Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan The Asia Pacific Conference and Exhibition on Financial Transformation (APCONEX) 2008

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PACA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN THE ASIA PACIFIC CONFERENCE & EXHIBITION ON FINANCIAL TRANSFORMATION (APCONEX) 2008
J C C, 7 MEI 2008



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia,
Yang saya hormati Gubernur DKI Jakarta, Ketua Umum Perbanas, para Peserta Konferensi dan Eksebisi dari negara-negara sahabat dan para Diplomat, para Pimpinan Badan-dadan Usaha Milik Negara, para Pimpinan Perbankan, baik milik negara maupun swasta, Pimpinan Kadin dan para Pimpinan Dunia Usaha, Peserta Konferensi

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan, dan insya Allah kesehatan untuk melanjutkan karya kita, tugas kita, dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.

Kita juga bersyukur hari ini dapat bersama-sama mengikuti Pembukaan APCONEX Tahun 2008. Saya mengucapkan terima kasih kepada Perbanas atas prakarsanya melaksanakan konferensi dan pameran di bidang keuangan se-Asia Pasifik ini. Semoga dengan kegiatan ini, sektor keuangan dan industri perbankan di tanah air dapat terus kita tingkatkan kehandalannya dan kerjasama, baik secara multilateral maupun regional dengan negara-negara sahabat di bidang keuangan juga dapat kita lakukan secara lebih efektif lagi.

Saudara-saudara,
Saya ingin menyampaikan pandangan, pikiran, dan ajakan saya berkaitan dengan konferensi dan eksebisi ini lebih dari topik yang diangkat, yaitu “Toward a less cash society”. Saya ingin meletakkan permasalahan keuangan dan perbankan ini, saat ini dalam dimensi, dalam konteks yang lebih luas. Dengan demikian, kita makin menyadari pentingnya sektor keuangan, pentingnya peran industri perbankan di dalam menggerakan perekonomian nasional, bahkan dalam upaya untuk menggalang kerjasama antar bangsa dalam era globalisasi, yang tentu membawa tantangan-tantangannya tersendiri.

Ada 3 konteks yang ingin saya kedepankan. Konteks pertama adalah bagaimana kita dapat memetik pelajaran dari yang kita sebut dengan krisis keuangan, financial crisis. Dalam kurun waktu 10 tahun saja di dunia ini mengalami 2 kali krisis keuangan, yang pertama tepat 10 tahun yang lalu, 1997-1998, yang kita kenal dengan Asia Financial Crisis.

Yang kedua, sekarang ini meskipun seolah-olah yang mengalami krisis adalah Amerika Serikat, tapi kita semua tahu pengaruh dan dampaknya juga dirasakan oleh negara-negara lain, bahkan juga berpengaruh kepada pelambatan atau slowdown dari global ekonomi. Di Amerika sendiri bayang-bayang dan realitas resesi juga telah nampak.

Kalau kita melihat kembali, memotret kembali kedua krisis ini, krisis 1997-1998 dan krisis 2007-2008, 10 tahun kemudian. Maka pada krisis 10 tahun yang lalu, Indonesia was directly and badly hit. Kita merasakan betapa susahnya ekonomi kita waktu itu. Krisis sekarang ini memang seolah-olah Indonesia tidak directly hit by the crisis yang dipicu oleh kredit macet di perumahan di Amerika Serikat itu. Tetapi kalau kita kaitkan sekaligus dengan inflasi minyak dan harga pangan yang menggila ini, Indonesia juga directly hit dari dengan perkembangan global sekarang ini. Mengapa indirectly kalau ekonomi Amerika Serikat mengalami resesi? Dan ingat Amerika Serikat adalah satu partner penting dengan Indonesia di bidang ekspor dan investasi, sebagaimana Jepang dan negara-negara yang lain. Kalau ada resesi di negara itu tentu akan berkaitan dengan peluang ekspor kita, peluang investasi dan kerjasama bilateral yang lain, dan juga dengan negara-negara yang lain yang mendapatkan dampak dari krisis keuangan itu.

Oleh karena itu, barangkali pelajaran yang dapat kita petik dari konteks yang pertama ini adalah ekspansi yes dari segi keuangan perbankan untuk menggerakkan roda perekonomian, menggerakkan sektor riil. Tapi risk calculation, risk assessment yang tepat juga jangan ditinggalkan. Dan pelajaran yang kedua diperlukannya governance yang baik. Good corporate governance pada sisi pelaku, good governance pada sisi regulator. Inilah pelajaran berharga yang menurut saya meski kita petik, karena sekarang pun kita menghadapi another financial crisis dengan dimensi dan magnitude yang juga cukup besar.

Saudara-saudara,
Konteks yang kedua adalah berkaitan dengan topik atau tema dari konferensi ini, yaitu berkaitan dengan menuju masyarakat yang berkurang dengan penggunaan transaksi pembayaran secara tunai. Saya setuju dengan a less cash society. Nampaknya agak sulit kalau kita sebut dengan a free cash society. Kalau kita ingin membeli bakso keliling itu, sulit membayangkan kita menggunakan e-money.

Minggu lalu saya shalat berjamaah, shalat Jum’at di Magelang, kemudian biasanya ada kotak keliling untuk memberikan sumbangan pada kaum dhuafa dan fakir miskin, sulit kita masukan credit card dalam kotak itu. Jadi masih diperlukan. Tapi saya setuju, tidak mungkin kita bawa karung isinya cash untuk sebuah transaksi dalam skala menengah dan skala besar.

Saya dukung, saya dorong aplikasi IT dalam transaksi pembayaran di lingkungan perbankan maupun kegiatan perekonomian kita. Yang kita tuju adalah transaksi pembayaran itu must be faster, real time, cepat. Yang kedua, efisien. “Jadi handling cost-nya yang mesti lebih murah,” kata Ibu Miranda tadi. “Mencetak uang biayanya besar,” kata Pak Sigit Pramono tadi. Jadi mesti lebih efisien, kalau kita menggunakan e-money, menggunakan sesuatu yang tidak selalu tunai. Tapi yang ketiga meski saver, aman. E-money aman terhadap street crime, tapi mesti aman terhadap cyber crime. Mari kita bikin instrumen safety measures, supaya betul-betul aman dari berbagai jenis kejahatan apapun.

Dalam kaitan ini, saya mempersilakan kepada Saudara-saudara, peserta konferensi membahasnya secara mendalam karena banyak masalah teknis, masalah operasional, sistemnya seperti apa, modelnya seperti apa, instrumennya seperti apa, mekanismenya juga seperti apa yang kita sebut dengan a less cash society itu.

Saya berterima kasih dengan Bank Indonesia yang selama ini terus melakukan restrukturisasi, membangun arsitektur perbankan yang lebih credible, termasuk survei tadi sejauh mana kesiapan masyarakat kita menerima sistem ini dan sudah berapa banyak yang sudah mempraktekkan sistem ini. Demikian juga kepada Perbanas sebagai pelaku, teruslah berinovasi, teruslah kreatif untuk membangun sistem yang lebih baik.

Saudara-saudara,
Akhir dari konferensi ini, saya senang nanti mendengar apa yang telah dipikirkan dan dirumuskan secara bersama, karena Saudara-saudara adalah profesional dan juga expert di bidang ini. Harapan saya bisa dirumuskan satu perangkat yang betul-betul tepat dan credible. Itu konteks yang kedua. Konteks yang ketiga adalah saya ingin meletakan perkembangan situasi kontemporer, bagaimana keuangan dan perbankan kita utamanya pada tingkat nasional dapat berkontribusi secara lebih baik lagi dalam pembangunan ekonomi kita, termasuk mengatasi permasalahan ekonomi yang sedang kita hadapi dewasa ini.

Tentunya, baik dalam kaitan upaya kita terus membangun perekonomian dalam negeri pasca krisis dan juga apa yang bisa disumbangkan oleh sektor keuangan dan dunia perbankan, industri perbankan untuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang sedang kita hadapi. Dan konteks yang ketiga inilah yang nanti secara ringkas akan saya sampaikan, dengan harapan kita semua bisa menyatukan potensi kita, langkah kita, kerja kita, agar di satu sisi persoalan bisa kita atasi, di sisi lain kita terus bisa menumbuhkan, mengembangkan perekonomian nasional kita.

Saudara-saudara,
Saya ingin menggunakan kesempatan yang baik ini untuk mengajak Saudara melakukan satu refleksi, satu pencerahan tentang apa yang tengah berlangsung pada tingkat dunia sekarang ini, yang pengaruhnya juga kita rasakan, yaitu apa yang saya sebut dengan hukum, perilaku dan kadang-kadang unfairness dari globalisasi dan global capitalism.

Sepuluh tahun yang lalu pada bulan Maret 1998, Presidennya masih Pak Harto, saya berbicara di depan Sidang MPR sebagai Juru Bicara Fraksi ABRI MPR waktu itu, saya mengingatkan melalui mimbar MPR kepada rakyat Indonesia, bahwa kita harus betul-betul memahami hukum dan perilaku globalisasi, agar kita tidak mengalami shocks dan kita tidak reaktif, terlambat mengetahui bahwa dunia telah berubah dengan hukum-hukum dan perilakunya tersendiri. Kita tahu waktu itu puncak krisis dimulai dari krisis moneter, krisis ekonomi dan seterusnya, yang dalam pikiran saya, globalisasi ini dengan hukum-hukum tersendirinya, itu bisa mengakibatkan pihak-pihak yang tidak berdosa, yang innocent ikut menjadi korban. Kita rasakan.

Itulah kita masih ingat dulu ada debat yang keras antara Pak Mahathir Mohammad dengan George Soros. Dan kemudian belakangan tahun-tahun terakhir ini, ada yang menulis buku “Globalization and Its Discontents and to Make Globalization Work”, yaitu Joseph Stiglitz, penerima nobel dan saya sudah bertemu dengan ketiga Beliau itu. Itu menggambarkan bahwa globalisasi tetap membawa sisi baik dan sisi buruk. Kalau kita cerdas, kita bisa mengalirkan sumber-sumber dari globalisasi ini, opportunity. Tetapi kita juga harus mampu menghadapi sisi buruk, threat dari apa yang dialirkan ke negeri kita dalam era globalisasi ini.

Contoh untuk menjustifikasi pikiran ini adalah krisis harga minyak. Mengapa harga minyak yesterday tembus 122 dolar per barel? Apakah betul antara mismatch antara supply dengan demand? Apakah betul karena growing demand di India dan di China dan Amerika yang tetap tinggi? Apakah betul ada decline dari global production? Apakah ada betul ada geopolitical factors? Apakah betul ada psychology yang aneh, ada gangguan sedikit saja di Nigeria, di Scotland tiba-tiba harganya menaik tajam sekali? Ada statemen dari pejabat-pejabat perminyakan, menteri perminyakan, Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, harganya juga menggila-gila. Apa betul yang tadinya orang berdagang dalam tanda kutip pada stocks, pada modal beralih sekarang pada komoditas energi?

Tapi ini adalah contoh dari tatanan, dari games, dari play globalisasi yang banyak negara akhirnya menjadi korban dari meningkatnya harga minyak seperti ini. Yang tadinya satu liter minyak tanah kita hanya mensubsidi 4.000, sekarang satu liter minyak tanah kita mensubsidi 8.000 rupiah, bayangkan kali 9 juta kilo liter atau 9 milyar liter per tahunnya hanya dari minyak tanah. Indonesia kena, kita menjadi victim dari keganjilan, keanehan menyangkut kenaikan harga minyak ini. Krisis harga pangan kita tahu mengapanya satu, dua, tiga, empat tapi kita kena. Krisis keuangan di Amerika Serikat sudah saya jelaskan tadi, kita juga kena dampaknya.

Di sini saya mengajak kita secara jernih, membangun pemahaman yang terhadap sekali lagi hukum dan perilaku globalisasi. Jangka pendek memang kita terpukul, tapi saya mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia, Saudara-saudara, pelaku perbankan, pelaku ekonomi, pelaku usaha di negeri ini, mari kita segera dengan cerdas mengubah crisis ini menjadi opportunity. Insya Allah ini berkah bukan musibah. Kalau betul-betul kita bisa melakukan sesuatu yang sangat tepat di negeri kita ini. Kita punya sumber daya alam, kita punya wilayah yang luas, sehingga sangat mungkin meningkatkan produksi pangan, meningkatkan ketahanan energi, mendapatkan keuntungan dari booming harga-harga tambang, seperti batubara dan sumber daya mineral yang lain-lain. Saya ingin mengajak Saudara memahami sekali lagi realitas, globalisasi sekarang ini.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Dari cerita semuanya itu, maka 2 hal yang ingin saya kedepankan. Pertama, apa yang mesti kita lakukan pada tingkat multilateral, pada tingkat global dan regional bersama-sama dengan negara-negara sahabat? Kita menghadapi semuanya ini perlu bersama-sama membangun sistem dan praktek kerjasama global, termasuk kerjasama di bidang keuangan yang tidak rentan terhadap shocks, yang tidak mudah terjatuh dalam krisis apalagi meluas. Kita harus memilki mekanisme dan instrumen untuk menghadapi setiap kontijensi. Kita harus juga memiliki mekanisme untuk saling membantu apabila sebuah negara mengalami kesulitan yang besar. Contoh apa yang berlaku di forum Asia Timur, BSA (Bilateral Swap Arrangement), memberikan bantuan cadangan, secondline of defence apabila sebuah negara di kawasan Asia Timur ini mengalami krisis keuangan. Ini menunjuk satu contoh dan tentu banyak lagi format atau kerangka kerjasama yang bisa kita bangun. Dan kita juga harus mampu mencegah contingent effect dari terjadinya krisis di suatu negara untuk tidak dengan cepat meluas ke negara-negara yang lain. Itu yang mesti kita bangun bersama-sama, kita pikirkan, kita rumuskan seperti apa kerangkanya, mekanismenya, instrumennya.

Yang kedua, masih bertepatan dengan apa yang masih, yang mesti kita lakukan secara bersama pada tingkat global. Risk assessment, risk calculation, itu menurut saya tidak cukup hanya dilakukan para intra boundary, mesti ada satu ruang, bagaimana kita memikirkan, mengkalkulasikan, menghitung risk, risiko lintas negara inter boundary, mengingat ekonomi kita sudah terintegrasi dengan ekonomi global, tidak bisa masing-masing bikin pagar tinggi-tinggi dan tidak tembus dari pengaruh atau dampak manapun.

We need that kind of framework and instrument, and mechanism. Yang saya berharap forum ini atau forum-forum lain bisa dipikirkan secara bersama, bisa kita rumuskan secara bersama, bisa kita rumuskan secara bersama dengan negara-negara sahabat, dengan pelaku ekonomi dan usaha negara-negara yang lain.

Tingkat domestik, tingkat nasional, pertanyaannya sama, apa yang mesti kita lakukan, terutama menghadapi perkembangan situasi global dewasa ini? Saya ingin mengajak Saudara untuk memikirkan dan menjalankan 4 hal penting. Pertama, sistem dan governance kita harus benar-benar handal. Jangan tidak merasa cemas kalau kita punya sistem dan governance masih rapuh, harus credible karena ini dasar dari segalanya.

Yang kedua, tentunya termasuk sistem dan governance dari industri perbankan. Oleh karena itulah, reformasi, termasuk structural adjustment yang sedang kita lakukan harus terus kita lakukan, tuntas, sampai hasilnya nyata. Jadi pertama-tama, saya ingin melihat akar, landasan, bangun dari semuanya itu, agar menghadapi shocks, menghadapi discontinueties, kita akan tetap tahan.

Yang kedua, setelah kita memperkuat semuanya tadi, maka the real fundamentals harus makin kuat dan berketahanan. Makro ekonomi dalam hal ini menjadi sangat-sangat penting. Iklim investasi, iklim bisnis harus benar-benar kondusif, sehingga terjadi pergerakan ekonomi. Economic policy harus tepat. Monetary policy juga harus tepat. Diperlukan satu policy mix antara otoritas moneter dan otoritas fiskal. Dengan demikian, tidak pecah kongsi, dengan demikian tidak saling menjauh, tapi saling memperkuat. Ini yang kedua.

Ketiga, menghadapi volabilitas global sekarang ini, semua potensi, semua sumber daya, our resources harus dapat didayagunakan, dikelola dengan tepat, dengan sebaik-baiknya, agar terjadi pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan dalam arti yang umum. Dalam kaitan ini, kita punya banyak sumber daya, kita punya banyak potensi, mari kita yakinkan investasi, makin bergerak dan makin tumbuh. Infrastruktur harus terus kita bangun di seluruh tanah air. Kalau kita bicara investment, kita bicara infrastructure building, maka tentu sektor keuangan dan industri perbankan memilki peran yang sangat penting. Fungsi Saudara untuk melaksanakan intermediasi, tugas Saudara untuk menyalurkan kredit, dan langkah-langkah proaktif lainnya, jangan menunggu, agar investasi terus bergerak. Ini yang ketiga.

Yang keempat, yang tidak kalah pentingnya adalah menghadapi gejolak perekonomian global, yang tentunya juga menjadi gejolak perekonomian nasional, kita harus benar-benar melindungi dan membantu kaum lemah. Wilayah ini sering terabaikan dalam hukum dan perilaku global capitalism, tidak masuk dalam wilayah yang betul-betul menjadikan mendapatkan perhatian dari globalisasi sekarang ini.

Contoh, berkali-kali saya mengatakan menghadapi persoalan APBN, subsidi, saya mengatakan bahwa menaikkan harga BBM adalah jalan terakhir. Kalau tidak ada cara lain kecuali harus menaikkan BBM, bukan kecuali, hanya, setelah yang lain kita lakukan a, b, c, d, e, f dalam prosentase yang tepat, timing yang tepat, plus sejumlah instrumen, sejumlah paket bantuan untuk melindungi, mencegah golongan ekonomi lemah menerima beban yang terlalu berat. Lagi-lagi ini beyond pertimbangan ekonomi, tapi ini adalah dimensi sosial, dimensi kemanusiaan, dimensi keadilan yang harus betul-betul kita pertimbangkan.

Saya mendapat SMS cukup banyak minggu ini, ragamnya macam-macam, dari rakyat, dari rakyat mungkin tidak masuk di koran-koran, di majalah, di tayangan televisi, karena tiap hari ratusan, kadang-kadang ribuan SMS masuk. Yang kami ketahui, apa yang menjadi aspirasi pikiran, feedback dari rakyat kita. Ada yang mengatakan, “Pak SBY, kalau naikan BBM nanti saja, Pak setelah pilpres.” Saya mengatakan kalau itu yang menjadi pertimbangan, salah, berdosa saya, berarti hanya memikirkan diri sendiri. Bukan itu pertimbangannya. Apakah dengan menaikan BBM itu membawa kebaikan bagi negeri kita atau tidak? Dan apabila BBM itu dinaikan apa yang mesti saya lakukan untuk melindungi yang lemah, yang miskin apalagi. Itu pertimbangannya. Bukan pertimbangan politik praktis, bukan pertimbangan kepentingan orang-seorang.

Ada juga SMS yang masuk, “Pak SBY, terus terang kalau kelompok menengah inikan mampu, Pak, terus terang apalagi yang kuat, yang kaya. Jadi kenaikan harga BBM itu bisa kami menerima, memang suaranya keras, noise akan ada nanti, tapi jujur Pak, kami bisa. Negara lain juga sudah naik, tinggal Indonesia yang belum. Cuma, Pak pertimbangkan ekonomi yang lemah, saudara-saudara kami yang miskin.” Ada SMS seperti itu. Kami dengar, disamping siang dan malam Pemerintah, DPR, sekarang Menteri Keuangan sedang berkonsultasi dengan Panitia Anggaran dan teman-teman di DPR RI merumuskan solusi yang terbaik. Kami juga pada tingkat pemerintah terus melakukan exercise, sambil mendengarkan apa aspirasi dan pandangan rakyat kita. Yang jelas ini riil.

Oleh karena itulah, Saudara tahu bahwa Pemerintah telah mengembangkan tiga cluster untuk menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Cluster pertama, bantuan langsung kepada masyarakat, beras untuk rakyat miskin, pendidikan gratis bagi yang miskin, kesehatan atau berobat gratis bagi yang miskin, bantuan langsung tunai bersyarat dan sejumlah instrumen yang kita sebut cluster perlindungan dan bantuan sosial, bertrilyun-trilyun rupiah kita keluarkan anggaran untuk itu.

Cluster yang kedua, kalau tadi itu ikannya, kailnya adalah kita keluarkan anggaran bertrilyun-trilyun untuk pemberdayaan masyarakat lokal, tingkat Kecamatan dengan Desa-desanya. Tahun depan bahkan semua Kecamatan akan dapat, satu Kecamatan rata-rata 3 milyar rupiah, agar pembangunan lokal bergerak dan ternyata efektif.

Cluster yang ketiga, Saudara juga tahu adalah Kredit Usaha Rakyat. Inilah yang saya minta bantuan, dukungan dari dunia perbankan. Tesis saya adalah ada jutaan usaha mikro, ini Menteri UKM juga di sini. Tukang pecel, tukang bakso, kerajinan, kelompok usaha lele, koperasi di pertanian x dan usaha kecil menengah yang lain. Kalau mereka mendapatkan modal, bergerak, tumbuh, income orang-seorang akan naik, kemiskinan pasti berkurang, kesejahteraan pasti naik. Oleh karena itu, saya berharap perbankan betul-betul memprioritaskan penyaluran kredit untuk usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah, baik dalam format pola penjaminan Pemerintah maupun dengan format yang regular, yang biasa dilakukan.

Oleh karena itu, saya senang tadi akan ada award atau penghargaan bagi Bank Perkreditan Rakyat yang memberikan kredit usaha mikro kecil itu agar mereka juga mendapatkan ruang yang pantas dan bisa menjalankan tugasnya lebih baik lagi. Demikian juga pola-pola yang lain, Bank Syariah dan sejumlah paket silakan dikembangkan untuk membantu usaha mikro kecil dan menengah ini. Itulah yang keempat, yang sangat penting.

Saudara-saudara,
Kita harus mengubah paradigma dan mindset, tidak bisa rakyat diminta untuk, “Sudahlah sabar dulu, karena kita ingin membangun lebih cepat, pertumbuhan lebih tinggi, toh nanti semua akan kita nikmati secara bersama.” Keliru. Sejak awal pun growth must be inclusive, growth must be broad based. Kita harus melindungi, to protect, to rescue the poor. Oleh karena itulah, dari anggaran pun kita alirkan yang cukup besar untuk social safety nett disamping untuk growth stimulation. Saya sungguh mengajak terima kasih pada perbankan yang sudah menyalurkan lebih banyak lagi kredit usaha rakyat selama ini.

Hadirin yang saya hormati,
Menutup dari sambutan saya ini, maka a less cash society yang hendak kita bangun secara umum harus dapat mendukung, harus compatible dan klop dengan apa yang saya sampaikan tadi, satu, dua, tiga, empat. Apa yang Saudara ingin kembangkan, kerjasamakan, juga klop, baik dalam kerjasama global regional maupun dalam pengembangan perekonomian di tanah air kita.

Kalau itu kita lakukan, maka kita bukan hanya ingin menanam, membesarkan pohon yang sehat dan indah, tapi kita juga ingin memelihara rimba yang luas dengan ekosistem yang baik. Itu akan lebih abadi, itu akan lebih lestari meletakan sesuatu dalam konteks. Dengan demikian, ada perubahan apapun, dinamika apapun, kita tidak akan pernah mengalami disorientasi, kita mengerti masalahnya apa, solusinya seperti apa, jangka pendek apa, jangka menengah dan jangka panjang apa.

Itulah Saudara-saudara yang saya sampaikan. Dan dengan pesan, ajakan, dan harapan itu, dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT dan dengan mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim”, The 2008 Asia Pacific Conference and Exhibition on Financial Transformation dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan