Pidato Presiden
Sambutan Peringatan Isra` Mi`raj Tahun 1429 H
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERINGATAN ISRA’ MI’RAJ NABI BESAR MUHAMMAD SAW
TAHUN 1429H / 2008 M
PANGKAL PINANG-PROVINSI BANGKA BELITUNG
31 JULI 2008
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saudara-saudara,
Kaum muslimin dan muslimat di seluruh tanah air yang saya cintai, para Ulama, Hadirin-hadirat sekalian yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya, kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan Insya Allah kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta. Shalawat dan salam, marilah sama-sama kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, para sahabatnya, dan para pengikut-pengikutnya Rasulullah hingga akhir zaman.
Hadirin-hadirat yang berbahagia,
Pada malam yang khidmat ini, alhamdulillah, kita kembali dapat menyelenggarakan Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW secara nasional yang dipusatkan di Kota Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung. Peringatan Isra’ Mi’raj yang kita selenggarakan setiap tahun, selain untuk menyemarakkan syi’ar Islam, juga mengajak kaum muslimin untuk memperkokoh keimanan dan keyakinan kita kepada Allah SWT. Memperingati Isra’ Mi’raj juga harus dapat memperteguh sikap istiqomah kita dalam meneladani perjuangan Rasulullah.
Sebagaimana kita ketahui bersama, peristiwa agung itu merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam misi kerasulan Nabi. Peristiwa luar biasa itu harus diyakini dan diimani oleh setiap muslim. Oleh karena itu, saya mengingatkan kaum muslimin, setiap memperingati Isra Mi’raj, hendaknya tidak sekedar larut dalam acara seremonial saja, tetapi bagaimana kita dapat mengimplementasikan nilai-nilai dan hikmah yang dikandungnya, utamanya teladan tentang kesungguhan, ketabahan dan kesabaran Rasul dalam mengemban amanah yang begitu berat.
Dalam catatan sejarah Islam disebutkan, bahwa menjelang peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW menghadapi banyak permasalahan yang berat, antara lain tekanan ekonomi, politik, psikologis, bahkan ancaman fisik yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy. Namun beliau tetap tabah, terus berjuang untuk menegakkan syiar Islam dan membangun peradaban baru yang lebih bermartabat dan terhormat.
Untuk lebih memperkuat semangat juang dan daya tahan menghadapi berbagai tekanan yang sangat berat itu, pada malam 27 Rajab, setahun sebelum hijrah, Allah memperlihatkan kepada beliau sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya melalui Isra’ Mi’raj. Sebelum perjalanan itu dimulai, dilakukan pembersihan hati sebagai bekal utama dan cahaya dalam perjalanan suci itu. Pembersihan hati, juga sebagai bagian dari dimensi kerohanian yang merupakan awal dari sebuah proses perubahan atau proses transformasi, sebelum melakukan pekerjaan besar.
Oleh karena itu, sebagai bangsa yang besar, kita hendaknya dapat memetik hikmah Isra Mi’raj. Kita juga harus melakukan upaya pembersihan hati dan kejernihan berpikir, sebelum mengantarkan bangsa kita menuju bangsa yang kuat, bangsa yang jaya, dan bangsa yang bermartabat. Membangun bangsa sesuai dengan peran dan fungsi kita, ibarat melakukan sebuah perjalanan suci yang memerlukan kebersihan hati dan kejernihan nurani, sehingga berbagai kesulitan yang kita hadapi dapat kita atasi dengan baik. Dengan hati yang bersih pula, kita dapat saling memelihara kerukunan dan kebersamaan kita dalam membangun martabat dan peradaban bangsa yang lebih mulia dan maju.
Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Peristiwa Isra Mi’raj selanjutnya mewajibkan umat Islam untuk menunaikan shalat 5 waktu sebagai wahana komunikasi langsung dengan Allah SWT. Selain perintah shalat, buah dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah pencerahan jiwa dan semangat bagi Rasulullah dalam menghadapi berbagai persoalan, baik dalam menyebarkan syiar Islam maupun dalam membangun tatanan kehidupan kemasyarakatan.
Pencerahan itu tercermin dari ayat-ayat yang diwahyukan di Madinah yang mengajarkan kaidah reformasi sosial dalam rangka transformasi kehidupan manusia menuju tatanan masyarakat madani yang adil, yang dilakukan secara bertahap. Membangun tatanan masyarakat secara bertahap, sesungguhnya lebih selaras dan sesuai dengan sunnatullah. Dan itulah yang dilakukan oleh Rasulullah selama kurun waktu 23 tahun dalam membangun masyarakat madani yang marhamah, masyarakat yang adil, makmur, aman, tenteram, dan sejahtera. Masyarakat yang kemudian disebut masyarakat Khaira Ummat, umat yang terbaik dan utama.
Saudara-saudara,
Banyak pelajaran dan hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa Isra’ Mi’raj. Pelajaran yang mendorong kita untuk selalu tabah menghadapi cobaan, mendorong kita untuk bangkit dan terus berjuang menjadi sebuah bangsa yang unggul dan maju. Bukankah Rasulullah SAW dalam membangun peradaban Islam di Mekkah dan Madinah tidak luput dari ujian, cobaan, dan tantangan? Namun dengan keteguhan iman, keikhlasan, dan kesiapan untuk berkorban, segala ujian, cobaan, dan tantangan itu dapat diatasi dengan baik.
Demikian pula dalam membangun sebuah bangsa yang unggul dan maju, kita pun tidak lepas dari berbagai cobaan, rintangan, dan tantangan yang akan senantiasa kita hadapi. Kita amat sering dihadapkan pada berbagai persoalan yang kompleks dan beragam. Di masa lalu, kita harus berjuang menghadapi penjajahan kolonial. Kita pun hingga saat ini masih terus berjuang meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Hadirin-hadirat yang saya hormati,
Saat ini, dunia dihadapkan pada krisis global, krisis yang pada akhirnya berimbas pula ke negara kita. Dunia dihadapkan pada kenaikan harga minyak, krisis pangan, krisis keuangan, serta perubahan iklim global. Namun sebagaimana Rasulullah SAW, kita harus memiliki keteguhan iman, kesiapan berkorban, dan semangat juang yang tinggi untuk bersama-sama mengatasinya. Kita harus yakin, sebagaimana firman Allah, ”Maka sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan” (QS: Al Insyirah: 5).
Oleh karena itu, kita harus dapat memanfaatkan krisis global, terutama krisis pangan dunia menjadi peluang yang membawa manfaat di kelak kemudian hari bagi bangsa Indonesia. Kita adalah negara yang memiliki potensi besar dalam bidang pertanian dan pengadaan pangan. Kita bersyukur, walaupun dunia tengah diterpa krisis ketersediaan pangan, juga kenaikan harga beras di pasaran internasional yang cukup tajam, berkat kerja keras kita semua, produksi beras di tanah air malah bahkan meningkat.
Alhamdulillah, harga beras di negara kita tetap stabil, sehingga tetap terjangkau oleh masyarakat kita. Kemampuan kita dalam mengatasi krisis pangan, juga diberikan apresiasi oleh bangsa-bangsa lain. Organisasi Pangan Dunia memberikan penghargaan atas upaya dan keberhasilan kita dalam mengatasi persoalan pangan. Selaku yang sedang mengemban amanah, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia dan semua pihak yang terus berjuang dan berupaya mengatasi permasalahan pangan dunia itu, khususnya di negeri sendiri.
Saudara-saudara,
Dalam kaitan itu, seperti yang telah saya kemukakan pada peringatan seabad Kebangkitan Nasional beberapa waktu yang lalu, ada tiga syarat fundamental yang diperlukan untuk menjadikan bangsa Indonesia, bangsa yang maju dan sejahtera di abad 21 ini.
Pertama, kita harus menjaga dan memperkuat kemandirian kita. Kita tidak boleh memiliki ketergantungan yang tinggi kepada bangsa lain. Kedua, kita harus memiliki daya saing yang makin tinggi. Kita tidak boleh kalah bersaing dengan negara dan bangsa lain. Dan yang ketiga, kita harus membangun dan memiliki peradaban bangsa yang mulia.
Sesungguhnya dengan ketiga syarat fundamental itu, kita telah memiliki landasan kuat dan modal dasar yang besar untuk bangkit, tumbuh, dan berkembang menjadi sebuah bangsa yang maju. Kita memiliki kekayaan sumber daya manusia. Dengan keteguhan spiritual yang kukuh, yang dapat menjadi pendorong semangat untuk bekerja keras, dengan niat ibadah semata-mata karena Allah SWT. Selain itu, kita juga memiliki kekayaan alam yang besar sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Kekayaan alam yang dapat kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan bangsa kita. Namun, jika kita tidak dapat memanfaatkan keduanya, tidak dapat mendayagunakannya secara baik dan tepat, kita akan menjadi bangsa yang tertinggal.
Bukankah Allah SWT berfirman; “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’du: 11). Firman Allah itu, mengajak kita semua untuk meningkatkan daya saing, mengubah nasib, dan mengajak kita semua untuk meningkatkan kesejahteraan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya, kita juga makin terdorong untuk menjalankan salah satu ajaran Al Qur’an, yaitu fastabiqul khairat, berlomba-lomba untuk berbuat yang terbaik dan bermanfaat bagi bangsa, negara, dan kemajuan peradaban.
Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Sebagai sebuah bangsa dengan jumlah penganut Islam terbesar di dunia, kita juga harus dapat memberikan sumbangan besar bagi kemanusiaan dan kemajuan dunia. Kita harus dapat menjadi pelopor dalam pembangunan kesetaraan, kedamaian, keadilan dan kesejahteraan. Kita harus memiliki keunggulan, terutama dalam meningkatkan daya saing dan penguasaan ilmu dan teknologi. Sebagaimana disampaikan tadi oleh penceramah kita, Bapak Dr. Abdullah Shahab dan juga diulangi oleh Menteri Agama, bahwa umat Islam harus tampil dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia, kemaslahatan kita semua.
Sejarah membuktikan, di saat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat di masa lalu, di saat itu pula, dunia Islam mencapai puncak kejayaannya, yang dikenal dengan The Golden Age of Islamic History. Ke depan, kita harus mampu mengembalikan kejayaan Islam, salah satunya adalah dengan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didukung oleh keteguhan iman dan ketaqwaan kita.
Jika kita hanya memiliki keunggulan iman dan taqwa, tetapi tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kita akan selalu tergantung pada bangsa-bangsa lain, terbelenggu, dan terpinggirkan dalam percaturan global dan tentu itu bukan pilihan kita. Sebaliknya, jika kita hanya unggul dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi kering dari iman dan taqwa, kering rohani, kita akan menjadi bangsa yang merugi. Upaya untuk mengembalikan kejayaan Islam, khususnya untuk menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, rahmatan lil-alamin, juga terus kita upayakan bersama.
Kemarin Saudara-saudara di Jakarta, saya membuka International Conference of Islamic Scholar (ICIS) yang ke-3, yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdatul Ulama bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri yang diikuti oleh para ulama dan para cendekiawan Islam dari 64 negara di dunia. Tema dasar dari konferensi para ulama kemarin adalah, Islam sebagai agama yang rahmatan lil-alamin, dengan tujuan utama untuk memajukan dan memberdayakan Islam yang moderat, yang membangun perdamaian, dan memperkokoh persatuan Islam.
Demikian pula, pada bulan Juni yang lalu, Pengurus Pusat Muhammadiyah, melalui kerjasama dengan banyak organisasi lainnya, dari dalam dan luar negeri menyelenggarakan World Peace Forum, dengan tujuan yang tidak jauh berbeda dengan konferensi yang kemarin saya buka di Jakarta. Forum internasional semacam ini diharapkan menjadi wadah bagi warga dunia, khususnya umat Islam sedunia yang peduli untuk berbagi pemikiran dan kebijaksanaan, mendiskusikan cara-cara praktis untuk meningkatkan kerjasama dan mengurangi prasangka, serta membangun kesepahaman di antara kita semua, sehingga diharapkan dapat mengintensifkan dialog antar peradaban, dan pada gilirannya akan menciptakan dunia yang aman, dunia yang tenteram dan dunia yang damai, sebagaimana kita harapkan bersama. Dari kedua upaya tersebut, sekali lagi kita selayaknya bersyukur, bahwa umat Islam Indonesia telah memiliki posisi yang terhormat di dunia, dan akan terus berupaya untuk menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.
Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, sekali lagi, saya mengajak kepada segenap kaum Muslimin dan Muslimat di seluruh tanah air untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa Isra’ Mi’raj. Dengan memetik hikmah dan pelajaran dari peristiwa besar itu, saya yakin, masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa dan negara kita akan dapat kita atasi bersama.
Melalui momentum Peringatan Isra Mi’raj tahun ini, marilah kita bertekad bulat untuk untuk melanjutkan pembangunan bangsa dan negara kita. Mari kita bangun negeri kita dengan kebersihan jiwa dan kesucian nurani, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Mari kita berikan sumbangan terbaik kepada bangsa dan negara kita, baik untuk saat ini maupun untuk generasi yang akan datang. Mari kita bangun tatanan masyarakat berilmu sebagai ciri dari bangsa yang berdaya saing tinggi, yang mampu membawa kemajuan dan meningkatkan kesejahteraan.
Akhirnya, semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan, petunjuk, dan perlindungan-Nya kepada kita sekalian dalam membangun hari esok yang lebih cerah dan gemilang.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



