Arsip

« September 2007 »
M S S R K J S
      1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30      

Pidato Presiden

Orasi Ilmiah pada Dies Natalis ke-50 Unpad

 

TRANSKRIPSI
ORASI ILMIAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
DIES NATALIS KE-50 UNIVERSITAS PADJAJARAN
BANDUNG, 12 SEPTEMBER 2007



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamua’laikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang juga sebagai Ketua Dewan Penyantun Universitas Padjajaran,
Yang saya hormati Saudara Menteri Pendidikan Nasional dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Gubernur Jawa Barat dan para Pejabat dan Pimpinan Negara yang bertugas di Jawa Barat, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Yang saya hormati Saudara Rektor Universitas Padjajaran beserta para Guru Besar, Anggota Senat Akademik, Anggota Dewan Penyantun, para Dosen, para Ilmuwan, para Peneliti, para Mahasiswa dan segenap Civitas Akademika Universitas Padjajaran,
Yang saya muliakan para Sesepuh dan Senior,

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Pada kesempatan yang membahagiakan, bersejarah dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak Hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT atas perkenan rahmat dan ridho-Nya, kita dapat hadir di tempat yang mulia ini untuk bersama-sama merayakan Dies Natalis ke-50 Universitas Padjajaran.
Saya berterima kasih kepada Saudara Rektor yang telah mengundang saya untuk hadir pada hari yang bersejarah ini, untuk sekaligus menyampaikan pandangan dan pikiran saya, serta harapan dan ajakan saya yang akan saya sampaikan dalam orasi ilmiah hari ini, dengan harapan semoga kita semua dapat terus meningkatkan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.

Hadirin yang saya hormati,
Pertama kali secara pribadi saya mengenal Universitas Padjajaran ini, Universitas yang menjadi kebanggaan kita semua, kebanggaan bukan hanya masyarakat Jawa Barat, tetapi juga bangsa dan negara kita. Pada tahun 1973, waktu itu saya berada dalam tingkat akhir Akademi Militer. Kami menerima kunjungan mahasiswa UNPAD, beberapa hari kami bersama-sama. Dan saya masih ingat waktu itu justru pada malam kesenian, Saudara Iwan Abdurrahman juga hadir waktu itu. Ingat saya yang menjadi Ketua Dewan Mahasiswa, counterpart saya waktu itu adalah Saudara Hatta Alwanik. Saya tidak tahu dimana yang bersangkutan sekarang. Setelah itu, tentu karena dalam karir pertama saya kurang lebih 30 tahun, separuh waktu itu saya berada di Jawa Barat.

Anak saya dua-duanya lahir di Jawa Barat. Sebagai keluarga besar Bandung, kami tentu bangga, dekat dan merasa dekat dengan Universitas Padjajaran. Ditambah lagi anak menantu saya yang pertama, Anissa Larasati yang sekarang juga ada di sini adalah Alumnus dari Universitas ini. Tadi ada sebuah rahasia kecil, Pak Rektor, anak saya yang nomor dua, yang masih bujang sebenarnya ingin ikut hadir di sini. Siapa tahu kenal sama mahasiswi UNPAD. Sayang beliau bekerja, nanti saya sampaikan bahwa mahasiswa dan mahasiswinya baik-baik, bolehlah kalau suatu saat berkenalan.

Hadirin yang saya hormati,
Orasi yang ingin saya sampaikan sesuatu yang menjadi kepedulian kita bersama dan bahkan menjadi misi besar kita sebagai bangsa yang terus membangun, yaitu membangun daya saing bangsa menjadi negara maju. Namun sebelum saya masuk dalam topik bahasan yang menjadi substansi utama dari orasi ini, saya ingin menyampaikan dua pengantar.

Pertama adalah pesan dan harapan untuk UNPAd ke depan dan yang kedua sedikit oleh-oleh pertemuan yang saya hadiri, dua hari berturut-turut di Sydney, Australia, yaitu Pertemuan Pemimpin Negara-negara APEC, yang ternyata berkait erat dengan topik orasi yang saya pilih pada kesempatan ini.

Pesan dan harapan saya untuk kepada Keluarga Besar Universitas Padjajaran, pertama-tama tentu saya mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-50, semoga UNPAD semakin maju. Betul-betul saya ulangi yang disampaikan oleh Saudara Mendiknas berkali-kali tadi, UNPAD benar-benar kelak menjadi world class university dan terus menjadi center of excellence.

Yang kedua, teruslah berpartisipasi dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa, termasuk pembangunan daerah. UNPAD memiliki tanggung jawab moral atas kemajuan Jawa Barat. Oleh karena itu, saya yang telah mengatakan kepada Saudara Gubernur dan Beliau pun sudah melakukan, ajaklah UNPAD, gandenglah UNPAD untuk membangun Jawa Barat menuju masa depan yang lebih baik.

Kemudian topik yang dipilih dalam tema Dies Natalis 50 ini, bagimu negeri tadi, membahas tiga hal penting yaitu community development, good governance dan entrepreneurship, yang saya anggap ini sungguh tepat dan relevan dengan tantangan dan tugas yang kita emban sekarang ini. Mengapa saya mengatakan bahwa topik atau tema Dies Natalis yang Saudara-saudara pilih tepat.

Pertama, kalau kita bicara community development, kita harus paham bahwa membangun bangsa dan negara pada hakekatnya membangun seluruh komunitas di negeri ini, membangun seluruh wilayah yang terdiri dari berbagai daerah wilayah dan komunitas. Ada yang disebut dengan antitesis globalisasi, yang serba menglobal, yang serba mendunia. Ternyata tidak cukup, apabila tidak disertai dengan pemberdayaan, pendayagunaan, dan pembangkitan komunitas-komunitas lokal.

Yang kedua, jangan lupa saudara-saudara, ada koreksi besar kita untuk pelaksanaan pembangunan di negeri ini yang saya selalu dengungkan dimana-mana, bahwa pertumbuhan bukan untuk pertumbuhan, tetapi pertumbuhan mesti bersama-sama. Sejak awal disertai dengan pemerataan growth with equity. Growth must be inclusive, growth must be sustainable, and growth must be broadbased. Kalau kita paham itu, maka community development menjadi sangat-sangat penting.

Mengapa good governance juga perlu saya garis bawahi? Negara kita yang ini patut bersyukur ke hadirat Allah SWT ini, karena banyak sekali sumber daya alam dan berbagai potensi yang kita miliki, itu tidak ada artinya apa-apa, apabila tidak dikelola dengan baik oleh pemerintahan yang lain. Oleh karena itulah, seluruh tanah air, termasuk Provinsi, Kabupaten/Kota mestilah menjadi pemerintahan yang baik atau good governance, sehingga resources itu bisa dikelola secara tepat dengan akuntabilitas yang setinggi-tingginya.

Good governance dalam kenyataannya juga bagian penting dari daya saing bangsa dan yang kita bangun Saudara-saudara, bukan hanya Pemerintah yang bersih, tetapi juga Pemerintah yang berkemampuan, yang kompeten, syarat cukup, syarat perlu, dua-duanya mesti kita bangun.

Kemudian entrepreneurship, saya kira semua setuju bahwa kebangkitan dunia usaha yang menjadi soko guru dari peningkatan kesejahteraan rakyat kita, ekonomi kita mestilah berpilar pada kewirausahaan, entrepreneurship. Dan ini terus terang ada solusi tepat, solusi jitu untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran.

Kita bukan hanya ingin mendidik yang disebut dengan opportunity sequence, tetapi juga opportunity creators, yang menciptakan lapangan-lapangan pekerjaan. Dan dalam perkembangan ekonomi kreatif di seluruh jagad ini, maka entrepreneurship bersama-sama dengan teknologi, bersama-sama dengan inovasi dan kreativitas menjadi elemen-elemen penting. Oleh karena itu, saya dukung Saudara Rektor dan segenap Civitas Academika, pilihan Saudara dan mudah-mudahan benar-benar bisa dikontribusikan oleh UNPAD pada pihak-pihak yang tepat, agar betul-betul bisa memiliki pelaksanaan community development yang baik, memiliki good governance dan jiwa entrepreneurship yang terus berkembang.

Hadirin yang saya hormati,
Pengantar kedua, masalah APEC. Sebagaimana ketahui, APEC ini terdiri dari 21 negara, ada yang maju, seperti Jepang, Amerika Serikat, Australia, New Zealand, ada negara-negara besar, seperti China, Korea Selatan, Taiwan, ada juga negara-negara ASEAN. Tiga visi utama yang mesti saya sampaikan kepada segenap Civitas Akademika UNPAD yang dibahas dalam pertemuan APEC yang lalu adalah climate change. Yang kedua, permasalahan WTO yang beraspekkan Doha Development Agenda. Dan yang ketiga, Economic Integration.

Mengapa harus saya sampaikan semuanya ini? Kemarin sebelum kita bertemu di Sydney banyak sekali komentar dunia, banyak yang skeptis, banyak yang pesimis, apa bisa Pemimpin-pemimpin APEC bersatu pendapat dalam kerjasama menghadapi climate change dan global warming. Mengapa? Kita tahu posisi Amerika dan Australia misalnya yang keras terhadap Kyoto Protocol, kemudian India, China punya posisi sendiri, Jepang dengan Cool Earth 50-nya juga sepertinya juga ada kerangka sendiri, termasuk negara-negara anggota yang lain.

Tetapi alhamdulillah, bahwa perbedaan pendapat itu ternyata sudah bisa kita bawa ke yang saya sebut dengan istilah saya sendiri zone of possible agreement. Dengan demikian, kita bersemangat bahwa mudah-mudahan di Konferensi Internasional yang akan kita laksanakan di Denpasar Bali bulan Desember ini yang Indonesia menjadi kehormatan sebagai tuan rumah, host betul-betul bisa membangun kerangka baru, beyond Kyoto Protocol, yang tentunya mengajak masyarakat sejagat dengan tanggung jawab yang tinggi, bersama-sama menyelamatkan bumi kita, bersama-sama melakukan sesuatu lewat climate change dan global warming.

Dan menjadi kesyukuran kita, inisiatif yang kami bawa dalam Pertemuan APEC ini, yaitu Coral Triangle Initiative, gagasan yang saya lempar untuk menyelamatkan wilayah lautan atau yang disebut dengan the amazone of the seas, wilayah Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, PNG dan Solomon Island yang itu pusat biodiversity yang luar biasa, itu mendapatkan dukungan. Dan kita berharap, negara maju, negara kaya share dengan kita semua untuk menyelamatkan wilayah itu.

Yang kedua, inisiatif kita yang insya Allah akan kita tindak lanjuti pada pertemuan nanti di New York pada akhir bulan ini, yaitu Forestry 8. Saya menggagas ada satu kebersamaan di antara 8 negara yang memiliki hutan hujan tropis, yaitu Indonesia sendiri, PNG, Brazilia, Kostarika, Kongo, Kamerun dan Gabon untuk bersama-sama, apa yang bisa kita lakukan agar hutan kita ini lestari, di satu sisi membawa kesejahteraan bagi rakyat, dimana mereka berada, di sisi yang lain, tetap lestari dan tidak merusak lingkungan dan bermanfaat bagi generasi yang akan datang. Kita tidak ingin menjadi obyek semata, tetapi kita juga menjadi subyek. Voice kita, harapan kita didengar oleh negara-negara yang lain, termasuk negara-negara maju. Ini pun mendapatkan dukungan yang kuat, sehingga mudah-mudahan kesadaran baru bangsa sejagat, termasuk bangsa kita, menyelamatkan bumi kita, tanah air kita dengan langkah-langkah yang belum konkret itu dapat kita sukseskan.

Kemudian yang menyangkut WTO, saya laporkan kepada Saudara-saudara segenap Civitas Academika UNPAD, ini persoalan yang alot, berkali-kali gagal, selalu tahun komentarnya, we have a narrow window of opportunity, tetapi tidak terbuka-buka jendelanya itu. Pasalnya negara-negara maju cenderung masih saja protektif, masih memberikan hambatan, baik yang bersifat tarif maupun hambatan non tarif. Negara berkembang, termasuk Indonesia ingin tentunya ada fair trade. Dengan fair trade itu komoditas kita, termasuk pertanian bisa dipasarkan, kita punya biaya yang lebih besar untuk membangun diri kita sendiri, untuk mencapai Millennium Development Goals dan tidak harus meminta-minta, merengek-rengek kepada dunia, asalkan kita mendapatkan peluang untuk memasarkan barang-barang kita secara fair. Ini yang akan kita perjuangkan.

Indonesia alhamdulillah sekarang menjadi koordinator dari 33 negara, tetapi masih menghadapi kutub-kutub lain, ada Brazilia, ada India, ada Afrika Selatan, ada Amerika sendiri, ada Jepang, ada Eropa. Oleh karena itu, yang saya sampaikan kemarin, ya kalau sama ngotot-ngototan nggak jadi. Negosiasi itu take and give, negosiasi itu kompromi, masing-masing itu mundur satu langkah, kemudian apa yang bisa kita lakukan. Dan saya menghimbau negara-negara besar kemarin untuk memiliki leadership yang bagus, agar ini bisa kita jalankan. Kita akan berjuang dengan gigih. Saya minta dukungan UNPAD, agar betul-betul WTO bisa terlaksana untuk keadilan dunia dan agar kita bisa membangun lebih baik dengan kemampuan kita sendiri.

Yang ketiga, masalah Economic Integration. Saudara tahu, bahwa karena WTO macet, semua frustasi, termasuk kita juga frustasi, muncul pikiran-pikiran baru, mengapa kita tidak bentuk free trade area di kawasan Asia Pasifik. Saudara-saudara, kita harus jernih melihatnya, sudah ada Bilateral Free Trade Area, dua negara. Sudah ada Regional Free Trade Area, ASEAN. Jangan sampai Free Trade Area Asia Pacific itu hanya untuk mengganti WTO. WTO tidak bisa digantikan, karena itu global. Sedangkan Free Trade Area Asia Pacific itu regional.

Oleh karena itu, posisi Indonesia, kita welcome, we are open untuk mendiskusikan free trade area kawasan, tapi jangan kehilangan semangat, kegigihan untuk melaksanakan WTO. Ada sesuatu yang saya risaukan Saudara-saudara, kalau kita tiba-tiba terima saja, free trade area dalam Asia Pasifik ini, mengingat belum ada kesetaraan. Jadi kalau kita bicara daya saing, competitiveness, kalau kita bicara labour playing field, katakanlah antara Jepang, Amerika, New Zealand, Australia, Hongkong barangkali belum setara dengan yang lain, apalagi negara kita yang masih terus meningkatkan daya saingnya. Tidak bisa istilah one size fits all, tidak bisa. Oleh karena itulah, maksud saya, sambil kita membahas dulu seperti apa kerangka ataupun design dari free trade area Asia Pasifik itu, mari kita tingkatkan betul-betul daya saing kita, semuanya, agar apabila kita masuk dalam proses itu, maka kita akan berhasil menjadi pemenang dan bukan menjadi yang kalah.

Oleh karena itulah, kalau Saudara mendengar sekarang, behind the border issues itu sebaiknya kembali sebelumnya. Kalau kita ada kata-kata behind the borders issues maksudnya kita beresi dulu rumah tangga kita ini, efisiensinya, good governance-nya, hukumnya, iklimnya, semuanya. Sehingga kita siap, mari kita berlaga, mari kita bersaing, yang siap menang, yang tidak siap kalah. Sedangkan APEC sendiri kita tahu memang, spiritnya bukan proteksionisme, Bogor Goal, Tujuan Bogor sudah dirumuskan, dilakukan liberalisasi perdagangan dan investasi untuk negara maju 2010, 3 tahun lagi dan negara berkembang tahun 2020.

Inilah oleh-oleh dari APEC yang saya berharap melalui kajian-kajian, melalui pembekalan kuliah juga bisa diangkat. Dan nanti staf saya bisa memberikan lebih lengkap lagi, agar ada studi di UNPAD yang mungkin betul apa yang kita lakukan dalam memperjuangkan kepentingan nasional kita pada forum Internasional.

Ada pertanyaan, lantas kalau kita ingin ikut saja dalam liberalisasi investasi dan perdagangan, apakah berarti Indonesia masuk dalam perangkat kapitalisme yang fundamental atau neoliberalisme dan Washington Consensus. Jawabannya tentu tidak. Pilihan kita adalah ekonomi terbuka berkeadilan sosial, bukan yang lain. Ada yang menganut kapitalisme secara absolute, ada yang menganut ekonomi pasar sosial, seperti China dan Jerman, ada ekonomi kesejahteraan seperti Swedia. Pilihan kita sesuai dengan nafas dan jiwa Undang-Undang Dasar 1945 adalah ekonomi berkeadilan sosial dalam era globalisasi, tentu ekonomi terbuka open economy with social justice.

Saudara-saudara,
Bagaimana pun pasar yang efisien kita perlukan, bukan pasar yang absolut. Oleh karena itu, kita menolak the market fundamentalism. Peran Pemerintah sangat penting karena pasar tidak bisa mendatangkan equity, pemerataan keadilan, mesti ada intervensi yang proper, yang wajar dari Pemerintah. Inilah pilihan kita, sehingga growth with equity itu betul-betul dapat kita wujudkan. Saya secara pribadi kurang percaya dengan teori trickle down effect, kita tumbuhkan dulu sebanyak-banyaknya, kemudian akan menetes ke bawah membawa kita kesejahteraan, pemerataan dan lain lain. Sejak awal harus kita rawatlah equity dalam meningkatkan pertumbuhan kita. Ini perlu saya sampaikan supaya tetap jernis melihat permasalahan, agar kita tidak terperangkap dalam tingkat yang melelahkan, yang sesungguhnya tidak penting, karena kurang pahamnya tiang-tiang ekonomi apa yang kita pilih Saudara-saudara.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Sekarang saya akan menyampaikan secara singkat, karena saya anggap pengantar saya sudah menjadi bagian utuh dari orasi, maka kita bicara hari ini, bagaimana membangun daya saing bangsa menuju negara maju. Saudara sudah mengetahui dalam rencana pembangunan jangka panjang kita 2005 – 2025 yang telah diundangkan, itu adalah disebut dengan Visi Indonesia 2025. Saya kira kita tahu semuanya, maju, mandiri, adil, dan makmur. Kemudian itu akan kita lihat nanti.

Lantas yang kedua, setelah kita bicara visi, kita perlu bicara jalan yang mesti kita tempuh seperti apa untuk menjadi negara maju itu. Meskipun kita tahu gambaran masa depan kita, our dream, our vision, tetapi kalau kita tidak paham, road to vision itu ya tidak akan sampai. Kemudian baru yang ketiga, saya garis bawahi nanti, apa elemen daya saing yang mesti kita bangun dalam dunia yang makin kompetitif dewasa ini.

Saudara-Saudara,
Misi Indonesia masa depan sudah saya sampaikan tadi, konon kita bersepakat karena sudah menjadi Undang-Undang bahwa Indonesia yang kita tuju, Indonesia tahun 2025 yang kita harapkan adalah Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur. Kemudian ada Yayasan Indonesia Forum yang beberapa bulan yang lalu menyampaikan presentasi kepada saya di Istana Negara, saya hargai kreativitasnya, prakarsanya untuk mencoba mengkonstruksikan negeri kita pada tahun 2030. Itulah yang mereka sebut dengan Indonesia 2030, yaitu Indonesia yang masuk dalam ekonomi besar dunia. Dan banyak lagi proyeksi dan skenario seperti itu. Pertanyaannya adalah apa benar ada proyeksi dan skenario yang mendukung, yang sahih, yang kita boleh optimis, bahwa Indonesia masa depan seperti itu akan dapat kita capai.

Saudara-saudara,
Ada sejumlah proyeksi dan skenario masa depan Indonesia. Sebelum krisis kita pernah kenal dulu, Indonesia telah mulai menjadi New Asian Tiger. Saya kira kita semua pernah dengar dulu. Tiba-tiba nasib malang yang kita hadapi, kita tersangkut dalam krisis, kita merangkak, merayap, alhamdulillah moving sekarang ini menuju kembali kepada kebangkitan kita yang baru. Ada satu studi yang disebut mapping the global future. Ini scientific, empirik oleh mereka-mereka yang ahli yang dikatakan, konon tahun 2025–2030 begitu yang di atas itu, di atas dalam arti yang maju, ada tiga, ada Eropa, ada Amerika ada Jepang. Satu tingkat di bawah itu katanya ada India, ada China. Di bawahnya lagi, ada Brazilia, ada Indonesia, ada Rusia dan ada Afrika Selatan. Itu ramalan yang dituangkan dalam mapping the global future.

Ada lagi yang diterbitkan Price Waterhouse Coopers yang disebut dengan Emerging Market Economies (E-7), yaitu menggambarkan dunia tahun 2050. Indonesia dinyatakan sebagai ekonomi besar nomor 5 nanti, setelah China, India, Rusia, kemudian satu lagi lupa saya. Tapi yang jelas kita nomor lima, nomor 6 itu, Mexico, dan nomor 7, Turki. Ada itu hitung-hitungannya bukan sekedar ramalan-ramalan yang tidak, nggak sahih gitu.

Ada lagi buku yang terbit tahun 2007 judulnya Essential yang bikin UBS, para expert, para ahli dikumpulkan untuk membikin ramalan masa depan. Sampailah pada kesimpulan disebut dengan The Big Economies, 10 besar ekonomi dunia. Ini bukan saya yang meramalkan ini, ini UBS. Tahun 2005, China menjadi yang pertama, Amerika tergeser kedua, Uni Eropa ketiga, keempat India, kelima Jepang, keenam Brazilia, ketujuh Indonesia, begitu katanya, kedelapan Mexico, sembilan Jerman, sepuluh United Kingdom. Itu tahun 2025. Jadi para mahasiswa, Insya Allah nanti ada di situ memimpin, mengganti-ganti kami yang sudah tua. Tahun 2050 berubah lagi, China tetap nomor pertama, Amerika tergeser lagi, India yang kedua, yang ketiga Amerika, yang keempat Uni Eropa, yang kelima Indonesia, yang keenam Brazil, tujuh Pakistan, delapan Mexico, sembilan Jepang, sepuluh Jerman.

Saya mencoba why skenario dan proyeksi seperti itu. Saudara tidak boleh menganggap rendah diri kita sendiri. Saya paling tidak suka, kalau ada bangsa Indonesia suka menjelek-jelekan diri sendiri, menganggap bahwa bangsa yang lain bagus, kita ini bangsa apa, menyalahkan kita sendiri dan seterusnya. Tidak boleh, salah. Kita ini bangsa yang besar, sejarahnya besar, wilayahnya besar, penduduknya besar, potensinya besar, apabila dibangun dengan benar, dengan visi yang tepat, di-design management yang bagus, rakyatnya bersatu, rukun, dan mau bekerja keras akan terukir proyeksi atau skenario seperti ini. Mari kita lihat secara positif, agar Allah SWT memberikan jalan. Karena kita sendiri bisa merubah masa depan kita, not negara lain, negara manapun yang seakan-akan baik dengan kita.

Ada juga skenario pesimis. Ini mendiang Bung Karno dulu dalam pidatonya 17 Agustus 1957, 50 tahun yang lalu, sama diramalkan Indonesia akan jatuh. Indonesia is on ground, Indonesia is an nation in collapse. Lihat dulu 1998, terdengar lagi ramalan-ramalan akan terjadi balkanisasi, Indonesia akan berantakan, Indonesia tidak bisa survive dan lain-lain. Itu tidak terjadi. Pertama, karena Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang kedua, keuletan dan kegigihan bangsa kita. Jadi saya minta, mari kita berjuang untuk membangun negeri kita melalui jalur skenario yang optimis, bukan yang pesimis.

Saudara-saudara,
Saya kira tahu bedanya orang pesimis dan optimis. Ini saya ulangi berkali-kali. Orang yang pesimis melihat sesuatu, segala sesuatu yang dilihat adalah ah ini susah, ah ini berat, ah ini persoalan rumit, itu yang terpikir. Tapi orang optimis di antara persoalan-persoalan itu, kerumitan itu, ada solusinya, ada jalan keluarnya. Saya kira itulah tempat kita. Dan saya mengajak Keluarga Besar UNPAD, seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi orang yang optimis, optimistis, agar diberikan tuntunan untuk mendapatkan jalan keluarnya.

Kalau kita turunkan, down to earth apa yang saya bicarakan tadi, coba kita bayangkan 10 mendatang. Ini tahun kesepuluh sejak krisis, kita melakukan reformasi, pembangunan kembali. Sepuluh tahun mendatang berarti, 20 tahun sejak krisis dulu, mestinya kita juga memiliki harapan seperti apa keadaan negara kita. Kita bekerja keras sekarang ini ke depan, agar 10 tahun mendatang Indonesia memiliki kualitas hidup yang makin baik, harapan kita kemiskinan berkurang tajam.

Yang kedua, pertumbuhan ekonomi lebih sustainable terhadap gejolak-gejolak kita tahan, kita survive. Itu harapan kita. Good governance yang menjadi keperdulian kita, menjadi topik pada Dies Natalis UNPAD ini betul-betul makin terwujud. Rule of law dan ketertiban publik juga hadir dimana-mana. Kebebasan kalau berjalan sendiri, itu suka menimbulkan masalah-masalah besar, apalagi kebebasan digunakan tanpa akhlak, tanpa manfaat. Kebebasan harus disertai dengan rule of law, kepatuhan pada pranata hukum dan bahkan pranata sosial. Demokrasi kita dorong, demokrasi pilihan kita, tapi ingat jangan meninggalkan kerukunan, demokrasi dengan harmoni yang harus kita bangun.

Dan yang terakhir, globalisasi makin keras, makin kejam kadang-kadang tidak adil. Mari kita lakukan sesuatu, agar dalam globalisasi ini kita menang. Kalau kita rinci sedikit Saudara-saudara, 10 tahun ke depan. Saya mengajak dan saya meminta kontribusi pemikiran dari UNPAD, Saudara Rektor mengatakan ada 3 fungsi atau darma perguruan tinggi tadi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Lakukan ini.

Pertama, pengurangan kemiskinan, terutama memberikan, meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan minimal sehari-hari, purchasing power. Saudara tahu, sebelum krisis kemiskinan memang masih besar di negeri kita, pada saat krisis seperti ini, sama dengan meningkatnya pengangguran ,sama dengan meningkatnya hutang luar negeri. Pertumbuhan drop. Oleh karena itulah, terus-menerus kita kurangi, kita kurangi sejalan dengan pertumbuhan dengan pemerataan. Ini PR kita yang pertama.

Yang kedua, penciptaan lapangan kerja, terutama yang masih menganggur agar memiliki penghasilan untuk hidup. Jawaban pengurangan kemiskinan tentu adalah lapangan kerja. Bisa saja bantuan langsung tunai, beras untuk rakyat miskin, asuransi kesehatan untuk rakyat miskin, bantuan pendidikan, bantuan kesehatan, usaha kecil, tetapi akhirnya yang bisa mengurangi kemiskinan adalah lapangan pekerjaan, karena dia punya penghasilan atau punya income.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang ketiga Saudara-saudara. Saya katakan tadi secara berkelanjutan dan berkualitas untuk mendorong perkembangan bangsa secara keseluruhan dengan pilar pertanian, industri dan jasa. Peningkatan ketahanan pangan, saya garis bawahi. Penduduk dunia sekarang 6,3 milyar. Bayangkan beratnya bumi untuk mendukungnya. Indonesia 230 juta, bayangkan kalau kita tidak punya pangan yang cukup. Oleh karena itulah, saya ingin mengajak semua meningkatkan ketahanan pangan, utamanya beras, masih ada lagi jagung, kedelai dan gula. Karena itu berkait erat dengan kebutuhan rakyat kita.

Energi Saudara-saudara, harus makin cukup, luar biasa penggunaan energi. Mari kita lakukan dengan cara, kita harus menjadi bangsa yang hemat, Indonesia masih kita kategorikan bangsa yang boros. Mari kita hemat energi. Mari kita gunakan teknologi untuk membikin hemat transportasi, pabrik-pabrik dari semua yang mengkonsumsi energi. Dan mari kita kembangkan kebijakan yang tepat.

Yang lain adalah peran Pemerintah Daerah, Saudara-saudara. Pemerintah Daerah harapan saya dengan desentralisasi dan ekonomi makin ke depan, makin bertanggung jawab, makin inovatif, ajak perguruan tinggi, ajak dunia usaha, ajak civil society untuk membangun negara bersama-sama.

Kemudian berikutnya lagi good governance, yang kita bicarakan tadi. Dan yang terakhir, lingkungan dalam negeri di seluruh Indonesia harus makin aman, tertib, dan stabil. Tidak ada negara di dunia satupun yang bisa maju, yang bisa membangun yang dalam negerinya rusuh. Kebebasan ada, tapi tidak harus disertakan kerusuhan-kerusuhan. Ini harus kita pahami betul bagaimana kita memaknai demokrasi dan kebebasan.

Hadirin yang saya hormati,
Bagaimana jalan menuju negara maju? Saya ingatkan tidak ada jalan pintas, there is no shortcut untuk menjadi negara yang maju. China maju sekarang ini sejak mendiang Deng Xioping, 1978, 30 tahun, bukan tiba-tiba. Demikian juga Jepang, abad 18 Meiji. Demikian juga Eropa, Amerika dan lain-lain. Proses yang harus kita lewati. Oleh karena itu, solusinya ya mari terus membangun. Saya ingin mengedepankan 5 paradigma dalam membangun bangsa, tolong UNPAD juga melakukan kajian-kajian.

Pembangunan nasional mesti terpadu, berdimensi kewilayahan. Dulu agak sentralistik, sekarang tidak boleh, harus lebih desentralistik dan jangan lupa pelestarian lingkungan hidup. Lingkungan, lingkungan, lingkungan. Kalau pemimpin tidak memperhatikan lingkungan, pemimpin itu adalah pemimpin yang tidak bertanggung jawab, pemimpin yang immoral. Mari setiap mengambil keputusan, perhatikan lingkungan hidup.

Yang kedua, jangan dikotomikan lagi, kita resources based atau knowledge based, dua-duanya kita perlukan. Paduan, mix dari resources based development and knowledge based development. Pertumbuhan bersama pemerataan sudah saya jelaskan tadi. Kemudian mari kita perkokoh ketahanan dan kemandirian bangsa dalam kerjasama internasional yang konstruktif. Tidak ada satupun bangsa di dunia yang mengisolasi diri, tidak mau bergaul dengan negara lain. Tapi ingat, globalisasi itu jahat, ada yang mendominasi, adanya yang ingin dapat untung sebanyak-banyaknya, ingin mengatur berlebihan, tapi ada baiknya, pasar kita, teknologi, manajemen, network, mari kita lakukan membangun daya saing, menyiapkan semuanya agar tidak dijahati orang, tetapi kita tampil untuk kepentingan nasional kita dan kita bisa menang kelak dalam era globalisasi. Inilah paradigma yang saya ingatkan kepada kita semua dalam melaksanakan pembangunan bangsa ke depan.

Yang terakhir, kalau kita bicara daya saing bangsa. Saya kira banyak sekali teori-teori, kajian, rumusan tentang daya saing itu, sebab yang tadi saya angkat ke sini yang sekarang sedang digunakan untuk mengukur daya saing negara-negara di dunia, termasuk peringkatnya. Alhamdulillah, kita pernah tahun 2005 peringkat kita 69, kerja keras kita Saudara-saudara semua turun, turun atau naik nih, 69 menjadi 50 dari atas kan naik. Silakan untuk manusia sendiri, untuk merumuskan naik atau turun itu.

Tapi itulah kebanyakan yang terjadi di negeri kita. Baik. Daya saing bangsa menurut Global Competitiveness Inde-x itu, satu, institutions. Ayo kita lihat institusi kita, pemerintahan, universitas, semua, termasuk social institutions. Infrastucture, habis-habisan kita bangun infrastruktur. Selama krisis terus terang Pemerintah karena uang kita kurang, kita tidak banyak membangun infrastruktur, bahkan yang adapun banyak yang rusak. Ini habis-habisan tahun-tahun sekarang ini kita bangun dan perbaiki.

Makro ekonomi harus bagus. Tidak ada orang yang mau kerjasama ekonomi dengan sebuah negara yang makro ekonominya berantakan, enggak jelas pertumbuhannya, inflasinya merajalela, pengangguran tidak terkontrol, nilai tukarnya tidak stabil, cadangannya pun nggak jelas dan lain lain. Siapa mau bekerja sama.

Kemudian yang keempat health and primary education, ini SD, SMP, SMA kemudian masalah-masalah kesehatan. Market efisiensi jangan lupa. Saudara jangan keliru melihat pasar. Setiap kata pasar dihapus, di-delete, ada computer find, market langsung delete content. Pasar yang efisien itu kita perlukan, negara ekonomi komunis pun dulu punya pasar. Punya toh? Itu sebetulnya itu. Jadi jangan kita salah. Tapi kita menolak fundamentalisme pasar, kita adopsi pasar yang efisien dengan bersama-sama Pemerintah mengatur. Kalau kapitalisme yang absolut, new liberalism, Washington Consensus, pemerintah itu agak dihalang-halangi untuk ikut mengatur dinamika ekonomi sebuah bangsa. Kita mengatakan tidak bisa begitu dan kita bertanggung jawab untuk mengurangi kemiskinan, untuk menciptakan keadilan dan lain-lain. Technological readiness, tantangan kita. Business sophistication dan innovations. Inilah yang diukur dan alhamdulillah kita sudah naik pangkat, tapi belum puas kita harus lebih baik lagi pangkat kita.

Kemudian Saudara-saudara, yang terakhir klop sekali dengan misi UNPAD dan misi setiap lembaga pendidikan di negeri ini, pilar utama daya saing itu adalah human capital dan inovasi teknologi. Dua inilah yang jadi pilar utama. Mengapa 1997 kita jatuh dalam krisis, bangkrut, collapse? Karena dulu perkembangan ekonomi di Indonesia itu lebih banyak ditopang oleh capital lain, financial capital, kejahatan banyak sekali, in flow tiba-tiba bres semuanya out flow dan sebab-sebab lain yang ternyata tidak begitu bertumpu pada sumber daya manusianya, pada human capital-nya. Mari kita belajar dari pengalaman masa lalu, manusianya, manusianya, manusianya.

Kemudian yang kedua, economy creative. Mengapa saya katakan inovasi tadi menjadi sumber ekonomi baru abad ke-21? Saudara-saudara, saya baru berkunjung ke beberapa negara, tahun lalu maksud saya, berbincang-bincang dengan kolega-kolega saya, Perdana Menteri Jepang, Presiden Korea Selatan dan yang lain lain. Ekonomi mereka ini belakangan disumbang oleh ekonomi kreatif. Apa itu misalkan? Film, handphone, televisi, lantas publikasi, design, semua itu, itu namanya ekonomi kreatif. Laku betul, added value-nya tinggi, income-nya besar, growth sumbangan pada product-nya tinggi sekali. Padahal itu sesungguhnya paduan antara kreativitas, seni, art, dan kemudian teknologi.

Ini saya menggaribawahi mari kita tidak ketinggalan. Soal seni Indonesia tidak kalah, makanya ada ekonomi produk budaya luar biasa kita. Ekonomi lingkungan tidak kalah kita, ekonomi kreatif punya akal kita, tinggal inovasi teknologi. Mari kita satukan dan akar-akar kreativitas saya ingatkan kembali kepada para pendidik mari kita lakukan. Saya kadang-kadang belum puas kalau keliling ke Indonesia melihat pendidikan mulai SD, SMP, SMA karena masih belum betul-betul dikembangkan yang disebut intellectual curiousity, rasa ingin tahu. Guru tidak boleh hanya mencekoki saja. Teng masuk kelas, teng keluar kelas, selesai. Harus dibikin suatu iklim, suatu kebiasaan, satu value, satu behaviour. Anak-anak kita ingin serba tahu, akan terus mencari dan mencari, employ.

Kemudian bangun sense of competition untuk mendapat prestasi yang baik fair. Thingking outside the the box. Mari kita cari jalan keluar, jangan regular, jangan konvensional, kalau ini nggak peka yang lain, jangan diulangi lagi dengan cara-cara itu, thingking outside the box. Ayo kita carikan, mesti ketemu dengan research, dengan development, dengan teknologi. Dan akhirnya, saya garis bawahi, saya ajak, mari kita bangkitkan dunia riset dan teknologi di negeri kita, tanpa itu kita akan tertinggal. Kalau tertinggal, tidak akan pernah bisa mengejar. Dunia berlari dengan cepat, negara-negara lain larinya makin kencang. Inilah elemen-elemen daya saing yang harus kita lakukan sedini mungkin.

Saya melihat peran sentral dari Universitas, peran besar dari UNPAD, maka dengan penjelasan saya ini pada hari bersejarah, Dies Natalis ke-50 ini, Saudara-saudara semua teruslah melakukan yang terbaik untuk UNPAD sendiri, untuk Jawa Barat, untuk Indonesia dan bahkan untuk dunia. Itulah pesan dan harapan saya. Dan akhirnya saya ucapkan Dirgahayu Universitas Padjajaran, majulah dan jayalah menjadi Universitas andalan di masa depan.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan