Pidato Presiden

Sambutan Buka Puasa dan Tasyakuran HUT ke-59

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA BUKA PUASA DAN TASYAKURAN HUT KE-59
ISTANA NEGARA,9 SEPTEMBER 2008


Bismilahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh


Yang saya hormati Bapak Muhammad Jusuf Kalla beserta Ibu,
Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung ada di sini ?

Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT kita kembali dapat bersama-sama beribadah di bulan suci ramadhan ini dan bersilaturahim pada sore hari yang insya Allah penuh berkah ini.

Tadi saya bertanya kepada staf apakah perlu saya memberikan sambutan karena sudah amat sering saya berpidato, tetapi dijawab sebagai sahibul bait, syariatnya harus menyampaikan sambutan sepatah dua patah kata. Oleh karena itu beberapa menit mendatang selaku tuan rumah saya ingin menyampiakan satu dua hal ke hadapan Bapak dan Ibu sekalian yang saya muliakan.

Namun sebelumnya saya mengucapkan terimakasih kepada Bapak Bagindo Muhammad Leter yang telah memberikan ceramah atau hikmah ramadhan, pesan-pesan spiritual kepada kita semua tadi dengan topik utamanya syukur. Bagaimana kita senantiasa bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, saya juga mengucapkan terimakasih pada Kyai Haji Nur Fakih yang tadi telah melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dan insya Allah nanti Bapak Miftah Farid juga akan memimpin doa pada saatnya nanti. Ketiga Ulama, ketiga Cendikiawan ini hadir bersama kita disini untuk juga bersatu dalam syukur, dalam doa dan harapan, dalam ibadah, dalam tekad untuk berbuat yang lebih baik di hari esok.

Bapak Ibu, hadirin sekalian,
Akan saya gunakan kesempatan yang baik ini karena terus terang usia Kabinet Indonesia Bersatu ini hampir empat tahun, amat jarang para Menteri beserta Ibu, putra-putri, cucu bersilaturahim seperti ini. Saya tadi berbincang-bincang dengan Pak Jusuf Kalla: “Pak Jusuf, kita ini harus lebih banyak meminta maaf kepada para ibu karena hari liburpun, Sabtu, Minggu kadang-kadang malam hari saya, Wapres sering mengundang para menteri, Anggota Kabinet untuk entah melakukan pertemuan, entah melaksanakan sidang kabinet atau meninjau ke seluruh pelosok negeri ini.

Oleh karena itu meskipun semuanya itu dalam rangka tugas bukan untuk bersenang-senang namun karena sudah mengganggu waktu keluarga bagi para istri, para suami, putra-putri, cucu pada bulan suci ramadhan ini tepat kalau saya memohon maaf. Jangan disalahkan para suami, menteri atau ibu menteri yang kadang-kadang kurang waktunya untuk bersama keluarga. Kalau harus disalahkan saya pertama-tama, nomor dua baru Pak Jusuf kalla.

Yang kedua saya juga ingin mengucapkan terimakasih karena kita semua mengetahui ujian, persoalan, tantangan yang kita hadapi tidak ringan. Ada wartawan asing bertanya kepada saya: “Mr President, yang paling berat untuk Anda, sewaktu Anda memimpin ini kapan? Tahun berapa? Saya katakan “ya empat tahun empat-empatnya berat”. Karena memang banyak persoalan meskipun bukan hanya negeri kita, negara lain juga mengalami dan rakyat kita memiliki harapan yang sangat tinggi, sepertinya semuanya bisa diubah seketika semudah membalik telapak tangan, dan kemudian banyak yang kurang sabar sebagaimana tadi Bapak Bagindo Muhammad Leter telah menjelaskan.

Oleh karena itu lebih tertantang lagi, lebih memerlukan dedikasi, pengabdian dan pengorbanan kita semua. Oleh karena itu saya tentu bersama Wapres tidak mungkin menjalankan tugas yang luar biasa besar tantangannya ini tanpa bantuan, tanpa kontribusi, tanpa kebersamaan diantara kita.

Oleh karena itu atas semua capaian yang telah kita capai dan masih banyak lagi pekerjaan rumah yang harus kita rampungkan tapi semua jerih payah, pengorbanan, pengabdian Anggota Kabinet Indonesia Bersatu yang telah diberikan tentunya saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya. Tentu ini juga kepada spouse, baik istri atau suami, dan putra-putri yang juga untuk memberikan dorongan kepada para menteri dan Anggota Kabinet Indonesia Bersatu.

Kemudian berikutnya lagi tentunya kita akan melangkah ke depan dan terus melangkah ke depan. Oleh karena itu saya berharap mari kita perkokoh kebersamaan kita, kita bergigih upaya kita, kerja lebih keras lagi dengan satu keyakinan, dengan ridho Allah SWT seberat apapun persoalan yang kita hadapi insya Allah ada jalan keluarnya.

Kalau hari ini bertepatan dengan ulang tahun saya 9 September, saya juga mohon doa dari semua, dari Pak Jusuf Kalla beserta Ibu, dari para Menteri Anggota Kabinet, semua handai taulan, teman-teman dekat yang selama ini bersama-sama kita, bersama kami mengemban tugas, negara saya mohon doa restunya agar sisa masa bakti saya atau kita semua sampai jatuh tempo tanggal 20 Oktober tahun depan dapat kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan tiada yang lebih dahsyat kecuali doa, zikir dan kebersamaan kita dalam mengatasi masalah-masalah yang ada di depan.

Kemudian yang terakhir tentunya semua persoalan, tantangan, ujian itu tidak akan sirna, tidak akan hilang kalau tidak kita selesaikan, tidak kita atasi, tidak kita carikan jalan keluarnya. Oleh karena itu biarkanlah kegaduhan sering terdengar di negeri ini sebagian dari saudara-saudara kita, tapi tidak boleh menjadikan alasan apapun untuk kita berputus asa, kita berkecil hati, kita menyerah untuk mengemban tugas, mengemban kewajiban ke depan yang tentu tidak ringan tetapi mulia ini.

Tadi saya menghadiri peringatan Hari Olah Raga Nasional di Gelora Istora, kemudian ada satu seniman cukup senior namanya Iwan Abdurrahman yang dulu bergabung dalam Bimbo, beliau melantunkan melantunkan lagu-lagu yang sangat heroik, yang sangat patriotik menggugah semangat kejiwaan kita tadi apa yang bisa kita lakukan kepada negara dan bukan apa yang bisa dilakukan negara kepada kita.

Tetapi yang ingin saya sampaikan adalah Saudara Iwan Abdurahman tadi mengatakan katanya ada orang bijak sampaikan kepada 190 juta rakyat Indonesia supaya kita terus berjuang, terus berikhtiar mengatasi masalah dan membangun hari esok yang lebih baik. Bung Iwan bertanya kenapa hanya 190, ya 30 juta masih belum berpikiran positif, masih serba negatif, masih pesimis, masih menghujat, masih dan sebagainya, dan sebagainya. Mudah-mudahan jumlah itu makin kecil, makin kecil, makin kecil dan kita bersatu semuanya dalam kesadaran, dalam amanah, dalam tekad dan kerja nyata kita di negeri tercinta ini.

Saya kira itulah yang dapat saya sampaikan, sekali lagi selaku tuan rumah saya mengucapkan terimakasih atas kehadiran hadirin-hadirat semua untuk beribadah pada sore hari ini, sekaligus untuk berbagi rasa syukur dan kebahagiaan dengan keluarga atas ulang tahun saya yang ke-59. Semoga silaturahim kita ini membawa berkah dan mendapatkan ridho dari Allah SWT. Demikian.

Wassalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.


*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan