Pidato Presiden

Sambutan Usai Salat Jumat di Masjid Raya Tebingtinggi

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
SEUSAI
SHALAT JUM’AT DI MASJID RAYA TEBING TINGGI
SUMATERA UTARA, 18 JULI 2008



Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabil alamin washalatu wa saalamu’ala asrafii amya iwa mursaliim, sayidina wa maulana muhammadin wa ala alihi wasabhihi azmain amma ba’du


Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Bapak Gubernur, Bapak Walikota Tebing Tinggi, para Pimpinan Bank-bank Milik Negara dan para Pejabat Negara se-Sumatera Utara,
Yang saya cintai dan saya muliakan para Ulama, para Tokoh Masyarakat, para Pemuka Adat,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi pada kesempatan yang membahagiakan ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan ridho-Nya kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada umat, kepada masyarakat, dan kepada bangsa dan negara tercinta.

Pada kesempatan yang baik ini pula marilah bersama-sama kita haturkan shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikut Rasulullah, Insya allah termasuk kita semua sampai akhir zaman.

Hari ini saya bersyukur bersama rombongan dari Jakarta bisa beribadah bersama, shalat Jum’at bersama di rumah Allah yang indah, yang bersejarah, dan semoga penuh berkah ini. Semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Dalam rangkaian kunjungan saya di Sumatera Utara kali ini, tadi malam di Medan saya bertemu dengan para ulama, para tokoh masyarakat, para pemuka adat dan para pemimpin yang mengemban amanah di Sumatera Utara ini untuk ber-silaturrahim, menyatukan tekad, menyatukan upaya untuk bersama-sama membangun negeri tercinta ini, utamanya membangun Sumatera Utara menuju masa depan yang lebih baik.

Insya Allah hari ini, saya akan melanjutkan perjalanan ke Parapat untuk menghadiri satu kegiatan budaya yang ada di Sumatera Utara ini, yaitu Pesta Danau Toba. Insya Allah besoknya lagi, saya akan berpanen raya, bertemu dengan masyarakat untuk menggiatkan program-program pro rakyat, termasuk menggerakkan ekonomi kemasyarakatan di Simalungun. Dan kemudian saya akan melanjutkan perjalanan kembali ke Medan dan Jakarta, mengemban tugas yang tidak ringan, hadirin sekalian, namun mulia ini.

Ada 3 hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, saya akan menindaklanjuti apa yang disampaikan oleh Khatib tadi, Al Ustadz Abdul Rahim Nasution, bahwa sebagai umat Islam, kita harus bersikap tepat, berpikir tepat dan bertindak tepat. Beliau mengangkat hubungan yang harmonis antara Pemerintah dengan rakyat. Kalau boleh saya tegaskan sesungguhnya hubungan yang baik antara ulama, umarah dan umat dalam arti yang luas.

Saya mengajak dan berlaku bagi diri saya, ke depan ini marilah terus kita kembangkan sikap dan sifat-sifat yang islami. Pertama, marilah tidak henti-hentinya kita bersyukur. Negara kita setelah ratusan tahun dijajah oleh penjajah, Alhamdulillah bisa merdeka. Baru saja merdeka, kita menghadapi berbagai macam ujian, cobaan dan tantangan, negara kita diselamatkan, tegak berdiri.
10 tahun negara kita menghadapi krisis yang maha berat, selamat kita. Sekarang pun ketika dunia juga sedang tidak bersahabat, kita juga menghadapi berbagai tantangan, negara kita masih kokoh, selamat dan tegak berdiri. Marilah kita sebagai umat hamba Allah pandai bersyukur dan mensyukuri semuanya itu.

Yang kedua, sebagaimana yang dialami oleh bangsa lain, Indonesia sekarang pun masih menghadapi berbagai ujian, cobaan dan tantangan, bencana alam misalnya terjadi di banyak negara di dunia ini, sebagian karena kehendak Allah, sebagian karena kesalahan umat manusia, yang tentunya semua juga atas kekuasaan Allah SWT. Harga minyak meroket, tinggi sekali, harga pangan pun ikut melonjak. Menghadapi semuanya ini sambil Pemerintah mencari solusi dan jalan keluar yang terbaik, kita sebagai umat Islam harus tetap sabar, tegar dan tawakal.

Dua minggu yang lalu, saya menghadiri pertemuan puncak yang dihadiri oleh 8 negara-negara Islam atau negara berpenduduk muslim di Kuala Lumpur, Malaysia. Saya bertemu dengan sahabat-sahabat saya, Kepala Pemerintahan, Kepala Negara dari Malaysia, dari Iran, dari Pakistan, dari Bangladesh, dari Mesir, dari Turki, dan dari Nigeria. Yang dihadapi oleh bangsa-bangsa itu, negara-negara sahabat itu, umat Islam di sana sama dengan yang kita hadapi. Kita bertekad untuk mengatasi masalah ini sebaik-baiknya sambil menjalin dan menggalang kebersamaan. Kalau kemarin kita bicara pada masalah ekonomi dan pembangunan, tapi akhirnya segalanya terpulang kepada bangsa yang bersangkutan. Maka saya mengajak, menghadapi semuanya ini, tetaplah kita tegar, sabar dan tawakal dan yang terakhir, menghadapi semuanya ini, marilah kita tetap berikhtiar.

Ustadz mengatakan tadi, yang bisa mengubah masa depan Sumatera Utara, ya Sumatera Utara dengan masyarakatnya, di bawah bimbingan para ulama dan umarahnya. Yang bisa mengubah masa depan Tebing Tinggi, Saudara semua yang ada di tempat ini, yang mengubah masa depan Indonesia menjadi negara yang lebih aman, damai, adil dan sejahtera, kita semua, bangsa Indonesia, yang mayoritasnya adalah umat Islam. Ini adalah sikap yang paling arif sesuai dengan tuntunan ajaran agama kita. Bersyukur, bersabar, tegar dan tawakal, dan tidak pernah berhenti berikhtiar. Ini pesan, harapan dan ajakan yang pertama.

Yang kedua, dunia sekarang berada dalam era globalisasi. Globalisasi mendatangkan sejumlah kebaikan, kalau kita pandai-pandai mengambilnya, teknologi misalnya, ilmu pengetahuan. Tetapi globalisasi juga mendatangkan berbagai masalah dan tantangan, yang kalau kita tidak pandai-pandai menyaring dan membendungnya merusak kehidupan di negeri ini, kehidupan umat, kehidupan bangsa, budaya, nilai dan lain-lain. Oleh karena itu, mari sebagai umat Islam menghadapi globalisasi ini, kita justru lebih memperkokoh ke-Islam-an kita dalam arti benar-benar Islam menjadi rahmat bagi semesta alam.

Bulan Maret yang lalu, saya menghadiri Pertemuan Puncak Organisasi Konferensi Islam. Puluhan Kepala Negara, Emir, Presiden, Perdana Menteri hadir di Dakar, di Senegal, Afrika. Kami, para pemimpin Islam sedunia itu sepakat, untuk ke depan ini benar-benar menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Islam dengan peradabannya yang mulia, yang luhur, yang pernah jaya di milenium pertama. Islam yang membawakan keteduhan, kasih sayang, harmoni. Islam dengan ilmu pengetahuannya memecahkan berbagai masalah-masalah di dunia, dan sejumlah sumbangan, bantuan, dan kontribusi dunia Islam pada dunianya. Indah sekali kalau Indonesia bersama-sama negara Islam yang lain itu, abad 21 ini, milenium ketiga ini betul-betul meningkatkan, menjayakan kembali peradaban Islam sebagai suatu peradaban yang bisa memberikan banyak solusi di dunia ini. Jangan ketinggalan kita, justru Indonesia menjadi pelopor, banyak negara, banyak bangsa yang berharap Indonesia bisa memunculkan panji-panji Islam yang sekali lagi bisa memberikan solusi, jalan keluar bagi permasalahan bangsa-bangsa di dunia, Insya Allah kita bisa.
Dan yang terakhir atau yang ketiga, tadi saya mendengar dengan seksama apa yang disampaikan oleh khatib tadi, bahwa negara ini akan berhasil kalau kita semua bersatu, rukun, melangkah, dan bekerja bersama-sama. Menjadi kewajiban Pemerintah, menjadi kewajiban saya yang sedang mengemban amanah dengan para Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota seluruh Indonesia untuk siang dan malam bekerja, meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan kehidupan agama, pendidikan, kesehatan semua.

Tetapi Saudara-saudara mencapai tujuan yang mulia, mengubah masa depan bangsa, tidak semua membalik telapak tangan. Rasulullah pada zamannya dulu melakukan hijrah, melakukan transformasi dan reformasi agung, mengubah peradaban bangsa Arab waktu itu menjadi dari zaman kegelapan, zaman jahiliyah menjadi zaman yang ditaburi dengan cahaya Islam. Perjuangannya luar biasa, tantangan, ujian, dan cobaan, kita pun tidak pernah sepi dari semuanya itu.

Oleh karena itu, saya mengajak kepada para umarah yang sedang mengemban amanah sampai pemimpin-pemimpin yang terdepan, marilah kita abdikan hati, pikiran, waktu, tenaga kita untuk rakyat. Kita harus mencintai rakyat, tulus, ikhlas, Allah Maha Tahu apa yang dilakukan pemimpin. Memang tidak mudah, tapi marilah terus kita lakukan segalanya untuk rakyat. Permohonan saya, para ulama juga membimbing kami, umarah, membimbing umat, agar mereka juga melakukan bantuan, dukungan untuk menjalankan program-program peningkatan kesejahteraan rakyat.

Semuanya akan indah kalau bersatu padu mengatasi masalah ini. Tidak mungkin Pemerintah mencederai rakyatnya, kami bersumpah di hadapan Allah SWT, seberat apapun tantangan yang kita hadapi, kami ingin mencari jalan keluar yang terbaik. Percayalah, saya bicara dari hati saya di hadapan Allah pada sidang Jum’at yang mulia ini. Marilah kita hadapi semuanya ini dan Insya Allah apa yang telah kita capai sejak krisis 10 tahun yang lalu, kita syukuri dan kita lanjutkan. Yang belum kita capai, kita teruskan untuk mencapainya. Hanya dengan cara itulah, bangsa kita akan dimuliakan oleh Allah dan semua tujuan dan sasaran pembangunan akan dapat kita capai.

Saya datang ke Sumatera Utara, saya datang ke Provinsi yang lain untuk bertemu rakyat, melihat bagaimana Pemerintah menjalankan program-programnya. Kalau ada kesalahan kita perbaiki, yang baik dilanjutkan, kemudian muncul lagi barangkali kebijakan dan program-program lain yang dibutuhkan oleh rakyat kita.

Itulah yang ingin saya sampaikan dan di atas segalanya, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Saudara Walikota Tebing Tinggi, kepada Gubernur Sumatera Utara. Saya nilai Tebing Tinggi dan Sumatera Utara dipimpin, dikelola secara baik, masyarakatnya pun dinamis, tulus bekerja, bekerja keras untuk mencapai masa depan yang lebih baik, agar semuanya ini dipertahankan, agar semuanya ini diperkokoh. Percayalah setiap ada kesulitan, selalu ada kemudahan, sebagaimana tadi Imam kita dalam memimpin sholat kita mengingatkan, dibalik kesukaran atau beserta kesukaran itu ada kemudahan.

Dunia mengalami krisis iklim, krisis minyak, krisis pangan, kalau kita pandai-pandai bersyukur sambil memohon ridho Allah kita bisa mengubahnya menjadi berkah, menjadi peluang, menjadi sumber kemakmuran di waktu yang akan datang, terutama anak cucu kita.

Itulah yang ingin saya sampaikan dan terima kasih atas kesabaran para ulama, hadirin sekalian, kita bersatu dalam doa, bersatu dalam ibadah dan bersatu dalam membangun negeri ini menuju masa depan yang lebih baik.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan