Pidato Presiden

Orasi Kebudayaan Nasional dalam Rangka Dies Natalis ke-51 Undip

 

TRANSKRIPSI
ORASI KEBUDAYAAN NASIONAL PRESIDEN RI
DALAM RANGKA DIES NATALIS KE-51 UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG, 30 OKTOBER 2008



Bismillahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,


Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Pendidikan Nasional,
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, serta para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,

Saudara Gubernur Jawa Tengah, dan Para Pimpinan dan Pejabat Negara yang bertugas di Jawa Tengah, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, maupun TNI dan Polri,
Yang saya hormati Saudara Rektor Universitas Diponegoro, Para Pimpinan Rektorat, para Guru Besar, para Dosen, para Mahasiswa, dan segenap Civitas Akademika Universitas Diponegoro, para Pimpinan Perguruan-perguruan Tinggi se-Jawa Tengah,
Yang saya cintai para Budayawan, para Pemerhati dan Pecinta Budaya,

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta.

Sebelum saya melanjutkan pidato kebudayaan saya, saya ingin menyampaikan beberapa hal. Tadi saya dengar ada yang bertepuk tangan ketika ganjal atau ancik-ancik ini diambil. Begini, adalah instruksi saya kepada staf, kalau membawa mimbar ini kemanapun di seluruh Indonesia, tolong disiapkan ancik-anciknya. Mengapa? Bagi Saudara yang pernah masuk ke gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa, di New York, PBB, itu ada podium seperti ini, karena permanen, yang bisa disetel naik turun. Karena Pemimpin Dunia, apakah Presiden, Perdana Menteri, Raja, itu ada yang tinggi, segini tingginya, ini bisa dinaikkan. Ada yang sedang seperti saya, tengah. Ada yang lebih pendek sehingga diturunkan. Ini yang betul, karena kita ini tentu berbeda-beda. Ada yang tinggi sekali, ada yang sedang, ada yang kurang tinggi, tetapi tekadnya sama, semangatnya sama, kemampuannya juga insya Allah sama.

Yang kedua saya mengucapkan penghargaan bagi pencipta lagu Reformasi Birokrasi. Pak Sri Roso, Mana? terima kasih Bapak? Kita satu profesi, senang menciptakan lagu. Saudara-saudara, dari sekian banyak reformasi, alhamdulillah sepuluh tahun ini makin banyak yang kita capai meskipun, lebih banyak lagi yang belum kita capai. Satu yang saya belum puas adalah reformasi birokrasi. Masih jauh dari yang kita harapkan, good governance dan birokrasi yang responsif, yang accountable, yang capabel, dan mengerti persoalan yang dihadapi oleh rakyatnya. Jadi kalau dilakukan, mudah-mudahan birokrasi kita, mulai dari paling atas sampai paling depan itu betul-betul bisa meningkatkan kualitas pelayanan publiknya, pelayanan kepada rakyat kita.

Pengantar yang ketiga adalah berkaitan dengan Lembaga Kebudayaan Nasional. Secara prinsip saya mendukung setiap kegiatan yang tujuannya baik. Saya tahu LKN tujuannya baik. Pak Wacik tolong bicarakan nanti dalam Kongres Kebudayaan Nasional pada bulan Desember tahun ini. Dan saya kira patut setiap ide dan pikiran yang baik itu bisa didukung dan kemudian dibicarakan dengan para Budayawan yang lain. Silakan dirembuk dengan baik, untuk terus-menerus kita bisa meningkatkan budaya bangsa, meningkatkan kebudayaan kita.

Hadirin yang saya hormati,
Pertama-tama, mengawali orasi kebudayaan saya, saya mengucapkan selamat melaksanakan Dies Natalis yang ke-51. Semoga Universitas Diponegoro tetap menjadi World Class University. Bisa saja ada naik dan turun peringkatnya. Ketika peringkatnya turun, segera bangkit dan berjuang untuk kembali menduduki peringkat yang lebih atas. Yang diukur 12.000 universitas di seluruh dunia. Kalau masuk angka 500, memang menjadi world class university. Pertahankan predikat itu. Saya juga berharap dan saya yakin Undip bisa untuk menjadi universitas riset, research university. Lakukan penelitian dan pengembangan apa saja, untuk menuju ke kemajuan bangsa.

