Pidato Presiden
Sambutan Pembukaan Rakernas APPSI
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN RAPAT KERJA NASIONAL ASOSIASI PEMERINTAH PROVINSI SELURUH INDONESIA TAHUN 2008
ISTANA NEGARA, 15 FEBRUARI 2008
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam Sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Dalam Negeri, para Menteri Koordinator dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Pimpinan APPSI, para Gubernur dan para Wakil Gubernur, Anggota Dewan Pakar,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan dan semoga senantiasa kesehatan untuk melanjutkan karya, tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.
Saya juga mengucapkan selamat datang kepada para Peserta Rakernas ke Jakarta, semoga penerbangan Saudara-saudara menyenangkan, mengingat cuaca sedang kurang bersahabat. Bagi Jakarta, bulan Februari ini bulan yang menegangkan, daerah lain mungkin Januari. Tapi Pak Fauzi Bowo hampir pasti berat badannya turun paling tidak 2 kilogram, karena lazimnya banjir Jakarta itu datang sekitar bulan Februari. Masih beberapa hari lagi untuk posko dan bersiaga. Ramalan dari BMG, curah hujan itu masih akan tinggi sampai dengan bulan Maret. Kita berdoa semoga negara kita tidak terus mendapatkan bencana, utamanya bencana yang memang sebagian karena kesalahan kita semua, kesalahan umat manusia. Saya menyambut baik Rakernas yang dilaksanakan oleh APPSI pada tahun 2008 ini.
Saudara-saudara,
Saya ingin menggunakan kesempatan yang baik ini pula untuk mengucapkan terima kasih dan penghargaan saya yang tulus kepada Saudara yang tahun demi tahun telah bekerja sangat keras untuk mengatasi permasalahan yang ada di Provinsi Saudara, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan membangun Provinsi yang Saudara pimpin ke arah yang lebih baik lagi. Kita tahu permasalahan sering kompleks, tidak ringan, kait-mengkait satu sama lain. Tapi percayalah kalau kita gigih, kalau niat kita baik, dan kita mengajak semua untuk memecahkan masalah itu, insya Allah seberat apapun persoalan dan tantangan yang kita hadapi selalu ada jalan ke luar. Saudara-saudara tidak perlu kecil hati. Meskipun sudah bekerja keras, bekerja siang dan malam, selalu ada, mungkin melalui media massa atau melalui forum-forum lain yang kurang puas, yang mengkritik, jadikan itu pemacu bagi upaya kita untuk bekerja lebih baik lagi untuk rakyat kita, untuk bangsa dan negara kita.
Saudara-saudara,
Tadi Gubernur DKI Jakarta selaku Ketua APPSI mengatakan bahwa tema yang Saudara pilih untuk Rakernas tahun ini adalah “Dengan Otonomi Daerah, Kita Tingkatkan Pelayanan Publik dan Kesejahteraan Rakyat”. Saya senang dengan tema ini, karena ya, itulah salah satu tugas utama kita, salah satu prioritas yang harus kita jalankan, meningkatkan pelayanan publik, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat kita.
Sedangkan 3 topik tadi yang diangkat oleh Pak Fauzi Bowo, yaitu perlunya satu revisi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Saya mengerti dan saya setuju untuk sebuah sinkronisasi antara Undang-Undang itu dengan Undang-Undang yang lain, Undang-Undang sektoral, sebab bagaimana mungkin dilaksanakan dengan baik kalau di sana-sini ada hal yang tidak sinkron, ada konflik dan ada sesuatu yang tidak gamblang sekali diaturnya.
Saya juga mengerti pentingnya, saya mohon maaf belum menyebut tadi, Pimpinan Komisi II DPR RI, Pak Mangindaan. Pentingnya peran Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat di daerah. Saudara bisa bayangkan kalau Presiden harus mengendalikan 471 Bupati dan Walikota, that’s impossible dari segi rentang kendali, dari segi spend of control, tidak memungkinkan. Oleh karena itulah, perlu efektivitas peran Gubernur sebagai representasi Pemerintah Pusat yang ada di daerah dalam sistem negara kesatuan yang kita anut. Silakan dirumuskan sebagaimana, seperti apa peran yang tepat itu.
Kemudian yang ketiga, saya senang kalau para Gubernur juga peduli terhadap langkah-langkah nasional untuk menyelamatkan bumi kita, menyelamatkan negeri kita, yaitu kelanjutan dari Konferensi Bali tentang perubahan iklim dan tentang pemanasan global.
Hujan yang turun sangat deras tahun-tahun terakhir ini, banjir terjadi di berbagai negara, topan yang luar biasa melanda China. Topan yang ada atau tornado di Amerika Serikat, kebakaran di Eropa, di Australia cukup memberikan bukti bahwa global warming dan climate change ini telah menimbulkan banyak tragedi di dunia. Mari kita sangat sadar untuk itu dan kita bikin baik negeri kita, dan kemudian dunia kita.
Dua hari yang lalu Sekjen PBB, Ban Ki Moon menelepon saya. Beliau ingin betul Indonesia berperan untuk kelanjutan dari Konferensi Bali menuju Konferensi Warsawa dan Konferensi Kopenhagen, Denmark. Menteri Lingkungan Hidup baru saja juga mengikuti satu konferensi di PBB untuk bagaimana kita menindaklanjuti sukses dari Konferensi Bali. Ini sejarah, momentum yang baik bagi kerjasama global untuk menangani dampak dari climate change. Kemudian, insya Allah, bulan Juli saya juga akan diundang ke Tokyo dalam Pertemuan G Eight, G8 antara lain ingin mendengarkan apa tindak lanjut dari Konferensi Bali dan kerjasama global seperti apa yang mesti kita lakukan.
Perdana Menteri Australia ingin betul kerjasama dengan kita, terutama dalam reforestation, financing, transfer of technology. Oleh karena itu, pas, tepat kalau para Gubernur ajak serta nanti para Bupati dan Walikota untuk bersama-sama menjemput bola. Karena sudah jelas di Bali dirumuskan kewajiban negara maju apa, kewajiban negara berkembang apa. Negara berkembang tidak punya cukup sumber daya dan anggaran untuk membiayai langkah-langkah penyelamatan buminya. Oleh karena itu, perlu ada bantuan berupa transfer of technology, berupa financing dan bantuan-bantuan lain, carbon credit. Oleh karena itu, saya ingin ada satu, apa namanya, sikap yang responsif, yang proaktif dari Saudara-saudara, raih benefit setinggi-tingginya dari kerjasama global ini dalam rangka mengatasi perubahan iklim.
Hadirin yang saya muliakan,
Disamping tema yang sangat penting, topik yang tadi diangkat ada 3, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengajak Saudara memahami perkembangan dunia yang terjadi saat ini dan apa dampaknya bagi kehidupan nasional dan otomatis bagi kehidupan masyarakat di seluruh negeri, masyarakat yang Saudara-saudara pimpin. Ini penting agar kita tidak gamang, tidak shock, tetapi kita cekatan untuk mencari solusi, untuk mengantisipasi dan merumuskan kebijakan serta langkah yang tepat. Pada level Saudara, saya ingin Saudara memahami betul dinamika dan perkembangan yang terjadi di dunia dewasa ini.
Saudara-saudara,
Kalau saya boleh melakukan penyimpulan, apa yang terjadi di dunia sekarang ini, pertama, saya boleh mengatakan bahwa politik dan keamanan dunia masih belum nyaman, masih panas. Kita lihat di Timur Tengah, di Afrika, di Amerika Latin, di Semenanjung Korea dan lain-lain. Yang kedua, ekonomi dunia sedang bergejolak. Gejolak ekonomi tentu berdampak langsung kepada ekonomi kita, karena ekonomi Indonesia sudah terintegrasi dengan ekonomi global itu. Kemudian yang ketiga, perubahan iklim makin kita rasakan dampaknya. Tidak terjadi barangkali 20, 30 tahun yang lalu, mungkin 10 tahun yang lalu, tapi satu dasawarsa terakhir ini, semua negara merasakan bahwa ancaman pemanasan global itu riil, nyata. Ini tentu membawa dampak bagi setiap negara dan tentunya memerlukan respon, kebijakan dan tindakan yang tepat.
Dari 3 kesimpulan besar itu, saya ingin mengedepankan sejumlah isu dari dinamika global itu yang memerlukan sekali lagi perhatian kita yang seksama untuk bersama-sama kita carikan jalan keluar, agar tidak berdampak sangat negatif bagi kehidupan nasional kita.
Yang pertama, sepertinya jauh, tapi dampaknya riil, konflik di Timur Tengah, ketegangan di Amerika Latin misalnya. Kita kenal ada ketegangan segitiga, bukan segitiga, ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran misalnya, ketegangan Amerika Serikat dengan Venezuela misalnya yang dalam dinamikanya kalau isunya mengemuka, maka harga naik, harga minyak langsung naik. Ini memang ada dampak psikologis terhadap itu.
Saya mengamati ketika ketegangan baru muncul antara Presiden Venezuela dengan Presiden Bush misalnya, statement untuk tidak mengalirkan minyak ke Amerika yang selama ini dialirkan oleh perusahaan Amerika yang ada di Venezuela. Saya melihat running text di beberapa TV internasional, harga minyak langsung bergejolak atau melonjak seperti ini. 10 hari yang lalu harganya 88 dolar per barel itu untuk Brent dan Nimax, kalau ICP biasanya 5 dolar lebih rendah. Hanya dalam waktu 10 hari, sekarang, pagi ini saya lihat 95 dolar, naik 7 dolar.
Saya menelpon Menteri Keuangan, “Bu Ani, dengan asumsi APBN kita sekarang ini, dengan lifting minyak sekarang ini, dengan besaran subsidi yang kita tanggung, setiap kenaikan harga minyak 1 dolar, apa konsekuensinya bagi APBN?” Jawabannya adalah setiap kenaikan 1 dolar harga minyak, subsidi BBM naik Rp 3,1 triliun, subsidi listrik naik Rp 660 miliar. Sebutlah Rp 3,7 triliun. Kalau Rp 3,7 triliun per dolarnya, maka dalam waktu 10 hari dengan kenaikan 8 dolar, bisa dihitung 8 kali Rp 3,7 triliun, berapa itu? Besar sekali. Besar.
Oleh karena itu ya, melalui forum ini, kalau ada wartawan asing baik ini, saya menyerulah kepada para pemimpin dunia, sahabat-sahabat saya, Perdana Menteri, Presiden, memang kepentingan nasional di atas segalanya, tapi pedulilah pada nasib-nasib bangsa-bangsa lain karena gejolak ekonomi, karena tingginya harga crude ini, akan menambah kemiskinan di negara-negara berkembang.
Ingat tiap malam ada 800 juta saudara kita di seluruh dunia yang tidurnya kurang nyenyak, di antaranya 200 juta anak-anak karena lapar. Jadi mari para pemimpin dunia bertenggang rasa kepada kondisi, nasib-nasib saudara-saudara kita yang belum beruntung, untuk ikut menghitung dampak dari suatu konflik, dari satu ketegangan dan permusuhan di antara negara-negara. Jadi saya garis bawahi bahwa konflik Timur Tengah ataupun ketegangan semacam yang ada di Amerika Latin itu dampaknya bisa menaikkan harga minyak mentah atau crude.
Yang kedua, isunya adalah gejolak keuangan global dipicu oleh kredit macet perumahan di Amerika Serikat sekarang belum rampung, masih terus mengalir, up and down kita punya pasar modal. Ini pengaruhnya adalah kurs, nilai tukar, keadaan moneter negara-negara, termasuk pasar modal.
Lagi-lagi saya bertanya kepada Menteri Keuangan, “Kalau nilai tukar rupiah anjlok Rp 100 per 1 dolar Amerika Serikat apa dampaknya bagi APBN?” Hari ini kurs kita sekitar Rp 9.200. Andaikata melonjak menjadi Rp 9.300, Rp 100 apa dampaknya? Maka kita akan memberikan subsidi pada minyak Rp 2,5 triliun lagi dan untuk listrik Rp 900 miliar sekian, hampir Rp 1 triliun. Betapa rentannya APBN kita terhadap gejolak moneter juga. Saudara-saudara, ini yang kedua.
Isu yang ketiga, terjadi resesi di Amerika Serikat. Dan tentunya kalau sang adidaya, ekonomi terbesar di dunia sedang flu, kurang sehat dampaknya kemana-mana. Indonesia memiliki pasar yang besar di Amerika Serikat, Amerika Serikat juga sumber investasi bagi Indonesia. Tentunya kita tidak punya luxury, kemewahan, untuk begitu mudah mengekspor barang-barang kita ke Amerika Serikat pada tahun-tahun sulit seperti ini maupun ke negara-negara lain yang juga berdampak. Sedangkan Saudara tahu, sumbangan ekspor terhadap pertumbuhan di negeri kita ini 47%. Saya sudah minta Menteri Perdagangan dengan jajarannya all out. Kalau Amerika sedang paceklik pasarannya, cara pasar yang lain, di China misalkan atau tempat-tempat yang lain, agar selamat kita punya ekspor, agar pertumbuhan tidak menurun.
Yang keempat isunya adalah krisis harga minyak itu sendiri. Dengan bertenggernya harga minyak dunia antara 90 dolar sampai 100 dolar dolar yang dalam sejarah ini pertama kali terjadi, itu memang semua ongkos transportasi komoditas ya ikut naik, apakah lewat laut, lewat udara, lewat darat dan biaya transportasinya menjadi lebih mahal. Ini juga mengakibatkan komoditas yang kita impor itu menjadi lebih tinggi. Ini tentu berpengaruh juga pada APBN 2008.
Mengapa harga minyak masih tinggi? Tentu bukan karena hanya psikologis, karena ketegangan antar negara, karena konflik di Timur Tengah, tetapi memang ada mismatch. Mismatch itu ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran, supply dan demand, begitu ekonomi menjelaskan. Negara China, negara India, termasuk Amerika dan negara mengkonsumsi minyak dalam jumlah yang besar. Sedangkan tambahan produksinya tidak terlalu banyak, maka secara strategis ada mismatch ataupun ketidakseimbangan itu, sehingga dalam waktu dekat, kayak-kayaknya harga minyak tidak akan bisa turun secara signifikan.
Yang kelima, terjadi kenaikan harga pangan global, sudah kita rasakan dampaknya, kedelai, terigu. Di banyak negara, gula, beras dan komoditas lain. Mengapa? Memang sudah diperkirakan bahwa tahun sekarang ini, tahun-tahun dekat mendatang akan terjadi inflasi pada harga pangan dunia. Pasalnya adalah sumber-sumber pangan sebagian dialirkan ke sumber energi, ya karena harga energi tinggi sekali, supaya tidak terlalu tinggi, akibatnya supply pangan berkurang. Kalau supply menurun, permintaan tetap, apalagi bertambah, tentu harganya akan naik. Inilah yang kita rasakan sekarang, seperti yang kita impor kedelai dan terigu utamanya.
Kemudian isu yang keenam adalah perubahan iklim itu sendiri, dan sudah kita rasakan. Inilah 6 isu utama global sebagai penjabaran dari 3 penyimpulan saya tadi yang sudah kita rasakan dampaknya di negeri kita. Pesan saya tidak usah gamang, tidak usah panik, mari kita kelola dengan baik, kita carikan jalan keluarnya dengan kebijakan dan langkah-langkah kita yang tepat di seluruh tanah air.
Saudara-saudara,
Terhadap apa yang terjadi di negeri ini sebagai bagian dari apa yang terjadi di dunia, saya ingin menyampaikan kebijakan dan langkah tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat dan akan kita jalankan secara bersama, terutama menyangkut 3 hal. Ini yang immediate, ini yang berjangka pendek, yaitu stabilisasi harga pangan, pertama. Yang kedua adalah penyelamatan APBN, supaya tidak ambruk. Yang ketiga adalah langkah-langkah khusus yang berkaitan dengan situasi moneter dan ekspor kita. Tiga hal itulah yang mesti kita jalankan secara bersama untuk merespon isu-isu global yang saya sampaikan tadi.
Saudara-saudara,
Menyangkut stabilisasi harga pangan, tujuan kita adalah agar harga itu, yang naiknya luar biasa, bisa kita turunkan pada level tertentu, kemudian kita stabilkan, begitu tujuannya. Caranya adalah dengan melakukan langkah-langkah jangka pendek, seperti kebijakan fiskal, bea masuk dibebaskan atau dikurangi sangat banyak, pajak untuk impor misalkan PPh, PPn dibebaskan atau dikurangi sangat banyak, kemudian tata niaga kita perbaiki, jalur-jalur hijau kita buka, termasuk kita memberikan dari fiskal kita insentif, agar harga-harga itu betul-betul, setelah kita bebaskan bea masuknya, kita bebaskan pajaknya, lebih turun lagi. Itu yang kita lakukan. Dan ditambah dengan membantu langsung rakyat kecil, rakyat yang miskin, setengah miskin agar terbebas dari beban yang sangat berat.
Kebijakan itu diharapkan akan menstabilkan harga besar dan gula, ada angka-angkanya, itu bisa dijelaskan oleh Menteri teknis. Kemudian juga, kita bisa menurunkan dan menstabilkan nanti harga kedelai dan terigu, termasuk harga minyak goreng. Minyak goreng ini justru kita yang ekspor, kita tidak impor. Indonesia dan China adalah eksportir terbesar CPO, produsen minyak goreng terbesar dari sawit. Karena harganya di luar menggiurkan, ya tentunya orang mau jual di luar, lho yang kita dikasih pajak ekspor, tapi dengan membantu PPn-nya. Dengan demikian, persediaan dalam negeri diharapkan cukup, itupun kita bantu lagi untuk lebih menurunkan, kita jalankan.
Ditambah mulai bulan ini akan kita naikkan Raskin yang tadinya 10 kilogram per kepala keluarga akan menjadi 15 kilogram per kepala keluarga. Harapan saya dengan instrumen ini, dengan policy ini, kita bisa betul-betul mengurangi beban saudara-saudara kita, terutama golongan miskin dan setengah miskin. Paket kebijakan saya kira nanti bisa dijelaskan atau dibagikan kepada para Gubernur dan Keluarga Besar APPSI.
Yang kedua, penyelamatan APBN. Saudara-saudara, kalau tidak kita selamatkan ya bisa collapse. Kalau tidak ada langkah apapun, do nothing policy, kita punya subsidi bisa naik Rp 250 triliun. Bayangkan Rp 250 triliun kita gunakan untuk subsidi, utamanya BBM dan listrik akan sangat mengurangi biaya pendidikan, biaya kesehatan, biaya yang lain-lain. Oleh karena itu, we have to do something, tentunya optimasi, penghematan, baik APBN maupun APBD. Kemudian saudara-saudara kita yang kaya, yang memiliki kemampuan, ya jangan berharap terus disubsidi. Subsidi layak dan harus kita berikan pada saudara kita yang lemah ekonominya. Ini salah satu cara yang akan kita laksanakan, meningkatkan produksi, optimasi, menunda pengeluaran yang belum perlu atau bisa ditunda dan lain-lain.
Baru saja Pemerintah dengan DPR RI melakukan pembahasan tentang APBNP 2008 dan sementara asumsi yang kita bangun, growth yang semula kita targetkan 6,8% tidak mungkin Saudara-saudara, semua negara di dunia menurunkan cap, apa namanya, sasaran pertumbuhan. Kita harapkan tumbuh 6,4%. Kemudian inflasi kita asumsikan 6,5%. Nilai tukar Rp 9.150 per 1 dolar Amerika Serikat. Harga minyak mentah, ICP kita, kita asumsikan 83 dolar per barel, kemudian SBI 7,5%, lantas lifting itu kita targetkan 910.000 barel per hari, harapan kita 1 juta, tapi terjadi ada declining karena sumur-sumur tua. Kita akan pacu tahun-tahun mendatang lebih tinggi lagi.
Defisit, ya memang agak naik tahun ini. Defisit barangkali akan berada pada kisaran 2%. Mengapa kisaran 2%? Penerimaan negara tahun ini, kita perkirakan akan berjumlah Rp 839 triliun. Pengeluaran kita, sudah dengan penghematan, itu Rp 926 triliun rupiah. Berarti ada selisih, ada kekurangan Rp 87 triliun, itulah yang setara dengan 2%. Tantangannya luar biasa, tapi enggak usah kecil hati, percayalah selalu ada jalan. Namun saya minta semua mengerti permasalahannya ini. Jadi kalau ada penghematan, ada penyusutan, mengerti. Semata-mata menyelamatkan ekonomi nasional kita, menyelamatkan APBN kita dan tentunya APBD Saudara-saudara. Jelaskan kepada saudara yang lain duduk persoalnya, bukan kita sekedar mengubah-ubah APBN, menunda-nunda pembangunan, belanja misalkan belanja barang atau pengeluaran yang menurut saya masih bisa kita tunda.
Saya juga memberi contoh, karena APBN kita yang masih terus berjuang untuk lebih bagus. Meskipun sudah dalam anggaran di wilayah Rumah Tangga Presiden, tapi kalau itu masih bisa ditunda rasanya, kita kembalikan dulu. Tahun ini Rp 78 miliar kita kembalikan untuk digunakan yang lain, karena saya menyadari tahun sebelumnya Rp 60 miliar, masih bisa kita gunakan. Saya ingin mengajak yang lain juga demikian, yang masih kita tunda, kita tundalah untuk rakyat kita, untuk membantu mereka yang lebih memerlukan dibandingkan kepentingan yang lain.
Kemudian kebijakan moneter, ya kita ingin betul-betul menyerasikan kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal, kurs menjadi sangat penting. Saudara tahu naik Rp 100 saja dampaknya tadi. Jadi, tapi kita tidak bisa mematok kurs karena bukan itu pilihan kita, bukan apa namanya itu di-fix as a rate bukan itu mahzab yang kita anut, tapi mesti kita lakukan langkah-langkah supaya tidak gonjang-gonjing.
Ekspor, Saudara tahu sendiri, dan kurs berkaitan dengan ekspor, berkaitan dengan impor. Ini seninya, nilainya sedemikian rupa, APBNP mengatakan Rp 9.150, angka itu harapannya tentu baik untuk ekspor, baik untuk impor. Tetapi dinamika pasar global tidak semuanya bisa kita kontrol, kita hanya melakukan satu adjustment, policy response yang pas supaya itu bisa kita kelola dalam tanda kutip sesuai dengan sasaran yang ingin kita tuju.
Saudara-saudara,
Saya setelah menjelaskan semuanya tadi, global, nasional, policy yang kita tempuh hari ini, yang sekarang ini, termasuk langkah tindakan kita, saya ingin menyampaikan beberapa harapan kepada APPSI dan directions kepada para Gubernur dan para Wakil Gubernur.
Yang pertama, teruslah melakukan pengelolaan pembangunan di daerah Saudara, kelola sebaik-baiknya. Menyadari dinamika dan perkembangan global, lakukan langkah-langkah yang antisipatif dan proaktif agar perekonomian di daerah Saudara selamat dan terus menuju ke arah pertumbuhan dan perkembangan yang baik.
Yang kedua, saya berharap Saudara berperan secara efektif dalam rangka stabilisasi harga pangan. Konstituen Saudara, rakyat yang memilih Saudara menjadi Gubernur, menjadi Wakil Gubernur akan bertanya, kalau Provinsi yang lain harganya terkelola dengan baik, terus di Provinsi Saudara, harganya terus melonjak, tentu mereka akan bertanya mengapa di Provinsi lain bisa kok di sini tidak, harus bisa dijelaskan dengan gamblang. Oleh karena itu, mari kita sukseskan program stabilisasi harga pangan pokok ini.
Yang ketiga, lakukan optimasi dan efisiensi APBD, sebagaimana kami melakukan optimasi dan efisiensi APBN.
Yang keempat, berikan atensi dan jadikan prioritas untuk membantu rakyat miskin dan setengah miskin, utamanya sekarang ini yang berkaitan dengan terjadi kenaikan harga-harga pangan.
Yang kelima, saya titip karena Depdiknas yang kemarin sudah dilaporkan kepada saya, Saudara juga hadir, akan segera menjalankan Program Buku Murah, sukseskan, sinergilah dengan upaya Depdiknas. Karena kalau upaya para orang tua membeli buku dengan harga yang murah, tentu dengan kualitas yang baik, sudah sangat-sangat menolong mereka.
Kemudian yang terakhir, ini sesuai dengan tema Rakernas ini menyangkut pelayanan publik. Saya senang ya, pelayanan publik ini berkorelasi, berkaitan dengan yang selama ini saya sampaikan, Saudara mungkin sampai bosan mendengar dari saya, tapi saya tidak akan bosan, karena yang saya sampaikan ini betul-betul untuk rakyat. Saudara tentu bekerja siang, malam juga untuk rakyat.
Sejak kita bersama-sama tahun 2004 yang lalu, saya titip 7 hal. Jadi kalau saya mengukur kemajuan Provinsi, Kabupaten, Kota, yang paling cepat saya ukur dari 7 hal. Yang pertama, sejauh mana kemiskinan terus berkurang. Yang kedua, sejauh mana pengangguran terus berkurang. Yang ketiga, sejauh mana pendidikan terus meningkat. Yang keempat, sejauh mana kesehatan terus meningkat. Yang kelima, sejauh mana infrastruktur dasar, basic infrastructure di daerah Saudara terus meningkat. Yang keenam, sejauh mana good governance dan langkah-langkah efisiensi dan termasuk pencegahan korupsi terus bertambah baik. Dan yang terakhir, pelayanan publik itu sendiri. Ingat itu.
Kemudian ketika Musrenbang tahun 2007 atau 2006 ya, lupa saya di Bidakara, Saudara-saudara hadir waktu itu. Kalau saya ingin dilapori oleh Saudara tentang perkembangan ekonomi 4 saja. Saya ingin tahu, pertama, pertumbuhan, growth berapa. Yang kedua, inflasi. Meskipun growth-nya tinggi kalau inflasinya terlalu tinggi ya rusak. Saya melihat di televisi, Zimbabwe itu inflasinya sekarang kalau enggak salah 66.000% itu. Bisa bayangkan itu, di Zimbabwe itu. Pertama kali puluhan, ratusan, ribuan, sekarang puluhan ribu. Saya setengah tidak percaya. Ingat APBNP ingin 6,5%, mari kita pertahankan 6,5% untuk harga-harga tidak terus melonjak.
Yang ketiga, ukurannya adalah lapangan kerja, atau pengangguran berkurang. Yang keempat, baru kemiskinan tadi itu yang menjadi pokok, 4 saja. Jadi 7 plus 4. Saya tidak ingin tanya lebih jauh lagi, tapi cukup Saudara menulis dalam satu kertas kalau saya berkunjung ke daerah yang 7 hal tadi, plus yang 4 tadi. Gongnya pelayanannya publik.
Pelayanan publik ini, Saudara-saudara, saya pingin betul, kita semua, termasuk saya, termasuk para Menteri, Saudara-saudara meningkatkan pelayanan publik. Rakyat yang harus kita layani. Dunia usaha yang ingin bikin usaha di tempat Saudara, yang bikin ekonomi tumbuh, bikin lapangan pekerjaan harus dilayani juga. Itu panglima. Rakyat panglima, orang yang ingin berusaha membangun ekonomi di tempat Saudara juga panglima, jangan dibalik. Pelayanan itu singkatnya, ya harus baik, harus cepat, harus mudah, harus murah, apa saja, ngurus KTP, ngurus ijin, ijin berusaha. Pokoknya baik, cepat, mudah, murah. Ya kalau Saudara judulnya meningkatkan pelayanan atau pelayanan publik ya better, faster, easier, cheaper, ngukurnya begitu.
Sekarang sudah ada, apa namanya yang satu pintu itu apa namanya itu? One Stop Service ya, proses perijinan satu pintu. Di ruangan ini sudah saya berikan penghargaan kemarin, kalau enggak salah Bupati Sidoarjo, Bupati Sragen dan Bupati Pare-Pare kalau tidak salah. Jadi mari berlomba-lomba dan intinya di Kabupaten dan Kota. Kalau para Bupati, Walikota berpikirnya begitu, wah sudah tumbuh ekonomi. Ekonomi tumbuh, mesti kesejahteraan rakyat tumbuh dengan baik.
Dan mengapa pelayanan publik ini penting Saudara? Begini. Resep kita untuk mengurangi kemiskinan ini apa? Resepnya adalah sebetulnya orang itu punya pendapatan yang cukup, income yang cukup. Agar punya income, apalagi cukup, dia harus bekerja. Jadi pertama-tama, mari kita perangi pengangguran, kasih lapangan pekerjaan, setelah itu punya income. Bagi yang income-nya tinggi, gajinya tinggi, bagus. Bagi yang gajinya kecil atau kurang, ada cara lain untuk membantu mereka. Caranya adalah mengurangi pengeluaran dari income yang kecil itu, makanya kesehatan murah, seperti Askeskin, pendidikan murah, seperti BOS dan Buku Murah nanti, Raskin yang sangat murah itu dan lain-lain. Itu kalau rumah tangga menikmati, apalagi yang miskin, setengah miskin, maka pengeluarannya berkurang, itu sudah membantu. Apalagi dalam pengurusan macam-macam, KTP, surat ijin, yang lain-lain, Saudara permudah, Saudara permurah, Saudara percepat, Saudara perbaiki, maka uang yang pas-pasan itu lebih selamat lagi. Ini pentingnya pelayanan publik.
Jadi pertama, mari kita ciptakan lapangan pekerjaan. Yang kedua, kita bantu untuk tidak mengeluarkan dari penghasilannya yang bisa kita bantu. Yang ketiga, mari kita berikan pelayanan publik.
Itulah yang ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini. Saya dukung tema ini, saya dukung topik itu, bicarakan dengan baik dan insya Allah hasilnya akan baik.
Saudara-saudara,
Dengan harapan, pesan dan ajakan itu, seraya memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim”, Rapat Kerja Nasional Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia Tahun 2008 dengan resmi saya nyatakan dibuka.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



