Wisata Istana Kepresidenan ditutup sementara mulai hari Sabtu, 9 Agustus 2008 dan dibuka kembali hari Sabtu, 23 Agustus 2008.

Pidato Presiden

Istana Negara, Jakarta, Senin, 5 Mei 2008

Sambutan Santap Siang Bersama Tokoh Pers

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
JAMUAN SANTAP SIANG BERSAMA TOKOH PERS NASIONAL
ISTANA NEGARA, 5 MEI 2008



Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Wakil Presiden dan para Menteri serta Anggota, Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati para Pimpinan Media Massa dan para Wartawan Senior,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan ridho-Nya kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan karya, tugas, dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.

Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas kesediaan para Pimpinan Media Massa dan Wartawan Senior untuk memenuhi undangan saya dalam acara silaturahim dan santap siang bersama. Acara ini semula kami rancang untuk kami laksanakan pada hari Jumat yang lalu. Tetapi hari itu, saya harus pergi ke Magelang, Jawa Tengah bersama-sama para pekerja atau buruh dan Pimpinan Konfederasi, Federasi Pekerja memperingati Hari Buruh Internasional di Magelang. Oleh karena itu, kita undur hari ini dan saya mengucapkan terima kasih atas pengertiannya.

Ini kesempatan yang baik, Bapak, Ibu dan Hadirin yang saya hormati, untuk saya bersama Wakil Presiden dan para Menteri bisa berkomunikasi dalam suasana yang baik. Yang tentunya sangat kita perlukan kebersamaan seperti ini, manakala negara kita menghadapi sejumlah tantangan dan persoalan yang fundamental. Pepatah mengatakan “in the crucial things unity, in the important things diversity, in all things generosity”. Jadi kalau kita bersatu memecahkan masalah yang pelik bersama-sama, sharing, dengan niat yang baik insya Allah seberat apapun persoalan yang dihadapi oleh bangsa kita bisa mencarikan jalan keluarnya.

Oleh karena itu, pertama saya ingin menyampaikan laporan kepada para Pimpinan Pers tentang perkembangan keadaan sekarang ini secara garis besar, karena saya yakin semua telah mengikuti, telah menjalani dan ikut pula mewartakan kepada rakyat Indonesia tentang keadaan ini, dengan harapan kita sebagai bangsa tetap tegak dan bisa mengatasi masalah ini, yang pertama.

Sedangkan topik yang kedua, saya akan menyampaikan hajat yang penting bagi bangsa ini, yaitu Peringatan Satu Abad Kebangkitan Nasional Indonesia, yang saya memintakan dukungan, kebersamaan dan bantuan dari komunitas media massa dan pers, agar Satu Abad Kebangkitan Nasional kita ini betul-betul membangkitkan semangat baru, komitmen baru , keyakinan baru bagi bangsa kita ini untuk terus berjuang menuju masa depan bangsa yang lebih baik. Dua topik utama itulah yang ingin secara sangat singkat kedepankan kepada Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian.

Pertama, menyangkut perkembangan keadaan nasional yang kita tahu itu juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan keadaan global. Yang diperlukan akhirnya setelah kita pahami semuanya itu, solusi, jalan keluar, apa yang mesti kita lakukan ke depan secara bersama-sama. Saya garis bawahi lagi bahwa jangka pendek mengait kepada meroketnya harga minyak, dan melonjaknya harga pangan tiada lain adalah satu kebijakan, satu langkah, satu instrumen, agar jangka pendek itu betul-betul kita cegah satu keadaan yang di luar kemampuan rakyat kita untuk memikulnya, short term policy and action.

Tetapi memahami bahwa permasalahan global ini akan stay barangkali dalam waktu yang lebih lama, maka kita pun secara cerdas, inovatif dan kreatif memikirkan apa yang bisa kita lakukan, mengubah dari krisis menjadi opportunity menyangkut tingginya harga komoditas energi dan pangan ini yang meski dilakukan secara nasional.

Jangka pendek dengan sekuat tenaga, kita melakukan stabilisasi harga pangan. Kita mengeluarkan anggaran bertriliun-triliun rupiah to stabilize, menahan untuk tidak naik lagi, syukur-syukur bisa kita turunkan dari kenaikan yang sempat melonjak sangat tajam. Tapi ini adalah remedy jangka pendek dan meskipun kita pun kita pelihara, kita jaga habis-habisan, ini bukan fundamental solutions. Solusi jangka panjangnya, jangka menengah, jangka panjang tentunya meningkatkan produksi dan produktivitas. Di situlah kita bergerak Bapak, Ibu sekalian, mulai dari policy, infrastruktur, teknologi, investasi, melibatkan komunitas petani, research and development, dan seterusnya, dan seterusnya.

Dengan harapan tahun-tahun mendatang net kita, produksi kita menjadi bagus. Yang tadinya kita mengimpor cukup dulu berswasembada, akhirnya menuju surplus dan mudah-mudahan disamping tahan, kita juga bisa lebih, contoh yang gamblang adalah padi. By the same program, kita akan bisa mengamankan gula atau tebu, jagung, dan kedelai yang masih, daging sapi dan lain-lain. Tapi terapinya adalah meningkatkan produksi dan produktivitas, selebihnya saya kira Bapak dan Ibu sudah mengikuti apa yang saya, Wakil Presiden dan para Menteri sampaikan di berbagai kesempatan, peningkatan produksi dan produktivitas, termasuk kebijakan stabilisasi harga pangan.

Terus terang ini persoalan global dan tidak mengada-ada, kalau World Bank mengatakan this is global crisis. Tidak mengada-ada, kalau Sekjen PBB, Ban Ki Moon membentuk high level task force untuk mengatasi pangan ini. Dan bukan suatu kebetulan banyak negara terjadi kekerasan dan unjuk rasa karena pangan.

Saya pun, ini sebagai laporan saya kepada para Pimpinan Media Massa sudah menulis surat dan mengajak para pemimpin dunia, apa yang bisa kita lakukan, eventhough kita punya posisi, Alhamdulillah, sekarang ini lebih baik, katakanlah dengan yang dihadapi oleh Filipina dan negara-negara yang lain. Tetapi Kita patut berempati dan apa yang bisa kita lakukan. Surat sudah saya layangkan pada Sekjen PBB, Presiden World Bank, Perdana Menteri Hu Jintao yang 2 bulan lagi akan menggelar G8 Conference di Jepang dan sejumlah langkah. Jadi itu yang bagian pertama, fixed policy, fixed action adalah stabilisasi harga, kemudian adalah peningkatan produksi dan produktivitas.

Saya ingin betul kita semua dan kekuatan pers yang sangat dahsyat, disamping memunculkan potret keadaan kita, kritik, koreksi, that’s right supaya kita bisa lebih bagus lagi. Tapi tolong diberikan ruang juga untuk menyampaikan pada rakyat bahwa solusinya disamping stabilisasi harga jangka pendek mestilah karya bersama untuk meningkatkan ketahanan pangan. Syukur-syukur dari impor ke ekspor.

Energi, saya kira Bapak, Ibu, sudah sangat memahami, ini irrational. Saya terus berkomunikasi hampir setiap hari mencari the why kok masih menggila begini. Sebab kalau hanya dari mismatch supply dengan demand, tidak connect kalau kenaikan bidang seperti ini tangan saya. Kenaikan harga begini, muncul teori yang lain, geopolitical factor, tapi apa iya seperti itu. Muncul yang lain, karena kecemasan kalau ada gangguan di Timur, di Nigeria, di Scotland, tapi apa ya seperti itu, naik harganya. Muncul teori yang baru, yang tadinya bermain di shocks, karena volabilitas keuangan global mereka berspekulasi, berdagang dalam tanda kutip pada komoditas energi. Kalau ini iya, inilah satu yang tidak kita sukai dari global capitalism, dari globalization yang kadang-kadang sebuah negara dihukum oleh suatu hukum, suatu permainan yang, ya seperti itu. Tapi realitasnya harga minyak tidak turun-turun. Minggu lalu saya berdoa, karena sudah turun 4 hari, Pak, jadi 118 Nimax dan Brent turun terus jadi 110. Kalau turun lagi menjadi 100, turun lagi jadi 95, itu sama dengan asumsi APBNP. Jadi kita tidak pusing tujuh keliling karena pas dengan asumsi kita. Tapi 2 hari yang lalu naik lagi.

Di satu sisi ada negara yang bermandikan triliunan dolar, bukan rupiah, total itu, ada negara-negara yang sungguh susah, termasuk kita kena subsidi. Oleh karena itu, ini masalah specific issue. Solusinya kita akan terus, jangka menengah, panjang, mendiversifikasikan sumber-sumber BBM. Jangka pendek kita akan kontrol volume, bagaimanapun harus kita kontrol, tidak bisa minyak tanah 9 juta, 11 juta kilo liter setahun dengan subsidi sekarang rata-rata Rp 8.000 per liter kali 9 sudah Rp 72 triliun just for minyak tanah dan yang lain-lain. Akan kita kontrol volume itu yang dalam jangkauan pemerintah, akan menjadi policy kita yang tidak seperti mall, tempat hiburan segala macam, ya mari kita hemat semaksimal mungkin dari waktu pengunaan listrik, penggunaan BBM dan yang lain-lain.

Tetapi itupun tentu belum cukup, oleh karena itulah, kita sekarang sedang exercise sangat cermat, tapi dinamik bagaimana menyelamatkan APBN kita. Saya berterima kasih editorial berbagai media massa, liputan hari-hari terakhir ini mewartakan yang gamblang kepada rakyat. Tell the truth, jelaskan kalau negara kita mengalami persoalan, jangan diwartakan baik-baik saja. Asalkan tetap kita bangun satu keyakinan untuk bersama-sama mengatasi masalah ini, mencari solusi, dan memberikan dukungan kepada Pemerintah untuk mengatasi keadaan ini.

Tapi yang saya ikuti, Saudara-saudara melalui media massa yang dikelola, fair dan mulai dikenalkan keadaan yang sesungguhnya. Dengan demikian harapan kita, apapun yang kita pilih nanti dimengerti oleh masyarakat. Selalu ada resiko, selalu ada misunderstanding, selalu ada faktor X, tapi insya Allah kami kalau ini sudah menjadi pilihan terbaik untuk kepentingan besar, risiko itu tentu harus saya ambil, harus diambil oleh Pemerintah. Yang kami inginkan adalah satu penjelasan, satu komunikasi, satu coverage yang berimbang. Dengan demikian, bangsa ini lebih sengit melihat persoalan yang ada sekarang ini.

Kita punya pengalaman menaikkan harga bahan bakar 2005, sebelum dan sesudah itu kami juga melakukan evaluasi, list dari konsekuensi apa, sektor riil, daya beli masyarakat dan faktor-faktor yang lain. Kita melakukan terapi atas itu semua. Kami juga melaksanakan benchmarking di negara-negara lain. 10 anggota negara ASEAN, saya kira sebagian sudah tidak diregulasi sesuai dengan market price, sebagian diregulasi dan satunya sudah timeline, ada yang sudah menaikkan dan ada yang segera menaikkan.

Saya juga monitor negara-negara non ASEAN, India, China dan lain-lain. The dynamic, pilihan-pilihan kebijakan yang mereka ambil. Penting bagi Indonesia untuk melaksanakan benchmarking seperti itu, karena persoalannya sama, yang dihadapi sama, sekaligus mengambil pelajaran, pengalaman di waktu yang lalu. Dengan harapan, apa yang telah kita lakukan adalah policy, pilihan yang baik, terbaik untuk mengatasi masalah ini.

Dan sepertinya hanya 2 masalah, pangan dan energi, tetapi ini so fundamental, seperti Bapak, Ibu ketahui. Oleh karena itu, sambil Pemerintah bersama DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) mencari solusi APBN untuk itu, Pemerintah sendiri dengan jajaran di daerah juga mencari solusi yang di luar APBN. Itu masalah pertama yang kita hadapi.

Dan kebersamaan kita untuk genuine dengan terbuka, obyektif mengagendakan masalah ini menjadi satu pekerjaan rumah, tentu Pemerintah menjalankan sesuai dengan kewenangan dan tugasnya. Sangat penting agar bangsa ini merasakan ketika negaranya susah, maka mereka mengerti kalau Pemerintah mengambil sejumlah policy atau untuk kepentingan yang lebih besar dan yang lebih panjang.

Hadirin yang saya hormati,
Masalah yang kedua adalah seputar 1 abad Kebangkitan Nasional. Kita bersyukur satu abad sudah sejak generasi ‘08, ‘28, ‘45, ‘66, ‘98 mengisi tonggak-tonggak sejarah di negeri ini melalui benang merah yang berkesinambungan. Kalau kita melihat 100 tahun ke belakang, kita mesti mengintip, melihat 100 tahun ke depan dalam satu visi, penglihatan yang insya Allah tepat dan benar. Kita ingin meletakkan 20 Mei tahun ini, satu abad Kebangkitan Nasional, 10 tahun reformasi sebagai satu tonggak untuk bangsa ini lebih bersatu, lebih kompak, lebih siap untuk melangkah bersama dan bekerja keras dengan kepercayaan, optimisme, dengan pikiran yang positif dan lain-lain.

Sangat penting bagi perjalanan sebuah bangsa yang besar untuk kita melakukan reposisi, kemudian juga membangkitkan semangat dan keyakinan kembali, bahwa kita ini menuju arah yang benar. Badai, topan gelombang sering tinggi, tetapi kalau kita kompak, bersatu akan sampai pada tujuan kita. Dalam kaitan ini, saya sudah menerima prakarsa dari banyak pihak, masyarakat luas dengan ragamnya masing-masing untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional ini.

Panitia pusat juga sudah melapor kepada saya, bahwa insya Allah pada tanggal 20 Mei nanti akan ada event bersama di Gelora Bung Karno, rakyat yang memperingati hari bersejarah ini. Dan untuk keberhasilan itu, saya memang sungguh berharap kita bersama-sama menyukseskan. Jadi kalau ada event tayangan di televisi, pemberitaan di media massa, kiranya mendapatkan porsi yang bagus, agar sekali lagi tujuan kita untuk membangkitkan semangat dan harapan rakyat ini dapat kita wujudkan.

Bukan berarti bahwa kita away, kita tidak touching pada masalah-masalah yang aktual, tidak. Kita berangkat dari kondisi riil, tetapi there is a hope sebetulnya, bahwa kalau kita bisa melampaui, mengatasi, kemudian timbul pikiran-pikiran baru, visi baru, gagasan baru, komitmen baru, saya kira kita bisa melangkah lebih baik lagi di masa depan. Dalam kaitan itu, saya meminta dukungan, bantuan dan kebersamaan dari segenap komunitas pers dan media massa pada hari yang bersejarah itu.

Sengaja akan ditampilkan prestasi anak-anak bangsa, sengaja akan lebih banyak ditampilkan generasi muda. Dan saya senang sekali, generasi muda kita sekarang ini inovatif, cerdas, kreatif, prestasinya tidak kalah di nasional maupun internasional. Merekalah yang kita harapkan, lebih banyak kita tampilkan untuk meneruskan estafet perjalanan bangsa ini. Kalau kita berpikir ke situ, maka suatu saat hari tua kita melihat negeri ini dikelola anak-anak muda yang kreatif, yang berkarya, yang lebih bagus, kita akan sangat bersyukur. Dalam kaitan itulah, kita akan termanifestasikan nanti dalam bentuk peringatan pada tanggal 20 Mei yang akan datang. Saya dengar juga ada rencana peringatan di Yogjakarta, di tempat-tempat lain, silakan. Dengan catatan, tidak perlu berboros-boros, pas, hemat, tertib, dengan demikian cocok dengan situasi yang kita hadapi.

Dua itulah hadirin sekalian yang ingin saya sampaikan kepada Pimpinan Media Massa dan Pers. Dan setelah ini saya ingin memberikan kesempatan kepada, pertama-tama Menteri Komunikasi dan Informasi, apa yang ingin disampaikan kepada kita semua. Dan kemudian nanti saya persilakan yang mewakili komunitas media massa untuk memberikan pandangan-pandangan kepada kita semua, termasuk kepada saya, Wakil Presiden dan jajaran pemerintahan, agar kita sebagaimana pesan saya tadi betul-betul bersatu dan melangkah bersama untuk mengatasi masalah ini.

Demikian.
Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

*****

Biro Pers dan Media
Rumga Kepresidenan


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Resmi Presiden Republik Indonesia - Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Hak Cipta dilindungi Undang-undang