Pidato Presiden
Sambutan Saat Menerima Peserta Pertemuan Pimpinan Program/Sekolah Pasca Sarjana PTN Se-Indonesia
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
MENERIMA PESERTA PERTEMUAN PIMPINAN PROGRAM/SEKOLAH PASCA SARJANA PERGURUAN TINGGI NEGERI SE-INDONESIA
ISTANA NEGARA, 7 AGUSTUS 2008
Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Rektor IPB, Saudara Dirjen Dikti mewakili Mendiknas, Saudara Pimpinan Pertemuan Pimpinan Pendidikan Pasca sarjana PPN se-Indonesia, para Pimpinan Program Pasca Sarjana,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
Kita juga bersyukur Saudara-saudara baru saja menyelenggarakan Pertemuan Pimpinan Pasca sarjana Pendidikan Tinggi Negeri se-Indonesia. Dan semoga pertemuan Saudara menghasilkan sesuatu yang membawa kebaikan, bukan hanya untuk peningkatan kinerja dari program-program pasca sarjana, tetapi juga untuk kita semua, untuk masyarakat, bangsa, dan negara.
Saya ini juga produk pendidikan pasca sarjana, 3 tahun saya mengikuti pendidikan pasca sarjana di IPB dengan mengambil jurusan Ekonomi Pertanian. Karena saya salah seorang pelaku dari pendidikan ini, saya menggarisbawahi perlunya terus ditingkatkan kualitas, efektivitas, dan kinerja atau performance secara umum, karena memang tantangan dan persoalan yang kita hadapi juga terus berkembang dari masa ke masa. Dengan demikian, output atau hasil didik yang Saudara-saudara capai siap untuk menghadapi tantangan, siap untuk mengemban tugas masa kini dan masa depan.
Saudara-saudara,
Tema yang Saudara pilih, yang tadi juga sudah disampaikan oleh Prof. Khairil Anwar Notodiputro, “Pangan dan energi untuk kedaulatan bangsa”. Saya nilai tepat, relevan dan kontekstual. Tentu tema ini harus kita maknai secara jernih dan pikiran besar ini mesti akhirnya menjadi pikiran yang rasional dan realistik, dan terbebas dari retorika-retorika ideologis yang sering menganggu rasionalitas dari pikiran-pikiran dan konsep-konsep besar itu. Dan di atas segalanya, semoga setelah pikiran ini nanti kami baca dan menjadi bagian dari policy development, menjadi bagian dari pembangunan di bidang pertanian dan energi yang juga beraspek pada pemeliharaan lingkungan betul-betul bisa menjadi sumbangan penting bagi bangsa dan negara.
Saudara-saudara,
Usulan dari pertemuan yang mengait kepada peningkatan kinerja pendidikan atau sekolah, atau program, program pasca sarjana tentu lebih tepat nanti ditindaklanjuti, dikaji, direspon dengan baik oleh Departemen Pendidikan Nasional. Tetapi 3 hal tadi yang berkaitan dengan ketahanan pangan, ketahanan energi dan juga pembangunan pertanian dan pembangunan perdesaan, itu wilayah yang sangat penting. Sekali lagi dan betul-betul ya menjadi agenda utama kita sekarang ini, bahkan untuk masa yang jauh ke depan.
Saudara-saudara,
Saya menyimak tadi dan saya berikan catatan-catatan kecil apa yang disampaikan oleh Prof. Khairil tadi tentang yang dikatakan usulan konkret dari Saudara-saudara. Setiap pemikiran, sebagaimana yang tadi disampaikan, pada gilirannya tentu akan melalui proses pengujian dan analisis untuk meninjau visibelitasnya, dan setelah itu juga akan menjadi bagian dari kebijakan, program, bahkan actions yang kita lakukan di negeri ini di seluruh Indonesia.
Catatan saya, garis besar usulan tadi kalau masalah pangan, ada 3, perlunya dikonsolidasikan pada tingkat petani kecil dan buruh, subsidence farmers untuk betul-betul menjadi bagian integral atau pilar katakanlah dalam pembangunan pertanian. Lantas juga diusulkan perlunya terus kita dorong upaya untuk meragamkan konsumsi pangan diversifikasi yang sudah lama kita gagas dan kita canangkan. Dan yang ketiga, yang menarik ini adalah perlunya dilakukan revitalisasi kearifan lokal, yang tentu berkaitan dengan pangan, yang mestinya juga berkaitan dengan energi. Ini ada kaitannya dengan antitesis globalisasi yang tidak bersetuju kalau semuanya harus serba global dan lantas mengubah, mengeliminasi kekuatan-kekuatan lokal, nilai-nilai lokal, kearifan lokal, yang itu menjadi bagian dari sesungguhnya kekayaan sebuah bangsa.
Bidang energi, Saudara mengusulnya agar energi berbasis lokal betul-betul diwujudkan dan dikembangkan, terutama sumber-sumber energi terbarui, terbarukan, the renewable energy resources. Dan kemudian, Saudara menyebut-nyebut nasionalisasi energi sebagai satu perwujudan dari Pasal 33 dari Undang-Undang Dasar 1945. Saya berikan perghargaan atas pikiran-pikiran itu, meskipun saya belum membaca secara utuh. Tapi setidak-tidaknya Saudara paham isu-isu sentral yang berkaitan dengan pembangunan pertanian dan pembangunan energi yang sedang kita lakukan.
Saudara-saudara,
Saya ingin mengemukan serba ringkas apa yang saya sampaikan pada 3 forum yang connected dengan isu atau topik yang Saudara-saudara bahas dalam pertemuan beberapa hari yang lalu. Pertama, bulan April yang lalu, saya memimpin satu pertemuan di Yogyakarta yang dihadiri oleh beberapa Menteri, Pimpinan Lembaga Pemerintahan Non Departemen, Pimpinan Badan-badan Usaha Milik Negara, Kadin, yang saya beri judul waktu itu from crisis to opportunity. Saya kira sudah bisa ditangkap kira-kira berkaitan dengan apa. Judul utuhnya waktu itu adalah “Meningkatkan produksi dan produktivitas pangan, energi, dan mineral untuk memperkuat ekonomi Indonesia”.
Esensi dari pemikiran masa ke depan dan waktu itu yang sekarang berlanjut terus untuk makin melengkapi, makin menyempurnakan kita punya kebijakan dan strategi adalah bahwa mestinya bagi Indonesia, krisis dunia ini yang ini sudah menjadi lonceng peringatan, ingat dulu Robert Malthus juga mengingatkan tentang kemungkinan ada scarcity dari sumber-sumber alam yang terus dikonsumsi oleh manusia, padahal waktu itu penduduknya belum sebanyak sekarang. Sekarang penduduknya 6,6 miliar, dulu tentunya belum sebanyak sekarang ini. Mestinya menjadi berkah, makanya tepat kalau kita berpikir from crisis to opportunity, beserta kesulitan ada kemudahan, dibalik musibah ada berkah, kalau kita cerdas mencari solusi dari itu semua.
Mengapa saya katakan opportunity? Karena kalau kita bicara pertanian, sumber daya alam, keadaan geografi dan juga peradaban bangsa Indonesia, yang pertanian itu bukan hanya sektor, tetapi way of life, ini merupakan strength, merupakan capital bagi pengembangan dunia pertanian yang lebih lanjut. Dan dengan demikian, kalau kita kelola dengan benar semuanya ini, insya Allah pada jangka menengah dan panjang, ketahanan pangan dan ketahanan energi kita akan makin meningkat.
Saudara-saudara,
Setelah itu pada bulan Juli yang lalu di Gedung Sekretariat Negara, saya mengundang para pakar, para peneliti, para teknolog yang membidangi energi, termasuk para rektor, the best and brightest, expert kita katakanlah untuk saya ajak berbicara menyangkut energi abad 21 dan bagaimana strategi dan kebijakan nasional mesti terus kita kembangkan. Saya challenge waktu itu para pakar, para expert itu untuk berpikir yang tidak konvensional, to think outside the box dengan inovasi, dengan kreativitas yang harapan saya, tidak menyerah dengan permasalahan energi ini, tapi muncul pikiran-pikiran baru, konsep dan inovasi baru, research and development yang baru, yang akhirnya kita betul-betul akan memiliki strength dalam bidang energi ini.
Saudara-saudara,
Lantas yang ketiga, bulan lalu, saya memberikan statement, usulan di depan Pertemuan G8 yang diperluas, Saudara tahu pertemuan yang prestigious karena pemimpin dunia yang mengatur ekonomi dunia, banyak hal di dunia, semua ada di situ, G8 ditambah 8 major economies antara lain atau negara antara lain, yaitu China, India, Brasil, Meksiko, Afrika Selatan, lantas Australia, Korea Selatan dan untuk pertama kali dalam sejarah, kita dihadirkan.
Yang ingin saya sampaikan adalah satu anugerah, saya mewakili negara berkembang itu bisa ikut dalam forum yang penting dan topiknya sama, climate change, global economic environment, energy security, dan food security. Pas betul dengan yang dibahas oleh Saudara-saudara. Tentu banyak yang saya sampaikan. Saya beruntung karena diberi kesempatan oleh Perdana Menteri Jepang Fukuda sebagai pembicara yang termasuk awal, bahkan sebagai lead speaker menyangkut pangan. Karena pandangan dunia yang tepat terhadap Indonesia dinilai sebagai negara yang terus berupaya untuk mengatasi persoalan, tidak menyerah, gigih kita, dan ada hasil yang oleh dunia mulai dilihat apa yang kita lakukan tahun-tahun terakhir ini, kerja keras kita semua.
Di situ saya sampaikan, bahwa mengatasi masalah pangan dan energi diperlukan global solution dan national effort. Tidak cukup masing-masing negara menjalankan ikhtiarnya sendiri, berusaha sendiri without global partnership, global cooperation. Mengapa? Banyak faktor yang di luar jangkauan sebuah negara untuk mengatasinya, untuk menanganinya, utamanya di bidang energi dan pangan ini. Dan tentu saja pembicaraan saya sangat memperhatikan kepada kepentingan Indonesia. Saya juga menyerukan jangan sampai WTO ini terus begini, tidak adil, dan akhirnya banyak yang dirugikan, termasuk para petani kecil, para petani buruh dan lain-lain, yang saya pikirkan mereka-mereka yang ada di dalam negeri ini, sama dengan yang Saudara identifikasi dalam pertemuan beberapa saat yang lalu.
Mengapa hal ini saya sampaikan, apa yang kami bahas di 3 forum itu, termasuk pikiran-pikiran yang saya kedepankan? Karena setelah saya kaitkan dengan usulan Saudara tadi, banyak yang sama atau relevan, atau katakanlah memiliki tujuan yang sama.
Saya ingin menambahkan dimensi lain dari apa yang Saudara rumuskan tadi. Sesuai dengan realitas globalisasi, suka atau tidak suka, ini penting agar pikiran-pikiran besar kita semua, termasuk hasil dari pertemuan ini betul-betul menjadi bagian dari kebijakan, dari strategi, dari program, dan aksi kita di lapangan. Kalau tidak, ya tentu ada konflik, ada benturan, ada paradogs, yang tentu sama-sama tidak kita kehendaki. Kita ingin betul-betul bisa diimplementasikan. Kita ingin betul-betul bisa mengatasi setiap policy, one single policy, mesti yakini itu menjadi bagian dari solusi. Dan harapan kita, jangan kita memilih satu pilihan, menjalankan kebijakan yang menimbulkan masalah lain, itu tidak kita kehendaki.
Ambillah falsafah pegadaian itu, itu juga menggadaikan barang, itu pegadaian itu semboyannya “Mengatasi masalah tanpa menimbulkan masalah” konon begitu. Itu penting. Sekarang barangkali lupa-lupa, tapi di masa lalu pegadaian itu punya peran yang penting.
Apa yang kita bicarakan hari ini atau di Bogor, itu sesungguhnya di satu sisi memang merupakan atau bagian dari intellectual exercise. Tapi dalam pengembangannya, itu masuk pada policy making, pada policy development. Mau untuk apa pikiran-pikiran kalau tidak menjadi bagian dari kebijakan yang dikembangkan di negeri ini.
Saya ambil contoh, ketika saya dulu belajar di Bogor, di IPB, disertasi yang saya tulis adalah “Upaya mengurangi kemiskinan dan pengangguran melalui pembangunan pertanian, melalui revitalisasi pembangunan pertanian dan perdesaan ditinjau dari ekonomi politik fiskal”. Setelah saya menjadi Presiden, Alhamdulillah, banyak yang kita alirkan dari situ, tapi ada juga yang tidak lewat sensor, karena memang circumstances-nya berbeda, kapasitasnya tidak sebagaimana yang saya disertasikan dulu, ada proses adjustment. Tapi roh, pikiran-pikiran, itu ternyata klop. Saya ceritakan itu, bahwa ternyata ada kaitannya dengan upaya kita untuk poverty reduction dan job creation di negeri kita ini, yang harus diakui meskipun masih panjang yang harus kita lalui, ada kemajuan-kemajuan yang cukup baik.
Saudara-saudara,
Saya ingin bagian berikutnya lagi ini untuk menyampaikan kepada Saudara our basic national policy untuk dipahami, pangan, energi. Dari situ bagaimana kita bawa pikiran-pikiran Saudara tadi, dimana ruang-ruang yang harus kita letakkan dan sebagian sudah ada memang di situ. Oleh karena itu, harus nyaman, karena yang Saudara pikirkan sebetulnya itu juga yang kami pikirkan dan kami jalankan sekarang ini, bahwa tidak semua seperti membalik telapak tangan, diperlukan waktu sebagaimana pembangunan negara-negara lain. Tapi setidak-tidaknya kalau kita mengidentifikasi isu-isu yang tepat dan benar, arah pembangunan kita juga tepat dan benar.
Saudara-saudara,
Di bidang pangan, ini Menteri Pertanian ada di sini. Kita ini, kalau kita bicara kebijakan dasar yang kita tuju ketahanan pangan. Dengan meningkatkan produksi dan produktivitas, dua-duanya penting. Yang kedua, itu dilakukan melalui pembangunan pertanian berkelanjutan. Ingat kita pernah melaksanakan green revolution dulu, bagus, tapi ada ekses. Oleh karena itulah, semangat kita, saya sampaikan di Hokkaido, Jepang kemarin bahwa the second way green revolution harus environmentally friendly. Oleh karena itu, kita sebut istilahnya revolusi hijau lestari, ya sama dengan revitalisasi pertanian yang ramah lingkungan sekarang ini.
Yang ketiga, esensi dari kebijakan kita, pembangunan pertanian, kebangkitan pertanian harus disertai dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Jangan sampai pertaniannya maju, agrobisnis, agroindustri, petaninya jalan di tempat, itu tidak adil. Dan ingat, 60, 70%, 60 sampai 70% saudara-saudara kita yang masih miskin itu hidup di perdesaan dari sektor pertanian.
Lantas esensi yang keempat, pilar keempat dari kebijakan dasar bidang pangan, pendayagunakan dan pengembangan resources. Semua sumber daya secara terpadu, lahan, investment atau capital, infrastruktur, teknologi, termasuk penelitian dan pengembangan, pupuk, benih dan lain-lain. Contoh, saya sangat sering bersama Menteri Pertanian berkunjung ke seluruh penjuru negeri ini untuk melihat langsung, ketika para petani sedang menjalankan profesinya, profesi yang mulia. Jadi saya bukan hanya bicara policy, tapi juga bicara action, termasuk apalagi, apalagi yang harus kita lakukan. Tapi yang saya maksudnya, semua sumber daya harus kita daya gunakan dengan sebaik-baiknya secara sinergis dan secara terpadu. Esensi dari policy yang lain diversifikasi pangan nasional, medium dan long term.
Saudara-saudara,
Saya pernah diberitahu untuk bangsa kita itu menyenangi mie instan, sekarang kadang-kadang makan pagi kita mie instan, bukan nasi, itu diperlukan waktu 15 tahun. Jadi kalau kita ingin mendiversifikasi sagu, jagung dan lain-lain di luar nasi, tidak serta-merta besok kita keluarkan Instruksi Presiden, mulai besok makan jagung, bulan depan makan sagu, tidak bisa. Negara manapun untuk mengubah gaya hidup itu perlu waktu. Oleh karena itu, saya ingin menjadi gerakan nasional. Saya berkali-kali kalau melihat Litbang disuguhkan, saya enak ini, kue ini, Pak, inikan bukan dari gandum, tapi dari sagu atau dari singkong, persis seperti gandum. Maksud saya jangan hanya di Litbang terus-menerus, sampai lebaran kuda enggak ada dikonsumsi oleh masyarakat. Segera dengan swasta bekerja sama menjadi mass production, sehingga rakyat kita pun nanti menjadi bagus. Padi-padian kan dikonsumsi 50% cukup, yang lainnya harus bukan itu. Sekarang masih 62%. Jadi harus kita kurangi. Setuju 200% untuk diversifikasi pangan.
Dan satu lagi, Saudara mungkin kurang menyadari, kita ini juga sering menjadi korban dari rezim perdagangan dunia yang tidak adil, WTO, Doha Development Agenda. Saya sering berjuang, Menteri kita sering berjuang, alot, sekarang pun alot di Jenewa. Ini juga harus kita perjuangan, agar adil sehingga produk pertanian kita mendapat tempat, petani kita akhirnya dapat menikmati kenaikan pendapatan.
Itu esensi dari kebijakan dasar kita tentang pangan, bagian dari pertanian. Namun, mari kita bicara the real world, ekspor dan impor pangan terjadi, di negera manapun termasuk di Indonesia. Perjanjian atau kerangka WTO, saya sampaikan tadi seperti itu perkembangannya. Dunia juga sering memiliki mismatch antara supply dengan demand. Oleh karena itu global supply demand relations, itu juga satu realitas. Tiga-tiganya di luar kekuasaan kita untuk mengontrol, keluar, karena itu lintas negara, beyond sovereignity, beyond kedaulatan. Ini real world. Oleh karena itu, nanti bagaimana kita mengembangan kebijakan, strategi yang tadi itu, tapi memahami realitasnya, kita cari celah-celahnya, kita dapatnya opportunity untuk itu semua.
Sehingga kalau tadi disebutkan oleh Pak Khairil ada group yang membahas pangan untuk kedaulatan bangsa, maka di sini mesti kita maknai menuju ke kemandirian yang lebih tinggi pada pelaksanaan. Semua yang dihasilkan di negeri tercinta ini, tentu diabdikan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, kepentingan rakyat kita. Sehingga policy perdagangan harus pas, policy impor dan ekspor harus pas, tarif, kuota dan sebagainya. Dan tentu kita harus paham, ada keniscayaan global economic intergration yang tidak bisa kita hindari. Oleh karena itu, pandangan Saudara, konsolidasi tingkat petani kecil dan buruh tadi, saya mengatakan mesti menjadi bagian dari kebijakan nasional kita yang berintergrasi.
Saudara-saudara,
Saya tidak bawa catatannya, tetapi sesungguhnya kita menjadikan new deal, kita memberikan subsidi, bantuan, baik langsung maupun tidak langsung kepada petani-petani kita yang tidak sedikit dalam APBN dan jumlahnya cukup meningkat. Tetapi kan ini bukan satu-satunya komponen, mesti pertanian itu sendiri akan memberikan opportunity kepada petani to grow. Jadi tidak semuanya dikontrol oleh Pemerintah, top down approach, tapi mechanism, di situ sedemikian rupa yang kita bangun, sehingga petani makin bagus. Dan kalau ini terjadi, kemiskinan hampir pasti berkurang. Oleh karena itu, saya setuju dengan poin pertama ini, dengan Menteri Pertanian di sini, pastikan tiap tahun makin baik, makin tepat apa yang kita lakukan.
Diversifikasi pangan. Sudah saya sampaikan tadi, tapi ini harus. Penduduk kita 230 juta, nanti pada tahun 2025, itu sudah di atas 300-an. Oleh karena itu, mari betul-betul kita sukseskan diversifikasi bahan pangan ini.
Revitalisasi kearifan lokal untuk pangan, saya setuju. Dimana-mana, saya ini penggemar Trubus. Edisi Trubus yang akan datang, terbit bulan Agustus itu cukup komprehensif, halamannya 300 halaman, saya lihat draft-nya, karena ada wawancara saya di situ. Trubus itu banyak sekali mengangkat kearifan lokal untuk pangan, untuk jamu tradisional, untuk herbal, untuk biofuel, semua ada di situ, luar biasa. Tidak banyak negara di dunia punya seperti itu. Tapi kadang-kadang kita kurang tekun. Makanya saya ajak, tolong kembangkan seperti-seperti itu, sehingga menghadapi krisis global enggak usah khawatir, kita bisa mandiri, ada sabuknya, social safety nett kita, ada safety nett kita.
Saudara-saudara,
Itulah pangan policy-nya, pikiran Saudara dan bagaimana menyambungkan dalam satu kebijakan yang kita lakukan untuk sekarang dan ke depan nanti.
Energi, Pak Purnomo ada di sini. Policy dasar kita adalah melakukan diversifikasi sumber energi, energy mix. Kita sudah punya cetak biru dan roadmap 2025 dan 2050. Esensinya kita mengurangi kandungan fossil based fuel menuju ke renewable sources dalam kapasitas yang bisa kita lakukan. Dengan demikian, makin berkembang energi dalam negeri, makin environmentally friendly.
Yang kedua, kita juga mendorong pengembangan energi terbarui tadi, termasuk bahan bakar sintetis, termasuk biofuel sepanjang tidak bertentangan, tidak konflik dengan kebutuhan pangan. Sebenarnya kalau minyak atau jarak pagar dan kemudian biomassa tidak akan bertentangan dengan pangan. Sawit, tebu, singkong, jagung, itupun kalau dikelola dengan baik, tidak perlu bertabrakan dengan kebutuhan untuk food sufficiency. Brasil, saya bertemu Presiden Lula beberapa saat yang lalu, dan kita menjalin kerjasama. Brazil itu bisa mencukupi pangan dan ekspor, dan juga mencukupi biofuel dan ekspor. Jadi tidak perlu dikotomikan, tapi harus dengan perencanaan yang baik.
Optimasi produksi migas masih ada deposit kita, tanpa menghilangkan konservasi untuk generasi yang akan datang dan di sini teknologi sangat penting untuk menambah petro production kita, minyak dan gas.
Dan yang keempat, ini penting sekali, saya minta dukungan Saudara-saudara, perlu ada revolusi, ada national campaign, ada gerakan nasional untuk hemat energi. Bangsa kita masih dinilai bangsa yang boros energi. Elastisitas energi kita masih tinggi, di atas 1, 1.8, yang baik itu di bawah 1. Jepang itu nol koma sekian, Amerika nol koma sekian, Malaysia, Thailand di atas 1, tapi 1.2, satu koma sekian. Kita 1.8. Jadi kalau saya terus berkampanye hemat energi, memang boros, kecanduan kita dengan kegigihan besar dari Pemerintah. Mengubah gaya hidup. Seloroh saya, jangan sampai mau beli jagung ke Cipanas bawa mobil. Bahan bakarnya berapa liter subsidinya berapa liter, hanya beli jagung. Itu saja di pasar paling dekat di situ. Ini contoh, banyak sekali yang menurut saya belum mencerminkan sense of crisis of energy.
Kemudian energi mengutamakan sumber daya nasional, daya gunakan untuk kepentingan bangsa sendiri. Yang di luar kontrol kita, kita harus tahu juga bahwa global supply and demand itu juga di luar kontrol kita, global, itu yang membikin harga meroket seperti sekarang ini. Tadi malam, tadi pagi, saya nyaman sedikit karena harganya di bawah 120 dolar AS per barel. Mari kita berdoa supaya kalau bisa itu menuju ke 100 dolar AS begitu, supaya tidak megap-megap, APBN kita bisa megagap, kalau sampai kemarin 130 dolar per barel, 140 dolar per barel, ndak bisa tidur saya, mengambil keputusan, unjuk rasa ya tiap hari. Jadi kita terus berpikir bagaimana menyelamatkan APBN, menyelamatkan ekonomi dengan resiko yang saya ambil, yang Pemerintah ambil, di luar kontrol kita.
Saudara tahu, sekarang tiap hari diperlukan 85 juta barel, OPEC itu 40%, non OPEC 60%. Sekarang China, India dengan pertumbuhan 10% ekonominya consume energi yang luar biasa, belum Amerika sendiri dan lain, belum Indonesia yang saya katakan rada boros tadi. Jadi ini dangerous kalau tidak segera kita kelola dengan baik.
Yang di luar kontrol kita, Saudara tahu Kyoto Protocol yang hampir habis? Nanti 2012 ada Youth Protocol yang kemarin kita bikin roadmap-nya di Bali, yang bersejarah itu. Nanti bagaimana dunia mengontrol, mengaudit penggunaan bahan bakar minyak kita, karena emisi CO2 itu juga di luar kemampuan kita, kalau dunia dengan keras, bisa diaudit kita, enggak bisa tembus kita nanti jual barang-barang. Ini juga perlu kita perhatikan.
Impor, ekspor bahan energi dan mineral, ini global market, apa namanya, melakukannya dengan hukum-hukumnya sendiri, meskipun sering kami lakukan intervensi. Jadi banyak komentar, saya dengar dari pelaku-pelaku usaha di Indonesia ini, “Pemerintah jangan terlalu inilah, mengatur, biarlah kami yang menjalankan bisnis ini.” Ya kalau yang dijadikan pedoman market dunia, hanya untuk kepentingan profit, negara kita susah, rakyat kita susah, masa Pemerintah diam saja. Tentu kita bekerja sama, yang baik, ya kalau untung itu besar sekali, kurangilah besarnya, supaya bisa kita gunakan untuk membiayai pembangunan kita, rakyat kita. Jadi bukan saya ingin seperti negara komunis, negara sosialis mengontrol perdagangan itu, bukan. Tapi keadilan penting, kepentingan dalam negeri penting tanpa sesungguhnya merugikan yang betul-betul merugikan kepentingan para pelaku usaha kita dalam memasuki pasar global. Semuanya itu saya sampaikan sama dengan pangan tadi, ada sesuatu yang lintas negara, lintas border dan juga beyond, yang kita sebut dengan sovereignty.
Kalau saya kaitkan dengan pandangan pertemuan, Bapak mengatakan energi berbasis lokal harus semakin didorong. Setuju dan itu policy kita. Tapi ingat perlu investasi dan teknologi, perlu ada kebijakan tentang harga BBM yang tepat. Dulu tidak berkembang, entah itu teknologi surya, hydro, angin, geothermal, panas bumi, karena kalah murah dengan bahan bakar minyak yang kita subsidi. Crude-nya dulu di bawah 30 dolar, sekarang di atas 100 dolar, hitung-hitungannya mestinya competitive, ekonominya, apalagi dengan new technology yang lebih efisien. Jadi saya optimis untuk terus mendorong, apa namanya, sumber-sumber bahan energi yang terbarukan ini, dan dukungan masyarakat. Marilah kita hentikan kecanduan kita kepada BBM yang berasal dari fosil, yang disubsidi oleh kita sendiri dalam jumlah yang sangat besar, addiction. Mari kita away dari situ untuk betul-betul memasuki gaya hidup yang baru.
Masalah nasionalisasi energi, nasionalisasi energi ini mesti dimaknai energi di negeri ini, kita olah, kita produksi, ya untuk sebesar-besar kepentingan rakyat kita, bukan pihak-pihak yang lain. Kemudian sumber daya yang ada, mari kita daya gunakan dengan mengedepankan kemampuan sendiri. Saya kira makin mampu flag kita, Merah Putih kita untuk mengelola sumber-sumber itu.
Terhadap usaha di bidang energi, di bidang pertambangan yang sejak Presiden Soekarno tadi, dulu sudah dijalankan sejak Bung Karno untuk tahun-tahun setelah itu sampai sekarang ini dan itu menjadi bagian dari pembangunan ekonomi dulu dengan kerjasama-kerjasama, dengan kontrak-kontrak, dengan perjanjian, mari kita pastikan itu dijalankan secara benar, jangan ada penyimpangan. Dan kalau memungkinkan, kalau memungkinkan, bisa saja disesuaikan dengan kepentingan yang baru untuk menunjang keadilan.
Tapi prosesnya harus legal, prosesnya harus benar. Dan yang lebih penting, kita tidak bisa mengoreksi habis-habisan masa lalu, kontrak-kontrak itu, perjanjian-perjanjian itu, usaha-usaha itu. From now on, mulai dari sekarang, kalau kita bikin perjanjian negara dengan perusahaan dalam negeri, apabila terpaksa negara, perusahaan dalam negeri bekerja sama dengan perusahaan luar negeri, kontraknya harus benar, harus adil dan benar-benar membawa benefit, manfaat yang sebesar-besarnya bagi kita. Itu menurut saya memaknai bagaimana kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri dalam bidang energi, nasionalisasi.
Kalau nasionalisasi dimaknai pengambilalihan semua aset negara lain serentak, tanpa proses apapun, kemudian disuruh pergi, semua yang sudah ada di Indonesia sejak era Bung Karno mungkin ada persoalan, karena menyangkut hukum internasional, menyangkut kontrak dan lain-lain.
Kami pernah melakukan diskusi dengan Menteri-menteri terkait, coba kalau hari, saya dengan gagah berani mengeluarkan dekrit semua usaha asing kita ambil alih di negeri ini, apa yang terjadi? “Besok ada arbitrase, Pak, terus lusa kita kalah”. Ternyata Saudara-saudara, hati-hati memaknai nasionalisasi, supaya kita paham konteks. Dengan demikian, maunya baik malah merugi. Tetapi saya setuju, jangan sampai justru putra-putri bangsa sendiri, kemampuan sendiri yang kita miliki ke depan ini tidak kita daya gunakan, tapi ada di pinggiran. Inilah yang harus menjadi tekad kita semua untuk sama-sama membangun kebijakan yang benar.
Kami sangat serius, Saudara-saudara, beberapa bulan yang lalu, kami hentikan sebuah perpanjangan kontrak, saya putuskan. Perusahaan itu, perusahaan raksasa, negara yang punya perusahaan itu negara raksasa, tapi harus saya ambil keputusan untuk menghentikan karena tentu tidak membawa keadilan, seperti itu kita lakukan. Ada juga yang perusahaan yang besar juga, kita bawa ke arbitrase, kita nyatakan default. Berani kita, tegas kita, karena tepat, tapi bukan tegas ngawur, artinya membikin susah rakyat. Kalau saya hanya tegas-tegasan, berani-beranian, popular saya. Tapi apakah nanti saya secara moral bertanggung jawab kalau membikin susahnya negara, Pemerintah, rakyat, yang ternyata ada dampaknya yang membawa persoalan.
Saudara-saudara,
Oleh karena itu, mari kita satukan pemahaman kita untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri tadi sebesar-besar kepentingan nasional kita, nasionalisasi yang Saudara angkat dalam pertemuan ini.
Saudara-saudara,
Akhirnya dengan pandangan-pandangan itu, dengan bagaimana saya mengakomodasi pikiran baik Saudara dalam konteks policy development ke depan, ada 4 hal yang saya ingin sampaikan dan saya mengajak Saudara. Pertama, kebijakan strategi, manajemen pembangunan energi dan pangan harus semakin tepat. Yang masih relevan kita pertahankan, yang masih baik, jangan diganggu. Yang nyata-nyata tidak cocok, mari kita ubah, wong ini negara-negara kita sendiri, Pemerintah kita sendiri. Kalau nyata-nyata tidak sesuai dan dalam kemampuan kita, kita ubah, kita perbaiki, welcome. Banyak yang kita perbaiki, undang-undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden. Saya sangat adaptif, sangat sangat responsif terhadap semua itu. Mari, ayo, reformasi untuk itu sebetulnya.
Yang kedua, ini urusan besar, pangan, energi dan pembangunan. Pemerintah, baik Pusat maupun Daerah, Saudara menyebut desentralisasi ekonomi daerah, pihak swasta, pihak perguruan tinggi, termasuk kalangan pasca sarjana, lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan, masyarakat luas, semua harus terlibat dalam pembangunan ketahanan pangan dan ketahanan energi. Tidak boleh hanya diserahkan kepada Pemerintah atau swasta atau litbang, semua harus bersinergi, Indonesia incorporated, nyata. Saya sering mengundang para peneliti perguruan tinggi, termasuk Saudara, swasta, masyarakat luas, LSM, supaya kita ini betul-betul bersinergi, jangan sendiri-sendiri, jangan masing-masing.
Yang ketiga, dengan realitas globalisasi Saudara-saudara, ada banyak faktor yang di luar jangkauan atau kemampuan kita. Oleh karena itu, enggak usah kecil hati, mari kita kreatif mencari opportunity di tengah-tengah itu, selalu ada, selalu ada untuk menyiasati bagaimana kita tidak merugi dalam globalisasi, tapi kita beruntung.
Yang keempat atau yang terakhir, di atas segalanya adalah aksi nyata dan kepemimpinan. Saudara tahun 2006 bertempat di Departemen Pertanian, saya putuskan waktu itu dalam Sidang Kabinet dihadiri oleh para Gubernur dan pihak-pihak lain tambahan beras, apa namanya, sebanyak 2 juta ton, agar kita betul-betul bisa berswasembada. Waktu itu terus terang banyak yang tidak yakin, opo iso, apa bisa. Tetapi tidak ada kata-kata tidak bisa, harus bisa, Insya Allah dengan semua bekerja, Gubernur, Bupati, Walikota, kami mondar-mandir daerah, bisa kita capai.
Saya kira pertumbuhan padi dan beras kita, berapa persen Pak Anton? Empat koma, ini yang terbaik dalam kurun waktu berapa tahun? Ya, itu yang terbaik dalam konteks berapa tahun? Ya. My point is kita bisa meningkatkan produksi, kalau betul-betul di lapangan bekerja semua, kepemimpinan. Saya ingin Gubernur, Bupati, Walikota itu ya turun, dekat sama petani, dekat sama rakyat, apa yang perlu dilakukan, dilakukan, tanpa itu panjang. Saya menggarisbawahi betul-betul bagaimana kita menjalankan secara benar.
Hadirin sekalian,
Itulah 4 ajakan dan harapan saya kepada Saudara menutup dari sambutan saya ini, agak panjang, tapi tidak apa-apa, karena saya jarang bertemu Saudara, mudah-mudahan kita bisa berbuat yang lebih baiklah untuk negara ini. Sampaikan salam saya kepada handai taulan di lingkungan perguruan tinggi, utamanya Bogor Pasca sarjana. Di sini ada beberapa teman-teman saya yang dulu di pasca sarjana, ada dosen saya juga di sini. Ya mudah-mudahan suatu saat lulusan pasca sarjana yang Saudara kelola ada yang juga berdiri di sini atau Saudara-saudara juga masih banyak tempat yang kosong ini, ini baru 6 ini, masih akan banyak lagi. Berdoa kepada Allah, bekerja sama, berikhtiar untuk menuju masa depan yang lebih baik.
Selamat bertugas.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



