Arsip

« September 2007 »
M S S R K J S
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      

Pidato Presiden

Pengarahan Acara Pertemuan dengan Para Peserta Konferensi Internasional Pelajar Indonesia

 

TRANSKRIPSI
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN PARA PESERTA KONFERENSI INTERNASIONAL
PELAJAR INDONESIA
SYDNEY-AUSTRALIA, 10 SEPTEMBER 2007




Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Menteri Luar Negeri dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Pimpinan Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Saudara Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia, Saudara Konsul Jenderal Republik Indonesia, Sydney, Rombongan dari Jakarta, Pimpinan Penyelenggara Konferensi PPI tahun 2007, para Pimpinan PPI di seluruh dunia yang hadir pada Konferensi ini, para Pelajar, pelajar dalam arti mahasiswa dan siswa yang saya cintai dan saya banggakan,

Saya mengajak sekali lagi, untuk memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan dan Insya Allah kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta. Kita juga bersyukur para pelajar telah menyelesaikan Konferensi yang berlangsung selama dua hari, yang saya mendengar laporan dari para Menteri, dari Pak Adhyaksa berjalan dengan baik, dan saya dengar tadi hasil atau rekomendasinyapun baik, konstruktif untuk mengembangkan bukan hanya sistem dan kebijakan pendidikan di tanah air, tapi juga dalam arti luas dapat mengembangkan upaya kita untuk membangun daya saing bangsa melalui human capital diantaranya adalah para pelajar sekalian yang sedang belajar di luar negeri.
Para Pelajar yang saya cintai,
Saya senang dengan tema yang diangkat dalam konferensi atau temu pelajar ini, apakah kelak setelah menyelesaikan studi ini, stay abroad atau return home? Saya selalu melihat dari kacamata yang positif. Kalau kita melihat secara positif, selalu ada pilihan-pilihan, ada rasional yang akhirnya bisa melatarbelakangi pilihan apapun yang para pelajar ambil nantinya.

Sebelum saya menyampaikan respon saya, harapan, dan ajakan saya kepada para pelajar sekalian, saya harus mengawali pembekalan saya ini dengan menyampaikan saya sebagai yang sedang mengemban amanah untuk memimpin bangsa dan negara kita, kami semua sungguh mencintai dan membanggakan para pelajar sekalian. Camkan betul bahwa di tanah air, kami mendoakan agar yang sedang mengemban tugas di luar negeri, termasuk tugas belajar, selalu berhasil dalam mencapai cita-citanya. Ini harus saya sampaikan, dengan demikian komunikasi kita menjadi lebih baik nantinya.

Yang kedua, apa yang disampaikan tentu bukan hanya menjadi masukan dan proposal yang baik, tetapi banyak hal yang sesungguhnya sudah kita jalankan dan akan kita tingkatkan lagi setelah mendengar pandangan-pandangan para pelajar tadi. Sehingga Insya Allah, negara kita yang sepuluh tahun yang lalu mengalami krisis yang dahsyat, dapat betul-betul pulih dari krisis itu, dan kita bangun kembali menuju masa depan yang lebih baik.

Saya tadi lupa menyebut, bersama saya juga hadir para Pemimpin Redaksi, para Wartawan Senior dan Wartawan dari berbagai media massa, yang juga terus menyimak apa yang berlangsung dalam APEC Meeting ini, maupun yang dilakukan oleh para pelajar.

Sedikit masalah, apa yang kami lakukan, jauh-jauh terbang 6,5 jam dari Jakarta ke Sydney ini tentu ada tujuan, ada sasaran yang hendak kita capai. Ini kali keempat saya menghadiri APEC Meeting, pertama saya menghadiri di Chili, Santiago tahun 2004, 2005 di Busan, Korea Selatan, 2006 di Hanoi, Vietnam dan sekarang ini di Australia.

APEC sebagaimana para pelajar ketahui adalah sebuah asosiasi yang relatif longgar sebetulnya karena 21 negara, termasuk negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Australia sendiri, Selandia Baru dan lain-lain, ada juga negara-negara ASEAN atau negara berkembang, yang sepakat kita untuk melakukan economic integration and cooperation untuk mendapat, menambah manfaat bagi negara- negara anggota.

Kehadiran Indonesia dalam APEC Meeting selalu berangkat dari tujuan dan kepentingan kita, bahwa kita harus share dengan mereka begitu ketika dalam satu kerjasama atau kemitraan. Tetapi di atas segalanya, tentu misi saya dengan para Menteri dan semua delegasi adalah bagaimana kita dapat memperjuangkan kepentingan nasional kita.

Kita bahas selama dua hari ini, masalah-masalah yang berhubungan dengan climate change yang sangat penting. Dan Indonesia mendapatkan kehormatan Bulan Desember tahun ini akan menjadi tuan rumah dari UN Conference on Climate Change yang menjadi topik besar pada tahun-tahun terakhir ini. Insya Allah pada akhir bulan ini saya diundang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menjelaskan, untuk mempresentasikan kesiapan Indonesia di New Yok di PBB, di depan Kepala Negara lain dan apa objectives ataupun katakanlah agenda yang akan kita acarakan di Bali nanti. Kita punya posisi yang sangat kuat dan mudah-mudahan baik untuk generasi yang akan datang, termasuk para pelajar karena kalau tanah air kita makin lestari lingkungannya, bumi makin selamat, maka humankind dengan segala kehidupannya akan terselamatkan.

Yang kedua, kita membahas dalam APEC Meeting ini adalah WTO yang masih alot. Indonesia sekarang, Alhamdulillah kembali menjadi koordinator dari 33 negara berkembang menghadapi Barat, ada Amerika, ada Uni Eropa, ada Jepang, ada China, ada India, ada Brazilia, Argentina, dan South Africa, negara-negara kunci dalam dinamika WTO ini yang alot. Kita juga tujuan posisi kita tentunya kita ingin ada satu trade rezim yang lebih adil, Negara-negara berkembang seperti Indonesia punya tanggung jawab untuk mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, meningkatkan tingkat hidup rakyatnya mencapai Millennium Development Goals. Tetapi perlu kita sesuatu, kalau perdagangan kita banyak sekali hambatan, tentu tidak fair, tidak adil dan kita juga sulit untuk membiayai diri kita sendiri untuk membangun.

Kita tidak ingin menjadi bangsa yang cengeng, tapi berikan peluang opportunity, rule agar kita juga bisa melakukan sesuatu untuk membangun diri kita sendiri. Kemudian juga membahas yang disebut dengan regional economic cooperation, apakah setelah di ASEAN dengan free trade area ada bilateral free trade area kita dengan negara-negara lain, apakah kita juga perlu membangun free trade area of the Asia Pacific, APEC ini dianggap satu zona atau free trade yang kira-kira membawa benefit. Tentu kita melihat dari kepentingan Indonesia, kesiapan Indonesia, apa yang Indonesia dapatkan dengan framework yang baru ini. Itulah pergulatan kita dalam APEC Meeting dan tentu apa yang kita lakukan adalah yang terbaik untuk negeri kita sekarang ini dan ke depan.

Kita juga gunakan dalam Pertemuan APEC ini, pertemuan saya dengan beberapa pemimpin dunia, pertama Presiden Hu Jintao dari China, kemudian Presiden Amerika Serikat, George Bush, sebelumnya saya menerima Presiden Putin di Jakarta, lantas siang ini saya akan ketemu Perdana Menteri John Howard, kemudian Presiden Korea Selatan, Roh Moo-Hyun, lantas kemarin Perdana Menteri PNG dan beberapa pemimpin selama retreat dua hari ini berlangsung. Agendanya tentu apa yang menjadi kepentingan kita untuk kita perjuangkan dalam kerjasama bilateral dengan negara-negara itu.

Di samping itu, saya gunakan juga bertemu dengan Pimpinan Microsoft, kita ingin mengembangkan information technology di Indonesia untuk mengembangkan pendidikan kita ini, education, membangun yang pemerintahan yang baik, yang makin bebas dari korupsi, E-Goverment. Kemudian kita ingin bisnis kita makin competitive dan makin efisien, E-Bussiness. Dan other applications yang memungkinkan daya saing kita menjadi makin besar dan yang disebut dengan issue, behind the borders issue dalam kerjasama internasional ini kita bisa perbaiki, sehingga Indonesia punya playing field yang sama, even dengan negara-negara lain.

Tadi malam di ruangan ini, saya juga berbicara di depan para politisi, para pengusaha, para akademisi dari Australia, Asia Link yang saya bedah secara kritis hubungan bilateral Indonesia – Australia. Jangan sampai satu, dua isu kecil mengganggu hubungan antar bangsa. Kita ingin bahwa kita bersahabat, tulus, fundamental, jadi tidak boleh hanya satu, dua case langsung meruntuhkan persahabatan dan hubungan baik kita. Pesan ini juga sama kita dengan Malaysia, ada insiden khusus kemarin, insiden masalah atlet kita yang ada di Malaysia. Tapi saya dengan Pak Lah, Pak Abdullah Badawi punya hubungan yang sangat dekat, telpon-telponan, Alhamdulillah semua bisa kita selesaikan.

Tidak baik kita menjadi bangsa yang mutungan, bangsa yang mudah sekali apa namanya, mengajak perang dengan negara lain. Tidak cocok dengan era persahabatan dan kerjasama sekarang ini, tanpa mengorbankan kepentingan kita, kehormatan kita, dignity kita, kita jalin persahabatan dengan negara sahabat sebaik-baiknya untuk tentu menunjang kepentingan bangsa kita.

Saudara-saudara,
Minggu lalu, saya diundang oleh Universitas Airlangga untuk berbicara di depan para Guru Besar, para Dosen dan Mahasiswa, Insya Allah dua hari lagi, sore ini saya Insya Allah kembali lusa, saya diundang oleh Universitas Pajajaran di Bandung UNPAD untuk juga memberikan ceramah yang sama. Bulan lalu, saya diundang oleh Universitas Indonesia, Kampus di Depok, untuk meresmikan UI sebagai Research Centre dan sebelumnya saya diundang IPB juga membahas masalah daya saing.

