Pidato Presiden

Sambutan Silaturahmi dengan Pengurus PWI Pusat Periode 2008-2013

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHMI DENGAN PENGURUS DAN ANGGOTA
PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA (PWI)
ISTANA NEGARA, 31 JULI 2008



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang saya hormati,
Para Sesepuh dan Wartawan Senior yang saya cintai dan saya muliakan,
Pimpinan PWI Pusat, baik yang lama maupun yang baru yang saya cintai,
Saudara-saudara Keluarga Besar PWI dan Insan Pers yang saya banggakan,

Marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, perjuangan kita, serta tugas dan pengabdian kepada bangsa dan negara, serta perjuangan untuk mengembangkan kehidupan pers di negeri tercinta ini.

Saya ingin berbicara secara langsung dan bebas dari ketentuan protokoler atau membacakan sesuatu yang biasanya telah dipersiapkan, karena kesempatan begini sering langka. Oleh karena itu, dengan semangat yang baik, dengan niat yang baik pula, saya ingin menyampaikan pikiran, harapan, dan ajakan saya kepada Saudara sekalian, sekaligus merespon apa yang telah menjadi pemikiran dan kepedulian, utamanya jajaran PWI dalam kongres yang baru saja dilaksanakan di Aceh.

Saudara-saudara,
Tentu saya awali dengan ucapan selamat, kongres telah dilaksanakan dengan baik dan sebagaimana yang disampaikan oleh Saudara Margiono tadi berjalan secara tertib dan demokratis. Lagi-lagi ini pemberian contoh dari insan pers, dari komunitas media dan wartawan, bahwa demokrasi juga bisa dilaksanakan secara tertib dengan akhlak, dengan tanggung jawab, dan membawa pembelajaran yang baik bagi kehidupan politik di negeri ini.

Kepada Saudara Margiono, saya ucapkan selamat beserta jajaran pengurus. Saya berharap kehormatan dan kepercayaan yang Saudara-saudara dapatkan dari Keluarga Besar PWI dapat dipertanggungjawabkan dan dilaksanakan sebaik-baiknya sesuai dengan aspirasi PWI dan tentu sesuai dengan harapan kita semua, harapan Pemerintah, harapan rakyat.

Kepada Saudara Tarman Azzam, saya beserta jajaran pengurus PWI Pusat periode 2003-2008, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas dedikasi dan kerja keras yang Saudara-saudara lakukan juga untuk memajukan kehidupan pers dalam kehidupan politik di negeri kita. Banyak yang telah Saudara lakukan dan dalam banyak hal, saya juga ikut hadir, ikut bersama-sama memantau, berkomunikasi, baik formal maupun tidak formal yang saya anggap bahwa pengurus periode yang lalu cukup aktif dan berkontribusi bagi upaya besar kita mengembangkan kehidupan demokrasi melanjutkan pembangunan bangsa. Saya yakin dan percaya, pengurus yang baru juga akan melanjutkan apa yang telah dirintis oleh pengurus sebelumnya. Saya pun berharap Saudara-saudara dapat berhasil dalam mengemban tugas, menjalankan amanah yang tidak ringan namun mulia.

Saudara-saudara,
Saya pertama-tama ingin bicara dinamika, romantika dan perkembangan demokrasi di negeri kita dan dimana peran, serta letak pers dan media massa dalam upaya untuk memekarkan kehidupan demokrasi ini. Yang kedua, saya nanti ingin juga menyampaikan harapan saya, bagaimana upaya Saudara, upaya internal untuk meningkatkan kualitas, profesionalisme, idealisme Saudara-saudara dalam mengemban tugas. Dan yang terakhir, karena tahun ini adalah tahun politik, tahun depan adalah tahun Pemilu, election time, tentu saya juga ingin, kita semua, Saudara-saudara ikut menyukseskan perjalanan demokrasi di negeri ini.

Kalau jaman dulu sukseskan Pemilu, itu terjemahannya mesti menyukseskan salah satu partai politik. Kalau sekarang menyuksesksan Pemilu, Pemilu berjalan secara fair, adil, demoktaris, aman, tertib dan lancar. Siapapun yang diberikan mandat oleh rakyat, apakah partai, apakah perorangan, ya harus kita dukung karena proses demokrasi meniscayakan seperti itu.

Saudara-saudara,
Kembali kepada kehidupan demokrasi, baru saja 1 jam yang lalu berakhir satu sesi di Istana Merdeka, karena Istana Negara akan digunakan oleh Saudara-saudara, tadi kami laksanakan di Istana Merdeka, satu kegiatan yang kita namakan Presidential Lecture. Presidential Lecture itu kegiatan dimana hadir para guest speaker, baik dalam maupun luar negeri untuk mempresentasikan sesuatu yang berguna bagi pengetahuan, baik jajaran Kabinet maupun pihak-pihak lain yang kita hadirkan. Bisa dunia usaha, bisa dunia media massa, bisa para peneliti, bisa para politisi, siapa saja yang kira-kira memiliki kepedulian dan peran sesuai dengan subjek yang kita bahas.

Yang kita undang tadi adalah Profesor. Dr. Kishore Mahbubani yang memiliki pemikiran yang challenging, provoking tentang kebangkitan Asia yang dalam tesisnya Asia bangkit, mungkin Barat tidak sadar, tidak aware, barangkali juga bisa tidak welcome dengan kebangkitan Asia. Segi-segi itu penting sambil kita lihat dalam radar Indonesia masuk dimana, apa yang bisa dilakukan oleh kita semua untuk tidak menyia-nyiakan momentum kebangkitan Asia ini.

Lantas di waktu yang lalu juga kita undang ahli climate change, ahli, bukan ahli korupsi, kalau ahli korupsi ahlinya berkorupsi, ahli anti korupsi juga kita undang pengalaman di Hongkong, pengalaman negara-negara lain. Kemudian kita undang ahli pengurangan kemiskinan, Jeffrey Sachs misalnya yang menyusun buku “The End of Poverty”, penasihat Perserikatan bangsa-Bangsa dan banyak lagi yang kita undang.

Yang tadi, itu relevan dengan opportunity yang kita miliki ke depan ini, disamping tantangan-tantangan dan yang menarik adalah dinilai, dipandang oleh dunia, oleh beberapa pihak, termasuk Profesor Mahbubani bahwa perjalanan demokrasi di Indonesia ini dianggap on track, moving forward dan promising. Ketika Saudara tahu semua, ada persoalan tentang demokrasi misalnya di negara-negara tetangga kita di ASEAN atau di tempat yang lain, bahkan yang unik mengkontraskan dengan demokrasi di Amerika Serikat yang dikatakan 7 tahun terakhir ini bahkan mengalami gerak mundur, on the retreat permasalahan cara menangani terorisme, Guantanamo dan lain-lain. Tentu kita senang dengan penilaian ini, tapi bagi saya bukan senang dan tidak senang. Ini satu cermin bahwa di tengah-tengah belum puasnya kita, di tengah-tengah kok rasanya masih belum cepat betul membikin demokrasi kita ini menjadi consolidated democracy, yang betul-betul mengaplikasikan democratic values and principals, tetapi oleh banyak kalangan dianggap on track.

Poin yang ingin saya sampaikan adalah saya sebagai Kepala Negara yang sedang mengemban amanah, tentu kalau ada yang baik seperti ini, saya teruskan kepada para penyumbang, kepada para kontributor makin mekarnya demokrasi di negeri ini, termasuk tentunya pilar yang sangat penting, kontributor yang sangat penting adalah pers dan dunia massa. Boleh tepuk tangan. Tentu masih ada penyumbang-penyumbang mekarnya demokrasi, kampus, mahasiswa, banyak sebetulnya yang juga ikut memekarkan kehidupan demokrasi di negeri ini.

Mengapa saya harus mengatakan begitu? Saya sampaikan juga pada Profesor Mahbubani tadi, saya adalah salah satu pelaku dari reformasi dan demokratitasi di negeri ini. Sepuluh tahun yang lalu, saya masih ada di TNI, saya mendapat tugas untuk merumuskan cetak biru dan roadmap dari reformasi TNI, yang intinya menghentikan dwi fungsi, militer berhenti menjalankan fungsi politik, kembali kepada fungsi pertahanan dan kemudian dibangun menjadi tentara yang profesional. Tentu dengan segala tantangan dan perlawanan yang tidak sedikit waktu itu, kami ikut bersama teman-teman yang lain.

Setelah itu, Saudara masih ingat, saya berkesempatan untuk membantu Presiden Abdurahman Wahid dan Presiden Megawati yang lukisan kedua beliau ada di sebelah kiri belakang, kebetulan portfolio saya adalah politik keamanan dulu, saya harus mengelola permasalahan politik dan keamanan, termasuk konflik Aceh segala macam, tetapi dengan approach baru, dengan paradigma baru, yaitu yang saya disebut dengan democratic solutions, bukan lagi hanya mengedepankan pendekatan keamanan, pendekatan militer yang sering kontra produktif dan tidak menuntaskan masalah. Itupun juga tidak serta merta kita bersetuju menyelesaikan masalah-masalah seperti itu, karena simply di depan benak kita old faraday yang belum tentu kompatibel dengan cara-cara berpikir dalam sebuah kehidupan demokrasi. Kita bersama-sama menjalani dan pers juga amat dekat dengan apa yang kita lakukan dulu.

Yang terakhir, sekarang ini setelah kita mengalami masa yang tidak mudah, ada setback, ada stagnasi, ada kegaduhan sosial, instabilitas politik, ingat lima tahun pertama sejak reformasi dulu, kita bisa mengatasi. Sekarang pun masih ada dampak akibat kita melakukan demokratisasi secara ambisius dengan skala yang besar kadang-kadang dramatis. Tetapi satu hal, yang ingin saya berbagi pandangan dengan Saudara-saudara, semua itu mesti kita lalui, tidak usah, “Jangan-jangan salah arah kita, jangan-jangan negara kita nanti sampai di tempat yang keliru.” Ini adalah sesuatu yang mesti kita hadapi, kita lalui, kita carikan solusinya, kalau betul-betul kita ingin membangun demokrasi yang baik, demokrasi yang benar.

Dan at the end day, saya percaya kalau kita semua firm, tidak gamang, tidak lantas kehilangan kepercayaan menghadapi dinamika seperti ini, Insya Allah kita akan sampai sebuah demokrasi yang pas betul dengan nilai-nilai Indonesia, tapi juga nilai-nilai universal yang membawa manfaat, yang menyejahterakan rakyat, yang tidak ekstrim dan lain-lainnya. Saya punya kepercayaan seperti itu.

Ini kepada para sesepuh dan para senior, ini juga ujian bagi seorang Kepala Negara, bagi seorang Presiden, belum tentu semua siap secara mental menjadi pemimpin dicaci maki, gambarnya diinjak-injak, dibakar, menerima SMS yang isinya luar biasa kadang-kadang, meskipun kadang-kadang ada yang sejuk, kadang-kadang yang keras, yang saya bisa menjelaskan dengan gampang, tetapi kalau saya larut disitu saya tidak bisa bekerja. Oleh karena itu, sabar, tegar, saya hadapi semua itu dan saya berdoa, “Ya Allah, jangan sampai saya tergoda untuk melakukan sesuatu yang membalikkan arus demokrasi itu.” Kalau saya harus berkorban, ya harus mengalah, dan mengalah, dan mengalah, demi kebaikan.

Itu saya kira masa-masa yang indah yang kita lalui, semua melalui, belum tentu para wartawan senior cara pandangnya sama persis dengan wartawan junior, belum tentu, selalu ada gap dalam values, dalam perceptions, dalam dan sebagainya. Tapi inilah indahnya demokratisasi, inilah indahnya transformasi yang sedang berlangsung di negeri tercinta ini. Harapan kita, kita semua bisa betul-betul berperan, yang baik kita lanjutkan, kita bikin lebih baik lagi, yang kira-kira semua mengatakan tidak cocok, ya kita bikin yang cocok. Dengan demikian, tidak perlu ada satu top down corrections, yang unnecessary, tapi kalau ada koreksi, ada proses interaksi dari kita semua, dari para pelaku demokrasi, pelaku pembangunan, pelaku kehidupan politik di negeri kita.

Saudara-saudara,
Dari topik pertama ini, meskipun dunia banyak menilai demokrasi kita terus mekar dan berkembang, tapi kita yang di dalam memahami betul dinamika, pasang surut, tantangan-tantangan yang marilah kita semua, semuanya kita jadikan pelajaran yang sangat berharga untuk membikin lebih baik lagi demokrasi kita di waktu yang akan datang. Itu yang pertama Saudara-saudara.

Sekarang yang kedua. Kita ingin sebetulnya dilihat oleh kita sendiri atau dilihat oleh dunia apa adanya, kita perlu cermin. Kalau saya lihat cermin, apakah rambut saya kepanjangan, apakah baju saya kusut, apakah muka saya cukup cerah atau seperti ini kurang tidur, apa kelopak matanya jadi besar, kita bisa lihat itu. Sama, kita juga ingin ada cermin. Oleh karena itu simply, sederhana saja, manakala ada yang belum baik, sebagaimana terlihat dalam cermin, ya katakan belum baik, ini masih macet, pelaksanaan good governance masih ada gangguan di sini, birokrasi di sini masih lamban, dan seterusnya, dan seterusnya, silakan dibuka. Karena itu untuk koreksi diri, untuk memotivasi, untuk saya bisa ikut menindaklanjuti, karena saya tidak mungkin 24 jam saya bisa mengerti yang dilaksanakan oleh seluruh jajaran Pemerintah di negeri kita ini. Cermin itu media massa, cermin itu televisi, cermin itu harian, cermin itu majalah dan berbagai wahana media yang makin sophisticated karena perkembangan teknologi.

Sebaliknya kalau sudah ada yang baik, daripada diganti wong baik kok, kemudian kita juga perlukan cermin, ada Bupati yang berprestasi, kemiskinan menurun dengan drastis, karena inovatif. Ada juga Walikota yang kotanya bersih, dekat sama rakyat dan lain-lainnya. Sebagaimana falsafah cermin, tolong juga diangkat. Dengan demikian, bangsa ini Alhamdulillah banyak yang belum bagus, tapi ada juga yang bagus-bagus. Ini bagus, jujur pada diri sendiri. Akhirnya mana yang bagus, kita pertahankan dan kita kembangkan, yang belum bagus, kita bikin bagus just tell the truth. Mahal, mulia, tapi harus karena ini amanah.

Demikian juga luar negeri, terus terang selama hampir 4 tahun saya mengemban amanah, saya jatuh tempo tanggal 20 Oktober tahun depan, ini memasuki tahun kelima hampir. Empat tahun ini, ketika saya bertemu dengan banyak pihak di dalam dan di luar negeri, mesti ada porsi untuk menjelaskan, to explain apa yang ada di Indonesia, yang sudah kami capai apa, yang belum kami capai ada. Sering kali ada miss perception, sering kali negara kita dilihat sebelah mata, entah dari mulut ke mulut, dari berita ke berita, tayangan media luar negeri, mungkin juga secara tidak sadar coverage dari tayangan media dalam negeri. Setelah mereka datang, seeing is believing, pengetahuan mereka makin lengkap. Oleh karena itu, demi tujuan yang baik yang saya sampaikan tadi, saya sungguh ingin agar peran media massa dalam menggambarkan kehidupan kita sebagai cermin dan juga dalam konteks global, itu betul-betul dijalankan dengan sebaik-baiknya, proporsional, profesional. Saya senang tadi kalau sudah bicara profesionalisme, profesionalitas, bicara idealisme.

Saudara-saudara,
Kita masih ingat dulu ketika abad-abad awal kebangkitan dunia modern yang dinamakan kaum profesional dulu itu ada tiga, satu dokter, yang kedua, ahli hukum, yang ketiga, perwira militer. Karena mereka terikat dalam etika kebenaran, etika pengorbanan, etika keberpihakan pada yang besar. Sekarang telah banyak cabang-cabang profesi yang juga paling tidak dikategorikan sebagai kaum professional. Guru oleh undang-undang kita dinamakan kaum profesional, wartawan kaum profesional dan lain-lain. Kalau memang itu menjadi hajat dan kesadaran dari teman-teman, sebagaimana kaum profesional yang lain untuk terus memelihara nilai-nilai profesionalisme, memelihara etika profesinya masing-masing, tentunya ini kesempatan yang baik agar demokrasi mekar, nilai-nilai yang baik juga berkembang bersama-sama dengan bangkitnya profesionalisme dari teman-teman para wartawan. Saya hanya mendoakan dan saya juga mendukung, mendorong agar proses ini yang lebih bersifat internal dapat tumbuh dan berlangsung dengan baik.

Hadirin yang saya hormati,
Yang terakhir, sebelum saya merespon nanti 2 poin yang diangkat tadi, itu apa yang sedang berlangsung di negeri kita ini. Partai-partai politik sudah ditentukan. Berapa jumlahnya sekarang? 34. Ada yang lama, ada yang baru, ada yang lama dengan kemasan yang baru. Yang semuanya, semuanya memiliki hak, semuanya akan berperan, semuanya sungguh ingin sebetulnya ikut dalam kompetisi ke depan ini. Oleh karena itu, mari kita ciptakan ruang agar semua partai-partai politik dengan tokoh-tokohnya memiliki ruang yang sama, equality of the opportunity untuk berkompetisi secara sehat, untuk berkompetisi secara baik.

Saya respect semua pada partai-partai politik itu, saya respect pada tokoh-tokoh itu, bahkan beberapa kali saya sampaikan makin banyak pilihan sesungguhnya, asal jumlahnya rasional, makin baik bagi rakyat untuk memilih siapa yang tepat menjadi wakil-wakil mereka di DPR dan DPRD. Siapa yang tepat menjadi wakil-wakil mereka di DPD. Siapa yang tepat kira-kira nanti memimpin negeri ini 5 tahun ke depan Presiden, Wakil Presiden yang juga akan mengangkat para Menteri dan pembantu-pembantunya. Ini adalah hak rakyat, kepentingan rakyat untuk hadir, muncul seperti itu, penyegaran kepemimpinan, regularitas demokrasi.

Kita semua harus menciptakan ruang, sekali lagi agar proses itu berjalan dengan baik. Kalau itu kita ciptakan, pilar pertama bagi berkualitasnya demokrasi, berkualitasnya pemilihan umum, baik itu untuk Legislatif maupun untuk Presiden dan Wakil Presiden, tahun depan akan betul-betul dapat kita wujudkan. Circumstances, iklim, ini sangat penting, ruang.

Yang kedua, proses. Kita semua ingin prosesnya penuh pembelajaran, penuh etika, penuh konstitusionalisme, penuh kepatuhan pada aturan main dan etika, dan lain-lain. Sehingga meskipun nanti akan keras kompetisi itu, bisa berhadap-hadapan, bisa berjalan, tetapi sesungguhnya masih dalam bingkai, dalam koridor demokrasi yang sehat. Ini memang terpulang kepada para elit, para tokoh-tokoh politik, para pimpinan-pimpinan partai politik untuk bersama-sama mengelola proses dalam Pemilu ini sebaik-baiknya karena ruang, kondisi, iklim, circumstances telah bisa kita ciptakan untuk memungkinkan proses kompetisi itu berjalan dengan baik. Ini pilar yang kedua.

Pilar yang ketiga, tentunya supaya tidak ada dusta di antara kita, maksud saya antar partai-partai politik, kita ini antar partai politik dengan rakyat, antara tokoh-tokoh politik dengan rakyat, maka kampanye-kampanye, penjelasan-penjelasan itu harus faktual, kemudian ya tentunya merupakan positive campaign. Boleh saja di luar negeri juga ada negative campaign, boleh, tidak dilarang, tetapi bagi negara yang sedang berkembang, yang kebebasan tengah mekar, yang tentunya kita ingin mematangkan kehidupan demokrasi ini, kalau itu berlebihan, maka negeri kita akan menjadi lautan fitnah, lautan provokasi, lautan agitasi, yang kalau itu justru mendominasi proses politik akan tenggelam yang baik-baik oleh gelombang lautan seperti itu. Oleh karena itu, seelok-eloknya yang kita kembangkan adalah positive campaign. Dengan demikian, lebih gamblang bagi rakyat nanti ketika harus menyampaikan pilihan kepada siapa, siapa itu, bisa partai politik, atau kepada tokoh-tokoh perseorangan. Itu pilar yang ketiga.

Pilar yang keempat, sesungguhnya setelah demokrasi atau kompetisi ini atau Pemilu selesai. Tidak benar sebuah bangsa yang 5 tahun itu terus-menerus berada dalam suasana berhadap-hadapan, suasana Pemilu terus, suasana permusuhan, sampai tujuh turunan, ya janganlah itu, wong sudah selesai. Jadi kalau sudah selesai, tetanggaan, satu RT, hubungan keluarga, satu fakultas, satu pers, ya kan bangsa Indonesia, ayo kita sukseskan. Siapa pun yang terpilih nanti sebagai anggota DPR, DPRD, DPD, Presiden, Wakil Presiden, Menteri, supaya bangsa ini maju lagi lima tahun berikutnya lagi, maju lagi tahun berikutnya lagi, kan tidak perlu kalah dengan negara-negara lain. Itu sangat-sangat mendasar, bangun konsolidasi, boleh koreksi kenapa saya kok kalah ya, kenapa kok enggak berhasil untuk 5 tahun berikutnya lagi, tata lagi mungkin kadernya, mungkin infrastructure-nya, cara-cara berkampanye, dan seterusnya, dan seterusnya. Dengan demikian, yang ada adalah perbaikan kualitas, yang ada adalah kematangan yang makin matang dan kemajuan dari proses demokrasi yang akan kita jalankan. Ini yang nomor empat ini juga berpulang pada para elit, para tokoh politik dan barangkali termasuk diri saya, termasuk barangkali Menteri-menteri yang ada di depan ini dan kita semua.

Kalau menang itu memang penuh dengan kesyukuran, kebahagiaan. Tapi kalah itu juga indah dan membangun harapan baru, kalah sekarang Insya Allah menang kemudian. Saya pernah kalah waktu pemilihan Wakil Presiden., saya kira masih ingat tahun 2001. Calonnya lima dulu mulai Pak Hamzah Haz, Pak Akbar Tanjung, saya, Pak Agum Gumelar, pak Siswono Yudohusodo.

Setelah putaran pertama tinggal tiga, Hamzah Haz, Pak Akbar Tanjung, Saya. Akhirnya penyisihan berikutnya lagi saya kalah, orang yang kalah tentu kecewa, karena polling di luar dulu tinggi sekali. Tapi saya salah dari disitulah kesalahan saya yang mendasar dan karena saya salah, saya kalah. Karena pikiran saya kalau polling itu tinggi sekali, pasti menang ya itu yang di-polling rakyat, sedangkan yang memilih itu anggota MPR. Saya salah dan saya kalah.

Oleh karena itulah, hari berikutnya lagi, pagi-pagi sekali, saya dengan didampingi oleh istri dan tim di depan wartawan, saya menyampaikan konferensi pers. Konferensi persnya, saya mengakui dan menyatakan kalah, tidak berhasil dalam kompetisi tadi malam. Dan kompetisi tadi malam di MPR prosesnya demokratis, sah dan benar. Yang kedua, saya minta maaf kepada konstituen saya, saya belum bisa memenuhi harapan untuk menjadi Wakil Presiden waktu itu. Terus yang ketiga, saya meminta konstituen saya untuk mendukung penuh Wakil Presiden terpilih agar berjalan dengan baik. Setelah itu saya tenang, lepas sudah, dan saya belajar dari kesalahan dan kekalahan itu.

Oleh karena itu, di dalam kehidupan politik menurut saya, kekalahan itu ya bisa berkah, bisa indah, andaikata bisa menerima dan kemudian berjuang lagi untuk berikutnya lagi. Ini adalah yang kita harapkan nanti, ketika Pemilu usai menuju ke Pemilu lagi tahun 2014. Empat pilar ini penting ibarat kursi, karena yang Bapak duduki kakinya empat itu akan kokoh, tapi kalau satu, itu mesti bisa ngguling, apa begitu, dua pun, tiga ok, tapi kalau empat itu kokoh. Dimana pers? Pers masuklah ke penguatan pilar-pilar itu seluruhnya, membangun iklim, circumstances mulai sekarang, sehingga proses Pemilu bisa dilaksanakan dengan baik. Saya katakana tadi itu, cara-cara berkompetisi, angkat, buka semuanya, angkat semua, tetapi tentu dengan penuh. Kalau ini kita angkat semua kan bisa perang ini, bisa tusuk-tusukan, bisa bakar-bakaran ini, mungkin ada satu pikiran yang jernih dari pers, kemudian pilar-pilar yang lain yang telah saya sampaikan tadi.

Saudara-saudara,
Saya hanya bermohon, saya berharap bersama-sama kita untuk sukseskan Pemilu ini. Saya pun terus belajar masalah demokrasi. Saya kira kita semua adalah the student of democracy, tidak ada yang sangat pakar begitu, karena semua juga terus berkembang. Mari kita pandai-pandai belajar dan beradaptasi dengan perkembangan ini semua.

Saya kira sebagai rasa bahagia saya telah dilaksanakannya kongres kemarin di Aceh, yaitu yang perlu saya sampaikan. Tinggal saya akan merespon dua hal. Saya konsultasi dulu, mana, saya tuh ingin begini, saya tidak ingin dengar yang sepotong-sepotong, yang certain apa ini ya, mana yang menganggu, pengambilan keputusan pada tingkat saya tidak bisa rumor, tidak bisa desas-desus, tidak bisa ditekan oleh pistol, tidak bisa dikepung oleh, harus rasional, harus kita pertanggungjawabkan.

Dengar langsung, satu, dalam Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dikatakan BAB 2 Pasal 4 Ayat 2 terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan, atau pelarangan penyiaran, ini di sini. Lantas dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD. Saya lihat di sini Pasal 99 tentang sanksi ya sebentar, pasal induknya apa ini,sebelum sanksi ini? Bagian keenam pemberitaan, penyiaran dan iklan kampanye, itu Pasal 99. Sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 Ayat 2 dapat berubah pastinya ada ketentuan-ketentuan kira-kira begitu, a. teguran tertulis, b. penghentian sementara mata acara yang bermasalah, c. pengurangan durasi dan waktu pemberitaan, penyiaran dan iklan kampanye dan Pemilu, d. denda, e. pembekuan kegiatan pemberitaan, penyiaran dan iklan kampanye Pemilu untuk waktu tertentu atau pencabutan izin penyelenggaraan penyiaran atau pencabutan izin penerbitan media massa cetak. Kenapa? Mengerti makanya? Jangan dimarahi saya, saya hanya baca di sini, saya membaca. Oke sekarang kita lihat pasal 98 ayat 2, dalam hal terdapat bukti pelanggaran ketentuan ini, ini, dijatuhkan sanksi.

Baiklah begini, semangat kita saya kira, dan ini nafas reformasi, kan tidak ada lagi pembredelan, pencabutan, ini kita jadikan pilihan kita, dan berkali-kali saya juga mengatakan seperti ini. Kemudian ternyata dalam kedua Undang-Undang ini ada sesuatu yang bertabrakan, Undang-Undang pers sejiwa dengan nafas reformasi, di sini bertentangan dengan itu, yang berkaitan khusus dengan dalam pikiran saya bagaimana Pemilu ini bisa diselenggarakan dengan baik.

Oleh karena itu, kepada Menteri terkait, ini otoritas saya, kewenangan saya untuk segera mempelajari dengan cepat dan apa yang mesti diposisikan oleh Pemerintah untuk menyelesaikan ini. Saudara punya hak sendiri, punya hak politik sendiri, silakan, saya tidak akan menghalang-halangi, juga tidak akan menyuruh-menyuruh begitu, silakan. Tapi kewajiban saya sebagai Kepala Pemerintahan, sebagai Pemerintah akan segera melihat ini dan mesti apa yang harus kita lakukan untuk kebaikan semua.

Yang pertama, sudah PR saya ya. Ini berkaitan sebetulnya, Undang-Undang Pers harus dijalankan penuh. Memang Saudara-saudara, begini ada falsafah jagad kecil, ada falsafah jagad besar. Jagad kecil itu bagaimana pers memiliki kebebasan, memiliki kewenangan, memiliki tanggung jawab, dan seterusnya yang sudah dituangkan secara eksplisit dalam Undang-Undang. Kemudian jagad besar, kehidupan pers ini bagian dari kehidupan nasional, sehingga sebetulnya nobody in this country yang sebetulnya memiliki hak yang eksklusif. Jadi kalau seorang Presiden berbuat kejahatan, meskipun saya punya privilege, punya jack di power, tetapi tetap harus mempertanggungjwabkan. Jadi kalau melihat itu barang siapa, bahasa hukum bukan begitu, barang siapa, siapa itu ya Presiden, ya pers, ya bussinessman, ya dokter, ya seorang kopral, siapa pun begitu. Itu kalau kita lihat jagad besar. Tetapi tidak boleh kontradiktif memang, tidak boleh rancu, tidak boleh, dan lain-lain. Equality before the law itu ada sebetulnya, kemudian semua harus tunduk pada pranata nasional kita, tapi sekali lagi tidak boleh ada kontradiksi, membingungkan undang-undang tidak ada pencabutan seperti itu, tetapi yang lain bisa dibredel segala macam.

Ini bagus untuk pembelajaran, artinya orang-seorang di antara kita ini tidak ada yang kebal hukum manakala kita melakukan kejahatan. Ini kita pegang itu. Setelah itu kalau profesi, ada aturan jurnalisme, ada aturan undang-undang pers, itu juga harus kita jalankan. Poinnya adalah ya memang betul Pak Margiono harus kita jalankan undang-undang ini dan saya katakan tadi karena ada yang kontradiktif dengan undang-undang pemilu, segera kita selesaikan dengan saluran masing-masing, dengan cara masing-masing. Konsultasi saya minta dibuka antara Saudara Menteri Komunikasi dan Informatika dengan mitranya, karena pers ini partner Pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini sebaik-baiknya.

Saya kira hanya dua itu. Dan doa saya yang paling penting, agar media massa yang Saudara kelola tumbuh dengan baik, rejekinya tambah banyak, musim Pemilu barangkali tambah rejeki. Tetapi ingat empat pilar tadi, jadi halal, sah dan membawa manfaat bagi bangsa kita. Silakan, selamat berjuang, Tuhan beserta kita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan