Pidato Presiden
Sambutan Peringatan Hari Waisak 2552
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN HARI RAYA WAISAK 2552
ISTORA SENAYAN, 24 MEI 2008
Yang saya hormati Saudara Tua Mahkamah Konstitusi, Saudara Menteri Agama Republik Indonesia, dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang Mulia para Duta Besar Negara-negara Sahabat dan para Tamu, Undangan dari Negara Sahabat, Saudara Gubernur DKI Jakarta,
Yang saya cintai Sekretaris Jenderal Konvensi Agung SangHa Indonesia, Yang saya muliakan para Bhiku dan para Pemuka Agama Buddha,
Hadirin yang saya muliakan,
Saudara-saudara Umat Buddha di Seluruh Tanah Air yang saya cintai dan yang berbahagia,
Nammo Budayo,
Marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta.
Saya juga ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini untuk menyampaikan selamat dan salam hormat kepada umat Buddha di seluruh Indonesia. Berbahagialah di hari Suci Waisak ini, hari yang disucikan dan dimuliakan oleh seluruh Umat Buddha di dunia. Semoga perayaan Hari Suci Waisak tahun ini dapat membawa ketentraman, kedamaian tidak saja bagi Umat Buddha. tetapi juga bagi umat manusia seluruhnya.
Perayaan Waisak Nasional tahun ini mengambil tema “Perkokoh Kerukunan Bangsa, Tingkatkan Kepedulian Kepada Semua”. Saya menilai tema ini merupakan tema yang tepat dan relevan dengan situasi yang kita hadapi dewasa ini. Pada saat Perayaan Waisak tahun ini yang jatuh pada tanggal 20 Mei 2008 bertepatan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Oleh karena itu, selayaknyalah hari Waisak ini kita maknai lebih dari biasanya, terutama dalam kaitan kita mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bangsa kita yang dibangun dari beragam etnis, agama dan suku tetap memerlukan kerukunan dan persatuan yang abadi. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini yang semakin tidak ringan dan semakin kompleks, peningkatan kerukunan beragama, berbangsa dan bernegara serta peningkatan kepedulian terhadap sesama menjadi semakin penting. Oleh karena itu saya berharap tema Waisak kali ini, akan dapat diwujudkan oleh segenap umat Buddha di seluruh tanah air, serta menjadi inspirasi dan pendorong bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Sebagaimana dalam keyakinan umat Buddha, Sidharta Buddha Gautama, telah mengajarkan nilai-nilai falsafah universal yang mendalam, berkenaan dengan arti, hakekat, makna dan tujuan hidup umat manusia. Nilai-nilai universal dari dharma Sang Buddha sungguh penting bagi umat Budha dalam menjalani kehidupan. Momentum Waisak merupakan kesempatan untuk memurnikan kembali tujuan hidup untuk mencapai kebahagiaan melalui kebangkitan spiritual sebagai pintu untuk meraih kebangkitan-kebangkitan lainnya.
Upaya peningkatan moralitas dan solidaritas sebagaimana diuraikan tadi dalam renungan Waisak, adalah tuntutan kita untuk diri kita masing-masing secara tulus dan bersungguh-sungguh. Sehingga akan dapat menjadi teladan bagi lingkungan dimana kita berada. Melalui cara seperti ini, pada gilirannya nanti kita berharap akan berkembang kebangkitan moral di seluruh lapisan masyarakat. Suatu kondisi yang sangat dibutuhkan untuk mewujudkan kemajuan di negeri ini.
Saudara-saudara Hadirin yang saya muliakan,
Berkaitan dengan itu, pembinaan kesadaran beragama sangat penting untuk membentengi bangsa kita dari berbagai pengaruh yang ada dalam kehidupan global dewasa ini. Bangsa kita, dari awal berdirinya memang bercita-cita menjadi bangsa yang maju dan sejahtera, serta ikut serta dalam memelihara perdamaian dunia. Tetapi kita tentu tidak ingin menjadi bangsa yang maju namun kering rohani. Kita ingin menjadi bangsa yang maju, bermartabat sekaligus terhormat.
Di sinilah letak pentingnya kesadaran keagamaan yang tinggi itu, sehingga dapat menjadi landasan bagi terbentuknya kekayaan kerohanian bangsa yang kuat sebagai salah satu kekuatan dalam meraih keunggulan, kemandirian dan daya saing yang tinggi ditengah percaturan bangsa-bangsa di dunia dewasa ini.
Saat ini, kita menghadapi ujian yang cukup berat dalam kehidupan sosial, ekonomi kita. Pemerintah telah menempuh berbagai cara untuk menyelamatkan kondisi perekonomian kita, yang mendapatkan beban akibat kenaikan harga minyak, harga pangan, dan ancaman krisis keuangan dunia. Pemerintah dengan sangat berat terpaksa menempuh opsi untuk mengurangi subsidi BBM guna menyelamatkan APBN kita, dan lebih jauh lagi mengamankan perekonomian nasional dari ancaman krisis yang dapat terjadi.
Dalam menghadapi persoalan yang sungguh tidak ringan ini, saya mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama memahami kondisi ini, dengan semangat yang pantang menyerah dan tetap tegar dan tabah. Mari kita jauhkan diri kita dari sikap yang pandai mengeluh, saling salah menyalahkan, menyebarkan informasi yang menyesatkan serta hanya menjadi penonton tanpa berupaya memberikan solusi yang nyata.
Mari kita kesampingkan kepentingan sempit dan sesaat, sebaliknya mari kita utamakan kepentingan bersama kita untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh bangsa kita. Mari kita meneguhkan tekad bekerja keras bersama-sama untuk dapat keluar dari belenggu persoalan global dewasa ini.
Hadirin yang saya muliakan,
Saudara-saudara Umat Buddha diseluruh tanah air yang saya cintai,
Akhirnya melalui momentum perayaan Hari Waisak yang bertepatan dengan peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini, saya mengajak sekali lagi umat Buddha di seluruh tanah air dan segenap komponen bangsa untuk terus membangun kebersamaan, meningkatkan solidaritas, berjuang bersama dan bekerja keras bersama pula menyongsong masa depan yang lebih gemilang.
Kepada Umat Buddha di seluruh tanah air, sekali lagi saya sampaikan salam hormat dan berbahagialah di hari suci Waisak yang mulia ini. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kecerahan hati dan kejernihan berpikir kepada segenap umat Budha di hari yang amat dimuliakan ini.
Sekian.
Terima kasih.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