Dan yang ketiga, sesuai dengan tema hari ini, saya ingin Undip berada di depan dalam mengembangkan kebudayaan bangsa, kebudayaan nasional. Itu sangat perlu. Saya ceritakan kemudian, bangsa yang unggul ternyata bangsa yang berkarakter kuat. Karakter adalah akar dan sekaligus cerminan dari budaya sebuah bangsa. Oleh karena tidak keliru kalau Undip ingin berdiri di depan untuk terus memelihara, melestarikan, dan bahkan mengembangkan budaya bangsa kita.

Saudara-saudara,
Ini kali kedua saya diminta untuk menyampaikan pidato kebudayaan. Pertama-tama, oleh CIDES saya juga diminta, pernah, memberikan pidato kebudayaan, dan saya fokuskan waktu itu pada character building. Sebab sejak mendiang Bung Karno, yang namanya nation building dan character building itu belum rampung. Masih harus terus kita lakukan, bahkan sepanjang masa, agar Indonesia menjadi bangsa yang kuat, negara yang kuat, negara yang terhormat dan bermartabat.

Kita, bangsa Indonesia membanggakan kebudayaannya. Kompas, harian Kompas pada tanggal 15 Agustus tahun 2005 melakukan survey. Rakyat ditanya yang paling membanggakan apa. Ada macam-macam, A, B, C, D, E,F. Ternyata 72%, mereka membanggakan kebudayaannya, kebudayaan Indonesia. Ini suara rakyat. Kalau itu suara rakyat, mari semua yang mengemban amanah benar-benar meningkatkan budaya bangsa.

Saudara-saudara,
Panitia Universitas Diponegoro mengangkat satu tema yang kepada saya dimintakan untuk menyampaikan orasi ini, berkaitan atau segaris dengan tema itu, yaitu Strategi Kebudayaan, atau Strategi Kebudayaan Nasional Dalam Rangka Merespon dan Menyikapi Era Globalisasi. Dari tema ini, ada dua bagian penting, pertama bagaimana kita menyikapi dan merespon era globalisasi, itu yang satu. Yang kedua, strategi kebudayaan seperti apa, itu yang kedua.

Supaya klop saya tambahkan di situ, supaya tidak ada yang missing dari segi anti bidang dan substansi barangkali adalah melanjutkan pembangunan bangsa dalam era globalisasi dari perspektif kebudayaan. Berarti tiga-tiganya ada. Perlu diingat Saudara-saudara, strategi tidak sama dengan visi. Tidak sama dengan pendekatan. Strategi dianut oleh berbagai disiplin, disiplin militer, ekonomi, manajemen, dan lain-lain. Tapi satu hal, strategi ada end, apa yang ingin dicapai. Ada means, sumber dayanya apa untuk mencapai tujuan itu. Dan ada ways, cara yang dipilih untuk mencapai tujuan itu. Dalam konteks itulah, dalam perspektif itulah maka saya akan meletakan nanti pendekatan kebudayaan di dalam membangun bangsa menuju masa depan yang lebih baik.

Saya sependapat dengan Profesor Susilo Wibowo tadi, bahwa kita sering mereduksi pengertian kebudayaan, pengertian budaya. Ya yang sehari-hari kalau budaya itu ketoprak, wayang orang, busana, lukisan, nyanyian, dan sebagainya. Meskipun kita senang semuanya itu, karena estetika itu membikin hidup tenteram, membikin hidup tenang. Tetapi budaya lebih dari itu, budaya itu juga nilai, belief system, sistem kepercayaan. Ideas, gagasan. Idealisme, cara pandang. Mindset sebuah bangsa terhadap masa depannya, misalnya. Perilaku bisa juga ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan tadi diangkat oleh Saudara Rektor, the rationality dari sebuah bangsa, rasionalitas, apakah bangsa itu rasional atau tidak, itu menunjukkan tingkat budayanya, tingkat peradabannya, bagian dari civilization. Saya akan menggunakan definisi yang luas dari budaya ini dalam kupasan berikutnya lagi.

Saudara-saudara,
Kita tahu dan kita bangga, di negeri ini ada 700 entitas budaya. Beragam, majemuk. Oleh karena itu, kalau dalam lingkungan Indonesia disebut mega bio diversity. Saya kira kita juga bicara Indonesia itu, mega cultura ldiversity, beragam dan besar. Dan yang kita syukuri beragam suku, agama, daerah, etnis, dan macam-macam identitas, kita satu, Bhinneka Tunggal Ika. Dalam bahasa Inggris disebut unity in diversity. Saya senang menggunakan istilah yang sedikit berbeda, serupa tapi tak sama, harmony in diversity. Harmonis kita, rukun kita, dalam perbedaan.

Oleh karena itu, sebagaimana yang saya sampaikan tadi. Inti dari yang ingin saya kedepankan secara singkat ini karena kalau kita bicara kebudayaan, budaya, bisa dua hari, bisa dua malam, bisa dua buku. Oleh karena itu saya ingin menyampaikan yang serba singkat, yang essential dalam kaitan ini. Kita ingin melihat nanti mindset kita, cara pandang kita, demikian juga karakter yang perlu kita angkat untuk menjadi bangsa yang unggul.

Saya ingin mengajak Saudara untuk melakukan kontemplasi-refleksi. Mengapa Indonesia sejak berdiri, yang dihantam, diguncang oleh serangkaian krisis, dan shocks, baik sifatnya internal atau aliran dari dunia. Baik itu yang sifatnya alam maupun bukan alam. Kita tetap tegak berdiri. Mari kita bayangkan. Sejak Indonesia merdeka, bukan main tantangan, ujian, dan cobaan yang kita hadapi. Satu demi satu sampai sekarang ini. Tetapi mengapa kita selamat, mengapa kita akhirnya bisa mengatasi, mengapa kita tidak runtuh? Sebagaimana diramalkan orang bahwa Indonesia akan keok, jatuh, dan hancur. Tidak, tidak. Karena ada satu kekuatan, yang barangkali kita tidak sadari. Apa kekuatan itu, yaitu kebangsaan kita, ke-Indonesiaan kita, ketahanan kita, karakter kita sebagai pejuang, sikap tidak mengenal menyerah, dan sebagainya. Inilah yang saya katakan kekuatan, the power, the strength yang bersumber dari budaya bangsa, dahsyat. Ini boleh disebut the invisible power, kekuatan yang tidak kentara, dibandingkan kekuatan sumber daya alam, sumber daya keuangan, sumber daya manusia, dan sebagainya. Capable, yang tangible, yang kelihatan. Ini yang tidak kelihatan. The invisible power of culture. Karena kita yakin ini teruji oleh sejarah yang membuat bangsa kita tetap tegak berdiri maka saya mengajak Saudara semuanya, marilah budaya sebagai sumber, sebagai energi, sebagai kekuatan ini kita jadikan pula untuk membangun bangsa kita di masa depan.

Kita bicara Indonesia masa depan, kita bicara Indonesia abad 21. Apa yang hendak kita tuju? Tanggal 20 Mei yang lalu dalam Peringatan Satu Abad Kebangkitan Nasional saya katakan Indonesia sangat bisa dan insya Allah bisa menjadi negara maju di abad 21 ini jika tiga pilar fundamental, tiga pilar kebangsaan dapat kita perkuat. Satu, kemandirian kita sebagai bangsa. Dua, daya saing kita sebagai bangsa, dan yang ketiga, peradaban, civilization, termasuk karakter, watak dari bangsa kita. Kalau tiga-tiganya kita perkokoh, dan kemudian kita bersatu, melangkah bersama, bekerja keras, dengan ridho Allah Subhanallahuwata’ala, yakin kita, di abad 21 ini kita menjadi negara maju.

Barangkali generasi saya sudah uzur, sebagian sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Tapi para mahasiswa, dan generasi yang lebih muda kelak kalian akan mengalami masa dimana Indonesia akan menjadi negara maju, dan kalian akan memimpin semuanya. Kalian akan memimpin, melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa di seluruh tanah air. Sambut masa depan itu, persiapkan diri mulai sekarang. Yakin kita. Kita bisa. Karena yang lalu kita bisa mengatasi semuanya, kita punya energi, kita punya power, kita punya kekuatan. Kita pun bisa melakukan hal yang sama di masa depan.

Kita ingin menjadi negara yang kuat, negara terhormat, negara bermartabat, tidak boleh direndahkan oleh bangsa manapun. Tidak ada satu negara yang boleh melecehkan Indonesia. Dan kita berada pada arah itu untuk membuat diri kita bangsa yang kuat, bangsa yang terhormat, dan bangsa yang bermartabat. Ekonomi dan kesejahteraan rakyat harus terus kita perkuat. Budaya dan teknologi terus kita kembangkan. Persatuan dan harmoni sosial itu mari kita jaga bersama-sama. Jangan dikit-dikit kita mudah sekali melakukan konflik apalagi dengan kekerasan. Demokrasi dan political order, demokrasi makin mapan alhamdulillah, kebebasan makin mekar alhamdulillah, tapi disertai dengan kepatuhan pada pranata sosial, pranata hukum, pranata budaya sehingga hidup kita akan harmonis.

Itu juga unsur dari bangsa yang berketahanan tadi. Pertahanan keamanan di seluruh tanah air harus kuat terjaga. Tidak boleh satu jengkal tanah pun di negeri ini diambil oleh negara lain. Dan, dalam era globalisasi kita harus memainkan peran terhormat di fora Internasional. Semua itu syarat dan misi kita sebagai bangsa, untuk kita lakukan di waktu yang akan datang. Kalau kita sadari betul kita punya kekuatan dahsyat tadi, Saudara-saudara, kita bisa mencapai itu.

Hadirin yang saya muliakan,
Menjadi bangsa maju di abad 21 ini tidak akan datang dengan sendirinya. Juga tidak semudah membalik telapak tangan. Bukan perjalanan yang indah di bawah bulan purnama. Tidak lunak, tapi melewati medan yang keras dan penuh dengan tantangan. Oleh karena itu satu hal, apa yang kita lakukan sekarang ini, lima tahun ini, lima tahun berikutnya lagi, berikutnya lagi, semua, dengan pemimpin-pemimpin baru nanti, semua, itu harus melanjutkan kerja keras kita, melanjutkan pembangunan kita, sampai saatnya, kita bersyukur kepada Allah, Indonesia menjadi negara yang maju.

Saya menawarkan paradigma bagaimana kita membangun bangsa ini, yang lebih tepat belajar dari pengalaman masa lalu, belajar dari pengalaman bangsa-bangsa lain yang berhasil maupun yang tidak berhasil. Pertama, membangun bangsa ini harus terpadu, semesta. Dimensi kewilayahan harus dilihatnya, jangan seolah-olah membangun bangsa semudah yang dipikirkan oleh mereka yang ada di Jakarta, semesta, dimensi kewilayahan diperhatikan. Yang kedua, paradigma kedua, mari kita padukan semua resources, sumber daya yang kita miliki, sumber daya alam, sumber daya ilmu pengetahuan dan teknologi, resources-based development, knowledge-based development, dan culture-based development. Tiga-tiganya jangan dilewatkan. Harus bersatu.

Paradigma yang ketiga, pertumbuhan ekonomi harus disertai dengan pemerataan. Sejak awal saya tidak percaya dengan teori trickle down effect, yang penting tumbuh dulu, nanti dimeratakan, semua akan menikmati. I don’t believe it. Sejak awal kita harus tumbuh, didistribusikan secara adil. APBN, kebijakan fiskal, kita tata juga begitu, ada pertumbuhan, ada pemerataan. APBD pada posisi provinsi, kabupaten, dan kota harapan saya, ajakan saya juga begitu. Tumbuh, tapi juga adil dan merata.

Paradigma yang keempat, ini kita mengalami goncangan lagi, krisis keuangan global, dimulai dari Amerika, Eropa, negara-negara maju, kita kena dampaknya. Sistem ekonomi dunia belum adil, sistem keuangan dunia belum aman. Oleh karena itu, jawabannya kita bikin aman, kita bikin adil. Dan ini misi kita. Termasuk misi kita sebagai bagian dari masyarakat dunia. Tetapi sambil kita membentuk itu, kita harus siap menghadapi goncangan apapun. Agar siap maka sebagai bangsa kita harus memiliki ketahanan dan kemandirian yang lebih besar.

Jangan tergantung terlalu banyak ke negara lain meskipun globalisasi itu ciri-cirinya adalah interdependency dan interconnectiveness. Tapi ingat yang harus kita bisa mandiri, mandiri pangan, pangan harus cukup. Peralatan pertahanan harus cukup, dan lain-lain. Karena situasi bisa berubah. Yang tadinya kawan bisa jadi lawan. Yang tadinya kita mengambil dari dunia bisa tidak ada. Basic needs, basic consumption. Sesuatu yang kita perlukan untuk bikin negara kita aman dan maju, harus kita miliki.

Dan paradigma yang kelima, yang terakhir adalah dulu, terus terang, kita lebih sentralistik, lebih konsentrik. Sekarang eranya desentralistik, dekonsentrik, semua diajak, semua elemen bangsa diajak, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Itu yang harus kita libatkan dengan lima paradigma itu. Insya Allah pembangunan kita ke depan akan lebih efektif. Memang pembangunan negara manapun, China, India, Brazil, dan negara-negara yang disebut emerging market, termasuk Indonesia, Indonesia sekarang sudah disebut emerging market, dalam mengatasi gonjang-ganjing keuangan dunia kita sudah dilibatkan di berbagai forum. Pertama kali dalam sejarah.

Kita harus tahu diri. Meskipun seperti itu, kita memiliki kewajiban moral, kewajiban moral karena dinamika pembangunan itu biasanya ada yang cepat maju, ada yang tertinggal. Bangsa kita dengan derap pembangunan yang luar biasa bisa ada yang cepat maju, ada yang tertinggal. Oleh karena itu, yang saya sebut dengan the moral imperatives, keharusan moral, kewajiban moral adalah melindungi mereka yang lemah, melindungi mereka yang belum maju.

Oleh karena itu, tadi saya di mobil berdiskusi dengan Pak Gubernur. Cocok pikiran kita, bahwa dalam keadaan apapun yang namanya pangan, harus kita usahakan cukup. Sandang kita usahakan cukup. Papan makin bisa dimiliki rakyat kita. Kesehatan makin baik, pendidikan makin berkualitas, energi makin mudah didapatkan, rasa aman 24 jam harus tumbuh, dan lingkungan yang manusiawi. Itu moral imperatives. Jangan sampai bangsa mengejar economic growth-nya, gedung-gedung yang tinggi, dan semuanya yang spektakuler dan kita lupa pada elemen-elemen yang azasi, bagaimana rakyat merasa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Ini tentu memerlukan perjuangan yang besar kita semua. Saya katakan tidak seperti membalik telapak tangan, tapi harus kita lakukan, dari generasi ke generasi.

Saudara-saudara,
Dari semuanya itu, saya ingin menyampaikan bahwa negara kita ini sedang melaksanakan transformasi. Lebih dari sekedar reformasi. Saudara tahu ciri-ciri transformasi? Ciri-ciri perubahan besar, reformasi, transformasi, itu proses yang dinamis, sangat dinamis, banyak tantangan, persoalan, dan biasanya gaduh. Gaduh. Secara politik gaduh, secara sosial gaduh. Apalagi Indonesia. Sepuluh tahun ini demokrasi, politik kita mengalami perubahan yang dramatis. Sistem ketatanegaraan. Ada berapa kali perubahan Undang-Undang Dasar kita. Sistem pemerintahan, peran militer, kehidupan pers, semua berubah secara dramatis. Tentu gaduh, tentu ada tantangan, ada resistensi. Tetapi jangan cemas, tidak usah kecil hati, semua itu harus kita lewati. We have to go through.

Suatu saat akan terjadi, terbangun equilibrium, kehidupan yang lebih mapan. Tidak usah menyalahkan siapa-siapa, anggaplah ini amanah bagi kita untuk meneruskan perbaikan ini menuju tatanan yang baik. Saya tentu, yang sedang mengemban amanah dengan teman-teman yang lain, bekerja sekuat tenaga untuk mewujudkan ini semua. Pada saatnya pemimpin-pemimpin baru akan melanjutkan, tetapi satu hal, kita harus tahan, harus tegar, harus sabar, tidak boleh gamang, tidak boleh cemas, tidak boleh mengalami disorientasi untuk melakukan perubahan besar ini menuju masa depan yang baik.

Saudara-saudara,
Kita belajar dari pengalaman banyak bangsa di dunia. Kita belajar dari sejarah masa lalu. Saya berpikir, empat tahun lebih saya mengelola pemerintahan dan kehidupan bernegara. Perubahan itu, Saya baru saja pulang dari China. Saya meninjau Republik Rakyat Tiongkok beberapa kali. Mengapa Tiongkok maju, ekonominya, budayanya, teknologinya, semua. Saya belajar bagaimana bangsa itu melakukan perubahan, melakukan reformasi dan transformasi. Maka tesis pertama adalah perubahan itu memang harus balance, harus bertahap tetapi terus-menerus. Perubahan yang terlalu cepat, revolusi, apalagi yang radikal, sering itu tidak bisa bertahan lama. Tapi tidak berarti lambat, tidak berarti ragu-ragu, tidak berarti setengah-setengah, terus melakukan perubahan dengan balance.

Yang kedua, perubahan pasti banyak yang melawan, entah bikin good governance, pemberantasan korupsi, banyak yang melawan. Karena kepentingannya terusik. Kadang-kadang ada kemandekan. Harus kita terobos dan kita hadapi. Dan, ini kembali kepada karakter, kepada budaya. Bangsa yang ingin berubah ke arah masa depan yang lebih baik harus punya keyakinan. Kalau kita tidak yakin Jawa Tengah akan maju, Semarang akan maju, ya tidak akan maju. Kalau kita tidak opmitis negara kita akan maju, sampai lebaran kuda pun tidak akan maju. Kalau kita tidak punya pikiran positif, selalu negatif berpikirnya, ya tidak akan sampai pada tujuannya. Ini adalah kekuatan moral, kekuatan mental, kekuatan yang saya sebut tadi yang berasal dari karakter dan budaya bangsa.

Pembangunan itu is state of mind, ada dalam alam pikiran kita. Undip mau maju menjadi world class university, menjadi research university ada dalam hati dan pikiran Pak Rektor, Para Guru Besar, semua civitas akademika yang ada di Undip ini. Kalau state of mind, hati dan pikirannya ada di situ, Tuhan menuntun, muncul gagasan, opsi, solusi, jalan menuju ke cita-cita itu. Dan tidak ada masalah yang dapat diselesaikan sendiri. Sepuluh SBY pun tidak mungkin menyelesaikan, sepuluh Bibit Waluyo tidak bisa menyelesaikan. Semua harus bersama-sama. Semua penting. Tidak ada yang tidak penting. Petani di lereng Wonosobo, petani kentang, ia menyumbang pada ketahanan pangan. Petani padi, petani kedelai, contoh, dan semua cabang profesi menyumbang bagi bangsa dan negaranya. Mereka mesti kita ajak semua.

Saudara-saudara,
Itulah perspektif budaya. Perspektif, karakter yang kita perlukan untuk membangun bangsa yang maju dan unggul. Saya, untuk mengakhiri pidato ilmiah ini, akan menyampaikan satu isu penting. Yaitu tentang soft power. Saudara mengenal hard power, perang, serangan militer, embargo, sanksi ekonomi, kalau itu dalam hubungan antar bangsa. Kalau di dalam negeri, libas, sikat, hancurkan, jatuhkan, kalahkan dengan segala cara. Hard power.

Ternyata penggunaan hard power yang berlebihan itu bukan solusi. Itu masalah. Penggunaan soft power, pendekatan budaya, itu sering menjadi solusi. Tahun 2005, saya pernah mengkritik Amerika Serikat di Amerika Serikat, di Washington D.C. Sebagian mendampingi saya waktu itu. Saya katakan, saya kritik, Amerika dan beberapa negara maju terlalu sering, terlalu mudah menggunakan hard power. Padahal hard power itu, sekali lagi, kalau berlebihan itu counter-productive, malah merusak, malah mengganggu.

Minggu lalu di Beijing yang dihadiri oleh 45 Kepala Negara Asia dan Eropa. Presiden, Perdana Menteri, Kanselir, semua. Saya mengkritik lagi, masih banyak menggunakan hard power. Saya berbicara di depan Sarkozy,Merkel, Hu Jintao,Manmohon Sing yang berpikirnya, semua waktu itu. Saya katakan abad 20 dulu adalah abad yang penuh dengan hard power. Ada dua perang dunia, Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan banyak konflik. Saya katakan the century of hard power. Saya sampaikan di Beijing kemarin, this century, the 21st century can be the century of soft power, kalau kita cocok, lebih banyak menggunakan soft power. Indonesia sekarang menjalankan politik bebas aktif, tidak berubah. Saya menjalankan all-directions foreign policy. Sepanjang membawa keuntungan bagi bangsa kita, kita bersahabat. Kalau mengganggu kepentingan kita, no. Untuk mencapai tujuan itu, berangkat dari soft power tadi, kita mengutamakan diplomasi. Kita membangun kemitraan, partnership, dengan banyak negara di dunia, dan manakala ada konflik, ada dispute kita gunakan soft power.

Satu-satunya kita harus menggunakan hard power adalah apabila kedaulatan dan keutuhan negara kita terancam. Itu final. Kalau kedaulatan kita terancam, keutuhan kita sebagai bangsa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, dan tidak ada cara lain, kita harus menggunakan apa yang kita miliki, hard power. Kalau perlu dengan kekuatan militer untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah kita. Itulah soft power dalam diplomasi kita.

Saudara-saudara, kita pandai bersyukur, Indonesia kembali masuk radar dunia, kembali berada di pentas-pentas yang terhormat. Kita kena embargo belasan tahun, dengan soft power tidak merengek-rengek, tidak meminta-minta, mereka tahu kita terus melakukan perubahan yang lebih baik, embargo itu dicabut. Kita punya sengketa dengan Timor-Timur, dengan Timor Leste, karena urusan Hak Azasi Manusia, dan dunia seolah-olah menyalahkan Indonesia, mau menghukum Indonesia, yang saya anggap itu berlebihan dan kurang adil. Kita selesaikan dengan soft power dan akhirnya selesai urusan kita dan kita bersahabat dengan Timor Leste.

Reformasi yang kita lakukan, saya katakan, haruslah reformasi yang kita jalankan sendiri, dengan tahapan yang kita pilih, dengan sasaran yang kita pilih. No single nation can dictate our reforms. Tidak boleh negara manapun, reformasi harusnya begini, sasarannya begini, kecepatannya begini. Tidak. Ini urusan kita. Urusan kita semua. Harus kita jalankan. Oleh karena itu, kita menolak intervensi apapun, dan alhamdulillah tahun-tahun terakhir ini, tidak ada, dan mudah-mudahan tidak pernah ada orang yang mengintervensi, yeng mendiktekan bagaimana bangsa ini melakukan transformasi menuju masa depan yang baik.

Itulah Saudara-saudara, inti dari pidato ilmiah saya, membangun Indonesia menjadi negara maju dalam era globalisasi, dengan menggunakan budaya sebagai sumber kekuatan, sebagai pendekatan, dan sebagai proses.

Semoga kepada kita semua, semua reformis yang ada di ruangan ini, tapi juga nasionalis yang mencintai negaranya, patriotis, patriot maksud saya, yang cinta pada tanah airnya, tugas di masa depan masih berat, penuh dengan tantangan. Mari, kita melangkah bersama, membangun Indonesia yang lebih aman, lebih adil, dan lebih sejahtera.

Demikian.
Terima kasih.

Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.




Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI