Pidato Presiden
Sambutan Acara Santap Siang Bersama Pelaku Usaha Bidang Pertanian
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SANTAP SIANG BERSAMA
DENGAN PELAKU USAHA BIDANG PERTANIAN
ISTANA MERDEKA, 11 APRIL 2008
Bismilahirahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati para Menteri Koordinator, Saudara Menteri Pertanian dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Ketua Umum Dekopin, Pak Adi Sasono, para Pimpinan Asosiasi Petani, para Pimpinan Kelompok Tani, para Pimpinan Usaha di bidang pertanian dari seluruh Indonesia,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini sekali kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan dan semoga kesehatan untuk melanjutkan karya kita, tugas kita dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta.
Kita juga bersyukur Bapak-ibu, Hadirin sekalian,
Hari ini bagi yang beragama Islam dapat sholat bersama di Masjid Baiturahim, di Istana Negara ini dan setelah itu kita bisa bersilaturahim di Istana Merdeka ini untuk bersama-sama menyerasikan, menyelaraskan, mensinergikan karya kita untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bagi Saudara-saudara yang datang dari seluruh Indonesia, saya lihat tadi dari berbagai Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, Desa. Saya ucapkan selamat datang di Istana Merdeka.
Ini adalah Istana Merdeka, di sebelah sana Istana Negara, di depan ini yang sering kita gunakan untuk Peringatan Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus, yang setiap tahun kita laksanakan. Sedangkan Istana Merdeka ini sendiri lazim kita gunakan untuk menerima kunjungan tamu-tamu negara Presiden, Perdana Menteri, Raja, Kaisar dan ruangan ini dimana kita berada adalah ruangan yang kita gunakan untuk pertemuan bilateral antar negara Indonesia dan tamu-tamu negara kita. Kita melantik para Duta Besar, saya ulangi, menerima Duta Besar-Duta Besar dari negara sahabat juga di Istana Merdeka ini. Istana Merdeka ini lebih muda dibandingkan Istana Negara, yang disana, yang disebelah sana dibangun pada abad 18 sedangkan ini pada awal abad 19.
Saudara-saudara,
Saya mengundang Saudara-saudara untuk bertemu saya dan para Menteri di Istana Merdeka ini dengan tujuan saya mengajak, saya ingin mendengar pandangan Saudara-saudara semua bagaimana kita dapat meningkatkan produksi pangan, bisa meningkatkan produktivitas pertanian kita dan kemudian dapat menjawab dan mencari solusi terhadap persoalan pangan yang pada tingkat dunia sekarang ini mengalami persoalan.
Kita bertemu di ruangan ini bukan untuk berwacana tapi untuk menyatukan tekad, semangat, pikiran dan kemudian tindakan di lapangan. Apa yang mesti kita lakukan secara bersama. Hanya dengan cara itu Insya Allah pertanian kita akan berkembang lebih baik, produksi pangan kita akan makin besar, makin kuat dan makin tinggi di negeri ini.
Saudara tahu, Saudara mengikuti perkembangan dunia, terutama yang berkaitan dengan pangan. Ada sejumlah sebab atau alasan mengapa setahun terakhir ini utamanya bulan-bulan terakhir ini beberapa harga pangan melonjak tajam.
Pertama penduduk bumi ini jumlahnya 6,3 miliar masih akan bertambah. Mereka mengkonsumsi pangan, tidak makin kurang tapi makin banyak. Yang kedua, dari statistik, dari survey pada tingkat dunia, golongan menengah atau kaum menengah, middle class, ini di negara-negara berkembang jumlahnya makin besar dan mengkonsumsi lebih banyak lagi bahan pangan. Yang ketiga, ada negara yang tadinya memproduksi pangan sebagian dari komoditas itu dialihkan untuk bio energi, biofuel, atau bahan bakar nabati. Seperti Amerika Serikat, Brazilia dan lain-lain, berkurang supply atau distribusi atau penawaran dari pangan itu.
Dengan perubahan iklim dan pemanasan global terjadi kemarau panjang, hujan lebat dan mengakibatkan banjir sehingga terjadi kasus gagal panen di banyak tempat di dunia ini. Ditambah lagi karena harga minyak selangit, meroket maka ongkos angkut komoditas pangan apakah ekspor maupun impor itu menjadi naik. Akhirnya harga jual dari bahan pangan itu ikut naik. Sangat gamblang, bisa kita jelaskan mengapa harga pangan dunia kita naik. Negara kita pasti terimbas olehnya.
Penduduk kita sekarang 230 juta jiwa dan masih akan terus bertambah, semua mengkonsumsi pangan. Apa yang terjadi di dunia juga terjadi di negeri kita. Transportasi, impor kita, ekspor kita, CPO, minyak goreng, impor kita kedelai, jagung, gula dan lain-lain. Itu masalah. Masalah itu tidak bisa didiamkan, tidak bisa diratapi, tidak bisa disesali, tidak bisa dengan menyalahkan orang lain menghujat sana-menghujat sini. Mari kita carikan solusinya, mari kita atasi, mari kita jawab. Hari ini kita bertemu di ruangan ini untuk menjawab, mengatasi dan mencari solusi atas semuanya itu.
Saudara-saudara,
Ini kesempatan yang baik bagi saya untuk menyampaikan langsung kepada Saudara-saudara yang jarang bertemu. Saya ini sangat percaya bahwa Allah SWT memberikan anugerah yang luar biasa kepada bangsa Indonesia, tanah air kita, kekayaan alam kita, iklim kita, yang sesungguhnya apabila dapat kita olah, kita kelola dengan baik akan mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Memang tantangannya, ujiannya, persoalannya juga tidak ringan karena tanah air kita yang luasnya 8 juta kilometer persegi terdiri dari 2 juta daratan dan 6 juta lautan itu juga rawan terhadap bencana, gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi dan lain-lain. Tapi percayalah kalau kita betul-betul bertanggung jawab, betul-betul mendayagunakan dan mengelolanya dengan baik pasti berkahnya lebih besar, lebih banyak dibandingkan musibahnya.
Mari kita instropeksi. Barangkali kita belum sepenuhnya mengelola dan mendayagunakannya dengan baik. Jangan kita sia-siakan. Mulai hari ini ke depan kita harus bangkit. Harus membangun lebih keras lagi untuk anak cucu kita, untuk masa depan kita, untuk kita semua.
Di bawah daratan kita ada minyak, di atas daratan juga ada minyak. Belum tentu negara lain atas dan bawah, permukaan itu ada minyak dua-duanya. Mengapa kita sia-siakan? Pangan menjadi masalah, mestinya kita bersyukur ya Allah, dengan datangnya masalah pangan sedunia ini Allah memberikan berkah karena tanah ini apabila diolah akan menjadikan kekuatan bagi bangsa kami baik untuk kepentingan sendiri, atau untuk kepentingan bagi umat atau manusia, bangsa lain menuju kesejahteraan.
Singkatnya, kita masih sangat mungkin dan Insya Allah bisa meningkatkan produksi padi atau beras. Saya mengikuti, datang ke lapangan bertemu dengan Saudara, dengan Menteri Pertanian, Pak Adi Sasono, dimana-mana produksi beras kita semakin baik bahkan kalau bisa kita pertahankan bukan hanya cukup, suatu saat kita pun mampu untuk mengekspor.
Kondisi gula kita makin baik, mendekati pada titik kita bisa berswasembada tapi kedelai masih jauh, jagung masih berkarya, daging sapi masih. Mari kita percepat, kita perluas peningkatan produksi pangan ini. Mari, ahlinya bukan saya, ahlinya Saudara-saudara, Bapak-ibu sekalian.
Saya minta tolong dengan segala hormat, mari kita tingkatkan semuanya. Pemerintah memberikan fasilitas, Pemerintah memberikan bantuan, pemerintah mengalokasikan anggaran dan lain-lain, tapi sepenuhnya yang bisa membikin meningkat produksi kita, produktivitas kita adalah semua yang bergerak di sektor pertanian, di ujung depan, yang kepanasan, kehujanan, yang mulia.
Dan akhirnya saya ingin mendengar nanti setelah Menteri Pertanian menyampaikan secara ringkas, saya ingin mendengar perwakilan-perwakilan, to the point, apa yang bisa kita lakukan meningkatkan produksi dan produktivitas padi atau beras kemudian jagung, kedelai dan juga pikiran apa lagi yang bisa kita lakukan untuk menggerakan lagi pertanian kita.
Nenek moyang kita, leluhur kita, pendahulu kita mengatakan Indonesia itu kelak kemudian hari akan memasuki masa kejayaan yang dilukiskan sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kartoraharjo, baidatun toyibatun wal robun ghofur, adil, makmur, aman dan sentosa. Mari kita yakini suatu saat negara kita akan bisa mencapai kondisi itu.
Banyak ramalan di dunia, tahun 2030, tahun 2050 ekonomi Indonesia masuk 10 besar. Ada ramalan yang saya baca, ramalan ini bukan hanya ilusi tapi dari survey, dari kajian, dari penelitian, yang terakhir ada N 11 Indonesia masuk menjadi emerging economy dan banyak lagi assessment atau perkiraan seperti itu, tapi itu tidak akan pernah datang kecuali kita yang membangun keyakinan diri bahwa kita bisa menuju kesitu dengan cara bekerja sekuat tenaga, kompak, bersatu seluruh Indonesia untuk mewujudkan impian itu.
Itulah yang saya sampaikan sebagai pengantar dan saya persilahkan Saudara Menteri Pertanian, Pak Anton, tolong disampaikan secara ringkas apa saja yang menjadi harapan kita, kebijakan kita dan setelah itu kita dengar nanti dari beliau-beliau apa yang mesti kita lakukan jangan tunggu esok, jangan tunggu lusa, mulai sekarang kita bangkit bersama, Insya Allah bisa.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



