Pidato Presiden
Sambutan Jamuan Makan Siang dengan Tokoh Perbankan Nasional
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
JAMUAN MAKAN SIANG DENGAN TOKOH PERBANKAN NASIONAL
ISTANA MERDEKA, 4 APRIL 2008
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati, para Menteri Koordinator, para Menteri Kabinet Indonesia bersatu, Saudara Gubernur Bank Indonesia, para Pimpinan Bank dan Asosiasi Perbankan yang saya cintai,
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Marilah pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita semua atas rahmat dan ridho-Nya masih diberi kesempatan, kekuatan, dan Insya Allah kesehatan untuk melanjutkan karya kita, tugas kita, dan pengabdian kita, kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Saudara-saudara, yang meskipun undangannya barangkali baru dilayangkan kemarin dapat hadir di tempat ini untuk bersama-sama saya dan para Menteri melaksanakan silaturahim, sekaligus bertukar pikiran tentang upaya kita semua untuk terus melanjutkan pembangunan bangsa, utamanya pembangunan di bidang ekonomi dan dunia usaha.
Saya juga ingin menggunakan kesempatan yang baik ini untuk mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Saudara semua yang 10 tahun terakhir ini, barangkali meskipun mengalami masa pasang surut, suka duka, seiring dengan perjalanan bangsa, Saudara tetap bertahan, ulet, dan gigih, untuk mengatasi berbagai persoalan yang kita hadapi.
Alhamdulillah meskipun situasi sering tidak mudah, baik yang bersifat global, yang kemudian juga mengalir ke dalam negeri, maupun persoalan di dalam negeri sendiri sebagai akibat dari ekor krisis yang kita alami di waktu yang lalu, tetapi patut kita syukuri, kita terus melangkah ke depan mencapai berbagai sasaran yang hendak kita capai untuk memulihkan kembali ekonomi dan dunia usaha, yang akhirnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, meskipun kita tahu masih banyak tugas membentang di depan kita, masih banyak sasaran dan pekerjaan rumah yang harus bersama-sama kita lakukan.
Dunia perbankan salah satu sektor yang terpukul berat pada krisis 10 tahun yang lalu. Saudara, kita semua melaksanakan berbagai upaya, restructuring, reform, innovation, berbagai cara kita lakukan agar perbankan itu sendiri semakin sehat secara kelembagaan, semakin kompetitif, dan lebih dari itu sesungguhnya negara, Pemerintah, rakyat agar perbankan berkontribusi bagi penggerakan sektor riil, bagi penggerakan dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi kita.
Siang ini sebelum kita santap siang bersama dan sebagian dari kita tadi telah shalat Jumat bersama saya di Masjid Baiturrahim, saya ingin menyampaikan secara singkat perkembangan situasi yang kita hadapi, kebijakan dan langkah yang dilaksanakan oleh Pemerintah, termasuk sinkronisasi, harmoni dan sinergi antara otoritas moneter dan otoritas fiskal, dengan demikian harapan kita persoalan pelik yang dihadapi oleh kita dan juga oleh dunia, dapat kita kelola bersama-sama, untuk sekali lagi memastikan bahwa keberlanjutan dari pemulihan dan pembangunan ekonomi kembali tetap dapat dapat kita laksanakan, sambil menolong rakyat kita, saudara-saudara kita yang tergolong kelompok rentan dapat kita lindungi, kita bantu dan kita selamatkan.
Ada pepatah mengatakan in crutial things unity, dalam menghadapi tantangan, apalagi tantangan yang berat, kita harus bersatu, bukan sebaliknya. Kalau saya lanjutkan in crutial things unity, in important things diversity, in all thing generacity. Generacity saya artikan sebagai willingness to share, willingness to help, to gain, to contribute, to work together untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh bangsa kita.
Tadi malam dalam sebuah acara di Jakarta, di depan Musyarawah Besar Ke-2 Kosgoro 1957, saya ingatkan kepada yang hadir dan sesungguhnya kepada seluruh rakyat Indonesia, kita harus meninggalkan situasi batin yang tidak baik, kegelapan jiwa. Jiwa yang gelap itu cenderung menggerutu, mengeluh, putus asa, pesimis, menghujat, menyalahkan dan lain-lain. Dengan jiwa yang gelap, kita tidak bergerak kemana-mana, kita akan menjadi bangsa yang merugi, tertinggal, dan tidak pernah akan maju. Harus ada satu perubahan dalam jiwa kita, evolusi jiwa menuju jiwa yang terang, optimis, tahu ada masalah, tetapi setiap masalah pasti ada solusinya, dengan kebersamaan dan kerja keras pasti bisa kita atasi. Dan jiwa yang terang adalah solusi, jiwa yang terang adalah jalan untuk menuju ke keberhasilan. Saya juga mengatakan tadi malam, terlalu banyak energi kita yang terkuras untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Energi ini harus kita satukan, energi yang kita perkuat energi positif, bukan energi negatif, pikiran yang positif, bukan pikiran yang negatif dan pesimis, dan sejenisnya.
Saudara mendapatkan peluang sejarah, mengelola perbankan di negeri ini bersama-sama kita semua, mari kita pastikan jiwa kita adalah jiwa yang terang, energi dan pikiran kita adalah energi dan pikiran yang positif dan bukan sebaliknya. Dengan pengantar itu, saya ingin masuk sedikit apa yang kita hadapi dewasa ini.
Saudara mengikuti global economic environtment, ya dipicu oleh sky rocketing of crude price, dipicu oleh inflation pada tingkat pangan dunia, dipicu oleh gejolak keuangan global yang belum rampung, kita tidak tahu seberapa dalam seberapa besar, dan siapa yang menjadi korban dari turbulence keuangan global sekarang ini. Tapi yang jelas dampak itu dialami oleh semua bangsa, oleh semua negara.
Beberapa saat yang lalu saya berkunjung ke Timur Tengah, ke Afrika, dan saya bertemu dengan banyak sekali Pemimpin Dunia, Presiden, Perdana Menteri, Raja, Putera Mahkota. Dan topik kita sama, kita cemas, kalau masyarakat dunia terlambat menyadari, terlambat untuk bersatu mengelola permasalahan pangan dan energi ini, karena bisa mengganggu. Pertama, capaian Millenium Development Goals, bisa mengganggu upaya bangsa untuk lebih mengatasi persoalan domestiknya, dan sejumlah persoalan yang directly or indirectly itu threathening world security. Karena dalam definisinya yang baru, yang disebut dengan non traditional security threat itu termasuk object poverty, kemiskinan yang absolute, itu juga bisa mengganggu keamanan, ketertiban, baik pada tingkat lokal, tingkat nasional, maupun tingkat global.
Oleh karena itu, jawabannya adalah global commitment, global partnership, and global action. Saudara tahu tahun-tahun terakhir kita sangat bersemangat untuk bersatu mengelola yang disebut dengan climate change. Belum lama di Bali, akhir tahun ini di Warsawa, tahun depan di Kopenhagen. That’s fine, karena dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global memang bikin malapetaka di seantero bumi. Tetapi food security, energy security, juga masalah yang crutial, yang harus kita pecahkan. Saya sudah menulis surat kepada Sekjen PBB, dan hari ini saya juga menulis surat kepada Presiden World Bank untuk appeal lembaga-lembaga itu to do something yang bisa kita lakukan.
Saudara tahu kalau energi, ya meskipun banyak faktor, tapi selalu ada mismatch dari segi supply and demand, ada geopolitical factor, ada fear factor, ada spekulasi, tapi bagaimana pun ada mismatch di situ. Pangan juga demikian, meskipun ada banyak yang bisa kita jelaskan, tapi akhirnya juga ada ketidakseimbangan antara supply dengan demand. Oleh karena itu, global solution must be untuk energi itu ya more production, diversification, dan kemudian efisiensi, efisiensi total. Pangan rasanya sulit untuk mengatakan efisiensi, karena penduduk dunia sekarang 6,3 milyar dan akan tambah terus, maka global and fundamental solution for food security, for food sustainability, tiada lain adalah more production, more productivity, better distribution of food. Kalau kita ingat itu akhirnya ada yang perlu kita berikan kepada semua bangsa, semua negara, yaitu technology, technological innovation, resources capital, dan sebagainya. Itu adalah skema besar pada tingkat global yang mesti dilakukan sekarang ini, saya mengatakan it is beyond trade, meskipun we are hoping WTO to help development agenda, juga bisa bergulir dengan baik. Tetapi beyond trade menurut saya ini sudah so fundamental, agar bisa kita atasi bersama-sama.
Saudara-saudara,
Sebetulnya yang saya katakan kalau itu crisis, bahasa bisnisnya adalah opportunity. Saya sudah sampaikan ke Kadin, sudah sampaikan ke Apindo, dan yang lain-lain, ubahlah dari crisis menjadi opportunity, tentu dengan pikiran-pikiran yang inovatif, keberanian untuk memulai cabang bisnis baru dan lain-lain.
Saudara-saudara,
Dari gambar makro ini, mari kita potret keadaan dalam negeri sendiri. Sebenarnya minus tantangan yang luar biasa, the serious of disasters, dari tsunami ke tsunami, dari gempa ke gempa yang tentu menguras energi kita, menguras resources kita, mengalihkan APBN kita, rekonstruksi, rehabilitasi yang itu juga berpengaruh kepada spending. Dan minus adanya harga minyak yang begini tinggi, masuk inflasi pangan. Tahun-tahun terakhir ini ada perbaikan dari ekonomi makro, mulai bangkit sektor riil dan aspek-aspek yang lain, its climate getting better and better. Tetapi sekarang ini belum cukup untuk dikatakan aman, unless kita jaga bersama-sama, kita pelihara bersama-sama, dan kita tingkatkan bersama-sama.
Ekonomi akan bergerak, apabila ada demand, ada consumption, baik good maupun services. Untuk memenuhi permintaan itulah ada production, ada supply. Pertautan antara supply, demand, production, consumption, ada usaha ekonomi. Usaha ekonomi apapun di negeri ini, agriculture, industry, services memerlukan darah segar, memerlukan capital, memerlukan jasa, memerlukan intermediary process, dan lain-lain, and that’s is perbankan, dunia bank. Oleh karena itu, semua akan menjalankan bisnisnya, jika proses itu terlindungi, survive dan sustainable.
Oleh karena itu, kalau saya mengangkat masalah ini, hari ini, semata-mata saya ingin mengajak Saudara melakukan pencerahan, inlightment, bahwa kesejahteraan rakyat hanya bisa dibangun dengan ekonomi yang adil, yang kita semua menjadi pelaku ekonomi di situ, dengan harapan kalau ada masalah mari kita kelola bersama-sama, berat sama dipikul ringan sama dijinjing.
Dalam kaitan ini, saya ingin agar komunikasi kita, komunikasi Pimpinan Perbankan dengan Pemerintah, Menteri Keuangan dan Menteri-menteri terkait, komunikasi Saudara dengan Gubernur Bank Indonesia, komunikasi Gubernur Bank Indonesia dengan Pemerintah, dan interaksi yang lain itu berjalan dengan baik. Jangan jalan sendiri-sendiri, jangan masing-masing dalam tanda kutip, sehingga kalau ada apa-apa bisa kita carikan solusinya. Fear factor itu biasanya tinggi menimbulkan respon yang tidak tepat, dan akhirnya justru creating new problem, unnecessary ones, yang itu bisa kita cegah kalau kita bisa melakukan komunikasi yang bagus.
Harapan saya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, mari kita perdekat komunikasi kita, dengan demikian kita tetap tenang dan mengatasi persoalan apapun bisa kita laksanakan dengan baik. Saya mengatakan demikian, meskipun kita masih bisa mengelola semua persoalan, tapi karena situasi di tingkat global ini belum rampung, belum berakhir, banyak prediksi, banyak yang saya baca yang kita mesti tidak boleh underestimate, tidak boleh tidak mengantisipasi, tidak boleh mengembangkan measure a policy, action yang tepat, termasuk kontigensi yang mesti kita siapkan apabila perkembangan global berjalan sedemikian rupa, beyond our consumption yang sama-sama kita bangun.
Dari situ semua, maka kontribusi yang saya harapkan dari dunia perbankan, ya tentu menjadi kewajiban Saudara untuk makin memperkuat kelembagaan Saudara sendiri sesuai dengan arsitektur perbankan yang dikembangkan dan tujuan dari restructuring reforms, transformation innovation apapun namanya. Yang kedua, juga peran dan fungsi perbankan untuk menggerakkan ekonomi kita, sektor riil, dengan pemberian pinjaman-pinjaman yang tepat, tapi juga riil dan nyata, sehingga sektor riil bisa bergerak dengan baik.
Titipan saya adalah sebagaimana yang sedang kami kerjakan hampir tiap hari, bulan-bulan terakhir ini, bagaimana melindungi dan membantu yang lemah, to protect the weak. Adalah menjadi tanggung jawab moral kita untuk membantu rakyat manakala ada tekanan yang di luar kemampuannya. Pemerintah akan melakukan apa yang bisa dilakuklan dengan kemampuan fiskal yang ada, bantuan sosial, bantuan langsung kepada rumah tangga, kemudian bantuan-bantuan pada local communities yang juga menggunakan dana yang tidak ringan. In powering local communities juga kita lakukan, sambil berharap ibarat kalau Pemerintah mengasih ikan pada mereka yang sungguh memerlukan ikan, diperlukan juga kail, agar mereka dari hari ke hari akhirnya bisa mendapatkan sumber pangannya, dalam tanda kutip, maka aliran kredit untuk usaha mikro, usaha kecil itu juga diperlukan.
Saya tidak akan menyampaikan direction apapun, hanya appeal saya kepada Saudara-saudara agar dipikirkan juga porsi yang tepat untuk memodali usaha-usaha mikro, usaha-usaha kecil, agar mereka bisa bergerak. Dengan demikian, in the long run tentu subsidi hanya kita berikan kepada yang sangat memerlukan, itupun harus well targeted, selebihnya terjadi empowerment, self generating local economy, yang akhirnya membuat income mereka makin bagus. Kalau more income tentu less poor mereka karena bisa mencukupi kebutuhannya. Dari situ Saudara-saudara, maka semua kita lakukan. Masyarakat yang resah, itu menimbulkan dampak sosial. Gangguan pada tertib sosial bisa mengganggu keseluruhan iklim domestik, iklim dalam negeri untuk mengemban tugas kita bersama, termasuk pembangunan ekonomi dan pengembangan dunia usaha, ada pertautan satu sama lain.
Saudara-saudara,
Yang terakhir, kita juga melakukan upaya bersama DPR RI untuk memastikan APBN sekarang ini tetap kredibel dan sustainable. Memang tidak ada satu pun negara di dunia sekarang ini, karena saya rajin membaca policy negara-negara sahabat, seperti apa Malaysia, Thailand, Filipina, China, India, termasuk negara-negara yang lain, mostly the developing countries dalam merespon perkembangan energi dan pangan ini. Dan kesimpulan saya memang tidak terlalu ideal yang dilaksanakan oleh hampir semua negara, tetapi harus diambil langkah-langkah untuk itu. Oleh karena itu, percayakan pada Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat untuk mengelola APBN ini. Kemudian juga percayalah bahwa dari otoritas moneter dengan otoritas fiskal juga terus mengelola permasalahan ini sebaik-baiknya, sehingga harapan saya, market memahami betul, publik memahami betul, media massa memahami betul, sehingga kita menjadi rasional, menjadi jernih, tidak perlu ada sebab ataupun justru malah mengganggu upaya yang kita lakukan ini.
Insya Allah apa yang kita lakukan, addressing langsung dari persoalan-persoalan yang kita hadapi, dan harus begitu. Dan oleh karena itu, saya minta kebersamaan, kemitraan dengan Saudara-saudara semua untuk menjalankan misi bersama kita ini. Memang harus ada koreksi, kita ingin sebetulnya setelah sebelum krisis dulu ekonomi kita tumbuh rata-rata 7%, kena krisis minus 13%, berjuang kita, merangkak pelan-pelan. Sesungguhnya tahun lalu sudah mencapai 6,3%, kita ingin tahun ini higher than that, tahun 2009 lebih tinggi lagi, tapi kita koreksi secara rasional. Tetapi tetaplah harapan kita pertumbuhan kita positif dan baik, dan tentu juga achievement yang lain, macro economic stability harapan kita juga bagus.
Saya ingin Pak Burhanuddin, saya tidak tahu barangkali nanti Pak Boediono yang akan melanjutkan kalau Dewan bersetuju, not only bagaimana, supaya ada stabilitas moneter yang pasti, baik, sehat, apakah itu menyangkut nilai tukar, entah menyangkut inflasi, suku bunga, dan sejumlah policy, item yang penting. Tetapi kita juga kita harapkan supervisi terhadap apa yang dilakukan dunia perbankan bisa dilaksanakan dengan baik, dengan best practices, yang dijalankan insya Allah akan terus kita pelihara. Pergerakan sektor riil yang sudah mulai menguat, termasuk kebangkitan atau perbaikan makro ekonomi kita yang makin bagus.
Saya kira itu pesan dan harapan saya kepada Saudara-saudara. Dan saya persilakan sekarang Saudara Gubernur Bank Indonesia untuk barangkali ada yang ingin disampaikan kepada saya, kepada dunia perbankan, supaya nanti makan siang kita enak, berpikir dulu. Dan kemudian nanti, sedikit juga saya minta dari Menteri, Pak Boediono juga bisa menyampaikan secara singkat, judulnya tiada lain partnership. Dengan partnership, insya Allah masalah kita atasi dan kita terus maju ke depan.
Demikian. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



