Pidato Presiden
Dialog dengan Tokoh Perbankan Nasional
TRANSKRIPSI
DIALOG PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN PARA TOKOH PERBANKAN NASIONAL
PADA ACARA
JAMUAN MAKAN SIANG DENGAN TOKOH PERBANKAN NASIONAL
ISTANA MERDEKA, 4 APRIL 2008
Burhanudin Abdullah, Gubernur Bank Indonesia
Bapak Presiden yang saya hormati, Bapak-bapak Menko, Bapak,Ibu Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, assalamu’alaikum warahmatullahi wabaratuh, rekan-rekan para Pimpinan Bank, terlebih dahulu saya ingin menyampaikan ucapan selamat siang, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Penyampian dari Bapak Presiden tadi, saya kira sudah bisa kita pahami karena begitu runtut, begitu sistematik, dan mencakup seluruh aspek dari kehidupan perekonomian, baik global, regional, maupun nasional, dan bahkan sampai ke tingkat lokal.
Saya barangkali ingin melaporkan kepada Bapak Presiden, bagaimana perkembangan yang ada itu ingin direspon oleh dunia perbankan, karena respon ini perlu diambil untuk memitigasi meluasnya dampak dari gejolak global yang pada saat ini kita alami.
Kinerja dan daya tahan industri perbankan nasional saat ini Bapak Presiden, dapat saya informasikan bahwa sampai dengan triwulan 1 tahun 2008, stabilitas industri perbankan kita masih terjaga, masih terkendali. Kondisi likuiditas selama triwulan 1 cukup terjaga dengan resiko kredit dengan kecenderungan yang menurun. Indikator ratio, misalnya non foaming loan, secara gross menurun dari 4,82% menjadi 4,78%, sementara besaran netto masih di sekitar 2%. Jadi cukup rendah. Risiko pasar yang dihadapi perbankan saat ini juga masih cukup terjaga, didukung oleh posisi devisa netto perbankan yang rendah, yaitu sebesar 3,49%, profil maturitas perbankan yang short pada jangka pendek, dan yang long dalam jangka panjang, serta SUN trading yang relatif rendah, yaitu hanya sekitar 9% dari total aset perbankan.
Bank Indonesia juga bersama-sama dengan perbankan juga mencermati pelaksanaan intermediasi yang sekarang kami laksanakan. Dari rencana bisnis kami menangkap, bahwa semangat rekan-rekan perbankan untuk meningkatkan kredit pada tahun 2008 ini masih cukup tinggi, dan angka-angka masih ada kecenderungan yang meningkat.
Suku bunga kredit sejak beberapa waktu yang lalu mengalami penurunan dan masih berdampak positif pada intermediasi perbankan. Loan to the deposit ratio perbankan pada saat ini sudah mencapai di atas 70%. Kenaikan kredit terbesar di triwulan 1 terjadi pada triwulan kerja, diikuti dengan kredit konsumsi dengan angka masing-masing Rp 9,1 triliun dan Rp 5,5 triliun. Berdasarkan sektor ekonomi, kredit kepada sektor industri pengolahan, mengalami kenaikan terbesar, yaitu Rp 6,4 triliun atau sekitar 42% dari total kenaikan kredit. Jadi industri pengolahan masih kelihatannya geliatnya masih kita lihat.
Dan untuk mendapatkan gambaran mengenai daya tahan perbankan yang saya sampaikan tadi di awal, dari hasil uji stress testing yang dilakukan oleh Bank Indonesia menunjukan bahwa dengan skenario yang sangat, saya mengatakan sangat jauh, skenario yang terburuk, perbankan nasional kita masih memiliki caution yang cukup tinggi, baik dari segi permodalan maupun dari likuiditas. Dampak yang terbatas terhadap capital adequacy ratio karena kebetulan, hasil dari upaya-upaya restrukturisasi dan upaya-upaya perbaikan di perbankan ini, capital adequacy ratio perbankan kita cukup tebal, sehingga dengan kondisi dimana apabila terjadi kenaikan laju inflasi, suku bunga, dan depresiasi rupiah yang cukup besar, perbankan kita masih cukup-cukup bertahan, dan bahkan setelah kami lihat, dalam jangka waktu yang cukup panjang. Kami tidak melihat kesulitan itu akan datang dalam waktu 6 bulan ke depan, jadi melakukan pengawasan, karena kita melihat bahwa berbagai perkembangan sekarang ini ada yang perlu kita cermati dengan sebaik-baiknya, mendorong peningkatan NPL pada kredit valas dan itu akan meningkatkan NPL pada kredit rupiah pada akhirnya, terutama dari perbankan.