Di empat kesempatan itu, baik di IPB, di UI, di UNAIR dan nanti dua hari lagi, dimana? Di UNPAD, topiknya kebetulan sama dengan topik yang para pelajar bahas sekarang ini, sebetulnya about nation competitiveness, daya saing bangsa, yang kemudian dikaitkan dengan setelah itu kemana, dimana mengabdinya, kembali ke tanah air, atau mengabdi di luar negeri.

Kembali ke tanah air bersama-sama saya di tanah air. Mengabdi di luar negeri juga tetap bersama-sama saya, sebagai Kepala Negara. Jadi tidak perlu gundah dimanapun bekerja, asalkan semua masih tetap menyayangi, mencintai bangsa dan negaranya, masih memberikan dedikasi dan kontribusi pada negaranya, menurut saya tidak menjadi persoalan besar, karena pilihan itu pada masing-masing dalam era demokrasi dan kebebasan sekarang ini.

Saya juga ingin terus memelihara komunikasi dengan para mahasiswa, para generasi muda karena tadi saran yang, atau proposal yang diangkat ini juga baik, cocok dengan bentuk persoalan kita. Dua minggu yang lalu saya menerima Mahasiswa Pertanian seluruh Indonesia. Kemudian tiga bulan yang lalu saya di Istana menerima Pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa yang juga bertemu di situ dan pada saat itu beberapa waktu sebelumnya, saya menerima Pimpinan Mahasiswa Non Kampus ya seperti HMI, BMII, GMNI, jadi organisasi seperti itu ternyata kepedulian mereka sama dengan kepedulian para pelajar yang sedang mengemban tugas di luar negeri.

Saya tenteram sebagai sekali lagi, yang sedang memimpin di negeri tercinta, bahwa kepedulian, komitmen, cita-cita, generasi muda kita, mahasiswa kita sungguh tinggi, ini berarti bahwa masa depan Indonesia akan cerah, karena kalian tidak selamanya duduk di sini, suatu saat duduk di sini, duduk di sana, duduk di sana. Dengan demikian, makin tinggi cita-citanya Insya Allah negara kita akan makin maju.

Sekarang mengabdi dari luar negeri atau kembali ke tanah air? Sekali lagi, stay abroad or you have to return home? Yang penting saya minta argumentasi, pertimbangan rasional dari semuanya ini berangkat dari sesuatu yang jernih, bukan karena pesimisme, saya tidak ingin ada di antara kita yang berwatak, berkarakter pesimis. Saya ulang sekali lagi, manusia yang pesimis, masyarakat yang pesimis, bangsa yang pesimis, melihat segala sesuatu yang dilihat hanya persoalannya. Tetapi yang optimis, setiap melihat persoalan selalu bisa menemukan jawabannya, solusinya, jalan keluarnya.

Istri saya, Ibu Negara ini pernah mengingatkan saya, kalau kita melihat setangkai bunga mawar, maka terserah kita mau melihat durinya, waduh nih duri kalau kena, kena tangan kita lecet ini, bisa berdarah, bisa infeksi, bisa ini begitu, jadi akhirnya menjauhi mawar, karena yang dilihat durinya-durinya. Tapi kalau yang dilihat indahnya kelopak mawar itu, ada yang merah, anggun, indah dengan paduan daun yang hijau, meskipun ada durinya, indah tapi hati-hati jangan sampai kena duri. Jadi begitulah cara kita melihat sesuatu dari kaca mana, kacamata mana. Oleh karena itu, saya yakin, dan tadi sudah bulat rekomendasinya bahwa apakah tetap tinggal di luar negeri atau kembali ke tanah air, dari sesuatu yang rasional dan jernih dan bukan karena pesimisme.

Kalau kita bicara enak mana, nah ini menarik ini. Jadi biasanya saling lihat-melihat, saya juga dulu waktu usia saya di bawah empat puluh dua tahun, tujuh kali saya mengikuti pendidikan di luar negeri, rasanya negara kita ada yang baik juga kok, tidak semuanya kurang, di luar negeri yang sudah super maju, super modern, ada bagus entah sistem, entah values, entah character, tapi di negeri kita, banyak juga yang lebih baik gitu, ada perasaan seperti itu.

Kemudian saya sekarang karena tugas saya, posisi saya bergaul dengan para pemimpin dunia, world leaders, saya berkunjung ke banyak negara di hampir semua benua, di semua benua. Saya ingat wah ini bagus, ini maju, policy-nya correct. Tetapi ada juga kita yang baik, bahkan lebih baik dari policy yang dikembangkan, pilihan-pilihan yang dipilih oleh negara-negara sahabat itu, termasuk negara-negara yang maju. Ini selalu ada proses melihat-lihat itu, enak mana, bagus mana dan sebagainya. Oleh karena itu, sekali lagi jernih melihat, jernih betul. Nah kalau kita padukan semuanya itu, maka kita bisa meletakkan perspektif yang tepat ketika para pelajar nantinya akan menentukan darimana harus mengabdi, kembali ke tanah air atau tinggal di luar negeri.

Model itu banyak. India saya tahu bahwa banyak sekali The Best and the brightest man and woman dari India, human capital mereka yang tersebar, distributed di banyak negara yang untuk menjadi networking yang efektif, yang bisa connecting India, to rest of the world, yang akhirnya semuanya bermanfaat bagi India’s economy, bagi teknologi yang juga maju dan kepentingan-kepentingan yang lain.

China sebetulnya agak berbeda dengan India, mengirimkan ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu dalam dekade tertentu, dan diharapkan mereka return home untuk membangun China yang sangat challenging. Dengan demikian human capital itu bersama dengan capital yang lain, bisa dilakukan untuk memajukan China. Jepang, ini sebetulnya yang pertama kali melakukan modernisasi juga dinasti atau ingat Restorasi Meiji dulu, itu juga kirimkan pada abad 19, abad 18 akhir bahkan ke negara-negara manapun di Eropa pada waktu dan mereka kembali untuk membangun Jepang, akhirnya Jepang jadilah negara Asia yang maju seperti ini.

Jadi model itu juga beragam, belum kalau kita lihat bagaimana Singapura, Malaysia, Filipina dan lain-lain. Lihatlah juga secara utuh, menyeluruh untuk melihat Indonesia bagaimana. Kalau melihatnya tidak positif judul ini tetap tinggal di luar negeri atau kembali ke tanah air, pasti ada, apa namanya, prasangka yang tidak baik. Nanti mempertanyakan bagaimana nasionalisme-nya, bagaimana patriotismenya, jangan-jangan ini tidak mau kembali karena lebih enak di luar negeri ya. Saya tidak termasuk yang seperti itu, karena sebetulnya tidak baik mengembangkan Neo nasionalism, nasionalisme yang mohon maaf mungkin jitu yang tidak kontekstual, yang tidak utuh melihat persoalan itu. Karena apa sih nasionalisme? Cinta pada bangsanya atau patriotisme, membela tanah airnya. Cinta pada bangsa, membela tanah air, itu bisa dilakukan darimanapun, dalam profesi apapun dengan cara-cara yang seperti apapun juga, jadi kita harus melihatnya ke situ.

Saya ingin mengajak para pelajar untuk mapping out dan sekaligus, ukuran-ukuran apa yang faktor-faktor yang bisa dipilih nanti untuk apakah mengabdi di luar negeri atau kembali ke tanah air. Dari sisi ekonomi, sebetulnya kita bekerja itukan supply and demand, betul? Kalau ada demand di dalam negeri, demand di luar negeri dan kita punya supply itu dalam arti tenaga kerja, maka akan terjadi proses dan nanti ada equilibrium di situ.

Saya mengatakan bahwa misalkan kita dengan Malaysia, tenaga kerja kita di sana sekitar 1,2 juta, that’s a lot, kemudian ada sekian ratus ribu dalam proses untuk apa namanya, penyempurnaan dokumen-dokumen yang statusnya, jadi hampir dua juta sebetulnya. Saya sudah sangat sering bertemu dengan Pimpinan Malaysia untuk bekerja sama perlindungan mereka, hak-hak mereka, kesejahteraan mereka, tapi kita juga bertanggung jawab, surat-surat yang benar sehingga datangnya mereka legal, tentu tidak illegal, pengetahuan tentang hukum Malaysia, budaya Malaysia dan lain-lain.

Seperti itu, after all mengapa, karena ya ekonomi Malaysia kan terganggu kalau tidak ada tenaga kerja kita yang berjumlah lebih dari satu juta itu. Jadi kalau demand on the Malaysian side kemudian kita supply dengan workers kita yang bisa mengisi permintaan dari pasar tenaga kerja yang ada di Malaysia. Dengan demikian, fair saja kalau kita lihat apa namanya, tenaga kerja kita di luar negeri dalam kaitan seperti itu.

Yang kedua, bekerja dimanapun itu, dan apapun pilihannya adalah saudara a matter of carrier choice, Saudara bisa memilih mau jadi apa. Kalau dalam bahasa koboi itu, what you gonna be, man? Pakai man gitu ya biar serem ya. What’s you gonna be? Ingin jadi apa Saudara? It’s your choice, it’s carrier choice, tentu pilihan yang baik. Bukan jadi profesi yang menyusahkan kita semua, membikin nama kita jelek di luar negeri, tapi justru sebaliknya mengharumkan nama kita, carrier choice.

Saya harus mengakui para pelajar, bahwa krisis yang kita alami sepuluh tahun yang lalu, memang memberikan persoalan yang maha berat. Pertama, poverty meledak, unemployment membengkak, international debt, hutang luar negeri kita membengkak, growth kita drop, kemudian ada ketidakpedulian kita mengelola lingkungan pada periode itu. Boro-boro mengelola lingkungan, wong untuk kehidupan yang sulit saja waktu itu kita bergulat hidup. Alhamdulillah, tahun demi tahun kita telah berusaha keras untuk membalik semuanya ini dan supaya diketahui oleh para pelajar bahwa our growth setelah sebelum krisis dulu 6, 7, 7,5% average itu, drop minus 13% fall traksi yang luar biasa, mulai Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega dan saya teruskan, kita sudah kembali, meningkat pelan-pelan. Dan Alhamdulillah tahun ini atau tiga triwulan berturut-turut, ekonomi kita sudah kembali mencapai 6 % dengan stronger fundamental, dengan makro ekonomi yang makin baik, cadangan devisa kita sudah hampir 60 Milyar dolar Amerika Serikat tertinggi dalam sejarah kita, dan sejumlah indikator yang patut kita syukuri.

Ini semua yang hendak kita dorong untuk mengembangkan sektor-sektor riil kita, dengan demikian semua semua ekonomi kita akan dapat kita, bukannya kita pulihkan, tapi kita tingkatkan. GDP kita sudah lebih dari empat ratus juta U$ Dollar. Income perkapita kita sebelum krisis 1200, krisis drop 600, sekarang sudah menjadi 1600 and keeps growing, mudah-mudahan bisa menjadi lebih bagus.

Unemployment sudah berkurang, tapi belum cukup, masih tinggi menurut saya masih banyak yang harus kita lakukan. Poverty sudah turun, tapi hitungan saya juga masih tinggi harus tetap bergulat kita. Hutang luar negeri Alhamdulillah, debt to GDP ratio kita pada saat krisis dulu 150%, jadi kalau kita punya pendapatan nasional bruto untuk bayar hutang itu, itu tidak cukup, karena hutang kita 150 % dari itu, kita perjuangkan terus.

Ketika saya mengemban amanah kepada posisi 54%, Alhamdulillah, sekarang menuju 33 %, better dibandingkan Malaysia, Thailand dan Filipina dari segi debt to GDP ratio, ini perlu kita syukuri. Lingkungan kita habis-habisan sekarang dengan para Gubernur, Bupati, Walikota untuk mengelola kembali lingkungan kita. Ini adalah kondisi negeri kita. Oleh karena itu, saya mengerti, karena masih ada persoalan dengan job creation di dalam negeri, unemployment yang masih tinggi, apabila ya sudah kalau gitu saya bekerja di luar negeri saja. Saya sangat mengerti. Tentu kewajiban saya terus dengan semua pimpinan di negara kita, termasuk Gubernur, Bupati, Walikota karena sekarang sudah desentralisasi, sudah otonomi daerah, mari kita perlebar lapangan pekerjaan ini sehingga pilihan kalian juga lebih bagus lagi.

Other play roles ke tempat-tempat, peluang-peluang, opportunity, saya lebih enak memilihnya ini di luar atau di dalam. Jadi lihatlah dari tiga itu, kemudian setelah itu kembali. Sebetulnya setelah tamat mau jadi apa tadi, what’s you gonna be tadi. Apakah ingin menjadi profesional, bekerja di Deplu misalnya, bekerja Departemen Keuangan misalnya, bekerja di Bank Indonesia misalnya, atau menjadi dosen di dalam negeri kita, atau memimpin NGO di negara kita, terserah. Kalau itu menjadi profesional. Atau di luar negeri di multinational corporation, di banyak tempat sebagai seorang profesional. Atau ingin menjadi entrepreneur, pengusaha, pengusaha itu create jobs, create opportunities, kecil-kecilan barangkali, makin besar, makin besar. Silakan, ini pilihan-pilihan pada karir dan masa depan, semuanya. Oleh karena itu, dengan perspektif yang tadi itu, dengan pilihan seperti apa, maka akan menggugah nanti untuk menentukan sebagusnya seperti apa.

Yang penting sekali lagi, kalau Anda nanti memilih lebih baik bekerja di luar negeri, maka pertama-tama, berbuat kecintaan kepada negeri kita, bukan sebaliknya. Saya sedih kalau di antara bangsa kita senangnya memperolok-olok diri sendiri, menjelek-jelekan diri sendiri, terlalu membanggakan bangsa lain, negara lain padahal sekali lagi, Tuhan itu Maha Besar, Maha Adil, tidak ada satupun bangsa yang superior, yang unggul segalanya, dan lantas Indonesia dianggap bangsa yang tidak unggul, soft nation dan sebagainya, jangan. Tetaplah mencintai bangsa dan negaranya sendiri.

Saya pernah membaca satu artikel pada saat Rusia sedang gonjang-ganjing, waktu itu Yeltsin jadi Presiden, Parlemen Rusia di Kremlin, ditembak pakai mortir, ingat dulu ya tahun 1990 sekian, waktu itu ada pertandingan catur internasional. Sang juara catur ditanya oleh pers di ... itu ”Negara Anda itu ngapain kok ribut betul itu.” ”Oya? Nggak ngerti ini.” ”Mosok bodoh banget sampe ditembak pakai mortir seperti itu, dikacau, politik di Rusia begini, sayang.” ” Tapi jangan lupa, saya sangat mencintai dan saya bangga dengan negeri kami, Rusia.” That is nasionalism, that is patriotism.

Kemudian siapa yang pernah menonton film Rambo? Rambo yang mainkan Sylvester Stallone ya, ingat ya? Diceritakan si kawan satu ini dikirim ke medan Vietnam-lah, jaman perang Vietnam untuk membebaskan prajurit-prajurit yang hilang, mission inspection. Dikirim oleh politis, berangkat ke sana terjun, masuk pedalaman, bergulat dengan segala tantangannya, Si politisi ini ingkar janji, langsung misi itu ternyata tidak ada. Bayangkan berbahayanya misi itu, ngamuklah si Rambo itu, akhirnya dihajar semua itu, terus dia, dilemparnya senjatanya, jalan. Di situ ada seorang Kolonel yang mencampuri dia, menghampiri dia dengan baret hijaunya itu, dia nanya namanya John. ”John setelah ini kamu kemana?” ”Saya tidak tahu, saya ingin mengikuti langkah saya.” ”Kenapa John apa yang mengganggu pikiranmu?” ”I don’t know.”

Akhirnya Kolonel tahu, karena marah, jadi sudah berjuang, sudah taruh nyawa kok dibegitukan. Atasan, Kolonel yang sudah senior itu. ”John, mungkin perang ini adalah perang yang salah, perang pada jaman yang salah, di negeri yang juga salah gitu. Tapi satu hal, jangan tidak menyayangi dan mencintai bangsa dan negaramu.” That is nasionalism, that is patriotism. Jadi dimanapun nanti bekerja, dengan gaji yang tinggi dengan status dan privilege yang tinggi, tetaplah sayang, mencintai, bangga pada negaranya, semua dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote adalah bangsa kita, tanah air kita, saudara-saudara kita, tempat hampir semuanya. Ini semua lahir di Indonesia? Hampir semua toh? tumpah darah kita, tetaplah cinta.

Yang kedua, jadilah duta bangsa, ada image, ada persepsi yang keliru tentang negeri kita. Kadang-kadang sangat berlebihan pencitraan, stereotyping Indonesia dalam arti yang jelek-jelek, yang negatif-negatif. Katakan negara kami tidak seburuk itu. Memang ada persoalan, memang ada krisis, tetapi tidak begitu. Inilah Indonesia lakukan itu, jadi duta bangsa, apapun profesinya. Kalau perlu pakai presentasi, begini loh, kalau nggak tahu, ini Indonesia itu. Kalau begitu besar Indonesia itu? Mungkin dikira seperti negara-negara kecil yang sangat terbelakang, list developed country, yang seperti itu, begitu lihat tanah air kita, 3 times zone, delapan juta kilometer persegi, GDP-nya dan lain-lainnya. Mungkin miss persepsi itu akan pelan-pelan hilang, pencitraan negatif pelan-pelan akan berkurang. Itu tugas dari semua warga negara Indonesia di luar negeri dengan cara-cara yang memungkinkan.

Saya juga ingin, cocok dengan pandangan dari konferensi, bangunlah jejaring global, networking, you have to connect, mereka akan ke negeri kita, you have you connect negeri kita kepada mereka, apapun, entah bisnis, entah perminyakan, entah IT, entah apa namanya trading, entah for finance, pendidikan interfaith dialogue, apapun. Jadi tolong di-connect-kan dengan negeri kita. Dengan demikian, benefit-nya yang juga dirasakan langsung oleh networking ataupun jejaring itu. Itu semua adalah sangat dapat dilakukan dan saya minta para pelajar lakukanlah demi kecintaan kepada bangsa dan negara kita.

Kemudian kalau negara memerlukan Saudara, if you are called by negara, tolong dipertimbangkan dengan baik-baik. Saya tahu seorang jenius yang namanya Baharudin Yusuf Habibie waktu itu bekerja di MBB Gmbh, Messerschmitt-Boelkow-Blohm, kalau tidak salah bahasa Jerman ini. Siapa yang ahli bahasa Jerman ini siapa? Siapa yang dari Jerman ada? MBB itu di Munchen, saya pernah datang ke sana. Ceritanya ada seorang jenius ahli pesawat, ahli teknologi, top scientist yang berkaliber dunia, yang bernama Habibie. Pak Harto waktu itu mungkin mendapatkan saran, saya kira Pak Emil Salim juga cukup senior waktu itu di pemerintahan. Ini daripada yang menikmati Jerman yaitu Eropa, mengapa tidak yang menikmati Indonesia. Singkat kata, Pak Habibie dipanggil oleh Presiden waktu itu, Presiden Soeharto tentunya, untuk mengabdi di tanah air. Pak Habibie kalau soal gaji barangkali, soal status, soal ini, bayangkan top scientist di sebuah negara maju, tentu tinggi, tapi beliau akhirnya bersedia. Jadi kalau di antara yang di depan saya ini kelak diminta untuk mengabdi di negeri kita ini oleh siapapun, oleh saya atau pengganti saya oleh siapapun nanti tolong dipertimbangkan baik-baik.

Saya pernah bertemu dengan beberapa pekerja muda kita yang ada Microsoft Headquarters di Seattle. Waktu itu sekitar 40 orang saya bertemu seperti ini, saya bilang “Anda suatu saat, kalau Indonesia membangun Research Centre yang IT based gitu, mau nggak pulang ke Indonesia?” Dia bilang spontan “Mau Pak, tentunya cocok dengan kemampuan kami dan segala macam.” Saya senang, nyes rasanya gitu. Dan ketika saya bicara dengan Bill Gates sama si Pamela, sama Greg Mandy kemudian yang belakangan ini. “Opened, oh bagus bisa saja, suatu saat kembali ke negerinya, kemudian bekerja lagi di sana.” Contohnya seperti itu. Saya juga ke Timur Tengah bertemu dengan mahasiswa kita, tenaga kerja kita, mereka juga ingin terus untuk menjadi jembatan kita dengan negara-negara di Timur Tengah.

Jadi menurut saya ini bagus, saya senang kalau ada kesediaan seperti itu, kemarin ada ahli, sebentar dari UI, apa dari LIPI kemarin, ini jenius mengembangkan apa kemarin itu? Satu species untuk virus kita, untuk vaksin kita. UNAIR juga kemudian, UNAIR yang H5N1 ya? Sepenuhnya untuk kita, ada juga yang ngotot, saya lihat di LIPI dan Menteri bilang, “Pak kalau bisa kita tarik saja, suruh kembali ke Indonesia, mau nggak beliau? Kalau yang minta Presiden mau gitu.” Tentu kalau yang minta saya, kita pikirkan tempatnya, kita pikirkan karirnya segala macam. Saya dapat laporan yang bersangkutan bersedia untuk mengembangkan sesuatu. Jadi pesan saya, doa saya semua berhasil, doa saya semua tumbuh dengan baik, bahkan unggul begitu, dan kalau negara memerlukan kiranya bisa dipertimbangkan, dan kembali membangun bangsa dan negara kita dengan sebaik-baiknya.

Yang terakhir, tadi ada beberapa catatan di sini yang global networking Indonesia, saya setuju tadi. Silakan, ini para Menteri terkait saya minta juga di, nanti Pak Hatta sampaikan ke Menko Perekonomian, Mendiknas, itu semua bisa Menteri Pedagangan juga bisa ini, Menlu sendiri, Pak Adhyaksa activity ini bisa lintas Departemen, lintas profesi.

Setiap saya datang kemanapun, dimana tenaga kerja kita bekerja, apakah kemarin di Korea, kemudian di, jelas Malaysia, kemudian saya ketemu dengan pimpinan Hongkong di APEC ini, waktu ke Timur Tengah, baik di Saudi Arabia, di Qatar, Kuwait, di Arab, Emirat saya bicara, titiplah tenaga kerja kita di sana. Dan saya setuju tadi, untuk menghindari bahwa kalau tenaga Indonesia di luar negeri itu pasti unskilled, tolong, banyak putra-putri Indonesia yang bagus, bright, the brightest, banyak woman. Saudara belum tahu? Ini banyak sekali kejuaraan Olympiad yang diborong oleh Indonesia, cerdas, bangga benar. Setelah pulang, saya undang ke Istana, saya ajak jalan-jalan, apakah dia pelajar SMP, ada SMA, ada mahasiswa, bangga saya.

Tunjukkan bahwa tenaga kerja Indonesia itu bukan hanya unskilled, tetapi banyak sekali yang skilled dan dia punya standing yang bagus. Dan ini tugas saya, kewajiban saya untuk mengkomunikasikan dengan para pemimpin dimana warga negara kita bekerja. Fiskal coba nanti dilihat kemungkinannya. Kenapa? Coba dicek nanti, itu siapa namanya, Pak Hatta sampaikan ke Menteri Keuangan bagaimana policy tentang fiskal untuk mahasiswa yang keluar negeri ini. Kalau memang ada pelunakan fiskal bagus tentunya, karena ini juga human capital yang saya belum bisa, saya pantang berjanji ya. Saya akan membawa persoalan ini untuk kita bicarakan dengan Menteri keuangan, Dirjen Pajak seperti apa yang bisa kita lakukan.

Pinjaman lunak, soft loan, ini saya dorong betul ya Saudara-saudara, saya ini malah, Dino nggak ada? Ada. Saya juga bekerja sama dengan Australia dengan negara-negara seluruhnya untuk scholarship dan saya sudah meminta Mendiknas, Menteri Kesehatan, karena kita perlu banyak sekali dokter, banyak sekali sarjana, banyak sekali expert untuk ada crash programme tentang beasiswa, jadi ini sudah masuk dengan apa yang kita lakukan, nanti kita lihat sejauh mana yang bisa kita lakukan,

Buku pendidikan. Saudara-saudara, tidak ada sektor yang selama di bawah saya tiga tahun ini yang kenaikannya seperti ini, yang meroket, kecuali pendidikan, bahkan mohon maaf sektor-sektor lain pun agak kita tahan, padahal mereka juga penting pengurangan kemiskinan, kesehatan, usaha kecil dan menengah, infrastruktur dan segala macam, tapi dana pendidikan kita genjot. Harapan saya, betul-betul yang tidak mampu untuk pendidikan dasar itu free. Kemudian gedung-gedung kita bangun kembali, buku-buku masuk, jadi saya selalu masuk ke SD, SMP, TK di seluruh Indonesia selama tiga tahun ini, my dream is betul-betul buku ini bukan menjadi halangan.

Ini Ibu Negara dengan ibu-ibu yang lain memelopori yang namanya Mobil Pintar, Motor Pintar, Rumah Pintar, tujuannya untuk mendistribusikan pengetahuan, baik bacaan, komputer ataupun yang lain-lain, skill yang lain agar bisa menembus ke manapun di pelosok, di seluruh penjuru tanah air.

Ide seperti India, India itukan ada transition yang luar biasa, kertasnya nggak begitu bagus, tapi bisa banyak dan murah, dan sebagian free. Ini juga sebuah pemikiran, tolong nanti Pak Hatta, ini sudah agak lama, disampaikan lagi ke Mendiknas coba seperti apa possibility-nya untuk mengembangkan kebijakan produksi buku seperti itu.

Memang mohon maaf kadang-kadang, dulu begini nggak apa-apa, kok sekarang diubah-ubah, ada bisnis buku-membukulah, kira-kira itu. Ada percetakan, ada penerbit, ada di dalam yang lain-lain gitu, tapi tidak akan meninggalkan etika bisnis. Tetapi mari kita utamakan untuk kepentingan mereka, terutama yang kurang mampu itu.

Research, research habis-habisan ini. Jadi kalau Saudara, saya dua tahun terakhir ini hampir tiap minggu bicara research karena banyak sekali kita tersalip negara lain karena research. Kelapa sawit dengan Malaysia kan sama, tanahnya sama, iklimnya sama, udaranya sama, mengapa sebagian perusahaan Malaysia hampir sampai segini tandan kelapa sawitnya, kita lebih kecil, juga soal research. Thailand, semua jambu Bangkok, durian Bangkok, semua gede-gede itu. Research itu tidak harus institusi, tidak harus negara, tapi juga bisnis bisa local community, bisa pedesaan seperti itu. Itu kita lakukan, termasuk yang energi, food related research.

Lantas dengan diplomasi tadi, akreditasi ini. Inilah yang kadang-kadang kita ini, apa namanya punya kebiasaan yang kurang baik. Siapa yang dari Sumatera Utara? Siapa lagi Sumatera Utara? Yang dari Batak? Batak jaman dulu itu ada istilah begini, “Ah, kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah“, gitu jaman dulu itu. Tetapi sekarang Batak sudah berubah. Mau saya Indonesia juga berubah, birokrasi berubah, jangan bikin sesuatu yang justru mempersulit, harusnya mempermudah. Saya juga pernah waktu saya ambil master di luar negeri, kebetulan master saya itu juga untuk akreditasi pertama kali agak sulit itu, belakangan baru dapat di apa namanya, disejajarkan dengan kita punya program master S2 gitu. Ini bagus nih, Pak. Saya kira janganlah kita, apa namanya, “Kamu kok enak-enak di luar negeri itu, di Indonesia susah payah begini.” Dibebaskan itu, lihat kurikulumnya, lihat silabusnya, lihat apa namanya transkripnya, begitukan? University-nya dimana? Kemudian kompatibilitasnya dimana? Jadi semangatnya mempermudah, memfasilitasi, bukan menghambat, bukan mempersulit. Apalagi kalau minta imbalan finansial, itu sudah bukan jamannya, beritahu saya kalau ada yang minta-minta seperti itu.

Sembilan poin ini bagus ya? Sembilan poin ditetapkan pada tanggal 9 September, Pak ini, jadi bulan. Baiklah. Akhirnya, selamat melanjutkan studi, kami mendoakan sukses. Saya berharap setelah studi dilakukan, pilihlah profesi yang baik, dimanapun, apapun, tapi teruslah berkontribusi untuk bangsa dan negara kita. Sampaikan salam saya kepada semuanya yang tidak bisa hadir, dengan doa dan harapan saya yang sama, pesan yang sama, agar bangsa kita Insya Allah kita akan menjadi bangsa yang maju, bangsa terhormat, bangsa yang disegani oleh semua, oleh sahabat-sahabat kita.

Sekian. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT selalu membimbing, menuntun perjalanan bangsa dan negara kita.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan