Pidato Presiden

Sambutan Acara Pertemuan dengan Masyarakat Pelaku Usaha Mikro Majenang

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT PELAKU USAHA MIKRO
MAJENANG-JAWA TENGAH, 18 SEPTEMBER 2008



Bismillaahirahmanirrahiim,
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Gubernur Jawa Tengah, Saudara Bupati Cilacap, Saudara Camat Majenang, Bapak-Ibu Hadirin sekalian yang saya cintai. Marilah pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan semoga kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas, dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.

Kita juga bersyukur kehadirat Allah SWT, bagi yang menjalankan di Bulan Suci Ramadhan ini kita kembali dapat menjalankan ibadah puasa, semoga ibadah kita semua diterima oleh Allah SWT.

Hari ini saya datang dan berkunjung ke kecamatan Majenang beserta para Menteri, Pak Gubernur, Pak Bupati dan pejabat yang lain untuk melihat langsung dinamika kehidupan masyarakat Kecamatan Majenang. Untuk melihat kemajuan dan perkembangannya, untuk mendengarkan masalah dan tantangannya, serta bagaimana pemerintah Kecamatan Majenang dan masyarakat ke depan ingin memajukan kecamatan yang sama-sama kita cintai ini. Saya tahu bahwa Bapak Bupati Cilacap, Bapak Camat Majenang terus berikhtiar, bekerja keras, dengan dukungan masyarakat untuk memajukan daerah ini. Saya juga tahu Bapak Gubernur Jawa Tengah, juga berusaha sekuat tenaga, berpikir siang dan malam untuk meningkatkan kesejahtreraan rakyat. Namun sebagai Kepala Pemerintahan tentu saya juga ingin sekali-kali melihat apa yang dilakukan oleh jajaran Pemerintahan Daerah di seluruh Indonesia. Meskipun kali ini yang saya lihat di Majenang, Cilacap, Jawa Tengah.

Mendengarkan laporan kemajuan yang disampaikan oleh Pak Camat tadi, Bapak Heru Susedyono, supaya hafal saya Bapak Heru Susedyono, biasanya nggak pakai –Su ya, Heru Sedyono gitu, Heru Susedyono, biar hafal saya. Laporannya bagus, jelas, gamblang, boleh tepuk tangan untuk beliau. Kalau pemimpin ya, di dalam memimpin entah Kecamatan, Kabupaten, Kota, Provinsi, juga seperti itu, jelas visinya, jelas rencananya, jelas arahannya dan mau turun ke lapangan, insya Allah, daerah itu akan terus maju.

Kalau 24 Kecamatan Pak Bupati, di Cilacap ini, semuanya seperti itu, mulai Camat, Kepala Desa, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, pengusaha, petani, nelayan, buruh, guru, semua, dengan masyarakat luas kompak, untuk memajukan daerahnya ya, 24-nya seperti itu, Cilacap pasti maju. Kalau “Jawa Tengah berapa kabupaten-kota bapak ?”, Kalau 35 kabupaten-kota di Jawa Tengah juga seperti Cilacap, seperti ini, Jawa Tengah tentu akan maju. Kalau 33 Provinsi di Indonesia seperti Jawa Tengah, Indonesia akan maju. Jadi semuanya itu penting, tidak ada yang tidak penting, semuanya berperan, meskipun Pak Bibit Waluyo sregep, saya tahu beliau, sregep, ubet, inovatif, turun ke lapangan, kalau katakanlah Pak, tetapi kalau para Bupati, Walikotanya tidak se-sregep Gubernurnya, tentu Jawa tengah tidak akan maju sekali, betul?. Demikian juga Pak Bupati Cilacap, kalau kecamatan-kecamatan tidak berlomba-lomba untuk memajukan daerahnya, tentu Cilacap juga akan tidak maju pesat.


Ajaran agama Islam mengatakan bahwa kita sebagai umat Hamba Allah, diminta untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, itu firman Allah, bukan berlomba-lomba dalam kejahatan, bukan berlomba-lomba dalam kemalasan, bukan berlomba-lomba dalam memberi mengeluarkan fitnah dan sebagainya. Di bulan Ramadhan kita juga dimintakan untuk berlomba-lomba mendapatkan ampunan Allah SWT.

Itulah kehidupan yang baik, kembali kepada laporan dari Saudara Camat, Pak Heru tadi, pertama-tama, meskipun pemerintah, baik Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, pemerintah kabupaten-kota, memiliki program-program, memiliki rencana, mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit. Katakanlah pemimpin-pemimpinnya juga terus berupaya, tetapi kalau masyarakatnya acuh tak acuh, masyarakatnya hanya menonton, masyarakatnya hanya menggantungkan apa yang dilakukan pemerintah, tentu keberhasilannya hanya separuh. Separuh berhasil, separuh tidak. Tetapi kalau semua bekerja, berikhtiar, berupaya, maka keberhasilannya penuh. Kita pilih berhasil separuh, atau berhasil penuh ? insya Allah, kalau itu menjadi tekad kita, semangat Bapak dan Ibu, Saudara-saudara sekalian, makin ke depan Majenang akan makin baik.

Panen sangat penting, kalau Pak Heru tadi mengatakan Alhamdulillah produksi padi surplus hampir 8.000 ton per tahun. Coba bikin sasaran, tahun depan kalau bisa menjadi 9.000 atau 10.000. Alangkah bahagianya, surplusnya pun naik, sehingga disamping dikonsumsi, di Kecamatan Majenang ini, bisa dijual, bisa dibantukan kepada Saudara-saudara kita di tempat yang lain. Ini juga berpahala, ini juga ibadah. Caranya, ya semua melakukan upaya meningkatkan produksi dan produktivitas. Pak Bupati, Pak Gubernur, Menteri Pertanian, Menteri PU, Saya, tentu memikirkan irigasinya, memikirkan jaman sekarang di dunia ini, pupuk memang sulit, bagaimana kita terus mencari solusi untuk mengatasi pupuk, untuk benih, penyuluhan, melawan hama, research-nya dan sebagainya.

Bapak-Ibu tahu, subsidi bantuan untuk benih dan pupuk pertanian ini, mencapai Rp 35 triliun, besar sekali, tetapi dibagi di seluruh Indonesia. Maksud Saya, kewajiban pemerintah membantu semuanya itu, tapi komunitas petani-lah yang terus dengan gigih meningkatkan produksi dan produktivitasnya. Harapan Saya bukan hanya padi, tapi juga kedelai juga jagung, dan lain-lainnya. “Kedelai ada nggak pak disini? wonten? kecil?”, Kemarin Saya berhenti di Nganjuk, Jawa Timur, ada namanya Pak Timin, itu berhasil melakukan penelitian dan pengembangan kedelai, yang satu hektar sudah mencapai 2,6 Ton, ini tinggi sekali Bapak, kalau bisa berkomunikasi dengan Pak Timin yang ada di Nganjuk, berbagi pengalaman, siapa tahu di sekitar sini meskipun Pak Gubernur ngendiko tadi tidak terlalu luas, tapi kalau produksi dan produktivitasnya tinggi, itu juga sangat membantu.

Ingat, kita ini mengkonsumsi tahu dan tempe, Bapak-Ibu siapa yang tidak dahar tahu dan tempe?. Kalau tindak ke Istana, kantor Saya, tiada hari tanpa tahu dan tempe. Tetapi yang bikin sedih, kedelainya masih impor, satu tahun kita perlu kedelai 2 juta ton, produksi dalam negeri baru 700 ribu ton, sepertiga lebih sedikit, monggo, kita tingkatkan produksi kita. Kalau biasanya satu hektar hanya satu setengah ton kedelai, paling tinggi dua ton, sekarang sudah diketemukan jenis varietas tertentu dengan cara bercocok tanam tertentu, menjadi 2,6 juta ton. Saya yakin tahun depan, tahun depannya lagi, lima tahun lagi insya Allah produksi kedelai kita akan meningkat.

Saya garis bawahi, tolong dan Pak Camat dan semua masyarakat Majenang, pertahankan produksi padi yang surplus. Segera tingkatkan produksi pangan yang lain agar berswasembada dan akhirnya surplus. Yang kedua, usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, dan koperasi. Bapak, Ibu sekalian, kita semua sering berpidato, sering ngirim sms kepada Saya. Sering kadang-kadang ya unjuk rasa, yang intinya kita harus mengurangi kemiskinan. Setuju 100 %, kita harus menciptakan lapangan pekerja, setuju 100 %, kita harus meningkatkan kesejahteraan rakyat, setuju 100 %. Kalau tanya Pak Bibit Waluyo juga begitu, setuju, dan itu yang dikerjakan. Pak Bupati, semua juga begitu. Caranya bagaimana, tidak cukup mengurangi kemiskinan hanya pasang iklan, mengurangi kemiskinan melaksanakan program dan aksi nyata, di seluruh Indonesia, sebagaimana yang dilaksanakan di Cilacap dan di Majenang ini.

Kalau saudara kita tidak nganggur, misalnya, ada yang dikerjakan entah usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah, makin berkembang, income-nya makin banyak, penghasilannya maksud saya, maka hampir pasti kemiskinan berkurang, pengangguran berkurang, kesejahteraan rakyat meningkat. Tidak akan datang dari langit, negara manapun yang juga mengalami masalah kemiskinan di seluruh dunia ini juga begitu. Amerika Serikat negara yang paling kaya, yang miskin juga jumlahnya tidak kecil. Jadi nggak usah kecil hati kalau di negara kita masih ada yang miskin, tetapi yang salah kalau kita menyerah, kita diam saja, tidak berusaha mengurangi kemiskinan itu. Usaha mikro dan kecil sebagaimana dilaporkan tadi, salah satu langkah nyata untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Kalau ada permasalahan permodalan, lapor Pak Bupati, lapor Pak Gubernur, datang kepada Menteri Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah, mana priyayinya? Pak Suryadharma Ali ada disini. Sekarang ada program Kredit Usaha Rakyat, tanya ke BRI, tanya ke BNI, tanya ke Bank-bank yang memberikan pinjaman modal yang lebih mudah persyaratannya dibandingkan tanpa agunan pemerintah, kalau pemasaran ya monggo dicarikan solusinya, dipasarkan dimana. Saya senang sudah ada yang dipasarkan di Australia misalnya. Pendek kata pemerintah memberikan dorongan, fasilitas, kemudahan , tetapi selebihnya ya para pengusaha mikro dan kecil itu sendiri yang harus ubet, yang harus terus inovatif, yang harus memikirkan bagaimana meningkatkan produksinya.

Saya minta karena Majenang terkenal, Saya juga sering makan, namanya makanan ringan dari Majenang, terus dipertahankan dan dikembangkan. Kalau ada sesuatu yang ingin dibantukan oleh pemerintah monggo, ada Pak Bupati, langsung komunikasi dengan Menteri terkait apa saja yang bisa kita bantukan untuk mengembangkan untuk mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah ini.

Yang saya garis bawahi yang kedua setelah pangan, usaha makanan dan minuman dalam bentuk usaha mikro dan usaha kecil. Silahkan terus dikembangkan.

Yang ketiga pariwisata, tadi Pak Camat juga ngendiko, daya tariknya menopo, obyek wisata di Majenang apa yang ditawarkan?. Wisata alam contohnya menopo? Air terjun. Bapak, Ibu, Saya ini sudah keliling Indonesia selama empat tahun, saya juga sering melihat di negara-negara sahabat, banyak sekali penerimaan daerah karena wisata. Yang di negara kita biasa, di negara lain itu jadi obyek wisata, asalkan pandai-pandai menarik wisatawan itu. Pandai-pandai. Kalau ada obyek misalkan air terjun, apa yang bisa dilihat, disamping air terjunnya, disekelilingnya ada apa, ada mungkin cinderamatanya, ada yang lain-lain sehingga sekali datang, bukan hanya menikmati air terjun itu, tapi juga menikmati yang lain-lain.

Ini memerlukan kreatifitas, memerlukan inovasi dari Saudara-saudara agar betul-betul lebih banyak lagi wisatawan yang datang ke Majenang, bukan hanya transit tapi memang bertujuan untuk datang ke sini. Itu masalah menopo tadi… wisatawan. Yang lain-lain saya akan dengar dalam dialog ini, tapi yang jelas sebelum saya persilahkan, monggo, siapapun yang ingin menyampaikan usulan, saran, pendapat, kepada saya, kepada Pak Gubernur, kepada Pak Bupati, agar Majenang makin maju ke depan. Yang jelas kita semua ingin membikin negeri ini, Jawa Tengah ini, Cilacap ini, Majenang ini, makin ke depan makin maju. Tentu, semua itu memerlukan perjuangan kerja keras, tidak seperti membalik telapak tangan, sejak mendiang Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gusdur, Ibu Mega, Saya dan Presiden-presiden nanti, di waktu yang akan datang, tentu semua mengemban amanah, bagaimana memajukan negeri kita, memajukan rakyat kita, oleh karena itu, diperlukan kebersamaan, bersama-sama, tidak boleh ada yang hanya menonton, apalagi mengeluh apalagi menyalahkan, monggo, kita melangkah bersama menuju masa depan yang lebih baik.

Demikian pengantar Saya, dan Saya persilahkan pak Gubernur untuk memandu, siapa yang ingin menyampaikan usulan, pandangan, saran, kepada Saya, Saya persilahkan.



******

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan