungkin tidak kita berikan tempat pada mainstream kita. Dengan demikian, barangkali mari kita pikirkan setelah konsepnya benar, alokasi kreditnya benar, bagaimana si usaha kecil menengah itu dengan trust yang baik, dengan proses yang visible, dan kemudian dikelola dengan benar, sehingga semuanya akan menang.

Dan equity disamping saya berharap betul dari dunia usaha, dari perbankan untuk memodali, untuk mengalirkan kredit kepada UMKM tadi, ada juga kewajiban Pemerintah Oleh karena itulah, alokasi anggaran untuk peningkatan kesejahteraan rakyat, termasuk pengurangan kemiskinan terus naik, agar pendidikan, kesehatan dan lain-lain juga bagus, sehingga rakyat merasa ekonominya tumbuh, mereka dapat sesuatu.

Mesti saya sampaikan kepada Saudara, tahun 2004 itu, pos total untuk poverty reduction programme, itu jumlahnya sekitar Rp 17 triliun. Tahun 2005, meningkat menjadi Rp 24 triliun. Tahun 2006, itu Rp 42 triliun. Tahun ini, 51 triliyun. Insya Allah tahun depan, itu sudah mencapai Rp 57 triliun, up seperti ini. Why? Supaya nanti kalau kita bersyukur, growth kita mencapai 6%-7%, mereka juga mendapatkan sesuatu, bukan hanya menonton statistik yang indah, tapi juga dirasakan dalam kehidupan sehari-harinya. Demikian juga, mengapa kami ingin meningkatkan gaji pegawai negeri kita, pegawai negeri sipil, dulu tahun 2004, PNS golongan IA, gajinya itu 600 ribu hampir 700. Bisa dibayangkan beliau punya istri, punya anak 2 saja, hidup di Jakarta, hidup di kota-kota besar dengan 600 ribu harus disiplin, harus produktif dan sebagainya, saya kira merupakan persoalan sosial yang berat.

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan negara, alokasi budget yang tepat, gaji itu kita naikkan. Sekarang ini sudah pada posisi 1,3 juta, berarti naik 100%. Kita ingin tanpa menimbulkan efek inflatoir, kalau bisa kita dekatkan menjadi 2 juta nantinya. Manusiawi, pantas pegawai negeri terendah gajinya 2 Juta. Dan kemudian kita bisa menuntut yang disiplin, yang produktif, jangan ngambil-ngambil uang negara dan sebagainya.

Karena yang diatasnya akan naik lagi, naik lagi. Yang tidak bergaji, kita berikan scheme, seperti bikin pendidikan yang lebih murah dan sebagian gratis, kesehatan gratis dengan ASKESKIN, bantuan-bantuan langsung tunai, subsidi pupuk, subsidi yang lain-lain. Dengan demikian, yang tidak berada pada scheme gaji. Mereka juga mendapatkan kemudahan, sehingga income-nya yang masih pas-pasan barangkali, bisa mengurangi pengeluaran sehari-harinya karena kita bantu. Itu cara lain kita yang juga kita lakukan dengan fiscal policy kami. Yang akhirnya, at the of the day apabila growth terjadi mereka juga merasakan sesuatu yang kita dapatkan. Memang kalau kita hanya ingin dapat growth 8% misalkan, ingin sama-sama seperti India, China, kita arahkan semua, komponen nyata untuk growth, mungkin bisa lebih cepat tetapi tidak akan kokoh. Karena equity tidak terjadi disparitas, kesenjangan dan itu menjadikan masalah sosial yang berat.

Saudara-saudara,
Pemeritah akan terus bertanggung jawab untuk pengembangan public good, dan public services dan tugas-tugas umum Pemerintahan, masalah pertahanan, Kepolisian, semua memerlukan biaya dengan cara yang baik kami atur dalam fiskal. Oleh karena itu, yang mendengarkan pidato saya kemarin di depan DPR RI, DPD RI, saya katakan berhenti sudah, eranya sudah selesai, mengeluarkan anggaran yang tidak tepat, bangun gedung-gedung yang super megah, super mewah, membeli kendaraan-kendaraan dinas yang mewah-mewah yang tidak diperlukan, pemekaran ke sana, pemekaran kesini yang konsumtif dan tidak produktif. Akhirnya anggaran pembangunan per kapita menjadi susut. Berhenti sudah, kita batasi belanja barang yang tidak tepat, yang tidak produktif, kita chanel-kan, either belanja modal untuk infrastructure building atau untuk pengurangan kemiskinan sesuai dengan sasaran kembar kita, growth dan equity.

Itu akan kita jalankan, tetapi tentu wilayah untuk peningkatan kesejahteraan sangat luas, Pak Burhanudin, Saudara-saudara, Pemerintah akan bekerja semaksimal mungkin, sefokus mungkin untuk menyelesaikan itu. Tapi public private partnership sangat penting, kontribusi dunia usaha sangat penting dan perbankan menjadi sumber darah dari kebangkitan sektor riil dan ekonomi kita.

Saudara-saudara
Kebijakan moneter, kebijakan perbankan, penyaluran kredit, penyaluran uang, yang saya sebutkan dengan the business of supply of credit adalah domain Saudara-saudara. Dan saya hanya titip saja sebagai yang mesti mengambil keputusan dan kebijakan tertinggi pada tingkat Pemerintahan, agar sekali lagi penyaluran kredit ini, yang sekarang terus-menerus ditingkatkan dan diperbaiki lebih luas, lebih meningkat, lebih menjangkau sasaran-sasaran yang memang patut untuk diberikan kredit itu, mari kita lihat secara kuantitatif dan secara kualitatif. Itu harapan pertama.

Harapan kedua, saya meminta betul sektor-sektor yang sungguh produktif, tolong dialiri kredit. Untuk melakukan judgement, produktif atau tidak produktif, tolong juga terus dikembangkan, ajak yang lain bicara, jangan sampai secara sepihak perbankan kita, pagi-pagi sudah mengatakan, ah ini nggak produktif, enggak bisa, jangan dihakimi terlalu dini. Siapa tahu produktif, sayang kalau mereka bisa menggerakkan sektor-sektor ekonomi di seluruh wilayah, mereka tidak didanai, menjadi merugi kita.

Yang kedua, ya ada persoalan intermediasi perbankan tahun-tahun yang lalu meskipun sekarang makin bagus, pertahankan dan terus tingkatkan, kuantitatif, kualitatif sekali lagi. Yang keempat, harapan saya tolong diatasi mismatch, antara pembiayaan jangka panjang dan sumber-sumber pendanaan jangka pendek. Ini mesti harus ada paduan antara Lembaga Perbankan dan Lembaga Keuangan Non Bank, yang mestinya harus ada, mana yang lebih tepat membiayai proyek-proyek jangka panjang dan mana yang jangka pendek, termasuk sumber-sumber pendanaannya. Saya persilakan, saya tidak ahli, yang ahli Saudara-saudara bagaimana mismatch ini betul-betul bisa diatasi dengan baik.

Yang kelima atau yang terakhir, harapan dan ajakan saya untuk mengambil business decision, judgement, yang tahu Saudara-saudara. Saya ulangi lagi, apa yang saya sampaikan, saya kira tahun 2006 yang lalu di depan para bankir juga di depan para Pimpinan BUMN waktu itu, kalau sudah business decision, business judgement, tidak boleh ada siapapun yang mempengaruhi, termasuk saya, termasuk top political leaders di negeri ini, di lembaga-lembaga manapun. Sudahlah gak usah perlu ada katebelece, telpon sana, telpon sisni, SMS sana, SMS sini. Saudara yang lebih tahu, lakukan pengambilan keputusan secara rasional, go atau no go, karena Saudara tahu. Dan keputusan bisnis itu kalau meleset itu bukan crime.

Berkali-kali saya sampaikan kepada KPK, kepada Jaksa Agung, kepada Kepolisian, bedakan antara satu, business decision, satu policy dengan kejahatan atau crimes, nature-nya berbeda. Ini tidak boleh bahasa Jermannya ”kebyah-uyah”. Ini penting, sepanjang betul-betul secara nasional, masuk akan, logika dulu juga begini. Go, ndak bisa Pak, mau dikasih surat dari siapapun, pesen dari siapapun, ndak bisa, do it. Dan kemudian kalau misalkan dianggap ya bisa aja post mayor, bisa aja ada shocks, bisa ada perubahan, meleset, tidak serta-merta itu korupsi, itu crime. Ini perlu dan saya membuka pintu, kalau misalkan Saudara-saudara ragu-ragu, wah ini jangan-jangan nanti dilihat oleh Kejaksaan Agung, oleh Polisi, oleh KPK, oleh ini BPK, BPKP langsung otomatis korupsi itu. Saya akan, salah satu di antara 220 juta rakyat kita, Saudara bisa berkomunikasi dengan saya, karena keadilan itu penting, mahal, datangnya lambat, tapi pasti. Oleh karena itu, jangan ditanggung sendiri. Kalau ada sesuatu yang nyata-nyata ini buntu seperti itu.

Saudara-saudara
Itulah harapan dan ajakan saya, terutama pada dunia perbankan rasanya kalau lima hal itu sama-sama kita kelola, Saudara terutama yang memiliki wilayah otoritas di situ, maka kontribusi perbankan kita, kontribusi BI kita untuk pembangunan kita akan makin nyata, makin besar. Membangun bangsa tidak seperti membalik telapak tangan. It cannot be done over night, seperti berjalan di bulan purnama, tidak. Dan biasanya banyak orang tidak sabar, inginnya semua baik besok, jangan lusa, semua berubah dengan cepat, marah, memaki, mengkritik. Tapi harus kita lewati, harus kuat kita, harus tegar kita, karena itulah sebetulnya dari sisi tanda-tanda yang baik, demokrasi makin mekar, kebebasan makin tumbuh, orang tahu haknya, mudah-mudahan mereka juga tahu kewajibannya. Mereka juga tahu bahwa negara ini tidak mungkin dikerjakan oleh satu dua pihak, tapi oleh kita semua. Dengan harapan dan ajakan semua itu, saya ucapkan selamat bertugas Saudara-saudara. Sukses selalu, bisnisnya berhasil, rakyatnya makin mendapatkan bantuan dan semuanya untuk pertumbuhan ekonomi kita untuk pembangunan nasional kita.

Sekian.
Wassalam’ualaikum warahmatulahi wabarakatuh.



*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan