Pidato Presiden
Sambutan HUT ke-9 Harian Rakyat Merdeka
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
MENGHADIRI PERAYAHAN 9 TAHUN HARIAN RAKYAT MERDEKA
HOTEL MULIA, JAKARTA
16 MEI 2008
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Ketua Mahkamah Konstitusi, Saudara Wakil Ketua DPD RI, Saudara Menteri Komunikasi dan Informatika, dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, para unsur Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Saudara Ketua KPK, para Diplomat Senior, para Pimpinan Media Massa,
Yang saya hormati Pimpinan Harian Rakyat Merdeka, hadir di sini juga para Gubernur, Keluarga Besar Harian Rakyat Merdeka yang saya cintai,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.
Atas nama Pemerintah dan selaku pribadi pada kesempatan yang membahagiakan ini, saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Keluarga Besar Harian Rakyat Merdeka. Tahun lalu dalam Peringatan Sewindu Rakyat Merdeka, saya juga hadir, dan kemudian tahun ini alhamdulillah bisa hadir kembali dan saya mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan yang telah mengundang saya, beserta para undangan yang lain.
Kemarin hari Kamis, ada yang bertanya kepada saya, apakah saya hadir dalam Perayaan 9 Tahun Rakyat Merdeka? Saya bertanya, “Mengapa tanya seperti itu kepada saya” “Kan judul-judul Rakyat Merdeka sering tidak bersahabat dengan Pak SBY”. Saya katakan pada mereka, Rakyat Merdeka adalah sahabat saya. Meskipun kadang-kadang terus terang saya tidak happy dengan judul-judul, meskipun isinya baik, tetapi kita tetap berkawan, kita tetap berkomunikasi, kita tetap memelihara silaturahim dan itulah indahnya demokrasi.
Saudara-saudara,
Sebagaimana yang saya sampaikan pada Perayaan Sewindu Rakyat Merdeka tahun lalu, waktu itu saya berpesan agar karakter yang khas, yang unik dari Rakyat Merdeka tetap dipertahankan. Saya tahu harian ini sesungguhnya ingin merekam pikiran rakyat, ingin mewadahi apa yang disuarakan oleh rakyat. Kemudian mengkomunikasikannya, mengekpresikannya melalui Harian Rakyat Merdeka ini. Dan tentunya semua itu dalam bingkai kritik sosial dan kontrol sosial yang menjadi keniscayaan dalam kehidupan demokrasi.
Saya berpesan, saya ulangi pesan saya tahun lalu, pertahankan karakter itu apa yang menjadi ciri khas dari Harian Rakyat Merdeka ini, tentu tanpa meninggalkan idealisme, azas manfaat dan batas-batas kepatutan. Kalau itu ada di dalamnya, saya yakin Rakyat Merdeka terus tumbuh menjadi harian yang dicintai oleh rakyat kita.
Hadirin yang saya muliakan,
Dalam Peringatan Hari Pers Nasional tahun ini di Semarang, waktu itu saya mengajak kepada semua insan pers untuk membangun budaya self sensoring, self controlling dari komunitas pers itu sendiri yang melakukan self sensoring. Sebab kalau tidak, maka rakyat yang akan menyensor, yang akan mengontrol dan tentunya bukan Pemerintah. Karena era Pemerintah mengontrol pikiran, Pemerintah mengontrol kehidupan pers sampai dengan tindakan-tindakan yang represif sudah lama berakhir dan itu harus kita pertahankan sebagai bagian dari mekarnya kebebasan dan demokrasi di negeri ini.
Tema yang diangkat oleh Rakyat Merdeka tahun ini, “Korupsi No“. Saya kira ini sebagaimana Bung Margiono tadi tetap waktu, tepat tema dan senantiasa relevan. Saya sering mengatakan di berbagai kesempatan bahwa ideologi kita dalam tanda kutip dewasa ini, dalam era reformasi ini adalah pencegahan dan pemberantasan korupsi.
Ada dialog saya pada tahun 2005 awal dengan beberapa Pemimpin Negara Sahabat yang konon oleh dunia dianggap berhasil memberantas korupsi, menegakkan sistem pemerintahan yang bersih. Saya bertukar pikiran, saya sampaikan bahwa Indonesia ingin melaksanakan pencegahan dan pemberantasan korupsi secara lebih efektif. Saya minta apa nasehat Anda. Katanya sekali melakukan pemberantasan korupsi, tidak boleh berhenti, harus jalan meskipun tantangannya sangat-sangat luar biasa. Beliau, sahabat saya itu mengatakan untuk negara anda yang saya ketahui it takes times, mungkin bisa 15 sampai 20 tahun sampai sistem anda betul-betul bersih. Waktu itu saya sampaikan hasil dialog itu kepada pers. Dan sambutannya beragam dikatakan mengapa lama sekali, 15 tahun dan seterusnya dan seterusnya. Tapi jawabannya saya sudahlah tidak usah dipergunjingkan berapa tahun, yang penting mulai sekarang mari kita lakukan pemberantasan korupsi yang sungguh efektif.
Kenyataannya Saudara-saudara, kita merasakan tidak semuanya nyaman dengan upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi ini. Ada rintangan di sana sini, ada perlawanan di banyak tempat. Tetapi show must go on ini yang perlu kita canangkan.
Saya juga berpesan kepada para penegak hukum, para Jaksa, Anggota Kepolisian, teman-teman dari KPK, semua yang mengemban amanah untuk mencegah dan memberantas korupsi, kiranya bisa menjalankan amanah dan tugas itu dengan proper, mendasarkan rules yang ada. Dengan demikian, semuanya akan menjadi baik, tidak ada ekses yang tidak kita kehendaki. Dan ketika itu dilakukan, saya mengajak semua rakyat Indonesia untuk mendukung dan menjadi bagian dari langkah-langkah pemberantasan korupsi ini.
Itulah hadirin sekalian yang dapat sampaikan pada malam yang membahagiakan ini. Dan sekali lagi, selamat kepada Rakyat Merdeka, marilah kita meningkatkan persatuan, kebersamaan dan kerja keras kita untuk membangun hari esok yang lebih baik.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



