Pidato Presiden
Arahan Presiden pada Sidang Kabinet Paripurna Membahas Antisipasi Dampak Krisis Keuangan AS
TRANSKRIPSI
ARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
KEPADA MENTERI KABINET INDONESIA BERSATU
DAN PEJABAT TINGGI NEGARA
SERTA PIMPINAN BUMN DAN DUNIA USAHA
DI GEDUNG UTAMA SEKRETARIAT NEGARA RI
TANGGAL 6 OKTOBER 2008
Saudara-saudara,
Saya akan memberikan respon terhadap apa yang telah disampaikan baik oleh Gubernur BI, Menteri Keuangan dan Pimpinan Kadin tadi dan saya akhiri nanti dengan direktif yang ingin saya sampaikan, utamanya sekali lagi kepada jajaran pemerintahan dan Badan-badan Usaha Milik Negara dan kepada dunia usaha. Tentu ajakan saya untuk bersama-sama mengatasi masalah yang kita hadapi ini. Supaya adil, saya juga akan ke depan sana nanti untuk menyampaikan supaya juga lebih mudah diikuti. Tugas kita, tugas politisi itu adalah membikin masalah yang sulit menjadi mudah. Jadi bukan apa istilahnya itu, kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah. Sebaliknya, semudah mungkin supaya rakyat bisa mengerti. Bapak Wapres saya ke depan.
Saudara-saudara,
Apa yang ingin saya sampaikan ini, disamping merespon terhadap semua yang telah disampaikan tadi di forum ini, juga berangkat dari apa yang sama-sama kita ikuti dari dinamika krisis keuangan di Amerika, yang seperti tsunami, episentrumnya di Amerika, perlahan-lahan menjalar, merambat ke seluruh wilayah dunia. Saya juga berdasarkan dari apa yang ingin saya sampaikan itu dari apa yang sama-sama kita jalankan, khususnya empat tahun terakhir ini.
Dari segi kami, dari segi pemerintah, apa yang telah kami lakukan untuk membangun kembali ekonomi kita pasca krisis yang lalu, dan yang terakhir kali tentunya berbagai langkah yang dilakukan oleh pihak luar negeri, Amerika Serikat, Eropa, Amerika Tengah, yang sama-sama kita ikuti keputusan-keputusan politik, langkah-langkah ekonomi yang mereka jalankan. Dengan demikian meskipun seolah-olah kita hanya berkepentingan terhadap kebijakan kita, langkah kita, pilihan kita, tetapi dalam ekonomi global yang semuanya terintegrasi, tentu kita harus melihat ke semuanya itu dalam satu konteks yang utuh. Dengan demikian, harapan kita, meskipun fokus kita pada urusan dalam negeri, tetapi manakala kita harus melakukan sejumlah langkah yang memerlukan kemitraan, komunikasi dengan pihak lain, mitra-mitra, kita maka langkah itu akan menjadi lebih efektif.
Saudara-saudara,
Saya telah mempersiapkan tayangan untuk bisa diikuti di layar depan ini. Saya beri judul direktif saya adalah ”Pelihara Momentum Pertumbuhan, Selamatkan Perekonomian Kita dari Krisis Keuangan Global”. Semua kandungan dari direktif ini bertumpu pada skenario yang moderat. Ada skenario yang sangat pesimis, ada skenario yang sangat optimis, saya mengambil tengahnya. Oleh karena itu, asumsi yang saya bangun juga berangkat dari skenario tengah itu. Manakala terjadi dinamika perubahan, maka kita bisa melakukan adjustment, apakah ke arah yang tidak kita harapkan, atau sebaliknya menuju sesuatu yang lebih baik untuk keberlanjutan pertumbuhan perekonomian kita.
Saudara-saudara,
Kita tadi telah sama-sama memahami krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat, berikut dampaknya terhadap perekonomian dunia. Ketika pembicara telah mengangkatnya dari cara pandang masing-masing, tidak perlu saya ulangi. Kita juga telah mengetahui dampak langsung dan tidak langsung dari krisis keuangan itu terhadap perekonomian Indonesia, cukup rinci tadi, juga tidak akan saya ulangi. Dan bahkan, baik Gubernur BI maupun Menteri Keuangan telah menyampaikan kepada kita, policy respond seperti apa yang telah, sedang dan akan dilakukan. Kita juga telah mendengar rekomendasi Kadin yang sangat gamblang tadi dalam upaya kita semua bisa mengelola permasalahan ini dengan sebaik-baiknya.
Saya ingin menyampaikan bahwa misi bersama kita, saya harus mulai dari tugas, dari misi kita, tiada lain terutama adalah memelihara momentum kebangkitan perekonomian nasional. Sayang kalau momentum ini lepas dan kita sia-siakan, karena bertahun-tahun kita bekerja keras untuk proses recovery setelah krisis, itu berjalan dengan baik, dan bahkan kemudian tahun-tahun terakhir ini tanda-tanda perbaikan itu nyata. Namun yang kedua, meskipun momentumnya baik, dampak dari krisis keuangan di Amerika Serikat dan dengan segala turunannya dan alirannya memang akan berpengaruh pada momentum pertumbuhan itu. Oleh karena itu, mari kita kelola agar tidak mengancam, apalagi menghentikan, apalagi membuatnya set back mundur dari pertumbuhan perekonomian kita yang sedang berlangsung dewasa ini.
Saudara-saudara,
Saya ingin menggarisbawahi sekali lagi, meskipun tadi baik Gubernur BI dan terutama Menteri Keuangan telah mengangkatnya, sejauh mana sih krisis sekarang ini, serius, atau bisa kembali seperti yang kita alami pada tahun 1997-1998. Jadi kalau ada satu critical questions boleh kita katakan apakah dampak krisis keuangan Amerika Serikat ini sangat serius, sehingga kita dapat kembali pada situasi krisis ekonomi tahun 1997-1998 yang lalu. Para pembicara sudah mengangkatnya. Saya ingin melihat dari prespektif yang lain, lesson learn karena kita masih ingat apa yang kita alami, yang kita lakukan 10 tahun yang lalu itu. Masih segar dalam ingatan kita, apalagi Saudara-saudara kalangan dunia usaha dan para pengambil keputusan di Perbankan dan di institusi ekonomi yang lain.
Saudara-saudara,
Saya harus mengatakan dengan jelas dan tegas bahwa insya Allah tidak akan terjadi krisis sebagaimana yang kita alami 10 tahun yang lalu itu, rasionalnya jelas. Mengapa? Prakondisi, faktor pemburuk, dan isu-isu ekonomi yang membikin krisis 1998 dulu sungguh parah, sesungguhnya tidak terjadi, atau tidak sama dengan keadaan tahun 2008 sekarang ini. Saya berani mengatakan seperti itu untuk kita lebih tenang, lebih jernih berpikir dan lebih rasional dalam mengambil pilihan, mengambil keputusan, menetapkan kebijakan dan melakukan tidakan-tindakan yang diperlukan. Saya tidak mengatakan akan aman-aman saja, tidak. Tetapi saya punya keyakinan apabila kita bersatu, bersinergi dan mengatasi permasalahan ini secara bersama maka nightmare yang terjadi 1997-1998 Insya Allah tidak akan terjadi.
Saya ingin mengangkat beberapa butir sebagai pelajaran berharga. Mengapa dulu kita begitu jatuh dalam krisis yang saya kira menjadi catatan penting dalam sejarah di negeri kita. Saya ingin menayangkan beberapa hal menyangkut krisis ekonomi tahun 1998. Pertama, kita tahu penyebab utama krisis Asia bukan hanya Indonesia 1997-1998. Itu ada yang berkaitan dengan fundamental, ada yang disebut dengan market panics, ada yang berkaitan dengan vulnerabilities, lingkup framework yang tidak bagus, kemudian policy yang tidak konsisten dan sebagainya, dan sebagainya. Barangkali, saya kira bukan barangkali kita, saya kira mengakui bahwa tiga-tiganya ada di negeri kita. Lihat apakah sekarang kita memiliki kelemahan mendasar dari tiga hal ini.
Yang kedua, krisis di Indonesia memang sangat severe karena pertama, miss government. Kita berkumpul hari ini Saudara-saudara untuk tidak kembali terjadi yang disebut dengan miss government itu. Yang kedua, corruption. Kita berjuang sangat keras untuk membikin sistem di negeri kita ini semakin bersih, untuk itu. Yang ketiga, ada political raises, political transition. Kita tahu, Pak Harto lengser diganti dengan Pak Habibie, dengan segala dinamikanya. Alhamdulillah krisis politik itu tidak terjadi meskipun hubungan pemerintah dengan DPR, saya dengan DPR selalu ada pasang surutnya, ada interpelasi, ada angket, tetapi secara relatif sebetulnya stabil dibandingkan dengan krisis demokrasi di negara-negara lain, termasuk di Asia sekarang ini, tidak sama dengan situasi 1997-1998.
Kemudian yang disebut dengan insecurity of the ethnic Chinese. Kita telah menerbitkan Undang-Undang, kita telah menerbitkan Peraturan Pemerintah, kita telah masuk kepada politik yang nondiskriminatif. Saya kira ini juga berpengaruh bagi confidence building diantara kita semua. Waktu itu harga minyak drop, jatuh, bahkan di bawah 20 US$ perbarel, sekarang harga minyak masih ok. Brent dan Nymex pagi ini saya lihat masih berkisar 88 sampai 92 US$ perbarel.
Kemudian kita mengalami kekeringan panjang, El Nino. Kemudian yang terakhir the breakdown in public order dan terjadinya communal conflict yang kita rasakan, Jakarta, di kota-kota besar, di Maluku, di Poso, di Sampit dan di tempat-tempat lain. Dari butir kedua kita lebih lega dan bersyukur bahwa kondisi yang ekstrim itu tidak terjadi sekarang ini.
Yang ketiga, Saudara-saudara memang situasi perekonomian Indonesia dibandingkan negara-negara lain waktu itu memang lebih buruk, lack of demand kemudian terjadi penurunan yang drastis dari private investment lantas public invesment expenditures mengalami juga reduksi yang sangat signifikan. Drastic fall in output dari 7% 1997 itu minus 12% pada tahun 1998. Betapa besar kontraksinya hanya dalam satu tahun, drastic fall in real income. Income perkapita saja yang tadinya 1100 dolar menjadi 400 dolar, belum real income. Kemudian alhamdulillah sekarang sudah menuju ke 2200. Jadi dari inipun beda, dibandingkan dengan yang dulu.
Yang keempat, kita masih ingat budget deficit itu mencapai 8,5% GDB. Kita sekitar 2% or less dan ingat budget deficit itu bukan untuk stimulasi pertumbuhan sebagaimana yang dianjurkan oleh Keyness kalau kita mengalami krisis untuk melaksanakan ekspansi fiskal tapi justru lebih banyak yang digunakan untuk food and other subsidize for the poor. Memang harus kita lakukan untuk sebuah social safety nett. Itu terjadi. Sekarang saya kira meskipun tadi dibahas berapa defisit, pasnya berapa? Dari mana sumber pembiayaannya, untuk apa dan sebagainya, tapi kita legah sedikit, tidak sama dengan defisit pada waktu itu.
Dan ini catatan yang kelima, atau yang terakhir, ini dikatakan oleh banyak analis, pengamat, ini disampaikan tahun 1999, bukan sekarang. “Dia mengatakan” Indonesia kok begini berat, kok beda dengan Asia yang lainnya.” Oleh karena itu apakah betul-betul Indonesia bisa melaksanakan recovery, katanya. Ditetapkan oleh empat hal ini, pertama adalah pemulihan dari private demands. Yang kedua, yang sangat-sangat penting pemulihan dari confidence, jangan mempertaruhkan kepercayaannya. Ini barang yang paling berharga, yang bisa mengubah keadaan dengan cepat. We all here juga untuk bersama-sama untuk mengelola kepercayaan ini. Kemudian yang ketiga, sejauh mana kita bisa melaksanakan aning up of the banking systemnjang betul yang kita lewati, PBBN, BLBI, Rekapitulasi dan sebagainya.
Kemudian yang keempat adalah, waktu itu dikatakan sejauh mana Indonesia berhasil melakukan penyelesaian porate debt, bailout.Sa tidak tahu berapa persen dari GDP 3-5% atau berapa, besar sekali. Dari itu semua saya mengatakan tidak sama, tidak seburuk 1997-1998. Namun kita tidak boleh erestimateta tidak boleh lalai, kita harus waspada dan mulai hari ini lebih kita tingkatkan bagaimana secara bersama-sama kita mengelola permasalahan ini, dengan keyakinan, Insya Allah kita bisa.
Dari pelajaran yang sangat berharga, masa krisis 1997-1998 saya ingin mengingatkan kembali, apa misi bersama kita. Sekali lagi saya katakan bahwa tadi kita harus memelihara momentum pertumbuhan dan mengapa kita harus pandai-pandai memelihara momentum pertumbuhan sekarang ini, karena kalau kita pandai bersyukur, meskipun PR kita masih banyak, masih banyak masalah yang kita hadapi pula, tetapi kita telah mencapai, menghasilkan sejumlah kemajuan dan perbaikan. Inilah yang ingin saya sampaikan untuk supaya kita ini terus merasa gagal, merasa kecil, merasa tidak ada hope dan sebagainya. Kalau jiwa kita gelap seperti itu, pikiran kita negatif, pesimis, ya kita sudah kalah sekarang. Tetapi kalau kita punya energi yang positif, meskipun banyak masalah kita, PR kita yang harus kita selesaikan bersama-sama, saya yakin bahwa itu merupakan energi tersendiri untuk kita bisa berbuat lebih baik lagi.
Saya ingin sampaikan beberapa kemajuan dan perbaikan, dan ini posisi pada tanggal 28 Agustus yang lalu, ketika Menko Perekonomian, Menteri Keuangan mempresentasikan ini di hadapan Sidang Kabinet Paripurna, secara cepat mari kita lihat satu persatu.
Pertama tentunya adalah, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tujuh kwartal terakhir ini sudah di atas 6%. Ini silahkan dilihat Mas, dari tahun ke tahun. Lantas investasi sesungguhnya juga terus meningkat meskipun belum optimal. Kita masih belum cerdas mendapatkan ortunityg sesungguhnya sangat bisa untuk kita alirkan ke negeri kita, untuk menambah investasi ini. Ini potret dari growthdan investment. Berikutnya lagi adalah magnitude atau size dari ekonomi kita. Kita lihat di sini perkembangan dari GDP kita, 2004, 2006, 2008 dan proyeksi 2009 tentu ini posisi Agustus 2008 sebelum kita hitung pengaruh dari krisis keuangan ini pada perekonomian kita.
Kemudian income perkapita. Kita lihat di sini, 1996 katakanlah 1.100 sekian, drop di sini. Tahun 1998 alhamdulillah terus dapat kita tingkatkan dengan kerja keras kita semua. Ini penting bahwa ada opportunity, ada ruang untuk kita bisa meningkatkan capaian ekonomi kita, bukan serba kebetulan Indonesia pertama kali diundang dalam pertemuan puncak G8 di Hokkaido Jepang, bukan kebetulan Indonesia dianggap masuk 20 ekonomi besar dari segi size magnitude of the economy. Bukan serba kebutulan tahun lalu pimpinan OCB datang kepada saya untuk menjadikan Indonesia sebagai partner bersama-sama dengan China, India dan Brasil.
Saudara-saudara,
Mari kita lihat sumber pertumbuhan, makin bertumpu pada sumber dalam negeri. Mengapa? Consumption matters. Dengan consumption yang makin tinggi, pasar kita makin kuat, makin luas, maka kita juga bisa menggerakan perekonomian dalam negeri sendiri. Kita lihat peran investasi di sini, tahun 2005, 36%, 35% berapa di sini? 41%, konsumsi rumah tangga, yang biru ini, export netto, kemudian komsumsi pemerintah atau government spending ini juga menunjukan sesuatu yang membangun optimisme bahwa growth bisa kita jaga. Dan andai kata tidak ada shock yang baru ini, krisis keuangan sesungguhnya, kita lebih optimis lagi.
Indikasi yang lain adalah resiko ekonomi, ekonomi makro yang makin menurun. Lihatlah komposisi hutang pemerintah di sini, debt to GDP ratio, utang swasta, tingkat kesehatan perbankan semua sudah menyampaikan, Pak Hidayat, Pak Budiono menyampaikan tadi, rating pemerintah dan debt to GDP ratio yang sekarang is going down dari 35 ke 30%. Dibandingkan beberapa Negara, more healthy kita. Tahun 2004 masih 54% masa krisis hampir 80% habis untuk memenuhi kewajiban kita, dari segi rasio utang terhadap GDP kita. Di sini kita melihat bahwa sesungguhnya angka itu makin baik.
Perbaikan, kemudahan berusaha meskipun saya belum puas, we have to do more, we have to do more. Tetapi lumayan, ada perbaikan peringkat dari yang disebut dengan competitiveness index, yang biasa dibikin oleh World Economic Forum, dari tahun ke tahun kita juga mengalami perbaikan. Dari corruption perception index yang baru terbit bulan lalu, kita juga mengalami perbaikan, dulunya tahun 2000, 2001, 2002 kita itu pernah nomor 1, nomor 3, nomor 5 dari bawah. Sekarang sudah lumayan nomor 54 dari bawah belum bangga betul, masih panjang tapi ini tentang confidence, ini tentang competitiveness yang mesti harus kita perbaiki secara sungguh-sungguh.
Penerimaan perpajakan, bea masuk dan kontribusi BUMN, kita lihat di sini. Perpajakan kita rata-rata pertumbuhan penerimaan non migas, 2000-2004 17,5%, 2005-2009 20 koma sekian %, migas 9,6 22%, penerimaan PPh dan seterusnya, lihat kontribusi BUMN dan ingat yang merah ini adalah privatisasi, kita tidak bisa lagi dan memang bukan pilihan kita untuk menjual aset karena kita ingin betul-betul mengelola APBN dengan kemampuan sendiri dan kontribusi APBN lebih banyak para dividen dan pada para pajaknya dan bukan pada privatisasi asset sales. Saya kira ini tren yang baik agar kita betul-betul lebih mandiri dan apa yang kita miliki di dalam negeri ini.
Berikutnya lagi, kalau penerimaan migas, pertambangan umum yang tentunya beberapa saat yang lalu meskipun ada koreksi pada tingkat harga Internasional, juga menimbulkan hal-hal yang positif, kita lihat di situ. Belanja pemerintah terus meningkat, alhamdulillah meskipun saya juga belum puas, karena masih ada kualitas belanja yang belum baik. Masih ada penggunaan yang belum tepat benar, tapi dua tahun meningkat. Belanja modal, kita melakukan politik APBN yang keras tahun-tahun terakhir ini, optimasi, efisiensi tapi harus mendorong pertumbuhan seraya mempertahankan social safety nett, dalam dinamika, dalam pembuatannya, intern pemerintah, pemerintah dengan DPR, sering tidak mudah untuk menjaga politik APBN seperti itu. Namun demikian kita yakini bahwa fokus, bahwa prioritas dan kebijakan alokasi itu makin tepat, makin baik.
Kesejahteraan pegawai, dalam arti luas abdi negara, ini juga kita lakukan peningkatan. 2004, karena saya punya tujuan, keinginan, cita-cita agar pegawai negeri yang paling rendah di Indonesia ini gajinya Rp 2 juta, supaya hidupnya layak, supaya tidak tergoda oleh korupsi, supaya produktif, supaya disiplin, punya anak, punya istri. Tapi karena gonjang-ganjing ekonomi, kita tahun depan akan mencapai sudah close Rp 1,7 juta. Guru yang jelas melampaui semuanya itu. Mengapa ini, agar mereka bisa membeli, kalau mereka bisa membeli bersama-sama dengan konsumsi rumah tangga, barang dan jasa yang Saudara hasilkan bisa dibeli dan ekonomi bergerak. Consumptions merupakan komponen yang tidak boleh diabaikan pertumbuhan ekonomi kita. Ini adalah apa namanya, perbaikan dari semua, kesejahteraan aparatur negara kita.
Belanja infrastruktur, kita lihat di sini ada korelasi dengan infrastructure building dengan pergerakan ekonomi, dengan employment creation. Kita lihat di sini, terjadi korelasi antara meningkatnya belanja untuk infrastructure dan kemudian menurunnya pengangguran. Kita lihat bahwa tambahan kesempatan kerja sudah melebihi tambahan angkatan kerja, positif sekali lagi kalau tidak ada cobaan baru begini, trend ini sebetulnya baik, positif.
Saudara-saudara,
Kita lihat belanja penanggulangan kemiskinan, saya mengatakan berkali-kali di berbagai kesempatan, mengurangi kemiskinan tidak cukup dengan wacana, tidak cukup dengan iklan, tidak cukup dengan diskusi ke diskusi, harus dengan langkah yang konkret, program yang nyata, kita semua. Kita lihat sini berapa triliun yang kita keluarkan dari tahun ke tahun sampai puncaknya tahun 2008 dan 2009. Ada korelasi meningkatnya spending untuk poverty reduction programme. Dengan menurunnya angka kemiskinan di sini, arahnya benar, policy-nya benar, prioritasnya benar. Tetapi sebagaimana pengalaman negara lain, tidak seperti membalik telapak tangan, tetapi diperlukan konsistensi kebijakan.
Dari situ saya ingin melihat, bagaimanapun konsekuensinya memang peningkatan produksi dan stabilisasi pangan yang kita lakukan memerlukan subsidi yang besar. Saya berterima kasih kepada Kadin, dunia usaha, kita bertemu beberapa kali ketika terjadi krisis pangan, krisis BBM, dengan kebersamaan kita dulu kita bisa mengelola apa yang kita lakukan, alhamdulillah lebih baik dibandingkan dengan negara yang mengalami kerepotan dari krisis pangan dan energi. Kalau dulu bisa, mengapa kita sekarang tidak bisa berkolaborasi, bersinergi mengatasi semuanya itu. Ada subsidi BBM, tapi kita juga ada policy, misalkan untuk konversi dari minyak tanah ke elpiji dan sejumlah langkah-langkah lain agar kita tidak sangat tergantung pada fossil base fuel yang selama ini menjadi kecanduan kita.
Transfer ke daerah, ini era desentralisasi, era otonomi daerah, daerah ingin mengelola sumber dayanya, ingin mendapatkan kewenangan, ingin mendapatkan revenue yang setinggi-tingginya, kita jalankan, DAO, DAK, Dana Bagi Hasil, lihat grafiknya, memang saya agak, bukan agak, saya belum puas karena ternyata banyak sekali sumber finansial itu tidak digunakan dengan baik. Bahkan ini ada peta dana Pemda yang tersimpan di sertifikat Bank Indonesia, seperti ini, mestinya tidak boleh terjadi, ada opportunity lost dengan kejadian seperti ini, tapi arahnya sudah benar.
Desentralisasi, misi, desentralisasi wewenang kemudian diikuti dengan desentralisasi fiskal. Kita lihat gambar yang terakhir, barangkali, bagaimana kita membiayai defisit kita, apakah dari luar negeri, apakah dari dalam negeri. Kita lihat di sini, ini milestone, historical milestone 2006 keluar dari program IMF, 2007 empat tahun lebih cepat, 2007 kita bubarkan CGI. Kita ingin merancang, mengelola pembangunan kita sendiri, terlalu banyak intervensi, tidak boleh terlalu banyak intervensi, dan campur tangan maupun apa namanya, pasokan-pasokan konsep dari manapun juga dan seterusnya. Ini kembali ke rasio utang yang menurun dari 56 menjadi sekitar 33%, trendnya benar, trendnya baik. Tentu dengan goncangan ini, bagaimana kita meminimasi, memoderasi, mengurangi dampak yang boleh jadi bisa keras pada semuanya itu.
Saudara-saudara,
Dengan penjelasan itu saya mengatakan mengingatkan sekali lagi, bahwa ada sejumlah kemajuan dan capaian dalam perekonomian kita, meskipun saya harus dengan jujur mengakui masih banyak permasalahan, masih banyak PR kita dan pesan saya adalah jangan sampai momentum pertumbuhan ekonomi ini terhenti, clear, jelas, jangan sampai. Dari perspektif itu akhirnya saya ingin memberikan direktif kepada jajaran pemerintah dan BUMN sifatnya konsultatif dengan Bank Indonesia dan ajakan harapan kepada dunia usaha.
Wapres tadi telah memberikan beberapa masukan yang saya integrasikan sekaligus dari direktif ini, dan direktif ini saya persiapkan sendiri, karena saya ingin apa yang dalam pikiran saya, dalam pandangan saya, dalam analisis saya. Saudara bisa menerima langsung dan tentu saya kaitkan dengan apa yang telah, sedang dilaksanakan oleh kita semua, jadi bukan datang dari langit tetapi harapan saya ini menjadi sesuatu yang workable.
Saudara-saudara,
Yang pertama, dan ini yang paling penting menghadapi krisis keuangan global yang dampaknya pasti kita rasakan, kita harus tetap optimis, bersatu dan bersinergi, untuk apa? Untuk memelihara momentum pertumbuhan dan untuk mengelola dan mengatasi dampak krisis tersebut. Saya akan ulangi lagi mengapa kita patut bersikap optimis, karena situasi sekarang jauh berbeda dengan situasi krisis 1998. Kita tidak seharusnya panik, tetapi tetap berpikir positif dan rasional. Mari kita jaga kepercayaan masyarakat, kepercayaan masyarakat. Insya Allah kita bisa mengatasi, ini state of mind , ini yang melandasi, yang mendasari, yang menjadi energi dari kita semua, mengatasi semua persoalan yang kita hadapi ini. Mari kita kembali yang pertama ini, manakala kita harus mengambil keputusan, mengambil risiko dan kemudian menetapkan sejumlah kebijakan dan langkah tindakan.
Yang kedua, dengan kebijakan dan tindakan yang tepat, serta dengan kerja keras dan upaya maksimal, mari kita pertahankan pertumbuhan ekonomi 6%. Saya tahu hampir semua negara melaksanakan koreksi pertumbuhannya, turun ke bawah down work tapi mari kita berusaha sangat gigih untuk bisa mempertahankan pertumbuhan 6% ini sekuat tenaga. Kita tahu dari segi, dari sisi permintaan demand side, kalau kita bikin apa namanya E quetions rumusnya adalah growth itu terdiri atau disumbang oleh konsumsi government expenditure dan netto dari ekspor dan impor kita. Mengapa? Saya ingatkan kembali, setiap yang kita lakukan, apakah menjaga konsumsi, apakah betul-betul mengarahkan pembelanjaan pemerintah agar terjadi stimulasi, agar likuiditas segera mengalir tidak kering sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Keuangan tadi, semuanya berkontribusi pada pertumbuhan.
Investasi, Wapres mengingatkan, jangan lupa Timur Tengah itu punya Petro dolar yang tinggi, waktu saya berhenti di Dubai bertemu dengan para pimpinan dunia usaha di Timur Tengah, ada 1,5 triliun ulangi, betul 1,5 tliriun dolar Amerika Serikat yang siap diinvestasikan ke banyak negara. Kita harus cerdas, harus menjemput, dengan membikin mekanisme yang mudah disini untuk tidak menyia-nyiakan peluang ini.
Ekspor, kita tahu tadi Menteri Keuangan akan melakukan sesuatu agar lebih kompetitif barang-barang kita. Lantas impor, tadi ada pikiran bagaimana kita menahan impor supaya balance of demand kita tidak tertekan, tidak mengalami defisit. Tolong dilihat one by one dan kemudian kita jalankan bersama, karena setiap konponen menyumbang pada pertumbuhan itu secara bersama-sama. Mari kita manfaatkan perekonomian domestik. News Week atau Times, saya lupa, baca minggu ini bahwa kita hanya 29% apa namanya, perdagangan kita dibandingkan China 40%, Vietnam 78%, apa yang kita pikirkan tahun 2005 tidak keliru bahwa kita tidak bisa mengikuti jejak ekonomi Taiwan, Korea Selatan, Singapura, bahkan macam Asia yang export oriented economy kita harus juga membesarkan domestik market kita.
Ketika terjadi krisis seperti ini, ternyata itu menjadi sabuk pengaman, dan kembali ke sabuk pengaman, ambil pelajaran krisis 1998, sabuk pengaman perekonomian kita, UKM, pertanian, sektor informal, meskipun saya katakan tidak seburuk 1998 make sure bahwa itu menjadi basis pengaman dari ekonomi kita, ketika kita mengalami goncangan, meskipun goncangan itu berawal dari luar negeri itu yang kedua.
Yang ketiga, Saudara-saudara, mari kita optimalkan APBN 2009 untuk tetap memacu pertumbuhan dan membangun social safety nett. Alokasi untuk pembangunan infrastruktur dan stimulasi pertumbuhan lainnya mesti cukup. Ingat ini adalah penyumbang growth dan employment. Bicara infrastruktur jangan lupakan listrik, tanpa listrik industri tidak bisa bergerak. Banyak sekali shortages yang berkaitan dengan permintaan listrik ini. Pastikan di dalam struktur APBN kita yang sedang digodok bersama DPR cukup, karena kita ingin sekali lagi memelihara momentum pertumbuhan ini.
Yang kedua adalah alokasi untuk penanggulangan kemiskinan social safety nett juga mesti cukup. Kita harus berempati kepada rakyat miskin. Semua ingin dari wall street tidak masuk main street, dari main street tidak masuk dari kantong-kantong ekonomi lemah Saudara-saudara kita. Ini masalah moral, ratusan triiun, ribuan triliun digunakan untuk bailout, tapi itu disertai dengan misalkan unemployment disertai dari kesulitan yang paling bawah, kalau tidak kita berikan, sebagai bagian dari new deal berarti tidak adil kita. Karena itu, program tiga cluster yang telah disampaikan Menteri Keuangan mesti kita jalankan, mesti kita sukseskan. Manakala ada tarik-menarik di DPR harus bisa dijelaskan bahwa ini adalah bagian untuk social safety nett, empati kepada rakyat kita, mereka golongan yang sangat memerlukan. Kalau mereka mendapatkan keadilan semua upaya kita akan mendapatkan dukungan, dan politik berkaitan dengan dukungan rakyat. Mari kita pastikan di situ, saya garisbawahi, pangan dan BBM prioritas tahun ini, tahun depan.
Saudara,
Yang ketiga adalah defisit anggaran harus tepat dan rasional, saya tidak mematok berapa persen Bu Ani? 1,7 - 1,8 -1,6. Tetapi bagi saya pertama tetap kita berharap terjadi pertumbuhan dan kemudian dengan struktur penerimaan dan pembelanjaan itu defisit, juga ada dana untuk penanggulangan kemiskinan, growth of equity pilihan kita pilihan kita. Mari kita jalankan. Trickle down effect tidak berjalan di negara berkembang termasuk negara kita, jangan kita ulangi kesalahan ideologi ekonomi seperti itu. Tetapi defisit itu saya menyadari sumber-sumber pembiayaan tidak semudah sewaktu nggak ada krisis keuangan. Tetap dapat dibiayai, ditutup, kalau tidak ya menganga di situ.
Kemudian, masih berkenaan dengan APBN. Tadi Wapres mengingatkan lihat kembali penerimaan negara dari sumber daya alam, minyak, gas, barang-barang mineral, barang tambang. Tolong dilihat semua harus sharing dalam kondisi seperti ini, harus. Kalau Saudara membaca wawancara Wen Jiabao sahabat saya di Newsweek, minggu ini dikatakan, karena diwawancarai oleh wartawan Amerika Wen Jiabao mengatakan, Adam Smith menggunakan invisible hand tapi yang paling baik ya campuran invisible hand dan visible hand. Peran pemerintah dalam arti ini menjadi melengkapi untuk semua yang tidak diserahkan pada mekanisme pasar. Kita harus melakukan seperti itu apalagi negara dalam keadaan menghadapi kesulitan ekonomi.
Dan masalah APBN yang terakhir, ini untuk para Menteri, semua hadir di sini, yang juga akan mengelolah, mengelola bersama-sama DPR, saya ingatkan sekali lagi, tetap dilakukan efisien dan pembatasan pembelanjaan yang konsumtif, pembelanjaan yang dapat ditunda, untuk apa? Mari kita yakinkan betul setiap rupiah yang kita keluarkan lebih pada stimulasi pertumbuhan, lebih pada social safety nett. Demikian juga APBD, Mendagri, Menteri keuangan pastikan betul APBD juga punya structure, punya politik yang sama dan yang berlaku pada tingkat national. Jangan terlalu banyak untuk yang konsumtif, harus lebih banyak yang produktif. APBN sangat-sangat penting dan memang dalam situasi seperti ini, ada orang berpendapat solusinya moneter, ada orang berpendapat solusinya fiskal, saya lebih memilih solusi fiskal lebih dulu dan moneter mengimbangi, karena bagaimanapun lebih direct dan lebih nyata, lebih cepat kita rasakan hasilnya. Itu direktif saya yang ketiga.
Yang keempat, bagi teman-teman di kalangan dunia usaha, dunia usaha sektor riil harus tetap bergerak meskipun saya tahu ekspansi bisa berkurang tahun depan, logis. Negara manapun juga begitu, mengapa? Kalau sektor riil bergerak Saudara tetap mempertahankan kinerjanya, pajak dan penerimaan negara tetap terjaga. Berterima kasih kami, agar pula pengangguran tidak bertambah, tidak ada gelombang PHK itu harapan kami, harapan rakyat, harapan pekerja dan itu semua berada di tangan dunia usaha, yang sangat penting perannya, bukan hanya pada masa sekarang ini, tapi juga pada masa normal. Oleh karena itu sinergi yang harus kita bangun adalah BI dengan jajaran perbankan, silahkan mengembangkan policy yang memungkinkan kredit dan likuiditas itu bisa tersedia agar sektor riil bergerak, saya tidak ingin menyampaikan pasnya berapa suku bunga itu, dikaitkan dengan inflasi dan sebagainya. Saya kira Gubernur BI punya otoritas bekerjasama dengan Menteri Keuangan, berkonsultasi atau berkomunikasi dengan dunia usaha sehingga ada policy mix yang tadi berkali-kali disebut moneter policy dan fiscal policy.
Kadin mengusulkan kerjasama, Bank Sentral kita dengan Bank Sentral negara-negara lain. Saudara masih ingat, dulu waktu krisis 1997-1998 nyaris kita itu tidak punya kawan untuk saling membantu, barangkali karena negara lain juga repot atau barangkali karena situasi politiknya khas negara waktu itu, Tahun 2005 sesungguhnya kita mengalami permasalahan kurs terguncang waktu itu, saham, devisa kita, tapi dengan cekatan Gubernur BI, Menteri Keuangan dan kita semua bekerja. Saya juga berkomunikasi lewat telepon saya menulis surat, saya ngirim message kebeberapa pemimpin Asia, Perdana Menteri China, Perdana Menteri Jepang, Perdana Menteri Thailand, Perdana Menteri Singapura dan mereka mengatakan suatu pikiran yang positif, mudah-mudahan ini bisa meringankan beban dunia usaha.
Kewajiban dunia usaha, kewajiban swasta, ada kewajiban BI, kewajiban kami, Pemerintah, ada kewajiban dunia usaha, saya berharap lebih resilient, dan berupaya sekuat tenaga mempertahankan kinerja, tetap mencari peluang dan harus share the hardship. Tentu tidak ideal, tapi kalau dunia usaha menunggu, semuanya beres pemerintah mengatasi semuanya tentu tidak mungkin terjadi, perlu berbagi dengan masing-masing menjalankan kewajibannya, itu yang keempat.
Yang kelima, Saudara-saudara, tadi digambarkan tiga event apa yang terjadi di Eropa, terjadi di Asia, terjadi di Amerika, sesuai dengan gelombang tsunami keuangan yang episentrumnya di Amerika tadi. Oleh karena itu, yang kelima saya berharap, kita semua cerdas menangkap peluang, opportunity, misalnya untuk melaksanakan perdagangan, kerjasama ekonomi lainnya dengan negara-negara sahabat. Ekonomi Asia meskipun turun 11 menjadi 9%, di China, India, 8 turun menjadi 7 barangkali, tetapi menurut saya tetap ok. Dua minggu lagi saya akan menghadiri pertemuan, summit, KTT di Beijing. Saya akan gunakan kesempatan ini untuk bertemu dengan Presiden Hu Jin Tao atau Perdana Menteri Wen Jaibao dan teman-teman lain bagaimana kita di Asia ini bisa melakukan satu kerjasama karena kita punya posisi yang, insya Allah, better dibandingkan negara-negara lain terutama dari segi keuangan.
Pasar di Amerika dan di Eropa akan lebih tertutup kita tahu semua dan barangkali melemah untuk ekspor kita. Oleh karena itu solusinya bikin produk kita lebih kompetitif, dibandingkan produk negara-negara lain. Untuk bisa kompetitif kembali macam-macam produktivitas, insentif dan sebagainya. Jangan keliru kita membaca, dimana opportunity ada dalam masa-masa seperti ini, partner kita yang paling baik siapa, Jepang, Amerika, China, atau negara-negara lain. Barangkali kita bisa mendapatkan peluang Saudara. Tahun 2005 kita dengan China saya masih ingat, Presiden Hu Perdana Menteri Wen bersama-sama, kita ingin tahun 2010 itu volume perdagangan kita 30 bilion alone dengan Indonesia–China. Kita ingin tahun 2008 ini 20 bilion. Yang terjadi Dubes kita di Beijing melapor kepada saya, tahun ini insya Allah kita sudah mencapai 26 atau 27 bilyun, berarti akan terlampaui target 30 bilion, barangkali, saya tidak tahu dengan situasi keuangan ini, tahun depan 2010 it’s mean ada opportunity magnitude-nya besar, jangan kita sia-siakan.
Yang keenam, mari kita lakukan lagi, saya garis bawahi lagi, karena sudah berulang-ulang, sejak orde baru, orde reformasi, agar kita lebih menggunakan produk dalam negeri, produk Indonesia, kampanye besar-besaran. Yang paling gampang kalau kita mengurangi impor, kita menggunakan produk dalam negeri, dalam situasi seperti ini great account kita balance of payment kita, akan sangat dibebaskan dari tekanan-tekanan. Kemudian pasar domestik kita makin kuat dan tumbuh, saya sudah mengatakan tadi ini jangan dilupakan. Yang ketiga Menteri terkait berikan insentif dan disinsentif agar kita benar-benar mengkonsumsi produk dalam negeri.
Saya ingatkan, turisme mana Pak Wacik? Tenaga kerja mana Pak Erman? Itu sektor yang mesti kita genjot, karena kalau kita mendapatkan devisa lebih banyak lagi akan teringankan kita punya neraca pembayaran. Saya tahu tidak mudah, challenging, tapi justru jadikan ini opportunity. Kalau kita dapat di situ, neraca pembayaran kita selamat, nanti kalau krisis sudah selesai kita akan mendapatkan apa namanya, penguat baru dalam pertumbuhan ekonomi kita.
Kemudian tadi Wapres titip saya, proyek-proyek luxurious import, barang-barang yang berkaitan dengan itu bisa ditunda, tunda dulu supaya kita tidak terlalu berat kita punya beban pembiayaan impor. Saya memandang perlu. Tolong dirumuskan para menteri terkait, sebuah instruksi kepada jajaran pemerintah, kalau perlu lewat Inpres, agar dalam procurement pengadaan barang itu mengutamakan industri nasional. Berkali-kali kita sampaikan, masih saya lihat, lebih suka beli dari luar negeri. Mari kita hentikan budaya fee yang tidak masuk akal, yang berlebihan, menyedot devisa, mungkin masih ada mark up, mungkin, yang harus kita basmi, karena kalau itu terjadi industri nasional tidak bergerak, kita tergantung memberikan sesuatu yang bagi negara tidak ada manfaatnya.
Saya juga meminta semua, dalam suasana seperti ini mencegah, mengalirnya barang-barang produk-produk luar negeri secara besar-besaran. Dumping, saya mendapat informasi, bisa jadi produk negara-negara yang selama ini mengalir ke Amerika, ke Eropa, karena pasarnya menciut, itu balik kanan, atau belok kanan, membanjiri Indonesia, harus kita cegah, harus kita cegah. Imigrasi, Bea dan Cukai semua harus ketat, disiplin supaya tidak tertembus oleh seperti itu, akhirnya melumpuhkan produksi dalam negeri. Itu yang keenam Saudara-saudara.
Direktif yang ketujuh, mari kita perkokoh sinergi dan kemitraan atau partnership diantara pemerintah, Bank Indonesia dan jajaran perbankan, swasta atau dunia usaha. Saya meminta dengan sangat, cegah dan hilangkan misstrust, prejudice, curiga. Pemerintah mencurigai dunia usaha, dunia usaha tidak percaya kepada pemerintah. Dianggap BI tidak tepat kebijakannya, BI menganggap dunia usaha tidak benar. Itu harus kita hentikan, cegah misstrustness prejudice. Semua berperan Saudara-saudara, semua penting. Swasta dan bisnis, merekalah yang memberikan pajak, memberikan lapangan pekerjaan, bukan pemerintah. Pemerintah memerlukan penerimaan revenue untuk membiayai pembangunan, bukan untuk apa-apa, kalau revenue terhenti, pajak tidak masuk ya kita tidak bisa membangun, membiayai urusan pemerintahan, termasuk membangun negeri ini.
Bank Indonesia dan perbankan dengan kebijakan moneter, tentu berperan mendanai sektor riil dan mengelola inflasi. Saya hanya ingin menggambarkan semua penting, semua simpul harus berfungsi dengan benar, dan kita merugi kalau terjadi misstrust, distrust, akhirnya tidak kemana-mana, opportunity losses. Kalau ada masalah diantara kita, mari kita pecahkan dengan baik, mari kita cegah tindakan yang unilateral, sepihak, sepanjang itu tidak berkaitan dengan pelanggaran hukum. Kalau pelanggaran hukun ya hukum ditegakan, tapi kalau sifatnya non hukum, bukan crimes. Ada dispute settlement mechanism, mengapa tidak kita gunakan? Ini bangsa, bangsa sendiri. Kita, kita sendiri. Ekonomi, ekonomi kita sendiri. Mengapa kita lantas tidak bisa duduk bersama untuk mengatasi masalah itu?
Ingat saudara pengalaman pahit krisis 1998 mana ini, tidak ada saling kepercayaan dulu, masih ingat, tidak ada kebersamaan, strategi yang kita tempuh, strategi SDM, Selamatkan Diri Masing-masing. Kita ketawa, tapi itulah dulu, ada lagi sikap mental perusahaan boleh bangkrut, tetapi saya pribadi harus tetap jaya. Ada mungkin di kalangan dunia usaha. Di kalangan pemerintah, ada juga sikap mental, sambil ngurusi cari rejeki, ya korupsi. Ada. Saya kira itu sisi gelap masa lalu yang mari sama-sama kita cegah untuk tidak terjadi lagi, jangan terjadi lagi, akan raih masa depan kita kalau kita bisa keluar dari seperti-seperti itu.
Yang kedelapan, ini penting kita banyak merugi, kita banyak jalan di tempat, akibat ini, hentikan dan ubah sikap ego sektoral dan bussiness as usual. Konflik yang tidak terselesaikan diantara kita, lembaga pemerintah, lembaga negara, atau antara pemerintah dan swasta, pertama-tama yang jelas memalukan, embarassing, yang kedua menghambat momentum, yang ketiga merusak kepercayaan. Ini bagaimana ini mau investasi di Indonesia, mau bisnis di sini, pecah kondisi semua? ”Saya tidak bisa menerima kalau sama sekali tidak ada solusi, tidak ada jalan keluar. Saya ingatkan, kita ini betapapun penting dan kuatnya sebuah institusi tidak akan pernah bisa bekerja sendiri, siapapun termasuk saya Presiden, termasuk Pak Jusuf Kalla, Wakil Presiden, termasuk semua, kita memerlukan partnership, kita memerlukan kerjasama, tidak bisa. Ya bisa tapi hasilnya tidak optimal, tidak maksimal. Itu yang ke delapan masih dua lagi.
Direktif yang kesembilan adalah semua tahu tadi diangkat juga oleh Pak Hidayat, oleh Ibu Ani, Pak Budiono agak kurang hobi bicara politik. Tahun 2008-2009 dikatakan adalah tahun politik dan tahun pemilu, ada permintaan Bu Ani, ”Janganlah isu ekonomi dipolitikan”. Ya pasti terjadi Bu Ani, we have to be more realistic that’s politic, tetapi yang penting jangan kehilangan kejernian berpikir kita, mesti kita hadapi, nanti kita surprise dan kita tidak siap, dikiranya baik-baik saja, mesti ada seperti itu. Harapan saya sebagai Kepala Negara, Saudara-saudara mari kita lakukan politik yang lebih non partisan khusus mengatasi masalah-masalah ini, untuk kepentingan rakyat. Non partisan dalam arti ya ada konsensus, ada kompromi, ada bagaimana baiknya untuk rakyat, baiknya untuk negara, baiknya untuk masa depan, ya mari kita nomor duakan kepentingan kelompok, tapi tidak mungkin diabaikan. Saya berharap, Pemerintah Bank Indonesia, DPR, DPD, Dunia Usaha dan pelaku lainnya, sama-sama kita melakukan peran yang positif dan konstruktif.
Last but not least yang nomor sepuluh, dan ini tidak kalah pentingnya karena memburuknya situasi 1998 dulu karena kepanikan, informasi yang tidak dimiliki oleh masyarakat luas, sehingga apa yang terjadi ya kepanikan.Oleh karena itu mari kita lakukan komunikasi yang tepat, bijak kepada rakyat, jujur, jangan beri angin surga, ”Oh semuanya akan baik, tenang-tenang saja don’t worry be happy,” misalkan gitu, itu tidak mendidik. Memang ada masalah, ada pengaruh dari krisis keuangan global ini, namun mari kita mulai dari diri kita dan semua tetap kita ajak berpikir positif dan tetap optimis. Cegah statemen yang bukan kewenangannya, maupun yang tidak perlu, yang tidak punya kaitan dengan fiskal, dengan moneter. Kita ngomong tiap hari bikin rusak nanti, ataupun kewenangannya tapi tidak perlu, setiap masalah langsung disampaikan ke publik, karena bisa terjadi miss persepsi. Tapi pada saatnya menjelaskan, jelaskan, pada saatnya menyampaikan ke publik, sampaikan. Pada saatnya ada acara dengan media, dengan editor lakukan. Dengan demikian informasi yang akurat yang benar itu bisa diterima oleh masyarakat kita. Di sini banyak pimpinan media massa yang hadir, saya hanya berharap karena peran pers dan media massa sangat penting, saya percayakan penuh bagaimana Saudara-saudara bisa berperan pula terhadap keberhasilan upaya kita sebagai bangsa, sebagai negara untuk mengatasi persoalan ini.
Itulah sepuluh direktif yang saya sampaikan dan tentu ini bukan pertemuan yang terakhir tetapi saya berharap channel ini, forum seperti ini dibuka diantara kita. Yang kecil yang lebih efektif yang kadang-kadang besar agar pikiran-pikiran yang luar biasa tadi dari Kadin mewakili pikiran Saudara-saudara, pikiran dari Gubernur BI, policy, pemerintah, policy-nya , itu juga betul-betul bisa disinergikan sehingga semuanya akan berhasil dengan baik, disini banyak ekonom, para pengamat, saya juga menitipkan sesuatu agar berperan secara konstruktif karena ini waktunya untuk kita joint hand bersama-sama mengatasi masalah ini dengan sebaik-baiknya.
Itulah Saudara-saudara yang ingin saya sampaikan, dan saya tahu Gubernur BI dan Menteri Keuangan akan tugas ke luar negeri, saya minta yang menjadi Ad Interim itu melakukan konsultasi dan pekerjaan bersama terus menerus, jangan sampai ada yang vakum, jangan sampai ada respon yang terlambat, dengan demikian, dengan antisipasi yang baik kita selalu bisa mengambil keputusan dan selalu bisa menetapkan yang baik pula.
Itulah Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, terima kasih atas kehadirannya dan ini hari yang bersejarah untuk kebersamaan kita dicatat oleh sejarah pula sebagai sebuah upaya untuk memelihara momentum pertumbuhan, ekonomi kita, dan mengatasi dampak dari krisis keuangan, terima kasih, selamat berjuang. Tuhan beserta kita,
Terima kasih, selamat berjuang, Tuhan beserta kita,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
*******



