Pidato Presiden

Sambutan Peresmian Institute for Peace and Democracy

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN INSTITUTE FOR PEACE AND DEMOCRACY
DI UNIVERSITAS UDAYANA
BALI, 10 DESEMBER 2008



Bismillahirrahmaannirrahiim,
Om swasti astu,


Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Ketua Komisi I DPR RI, Saudara Gubernur Bali dan para Pimpinan dan Pejabat yang bertugas di Bali, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan POLRI, Saudara Rektor Universitas Udayana, para Anggota Senat, para Guru Besar, para Dosen, para Mahasiswa, dan segenap Civitas Akademika Universitas Udayana,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi pada kesempatan yang baik, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas perkenan rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan karya kita, tugas kita, dan pengabdian kita masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.

Kita juga bersykur hari ini dapat bersama-sama mengikuti peresmian berdirinya Institute for Peace and Democracy yang tadi telah dijelaskan, baik oleh Saudara Gubernur Bali maupun Saudara Rektor Universitas Udayana.

Hari ini sungguh merupakan hari yang bersejarah bagi Bali dan bagi Indonesia. Tadi pagi, saya membuka secara resmi Bali Democracy Forum, satu forum yang didirikan atas prakarsa Indonesia, kerja keras Menteri Luar Negeri dan semua pihak yang akan menjadi wahana bagi sebuah dialog di kawasan Asia, Asia Pasifik, dan bahkan suatu saat dunia tentang demokrasi. Ini momen sejarah, karena saya punya keyakinan forum ini akan terus berkembang, dan suatu saat akan menjadi forum yang sangat tepat untuk membahas persoalan-persoalan politik dan demokrasi yang diterapkan oleh bangsa-bangsa sejagat.

Yang kedua, sore hari ini, kita meresmikan berdirinya The Institute for Peace and Democracy yang Insya Allah nanti akan menjadi satu center of excellence, menjadi satu pusat untuk bersama-sama kita mengembangkan kehidupan demokrasi di negeri kita dan juga menyumbang bagi perdamaian dan demokrasi di Asia dan di dunia. Oleh karena itu, patut kita syukuri dan saya senang tadi, Saudara Gubernur Bali, Bapak Made Mangku Pastika yang mengatakan bahwa tambah satu predikat, not only the island of god, not only the island of paradise, not only the best tourist destination, tapi Bali menjadi the island of peace and democracy.

Mengapa peace? Ketika Bali dirusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, 6 tahun yang lalu, saya sebagai Menko Polkam, bersama-sama Saudara Made Mangku Pastika dan semua, bekerja siang dan malam untuk memulihkan keadaan. Dan ketika keadaan pelan-pelan sudah mulai pulih, dihantam lagi oleh tangan-tangan yang juga tidak bermoral ketika melaksanakan serangan terorisme pada tahun 2005.

Kita bertekad, kita bersumpah, kita bekerja untuk mencegah hal-hal seperti itu terjadi lagi, agar Bali yang tenang, Bali yang tentram, Bali yang mencerminkan nilai budaya yang luhur, heritage yang luar biasa, dan menjadi kebanggaan dunia, bukan hanya Bali, bukan hanya Indonesia, betul-betul dapat kita pertahankan. Saya ingin semangat ini terus bersemi di hati kita, karena di dunia ini ancaman kekerasan masih menghantui. Oleh karena itu, jawabannya mari kita tidak berlengah diri, mari kita terus melakukan langkah-langkah semestinya untuk mempertahankan keamanan dan ketentraman Bali yang sama-sama kita cintai dan kita banggakan.

Saudara-saudara,
Bali Demoracy Forum yang tadi kita resmikan adalah satu forum dialog dimana kita betul-betul bisa berbagi, berbagi pengalaman, berbagi wawasan, berbagi pandangan, berbagi democratic values and practices yang tentu akan bervariasi dari satu bangsa ke bangsa yang lain. Bali Democracy Forum juga forum yang equal, siapa saja memiliki posisi yang sama, tidak ada dalam forum ini satu negara mendiktekan model demokrasi untuk dianut oleh negara yang lain, karena there is no single kind of democracy. Semua meskipun ada nilai-nilai universal tentang demokrasi, tetapi sejarah bangsa yang bersangkutan, warisannya, local values-nya, dan hal-hal lain yang unique dari sebuah bangsa, turut mencerminkan pilihan dari demokrasi yang diterapkan oleh negara atau bangsa yang bersangkutan.

Tema yang kita pilih hari ini sungguh tepat, “Building and Consolidating Democracy is Strategic Agenda for Asia”, dan kemudian subtemanya “Strengthening regional dialog and cooperation in democracy”. Saya kira, a good beginning, awal yang baik, lagi-lagi Bali menjadi wahana untuk mencapai tujuan-tujuan yang baik pada tingkat Asia Pasifik.

Beberapa saat yang lalu, 2 tahun yang lalu, kami, saya dan teman-teman pernah punya pikiran alangkah baiknya kalau Bali ini punya annual event, yang bersifat internasional untuk berkumpul di Pulau Dewata ini untuk membahas masalah-masalah bagi kebaikan dunia. Saya sampaikan waktu itu. Sebetulnya, kalau suatu saat Garuda Wisnu Kencana sudah jadi, kita punya dreams. Kalau di Davos, Eropa ada World Economic Forum, yang dilaksanakan tiap tahun, mengapa tidak di Bali ada World Cultural Forum yang juga dilaksanakan tiap tahun. Davos itu kotanya kecil. Yang memang World Economic Forum dilaksanakan bulan Januari, tertutup oleh salju, barangkali membikin indahnya kota yang kecil itu, tapi pemimpin dunia, para scientists, para artist, para top businessman, para leaders datang di Davos untuk merembuk tentang ekonomi dan perekonomian dunia, dan kemudian berpariwisata di Davos itu. Hal yang sama mesti bisa kita lakukan di Bali ini. Kalau Cultural Forum itu belum segera bisa diwujudkan menurut saya, inilah embrionya, peace and democracy. Mari kita bikin tahun-tahun mendatang lebih semarak lagi, 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, siapapun gubernurnya, siapapun presidennya, siapapun rektornya nanti, mudah-mudahan menjadi milik Bali yang membawa kebaikan bagi bangsa, negara, dan bagi dunia.

Hadirin yang saya hormati,
Institut ini sendiri, Institute for Peace and Democracy, adalah menjadi satu center, yang harapan kita betul-betul bisa menyumbangkan banyak hal bagi pengembangan, perdamaian, dan demokrasi di Pasifik atau di Asia khususnya, dan di dunia pada umumnya, sekaligus akan kita perankan, kita fungsikan sebagai implementing agency dari Bali Democracy Forum. Infrastruktur mesti kita bangun.

Saya senang tadi Pak Gubernur mengatakan sedang berusaha mendapatkan tanah, ya saya tidak tahu sekitar 5 hektar atau 10 hektar, untuk betul-betul bisa didirikan institut ini. Saya juga tahu Saudara Menlu aktif bekerjasama membangun partnership dengan negara-negara sahabat agar mereka bisa berkontribusi untuk membangun institut ini dari segi fisikal, dari segi fisikal infrastructure supaya nanti menjadi world class institute. Ini harapan saya. Sangat bisa kita bangun, saya mendukung tadi pikiran rektor untuk mengembangkan fakultas international relation barangkali, tolong nanti Seskab sampaikan ke Mendiknas, agar didukung upaya ini sehingga menambah bobot dan kesiapan dari universitas ini. Deplu tentu terus melakukan sesuatu, Depdiknas, kemudian Provinsi sendiri, Bali, agar Pak Rektor tidak sendiri di dalam mempersiapkan dan membangun institut ini.

Saya ingin leadership management itu betul-betul bisa mengelola dengan baik, expertise dikembangkan. Tadi saya dengar sementara dari UGM, dan nanti harus ditambah lagi supaya betul-betul bayangan saya seperti Davos, tapi ini politik, Davos ekonomi. Davos dingin, Bali, jangan bilang panas, Bali warm, penuh dengan hospitality, keramahtamahan. Saudara tahu, itu karena ada petro dolar. Di Timur Tengah mau dibikin seperti Bali karena uangnya banyak. Tapi saya katakan boleh seperti Bali, tapi Bali yang asli hanya ada satu di Indonesia.

Saudara-saudara,
Mengapa Asia? Mengapa fokus kita Asia? Begini. Diam-diam sesungguhnya sedang ada pergeseran yang disebut dengan center of global power. Diam-diam 15 tahun terakhir ini, ada changing the global landscape. Dulu semua berkiblat kepada Amerika Serikat dan Eropa, economic, trade, investment, politic, military, kiblatnya ke Amerika Serikat. Tiba-tiba sejarah menunjukkan tidak bisa lagi seperti itu. Krisis keuangan yang terjadi sekarang ini, diikuti dengan resesi ekonomi global, itu episentrumnya di Amerika Serikat. Yang kena pertama, Eropa. Baru yang lain-lain kena, termasuk negeri kita yang sesungguhnya tidak berdosa dan tidak bersalah.

Yang ingin saya sampaikan adalah sesungguhnya sedang terjadi pergeseran tentang kekuatan dunia dan barangkali akan membantu membangun yang disebut dengan New International Order. Asia disebut-sebut sebagai wilayah baru, sebagai penopang, penyangga perekonomian dunia. Asia Timur disebut-sebut, China yang sekarang ekonominya luar biasa tumbuh dengan pesatnya konon suatu saat akan menggantikan posisi Amerika Serikat. Tentu Asia yang kaya dengan berbagai sistem, model, nilai, termasuk civilization akan menjadi kawasan yang sangat dinamis ke depan, termasuk barangkali tranformasi, transisi, dan reformasi dari pemerintahan negara-negara di Asia yang berkaitan dengan demokrasi.

Oleh karena itu, janganlah kita menjadi bangsa yang hanya menonton, janganlah kita menjadi bangsa yang tertinggal dengan perubahan dan pergeseran ini. Mari kita menjemput bola. Mari kita proaktif dengan cara, pertama-tama, ketika Asia sedang berkemas diri, berkonsolidasi dan kemudian mengembangkan tatanan-tatanannya yang baru, Indonesia tidak boleh dianggap halaman belakang. Kita harus menjadi salah satu center, the center of excellence, sebagaimana yang kita resmikan hari ini, Bali Democracy Forum dan Institute for Peace and Democracy. Itu tujuan pertama.

Tujuan yang kedua, kita bisa berbagi pengalaman dengan apa yang berkembang di Asia ini, tetapi yang jelas, Asia akan tumbuh, for sure, Indonesia mesti juga harus tumbuh dengan cara mari kita tata kembali kehidupan di negeri ini. Mari kita lakukan refleksi strategis, sudah betulkah kita mengelola sumber daya kita, sudah betulkah arah dan kebijakan dasar perekonomian kita dan sebagainya, dan sebagainya. Sudahkah kita cukup memiliki daya saing, kemandirian dan peradaban bangsa yang mulia, a great civilization, kalau belum, saatnya berbenah diri. Saatnya membangun diri sehingga 10, 20 tahun yang akan datang, kita akan benar-benar masuk satu wilayah negara yang maju, sejahtera dan bermartabat.

Kalau itu kita lakukan sejalan dengan pergeseran kekuatan global, sejalan dengan the emergence of Asia sebagai satu kawasan, Indonesia menjadi bagian dari pertumbuhan itu. Itu yang pertama. Yang kedua, sekarang ini, membangun jembatan sangat penting, building bridges among civilization, among nations, among economies, dari aspek geopolitik, geoekonomi, geobudaya, networking menjadi penting, connectivity menjadi ciri dari globalisasi. Oleh karena itu, kalau sekarang kita sudah menjemput, memulai, membangun networking, maka suatu saat ketika kawasan itu tumbuh dengan baik, kita lagi-lagi tidak akan tertinggal. Kita menjadi bagian utuh dari pertumbuhan karena we are part of the global community di Asia Pasifik, di kawasan ini. Itu yang saya harapkan, kemajuan Asia, apa namanya, kebangkitan Asia, disertai pula dengan kemajuan dan kebangkitan Indonesia sebagai bagian integral dari masyarakat Asia.

Saudara-saudara,
Khusus tentang demokrasi di Indonesia, ada yang khas. Barangkali kita tidak menyadari, Indonesia adalah bertemunya tiga nilai peradaban. Yang pertama adalah eastern civilization, yang juga sangat dipengaruhi pada abad ke-3, civilization Hindu dan Budha, yang datang lebih dulu ke tanah air kita, membentuk nilai perilaku, karakter, cara pandang dari civilization itu. Kemudian abad ke-12, 13, datang Islamic civilization, yang juga masuk, berinteraksi dengan civilization sebelumnya. Abad ke-17, 18 ketika terjadi revolusi industri di Eropa, ketika bangsa-bangsa Eropa datang, dan itu adalah era globalisasi yang pertama, lagi datang-datang nilai demokrasi, nilai Kristiani, yang semua itu akhirnya dalam perjalanan kehidupan bangsa Indonesia bersatu, bersama-sama berinteraksi, membangun the Indonesian civilization.

Ada masa pasang surut, ada kalanya terjadi benturan, konflik, ada kalanya mereka begitu harmonisnya hidup rukun secara damai. Proses besar inilah yang harus kita pahami, karena we are great. Suatu saat, Indonesia, kita tidak tahu, pasti generasi yang akan datang, akan menjadi model dimana tiga akar-akar peradaban bersatu, hidup berdampingan secara damai dan bisa menjadi contoh dunia mengapa ada benturan peradaban yang sangat keras, clash of civilization, mengapa tidak kita bangun harmony among civilization. Kita bisa bicara seperti itu. Someday kalau Indonesia betul-betul bisa membangun, bisa menata, bisa menjadi contoh dari bertemunya peradaban itu.

Itu tidak bisa datang dengan sendirinya, saudara-saudara, has to be created, has to be built. Kita semua. Terutama yang generasi muda para mahasiswa, pada saatnya kalian akan mengemban tugas besar ini, tugas yang mulia menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang besar, bukan bangsa yang dihantui oleh pertentangan konflik dan kekerasan, tapi bangsa yang hidup dalam kemajemukan secara damai, harmony in diversity, not only unity, harmony in diversity di antara banyak agama, di antara banyak etnis, di antara banyak suku, di antara banyak daerah, tapi harmonious, harmony, rukun, itu yang menjadi tujuan kita.

Saya mengatakan, pengalaman, perjalanan panjang demokrasi kita patut kita sumbangkan dalam proses dialog, dalam forum Bali Democracy Forum ini, ataupun forum-forum yang lain. Kemudian kita pernah mengenal dulu, pertama-tama setelah merdeka kita menganut demokrasi liberal, tidak bisa bertahan. Bung Karno kemudian menganut yang disebut demokrasi terpimpin, berubah lagi. Pak Harto menganut demokrasi Pancasila, yang hampir semuanya ada plus dan minusnya, problematik, dan kemudian 10 tahun terakhir kita memasuki wilayah baru, demokrasi yang kita kembangkan seperti ini.

Demokrasi yang kita jalankan sekarang ini, barangkali juga problematik, ada plus dan minusnya. Ada persoalan lack of freedom, negara-negara yang authoritarian, bermasalah itu. Tapi ada juga barangkali negara yang too much freedom, itu juga bermasalah. Oleh karena itu, alhamdulillah, demokrasi sudah mekar, kebebasan sudah hadir, termasuk kebebasan pers, penghormatan pada hak asasi manusia, itu adalah karakter negara demokrasi, marilah kita sandingkan. Jangan demokrasi berjalan sendiri, ajak bersama-sama dengan rule of law, kepatuhan pada pranata hukum dan pranata sosial dan kemudian harmoni. Hanya dengan itu, maka demokrasi itu memiliki akar kepribadian, atau akhlak atau kebaikan yang baik.

Saya setuju dengan falsafah, trihita karana, satu keseimbangan yang luar biasa, kita dengan Sang Pencipta. Kita dengan alam dan kita sesama manusia. The principal of balance, the principal harmony, itulah yang harus kita tuju, menyadari bangsa kita begitu majemuknya dengan perjalanan dan akar sejarah yang panjang.

Saudara-saudara,
Semua itu bisa kita sumbangkan, dunia tengah melihat Indonesia. Indonesia yang dianggap akan runtuh pada tahun 1957, zaman mendiang Bung Karno, kemudian yang diramalkan juga akan runtuh lagi 10 tahun yang lalu, tidak. Kita tetap tegar. Kita survive, bahkan kita makin bersatu, makin kuat dan makin maju. Ini momentum yang baik, ketika dunia melihat bangsa kita bangkit, jangan kita sia-siakan kesempatan sejarah ini. Kita menjadi contoh, kita menjadi model, sambil kita juga belajar dari negara lain. Mereka banyak belajar dari kita, jangan malu-malu. Kita menimba pengalaman yang baik. Globalisasi ada yang baik, ada yang buruk. Globalisasi, ada opportunity dan ada threat. Threat-nya kita tolak, kita hadapi. Yang buruk-buruk kita tahan, tapi yang baik-baik, jangan kita menutup diri karena akan membawa kemajuan dan manfaat bagi bangsa kita.

Itulah yang mesti kita renungkan, Saudara-saudara tentang perkembangan dunia, perkembangan Asia dan bagaimana Indonesia sebagai bangsa tidak menonton, tetapi kita menjadi bagian dinamis dari perubahan dan perkembangan itu.

Saudara-saudara,
Saya katakan tadi di kesempatan pagi hari, yang mesti kita bangun adalah keseimbangan. Saya senang, saya menghormati, saya setuju dengan the principle of balance, sebagaimana tadi yang disampaikan oleh Saudara Made Mangku Pastika, trihita karana. Sekarang di negara maju, di Amerika Serikat saja, ada discourse, ada wacana, antara freedom and security, antara democracy atau liberty dengan security. Setelah terjadi peristiwa, 9, ulangi nine eleven, tahun 2001. Yang penting the right to be free atau the right to be secured. Dulu barangkali tidak terbayangkan, tapi we are seeking a proper balance, ya demokratis, ya aman. Sama dengan mana titik keseimbangan antara individual freedom dengan social obligation. Apa boleh orang seorang masih sendiri, makmur sendiri-sendiri, meninggalkan masyarakatnya, yang masih jauh dari kemakmuran, kita juga memerlukan keseimbangan yang baik. Keseimbangan antara mana yang kita dulukan, freedom, openness, democracy, atau prosperity, kesejahteraan, development. Mari kita cari titik keseimbangannya.

Dulu, Gorbachev, sekaligus Perestrioka dengan Glasnost, dua-duanya ternyata tidak berhasil. Mendiang Deng Xiaoping, China, ekonomi dulu, kemudian baru implementing political openness. Apa itu? Mari kita pilih sendiri, di negeri kita ini. Barangkali tidak tepat dua-duanya. Tapi yang ingin saya sampaikan adalah kita memerlukan satu kehidupan yang penuh dengan keseimbangan, penuh dengan kerukunan, tapi juga menjanjikan kemajuan dan perubahan yang dinamis.

Itu adalah proses besar, satu proses yang terus evolving. Sepuluh tahun, sepuluh tahun, sepuluh tahun dan saya kira abad 21, abad yang menjanjikan bagi bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang besar kita harus punya grand strategy. Kita harus punya reason, kita harus punya direction, tentu saja kita mengatasi sekarang ini, krisis keuangan global, resesi keuangan dunia dan dampaknya pada Indonesia. Kita mengatasi masalah pengangguran baru yang bisa muncul, kita mengatasi gangguan terhadap sektor riil, kita menata kembali sistem kita, bikin baik pendidikan, bikin baik kesehatan, menghidupkan usaha mikro kecil dan menengah, semua kita tangani dari hari ke hari.

Tetapi bangsa yang besar, 230 juta, 8 juta km2 tanah air kita, dengan warisan sejarah yang luhur, kita harus punya arah, kita harus punya grand strategy, kita harus punya fundamental consensus yang membikin negara kita terus akan maju melintasi tantangan-tantangan yang bisa menghadang perjalanan kita. Itulah sebabnya di banyak kesempatan, boleh kita melakukan reformasi, tetapi fundamental consensus tidak boleh kita tinggalkan, tidak boleh kita pinggirkan. Ideologi negara, Pancasila, bangun negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia, konstitusi kita, Undang-undang Dasar 1945, yang tercermin dalam pembukaannya dan bhineka tunggal ika. Itu adalah fundamental consensus, reformasi apapun juga, jangan pernah itu ditinggalkan.

Saudara-saudara,
Itu semua, harapan saya menjadi domain, menjadi isu-isu utama yang nanti saya limpahkan kepada The Institute for Peace and Democracy. Harus bisa. Saya yakin bisa.

Harapan kepada Universitas Udayana, ini pertama kali saya berkunjung, saya sering mondar-mandir ke Garuda Wisnu Kencana, bersama istri, “Wah ini kampusnya besar, indah, kapan kita bisa mampir?” Alhamdulillah hari ini saya bisa datang ke sini. Mari kita jadikan, Pak Rektor, Pak I Made, Institute for Peace and Democracy ini benar-benar menjadi institut yang ternama di Asia dan di dunia.

Saya kasih target dalam waktu 10 tahun harus muncul menjadi world class institute. Mari kita jadikan Universitas Udayana world class university. Dimulai dulu dari barangkali peace and democracy, politik, hubungan internasional dan tourism. Tidak boleh kalah fakultas pariwisata dengan fakultas dimanapun juga. Bali gudangnya. Bali pusatnya. Bali itu segalanya. Saya ingin suatu saat fakultas pariwisata di UNUD, di Universitas Udayana adalah yang terbaik di dunia. Jangan menganggap, “Ah, mana mungkin?” Mungkin. Masih panjang, lebih cepat bisa kita hadirkan.

Oleh karena itu, nanti kalau sudah berdiri, undang tokoh-tokoh besar di dunia untuk jadi guest speaker di institut ini. Pariwisata undang, teman – teman yang selama ini menjadi arsitek dari semua, apa namanya, perkembangan dunia kepariwisataan maupun business mice, meeting, incentive, convention and exhibition, yang itu menjadi titik kekuatan Bali. Saya bilang kepada Pak Gubernur, bikin lagi nanti convention yang baru, yang sekarang sudah ndak cukup, ndak cukup. Tapi nanti saja lewat dulu krisis keuangan ini, lewat dulu, selamat kita, Bali tumbuh, turisnya bagus, bikin yang baru nanti supaya lebih banyak lagi yang datang ke Bali.

Saudara-saudara,
Sebelum saya mengakhiri sambutan ini, tadi saya dalam konferensi pers ditanya oleh wartawan, pertanyaanya bagus dan saya berterima kasih karena dengan demikian saya bisa menjelaskan kepada publik, kepada rakyat. Pertanyaannya kurang lebih begini, “Pak, inikan sedang ada krisis keuangan global, di dunia terancam pengangguran, negara kita barangkali mengalami. Apa relevan Pak ini ada Bali Democratic Forum?” Kalau diteruskan pertanyaannya barangkali apa relevan kita bikin The Institute for Peace and Democracy. Pertanyaannya bagus.

Begini. Kita sekarang ini tidak pernah berhenti, Pemerintah, Bank Indonesia, Pemerintah Daerah, dunia usaha menangani krisis, meminimalkan dampak dari resesi perekonomian dunia dan keuangan global untuk agar kita bisa survive, momentum pertumbuhan kita jaga dan masalah kita atasi. Tidak pernah berhenti. Itu satu. Sedangkan ide ini sudah lama, 1 tahun. Dua hari kita melakukan aktifitas di Bali tidak akan mengganggu semua yang kita laksanakan sekarang ini dan ke depan.

Yang kedua Saudara-saudara, salah dan keliru kalau sikap kita menghadapi krisis keuangan, sudahlah, nggak usah ada kegiatan apa-apa, di rumah saja sambil berdoa. Doa sangat penting kepada Yang Maha Kuasa, tetapi saya minta seluruh rakyat Indonesia, kegiatan seperti biasa saja, mereka yang punya kemampuan apalagi yang kaya saya minta terus membeli, spending, agar yang diproduksi oleh rakyat kita entah barang, entah jasa, ada yang membeli. Yang berbahaya adalah kalau rakyat kita menahan diri, tidak mau bikin aktifitas, tidak mau membeli apapun padahal punya, itulah yang bikin bangkrut pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan, usaha mikro kecil dan menengah. Dan itu yang terjadi resesi betul, krisis betul, jangan. Business as usual dalam arti yang positif. Mari seperti biasa.

Bayangkan kalau misalkan ini dibatalkan dua hari ini. Ini ekonomi. Berapa akomodasi untuk hotel, berapa airline, berapa makanan, kemudian beliau tinggal di sini tambah 2 hari 3 hari, length of stay untuk tourism that’s economy, that’s real economy, real sector. Kalau yang begini-begini kita batalkan, wah nggak enak kita, lebih baik di rumah saja nggak usah beli, padahal kita punya kemampuan. Itu yang berbahaya.

Saya menganjurkan seluruh rakyat Indonesia kegiatan seperti biasa saja. Ada masalah, kami bekerja. Pemerintah tidak diam untuk mengembangkan policy, mengembangkan insentif, bagaimana nanti kalau ada pengangguran. Amerika bulan lalu 533 ribu, setengah juta lebih, Indonesia yang tercatat 15 ribu, negara lain juga begitu, kita atasi, kita kelola. Tapi kalau kita berhenti melaksanakan aktifitas seperti tadi, berhenti membeli, akan lebih banyak lagi PHK, karena perusahaan-perusahaan akan tutup, memproduksi barang, tidak ada yang mengkonsumsi. Itu rahasianya.

Dan kemudian, yang ketiga tentunya semua itu kita kelola secara proporsional. Jadi saya berharap tetap institut ini terus dikembangkan. Forum ini tiap tahun bisa kita lakukan, karena di sinilah kita bisa berperan di kawasan ini sambil juga meningkatkan perekonomian kita, bisnis kita untuk tujuan yang baik.

Saudara-saudara,
Itulah yang dapat saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Terima kasih sekali lagi kepada Saudara Menlu yang saya kenal amat gigih untuk mendirikan, untuk membangun, untuk mendapatkan partnership dengan negara-negara sahabat. Terima kasih Pak Gubernur, Pak Rektor dan semua pihak yang memungkinkan berdirinya institut ini dan lahirnya Bali Democracy Forum. Dengan itu semua, dengan terlebih dahulu memohon ridho Tuhan Yang Maha Esa, Institute for Peace and Democracy saya resmikan.

Sekian.
Om shanti, shanti,shanti, om.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan