Pidato Presiden

Sambutan Peresmian Firing Unit 1 PLTU Embalut

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN FIRING UNIT 1 PLTU EMBALUT
KUTAI KARTANEGARA-KALIMANTAN TIMUR
5 JULI 2008



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, serta para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Saudara Pejabat Gubernur Kalimantan Timur, Ketua DPRD Kalimantan Timur dan para Pejabat Negara yang bertugas di Kalimantan Timur baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Yang saya hormati para Pimpinan Badan-badan Usaha Milik Negara, Saudara Direktur Utama PT Cahaya Fajar Kalimantan Timur, Bung Dahlan Iskan, para Ulama, para Pemuka Masyarakat,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan, kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta.

Kita juga bersyukur hari ini berada di tempat ini untuk bersama-sama meresmikan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang tadi telah disampaikan oleh Bung Dahlan Iskan dan Menteri ESDM. Kalau sekarang hujan rintik-rintik ini hujan barokah, berkah dari Allah SWT. Diberkahi putera puteri Indonesia yang terus berjuang untuk membangun negerinya, untuk memajukan kesejahteraan rakyatnya.

Saya yakin dan saya berharap Dahlan Group termasuk PT Cahaya Fajar Kaltim, termasuk yang berjuang untuk itu semua sehingga Insya Allah selalu mendapatkan bimbingan dan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Saudara-saudara,
Benar saya memilih untuk menempuh perjalanan darat, dan air. Sebagaimana minggu lalu saya menghadiri acara di Jambi. Saya juga mengikuti atau melakukan perjalanan darat selama lebih kurang dua setengah jam, pulang pergi lima jam, untuk melihat langsung keadaan di provinsi itu, di kabupaten itu dan kecamatan-desa yang saya lewati. Apakah pembangunan di seluruh negeri ini, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan lain-lain telah dikelola dengan benar dan hasilnya makin ke depan makin bertambah baik meskipun tantangan, permasalahan selalu kita hadapi di negeri ini maupun juga pada tingkat dunia.

Semua mengetahui bahwa Kutai Kartanegara adalah Kabupaten yang kaya. Semua mengetahui Provinsi Kalimantan Timur juga merupakan Provinsi yang kaya. Kaya ini anugerah, harus kita syukuri tentu dengan harapan sumber daya alam yang dianugerahkan oleh Allah SWT ini dikelola dengan baik, dibangun dengan baik, dan dipergunakan untuk sebesar-besar kesejahteraan rakyat kita.

Saya pernah menyampaikan kita bersyukur di Samarinda telah terbangun Islamic Center yang megah, yang indah dan menakjubkan dan Alhamdulillah saya sudah meresmikannya beberapa saat yang lalu. Kemudian yang Insya Allah akan kita buka malam hari ini Pekan Olahraga Nasional yang ke-17 di Kalimantan Timur. Inipun juga dibangun berbagai prasarana dan sarana olah raga yang bagus, yang bertaraf internasional dan nasional.

Harapan saya semua itu pertama-tama dirawat dan digunakan dengan baik dan ke depan para Pimpinan Daerah di Kalimantan Timur ini Bupati, Walikota tentu Gubernur yang sudah Alhamdulillah berhasil membangun infrastruktur itu, prasarana itu, jangan lupakan, segera majukan kesejahteraan rakyat di seluruh Kalimantan ini, di Kutai Kartanegara ini sehingga semua mendapatkan keadilan atas anugerah Allah SWT.

Masih saya lihat satu, dua tempat, yang mesti harus dibangun lebih baik lagi. Dengan demikian sekali lagi semua itu digunakan untuk kepentingan semua. Saya sudah mengetahui rencana Pimpinan Kalimantan Timur, Pimpinan Daerah-daerah di Kaltim ini, wujudkan, jalankan. Saya minta masyarakat mendukung agar semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.

Saudara-saudara,
Beberapa hari ini saya rajin mengikuti perkembangan situasi pada tingkat dunia. Mengapa? Karena harga minyak ini meroket dan masih meroket. Tidak pernah dalam sejarah di tingkat dunia termasuk di tingkat Indonesia harga minyak bumi, crude oil itu menembus angka lebih dari 80 dolar tiap barelnya. Bukan hanya 80 dolar bahkan telah menembus 100 bahkan telah menmbus 120 yang akhirnya Indonesia akhirnya mengikuti negara-negara lain terpaksa menaikan sejumlah harga BBM, agar tidak ambruk ekonomi kita. Tetapi nampaknya harga itu masih menaik dan hari-hari sekarang ini harganya menembus 145 dolar per barel.

Saya beri contoh, dengan kenaikan harga itu, untuk diketahui negara, pemerintah dalam hal ini memutar otak, mencari akal, berikhtiar, bagaimana mengatasinya, menyelamatkannya, mengatur APBN, melakukan sejumlah langkah agar masyarakat Indonesia tidak menerima beban berlebihan.

Untuk diketahui sekali lagi, kalau harganya menembus 140 dolar per barel, subsidi untuk BBM saja itu jumlahnya Rp 204,9 triliun, seperlima dari APBN kita lebih. Kalau harganya sampai 150 dolar, sekarang 146 berarti tinggal 4 dolar sampai disitu maka subsidi, porsi dari APBN kita arahkan untuk menutup ketekoran harga yang dibayar oleh rakyat dengan yang harus ditalangi oleh pemerintah mencapai Rp 229,5 triliun. Kalau 160 menjadi Rp 254 triliun. Itu subsidi BBM.

Listrik juga begitu. 140 dolar per barel itu Rp 80 triliun untuk subsidi listrik. Naik juga naik sehingga kalau 150 listriknya Rp 90 triliun. Jadi, untuk diketahui supaya rakyat paham betul, Saudara-saudara kita di seluruh tanah air maka kalau harganya 150 dolar per barel maka subsidi akan berjumlah sekitar Rp 320 triliun. Itu hampir sepertiga APBN kita. Hampir sama dengan jumlah pengeluaran lembaga-lembaga pemerintah dan negara untuk mengurus negara dan pemerintahan ini. Tapi harus kita keluarkan. Meskipun tidak ideal, harus, karena tentu tidak mungkin pemerintah terus menaikan harga BBM. Tidak mungkin kita ikut-ikutan negara lain, harga crude naik ya BBM naik, harga crude naik BBM naik, tidak mungkin. Kami punya hati, kami punya empati. Oleh karena itulah ada batas-batas yang kita pilih untuk keputusan dan kebijakan tentang BBM ini.

Yang ingin saya ceritakan adalah dari yang saya lihat tiap malam, tengah malam saya mengikuti pemberitaan di tingkat dunia, di Eropa, di Asia, di Timur Tengah, di Amerika, itu misalkan melalui siaran CNN, BBC, CNBC, Bloomberg, Channel News Asia, Al Jazeera, sekarang banyak kelompok-kelompok masyarakat di hampir semua negara termasuk negara-negara kaya, negara-negara maju, sudah betul-betul mengembangkan energi non minyak, bahkan juga energi non migas, termasuk sumber energi terbarukan, angin, air, surya, termasuk yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kalau negara lain mau ada yang industri rumah tangga, industri mikro, ada yang industri kecil, small industry, industri menengah.

Oleh karena itu saya salut kepada Bung Dahlan Iskan tadi untuk memelopori, jangan kita hanya marah-marah, jangan kita menyerah, do something. Mari kita lakukan sesuatu untuk tidak menggantungkan semua menggunakan BBM, apalagi yang berasal dari minyak. Indonesia punya semuanya. Oleh karena itu mari kita kurangi subsidi dengan kurangi penggunaan BBM. Silahkan digunakan batu bara, silahkan digunakan sumber-sumber lain yang akhirnya menyelamatkan perekonomian kita.

Saudara-saudara,
Saya senang, saya kenal Bung Dahlan Iskan ini orangnya blak-blakan, bicara apa adanya, tetapi konsekuen kalau ingin melakukan sesuatu. Dulu, 3-4 tahun yang lalu pernah bertemu saya, beliau ingin melakukan apa saja yang bisa untuk membantu perekonomian nasional. Tapi beliau pernah frustasi saya tahu, ingin membangun seperti ini di Kalimantan Barat tapi sampai sekian tahun akhirnya menyerah, balik kanan. Barangkali inipun hampir menyerah. Kalau sejak 2003, 2006 baru keluar. Inilah penyakit. Inilah penyakit, bukankah kita penyakit masyarakat kita meskipun Alhamdulillah sudah banyak yang berubah tapi masih banyak pula yang belum berubah. Kalu bisa dipersulit kenapa dipermudah. Itu, ini penyakit. Di pusat juga ada, di daerah juga banyak.

Jadi, mari kalau kita ingin negara kita mengalir dengan baik pembangunannya, semua bisa kita atasi ya permudahlah setiap urusan. Kalau bisa satu minggu tidak perlu satu bulan apalagi satu tahun. Kalau bisa murah kenapa mahal. Kenapa kalau bisa mudah, kenapa berbelit-belit?

Saya minta pers sorotilah yang suka memperlambat urusan. Angkat di koran-koran yang suka menghambat. Jangan yang disalahkan SBY terus. Tidak apa-apa, saya siap tetapi supaya yang lain juga ikut bertanggung jawab di negeri ini. Di negeri ini tidak ada rakyat yang tidak punya pemimpin. Ada desa-desa, ada Kepala Desanya. Kecamatan-kecamatan, ada Camatnya. Kabupaten-kota, ada Bupatinya, ada Gubernur, ada Menteri, ada Presiden. Tapi jangan urusan kecamatan harus unjuk rasa ke Istana. Kemana Pak Camatnya, kemana Pak Bupatinya? Jangan ada dusta diantara kita. Jadi ini contoh yang tidak baik.

Tiga tahun, proyek seperti ini yang ditunggu di Kalimantan Timur. Ada kekurangan 400 megawatt, kalau ini bisa segera mengeluarkan 25, 25 lagi, dan Insya Allah lebih besar lagi tertolong Kalimantan Timur. Kalau seperti ini PLN dan IPP yang non PLN, Independent Power Producers di seluruh Indonesia bangkit, kekurangan listrik bisa ditutup.

Semua mengeluh, semua teriak, “Kurang, kurang, kurang,” tapi kalau mau berusaha diperlambat, dipersulit, ini, itu, tidak konsekuen. Kalau kita teriak kurang baru kita sama-sama kita tambah. Membangun listrik tidak bisa hari ini dibangun, besok nyala, bulan depan nyala, perlu waktu 1, 2, 3, 4 tahun.

Mari, sejak mendiang Bung Karno, sejak Indonesia merdeka sampai kurang lebih dua tahun yang lalu listrik kita ini jumlahnya 25.000 megawatt. Jaman dulu cukup, industri belum berkembang, kendaraan belum banyak, rumah tangga belum mengkonsumsi listrik besar-besaran. Sekarang, tidak cukup.

Reformasi tidak banyak membangun karena krisis. Itulah sejak dua tahun yang lalu kita melakukan terobosan-terobosan, percepatan pembangunan, termasuk pembangunan 10.000 megawatt yang sedang berlangsung. Itupun belum cukup, harus ditambah lagi 10.000 megawatt berikutnya lagi. Gunakan panas bumi, gunakan batu bara, gunakan sumber air, gelombang, angin dan sebagainya. Harus ada keterpaduan PLN, non PLN. PLN sendiri tidak mampu. Mari kita bikin policy, kerjasama yang bagus. Semua bisa tumbuh di negeri ini. Ini harapan saya, mari kita nyata menambah sumber daya listrik ini.

Tadi Pak Poernomo mengatakan biayanya Rp 700 miliar. Mahal. Kenapa? Karena infrastruktur banyak yang ditanam karena infrastruktur mahal banyak yang terjual, ini pengusaha pejuang, pejuang pengusaha. Banyak pengusaha di Jakarta, di kota-kota besar kalau infrastrukturnya tidak ada tidak mau datang, maunya turun dari langit, maunya pemerintah bangun semua, tidak cukup uang kita.

Meskipun anggaran PU, anggaran Perhubungan, anggaran ESDM kita tingkatkan tapi kan Rp 1.000 triliun harus kami bagi, pendidikan, kesehatan, mengurangi kemiskinan, ini, itu termasuk infrastruktur. Mari kita bangun kemitraan yang kira-kira menghasilkan penghasilan, profit, usaha ya bareng-barenglah. Tapi diatur, ada insentifnya, ada aturan khusus tentang fiskal perpajakan dan lain-lain.

Saya terima kasih, Pak Dahlan Iskan ikut menanggung untuk membangun infrastruktur. Saya tanya kalau perlu apakah perlu dibicarakan dengan otoritas keuangan supaya ada policy yang pas? Tidak perlu dulu Pak, biar saya berjuang dulu sampai berhasil. Coba, tidak cengeng, tidak lunak, berusaha dulu sampai seperti apa sehingga dengan demikian baru kalau ada apa-apa dibicarakan supaya ada fairness antara negara dengan swasta, antara pemerintah dengan mitranya atau partnernya.

Ada semboyan, apa yang bisa kami berikan kepada negara dan bukan apa yang bisa diberikan negara kepada kami, betul, pernahkan? Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan negara kepada saya tapi mari kita tanyakan apa yang bisa kita berikan kepada negara. Sekarang kadang-kadang berubah, justru pertanyaannya apa yang bisa diberikan negara kepada saya, itu dulu. Ada lagi yang lebih parah. Apa, jadi begini bahasa Inggrisnya: Ask not what the country can do for you but ask what can you do for the country. Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan negara kepada kamu tapi tanyakan apa yang kamu bisa berikan kepada negara. Itu. Tapi jaman sekarang begini, ask not what the country can do for you, ask not what can you do for your country ask what can you do for your self. Tanyakan pada dirimu apa yang bisa kamu dapatkan untuk kamu sendiri. Ini paling parah.

Jangan melakukan sesuatu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Kalau bisnis ngambil keuntungan sebesar-besarnya dirinya sendiri bukan negara, bukan pemerintah, bukan masyarakat sekitar, bukan itu pejuang pengusaha, pengusaha pejuang yang harus tumbuh di negeri tercinta ini.

Saya sampaikan, usahanya berhasil bayar pajak yang tepat, jangan pajaknya slaman, slumun, slamet. Usahanya untungnya kecil, ya bayar pajaknya memang tidak bisa besar. Makin bagus usahanya, makin besar keuntungannya, bayar pajak. Bantu masyarakat sekitar. Dengan demikian rahmat Allah akan terus datang kepada usaha itu dan terus tumbuh. Ini ingin saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini.

Saudara-saudara,
Tadi saya lewat kendaraan, ada spanduk di sebelah kiri, judulnya, tulisannya, “Ku yakin sampai di sana.” Saya tanya ini ngapain kok ada spanduk, ya Pak. Saya tidak mengira apakah bisa terwujud power plan PLTU di tempat ini. Barangkali ingat ngurus ijinnya susah, barangkali ingat infrastrukturnya belum ada, nyatanya jadi. “Ku yakin sampai disana.” Beginilah sikap yang baik.

Dengan ridho Allah, insya Allah kalau kita terus berjuang, bersemangat, bekerja keras, sampai tapi kalau kita diam sambil ngerokok-ngerokok, bagi yang ngerokok, cicing. Menyalahkan sana-menyalahkan sini, menggerutu sana-menggerutu sini, mencaci maki pihak itu-pihak ini tidak akan kemana-mana ya disitu saja sampai rokoknya habis. Tidak akan sampai disana. Tapi kalau kita bersama-sama sampai, Insya Allah. Begitu. Senang saya melihat tulisan “Ku yakin sampai disana.” Maknanya begitu. Rising policy. Saya kira usulannya bagus.

Ini ada Menteri ESDM, Seskab sampaikan ke Menteri Keuangan. Saya itu tidak suka berjanji, kalau usulan bagus begini bicarakan, telaah dengan baik, lihat undang-undangnya. Undang-undangnya ada berarti bisa diwujudkan. Kalau undang-undang peraturan pemerintahnya belum ada, tapi ini baik, bisa kita sesuaikan peraturan pemerintah atau undang-undang, itu buatan manusia, buatan kita, jangan mempertanyakan sesuatu yang nyata-nyata tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Cara berpikir kita begitu. Silahkan diolah para Menteri terkait apa yang bisa dilakukan untuk apa namanya memiliki kebijakan tentang harga khususnya batu bara jenis tertentu untuk digunakan seperti power plan ini.

Saudara-saudara,
Saya kira itu respon yang saya sampaikan dan Pak Poernomo sudah menjelaskan ya kita punya kebijakan energi. Kalau dengar talk show, baca Koran, “Pemerintah tidak punya kebijakan energi.” Ya punya, masa tidak punya. “Pemerintah tidak mengerti persoalan.” Ya ngerti, masa tidak mengerti persoalan, tapi ini masalah global dan juga masalah nasional tidak seperti membalik telapak tangan. Tidak ada di dunia ini sekarang yang bersiul-siul, tidak keringat dingin menghadapi harga minyak yang 140, 145 dollar per barel. Janganlah melebih-lebihkan sesuatu, tidak baik untuk rakyat kita.

Mari justru kita pahami masalahnya, kita carikan solusinya secara bersama. Dan akhirnya saya sungguh berharap, pemerintah, badan-badan usaha milik negara termasuk PLN, swasta, pemerintah daerah, bergandengan tangan. Tidak boleh ada yang saling menghambat, justru saling memperlancar.

Saudara tahu, ada mata rantai. Mata rantai itu namanya, ini satu apa istilahnya itu ya cincin kait ya, ini karena change, itukan misalnya jaraknya 10 meter terdiri dari 20 masing-masing kekuatan rantai ini ditentukan bukan oleh yang paling kuat, yang paling lemah. Kalau dari 20 ada satu yang keropos ditarik pasti putus. Jangan mau jadi bagian yang keropos. Apakah pemerintah pusat, apakah pemerintah daerah, apakah swasta, apakah siapa? Jadilah semua kuat. Tarik apapun juga. Tarik harga minyak, tarik krisis, tarik macam-macam, kuat, begitulah falsafahnya.

Jangan senang menjadi bagian dari masalah. Mari kita menjadi bagian dari solusi. Kalau itu yang kita dapatkan Insya Allah apapun persoalan yang kita hadapi negeri kita selamat, kita akan terus membangun menuju hari esok yang lebih baik.

Demikianlah Saudara-saudara dan dengan pesan, ajakan dan harapan saya ini dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT dan mengucapkan ”Bismilahirrahmanirrahim”, Firing Unit 1 PLTU Embalut – Tanjung Batu, Kalimantan Timur saya resmikan.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan