Pidato Presiden

Sambutan Tasyakuran 75 Tahun Pondok Pesantren As-Syafiyah Jakarta dan Badan Kontak Majelis Taklim

 

SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA TASYAKURAN
75 TAHUN PONDOK PESANTREN AS-SYAFI’IYAH JAKARTA DAN
27 TAHUN BADAN KONTAK MAJELIS TAKLIM (BKMT)

Jakarta, 10 Agustus 2008



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,


Yang saya hormati Ketua PP BKMT
Yang saya cintai Keluarga Besar BKMT di seluruh Tanah Air
Hadirin yang saya muliakan,

Marilah kita bersama-sama, sekali lagi, memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita dapat menghadiri Puncak Tasyakur 75 Tahun As-Syafi’iyah, bersamaan dengan 27 Tahun Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT). Salawat dan salam, semoga tercurah kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan para pengikut Rasulullah hingga akhir zaman.

Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan dan insya Allah penuh berkah ini, untuk menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh warga dan alumni As Syafi’iyah, pada Tasyakuran 75 tahun Pesantren As-Syafi’iyah, Jakarta. Saya juga ingin menyampaikan ucapan selamat kepada Ibu Dr. Hajjah Tutty Alawiyah AS, Ketua Umum Pengurus Pusat Badan Kontak Majelis Taklim (PP-BKMT), beserta segenap jajaran pengurus dan anggota BKMT di seluruh tanah air, atas hari jadinya yang ke-27. Semoga Pesantren dan Universitas As-Syafi’iyah bersama seluruh jajaran BKMT, dapat lebih meningkatkan peran dan pengabdian dalam misi da’wah dan pendidikan, dan dalam kegiatan kemanusiaan dan sosial sebagai bagian dari pembangunan bangsa.

Hadirin dan hadirat yang saya muliakan.
Dalam menapaki kehidupan di dunia fana, sebagai pribadi muslim, kita diwajibkan mengikuti tuntunan dari para nabi. Kita juga, diharuskan untuk meneladani perilaku dan kehidupan para sahabat, para alim ulama, dan para zuama, sebagai pewaris para Nabi. Para nabi, para ulama, dan zuama, banyak mewariskan tuntunan hidup dan khazanah ilmu pengetahuan, yang dapat memberikan pencerahan terhadap kita sekalian.

Salah seorang ulama besar, yang memiliki kharisma, keteladanan, dan keluasan ilmu, adalah K. H. Abdullah Syafi’i, pendiri pondok pesantren As-Syafi’iyah, Jakarta. Dengan kharisma, keteladanan, dan keluasan ilmunya, beliau telah membimbing, membina, dan mendidik para santri dan masyarakat untuk tunduk dan patuh, serta senantiasa memelihara ketaatan pada Sang Kholiq. Perjuangan dakwah K. H. Abdullah Syafi’i berlangsung tidak kenal lelah. Beliau berdakwah, untuk terciptanya keselarasan pikir dan zikir, bagi segenap masyarakat ibu kota pada khususnya, dan masyarakat Islam pada umumnya.

Pondok pesantren dan Universitas Islam As-Syafi’iyah, menjadi bukti kegigihan beliau dalam berdakwah. Kita patut bersyukur dan bangga, atas perjuangan dan kiprah beliau dalam menegakkan Islam yang teduh dan mengayomi. Menjadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Selama kurun waktu 75 tahun, pondok pesantren As-Syafi’iyah, telah berperan aktif, dalam mencerdaskan anak-anak bangsa, dalam membinbing kehidupan umat. Semoga lembaga-lembaga yang telah diprakarsainya, menjadi amal jariyah bagi beliau.

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Saya menyambut baik tema penyelenggaraan acara ini, yaitu, ”Tasyakur untuk Membangun Jatidiri bagi Kemajuan Bangsa yang Bermartabat”. Tema ini saya anggap penting, tepat, dan relevan bagi bangsa kita yang terus berjuang demi kemajuan bangsa. Semangat ini, tentu saja menemukan momentum yang tepat, karena bertepatan dengan peringatan seabad Kebangkitan Nasional, 63 tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, dan 10 tahun Reformasi.

Oleh karena itu, saya ingin kembali mengingatkan, sebagaimana telah saya kemukakan pada peringatan seabad kebangkitan nasional bulan Mei lalu, bahwa ada tiga landasan fundamental untuk menjadi bangsa yang maju, bermartabat dan sejahtera. Pertama, kita harus meningkatkan kemandirian bangsa. Kedua, kita harus meningkatkan daya saing bangsa. Dan ketiga, kita harus membangun peradaban bangsa yang mulia.

Kita memiliki modal dasar yang besar untuk bangkit, tumbuh, dan berkembang, menjadi sebuah bangsa yang maju. Kita memiliki kekayaan sumber daya manusia, dengan keteguhan spiritual yang kukuh, yang dapat menjadi pendorong semangat kita untuk bekerja keras, dengan niat ibadah semata-mata karena Allah SWT. Kita juga memiliki kekayaan alam yang besar, sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, yang dapat kita kelola dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya, untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan bangsa kita.

Hadirin dan hadirat yang saya muliakan.
Pemerintah terus memberikan dukungan atas penyelenggaraan dakwah keagamaan di seluruh tanah air. Di tengah terpaan arus globalisasi, yang membawa serta pengaruh budaya yang sering tidak sesuai dengan budaya kita, dakwah menjadi lebih penting lagi. Kita ingin, melalui dakwah, terus kita bangun akhlak yang mulia dan budi pekerti yang luhur. Melalui dakwah, kita ingin terus mengembangkan nilai dan kehidupan yang religius, kehidupan yang islami. Melalui dakwah, kita juga ingin membangun jiwa yang penuh cahaya, sikap yang optimis dan pikiran yang positif. Dengan ini semua, Insya Allah kehidupan di negeri ini akan semakin maju, dalam suasana ketenteraman lahir dan bathin.

Demikian pula dengan kegiatan amal sosial dan ekonomi keumatan. Pemerintah terus memberikan dukungan dan dorongan atas upaya dari segenap komponen bangsa, untuk menumbuhkembangkan kesetiakawanan sosial. Pada kesempatan yang baik ini, saya mengajak segenap keluarga besar BKMT, untuk menciptakan tatanan sosial yang adil, dimana yang kuat membantu yang lemah; yang kaya membantu yang miskin; dan yang sudah maju, menolong yang belum maju. Itulah hakekat kepedulian hakiki di antara kita, di antara sesama bangsa Indonesia, yang terkenal dengan sifatnya yang suka bergotong-royong, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Ini pulalah nilai-nilai yang luhur dari ajaran Islam.

Hadirin dan hadirat yang saya hormati.
Pertumbuhan dan perkembangan Islam di tanah air, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Hajjah Tutty Alawiyah tadi, selalu mendapat perhatian dan apresiasi positif dari para tokoh dan pemimpin negara-negara Islam. Dalam beberapa kali kunjungan kenegaraan saya ke negara-negara di kawasan Timur Tengah serta pertemuan saya dengan pemimpin-pemimpin negara sahabat, saya menangkap kesan bahwa Dunia, termasuk dunia Islam, menaruh harapan besar bagi sumbangan dan kepeloporan Indonesia dalam ikut membangun peradaban Islam yang teduh, serta ikut mewujudkan perdamaian dan keadilan dunia. Kita juga diharapkan mampu memainkan peran penting bagi kemajuan dunia Islam. Untuk dapat memainkan peran penting bagi kemajuan dunia Islam, tentu saja kita harus membangun citra Islam yang baik. Islam yang mampu memberikan kontribusi pada kehidupan bangsa, mampu menawarkan solusi pada berbagai permasalahan, serta mampu mengayomi perbedaan sebagai sebuah keniscayaan.

Konsep dan implementasi keislaman bagi pemeluknya, adalah rakhmat bagi semesta alam. Islam itu damai, Islam itu teduh, Islam itu cinta keadilan, Islam itu menjauhi kekerasan. Islam selalu menganjurkan persatuan dan menjauhi permusuhan. Bahkan Islam amat memuliakan pemeluknya yang mampu berkhidmat mengatasi berbagai permasalahan keumatan baik yang menyangkut urusan keaga-maan maupun urusan keduniawian.

Saya mengajak kepada para tokoh agama, para ulama, dan para pemimpin umat, untuk membimbing, membina, dan menghindarkan umatnya dari tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Sebagaimana Rasulullah SAW, dalam mengemban risalah dakwah, saya berharap para tokoh agama dan ulama terus berjuang tiada henti untuk membawa umatnya pada kehidupan yang senantiasa berada di bawah naungan Al-Qur’an. Kehidupan yang teduh, harmonis, dan seimbang. Mari kita tunaikan ajaran agama dengan sebaik-baiknya. Marilah kita menjadi, umat beragama yang patuh dan taat, kepada tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah, agar kita senantiasa mendapatkan rahmat dan ampunan Allah SWT.

Marilah kita menjalankan dan menyiarkan ajaran Islam secara benar, sesuai dengan kandungan Al-Qur’an dan Sunnah. Janganlah kita menjalankan keimanan dan ajaran yang keliru, apalagi menyiarkannya, karena pasti mendatangkan permasalahan bahkan pertentangan, baik untuk diri sendiri maupun untuk komunitas ummat Islam yang lebih luas. Menghadapi permasalahan dan pertentangan semacam itu diharapkan para ulama dapat menyelesaikannya secara tepat dan bijak, dan membimbing kembali ummat yang mengalami kekeliruan dalam keimanan dan ibadahnya, kembali kepada tuntunan Al-Qur’an dan hadist. Selamatkanlah dan bimbinglah mereka ke jalan yang benar, dengan penuh kasih sayang.

Hadirin dan hadirat yang saya muliakan,
Demikianlah pesan, harapan dan ajakan yang dapat saya sampaikan pada kesempatan yang membahagiakan ini. Sekali lagi, selamat atas 75 Tahun Pesantren As-Syafi’iyah, dan selamat atas 27 tahun kiprah Badan Kontak Majelis Taklim di tanah air. Semoga perjuangan dan pengabdian saudara-saudara senantiasa mendapat rahmat dan karunia dari Allah SWT.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Jakarta, 10 Agustus 2008
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA


DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO