Pidato Presiden

Sambutan Musyawarah Kubro Nasional Jamiyyah Ahlith Thoriqah Al Murtabaroh An Nahdliyyah

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
MUSYAWARAH KUBRO NASIONAL
JAM’IYYAH AHLITH THORIQAH AL MUR’TABAROH AN NAHDLIYYAH
ASRAMA HAJI PONDOK GEDE, 30 JUNI 2008



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yang saya hormati Saudara Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Saudara Menteri Agama dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Gubernur DKI Jakarta,
Yang saya muliakan Al Mukharrom Habib Muhammad Lutfi Bin Ali Bin Yahya,
Yang saya cintai dan saya muliakan para Ulama, Bapak Ibu, Keluarga Besar Jam''iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu''tabaroh An-Nahdliyyah yang saya cintai dan saya banggakan,

Marilah pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan ridho-Nya kepada kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada umat, kepada masyarakat, serta kepada bangsa dan negara tercinta. Marilah tidak lupa pula shalawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikut Rasulullah, insya Allah, termasuk kita semua sampai akhir zaman.

Bapak, Ibu, hadirin yang saya muliakan,
Pertama-tama, izinkan saya untuk menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa membuka Muktamar Kubro Nasional yang alhamdulillah telah berjalan dengan baik. Tadi sore saya baru kembali dari Jambi setelah melakukan serangkaian kegiatan, termasuk kegiatan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, kurang lebih 2 jam perjalanan darat dari Jambi. Dan saya sungguh mendapatkan kehormatan, saya sangat berterima kasih Bapak, Ibu hadirin sekalian, para Ulama masih berkenan untuk menambah satu hari lagi untuk bersama-sama melaksanakan silaturrahim pada malam hari ini. Semoga semuanya mendatangkan manfaat, kebaikan bagi kita semua, bagi umat dan bagi bangsa dan negara tercinta.

Pertama-tama, secara tulus atas nama negara, atas nama Pemerintah dan selaku pribadi, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas peran, perjuangan dan pengabdian dari Keluarga Besar Jam''iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu''tabaroh. Selama ini apa yang Bapak, Ibu lakukan tercatat abadi dalam perjalan sejarah di negeri ini untuk memajukan kehidupan umat dan juga untuk memajukan kehidupan bangsa dan negara.

Harapan saya peran, tugas, perjuangan dan pengabdian itu kiranya dapat dilanjutkan, terutama sekarang ini negeri kita, dunia kita menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan kehadiran para ulama, yang memerlukan bimbingan dari para ulama, bimbingan yang teduh, menuntun, menyelamatkan kehidupan dan perjalanan umat, khususnya dan untuk negeri kita perjalanan bangsa yang sama-sama kita cintai. Kalau Bapak, Ibu berhasil menjalankan misi dan ibadah di waktu yang lalu, saya yakin Bapak Ibu sekalian, insya Allah dengan ridho Allah SWT tentu dapat melanjutkan tugas, perjuangan dan pengabdian di waktu yang akan datang.

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Saya ingin pada kesempatan yang baik ini untuk melaporkan kepada para Ulama, Bapak, Ibu sekalian, tentang perkembangan dunia, dimana kita hidup ini secara singkat, dan sekaligus perkembangan negara kita dengan sejumlah tantangan yang dihadapi, juga secara singkat, agar kita semua memahami masalah dan tantangan yang kita hadapi, bukan untuk menyerah dan berputus asa, tetapi untuk bersama-sama melangkah untuk mengatasi keadaan itu bersama-sama membangun hari esok yang lebih baik.

Dengan demikian, harapan saya disamping yang telah dihasilkan dalam Muktamar Kubro Nasional ini, kiranya setelah mendengar langsung dari saya yang sedang mengemban amanah, Bapak, Ibu sekalian bisa melakukan peran yang lebih, bukan hanya untuk memimpin umat sekali lagi, tapi juga untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh bangsa dan negara kita.

Pertama-tama, saya ingin menyampaikan dengan jujur, obyektif dan terbuka, bahwa umat Islam sedunia masih harus berjuang dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan keadilan dan kesejahteraannya, yang tentu menjadi tujuan cita-cita perjuangan umat Islam.

Beberapa bulan yang lalu, saya beserta Menteri Agama dan beberapa pejabat terkait menghadiri Pertemuan Puncak Organisasi Konferensi Islam yang dilaksanakan di Dakar, Senegal. Sebelumnya saya berkunjung ke Iran untuk bertemu dengan sahabat saya, Presiden Ahmadinejad. Setelah menghadiri Pertemuan Puncak OKI, saya berkunjung dan melakukan dan melakukan kegiatan di Dubai, di Arab Emirat bertemu pula dengan tokoh-tokoh, pemimpin dan sahabat-sahabat kita dari Timur Tengah.

Yang ingin saya sampaikan, nanti dalam penjelasan ini, apa saja yang menjadi komitmen, menjadi kesepakatan, menjadi tekad bersama dunia Islam untuk bersama-sama berjuang tadi itu menghadirkan atau membangun dunia yang lebih aman, dunia yang lebih adil, dan dunia yang lebih sejahtera.

Yang kita tuju keadilan bagi semua, bukan hanya keadilan bagi satu, dua bangsa. Yang kita tuju kesejahteraan dan kemakmuran bagi semua, bukan hanya kesejahteraan dan kemakmuran bagi satu, dua bangsa saja di dunia ini. Oleh karena itu, kita bersepakat dalam Pertemuan Puncak di OKI dan pertemuan-pertemuan saya sebelumnya dengan para pemimpin negara-negara Islam, Islam harus lebih bersatu, merapatkan barisan, berjuang bersama untuk mewujudkan tatanan dunia yang kita cita-citakan tadi.

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada saat Pertemuan Puncak Peminpin Negara-negara Islam dilaksanakan di Dakar, Senegal, waktu itu disahkan piagam baru OKI. Piagam baru ini sesungguhnya kelanjutan atau rumusan dari Piagam Mekkah yang dirumuskan beberapa saat kemudian. Diantaranya yang perlu saya sampaikan ke hadapan para Ulama Bapak, Ibu, hadirin sekalian adalah para pemimpin Islam, termasuk kita, Indonesia bersepakat terus menjalankan ajaran Islam yang agung, the great Islamic teaching, ajaran yang menaburkan kasih sayang, perdamaian, kerukunan, serta pendekatan yang baik, yang dalam bahasa Inggris disebut civilized approach, pendekatan yang penuh dengan nilai-nilai peradaban yang luhur. Kita sepakat untuk terus membumikan ajaran Islam seperti itu.

Yang kedua, dalam piagam, dalam pertemuan, kita juga sepakat untuk setiap negara Anggota OKI terus membangun kehidupan negara yang baik, baik secara Islami, baik menurut norma-norma sebuah penyelenggaraan kehidupan bernegara dan kehidupan pemerintahan yang baik. Sebagai contoh, kami bersepakat, para pemimpin dunia Islam untuk terus membangun tata pemerintahan yang baik, pemerintahan yang dekat dengan rakyat, yang melayani masyarakat, yang transparan, tidak korupsi, yang bertanggung jawab dan lain-lain. Kami juga bersepakat setiap warga negara berhak untuk ikut serta menentukan haluan negara, yang dalam bahasa politik disebut dapat berpartisipasi secara luas, agar ikut menentukan arah dan jalannya kehidupan bernegara. Juga diharapkan menghormati dan menjalankan tatanan hukum yang baik, agar keadilan tegak, juga melindungi hak-hak warga negara.

Keadilan sosial kita harapkan, tidak boleh yang kaya, kaya, yang miskin, miskin, tanpa ada upaya untuk mengangkat si miskin kemudian pembangunan dan kesejahteraan makin adil dan merata, dan dinikmati oleh seluruh rakyat pada negara yang bersangkutan. Secara khusus bahkan dalam pertemuan puncak kita bersepakat untuk memberantas korupsi dan berbagai tindak penyimpangan yang membikin sebuah negara gelap, yang membikin sebuah negara tidak punya masa depan yang baik. Itu yang kedua.

Yang ketiga hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Dalam Pertemuan Puncak OKI, kita juga bersepakat untuk membangun peradaban yang baik untuk mengedepankan peradaban Islam. Kita sepakat bahwa Islam harus menjadi rahmat bagi semesta alam, rahmatanlilalamin. Peradaban Islam sesungguhnya bagian dari peradaban umat manusia sejagad, peradaban Islam mesti hidup berdampingan secara damai dengan peradaban lain, peradaban Asia, peradaban Afrika, peradaban Barat, tidak boleh ada satu pihak yang mengklaim, yang mengatakan bahwa peradabannya yang paling tinggi, peradabannya yang lain tidak setinggi itu. Tidak boleh, meskipun terus terang peradaban Islam di waktu yang lalu sungguh agung dan besar, terutama pada milenium pertama, pada milenium kedua terjadi penyusutan, insya Allah pada milenium ketiga ini, kita bangkit kembali untuk membangun peradaban Islam yang agung yang dulu pernah kita miliki.

Kemudian kita sepakat untuk juga membumikan, menaburkan, menjalankan nilai-nilai yang Islami. Kalau ada perbedaan, ada benturan, ada konflik, kita mengutamakan dialog, kita menempuh jalan yang damai, tanpa mengorbankan keadilan dan kebenaran, toleransi tanpa mengorbankan akidah dan tuntunan, ajaran yang sama-sama kita anut. Saya kira semuanya itu klop betul dengan kehidupan yang dibangun di negeri ini, saya kira klop betul dengan apa yang menjadi pikiran, menjadi haluan, menjadi komitmen dari para Ulama, Bapak, Ibu sekalian yang saya hormati.

Itulah oleh-oleh, sekaligus apa yang mesti kita lakukan bersama sebagai umat Islam, bagian dari upaya besar umat Islam sedunia, sekali lagi dalam mencapai keadilan dan kesejahteraan yang hakiki. Memang tidak mudah untuk mewujudkan harapan dan cita-cita itu, tidak seperti membalik telapak tangan, dunia kita memang belum adil, belum menghadirkan kesejahteraan bagi semua, tetapi kita sekali lagi tidak boleh berputus asa, kita tidak boleh menyerah, marilah dengan teguh, seraya dengan memohon ridho Allah SWT terus berjuang untuk membangun dan mencapai keadaan dunia seperti itu.

Hadirin-hadirat yang saya hormati,
Sekarang bagian ketiga, saya ingin menyampaikan lantas seperti apa perkembangan dunia sekarang ini, bumi kita ini dengan segala mahluk yang hidup di atasnya. Para Ulama, Bapak, Ibu mengetahui bahwa penduduk bumi sekarang ini berjumlah 6,4 milyar. Orang mengatakan bumi ini penuh sesak, orang mengatakan bumi semakin panas, orang mengatakan pantas kalau kita berbenturan dalam menggunakan energi, utamanya minyak dan juga pangan dan seterusnya. Asalkan kita tahu, bahwa menjadi tugas kita, menjadi tugas umat Islam sedunia untuk mensyukuri nikmat Allah dan juga untuk memelihara kelestarian alam semesta dan lingkungannya.

Yang ingin saya sampaikan, keadaan dunia, terutama 10 tahun terakhir ini, satu konflik dan peperangan ternyata masih terjadi di banyak belahan dunia, di Irak, di Afganistan, di Lebanon, di beberapa negara di Afrika dan negara-negara yang lain. Realitas, meskipun kita ingin dunia ini sungguh damai, tapi kenyataannya konflik, benturan, bahkan peperangan masih terus terjadi, masih terus berlangsung. Itu yang pertama.

Yang kedua, kita mengetahui, kita merasakan bahwa ketidakadilan, termasuk penderitaan umat manusia karena ekonomi yang tidak adil, yang tidak seimbang, yang pincang juga masih kita rasakan. Di Indonesia meskipun angkanya terus menurun, alhamdulillah. Tetapi jumlah yang miskin itu masih sekitar 36 juta dari 220 juta. Sesungguhnya banyak negara-negara yang jumlah yang miskin masih lebih tinggi, misalnya China, India dan negara-negara lain.

Amerika Serikat yang konon katanya negara makmur dan maju, jumlah yang miskin itu juga sekitar 30 juta. Ternyata ketidakadilan, kepincangan juga ada di negara yang maju itu. Pada tingkat dunia masih kita rasakan, sehingga saya mohon para Ulama, Bapak, Ibu sambil terus kita berjuang mengurangi kemiskinan di negeri tercinta ini dengan langkah-langkah yang konkret, pendidikan, kesehatan, membantu yang lemah, bantuan sosial dan lain-lain. Tapi kita harus tahu bahwa kita tidak sendiri, justru menambah cambuk, dan motivasi untuk segera mengurangi kemiskinan di negeri ini secara terus- menerus berkesinambungan. Itu fenomena yang kedua.

Fenomena yang ketiga di dunia ini yang kita kenal dengan globalisasi. Globalisasi itu ternyata menghadirkan sejumlah peluang, manfaat, tetapi juga mendatangkan banyak masalah dan tantangan. Negara-negara yang pandai, menolak, membendung tantangan dan masalahnya, hanya mengambil manfaatnya dan peluangnya, itu bisa maju. Negara-negara sahabat kita, misalkan Kuwait, Qatar, Arab Emirat, Bahrain dan lain-lain, sekarang maju seperti itu disamping memang kekayaan minyak, tapi barangkali dalam era globalisasi mengambil manfaat-manfaatnya.

Tugas kita, bangsa Indonesia, kita juga harus cerdas menolak, membendung, melawan hal-hal yang negatif, jangan mengganggu budaya kita, jangan mengganggu nilai kita, jangan mengganggu kehidupan yang Islami dan lain-lain, tetapi kita harus cerdas, kalau kita bisa meningkatkan teknologi, meningkatkan pengetahuan, kerjasama yang adil dan sebagainya, sehingga membawa manfaat bagi bangsa kita, membawa manfaat bagi umat yang ada di negeri sendiri.

Dalam keadaan seperti itu masih ada konflik dan peperangan, belum adil, kesejahteraan belum merata, globalisasi mendatangkan hal-hal yang buruk, tapi juga ada yang baik, dua tahun terakhir ini, 2007–2008 dan barangkali tahun depan masih kita rasakan. Bapak, Ibu hadirin sekalian, saya harus terbuka dan jujur, supaya kita tidak membawakan angin surga bahwa dunia akan baik-baik saja. Masalah di dunia sudah selesai, menurut pengamatan dan perkiraan saya, tahun depan pun kita akan masih menghadapi persoalan dunia yang harus bersama-sama kita atasi dan kita pecahkan secara bersama dampaknya terhadap negeri kita.

Tiga masalah yang membikin pusing tujuh keliling, hampir semua negara, termasuk negara kita. Harga minyak ini meroket, bertahan tidak turun-turun, tidak pernah dalam sejarah perkembangan dunia, termasuk dunia perminyakan, harga minyak harganya lebih dari 80 dolar AS, tidak pernah. Sekarang, tadi sebelum saya berangkat ke Asrama Haji Pondok Gede ini, saya melihat televisi, harga minyak sekarang menembus 143 dolar AS setiap barel. Terus terang saya sedih, cemas, memikirkan nasib bangsa-bangsa di dunia, termasuk bangsa kita sendiri.

Mengapa? Banyak sekarang yang saling salah-menyalahkan, ada yang menyalahkan banyak negara yang boros menggunakan minyak, termasuk bangsa-bangsa yang mendapatkan subsidi secara berlebihan, Indonesia ikut dituding, Indonesia meskipun memproduksi minyak, menggunakan banyak minyak karena dianggap boros. Yang dituding Amerika Serikat, China, India dan negara-negara lain. Indonesia meskipun tidak seberat itu sudah termasuk yang dianggap boros energi. Ada yang menyalahkan negara-negara produsen minyak maunya harganya tinggi terus, supaya keuntungannya berlipat ganda. Memang terus terang negara-negara penghasil minyak, saudara kita, Saudi Arabia, Rusia, Venezuale, Iran dan beberapa negara, keuntungannya besar. Dengan harga 1 barel itu sekitar 159 liter harganya 143 AS, itu negara seperti Saudi Arabia dan di bawahnya ada Rusia, ada Venezuela, penghasilan 1 hari itu lebih dari 1 miliar dolar Amerika Serikat, mungkin sekitar 10 triliun per hari. Jadi kalau penghasilan 2 hari untuk biaya BLT itu cukup hanya 2 hari saja. Ada yang seperti itu yang mendapatkan keuntungan.

Ada yang menyalahkan, ini bukan kesalahan produsen, bukan kesalahan konsumen, bukan kesalahan yang memproduksi, bukan kesalahan yang menggunakan, ini ada yang main-main dengan harga, spekulan. Kita kenal spekulan tanah, mau dibikin jalan, harganya Rp 50 ribu dibeli, cepat-cepat dijual Rp 1 juta, akhirnya macet semua. Ini spekulan minyak, katanya untungnya berlipat-lipat, belum lagi memang konflik di Timur Tengah yang masih seperti ini. Kenyataannya harga minyak setinggi langit. Oleh karena itulah, di luar jangkauan tangan kita, barangkali ada 10 SBY pun tidak bisa menahan harga minyak yang 143 dolar AS. Tapi kita tidak boleh menyerah, tidak boleh cemas, insya Allah kita terus memohon Allah memberikan jalan untuk mengatasi masalah ini.

Yang kedua, pertama krisis minyak, yang kedua pangan pun ikut melonjak. Mengapa kok pangan jadi melonjak? Meskipun alhamdulillah Bapak, Ibu, saya laporkan untuk padi, untuk beras, kita relatif aman tahun lalu, tahun ini, Insya Allah tahun depan, mudah-mudahan tidak ada bencana lagi, mudah-mudahan tidak ada yang nakal, yang bawa ke luar negeri dan seterusnya. Kita akan terus meningkatkan ketahanan pangan di seluruh negeri, bukan hanya beras, tetapi juga yang lain-lain. Tapi kembali mengapa harga pangan tiba-tiba mahal, katanya ya penduduknya bertambah, yang tadinya 4 miliar, 5 miliar, 6 miliar, sekarang 6,3 miliar, buminya tidak bertambah, malah menciut untuk pertanian, tumbuh gedung-gedung, tumbuh macam-macam. Itu yang pertama.

Yang kedua, sudah jumlahnya bertambah negara-negara yang kaya inginnya, ya karena punya uang, ingin mengkonsumsi makanan lebih banyak lagi, padahal yang diproduksi tidak banyak bertambah.

Yang ketiga karena perubahan iklim, kita serakah dulu menggunduli hutan, bahan bakar bertebaran, langitnya kotor namanya global warming, karbondioksida bertebaran dimana-mana, musim berubah, musim kemarau panjang sekali, kekeringan, panen gagal di banyak tempat di dunia. Musim penghujan, hujannya luar biasa, banjir bandang, mati juga tanaman. Ini kesalahan manusia, kesalahan kita, bangsa-bangsa lain juga ikut berdosa, ini juga mengakibatkan gagalnya panen dan banyak lagi yang menimbun, yang menyelundup. Tetapi yang jelas, persoalan pangan ini juga masih menjadi tantangan, oleh karena itu harus kita atasi dengan cara meningkatkan produksi pangan di dalam negeri, menggunakan tanah-tanah terlantar dengan baik, jangan dimiliki orang-orang tertentu, digunakan tidak, rakyat tidak dapat apa-apa, harus kita tata kembali pertanian kita, agar makin cukup kebutuhan pangan di negeri ini.

Minyak atau energi, kedua pangan. Yang ketiga, akibat itu terjadi pelambatan ekonomi global. Lantas apa pengaruhnya kepada bangsa Indonesia? Ada. Kalau ekonomi Eropa, ekonomi Jepang, ekonomi Amerika, ekonomi yang lain itu pertumbuhannya lambat, kita menjual barang, barang-barang kita entah pertanian, entah industri, entah energi, pasarnya menciut, yang membeli berkurang, akhirnya ekspor kita pun terganggu, kita ... juga terganggu. Jadi kalau ekonomi dunia mengalami resesi, selalu ada kesulitan yang dihadapi oleh bangsa-bangsa di dunia ini. Itu kita rasakan, banyak yang tidak mengetahui bahwa ini memang sedang susah, dunia sedang tidak bersahabat, tetapi saya katakan bersama kesulitan ada kemudahan. Insya Allah sebuah musibah bisa menjadi berkah, kalau kita pandai bersyukur, sabar, tabah, tegar dan berikhtiar untuk mengatasi masalah itu.

Mari saya mengajak yang saya muliakan para Ulama, Hadirin-hadirat untuk tidak termasuk golongan yang menyerah. Marilah bersama-sama kita atasi Insya Allah ada jalan keluar untuk bangsa Indonesia. Rasulullah pernah berjuang amat berat pada jamannya dulu, seolah-olah tidak mungkin mengubah kehidupan sebuah bangsa dari perilaku jahiliyah menjadi perilaku yang Islami. Membangun karakter, membangun peradaban, membangun nilai, luar biasa tantangannya, tapi dengan ketegaran, Rasullah beserta para sahabat dan pengikut beliau berhasil mencapai tujuan dan menjadi pemimpin besar di dunia ini. Marilah kita contoh, kita teladani sebuah bangsa yang tidak pernah menyerah.

Saya ingin para Ulama, Bapak, Ibu sekalian menjadi contoh, memberikan bimbingan pada umat, semua pihak. Ini ujian dari Allah, tantangan, cobaan, menyerah sekarang, kalah selamanya, tidak jadi apa-apa. Tapi kalau kita tegar, terus berikhtiar, mencari solusi, dibukakan jalan, dibukakan pintu untuk secara bertahap memperbaiki keadaan ini. Itu keadaan dunia.

Kepada Presiden Bank Dunia, kepada Perdana Menteri Jepang, kepada Perdana Menteri Singapura yang sedang memimpin ASEAN, tolong para peminpin dunia segera bersatu mengatasi masalah ini. Insya Allah, minggu depan atau kurang lebih 8 hari lagi, saya akan menghadiri pertemuan yang dihadiri oleh 8 negara terbesar di dunia dan 8 negara besar lainnya untuk bersama-sama mengatasi, saya hanya ingin mengajak, tolong masalah pangan, masalah energi, masalah perubahan iklim kita atasi secara bersama. Saya mohon doa restu dari para Ulama, Bapak, Ibu sekalian, agar mereka juga mendengar suara Indonesia, negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, mudah-mudahan mereka juga dibukakan pintu hatinya untuk mengatasi masalah ini bersama-sama. Itu perkembangan dunia.

Sekarang bagaimana perkembangan negeri kita, Indonesia yang sama-sama kita cintai. 10 tahun yang lalu kita mengalami krisis, tahun-tahun setelah krisis, tahun-tahun yang sangat berat. Pak Harto lengser, digantikan oleh Presiden-presiden berikutnya lagi, kita melakukan reformasi besar-besaran di tengah-tengah krisis. Saya tidak ingin melukiskan betapa beratnya, waktu itu kita semua merasakan, keamanan, ketertiban sosial, suasana di Aceh dan berbagai kisah-kisah sendu di negeri kita ini. Akibat krisis itu pula di negeri ini yang tadinya memang belum baik benar, kemiskinan melonjak tajam, pengangguran melonjak tajam, hutang luar negeri pun melonjak tajam. Tahun demi tahun kita bekera keras memperbaiki keadaan itu.

Hutang kita dulu Bapak, Ibu, tahun 1998 kalau kita punya pendapatan nasional itu sekian ratus trilyun rupiah untuk bayar utang pun tidak cukup dulu, karena rasionya itu lebih dari 100 % hutang dibandingkan pendapatan nasional. Kita perbaiki, saya mengemban amanah akhir 2004, waktu itu jumlah hutang kita dibandingkan pendapatan negara 53,5%, jadi separuh lebih untuk bayar hutang. Alhamdulillah sekarang ini, berkat kebersamaan kita, kerja keras kita, hutang kita di bawah 35% dari pendapatan nasional, ini lebih baik dibandingkan hutang tetangga kita Malaysia, Thailand, Filipina, meskipun mari terus kita perkecil, supaya anak cucu kita tidak tidak terbebani. Hutang IMF sudah kita lunasi 2 tahun yang lalu, kita percepat. Kemiskinan susut, pengangguran susut, tapi kita belum puas, sampai betul-betul kecil, baik yang menganggur maupun yang miskin.

Hadirin sekalian,
Kalau kita pandai bersyukur, mari dengan jujur kita lihat keadaan sekarang ini dibandingkan dengan 10, 9, 8, 7 tahun yang lalu, tidakkah ada sejumlah perbaikan, tidakkah ada sejumlah capaian, meskipun kita harus jujur masih banyak pula permasalahan dan tantangan. Ekonomi sebelum krisis tumbuh 7%, begitu krisis minus 13%. Akhir 2004 sudah kembali, ketika saya mulai mengemban amanah, kerja keras kita semua, masuk kembali 5,7%, sekarang ini sudah di atas 6 %, Alhamdulillah meskipun itu masih belum cukup.

Yang kedua keamanan, kita masih mengingat dulu banyak konflik berdarah di Aceh, di Poso, di Maluku, di Maluku Utara, sebagian di Papua, di tempat-tempat yang lain. Alhamdulillah dengan kebersamaan kita, kerja keras kita, itu dapat kita pulihkan. Bahkan Aceh sekarang alhamdulillah telah damai di bawah yang Sang Merah Putih, di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pendidikan kita genjot, kesehatan kita genjot, dan upaya-upaya lain agar penduduk kita, terutama yang miskin diringankan bebannya.

Penegakan hukum kita sangat keras. Dulu orang korupsi enak saja, ngambil uang negara Rp 10 miliar, Rp 20 miliar, kipas-kipas, sekarang kita kejar, masukkan penjara. Penegakan hukum alhamdulillah sudah bagus, kita rawat, kita pelihara. Yang salah dihukum, yang tidak salah jangan dihukum. Kalau korupsi betul, masuk penjara, tidak korupsi jangan difitnah korupsi. Itu adil namanya, itulah yang kita jalankan sekarang ini.

Politik makin stabil, dulukan gaduh sekali, gaduh sekali, jatuh bangun. Ya mudah-mudahan Pemilu yang sebentar lagi kita ikuti, janganlah kita bikin negara kita menjadi tidak stabil lagi, benturan politik di sana, sini, marilah meskipun berkompetisi, tetap rukun, berkompetisi secara sehat, jauhkan dari kekerasan-kekerasan.

Saya mohon Bapak, Ibu, hadirin sekalian juga mengajak, inikan sesama bangsa Indonesia, bukan bangsa lain. Calon-calon Gubernur, calon Bupati, calon Walikota, calon Presiden, kan juga sesama bangsa Indonesia, sebagian besar juga umat Islam, kok kenapa kita harus berbenturan, harus bermusuhan, jatuh menjatuhkan, Allah tidak memberikan ridho-Nya nanti. Mari kita lakukan kompetisi yang baik, agar politik stabil.

Hubungan internasional, terus terang nama kita 10, 9, 8, 7 yang lalu tidak baik, dunia menganggap rendah Indonesia, tidak adil, dunia melecehkan Indonesia sebelah mata, kita berjuang bersama. Alhamdulillah standing kita, peringkat kita, kedudukan kita makin baik di dunia, tidak pernah dalam sejarah para Ulama, Bapak, ibu sekalian di Perserikatan Bangsa-Bangsa, Indonesia dipercaya menjadi Anggota Dewan Keamanan, Anggota Dewan Hak Asasi, Anggota Komisi Perdamaian dan lain-lain. Terima kasih kepada rakyat Indonesia, terima kasih kepada semuanya, mari kita pertahankan martabat, harga diri dan kehormatan kita di tingkat dunia. Mulia rasanya. Dulu barangkali kita keluar negeri tertunduk, merasa negara kita kok rusuh, negara kita kok begini, alhamdulillah sekarang kita tegak. Dengan kemuliaan, mari kita pertahankan seperti ini.

Itu segi baik, capaian yang alhamdulillah harus kita syukuri. Tetapi kita harus jujur bahwa ketika kita mengatasi keadaan itu, mencapai sasaran itu, persoalan baru datang, ujian baru datang, tantangan baru datang. Bencana, meskipun bencana alam ini bukan hanya monopoli Indonesia. Dua bulan yang lalu, Myanmar kena badai, narkis, yang korbannya lebih dari 80 ribu. Setelah itu Tiongkok kena gempa bumi, korbannya juga puluhan ribu. Amerika banjir bandang apa namanya, airnya itu setinggi atap dan banyak lagi. Tetapi negara kita mengalami musibah yang tidak ringan, mulai dari tsunami di Aceh, tsunami lagi yang kecil di Pangandaran dan di Cilacap, gempa bumi di Yogya dan di Jawa Tengah dan bencana-bencana yang kecil. Sebagian itu karena peristiwa alam, kehendak Allah SWT, sebagian kecerobohan kita, banjir bandang, tanah longsor, karena kita tidak pandai merawat alam, tidak pandai merawat hutan, kita hadapi. Jadi anggaran kita, waktu kita, tenaga kita, kita gunakan untuk mengatasi bencana.

Yang kedua, minyak. Tahun 2005 meroket, tahun 2008 meroket lagi. Kita sudah berusaha sekuat tenaga mengutamakan cara yang lain, tetapi saya harus terus terang mengatakan, kalau tidak kita sesuaikan harganya secara terbatas, ekonomi kita akan hancur, nasib perekonomian kita tidak baik dan kita pun tidak sendiri, negara-negara lain juga menyesuaikan harga minyak itu. Tapi yang jelas ini sesuatu yang tidak bisa kita elakkan.

Yang kedua, yang ketiga pangan tadi. Tantangan berikutnya lagi, Pemilu tahun 2009. Bulan, sekarang tanggal 30, bulan Juli mendatang sudah dimulai kampanye Pemilu. Saya sebetulnya tidak ingin terlalu lama namanya kampanye dan Pemilu itu. Bayangkan umat, rakyat dipecah-pecah, dihadap-hadapkan karena bendera partai, karena jaket partai, karena rapat-rapat akbar. Yang paling baik, tidak terlalu begitu, supaya tetap rukun, bersatu dan bisa memecahkan masalah bersama-sama. Tapi itu sudah amanah Undang-Undang, ya mari kita jalankan kampanye Pemilu itu dengan baik, dengan tertib, tanpa kekerasan, jangan memutus silaturrahim, hormat-menghormati di antara kita semua.

Hadirin yang saya muliakan,
Menghadapi itu semua, Pemerintah tentu tidak tinggal diam. Kami bekerja dan terus bekerja siang dan malam. Pemerintah memang belum sempurna, tapi kami terus berusaha. Berat, tapi kami tidak pernah menyerah dengan segala kemampuan, seraya memohon ridho Allah. Oleh karena itu, terhadap bencana, perubahan iklim yang itu kesalahan manusia harus kita cegah dan perbaiki.

Tahun lalu kita menanam 70 sampai 80 juta pohon, tahun ini akan kita ulangi dan sepanjang tahun kita menanam dan menanam, agar hutan kita, agar bumi kita, agar pohon-pohon kita tumbuh dan kita bisa mencegah banjir dan tanah longsor. Memang hasilnya tidak bisa dilihat tahun depan atau tahun depannya lagi, barangkali 10 tahun lagi, 15 tahun lagi, anak kita, cucu kita, tapi itu ibadah ini melakukan sesuatu untuk kebaikan mereka semua. Andaikata besok kiamat dan di tangan kita masih ada sebiji kurma kita tanam, bukan untuk kita, untuk kepentingan generasi yang akan datang. Saya kira ajaran itu sangat betul dan saya kira Rasulullah apa namanya mengajarkan kepada kita semua untuk menjalankan ajaran-ajaran yang baik itu.

Minyak, kita harus menghemat energi, masih banyak saudara kita yang boros energi. Barang kali mau beli jagung saja ke Puncak bawa mobil, beli jangung mendingan di situ daripada 20 liter habis padahal itu subsidi, uang negara, uang rakyat ya. AC, AC enggak usah 24 jam ya secukupnya matikan. Listrik yang tidak digunakan, matikan. Masih banyak saudara kita yang boros, padahal itu menggunakan puluhan trilyun untuk mengganti mahalnya energi itu, kita harus hemat energi.

Yang kedua, ya harus kita tertibkan produksi minyak, produksi gas dan produksi batubara, harus kita kembangkan energi yang ramah lingkungan, panas bumi, angin, surya, air dan sebagainya dan dari tumbuh-tumbuhan. Kita terus bekerja untuk akhirnya bisa mengurangi beban kita karena mahalnya harga minyak dunia. Pangan sudah kita galakkan sekarang peningkatan produksi pangan di seluruh Indonesia. Anggaran negara Pemerintah mengeluarkan uang untuk subsidi pupuk dan subsidi benih, agar aman produksi pangan kita.

Kemudian Pemilu 2009, ya memang kepolisian akan bertugas, aparat keamanan akan bertugas, tetapi semuanya berasal dari hati dan pikiran hati orang-seorang, hati dan pikiran para elit politik, hati dan pikiran para pimpinan partai-partai politik, hati dan pikiran para calon, calon anggota DPRD, calon anggota DPD, calon anggota DPR, calon Presiden dan calon Wakil Presiden. Semuanya harus menata hatinya, menahan diri, jangan mengorbankan segalanya untuk kepentingan politiknya sendiri. Ini yang bisa kita lakukan, dengan demikian Pemilu bisa dilaksanakan adil, aman, tertib, tidak merusak keadaan.

Dengan cerita saya semua itu, meskipun berat, banyak persoalan di dunia, di negeri kita, di daerah, tapi percayalah badai dengan ridho Allah akan berlalu. Marilah kita menjadi contoh di dalam mengatasi masalah itu, janganlah kita hanya menonton, sambil menyalahkan sana, menyalahkan sini, menuding sana, menuding sini, tidak baik. Itu bukan perilaku Islami. Mari tidak usah terlalu banyak bicara kita bekerja, mengurangi kemiskinan turun, mengurangi kemiskinan, pendidikan, kesehatan, usaha kecil, membantu pangan mereka dan lain-lain, bukan teriak-teriak kesana kemari, tapi tidak melakukan apa-apa. Mari kita pilih cara-cara yang amanah, cara-cara yang nyata, cara-cara yang hasilnya bisa dirasakan oleh rakyat.

Saya tetap optimis, saya tetap berpikir positif. Saya mohon para Ulama, Bapak, Ibu sekalian juga optimis dan berpikir positif. Masih banyak bangsa lain yang lebih menderita. Di dunia ini tiap malam, ada 800 juta yang tidak bisa tidur karena lapar. Kita bisa bertanya para Ulama, Bapak, Ibu tengok kanan kiri depan belakang, adakah yang dalam ruangan ini yang tidak bisa tidur karena lapar? Kalau tidak bersyukur ke hadirat Allah SWT. Kalau tidak, ternyata nasib kita meskipun belum sejahtera, jauh lebih baik dibandingkan saudara kita yang lain, bangsa lain, di situ kita melihat, di situ kita menempatkan diri, agar kita bisa mensyukuri nikmat Allah, sambil kita berjuang untuk menuju atau membangun hari esok yang lebih baik.

Dan akhirnya, Pemerintah akan terus bekerja. Saya mohon doa restu dengan jajaran Pemerintah akan bekerja sekuat tenaga, mudah-mudahan bangsa kita diberikan petunjuk, bimbingan dan lindungan Allah SWT. Mudah-mudahan semua permasalahan bisa kita atasi, dan kemudian bukan hanya di ruangan ini, tetapi nanti kembali ke daerah masing-masing, marilah kita pelihara silaturrahim, marilah kita pelihara komunikasi, marilah bersama-sama kita meringankan beban umat, saudara-saudara kita dan akhirnya meneruskan pembangunan bangsa menuju Indonesia yang lebih adil, lebih aman dan lebih sejahtera.

Inilah yang dapat saya sampaikan dan selamat jalan kembali ke tempat, daerah Bapak, Ibu sekalian. Selamat sampai di tujuan, sampaikan salam saya kepada Keluarga Besar. Sampai berjumpa lagi di waktu yang akan datang.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan