Pidato Presiden
Sambutan Pembukaan Pekan Padi Nasional dan Peresmian Laboratorium Analisis Flavor Beras
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN PEKAN PADI NASIONAL TAHUN 2008
DAN PERESMIAN LABORATORIUM ANALISIS FLAVOR BERAS
BALAI BESAR PENELITIAN TANAMAN PADI
SUBANG, JAWA BARAT
24 JULI 2008
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Wr.Wb.
Salam sejahtera untuk kita semua
Yang saya hormati saudara Menteri Pertanian Republik Indonesia
dan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Para Pimpinan Badan-Badan Usaha Milik Negara,
Yang saya hormati saudara Gubernur Jawa Barat beserta para Bupati, Walikota,
baik yang berasal dari Jawa Barat maupun dari provinsi-provinsi lain,
dan para Pejabat Negara yang bertugas di Jawa Barat. Baik, dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri.
Yang saya hormati para tamu dari FAO dan dari IIRI yang turut hadir pada acara ini,
Yang saya hormati para Pimpinan Perguruan Tinggi,
Para Peneliti dan Pengembang, para Pimpinan Usaha Pertanian,
dan khususnya para petani dan peneliti, yang saya cintai dan saya banggakan,
To our distinguished guest from FAO and from IIRI. I would like to welcome you all to Indonesia. I am pleased you good participate in our seminar in our effort to increase the production and productivity of rice, I will speak in the Indonesian language in Bahasa Indonesia and I do hope that the step of the Minister of Agriculture can other brief you my accent, the accent of my speech in English.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini saya mengajak Saudara sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberikan kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta. Saya mengucapkan selamat datang kepada peserta Pekan Padi Nasional dari seluruh tanah air dan selamat untuk mengikuti kegiatan ini. Saya juga mengucapkan selamat kepada Departemen Pertanian khususnya dalam upayanya untuk meresmikan Laboratorium Analisis Flavor Beras Balai Beras Penelitian Tanaman Padi di Sukamandi Subang hari ini.
Saudara-saudara,
Tadi pagi kurang lebih jam lima seperempat pagi saya melihat siaran televisi internasional yaitu BBC. Disitu saya lihat salah satu dampak dari krisis pangan yang terjadi di negara lain. Yang saya lihat tadi adalah yang ada di Ethiopia, dilihatkan disitu onta-onta pada mati, kemudian komunitas di beberapa tempat mengalami kelaparan yang ekstrim. Tanahnya gersang, kering dan ini bukti bahwa krisis pangan yang melanda beberapa bagian dari bumi ini masih terjadi dan memerlukan upaya besar kita. Semua bangsa untuk mengatasinya.
Kalau kita melihat itu kita bersyukur meskipun kita juga menghadapi kesulitan ekonomi kita, karena krisis harga minyak yang meroket pada tinggal global, termasuk melonjaknya harga pangan yang saya sampaikan tadi. Tetapi alhamdulillah berkat kerja keras kita semua utamanya para petani di seluruh tanah air kita bisa mengatasi krisis pangan yang terjadi di dunia.
Menurut penilaian FAO organisasi pangan sedunia Indonesia dinilai bisa mengatasi masalah ini. Namun saya mengajak kepada Saudara semua agar kita terus meningkatkan produksi pangan, bekerja lebih gigih lagi agar ketahanan pangan di negeri ini betul-betul dapat kita capai. Tanggal 9 Juli yang lalu saya menghadiri pertemuan puncak yang disebut dengan G-8 + 8 di Hokkaido Jepang. Dalam pertemuan pucak itu dihadiri oleh delapan negara industri maju dan delapan negara-negara besar di dunia. Alhamdulillah Indonesia ikut diundang untuk menghadiri pertemuan yang sangat penting itu. Dalam pertemuan di Jepang itu di bahas tentang perubahan iklim atau climate change yang menimbulkan berbagai malapetaka termasuk bencana, termasuk kekeringan dan banjir yang mengganggu pertanian di seluruh dunia. Juga dibahas katakanlah krisis minyak krisis energi dan krisis pangan termasuk pelambatan ekonomi dunia yang kita alami dewasa ini.
Indonesia diundang karena dinilai kita berhasil menjadi tuan rumah pada saat Konferensi PBB tentang perubahan iklim di Denpasar Bali tahun lalu. Kita juga dianggap sebagai negara yang dianggap sangat peduli pada pertanian, saudara pernah mendengar bahwa ketika terjadi kenaikan harga pangan yang melonjak beberapa bulan yang lalu, saya menulis surat kepada Sekretaris Jenderal PBB, kepada Presiden Bank Dunia, dan kepada Perdana Menteri Jepang. Surat tersebut intinya saya mengajak kepada pemimpin dunia untuk secara serius memecahkan masalah pangan ini, dan meningkatkan produksi pangan sedunia.
Atas kepedulian kita itulah dan atas penilaian bahwa kita sungguh serius untuk memajukan pertanian kita. Utamanya meningkatkan ketahanan pangan kita, kita turut diundang dalam pertemuan di Jepang yang sangat penting itu. Dalam pertemuan itu mewakili Saudara semua, mewakili seluruh rakyat Indonesia saya menyampaikan usulan dan pandangan kepada masyarakat dunia. Pertama, cara mengatasi krisis pangan ke depan masing-masing negara harus bisa meningkatkan ketahanan dan produksi pangannya. Perlu dilakukan investasi penanaman modal untuk mengembangkan pertanian termasuk kerjasama di bidang teknologi. Perlu ditata perdagangan dunia yang lebih adil sehingga negara-negara berkembang termasuk Indonesia bisa ikut memasarkan produk-produk pertaniannya dengan harga yang baik. Dengan demikian bukan hanya negara maju yang makin juga tetapi negara berkembang seperti Indonesia juga akan bisa meningkatkan kesejahteraannya.
Saya sampaikan juga dalam pertemuan itu bahwa meningkatkan pertanian berarti pula harus meningkatkan kesejahteraan petani terutama petani-petani yang penghasilannya belum tinggi. Dan menutup pandangan saya waktu itu Indonesia menggaris bawahi perlunya dilakukan, yang istilah Menteri Pertanian adalah, revolusi hijau gelombang kedua yaitu pembangunan pertanian secara intensif ke depan ini yang bersifat ramah lingkungan.
Saudara-saudara,
Tiga hari yang lalu saya memimpin Sidang Kabinet Paripurna yang diperluas. Di hadiri oleh para Menteri dan para Pejabat-pejabat Tinggi Pemerintahan. Dalam Sidang Kabinet Paripurna itu saya putuskan dan saya tetapkan bahwa pangan, ketahanan pangan, keterjangkauan harga pangan merupakan prioritas untuk dapat kita capai pada tahun 2008 dan 2009 ini. Ini artinya kita akan terus mengerahkan anggaran, memberikan subsidi dan berbagai program yang nyata untuk meningkatkan pertanian dan kita semua berkewajiban termasuk para pimpinan pemerintah daerah, para gubernur, bupati dan walikota, masyarakat luas komunitas petani untuk menyukseskan usaha besar kita ini.
Saudara-saudara,
Tadi pagi saya dengan melalui darat, dengan kendaraan mobil dari Jakarta menuju ke tempat ini. Makin dekat ke Sukamandi ini hati kami makin tentram karena melihat hamparan padi yang luas, dan sebagian telah menguning. Dan mudah-mudahan negeri kita yang kita cintai bersama ini makin subur pertaniannya, makin luas persawahannya, sehingga ketahanan pangan meningkat kesejahteraan petani pun makin meningkat. Oleh karena itu, setelah kita dengarkan tadi apa yang disampaikan oleh Pak Gubernur apa yang disampaikan oleh Pak Menteri Pertanian, saya percaya bahwa Indonesia yang kita cintai ini bisa suatu saat surplus beras, bahkan bisa mengekspor beras dan bisa menjadi lumbung padi dunia. Syaratnya kita bekerja keras dan marilah kita memohon ridho Allah SWT.
Saudara-saudara,
Selama hampir empat tahun ini, sesuai dengan amanat yang saya terima untuk memimpin Indonesia, saya berkunjung ke berbagai pelosok negeri. Saya bersama-sama dengan para menteri, para gubernur, bupati, dan walikota amat sering datang ke tempat-tempat pertanian. Tidak sedikit waktu yang saya gunakan untuk mengolah memutuskan menetapkan kebijakan, tentang peningkatan pertanian, tentang pupuk, tentang harga gabah, tentang harga beras dan hal-hal lain yang tujuannya adalah untuk meningkatkan pertanian dan pangan kita.
Mengapa itu perlu kita lakukan, pertama kita semua tahu pangan adalah kebutuhan yang paling utama dari rakyat kita. Jumlah penduduk di bumi ini 6,4 miliar jumlah penduduk Indonesia sekarang 230 juta. Semuanya memerlukan pangan. Padahal bumi kita sekarang ini mengindap penyakit yang di sebut perubahan iklim atau pemanasan global yang sering merusak pola tanam pertanian di banyak negara di dunia ini.
Di dunia juga perdagangan belum adil benar yang sering tidak mendorong peningkatan kesejahteraan petani di negara-negara berkembang. Oleh karena itulah sejak medio tahun 2005 yang lalu, saya canangkan dan kita bekerja keras sejak itu untuk melakukan peningkatan pembangunan pertanian. Revitalisasi pertanian, kehutanan, dan perikanan. Hasilnya mulai kelihatan kita menyaksikan peningkatan produksi padi, produksi jagung, produksi kedelai. Tentu saja ini langkah awal yang harus terus menerus kita tingkatkan di waktu yang akan datang.
Oleh karena itu dengan sikap dan cara kita menanggapi kemungkinan krisis pangan dunia krisis pangan dunia ini, kita harus memaknai bahwa dari krisis harus kita ubah menjadi peluang. Kalau sebagian orang mengatakan musibah harus kita ubah menjadi berkah. Caranya ya tanah air kita, sumber daya alam, sumber-sumber pertanian, sumber-sumber manusia para petani-petani Indonesia yang rajin dan unggul yang memiliki budaya pertanian yang baik harus betul-betul kita dayagunakan yang baik untuk meningkatkan pertanian kita. Di Yogya pada bulan April yang lalu saya sampaikan sudahlah tidak perlu kita terlalu banyak mengeluh, tidak perlu kita saling menyalahkan, tidak perlu kita gamang, tapi mulailah sekarang ini kita betul-betul mendayagunakan lahan atau tanah yang ada di tanah air kita. Banyak lahan-lahan terlantar lahan tidur yang tidak digunakan dengan baik mari semua lahan atau tanah itu kita gunakan dengan baik.
Investasi, lebih banyak lagi kita kembangkan modal untuk mengembangkan pertanian kita. Infrastruktur prasarana irigasi harus terus menerus kita bangun, teknologi termasuk penelitian dan pengembangan termasuk yang dilaksanakan di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Sukamandi ini harus terus digiatkan, pupuk dan benih harus disediakan dalam jumlah yang cukup dan harganya terjangkau. Lawan hama harus kita kembangkan dan akhirnya budidaya cara-cara bercocok tanam penyuluhan-penyuluhan harus kita tingkatkan. Kalau semua itu kita jalankan, kita semua, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Komunitas Petani, para Pengusaha Pertanian, para Peneliti, saya yakin bahwa yang menjadi tema dari Pekan Padi Nasional sekarang ini akan dapat kita wujudkan.
Saudara-saudara,
Kalau mendengar revolusi hijau gelombang kedua itu singkatnya ya kita lakukan peningkatan pembangunan pertanian secara intensif, dengan menggunakan teknologi dengan mendayagunakan hasil penelitian. Tetapi pembangunan pertanian besar-besaran ini tidak boleh mencemarkan lingkungan, tidak boleh tidak berlanjut, atau dalam bahasa asing kita sebut sustainable dan tidak boleh tidak tahan terhadap gejolak atau perubahan iklim seperti ini. Oleh karena itu apa yang dilakukan oleh Balai Penelitian di seluruh Indonesia termasuk di Sukamandi ini merupakan jawaban, merupakan solusi, dan mudah-mudahan kita semua utamanya para petani betul-betul bisa menggunakan varietas-varietas unggul yang dihasilkan oleh penelitian kita.
Hadirin yang saya muliakan,
Tadi Menteri Pertanian menjelaskan bahwa alhamdulillah telah diluncurkan varietas baru, tadi telah kita serahkan kepada para Bupati yang kita nilai sangat gigih dan memiliki keberhasilan dalam mengembangkan pertaniannya masing-masing. Ada yang disebut kalau tidak salah istilahnya Inpari, inbrida padi irigasi satu lagi lagi Inpara, inbrida padi rawa, ini kok seperti Suprapti Suprapto, inpari inpara, Hartini Hartono begitu, namanya begitu ya. Tapi, alhamdulillah, waktu dilaksanakan Pekan Padi Nasional tahun 2002 itu yang diluncurkan lima varietas, bagus.
PPN tahun 2004 telah diluncurkan tiga varietas unggul sekarang PPN 2008 diluncurkan sembilan varietas unggul, makin banyak negeri kita, mari kita gunakan sebaik-baiknya. Meneliti itu tidak mudah, oleh karena itu jangan kita sia-siakan mari kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Saya berterima kasih kepada para peneliti, jajaran pemerintah, Departemen Pertanian khususnya para peneliti perguruan tinggi, para peneliti swasta, para peneliti petani yang juga ikut andil di dalam mengembangkan varietas-varietas baru itu.
Indonesia harus unggul dalam penelitian, tidak boleh kalah dengan peneliti negara manapun juga. Mengapa tidak boleh kalah, kita punya pengalaman yang panjang. Para petani kita, petani yang baik, yang tangguh. Kemudian kita tahu keadaan tanah kita lahan kita iklim kita. Kita juga tahu iklim berubah mana yang sering kena rendam air, mana yang kekeringan, mana yang rawa mana yang jenis-jenis tanahnya khas. Oleh karena itu penelitian yang berhasil adalah menghasilkan varietas-varietas baru yang efisien, sedikit tapi produktif tahan perubahan iklim tahan hama dapat ditanam di mana saja di Indonesia ini. Itu hebat, oleh karena itu kalau belum teruslah bekerja siang dan malam, sehingga para petani yang menjadi pahlawan-pahlawan pangan ini mendapatkan varietas yang cocok yang bisa di tanam di daerahnya masing-masing.
Para petani yang saya cintai, saya ini beserta Ibu Negara dan yang lain-lain kalau berkunjung ke daerah melihat ada sawah yang terendam oleh air karena banjir, atau kadang-kadang fuso mengalami kekeringan, sedih seperti hati kami ini juga kering seperti kebanjiran, tetapi kalau kami mendengar dari Pak Anton dari semua, alhamdulillah Pak Presiden ini sudah ada bibit baru, benih baru ditanam ternyata satu hektar menghasilkan delapan ton, begitu dengar tujuh ton, delapan ton, sepuluh ton, dua belas ton, rasanya tiga hari tidak makanpun masih kenyang. Ini betul oleh karena itu ingat para peneliti, hasilkanlah varietas baru yang betul-betul seperti itu supaya bukan hanya petani tetapi hati kita semua tenang dan gembira.
Saudara-saudara,
Pak Gubernur Jabar tadi saya dengar pidatonya bertekad berupaya masyarakat Jabar untuk meningkatkan produksi padi, gabah kering giling tahun ini dari 10 juta ton menjadi kurang lebih 10,5 juta ton, sanggup masyarakat Jabar ? Insya Allah bisa. Saya sudah meminta Menteri Pertanian bagi provinsi kabupaten kota yang bisa meningkatkan produksi padi 5 % dan lebih, kita berikan tanda penghargaan. Pak Gubernur juga mengatakan tolong infrastruktur ditingkatkan, prasarana ditingkatkan, irigasi ditingkatkan, petani setuju? Saya juga setuju.
Begini negara kita pernah mengalami krisis 10 tahun yang lalu, ekonomi kita jatuh, uang kita sedikit, penerimaan negara sedikit. Oleh karena itu, sudah lama memang kita tidak membangun infrastruktur yang baru, irigasi yang baru, kadang-kadang yang adapun tidak bisa dirawat dengan baik. Begitu ekonomi kita makin baik, penerimaan negara makin baik sekarang-sekarang ini kita tingkatkan biaya untuk membangun infrastruktur termasuk irigasi itu. Saya berikan contoh sekarang sedang kita tingkatkan tahun ini saja 70 ribu hektar untuk meningkatkan membangun jaringan irigasi, 20.700 hektar untuk jaringan rawa. Yang direhabilitasi 240 ribu hektar untuk jaringan irigasi dan 164.392 hektar untuk jaringan rawa. Memang harus bertahap yang kita bangun seluruh Indonesia, tidak mungkin sekaligus uang kita tidak cukup harus dibagi-bagi dengan kesehatan, pendidikan, dan lain-lain meskipun pertanian prioritas, meskipun irigasi prioritas.
Saudara harus tahu membangun prasarana diseluruh Indonesia biayanya besar. Tahun 2005 kita anggarkan Rp 32,9 triliun, tahun 2006 kita anggarkan Rp 55 triliun, tahun 2007 kita anggarkan Rp 64 triliun, tahun 2008 sekarang ini Rp 89 triliun tahun 2009 mudah-mudahan disetujui oleh DPR kita akan tingkatkan Rp 99 triliun, hampir Rp 100 triliun. Untuk apa, ya makin banyak yang bisa kita bangun dan makin meningkat produksi padi kita. Pupuk terus-menerus kita keluarkan subsidi, tahun 2007 sebesar Rp 8,7 triliun, tahun 2008 Rp 14,6 triliun, tahun 2009 Insya Allah kalau disetujui oleh DPR Rp 20,6 triliun. Masih menjadi prioritas.
Benih demikian juga. Tahun 2007 subsidi sebesar Rp 1 triliun, tahun 2008 Rp 1,4 triliun, 2009 kita tingkatkan menjadi Rp 1,5 triliun. Ini usaha kita dari kemampuan yang ada untuk meningkatkan irigasi dan infrastruktur yang sama-sama kita perlukan. Dan jangan lupa sektornya Pak Anton pertanian 2008 kita kucurkan untuk membantu subsidi Rp 33 triliun , 2009 kita rencanakan Rp 35 triliun. Tidak sedikit, tetapi saya tahu belum sepenuhnya sesuai dengan yang kita tuju. Oleh karena itu ya mari kita lakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi ini.
Akhirnya Saudara-saudara dengan penjelasan saya tadi, dengan ajakan dan harapan saya kepada semuanya, marilah dengan semangat untuk menuju swasembada dan nantinya surplus, nantinya kita siap untuk memasarkan pertanian kita agar penghasilan petani makin meningkat, serta benar-benar kita tingkatkan ketahanan pangan, kita tingkatkan produksi padi, kita tingkatkan penelitian dan pengembangan padi, dan kita tingkatkan kesejahteraan petani. Siapa yang tidak setuju? Siapa yang setuju angkat tangan? Alhamdulillah.
Dengan semuanya itu maka saudara-saudara dengan terlebih dahulu memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim” Pekan Padi Nasional ketiga tahun 2008 saya nyatakan dibuka dan Laboratorium Analisis Flavor Beras Balai Besar Penelitian Tanaman Padi saya resmikan.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



