Pidato Presiden
Sambutan Peringatan Hari Malaria Sedunia dan Peresmian Gedung A Unit Rawat Inap Terpadu RSCM
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN HARI MALARIA SEDUNIA TAHUN 2008 DAN
PERESMIAN GEDUNG A UNIT RAWAT INAP TERPADU RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL (RSUPN) DR. CIPTO MANGUNKUSUMO
RSCM, 8 MEI 2008
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudari Menteri Kesehatan Republik Indonesia dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Gubernur DKI Jakarta dan para Gubernur, Bupati, Walikota yang turut hadir dalam acara ini,
Yang saya hormati Saudara Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo,
Yang saya hormati Pimpinan Perwakilan Organisasi Kesehatan Sedunia dan Pimpinan Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat, Keluarga Besar Departemen Kesehatan, serta para Pimpinan Instansi Kesehatan di seluruh Indonesia,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita atas rahmat dan ridho-Nya masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan karya kita, tugas kita, serta pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
Kita juga bersyukur hari ini dapat hadir di tempat ini untuk mengikuti 2 kegiatan penting. Pertama adalah bersama-sama memperingati Hari Malaria Sedunia. Saya kira ini pertama kali, negara kita secara resmi melakukan Puncak Peringatan Hari Malaria Sedunia ini secara nasional. Dan yang kedua, kita juga menghadiri Peresmian Gedung Rawat Inap Terpadu di Rumah Sakit ini yang tujuan, sasaran, serta proses pembangunannya telah disampaikan tadi oleh Menteri Kesehatan.
Saudara-saudara,
Pada kesempatan yang baik ini pula atas nama negara, atas nama Pemerintah, dan selaku pribadi, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pimpinan dan Jajaran Kesehatan Pemerintah di seluruh tanah air, termasuk Pimpinan-pimpinan dan Anggota Lembaga Swadaya Masyarakat dan Sukarelawan Kesehatan dan tentunya, termasuk Pimpinan dan Jajaran Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo sejak berdiri hingga sekarang ini atas perjuangan, upaya, dan kerja kerasnya untuk menyukseskan pembangunan di sektor kesehatan hingga saat ini, termasuk tentunya upaya keras Saudara-saudara di dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit malaria.
Tahun ini menandai 1 abad Kebangkitan Nasional. Berbicara Kebangkitan Nasional, kita diingatkan atas perjuangan generasi 1908. Adalah menjadi catatan sejarah bahwa para founding fathers kita itu, para pejuang dan pelaku Kebangkitan Nasional 100 tahun yang lalu itu, sebagian besar dipelopori oleh para dokter, termasuk di antaranya Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Dr. Cipto Mangunkusumo. Saya kira patut bertepuk tangan dan komunitas kedokteran dan jajaran kesehatan secara umum. Saya berharap 100 tahun ke depan, para dokter, komunitas kesehatan juga ikut berdiri di depan untuk membangun masa depan yang lebih baik, membangun derajat kesehatan manusia Indonesia, sehingga manusia Indonesia lebih unggul, lebih sehat, dan lebih berdaya saing.
Saudara-saudara,
Pembangunan kesehatan menempati prioritas yang tinggi, menjadi agenda utama kita, baik pada tingkat Pusat, maupun pada tingkat Daerah. Kita ingin bersama-sama dengan pembangunan di sektor pendidikan dan peningkatan pendapatan rakyat kita, kesehatan juga dapat ditingkatkan, sehingga kualitas hidup rakyat kita, the quality of life of the Indonesian people, terus dapat kita tingkatkan. Kita tahu kesehatan, pendidikan, dan pendapatan orang-seorang adalah menjadi ukuran dari indeks pembangunan manusia, human development index, dan juga menjadi sasaran utama dari yang kita kenal dengan MDGs, Millennium Development Goal`s.
Saudara-saudara,
Anggaran di bidang kesehatan dari tahun ke tahun terus meningkat. Pemerintah bersama DPR, saya melihat hadir juga di sini para Pimpinan dan unsur dari DPR RI, terima kasih atas kehadirannya. Pemerintah bersama DPR terus meningkatkan anggaran di bidang kesehatan secara signifikan. Tahun 2005 anggaran kita berjumlah Rp 11,76 triliun, tahun 2006 meningkat menjadi Rp 16,39 triliun, tahun 2007 yang lalu meningkat menjadi Rp 22,13 triliun atau hampir 2 kali lipat. Tahun ini meningkat lagi meskipun ada penyesuaian karena persoalan ekonomi yang muncul tahun ini, kita semua tahu tingginya harga minyak dan beban yang tinggi dari APBN kita.
Dalam kurun waktu 3,5 tahun lebih ini, saya bersama Menteri terkait, bersama Menteri Kesehatan, bersama Gubernur, Bupati, Walikota berkunjung ke berbagai pelosok daerah, melihat langsung kondisi masyarakat kita dari aspek kesehatan, melihat fasilitas kesehatan yang kita bangun dan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh para dokter, oleh paramedis dan semua yang berjuang untuk meningkatkan kesehatan masyarakat kita.
Hadirin yang saya hormati,
Kebijakan Pemerintah sangat jelas. Pada saat saya berkunjung ke Departemen Kesehatan tahun lalu, tepatnya pada tanggal 3 Maret 2007 dan kemudian saya berkunjung lagi bulan Februari yang lalu, saya mengingatkan bahwa kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan adalah agar kesehatan kita makin berkualitas, makin murah, dan gratis bagi yang miskin, dan mudah dijangkau oleh mereka yang memerlukan pelayanan kesehatan. Banyak rumusan tentang kemajuan sektor kesehatan, tetapi saya menggunakan istilah yang mudah, yang bisa diikuti oleh masyarakat luas, apakah kesehatan kita makin berkualitas, makin murah, makin mudah dijangkau dan bagi yang miskin kita gratiskan.
Oleh karena itulah, kita ingin terus mengembangkan dan meningkatkan secara besar-besaran fasilitas dan pelayan kesehatan pada tingkat masyarakat luas, utamanya atau termasuk golongan masyarakat yang tidak mampu. Kita juga terus merevitalisasi program-program kesehatan yang dulu kita lakukan, pada masa reformasi ini tidak diaktifkan, seperti Pekan Imunisasi Nasional, aktivitas Posyandu, Pos Keluarga Berencana dan lain-lain. Saya katakan program itu tetap relevan, baik, jangan karena pergantian kepemimpinan politik, program-program yang baik tidak kita lanjutkan. Program di masa yang lalu, sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati yang masih tetap relevan harus kita lanjutkan. Begitu cara kita mengelola negara dan menjalankan roda pemerintahan.
Khusus penyakit menular, kebijakan dan instruksi saya selaku Presiden sangat jelas, termasuk gizi buruk untuk terus ditingkatkan penanggulangannya. Bahkan saya ulangi lagi pengarahan saya pada bulan Februari untuk lebih serius lagi kita menanggulangi penyakit menular, utamanya malaria, TB, HIV/AIDS, DB dan flu burung. Saya juga mengatakan waktu itu, saya dukung penuh dan mari kita sukseskan program yang kita sebut dengan “Save Papua”. Gubernur Papua juga hadir di sini. Kita ingin membangun dan menjalankan sebuah model terpadu yang kita laksanakan di Papua tahun ini, yang memprioritaskan penanggulangan secara terpadu HIV/AIDS, malaria dan TB. Dengan menggunakan anggaran yang tidak sedikit sejumlah Rp 765 miliar.
Saya berharap Saudari Menteri Kesehatan, Gubernur Papua bisa melakukan evaluasi di akhir program ini. Kalau program itu ternyata efektif, bisa kita jadikan model di daerah-daerah yang lain, tentu disesuaikan dengan situasi dan kondisi Provinsi ataupun Kabupaten, Kota yang bersangkutan. Ini adalah wujud dari kebijakan program dan langkah-langkah nyata yang kita lakukan. Saya berharap makin ke depan makin kita tingkatkan secara efektif.
Hadirin yang saya hormati,
Saya ingin menyampaikan ajakan dan harapan berkaitan dengan Peringatan Hari Malaria Sedunia Tahun 2008 ini. Menteri Kesehatan telah menjelaskan bahwa malaria adalah masalah global. Oleh karena itu, diperlukan komitmen global dan kerjasama global. Kita mengetahui pula malaria disebut sebagai reemerging disease, penyakit yang tiba-tiba mengalami peningkatan, dan itu terjadi di 105 negara. Dikatakan tadi penderitanya 300 sampai 500 juta, cukup besar dari jumlah penduduk bumi yang berkisar 6,4 miliar. Tiap tahun meninggal 1 juta, cukup besar, sama dengan ⅓ atau ¼ penduduk Singapura. 6% diantaranya berada di Asia selatan dan Asia Tenggara, tentu Indonesia bagian dari 6% itu, dari total penderita malaria sedunia.
Mengapa tiba-tiba muncul kembali, naik kembali, faktor yang sudah kita kenali adalah karena perubahan iklim, climate change, yang tadi kita saksikan dalam tayangan di depan kita, yang mengakibatkan meluasnya breeding places, tempat-tempat dimana malaria bisa berkembang biak dengan cepat. Oleh karena itu, kita bergembira bahwa dunia bersepakat untuk menuntaskan pemberantasan penyakit malaria ini secara terpadu dan secara sungguh-sungguh atau all out, bahkan telah dijadikan salah satu sasaran dalam Millennium Development Goal`s yang insya Allah pada tahun 2015 mendatang kita bisa capai sasaran-sasaran itu.
Saudara-saudara,
Tema Hari Malaria yang kita pilih atau yang dipilih dalam Hari Malaria Sedunia ini, saya kira tepat, “Ayo berantas malaria”, dengan subtema “Kelambu terpasang, tidur tenang, malaria hilang”. Oleh karena itu, para Gubernur yang sudah menerima kelambu, segeralah didistribusikan, segera dipakai oleh saudara-saudara kita. Berapa jumlahnya tadi? Jumlahnya itu 2.196.620 kelambu dan 127 ribu paket obat yang berkaitan dengan penyakit ini. Saya kira kalau segera dipakai akan menolong banyak. Saya dan istri, baik di Cikeas maupun di Istana juga pakai kelambu. Meskipun Jakarta sudah dinyatakan sebagai bebas malaria, tetapi saya patuh kepada anjuran, supaya lebih aman lagi. Silakan dicek kalau tidak percaya.
Hadirin sekalian,
Di negeri kita sendiri dan sekali lagi saya berterima kasih dengan Saudara-saudara para pejuang kesehatan yang bekerja tidak kenal lelah. Penanggulangan malaria yang kita lakukan kecenderungannya membaik, makin efektif. Dalam 3 tahun terakhir catatan saya yang saya terima waktu saya berkunjung ke Depkes bulan Februari yang lalu, kematian atau angka kematian terus menurun. Tahun 2005, 0,92% hampir 1% yang meninggal dari jumlah yang terkena penyakit itu. Tahun 2006 berkurang menjadi 0,42%. Tahun 2007 menjadi 0,2 %. Tepuk tangan. Namun jangan cepat berpuas diri, harus dilaksanakan terus lebih gigih lagi, kita bikin nol. Kita harus punya determinasi, punya keyakinan dengan kerja keras sangat bisa untuk kita bikin nol di negeri ini.
Oleh karena itu, seluruh Jajaran Kesehatan Pemerintah teruslah melakukan langkah-langkah yang efektif, yang nyata untuk pemberantasan penyakit malaria ini, paling tidak ada 3 hal yang saya instruksikan kepada Saudara-saudara, Pertama, tingkatkan pendidikan atau edukasi, sosialisasi dan advokasi kepada masyarakat luas, agar mereka makin sadar, makin waspada terhadap penyakit malaria ini. Jangan pernah berhenti, terus saja dilaksanakan melalui berbagai cara dan media, pertama.
Yang kedua, tingkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas sendiri, termasuk bagaimana melakukan perawatan, menggunakan obat-obatan yang cespleng. Tadi di depan kita lihat teknologi yang digunakan, aplikasikan teknologi itu sehingga perawatannya menjadi lebih efektif.
Dan yang ketiga, tadi kita lihat genangan-genangan air yang statis, yang menjadi tempat yang subur bagi nyamuk yang membawa penyakit malaria itu, peliharalah lingkungan yang bersih dan sehat di setiap wilayah, RT, RW, Desa, pojok-pojok negeri ini. Saya kalau berkunjung ke daerah para Gubernur, Bupati, Walikota begitu lihat tempat kotor, saya langsung berkomentar, “Kotanya bagus, tapi ada sudut-sudur yang kotor, air tergenang”. Jangan. Kalau kita ingin menjadikan Indonesia Sehat ya berseri, bersih, sehat, rapi, indah dan itu termasuk kepemimpinan, kepemimpinan Kepala Desa, Camat harus menjamah tempat-tempat seperti itu. Kalau Bupati, Walikota turun ke lapangan harus melihat, apakah masih ada seperti-seperti itu. Pemberantasan penyakit menular juga terpulang pada perhatian pribadi, kepemimpinan dan turunnya para pemimpin di lapangan, melihat langsung, apakah upaya itu telah dilaksanakan dengan benar.
Tiga hal inilah yang saya intruksikan untuk dilaksanakan oleh kita semua, jajaran kesehatan utamanya, agar lebih bagus lagi hasil yang kita capai di waktu yang akan datang. Ingat Saudara-saudara, visi Indonesia Sehat 2010 yang telah kita canangkan 3 tahun yang lalu, tiga, lingkungan sehat, perilaku sehat, pelayanan kesehatan bermutu dan terjangkau oleh masyarakat. Sederhana sekali, tapi riil dan itulah yang kita jadikan visi untuk kesehatan 2010.
Hadirin yang saya hormati,
Setelah kita berbicara tentang upaya bersama kita untuk mengatasi malaria, saya ingin menyampaikan ajakan, harapan terhadap apa yang mesti kita lakukan dengan pengembangan fasilitas kesehatan rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat dan fasilitas-fasilitas yang lain, menandai akan diresmikannya Gedung Unit Rawat Inap Terpadu di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo ini.
Pertama-tama, saya ucapkan selamat dan terima kasih atas pembangunan gedung ini. Departemen Kesehatan, Pimpinan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan semua pihak yang bisa menghadirkan gedung di belakang ini. Biaya pembangunan dilaporkan tadi Rp 123 miliar, saya anggap biaya yang memang perlu dikeluarkan. Ini termasuk produktif karena banyak biaya yang sebesar itu lebih bersifat konsumtif dalam era tekanan ekonomi global, dalam menghadapi tekanan APBN dan APBD. Hentikan sekali lagi, pembangunan gedung, pembangunan fasilitas yang tidak sangat diperlukan, apalagi yang tidak produktif. Ini contoh produktif, karena langsung diabdikan untuk membantu saudara-saudara kita, apalagi golongan menengah ke bawah, golongan yang tidak mampu, saudara-saudara kita yang masih miskin.
Kita tentu ingin meningkatkan kualitas rumah sakit di seluruh tanah air. Rumah sakit-rumah sakit utama, rumah sakit besar yang berkategori kelas world class hospitals. Saya masih ingat, 1, 2 bulan setelah saya mengemban amanah sebagai Presiden, ada yang datang kepada saya, “Pak Presiden, alangkah bagusnya kalau Indonesia memiliki lebih banyak modern hospital rumah sakit modern bertaraf internasional”. Kata beliau yang menyarankan kepada saya itu, “Kan enggak lucu, Pak, dikit-dikit orang kita yang mampu, yang kaya berobatnya ke Singapura, berobatnya ke Perth, berobatnya kemana, Tokyo, berobatnya ke Eropa, Amerika dan lain-lain. Kita kan mampu, dokter kita, spesialis kita, teknologi bisa kita dapatkan, bisa kita bangun dan seterusnya dan seterusnya.”
Jawaban saya waktu itu adalah saya setuju dengan 2 catatan. Catatan pertama, setelah kita perbaiki, tingkatkan dan perluas fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dan Puskesmas yang sangat diperlukan oleh masyarakat luas, terutama mereka golongan tidak mampu. Ini catatan pertama.
Catatan yang kedua, kalau itu berupa modern hospital, apalagi skalanya besar, anggaran banyak, bangun partnership, dorong swasta, tentu dalam kerangka kemitraan dengan Pemerintah. Dengan demikian tidak terlalu banyak menggunakan APBN kita, tapi kita gunakan sumber daya lain, dengan demikian APBN kita lebih kita arahkan untuk pembangunan fasilitas dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang masih memerlukan.
Dan apa yang kita tekadkan bersama waktu itu, alhamdulillah telah menjadi kenyataan. Saya berikan contohnya bahwa ini bukan wacana, ada yang menulis buku katanya Pemerintah atau SBY ini hanya angin. Saya kira gedung ini bukan angin. Tapi ndak apa-apa dalam demokrasi, semua bebas menyampaikan pikiran dan pendapatnya. Menghadapi seperti itu, mari Saudara-saudara, kita betul-betul membuktikan menjadi sesuatu yang konkret dan bukan hanya angin, bukan hanya wacana.
Kembali kepada yang tadi, Puskesmas tahun 2005 jumlahnya 7.669, tahun 2007, tahun lalu berarti, jumlahnya naik menjadi 8.114. Posyandu tahun 2005 jumlahnya 228.659, tahun 2007 yang lalu telah meningkat 269.202. Puskesdes tahun 2005 belum ada, masih angin betul itu. Tahun 2007, dua tahun kita bangun, sekarang kita memiliki Puskesdes 33.910. Pos Kesehatan Pesantren tahun 2005 belum ada, tahun 2007, 600 buah. Saya ingin Puskesmas, Poskesdes, Poskestren dan fasilitas seperti itu terus kita tingkatkan sejalan dengan pembangunan rumah sakit yang lebih bertarap internasional pelayanannya, termasuk seperti yang kita insya Allah akan kita resmikan sebentar lagi.
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini banyak sekali jasa dan andilnya kepada bangsa dan negara. Sejak didirikan pada tahun 1919, mari kita lanjutkan, mari kita teladani semangat, komitmen, rasa kebangsaan Dr. Cipto Mangunkusumo. Saya mendengar cucu beliau ada di sini, bertugas di rumah sakit ini, Ibu Dr. Endang Mangunkusumo. Ada beliau? Baik. Sampaikan salam saya. Mudah-mudahan lebih banyak lagi, Dr. Cipto Mangunkusumo, Dr. Wahidin Sudirohusodo di masa depan yang memiliki cita-cita luhur, keberanian untuk melakukan sesuatu, dan rasa kebangsaan dan kemanusiaan yang tinggi.
Teruslah Saudara Direktur Utama untuk Prof. Dr. Akmal Taher untuk menjadikan rumah sakit ini sebagai salah satu center of excellence. Saya yakin bisa untuk makin ditingkatkan kehandalan dari rumah sakit ini. Kita kenal rumah sakit ini memiliki 3 wilayah yang dilaksanakan dengan baik. Pertama, pelayanan. Bikin pelayanan di rumah sakit ini menjadi pelayanan terbaik. Yang kedua, pendidikan yang efektif. Saya melihat foto-foto gedung ini, tempat-tempat untuk pendidikan, tempat kuliah, jangan diabaikan dan pendidikan seperti ini akan efektif, karena langsung melihat realitas, mengenali keadaan, berpikir bagaimana menemukan cara-cara perawatannya yang lebih tepat. Dan yang ketiga, keunggulan dari rumah sakit ini di bidang penelitian, kesehatan dan kedokteran. Kalau tiga-tiganya terus dilakukan, maka rumah sakit ini akan benar-benar world class hospitals, menjadi center of excellence.
Hadirin sekalian,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya ingin menyampaikan secara ringkas isu lain, yang tentu ada pengaruhnya dengan pembangunan sektor kesehatan, terutama berkaitan dengan anggaran Departemen Kesehatan, termasuk anggaran-anggaran di daerah yang menganggari, yang membiayai pembangunan kesehatan. Kita tahu sekarang ini kita menghadapi 3 krisis dalam tingkat global, minyak, pangan dan keuangan yang juga menjadikan pelambatan ekonomi global. Kita tahu perekonomian kita terpukul, mendapatkan beban yang berat akibat itu. Kita juga tahu APBN kita mengalami beban yang sangat berat, terutama berkaitan dengan subsidi BBM. Kita pun juga tahu, meskipun APBN kita mengalami tekanan yang berat, solusinya tidak mungkin hanya mengurangi subsidi BBM itu, solusinya tidak mungkin hanya, ya sudah kalau begitu kita naikkan BBM, habis perkara, tidak perlu solusi-solusi yang lain.
Saya ingin menjelaskan dengan terus terang kepada Saudara-saudara apa yang sedang Pemerintah lakukan, yang kalau mengait kepada APBN juga dilaksanakan bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Pukulan yang paling berat memang minyak, khususnya subsidi BBM, pangan juga ada, tapi bisa kita atasi, gejolak keuangan global, resesi ekonomi di beberapa negara dampaknya ada pada ekspor dan investasi, tapi insya Allah bisa kita atasi. Yang terberat memang subsidi BBM.
Tahun 2005, harga minyak mentah itu 60 dolar per barel, sekarang tahun 2008, harganya 120 dolar per barel, naik 2 kali lipat. Mengikuti logika ini kalau kita ambil gampangnya ya sudah, kalau gitu BBM kita naikkan 100%, karena naik 2 kali lipat, begitu. Tentu ini tidak mungkin, ini tidak tepat dan sangat membebani kehidupan masyarakat, terutama golongan tidak mampu dan golongan miskin. Oleh karena itulah, serangkaian solusi, serangkaian opsi, kebijakan yang komprehensif terus digodok, dimatangkan sekarang ini, dan kalau menyangkut APBN sekali lagi bersama-sama dengan DPR agar solusinya betul-betul tepat.
Salah satu solusi yang kita pilih, penghematan secara menyeluruh, baik pada tingkat pengeluaran pembelanjaan negara, maupun penghematan penggunaan energi masyarakat. Departemen Kesehatan, itu Siti Fadilah Supari tentu mengalami penyesuaian, demikian juga Departemen-departemen yang lain. Tetapi sadarilah bahwa itu salah satu wujud atau bagian dari penyelamatan APBN kita. Tetapi meskipun kita kurangi beberapa pos yang bisa kurangi, kita tunda nanti kalau kondisi ekonomi dunia sudah membaik, ekonomi kita pun juga terbebas dari beban yang sangat berat itu, biaya untuk penanggulangan kemiskinan, biaya untuk membantu dan melindungi masyarakat yang tidak mampu kita pertahankan, bahkan kita tingkatkan, apakah cluster bantuan langsung, apakah cluster pemberdayaan masyarakat, maupun cluster kredit usaha untuk usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah.
Saudara-saudara,
Sebetulnya Pemerintah dengan DPR telah melakukan perubahan APBN 2008. APBN 2008 yang saya sampaikan di depan Sidang Paripurna DPR RI tahun lalu, 16 Agustus yang akhirnya menjadi APBNP Tahun 2008, asumsi harga minyak 60 dolar per barel. Meskipun 4 bulan terakhir ini luar biasa tekanan itu dan kepada Pemerintah diminta untuk segera menyesuaikan bahan bakar, tapi Pemerintah dengan DPR dalam APBNP sudah menaikkan asumsi itu 95 ribu dolar per barel. Dalam kaitan itu meskipun tidak ideal, kita berpendapat masih tidak kita naikkan harga BBM itu. Sekarang harganya menjadi 120 dolar per barel.
Oleh karena itulah, kita sedang godok, matangkan bagaimana solusi untuk mengatasi ini, agar tidak menjadikan kebangkrutan APBN yang memukul seluruh kehidupan ekonomi di negara kita. Ini yang ingin saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini untuk menjadikan pemahaman, pengertian masyarakat luas. Dan sekali lagi kalau menyangkut penghematan, Saudara-saudara tolong dimengerti, jangan dalam keadaan ini masing-masing tidak mau dikurangi anggarannya, harus dikurangi, apalagi yang tadi itu yang konsumtif, yang masih bisa ditunda dan seterusnya dan seterusnya.
Demikianlah yang saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini, baik yang menyangkut Peringatan Hari Malaria Sedunia, yang menyangkut Peresmian Gedung Unit Rawat Inap Terpadu di rumah sakit ini, dan menyangkut perkembangan situasi perekonomian kita yang memerlukan jalan keluar yang baik dan tepat.
Dan setelah saya menyampaikan ajakan dan harapan kepada Saudara-saudara semua, maka dengan terlebih dahulu memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, serta mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim”, Gedung A Unit Rawat Inap Terpadu Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, saya nyatakan dengan resmi penggunaannya.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



