Pidato Presiden
Sambutan Pertemuan dengan Muspida, Tokoh Agama, dan Tokoh Masyarakat Babel
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN MUSPIDA, TOKOH AGAMA DAN TOKOH MASYARAKAT PROVINSI BANGKA BELITUNG
PANGKAL PINANG, 1 AGUSTUS 2008
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati para Menteri dan Anggota Kabinet Indonesia Bersatu, para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Saudara Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Ketua DPRD dan para Pejabat Negara yang bertugas di Bangka Belitung, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan POLRI,
Yang saya cintai dan saya muliakan para Ulama dan para Pemuka Agama, para Tokoh Masyarakat, para Sesepuh dan Tokoh-tokoh Bangka Belitung, baik yang berada di Jakarta atau di luar Bangka Belitung maupun yang tetap berada di Bangka Belitung, para Pimpinan Organisasi Politik, Organisasi Massa,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi sekali lagi pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan ridho-Nya kepada kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan, dan semoga senantiasa kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
Kita juga bersyukur hadirin sekalian hari ini, hari Jum’at dapat bersilaturrahim di tempat ini untuk saling bersambung rasa, hubungan di antara kita semua yang tentu ingin bersama-sama memajukan kehidupan masyarakat di Bangka Belitung ini, dan lebih luas lagi memajukan kehidupan bangsa Indonesia.
Saudara-saudara,
Saya senang kalau semua yang ada di Provinsi ini, yang tua, yang muda, lintas generasi maksud saya, berbagai cabang profesi yang ada di Bangka Belitung atau yang ada di perantauan, semua bersatu padu menyatukan hati, menyatukan pikiran, menyatukan komitmen untuk memajukan sekali lagi Bangka Belitung ini. Ini kekuatan yang dahsyat. Jangan kita ini merugi, karena adanya perbedaan, perbedaan identitas, lantas kita tidak bisa bersatu, tidak bisa rukun, tidak bisa bersama-sama mengatasi keadaan dan membangun.
Tidak boleh karena perbedaan agama, perbedaan suku, perbedaan etnis, perbedaan daerah, bahkan perbedaan partai politik, lantas kita tidak bisa rukun dan bersatu, jangan. Saya mengajak dengan tulus, partai politik diperlukan untuk menghidupkan demokrasi, untuk menyiapkan kader-kader yang akan mengelola negara, Pemerintah dan daerah. Tapi jangan karena adanya partai politik lantas kita seolah-olah bermusuhan, berjarak satu sama lain, jangan. Marilah kita pahami betul-betul bahwa bagaimanapun kita ini satu bangsa, bangsa Indonesia, Saudara-saudara bersatu untuk membangun masa depan Bangka Belitung yang lebih baik.
Sering ini semangat dari Provinsi yang lahirnya agak belakangan seperti misalnya Bengkulu, Bangka Belitung, Gorontalo, Sulawesi Barat, Papua Barat, itu ingin mengejar dan mengejar, dan mengejar. Begini, kalau itu semangat dan kalau itu cita-cita, ya harus. Siapa mau tertinggal, siapa mau yang lain maju, kita tidak maju, pelihara semangat itu, tekad itu dan tentunya dengan langklah yang nyata. Tetapi tolong diingat juga tidak ada jalan pintas, tidak ada sesuatu yang seperti membalik telapak tangan. Ya, kalau benchmark-nya atau pembandingnya itu Provinsi yang sudah sejak merdeka ada, semuanya serba ada infrastrukturnya, dan Saudara Gubernur yang semangatnya tinggi, saya sudah berbicara panjang lebar ingin betul membangun negeri ini, tapi ingin dicapai dalam 1 tahun, 2 tahun, ya tentu tidak bisa.
Sama dengan Indonesia, tidak mungkin kita mengejar negara-negara yang sudah ratusan tahun lebih dulu merdeka dibandingkan Indonesia. Tetapi ya mari terus konsisten, firm, bekerja sekeras-kerasnya, kompak, punya rencana yang bagus, bukan rencana bangun tidur, sesuai dengan kemampuan negara, kemampuan daerah, kita satukan, akhirnya bisa melakukan perubahan. Saya meminta Saudara semua meletakan dalam konteks itu.
Pemerintah Pusat, Pak Gubernur, Saudara-saudara, Pimpinan DPRD tentu membantu, sebagaimana kami mendengar permintaan dari para Gubernur di seluruh Indonesia, utamanya para Gubernur Provinsi pemekaran, ”Pak SBY, tolong bantu”. Pasti kami bantu sesuai dengan kemampuan, adil, merata, dan prioritas. Oleh karena itu, saya dengar tadi beberapa hal, yang oleh Pak Gubernur diangkat sebagai katakanlah agenda, prioritas jangka pendek, jangka menengah. Jangka pendek itu setahun, 2 tahun, jangka menengah itu 3, 4, 5 tahun. Itu bagaimana kita melihat konteks percepatan pembangunan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Kalau kita sedikit melakukan kilas balik, kita sebagai umat beragama, melihat perjalanan negeri ini tentu pertama-tama harus bersyukur, yang tadinya kita dijajah oleh penjajah, tahun 45 merdeka. Yang tadinya kita mengalami prahara tahun 65, 66 kembali 98, negara kita tetap tegak berdiri. Yang 10 tahun yang lalu kita juga mengalami krisis yang luar biasa, yang dunia meramalkan Indonesia akan bubar, juga tidak terjadi. Sekarang pun menghadapi krisis pangan, krisis minyak dunia, termasuk resesi, dan gejolak keuangan global, Alhamdulilah kita pun juga tidak jatuh. Meskipun ada masalah-masalah yang harus kita selesaikan, mari kita bersyukur.
Yang kedua, karakter yang baik bagi seorang yang kuat keimanan dan ketakwaannya, ya kita sabar ketika dimana-mana, di dunia ini menghadapi masalah dan kita pun ikut menghadapi masalah, tegar. Tetapi jangan pernah berhenti kita berikhtiar, ikhtiar itulah yang saya katakan solusi, kerja keras mengatasi masalah bersama-sama. Kalau kita kembalikan pada rujukan itu, kita tidak akan pernah menyerah dan Insya Allah selalu ada jalan yang baik di masa depan untuk mengatasi masalah dan membangun negeri yang sama-sama kita cintai ini.
Saudara-saudara,
Sepuluh tahun kita lewati, suka duka, pasang surut kita merasakan tidak perlu saya ulangi satu per satu. Alhamdulillah, banyak hal yang dulu seperti tidak terbayangkan, apakah Aceh bisa kita selesaikan, permusuhan kita dengan Timor Leste bisa kita selesaikan dengan baik juga, hutang IMF yang menjerat kita dulu, apakah bisa kita lunasi dan banyak sekali. Dengan kerja keras kita semua, banyak yang sudah kita capai, bersyukur kita, berterima kasih saya. Tetapi juga banyak masalah-masalah yang memang belum selesai, karena diperlukan waktu yang lebih lama lagi, diperlukan upaya yang lebih gigih lagi.
Sementara beberapa masalah kita atasi, kita selesaikan, sementara banyak kemajuan terjadi. Muncul persoalan baru, sebagaimana yang kita alami meroketnya harga minyak, melonjaknya harga pangan, gejolak keuangan global, resesi ekonomi dunia dan lain-lain. Tapi sekali lagi, kalau dulu kita bisa mengatasi keadaaan sejak kemerdekaan sampai krisis 1998, krisis pun pelan-pelan juga bisa kita hilangkan. Saya yakin ke depan pun kita juga bisa mengatasi semua persoalan dan tantangan itu.
Saudara-saudara,
Beberapa isu yang menjadi PR kita adalah pengurangan kemiskinan. Kemiskinan itu bukan hanya masalah bangsa Indonesia. Kemiskinan itu masalah dunia dari 6,4 miliar penduduk dunia separuhnya miskin, banyak negara-negara yang mengalami kemiskinan ekstrim, sebagaimana yang kita saksikan melalui media internasional siang dan malam, yang bisa kita lihat. Bahkan sekarang ini dengan meroketnya harga minyak, harga pangan bisa jadi di dunia ini kemiskinan bertambah, terutama negara-negara yang memang benar-benar menghadapi masalah kemiskinan yang akut.
Indonesia dari tahun ke tahun terus mengurangi kemiskinan. Karena krisis memang meledak kemiskinan, pengangguran, hutang luar negeri. Kita bekerja bersama-sama para Bupati, para Walikota, Camat, Kepala Desa, Gubernur, Menteri, saya dan semua. Akhirnya tahun ini, angka kemiskinan kita 15 koma sekian persen, angka yang terbaik dalam kurun waktu 10 tahun, yang itu juga diakui dan diberikan apresiasi oleh banyak pihak. Apakah sudah selesai? Belum, jelas belum. Kita justru harus bekerja lebih keras lagi untuk terus menurunkan angka kemiskinan itu.
Cara menurunkan kemiskinannya dengan cara yang baik, yang nyata, yang konkret, program membantu langsung bagi yang tidak mampu, sebagaimana falsafah ikan, kita kasih ikannya karena tidak mampu untuk bertahan hidup, kita gratiskan mereka berobat, kita gratiskan mereka bersekolah, kita kasih beras untuk rakyat miskin dengan harga yang murah, kita bantu yang lanjut usia, kita bantu yang kena musibah bencana dan kemudian kita lakukan bantuan langsung tunai bersyarat, itu umum.
Yang sudah makin berdaya, tetap dalam pengurangan kemiskinan, ada Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, Pak gubernur telah menjelaskan. Tiap tahun kita kasih, Insya Allah bisa kita pertahankan. Tahun ini sekitar ke 4.000 Kecamatan di seluruh Indonesia kita beri 2 sampai 3 milyar per Kecamatan, Insya Allah tahun depan seluruhnya 5.700 Kecamatan dengan jumlah rata-rata 3 milyar. Untuk apa? Supaya Kecamatan, Desa-desa yang memerlukan itu bisa membangun sesuai dengan kemauannya sendiri, nyata. Itu namanya kail.
Masih ada satu lagi ikan. Ikan itu apa? Setelah mereka makin berdaya, sudah mulai ingin menambah income-nya berusahalah mereka, usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, kita berikan kredit, pinjaman modal yang dijaminkan oleh Pemerintah. Inilah yang disebut dengan Kredit Usaha Rakyat. Bapak, saya terima usulannya, sesungguhnya karena dulu banyak yang mengeluh, ”Pak SBY, kami ingin berusaha betul, Pak, ya bakso, warung soto, jualan ikan, tetapi nggak punya modal. Kalau pinjam susah sekali ke bank”. Itulah yang kita keluarkan sejak November tahun lalu dengan pola penjaminan Pemerintah.
Sasaran kita Insya Allah sampai tahun ini bisa mencapai Rp 15 triliun yang bisa kita alirkan, luar biasa. Sekarang sudah atau baru mencapai Rp 8,5 triliun. Mari kita bekerja sama agar bank-bank itu, Bank Rakyat Indonesia, Bank BNI, Bank Mandiri, Bank Bukopin, Bank BTN dan Bank Syariah Mandiri bisa menuntaskan sampai jumlahnya nanti 15 trilyun.
Tahun depan, insya Allah bisa kita teruskan tentu karena anggaran itu memerlukan persetujuan DPR RI, harapan saya DPR RI juga bersetuju untuk menambah atau melanjutkan Program KUR ini. Saya kira DPR RI tentu kalau untuk rakyat, apalagi untuk membantu yang miskin, yang tidak mampu mestinya juga bersetuju. Kita lihat nanti bagaimana APBN tahun 2009.
Jadi kemiskinan akan kita kurangi terus, perkembangannya mengembirakan, tapi belum cukup, belum cukup, harus habis-habisan kita. Dan tentunya dengan kerja nyata, tidak cukup dengan wacana, dengan seminar, dengan talkshow, dengan pasang iklan, tidak berubah kemiskinan itu. Tapi dengan kerja nyata kita. Saya berterima kasih dengan para Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desa yang justru memilih untuk bekerja langsung daripada terlalu banyak berteori dan berwacana.
Saudara-saudara,
Persoalan yang kedua, masalah BBM dan listrik. Begini Saudara-saudara ya, ya saya ini, ini para senior, para sesepuh saya, para ulama, saya ini yang harus belajar dari para ulama tetap sabar dan terus sabar. Kadang-kadang niat baik saja ditanggapi tidak baik. Sudah berbulan-bulan kurang tidur, mata saya sampai bengkak, apa namanya, memikirkan kok harga minyak dunia begini terus, gimana ini, kasihan rakyat, kasihan negeri kita. Meskipun bangsa lain juga sama. Mencari solusi, tapi kadang-kadang tidak semuanya dipenuhi. Begini dengan harga minyak sekarang ini, 120 sampai 140 dolar, satu liter bahan bakar itu, kalau dilepas harganya sekitar duabelas ribuan. Dengan kita jual minyak tanah, berapa minyak tanah sekarang? Yang harga patokan Rp 2.500 atau Rp 3.000. Ya, itu kita harus nombok, nombok itu namanya subsidi, mengganti, subsidi yang kita keluarkan besar sekali. Sebagai contoh, kalau harganya sampai 140 dolar seperti dua minggu yang lalu, subsidi yang kita keluarkan, uang negara ini untuk ganti BBM dan listrik itu berjumlah hampir Rp 300 triliun, besar sekali, tapi harus.
Harga BBM kita pun yang paling murah di Asia Tenggara, hanya lebih apa namanya, lebih mahal sedikit dibandingkan Brunei Darussalam, tapi dengan negara-negara lain itu masih jauh di bawah. Akibatnya subsidinya besar. Ini tidak ideal, tapi harus saya pertahankan karena daya beli rakyat kita belum. Ketika kemarin disesuaikan sedikit, itu bukan mengada-ada, karena kalau tidak kita naikan sedikit, rusak ekonomi kita, krisis kembali, semua akan menderita, terpaksa kita naikan, itupun setelah yang lain-lain kita lakukan. Ya, ini pun kita masih menghadapi persoalan, tapi Insya Allah akan terus kita kelola untuk bisa kita untuk bisa diatasi BBM ini. Listrik juga begitu.
Saudara-saudara,
Membangun pembangkit tenaga listrik itu memerlukan waktu 3 sampai 4 tahun, perencanaannya, surveinya, studinya, peninjauan lapangannya itu bisa setahun, 2 tahun. Jadi kalau kita kekurangan listrik tahun 2005, 2006, 2007, sampai sekarang sebenarnya karena 5 tahun yang lalu itu, kita tidak membangun cukup pembangkit tenaga listrik. Saya tidak menyalahkan masa lalu, mungkin karena dulu uangnya pas-pasan atau barangkali ah, sementara masih cukup, terasa kita sekarang kurang. Itulah sejak tahun 2005. Kita bikin planning crash program, menambah listrik 10.000 megawatt yang Insya Allah tahun depan sudah mulai menyala, tahun depannya lagi lebih menyala lagi, sehingga mudah-mudahan makin cukup.
Kami juga mengantisipasi, saya juga memerintahkan Kabinet, selepas berjalan 10.000 megawatt ini, kita planning-kan lagi membangun 10.000 megawatt lagi berikutnya lagi. Kalau tidak seperti sekarang nanti, sejak mendiang Bung Karno, Presiden pertama sampai tahun 2005, listrik kita itu jumlahnya 25.000 megawatt seluruh Indonesia. Dulunya cukup, tentu sekarang tidak cukup, apalagi ekonomi naik 6%, tambah tidak cukup semua butuh listrik, pabrik, gedung-gedung, tempat hiburan, tempat wisata, semua butuh listrik.
Dalam keadaan seperti itulah kita terus mencari upaya, bagaimana secara nasional listrik bisa kita kelola, tapi duduk perkaranya begitu. Meskipun saya ingin kalau bisa sekarang bikin tahun depan ngocor, nyala, tidak bisa, kalau menanam kecambah, ambil kedelai, masukan air, tiga hari muncul kecil-kecil itu, dua minggu sudah jadi. Listrik tidak begitu. Oleh karena itulah, diperlukan banyak cara, diperlukan usaha bagaimana meningkatkan listrik ini.
Pangan, dunia bingung pangan. Bapak tahu, di Afrika saya lihat itu beberapa hari yang lalu, jam 05.00 subuh, saya lihat BBC itu kematian anak-anak luar biasa, onta-onta mati, harga pangan naik 300%, tanahnya gersang, banyak yang ekstrim seperti itu. Kita alhamdulillah, meskipun dengan segala upaya kita lakukan. Padi kita tahun lalu aman, swasembada. Tahun ini insya Allah aman, dan akan kita diteruskan lagi. Kita teruskan untuk aman pada tingkat gula, aman pada tingkat jagung, aman daging sapi, aman pada tingkat kedelai. Yang masih agak panjang adalah daging sapi dan kedelai, tetapi yang lain telur, daging ayam dan lain-lain sayur-sayuran, buah-buahan relatif aman. Itu semua juga memerlukan kerja keras, anggarannya bertriliun-triliun, irigasinya banyak sekali yang kita keluarkan dan seterusnya. Tapi percayalah kalau kita tidak hanya tiap hari berunjuk rasa, tiap hari mengumpat, mencaci maki presidennya, tapi kita bekerja terus pasti lebih nyata hasil yang kita dapatkan.
Pangan, alhamdulillah banyak yang lebih sengsara dibandingkan kita. Saya kira apa ada di ruangan ini yang tidak mendapatkan bahan pangan untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau tidak ada alhamdulillah, kalau sebagian Saudara kita ada mari kita bantu, membantu langsung dengan program Pemerintah atau dengan zakat, shadaqah, infak dan segala macam dan sekaligus secara nasional kita tingkatkan ketahanan pangan.
Infrastruktur, beliau mengatakan betul, Bapak, Anggaran Belanja Negara kita ini, APBN sekarang ini sekitar Rp 1.000 triliun lebih sedikit, luar biasa besar memang. Alhamdulillah karena ekonomi naik 6%, seperti sebelum krisis. Tetapi dari Rp 1.000 triliun untuk subsidi, menomboki harga BBM, menomboki listrik, subsidi untuk benih, pupuk, pertanian itu jumlahnya Rp 300-an triliun. Jadi hanya tinggal sisa 2/3, dibagi lagi pendidikan, kesehatan, semualah cabang-cabang ini. Dan infrastruktur, infrastruktur pun dibagi-bagi lagi, jalan, bandara, pelabuhan, irigasi dan lain-lain. Itupun dibagi-bagi mulai dari Aceh, Riau, Bangka Belitung, Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur, Papua dan seterusnya. Oleh karena itu, harus ada prioritas, oleh karena itu, mana yang kita dahulukan, oleh karena itu, bagaimana mana yang pusat yang menangani, mana yang daerah yang menangani, mana yang gabungan, biaya APBN, biaya APBD. Dengan cara itu Insya Allah infrastruktur yang sangat-sangat diperlukan akan bisa kita wujudkan.
Saudara-saudara,
Dan akhirnya yang terakhir terhadap usulan dari Saudara Gubernur tadi, Visit Bangka Belitung Year 2010, pasti masih bisa itu. Saya kalau terbang itu indah sekali. Ini kunjungan saya yang ketiga sejak saya jadi Presiden, Bapak, Ibu. Sebelumnya 2006 sudah berkunjung, awal tahun lalu saya Bangka Belitung apa namanya meninjau demo udara. Tahun 77, saya terjun di Sungai Liat, sebagai Kapten, terjun pakai payung itu, kemudian waktu saya Pangdam, saya berkunjung beberapa kali ke sini. Jadi setiap lihat ini, itu tanahnya indah dari udara cantik sekali. Jadi kalau betul dibangun kepariwisataan, saya kira akan bagus, silakan dikembangkan. Jangan sia-siakan keindahan, anugerah Allah SWT untuk membangun kawasan wisata. Katanya nanti akan ada kapal-kapal dari Australia yang akan berkumpul di Belitung, kapan itu Bapak, Ibu? Oktober tahun ini, saya kira harus kita sukseskan Pemerintah Pusat akan membantu.
Listrik tadi dikatakan kurang 110 ulangi, betul ya. Baru 65 megawatt yang dibutuhkan 170-an, diperlukan kurang lebih 110. Saya dengar sudah ada komitmen PLN, tolong Pak Hatta Rajasa sampaikan ke Menteri ESDM, sampaikan kepada PLN, agar komitmen itu dipenuhi dan betul-betul bisa diwujudkan. Bisa PLN tidak mampu seluruhnya Pak, PLN tidak mampu membangun listrik se-Indonesia bareng-bareng. Oleh karena itu, harus dibuka juga swasta, pilih swasta yang benar, dengan proses yang benar, sehingga bisa diwujudkan dengan baik.
Ingat kadang-kadang mohon maaf, teriak-teriak, ”Kurang listrik-kurang listrik,” tetapi kalau ada swasta yang masuk dipersulit, ya. Ada pepatah, kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah, jangan. Kita butuh listrik, PLN datang, PLN tidak mampu, yang swasta datang asalkan ikut aturan, undang-undangnya ikut, Perdanya ikut, transparan, semua jelas, bisa dipercaya, itu apa investornya, itu welcome. Saya minta inovasi seperti itu para Bupati, para Walikota, kita semua, termasuk saya, mari kita beri inovasi agar semakin cepat semakin bagus.
Yang ketiga, investasi, undang ke sini perikanan, pertanian, pariwisata itu tadi. Karena investasi itu dipermudah, diberikan fasilitas, transparan, DPRD juga mengerti, tokoh masyarakat mengerti, mahasiswanya juga diberitahu jangan dipersulit, kalau semuanya membawa kebaikan. Investasi itukan untuk ekonomi, untuk masyarakat, untuk pajak.
Yang keempat, masalah universitas Bangka Belitung. Saya dengar sudah diproses Pak Hatta, ”Tolong disampaikan kepada Mendiknas”. Kalau sudah memenuhi persyaratan segera direalisasikan. Itulah penyakit di negeri kita ini, yang harusnya bisa dua minggu, dua bulan, yang harusnya bisa dua bulan, dua tahun. Itu tadi kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah, seperti itu. Saya akan cek, mestinya kalau sudah memenuhi persyaratan Pak gubernur segera bisa diwujudkan.
Tetapi ingat kalau punya universitas ya, mbok dipilihkan fakultas-fakultas yang membawa kemajuan Bangka Belitung, perikanan, kepariwisataan, pertambangan, apapun yang bikin baiklah gitu, jangan terlalu banyak sosial politik, terlalu banyak hukum dan nanti kan jumlah DPRD juga terbatas jumlahnya, jumlah Bupati, jumlah Walikota terbatas. Cari fakultas-fakultas yang betul-betul membangun Bangka Belitung, harus begitu Bapak itu.
Yang kelima, bandara. Kalau nggak salah sudah ada komitmen tambahan-tambahan. Menteri agama juga apa namanya kemarin, alhamdulillah karena ada tambahan yang itu dan tidak harus mengejar jatah embarkasi hajikan? Tidak haruskan? Sudah dekat sekarang di Palembang gitu. Tetapi yang penting makin bagus, makin lebar, makin panjang, sehingga pesawat-pesawat yang berbadan lebar bisa mendarat lebih bagus lagi. Planning-nya saya kira sudah ada, Pak Hatta ini, Mantan Menteri Perhubungan juga sampaikan kepada Pak Jusman, apa yang sudah direncanakan.
Lantas pelabuhan laut, sama tentu sesuai dengan prioritas dan kemampuan kita, jalan lingkar Bangka sama. Ini saya membawa Menteri PU. Menteri PU ini kasihan ini, nggak pernah berhenti Bapak, dari Provinsi ke Provinsi kadang-kadang jalan lubang dua biji ngadunya ke Menteri PU. Unjuk rasanya di depan Istana padahal itu urusan Camat itu. Lubang dua biji masuk koran kemudian sampai Pemerintah tidak bertanggung jawab, gara-gara lubang dua biji tadi itu. Pak bupati lah turun, Pak walikota turun, dinas-dinas Pekerjaan Umum juga bertanggung jawab. Pak Mardiyanto pernah, Gubernur juga, beliau, yang bisa ditekel Jawa Tengah, tidak semua naik ke atas gitu. Tapi saya ingin dengar sedikit nanti dari Pak Joko Kirmanto, bahwa ini apa namanya nggak pernah berhenti berfikir, loncat sana, loncat sini ya, sambil dimarahi orang. Maunya besok itu jadi, maunya semua dibangun seketika itu. Silakan dulu Pak Joko Kirmanto ya.
Menteri Pekerjaan Umum
Terima kasih Bapak Presiden dan Bapak-bapak sekalian. Tadi malam saya sudah rapat dengan Kepala Dinas PU, Pak, yang dihadiri oleh seluruh jajaran PU dan seluruh jajaran proyek-proyek pusat yang ada di Bangka Belitung. Jadi untuk yang tadi diusulkan sudah kita bahas, intinya adalah supaya diusulkan secara tertulis lagi ke pusat, nanti kita bahas bersama-sama, mana yang menjadi prioritas utama, mana yang bisa kita agak tunda dan mana yang bisa kita tunda. Kalau sudah ketemu prioritas pertama, tadi malam juga sesuai dengan arahan Bapak Presiden, mana yang bisa dikerjakan oleh Pemerintah Pusat, mana yang harus dikerjakan Pemerintah Provinsi dan mana yang harus dikerjakan oleh Pemerintah Kabupaten.
Dan perlu saya laporkan, bahwa tahun 2008, anggaran jalan yang masuk ke Bangka Belitung, saya kira sekitar berapa ya? Pak Kepala Dinas mana ya? Rp 120 miliar, Bapak. Dan di Bangka Belitung ini jalan nasionalnya kebetulan memang ada masih sub standar, tapi tidak hanya di Bangka Belitung, di Jawa Timur itu dari Pacitan depannya Bapak Presiden sampai ke Trenggalek itu juga masih sub standar.
Dan tahun ini, jalan yang sub standar itu menjadi standar sepanjang kurang lebih 60 KM, sehingga tugas-tugas Departemen PU yang seperti itu akan dilakukan secara bertahap, tapi akan dilakukan secara terus. Jadi memang tidak mungkin kalau usulan sekarang nanti setahun, dua tahun semua menjadi standar saya kira juga belum bisa. Namun kalau kita punya program yang mantap, itu secara bertahap akan kita kerjakan sesuai dengan dana yang tersedia. Demikian Bapak Presiden.
Presiden Republik Indonesia
Terima kasih ya. Pak Joko Kirmanto itu sama dengan saya, kami tidak suka berjanji. Kalau angin surga itu, ”Ah hebat SBY ini, Pak Joko Kirmanto hebat semua akan disulap besok jadi,” tidak, tidak boleh. Kita jelaskan kemampuan kita, kita jelaskan rencana kita, mari kita bikin prioritas, mari kita bikin mana yang pusat, mana yang daerah, mana yang bersama-sama seperti itu.
Dan Saudara-saudara, kampung saya di Pacitan, Jawa Timur, Kabupaten tertinggal itu. Jadi 12 Kecamatan yang tertinggal 12. Tapi saya kan tidak boleh, karena kampung halaman, kita bikin bagus-bagusan yang lain terlupakan. Saya harus juga share, bahwa saya hanya ingin adil, ingin semua mendapatkan atensi yang sama.
Dan ini saya ajak Kapolri, saya ajak Kepala Staf TNI Angkatan Laut, kalau ada kejahatan-kejahatan lintas laut, ada penyelundupan, ada ini, ada itu yang aneh-aneh, ya mari kita atasi bersama-sama itu. Karena yang pertama-tama bisa mengatasi daerah sendiri, ada Pak Kapolda di sini, ada mungkin kalau militernya Danrem ya? Kodim. Korem harus ada itu. Tolong Pak, ini nanti disarankan ke Panglima TNI, inikan provinsi, dipercepat Koremnya. Jadi semua bekerja, pusat membantu. Kita tidak mungkin membiarkan kalau ada masalah-masalah yang menganggu kehidupan masyarakat di sini.
Demikianlah Bapak, Ibu, Saudara sekalian, kepada para Sesepuh, para Ulama, Tokoh Masyarakat, saya sangat berterima kasih, tolonglah dibimbing semua, supaya semua bisa bersatu padu membangun Bangka Belitung ke arah yang lebih baik lagi.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