Bank Indonesia telah secara berkelanjutan melakukan koordinasi, melakukan pertemuan-pertemuan dengan Pemerintah. Dan di bidang moneter, Bank Indonesia memandang bahwa pengelolaan ekspektasi inflasi ke depan ini tidak dapat seluruhnya dibebankan kepada BI Rate yang selama ini, selama 4 bulan terakhir ini tertahan pada tingkat 4%, yang menyangkut framework. Langkah-langkah tersebut, diarahkan untuk menjaga keseimbangan harga di pasar valuta asing dan secara preemptive mengurangi risiko stabilitas harga di pasar barang
Bapak Presiden,
Hadirin yang berbahagia,
Di pasar keuangan dan perbankan, saya kira langkah-langkah antisipatif yang dilakukan oleh Pemerintah selama ini, dengan menjamin tersedianya likuiditas untuk mencegah liquidity crunch, dan daftar ketat di perbankan dan juga Lembaga-lembaga non bank, melakukan surveilence yang sebaik-baiknya dan yang diinginkan terjadi, maka upaya-upaya di dalam rangka forum stabilitas sistem keuangan untuk menuntaskan crisis management protocol ini sedang terus dikembangkan bersama-sama rekan-rekan dari Departemen Keuangan, dari Bapepam, dan dari tempat-tempat lainnya, sehingga jika lembaga keuangan dengan sistem keuangan yang telah ada saat ini mengalami kesulitan likuiditas, maka sudah ada siapa yang mengerjakan apa.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
Bismilahirramannirrahim,
Bapak Presiden yang saya muliakan,
Rekan-rekan Menteri, Bapak Gubernur Bank Indonesia, para Pejabat Tinggi dari Bank Indonesia, saya lihat hari ini juga ada para Pimpinan Perbankan di Indonesia, di Jakarta.
Saya kira sudah begitu banyak substansi yang disampaikan oleh Bapak Presiden secara global maupun secara nasional. Dan Pak Gubernur tadi menyampaikan hal-hal yang sangat konkret mengenai perkembangan dan status perbankan kita di saat ini.
Saya barangkali agak ringan-ringan saja Bapak Presiden, tapi intinya pesan Bapak Presiden tadi memang-memang perlu disampaikan kepada rekan-rekan di perbankan. Saya ingin menyampaikan dua hal, satu adalah pengalaman saya selama beberapa tahun ini, 2 tahun lebih membantu Bapak Presiden, terutama untuk mengkoordinasi fungsi-fungsi Kementerian di bidang ekonomi, itu sangat banyak interaksi dengan rekan-rekan dari Bank Indonesia. Dan hubungan ini menurut saya, termasuk hubungan yang terbaik yang pernah saya alami Bapak Presiden, antara Pemerintah dan Bank Indonesia.
Kami, Pemerintah dengan beberapa komponennya, termasuk tentunya Menteri Keuangan, saya sendiri dan beberapa Menteri yang biasanya kami undang sesuai dengan topik bersama dengan Gubernur Bank Indonesia, itu setiap bulan mengadakan rapat yang reguler sekali, kadang kala di Bank Indonesia, kadang kala di Departemen Keuangan, kadang kala di Kantor Menko Ekuin. Tapi jelas yang makanan yang paling enak itu di Bank Indonesia, jadi kami sering ke sana.
Tapi intinya ini adalah suatu forum reguler yang kita blak-blakan di antara kita, itu untuk menyampaikan apa masalahnya dari sisi fiskal, Pemerintah, sektor riil kadangkala, dan dari sisi moneter dan perbankan, sangat terbuka dan biasanya kita mencapai suatu kesepakatan, kesepakatan, kompromi kadang kala. Ini penting saya sampaikan Bapak Presiden, karena memang dalam konteks pengelolaan ekonomi makro yang sekarang kita punyai, yaitu setelah masa reformasi ini lain dengan sebelum masa krisis, dimana di sana pada waktu itu ada Dewan Moneter yang secara formal mewadahi ini, hubungan ini antara Bank Indonesia dan Kementerian Menteri-menteri ekonomi dan keuangan, memang ada di Undang-undang dan harus rapat dan seterusnya.
Sekarang tidak ada dan ini adalah sesuatu yang saya kira harus kita jadikan kalau tidak ditentukan oleh Undang-undang harus sebagai konvensi, konvensi untuk selalu berbicara satu sama lain, karena apa, karena memang di masa lampau ada satu masa pendek. Syukur, dimana antara otoritas fiskal dan otoritas moneter tidak bicara satu sama lain, Pak. Jadi ini yang tentunya akan tentu sangat merusak suasana di pasar. Dan oleh sebab itu, saya kira ini perlu kita lanjutkan dan ini untuk menyampaikan pada rekan-rekan perbankan, hubungan antara Pemerintah dan Bank Indonesia ini sampai sekarang cukup solid dan cukup substantif, tidak hanya secara permukaan, tetapi biasanya kita sampai kepada substansi dari action yang kita lakukan bersama.
Ini adalah assurance bagi rekan-rekan di perbankan, bahwa saya kira pengelolaan ekonomi makro moneter ini, kalau kita bisa lakukan seperti itu boleh dikatakan cukup aman, meskipun tentunya kita harus waspada mengenai situasi yang sekarang ini berkembang di luar negeri. Ini memang belum tahu sampai dimana akhir dari gonjang-ganjing ini. Tetapi tadi Bapak Presiden mengatakan kebersamaan ini saya kira penting. Kita tidak ingin tempat kita untuk bekerja dan untuk mendapatkan nafkah katakanlah, itu hancur, karena salah satu atau beberapa dari kita mementingkan atau lebih mementingkan kepentingan kita sendiri, pada saat krisis itu daripada kepentingan bersama.
Saya tidak tahu apakah ini appeal bagi para bankir ini kena atau tidak, tetapi biasanya hitung-hitungannya, ya hitung-hitungan apa yang didapat apa yang tidak, manfaat dan tidak. Tetapi kalau dalam suasana yang normal, itu saya kira baik-baik saja, tetapi kalau suasana seperti sekarang ini saya kira harus ada ekstra di sini, dimana kita memberikan satu ruang dimana kepentingan bersama kita jaga bersama-sama. Itu yang pertama.
Yang kedua, saya ingin melanjutkan yang telah disampaikan oleh Bapak Gubernur tadi, yaitu yang sekarang dilakukan bersama antara Pemerintah dan Bank Indonesia disusunnya suatu protokol, protokol untuk menghadapi situasi yang abnormal. Kalau situasi normal semuanya sudah ada protokolnya, kayak-kayaknya oke, tetapi gimana situasi yang dibutuhkan tindakan cepat dan mungkin dalam konteks risiko yang besar, ini masih diperlukan suatu protokol, siapa melakukan apa, bagaimana. Dan ini saya kira sangat penting dan itu kita rencanakan untuk diwadahi menjadi suatu Undang-undang supaya kuat, supaya kuat, supaya para pejabat tidak gamang untuk mengambil keputusan.
Pengalaman pada tahun 97-98, itu memberikan saya kira kegamangan pada pejabat-pejabat yang seharusnya berwenang untuk mengambil keputusan, tetapi kemudian gamang karena tidak ada secara jelas payung yang melindungi tindakannya itu, apabila suatu saat ada yang menggugat. Ini sangat penting dan ini sekarang sedang dalam penyusunan, moga-moga saja dalam tahun ini bisa diajukan sebagai RUU. Protokol detailnya juga sudah dibuat. Dan ini saya kira sangat baik untuk nantinya bagi masing-masinng untuk tahu apa yang dilakukan pada saat apa.
Krisis bisa datang setiap saat, oleh sebab itu ini kita dahulukan dalam prioritas pekerjaan bersama antara Bank Indonesia dan Pemerintah. Karena kalau toh memang ada krisis benar itu barangkali Bapak Presiden tidak ragu-ragu akan mengeluarkan semacam Perpu atau apa, tetapi materinya sudah ada, kita siapkan materinya yang jelas untuk memayungi siapa pun nanti yang menghadapi krisis, harus merespon terhadap krisis.
Saya kira itu saja Bapak Presiden, dan para Hadirin yang saya ingin sampaikan. Sekali lagi saya sangat bahagia bisa bertemu dengan para Pimpinan Perbankan siang ini.
Terima Kasih.
Wassalamu’aliakum warahmatullahi wabarakatuh.
Presiden Republik Indonesia
Terima Kasih Pak Burhanuddin, Pak Boediono atas apa yang telah disampaikan akan menutup sesi pengantar untuk santap siang kita dengan dua hal. Yang ini saya memerlukan kontribusi dari dunia perbankan, terutama untuk jangka pendek, 1, 2, 3, 4 tahun ke depan. Dua isu yang harus kita kelola, kita atasi dan sebagaimana pesan saya dari masalah menjadi berkah, dari crisis menjadi opportunity, upaya untuk meningkatkan produksi pangan, dan upaya untuk mengatasi permasalahan energi, terutama listrik.
Untuk pangan ini, karena kita terus mengelola dengan sangat serius, Alhamdulillah kalau beras dan gula, itu relatif aman dari segi supply. Yang jadi persoalan adalah harga pangan, baik beras maupun gula di tingkat global. Jadi inflasi yang ada adalah betul-betul cost push inflation sebenarnya rather than demand pull inflation. Yang masih agak jauh adalah bukan agak jauh, yang mendekat jagung dan daging, daging sapi, yang masih agak jauh kedelai. Oleh karena itulah, saya sudah mengajak dunia usaha, men-challenge dunia usaha, lakukan sesuatu, jangan menunggu apa yang bisa kita lakukan to increase domestic production of soybeans, baik dengan segi petani yang kita dorong untuk meningkatkan produksinya dengan harga yang baik sekarang ini, maupun pertanian kedelai skala besar dengan mekanisasi dan kegiatan sejenis.
Kita juga melakukan kajian kerjasama dengan Brasili, dalam konteks ini dan juga dengan pihak-pihak terkait. Oleh karena itu, untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pangan, diperlukan satu upaya besar di bidang bisnis, ekonomi, teknologi, research and development. Dalam kaitan itu, saya minta untuk tidak perlu saling menunggu antara dunia usaha dengan perbankan, riil tanahnya tanah kita sendiri, tidak kecil 2 juta kilometer persegi, human resources-nya ada, tough mereka, diperlukan betul, tujuannya nyata, dunia seperti itu, saya kira dari hitungan apapun, tentu dengan best practice akan membawa manfaat yang besar bagi perbankan dan bagi ekonomi kita.
Yang kedua, energi, listrik ini menjadi persoalan utama. Oleh karena itu, saya ingin tahun-tahun mendatang, 1, 2, 3, 4, 5 tahun mendatang disamping yang sudah kita programkan menambah 10.000 Megawatt, dari yang ada 25.000 Megawatt, itupun belum cukup. Saya sudah mengundang banyak sekali investasi, baik dalam dan luar negeri untuk melakukan pembangunan power plan ini. Saya minta dukungan dan kerjasama dengan perbankan. Termasuk diversifikasi sumber-sumber energi, kalau dulu sumur marjinal tidak economical, sekarang dengan 100 Dolar per barel itu menjadi ekonomis, dan itu juga opportunity. Lantas juga geothermal, sumber-sumber yang lain yang barangkali sekali lagi dulu tidak bisa berkompetisi mungkin dengan policy yang baru akan bisa lebih bisa berkompetisi. It means akan ada pergerakan atau ada usaha baru yang dilakukan di bidang energi, dan saya minta kerja sama dengan perbankan untuk mengalirkan capital pembiayaan dalam cabang-cabang bisnis itu.
Dan yang terakhir, in the long run Saudara-saudara, Indonesia tidak bisa mengikuti jejak yang disebut dengan The Four Asian Tigers, Korea, Taiwan, Hongkong, Singapura yang lebih berorientasi pada ekspor, export oriented economy. Ekspor sangat penting, growth kita yang six point three percent (6.3%) itu yang menjadi kontributor utamanya consumption dan ekspor, investment setelah itu governance expenditure yang punya batas setelah itu. Tentu kita tetap menggarisbawahi pentingnya ekspor, tetapi kita akan merugi sebagai bangsa yang punya sumber daya alam yang besar, tanah dan lautan yang luas, kemudian riwayat yang panjang dari agriculture industry maupun jasa di sini. Kalau tidak menggunakan opportunity di dalam negeri, yaitu kita harus mengembangkan, memperkuat, memperbesar domestic market. Kalau domestic market kita ini besar, maka akan ada proses snow bowling yang positive untuk bisa menggerakkan semua ekonomi, daya beli rakyat kita, opportunity, employment income terus berputar, sehingga yang terjadi kita punya domestic economy akan menjadi besar, dan besar, dan besar.
Oleh karena itu, sambil kita mengelola persoalan yang sekarang, sambil saya meminta kontribusi Saudara yang tadi itu masalah food security, energy security, mari kita letakkan landasan, kita buka pikiran kita menuju ke Indonesia dasawarsa-dasawarsa mendatang, agar kita juga memiliki two track strategy, sesuatu yang berorientasi ekspor maupun untuk mengembangkan domestic market. Oleh karena itu, policy saya, strategi saya yang dikembangkan oleh kita semua, Pemerintah juga menjalankan kerjasama dengan luar negeri harus dipastikan itu membawa manfaat secara domestik bagi pasar dan bagi tenaga kerja. Tidak tepat kalau kerjasama di bidang perkebunan, downstream industry-nya di negara lain, mesti di negeri kita, labour, tax, kemudian akhirnya domestic market.
Kalau strategi policy yang kita kembangkan seperti itu, dengan melihat jauh ke depan, in our strategy plan, saya minta kontribusi kebersamaan dengan dunia perbankan, karena tanpa aliran kapital, aliran dana tidak akan sampai kita pada tingkat itu. Saya punya keyakinan dengan ridho Allah SWT, dengan pikiran yang jernih, energi yang positif, jiwa yang terang, bukan yang gelap, kita akan bisa bangun lebih baik lagi ekonomi dan bangsa kita secara keseluruhan.
Itulah yang saya sampaikan dan terakhir bagi yang jarang hadir di Istana. Ini adalah Istana Merdeka didirikan pada tahun 1796 akhir abad 18, sebelah sana Istana Negara yang di Selatan atau Utara ya? Di Utara itu pada tahun 1873. 70 tahun kemudian kebalik ya? Yang lebih tua itu sana, 1796, 77 tahun kemudian baru yang di sini, Istana Merdeka. Di depan sering kita adakan upacara bendera tiap 17 Agustus, ruangan ini biasanya bilateral meeting dengan Kepala Negara, Kepala Pemerintahan Negara Sahabat, dan juga akreditasi Duta Besar-duta besar di depan sana.
Dan mulai tahun ini akan kita gunakan untuk social function, termasuk dengan perbankan hari ini. Ini yang kedua, sebelumnya kami dengan Dewan Perwakilan Daerah dan dengan komponen-komponen bangsa sambil rileks, sambil ibadah, sambil santap siang, kita dekatkan hubungan di antara kita. Dan lain kali, kalau kami undang lagi, saya berharap tetap datang karena makin sering kita berkomunikasi, makin banyak yang kita lakukan secara bersama.
Demikian Saudara-saudara, para Wartawan jangan kemana-mana dulu setelah pesan-pesan ini, ikut makan siang di belakang.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



