Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Pameran dan Konferensi Internasional Konstruksi Indonesia

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN PAMERAN
DAN KONFERENSI INTERNASIONAL KONSTRUKSI INDONESIA 2008
JAKARTA CONVENTION CENTRE, 29 OKTOBER 2008



Bismilahirahmanirrahim,
Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Pekerjaan Umum dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Pimpinan dan Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Yang mulia para Duta Besar dan Pimpinan Perwakilan Negara-Negara Sahabat, Saudara Gubernur DKI Jakarta, Saudara Pimpinan LPJK dan Ketua Komite Konstruksi Indonesia 2008, para Pimpinan Dunia Usaha baik dari dalam maupun luar negeri, khususnya pelaku jasa konstruksi,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan karya kita, tugas kita serta pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.

Kita juga bersyukur karena hari ini dapat bersama-sama menghadiri Pembukaan Pameran dan Konferensi Internasional Konstruksi Indonesia 2008. Oleh karena itu saya ucapkan selamat melaksanakan pameran dan konferensi internasional.

Saya setuju dengan Menteri Pekerjaan Umum tadi, selesai konferensi ini, selesai berpameran ini, kiranya ada aksi nyata yang dilakukan oleh para pelaku jasa konstruksi. Jangan sampai akhir dari pameran, akhir dari seminar hanya untuk membikin pameran dan seminar berikutnya lagi. Meskipun konferensi itu penting. Tapi tentu bukan tujuan akhir. Tujuannya adalah bagaimana sektor konstruksi tumbuh dan berkembang, jasa konstruksi makin berkualitas di negeri tercinta ini.

Orang sering mengatakan visi dan misi tapi itupun belum cukup, setelah kita punya visi yang sama kita memahami misi kita atau tugas pokok kita setelah itu harus ada aksi, there must be an action yang harus kita lakukan. Sehingga cita-cita indah itu, kesadaran pula kita harus melaksanakan tugas itu terwujud dalam karya nyata di lapangan untuk rakyat kita, untuk menggerakan perekonomian kita.

Saudara-saudara,
Sektor konstruksi sangat penting. Pembangunan infrastruktur kita semua tahu juga sangat penting, disamping menggerakan perekonomian termasuk perekonomian lokal, juga memberikan rasa keadilan bagi rakyat kita karena bisa menggunakan infrastruktur itu dengan baik.

Pembangunannya pun bisa menciptakan lapangan pekerjaan, down stream bisnisnya pun banyak, usaha material bergerak dan sebagainya. Kontribusi sektor konstruksi dalam GDP, pendapatan domestik bruto konon tercatat 6-7%. Kemudian di Indonesia jasa konstruksi ini atau sektor konstruksi ini bisa membuka lapangan pekerjaan, hampir 5%. Jumlah menurut saya yang cukup signifikan untuk sebuah pengurangan pengangguran dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Saudara-saudara,
Kebijakan Pemerintah di dalam pembangunan infrastruktur sudah sangat jelas. Ada yang mengistilahkan dual tracks system dalam pembangunan infrastruktur.

Pertama ada infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah yang biasanya tidak memiliki aspek komersial tapi kewajiban negara, kewajiban pemerintah untuk membangunnya dengan menggunakan anggaran baik APBN maupun APBD.

Tapi adakalanya kita perlu bersama-sama swasta dengan public private partnership dalam membangun infrastructure itu. Ini track yang nomor dua. Dananya pun bisa gabungan antara dana pemerintah maupun dana swasta. Dua-duanya penting. Dua-duanya harus kita jalankan dengan lebih intensif lagi untuk negara kita di waktu yang akan datang.

Catatan pemerintah, meskipun angka ini dinamis, bisa berubah setiap saat untuk mempertahankan pertumbuhan 6% maka infrastruktur harus terus kita bangun, dan setelah kita hitung berapa kemampuan pemerintah, kemampuan negara untuk membiayai pembangunan infrastruktur itu jumlahnya tidak lebih dari 50%. Ada yang mengatakan 49%. Sekali lagi angka ini dinamis, tetapi atau dan selebihnya 50% lebih berarti harus mengundang, mengajak, melibatkan swasta.

Ini perlu dipahami bahwa ke depan public private partnership ini satu opsi, satu pilihan yang harus kita jalankan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu kita perlu membangun budaya public private partnership ini. Menerapkan praktek-praktek usaha yang baik, best practices, menjalankan tata pemerintahan maupun tata kegiatan perusahaan yang baik, good corporate governance, pemerintahnya good governance.

Dengan demikian apa yang kita bangun mulai dari jembatan, jalan, bendungan, jaring irigasi, pelabuhan, bandara, apapun yang kita bangun ini tepat, efisien, biayanya optimal, kualitasnya baik dan kemudian tentu mencapai sasaran yang kita kehendaki, menggerakan ekonomi dan memberikan keadilan karena pelayanan publik dapat kita berikan lebih baik lagi kepada rakyat kita.

Saudara-saudara,
Kita berada dalam era globalisasi, suka atau tidak suka. Demikian juga jasa konstruksi telah berada dalam, yang disebut opened economy. Oleh karena itu kita tahu bahwa kompetisi menjadi bagian dari pengembangan jasa konstruksi ini baik secara nasional, regional, maksud saya kawasan, maupun global.

Oleh karena itu, karena kita telah menjadi bagian dari ekonomi global maka yang terpenting dan yang paling cerdas bagi kita mempersiapkan diri kita untuk memiliki keunggulan dan daya saing dalam jasa konstruksi kita. Saya yakin kita bisa. Setiap saat, setiap saya meresmikan karya putera bangsa di berbagai hasil pembangunan infrastruktur maupun konstruksi yang lain kualitasnya tidak kalah unggul, kompetitif.

Oleh karena itu dengan semangat bahwa dalam era globalisasi yang berdaya saing, yang menang, yang unggul yang berjaya, mari mulai sekarang dan ke depan betul-betul kita tingkatkan daya saing kita.

Kalau dalam sebuah tender, jasa konstruksi Indonesia menang, itu bukan karena kebijakan yang proteksionis, tetapi memang dia memiliki daya saing yang baik karena unggul dan dalam kompetisi itu berhasil. Saya punya keyakinan yang tinggi dan oleh karena itu semua lembaga yang mengelola jasa konstruksi ini teruslah berbuat dan berbuat, agar ke depan keunggulan kita di bidang jasa konstruksi makin tinggi.

Saudara-saudara,
Tahun ini kita memperingati 1 abad Kebangkitan Bangsa, 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Saudara mendengar pidato saya pada tanggal 20 Mei yang lalu bahwa Indonesia dengan ridho Allah SWT sangat bisa untuk menjadi negara maju di abad 21 ini, negara maju, developed country.

Saya katakan pilarnya 3, kemandirian, daya saing dan peradaban bangsa, civilization. Kita tengah memperkokoh pilar-pilar itu. Kembali kepada apa yang kita bicarakan hari ini, saya menggaris bawahi daya saing harus terus menerus kita bangun, termasuk daya saing jasa konstruksi kita.

Kemandirian juga demikian. Pekerjaan konstruksi yang bisa kita lakukan di dalam negeri dengan sumber daya dalam negeri tidak boleh kita bergantung kepada jasa dari negara lain. Ini makna dari bagaimana kita membangun dan mengaplikasikan kemandirian yang sejati.

Banyak putera-puteri bangsa kita yang unggul bukan hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Oleh karena itu kita punya capital, kita punya modal yang kuat, untuk betul-betul memiliki keunggulan dalam jasa konstruksi ini.

Saya mendapatkan penjelasan dari Menteri Pekerjaan Umum, jasa konstruksi kita juga sekarang bekerja di Timur Tengah, di Afrika Utara atau di Al Jazair, menurut saya salah satu wujud yang nyata bahwa kita bisa bekerja sama membangun kemitraan dengan negara-negara sahabat.

Dan globalisasi ini salah satu realitasnya adalah mobilitas pekerja disamping mobilitas investasi, mobilitas informasi, mobilitas teknologi dan sebagainya. Oleh karena itu mari kita rebut bahwa kita bisa mendapatkan luxury atau mendapatkan peluang dari globalisasi, ini khususnya dalam jasa konstruksi.
Saudara-saudara,
Bagian akhir dari sambutan saya, saya ingin mengajak sekali lagi kepada seluruh rakyat Indonesia untuk betul-betul memahami situasi perekonomian yang kita hadapi dewasa ini. Kita semua tahu, Saudara tahu bahwa perekonomian global sedang menghadapi resesi dipicu oleh krisis keuangan yang bermula dari Amerika Serikat, menjalar ke negara-negara maju dan akhirnya seperti gelombang tsunami, merembet dan menjalar ke negara-negara lain di seluruh dunia.

Kita utamanya pemerintah bersama-sama Bank Indonesia, bersama-sama dunia usaha, dan pihak-pihak yang lain, terus melakukan upaya langkah-langkah nyata, baik kebijakan maupun tindakan, untuk mengurangi dampak, untuk meminimalkan dampak. Tidak ada satupun negara termasuk Indonesia yang tidak kena dampak.

Saya harus mengatakan dengan bahasa yang terang, kita mendapatkan dampak. Dampak itu ada yang langsung, ada yang tidak langsung, ada yang mulai kita rasakan, ada yang sebentar lagi barangkali tahun depan, tahun depannya lagi kita rasakan. Oleh karena itu yang realistik adalah mari kita berusaha untuk meminimalkan dampak itu agar perekonomian kita meskipun pasti ada hambatan dan kesulitan tetap terjaga. Itulah yang kita lakukan sekarang ini.

Pada prinsipnya yang kita lakukan secara nasional adalah kita bersama-sama dengan masyarakat global ingin menstabilkan keuangan global ini. Apakah stabilisasi pasar modal, pasar uang maupun pasar valuta asing, dan segala hal yang berkaitan dengan itu. Ini yang sedang kita lakukan secara terus menerus. Tadi malam kami dengan para Pimpinan Pemerintahan utamanya Anggota Kabinet juga terus merumuskan langkah-langkah lanjutan untuk mengelola persoalan ekonomi sekarang ini.

Yang ingin saya sampaikan yang kedua, setelah kita mengelola gejolak keuangan ini, yang kedua sektor riil bagaimanapun karena ada kena dampak dan pengaruh dari semuanya ini, harus kita jaga sekuat tenaga, jangan sampai dampaknya terlalu dalam dan terlalu luas dan kemudian berkepanjangan. Ini penting karena sektor konstruksi juga memainkan peran dalam memelihara kehidupan sektor riil ini.

Dan yang ketiga di atas segalanya, rakyat mesti kita lindungi, ekonomi, masyarakat mesti kita berikan proteksi sejauh mungkin. Karena kita ingin krisis yang bukan kesalahan Indonesia, yang bukan kesalahan rakyat kita tidak boleh memberikan pukulan yang terlalu dalam. Kita bekerja siang dan malam, sekuat tenaga untuk mengatasi semuanya itu.

Tentu saja ini persoalan global, ekonomi global, keuangan global, tidak mungkin satu negara bisa mengatasi sendiri. Tidak Amerika Serikat, tidak Eropa, tidak Tiongkok, tidak satu negara pun, pasti harus kita lakukan langkah-langkah bersama.

Oleh karena itu untuk Saudara ketahui bahwa agenda internasional dimana Indonesia menjadi bagian dari masyarakat global itu adalah yang menjaga atau menstabilkan kembali keuangan itu pada tingkat global. Menjaga the riil economy, utamanya perdagangan dan investasi diharapkan tetap mengalir yang dengan pergerakan itu pertumbuhan dunia tidak terlalu jatuh dan kemudian pertumbuhan negara-negara nasional, termasuk negara kita juga relatif bisa dijaga.

Dan akhirnya kita sepakat bahwa sistem perekonomian global, sistem keuangan global memerlukan perbaikan. Sistem atau arsitektur keuangan global ternyata tidak aman, rentan, dan karena kerentanan dan ketidakamanan ini suatu negara bisa menjadi korban seketika oleh sebab yang kita tidak tahu menahu seperti sekarang ini.

Oleh karena itu sudah saatnya kita memikirkan kembali bagaimana global financial system yang pas, yang lebih aman, yang bisa berfungsi dengan baik dan tidak rentan terhadap shocks ataupun gejolak yang disulut dari manapun, oleh sebab apapun.

Saudara-saudara,
Dalam keadaan krisis yang diperlukan adalah kecepatan dan ketepatan, baik keputusan maupun tindakan. Harus dibaca satu nafas, cepat dan tepat. Kalau cepat tidak tepat namanya grusa-grusu, bisa merugi. Tepat tapi tidak cepat juga rugi karena akan tertinggal dari dinamika yang bergerak secara cepat. Yang kami kerjakan sekarang ini adalah mengambil keputusan, menetapkan kebijakan, melaksanakan tindakan yang kita anggap cepat dan tepat.

Di waktu krisis selalu diperlukan langkah-langkah khusus. Dalam keadaan normal kita sudah punya perangkat, sudah punya undang-undang, peraturan, mekanisme, alat kendali dan sebagainya yang berlaku. Dalam keadaan krisis sering semua yang kita miliki tidak cukup untuk mengatasi masalah.

Oleh karena itu kewajiban negara, kewajiban pemerintah untuk mengembangkan lagi, kebijakan apa, instrument apa, langkah-langkah apa yang barangkali tidak diatur sebelumnya harus kita keluarkan. Termasuk perubahan, amandemen sebuah undang-undang sebagaimana yang pemerintah lakukan akhir-akhir ini. Semuanya itu adalah untuk mengatasi masalah, menyelamatkan ekonomi kita dan tetap sesungguhnya dalam bingkai opened economy.

Saya berharap, pasar terutama pada tingkat dunia, tidak keliru membaca bahwa langkah-langkah yang kita keluarkan ini justru untuk memastikan opened economy ini berjalan dengan baik, dengan cara ekonomi Indonesia tetap survive, tetap tumbuh dan kemudian bersama-sama dengan ekonomi yang lain bisa menjaga keadaan perekonomian dunia secara umum.

Khusus untuk terutama sektor konstruksi dan utamanya dunia usaha, saya pesan sekaligus mengajak Saudara-saudara, mari 2-3 tahun ke depan, mengapa saya bicara 2-3 ke depan? Karena banyak analisis bahwa dampak dari krisis keuangan global itu masih akan berjalan, masih kita rasakan 2-3 tahun mendatang. Bisa lebih cepat, bisa lebih lambat. Terpulang apa yang dilakukan oleh masyarakat dunia termasuk yang kita lakukan di negeri ini.

Karena masih akan kita hadapi 2-3 tahun ke depan maka mari kita menyatukan energi kita, menyatukan langkah dan tindakan kita di seluruh Indonesia, lintas sektor, lintas daerah, pemerintah dan swasta, bersama-sama untuk sejauh mungkin mempertahankan keadaan lapangan kerja. Bahkan bisa dilakukan proyek-proyek, dijalankan proyek-proyek tertentu seperti pembangunan infrastruktur menggunakan jasa konstruksi untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru. Lapangan pekerjaan, pengurangan pengangguran, job creation menjadi prioritas 2-3 tahun ke depan ini.

Yang kedua kita juga harus melindungi rakyat kita, yang saya sebut dengan social safety nett. Oleh karena itu dalam APBN, APBD sudah jelas sekali, bantuan kepada rakyat, berbagai jenis bantuan kita harapkan terus dialirkan dan bahkan diintensifkan. Agar sekali lagi rakyat bisa kita proteksi untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Yang ketiga, termasuk prioritas adalah ekspor. Pasar dunia akan menciut. Negara-negara yang selama ini membeli produk Indonesia, Amerika, Eropa dan negara-negara lain, mereka mengalami kesulitan ekonomi di dalam negerinya. Hampir pasti berpengaruh pada ekspor barang dan jasa kita. Oleh karena itulah kita harus melakukan sesuatu agar ekspor kita yang mengalami tantangan itu tetap kita jaga dalam ukuran yang wajar.

Yang keempat, investasi. Kita ingin tumbuh sejauh mungkin di dalam negeri ataupun mitra-mitra kita, partner kita dari negara lain dalam partnership yang bagus. Itu juga bisa menggerakan perekonomian kita, memelihara pertumbuhan kita. Kita ini sudah cantik dan alhamdulillah, karena 7 kuartal berturut-turut sudah mencapai 6% lebih, enam koma tiga, enam koma empat tapi Tuhan memberikan ujian baru dengan krisis dunia ini, tapi janganlah menyerah, mari yang sudah kita capai ini kita jaga sekuat tenaga dengan cara-cara yang dapat kita lakukan.

Dan yang terakhir adalah sektor ketahanan pangan dan energi. Saya senang kalau yang kita kerjakan nanti infrastruktur terbangun, menciptakan lapangan pekerjaan, ekonomi lokal bergerak, sekaligus bisa meningkatkan ketahanan pangan dan ketahanan energi kita. Itu klop dengan sasaran dan agenda kita dalam pembangunan ekonomi sekarang ini.

Dengan semuanya itu selesai seminar, selesai pameran, kapan-kapan saya ingin mendengar dari Saudara-saudara apa yang mau dilakukan satu, dua, tiga tahun mendatang ini. Jangan nanti “Pak kami sudah siap berseminar lagi, siap berpameran lagi.” Itu silahkan, memang diperlukan tapi yang saya maksudkan apa sekarang, seperti apa?

Ayo saya tantang dan rakyat akan senang nanti kalau muncul pemikiran-pemikiran cerdas dari semuanya apa yang dapat kita lakukan satu, dua, tiga tahun mendatang ini.

Itulah pesan dan harapan saya dan akhirnya dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT dan dengan mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim”, Pameran dan Konferensi Internasional Konstruksi Indonesia 2008 dengan resmi saya nyatakan dibuka. Sekian.

Wassalamualaikum Wr. Wb.



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan