Pidato Presiden
Sambutan Konferensi Nasional Kesadaran Perempuan dalam Ketahanan Pangan Keluarga
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA
ACARA KONFERENSI NASIONAL KESADARAN PEREMPUAN DALAM KETAHANAN PANGAN KELUARGA
JAKARTA, 13 NOVEMBER 2008
Bismillahhirahmannirrahim,
Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya cintai Ibu Negara dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Gubernur DKI Jakarta, dan para Gubernur, serta Pimpinan dan Pejabat Daerah dari seluruh tanah air, para Pimpinan Organisasi Kewanitaan, Ketua Penyelenggara Konferensi Nasional dan Pameran, Ibu-ibu, Pimpinan dan Pengurus Organisasi Kewanitaan dari seluruh daerah Republik Indonesia, para Pimpinan Dunia Usaha yang bergerak di bidang pangan dan pertanian, para Pimpinan Media Massa,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan semoga kesehatan, untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta. Kita juga bersyukur, hari ini dapat bertemu di tempat ini untuk bersama-sama mengikuti pembukaan dan nantinya kegiatan Konferensi Nasional dan Pameran yang Ibu-ibu selenggarakan, yang bertemakan “Kearifan Lokal Perempuan Indonesia Menuju Ketahanan Pangan Keluarga”. Oleh karena itu, terkait dengan prakarsa ini atas nama negara dan pemerintah, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas prakarsa Ibu-ibu untuk menyelenggarakan acara ini. Semoga Ibu-ibu dapat ikut berkontribusi dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan di negeri ini, utamanya ketahanan pangan keluarga.
Saya juga mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta dari tanah air, dengan harapan yang sama, di daerah masing-masing, Ibu-ibu dapat mengembangkan ketahanan pangan, ketahanan pangan keluarga, maupun perekonomian lokal.
Hadirin yang saya muliakan,
Sebelum saya menyampaikan ajakan dan harapan kepada Ibu-ibu khususnya, berkaitan dengan upaya besar kita untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional, saya ingin menyampaikan beberapa ilustrasi, visualisasi, dan cerita, sebagai bagian dari dinamika di negeri kita ini, upaya masyarakat, upaya anak bangsa, untuk meningkatkan ketahanan pangan kita.
Kemarin saya berkunjung ke Desa Situ Mekar, Kecamatan Lembur Situ, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Saya datang ke tempat itu untuk mengucapkan terima kasih, untuk memberikan penghargaan, untuk berpanen bersama, dan untuk bersama-sama membulatkan tekad dan komitmen, serta kerja nyata kita untuk meningkatkan ketahanan pangan, khususnya meningkatkan produksi beras atau padi kita.
Kemarin, ada kelompok tani namanya Kelompok Tani Harum I, dua orang, satu laki-laki, satu perempuan, menyampaikan kepada saya pengalaman, suka duka, tekad, bagaimana mereka semua bekerja sama dengan perusahaan swasta dibimbing oleh Departemen Pertanian, diberikan fasilitas oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi. Benih yang dipilih adalah benih Hibrida Bernas Prima.
Dilaporkan kemarin, pertama-tama mereka tidak yakin, sulit menerima benih yang baru itu, takut gagal, dan sebagaimana. Singkat kata, mereka melakukan kerja sama dan pengembangan itu, sehingga dilaporkan kepada saya, dan di depan hadirin yang lain, padinya rata-rata panen mereka 6 ton gabah kering giling per hektar. Kemarin katanya rata-rata sudah 12 ton per hektar. Bahkan, puncak panen tertinggi dikatakan 16 ton per hektar. Dengan demikian, alhamdulillah, kata beliau-beliau itu penghasilan petani dengan rata-rata produksi beras itu menjadi Rp 2.000.100 per bulan.
Saya katakan bersyukur pada Allah, berterima kasih kepada semua, tolong dipelihara, dijaga keberlanjutannya. Budaya kita ini yang senang budaya menebang, memangkas, mengambil. Ibu-ibu tahun lalu sudah mempelopori budaya menanam, tapi tidak cukup hanya menanam, plus memelihara. Saya katakan, tolong para petani lanjutkan seperti ini, tanam dan pelihara dengan baik, saya minta para penyuluh lapangan pertanian, dampingi dan bimbing, sehingga makin ke depan makin bagus. Kalau banyak lagi kisah-kisah sukses seperti ini, di seluruh Indonesia, insya Allah tahun demi tahun produksi beras kita akan meningkat. Oleh karena itu, saya selalu mendorong, memberikan ruang. Saya juga senang, para Gubernur, Bupati, Walikota juga melakukan hal yang sama, memfasilitasi, mendorong kreasi para petani, inovasi usaha pertanian yang secara terpadu mereka lakukan, tujuannya baik untuk meningkatkan produksi pangan bisa, padi bisa, jagung bisa, kedelai, dan lain-lain.
Namanya penelitian dan pengembangan, ada yang cepat berhasil, ada yang lama berhasil. Ada yang pertama, kedua gagal, berikutnya lagi baru berhasil. Oleh karena itu, jangan diejek, jangan dicemooh kalau penelitiannya belum berhasil, justru berikan semangat, karena kalau sudah seperti kemarin alhamdulillah semua mendapatkan keuntungan. Ini pesan saya kemarin.
Dan Bapak-ibu sekalian yang saya muliakan,
Alhamdulillah, jika tidak ada aral melintang tahun ini insya Allah kita kembali berswasembada beras. Kita juga berswasembada jagung, insya Allah padi, beras kita bisa surplus. Tahun 2007 yang lalu, produksi nasional kita 57 juta ton gabah kering giling, naik dibandingkan tahun 2006, 4,96 persen. Kenaikan tertinggi dalam kurun waktu 12 tahun. Kalau tahun ini sebagaimana diramalkan oleh BPS, kita insya Allah bisa mencapai 60 juta ton gabah kering giling, itu naik 5,46 persen.
Ini sekali lagi patut kita syukuri, saya mengucapkan terima kasih kepada semua, Departemen Pertanian, para Gubernur, Bupati, Walikota, para Petani, semua, karena kerja kerasnya yang kita lakukan sejak tahun 2006, setelah tahun 2005 kita lakukan revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan, buahnya mulai kita rasakan, it is a good begining, belum rampung, harus terus kita lakukan menuju era Indonesia memiliki kemandirian pangan. Bukan mustahil, insya Allah kita bisa menuju ke kemandirian pangan terutama pangan utama, utamanya lagi adalah beras.
Apakah pemerintah tidak melakukan langkah-langkah yang serius? Kami melakukan langkah-langkah yang sangat serius. Mengapa? Kalau kita ingin produksi pangan kita meningkat, tentu anggaran pertanian dan yang berkaitan dengan itu, termasuk irigasi untuk pengairan kita tingkatkan. Saya tahu masih ada persoalan pupuk yang terus menerus kita carikan solusinya, berkaitan dengan pengadaan, distribusi, harga subsidi, keisengan, kenakalan, harga subsidi dijual di tempat yang tidak semestinya, dan lain-lain. Tapi ingat, pemerintah memberikan subsidi yang besar. Subsidi itu untuk apa? Untuk subsidi pangan, subsidi pupuk, subsidi benih, dan subsidi kredit pangan.
Saya berikan gambaran, kalau tahun 2005 dulu besarnya hanya Rp 9 triliun, meskipun waktu itu cukup besar. Tahun 2008 ini sudah mencapai Rp 29 triliun, naiknya luar biasa. Insya Allah tahun depan, kecuali ada penyesuaian karena krisis keuangan global ini, kita sudah dengan DPR menetapkan anggaran Rp 33 triliun untuk subsidi pertanian, irigasinya Rp 8,8 triliun. Saya hanya ingin menggambarkan, kalau kita ingin meningkatkan produksi pangan, kalau kita ingin meningkatkan produktivitas pangan yang lebih tinggi alokasi sumber daya, termasuk anggaran mesti kita tingkatkan.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Itu pengantar pertama. Pengantar kedua, bulan lalu saya menghadiri pertemuan puncak ASEM, Asia Eropa Meeting, yang dihadiri oleh para Presiden dan Perdana Menteri Asia dan Eropa sebanyak 45 Kepala Pemerintahan. Di tengah-tengah kegiatan itu, saya bersama delegasi Indonesia meninjau Beijing University of Chinese Medicine. Saya datang untuk membandingkan dengan upaya kita meningkatkan produksi dan ekonomi jamu, obat-obat tradisional, dan herbal. Mengapa Saudara-saudara? Indonesia bersama-sama Brasil dan Kongo itu disebut sebagai Mega Bio Diversity, luar biasa magnitude termasuk keragaman flora dan fauna kita, termasuk sumber-sumber obat-obat tradisional dan herbal.
China memiliki jalan panjang untuk membangun produksi dan ekonomi itu, kita membandingkan, kita menimba pengalaman, dan kita belajar. Tidak perlu malu kita belajar dari negara lain, negara lain juga banyak belajar dari kita. Oleh karena itu, dengan apa yang saya lakukan kemarin, saya punya pikiran baru, saya ajak para pimpinan universitas yang menangani bidang obat-obatan dan tradisional, saya ajak beberapa pengusaha dibidang itu, dan mereka sepakat, kita sepakat, Indonesia bisa mengembangkan subsektor ini sebagai sumber perekonomian yang baru. Insya Allah dengan gerakan yang Ibu-ibu lakukan akan masuk pula nanti dalam bagian meningkatkan ketahanan pangan keluarga, termasuk di dalamnya tanam-tanaman obat-obatan. Ini cerita yang kedua.
Cerita yang ketiga. Ketika dunia mengalami krisis pangan dan krisis energi awal tahun ini. Banyak negara terpukul, banyak negara yang nasibnya lebih buruk dibandingkan Indonesia yang juga terpukul oleh krisis energi dan krisis harga pangan kemarin. Segera setelah itu kami melaksanakan pertemuan di Yogyakarta. Kami undang beberapa pihak hadir, yang intinya dunia sedang tidak bersahabat, sedang bermasalah, masalah energi dan masalah pangan. Apakah kita hanya mengeluh?. Apakah kita hanya menyalahkan dunia?. Apakah hanya pandai apa namanya menghujat dan menyalahkan?. Bukan itu pilihan kita. Mari kita berikhtiar, berupaya untuk mengatasi secara domestik. Harus mengubah dari krisis menjadi peluang, from crisis to opportunity. Kita melakukan serangkaian pembahasan yang mendalam sampai dengan actions plan, sampai dengan kebijakan apa yang perlu dikeluarkan pemerintah, baik pusat maupun daerah. Insentif fiskal seperti apa agar terjadi pergerakan perekonomian baru, meningkatkan ketahanan pangan dan meningkatkan ketahanan energi.
Semua itu kita lakukan, hadirin sekalian, agar sekali lagi, di tengah-tengah permasalahan dunia, ada krisis iklim, kita tahu semua climate change, dan global warming, ada crisis of food, ada crisis of energy, apa yang bisa kita lakukan secara domestik, yaitu meningkatkan ketahanan pangan dan ketahanan energi. Lagi-lagi yang Ibu lakukan hari ini dan hari-hari mendatang adalah bagian penting dari upaya nasional itu.
Peserta Konferensi Nasional dan Pameran yang saya cintai, Pertanyaannya kemudian adalah mengapa pangan itu penting?. Mungkin ada yang mengatakan mutlak bahkan. Ya pertama-tama, tidak mungkin kita hidup tanpa apa, tanpa pangan, kalau kita tidak makan, tidak bisa survive, kalau kita kurang pakaian, meskipun alhamdulillah pakaian kita tidak kurang, barangkali masih bertahan, rumah kita belum baik, belum lengkap semuanya, rakyat kita masih bisa bertahan, tetapi kalau kita kurang pangan tentu tidak ada keberlanjutan hidup kita. Pertama mengapa pangan itu penting.
Yang kedua, Ibu-ibu sekalian, penduduk dunia sekarang besarnya atau jumlahnya 6,6 miliar, masih akan bertambah lagi. Mereka memerlukan pangan. Akan ada kompetisi, penggunaan sumber daya yang tersedia di bumi ini untuk pangan, untuk energi, untuk air, dan kebutuhan yang lain. Oleh karena itu, jangan salah kita mematok kebijakan dan strategi, mempertahankan ketahanan dan kecukupan pangan.
Berikutnya lagi mengapa pangan mutlak? Kita ditunjukkan tahun ini, ada krisis harga pangan, ya supply-demand, ada produksi konsumsi, ada perubahan iklim mengakibatkan gagal panen, ada kelompok menengah ingin makan lebih banyak lagi, dan sebagainya. Tapi yang jelas dunia menghadapi krisis pangan. Lantas untuk Indonesia, alhamdulillah, meskipun negara kita rawan gempa, rawan bencana, tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan sumber daya alam yang besar sebetulnya, kalau kita pandai mengelolanya tentu tidak ada kamus, tidak ada cerita Indonesia kekurangan pangan, tidak ada.
Oleh karena itu, dengan geografi kita, dengan iklim kita, dengan way of life bangsa kita yang sejak dulu bercocok tanam dan bertani dengan cara-cara yang baik, mari kita lanjutkan, kita bangun kembali, go local back to nature, mengangkat kearifan lokal sebagaimana yang ditemakan oleh Ibu-ibu sekalian agar betul-betul kita bisa membangun ketahanan pangan, Swasembada, kemandirian bukan sesuatu yang ilusi, itu bisa kita wujudkan di negeri ini. Kita mulai dengan contoh kemarin di Sukabumi dan cerita-cerita yang baik dari provinsi yang lain dan juga apa yang Ibu-ibu lakukan dewasa ini.
Untuk itu semua, saya secara tulus menyampaikan apresiasi kepada Ibu-ibu sekalian dan kepada seluruh kaum perempuan Indonesia. Alasan saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan, tahun lalu Ibu-ibu, yang Ibu Negara, Ibu Jusuf Kalla, SIKIB, bersama yang lain aktif mempelopori gerakan ini, Ibu-ibu melakukan gerakan yang bersejarah, tanam dan pelihara pohon. Tadinya ditargetkan 10 juta, saya mendengar mencapai hampir 15 juta, boleh tepuk tangan. Dimana 15 juta tersebar di seluruh Indonesia, Ibu-ibu semuanya yang ada di provinsi, kabupaten dan kota.
Tahun ini dilanjutkan, tanam dan pelihara pohon dengan spesifikasi tahun ini adalah pohon-pohon yang produktif, contohnya kelapa dan sukun, dan yang lain-lain. Ini tentu juga kegiatan yang bersejarah, karena Ibu-ibu memilih menjadi bagian dari solusi, bukan menjadi bagian dari persoalan di negeri ini, tepuk tangan yang kedua boleh.
Yang ketiga, kalau orang seperti saya, para Menteri, para Gubernur, dan yang lain-lain memikirkan ketahanan pangan nasional, ketahanan pangan daerah, Ibu-ibu sekarang memikirkan ketahanan pangan keluarga, ini yang saya senang, yang saya dukung, dan tentu para Gubernur akan bersama-sama mendukung, karena akhirnya kegiatan masak-memasak, hidang-menghidangkan, makan-memakan itu pada keluarga, bukan di tempat-tempatnya Kepala Desa, bukan di tempatnya lurah, tapi di rumah tangga masing-masing. Keluarga adalah basis kehidupan. Bagi keluarga yang kurang mampu, Ibu-Ibu, yang ekonominya dan penghasilannya pas-pasan, Pemerintah di seluruh Indonesia, Pusat dan Daerah melakukan sesuatu.
Contohnya apa?. Bagi yang masih miskin, saya katakan masih, insya Allah suatu saat kemiskinannya berkurang, insya Allah suatu saat makin ke depan terbebas dari kemiskinan. Bagi yang masih miskin itu karena ndak cukup penghasilan sehari-harinya untuk kebutuhan sehari-harinya, kita bantu misalnya berobat kita gratiskan, sekolah kita bantu habis-habisan pembiayaannya, ada beras untuk kelompok miskin itu, ada bantuan untuk lanjut usia, ada bantuan yang terkena bencana, ada bantuan langsung tunai bersyarat atau PKH yang juga kita lakukan. Itu bantuan langsung dengan dana puluhan trilyun, ditambah dengan PNPM, ditambah dengan KUR, kredit usaha untuk usaha mikro dan kecil. Tujuannya penghasilan yang pas-pasan itu sebagian kalau bisa, entah 50 ribu rupiah, entah 20 ribu rupiah bisa ditahan, diganti dengan itu semua, mungkin juga pas. Kalau dibantu lagi dengan ketahanan pangan keluarga, tanaman-tanamannya di pinggir-pinggir desa, di pinggir-pinggir kampung, ada yang bisa menambah penghasilan sehari-harinya, ada yang dikonsumsi untuk tidak semuanya membeli ke pasar, maka penghasilan yang pas-pasan itu lebih cukup lagi untuk memenuhi kehidupannya yang lebih layak.
Jadi, dari segi itu, pas betul upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga dengan variasi tadi, entah perikanan lokal, entah tanaman obat-obatan lokal, ataupun tanaman-tanaman padi-padian, umbi-umbian, sayur-sayuran, dan sebagainya.
Hadirin yang saya muliakan,
Dari perspektif itu, dari cara pandang itu, maka kita semua paham, saya yakin semua mendukung. Gerakan ini penting dan harus disukseskan sebagai bagian dari gerakan nasional membangun kemandirian pangan, meningkatkan ketahanan pangan kita.
Ibu-ibu,
Kita tahu bahwa kita hidup dalam era globalisasi, sebenarnya Indonesia masuk dalam era globalisasi, perekonomian Indonesia terintegrasi dengan perekonomian dunia sudah terjadi pada abad ke-17 yang lalu, sejak maskapai-maskapai perekonomian Eropa datang, sejak Bangsa-bangsa Eropa datang sampai dengan penjajahan oleh pemerintah kolonial, sudah terintegrasi. Tetapi globalisasi waktu itu belum seperti globalisasi sekarang. Globalisasi terus terang ada baiknya, ada tidak baik, menghadirkan peluang tapi menghadirkan tantangan, ada nilai-nilai yang bisa kita adopsi, ada nilai-nilai yang harus kita tolak. Dan ditambah lagi kita baru berhadapan dengan krisis keuangan global, bangsa kita tidak bersalah, bangsa kita sedang giat-giatnya membangun, giat-giatnya menanam, meningkatkan perekonomian kita, memelihara keamanan di tanah air, menegakan hukum, membikin pemerintahan itu lebih bersih dan berwibawa, dan sebagainya. Tiba-tiba ada tsunami keuangan, pusat tsunaminya, pusat gempanya, episentrumnya di Amerika Serikat, merambat ke Eropa, memukul Eropa terus merambat, kita kena. Kenapa kena? Ya gara-gara globalisasi, ya gara-gara berintegrasi, sistem keuangan global, sistem perekonomian global, termasuk perdagangan dan investasi.
Menghadapi itu semua lagi-lagi tidak perlu kita berteriak-teriak ke sana-kemari, unjuk rasa setiap hari, menyalahkan globalisasi, mari kita sadar, itulah globalisasi. Dan bangsa yang cerdas adalah dalam keadaan dunia seperti itu, apa yang bisa kita lakukan? Yang bisa kita lakukan adalah hati-hati dalam kita membangun perekonomian dalam konteks globalisasi. Jangan mau menjadi bangsa yang amat bergantung pada dunia, pada negara-negara lain, pada kekuatan lain. Kerja sama global, kemitraan global diniscayakan untuk kepentingan kita, tetapi sekali lagi mari kita lebih mandiri, mari kita bisa mencukupi kebutuhan pokok kita, kebutuhan sehari-hari kita, sehingga kalau ada gonjang-ganjing seperti sekarang ini, krisis pangan, krisis energi, krisis keuangan, kita survive, kita tetap hidup dan kita bisa terus menjalankan kehidupan kita.
Saudara-saudara,
Saya sudah mengatakan tadi, ada yang mengatakan go global, semua harus diintegrasikan, saya kurang setuju. Pengalaman menunjukkan kalau kita terikat penuh dengan komunitas global, yang komunitas itu memiliki aturan atau rules, pemerintahan atau governance, kelembagaan atau institusi yang belum aman, belum stabil, tidak adil, berbahaya kalau kita integrasikan semuanya dalam komunitas global itu. Oleh karena itu, kita berjuang terus. Habis acara ini saya berangkat ke Amerika Serikat, juga untuk secara bersama-sama melakukan perubahan pada sistem, pada tatanan, pada arsitektur keuangan global yang bikin masalah seperti ini, dan langkah-langkah lain, langkah bersama dunia, langkah bersama kawasan untuk mengatasi krisis keuangan ini.
Poin saya adalah, sementara kita ikut berjuang untuk membangun tatanan dunia yang adil, yang membawa kemakmuran bagi semua itu, apa yang bisa kita lakukan secara domestik, mari kita lakukan. Kalau tahu pangan dunia bermasalah, jawabannya ini antara lain, kalau tahu karena perubahan iklim itu mengganggu semuanya, ya kita selamatkan tanah air kita, sama dengan akhirnya menyelamatkan bumi kita. Itu semua yang harus kita lakukan, sehingga yang saya sampaikan tadi go local, kembali lihat kampung halaman, desa-desa, kecamatan-kecamatan, kabupaten-kabupaten mesti kita lakukan. Sumber daya yang kita miliki mesti diolah sebaik-baiknya. Untuk siapa? Untuk masyarakat di kabupaten, di kota, di kecamatan, dan di desa itu, pemerintah nasional memikirkan segalanya. Para Gubernur memikirkan provinsinya, tapi mesti ada gerakan-gerakan lokal berangkat dari kearifan lokal, dengan semangat semuanya harus lebih mandiri, semuanya menjadi sabuk pengaman manakala kita menghadapi krisis.
Hadirin yang saya muliakan,
Sedikit gambaran tentang krisis keuangan global meskipun semua sudah mengikuti lewat televisi, membaca koran, mendengarkan statemen saya dan statemen pejabat-pejabat yang lain, tapi singkatnya begini Ibu-ibu. Ini gara-gara krisis keuangan di Amerika Serikat, Eropa kena, dunia kena. Kita mengalami kesulitan, misalkan likuiditas, sumber-sumber keuangan untuk membiayai pembangunan, nilai tukar tidak stabil, devisa kita terganggu. Ini semua seolah-olah hanya masalah keuangan, atau money economy, tapi akhirnya cepat atau lambat memukul sektor riil, memukul real economy. Kalau sektor riil terpukul, mengganggu, bisa mengakibatkan pengangguran baru, bisa mengganggu kelemahan dunia usaha kita. Kalau dunia usaha kita lemah, pajak yang diserahkan pada pemerintah menurun, kalau pajaknya menurun, penerimaan kita berkurang, kalau penerimaan berkurang, membiayai pembangunan juga mengalami keterbatasan. Hanya satu titik di Amerika Serikat merambat ke seluruh dunia, kita mengalami kesulitan.
Oleh karena itu, sejak awal saya mengeluarkan statemen, “Tolong Amerika, tolong Eropa, pemimpin-pemimpin yang lebih kuat ekonominya, lebih maju negaranya, berbuatlah sesuatu yang sangat serius, meskipun kami yang kena getah, yang kena dampak juga terus mencari solusi yang terbaik.” Hari sabtu, berarti sekarang hari apa ini?. Kalau Presiden sudah lupa hari, sudah betul itu karena apa namanya, para Gubernur ketawa juga nih, biasanya kita ini Sabtu-Minggu pun kita anggap Senin sama Selasa begitu, karena PR-nya banyak, dan semuanya memerlukan kerja keras kita ya.
Sampai mana, lupa hari lupa apa nih?. Baik, jadi hari Sabtu itu 20 Kepala Pemerintahan sedunia, G-twenty, G-20, negara maju, negara berkembang, Alhamdulillah Indonesia diajak. Di situ tiga hal, kita ingin kepercayaan dunia ini kembali pulih terhadap pasar keuangan, kita ingin pasar menjadi lebih stabil tahun depan ini. Kita ingin ekonomi riil dunia tidak terhantam habis. Kita ingin tatanan atau sistem diperbaiki. Ya memang lebih kapitalistik sistem sekarang ini, lebih berorientasi kepada yang disebut dengan fundamentalisme pasar, tidak baik. Yang baik itu berimbang, diperlukan pasar terbuka agar ekonomi efisien, dan diperlukan peran pemerintah untuk menciptakan keadilan dan pemerataan. Inilah yang kita perjuangkan agar tidak rentan, tidak rawan, tidak berbahaya, dan lebih adil.
Setelah itu, ada pertemuan di Peru, itu kawasan Asia Pasifik, hajatnya sama. Setelah itu bulan depan ada pertemuan di Chiang May Thailand, itu ASEAN 10 negara, plus negara-negara di Asia Timur, China, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, Australia, hajat dan tujuannya sama. Tetapi, saya harus menyampaikan secara jujur dan terus terang, apa yang bisa dilakukan masyarakat global, apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat regional, Asia Pasifik itu tetap tidak bisa secara signifikan mengatasi masalah dalam negeri sebuah negara. Akhirnya, yang bisa persoalan di negeri kita ya kita sendiri. Kami yang di pusat, para Gubernur. Saya pernah bicara sama Pak Bibit Waluyo, kalau perlu rakyat nggak perlu tahu Pak itu ada krisis keuangan, itu tujuan kita. Jadi, kalau bisa kita selesaikan di tingkat Pemerintah Pusat dan Daerah, dan dunia usaha, tingkat itu semua, rakyat sehari-hari tuh kalau perlu tidak perlu merasakan. Itu harapan kita, karena arahnya mungkin akan merasakan kita cegah habis-habisan, kita lakukan berbagai upaya, kita carikan solusinya, supaya betul-betul boleh yang susah pemerintah dalam masa krisis ini, tapi jangan rakyat.
Bapak-ibu tahu namanya broke, kantong kita sedang kosong. Kalau yang kosong pemerintah, yang kosong negara, yang kosong pengusaha-pengusaha yang besar-besar, nggak apa-apa sekali-kali, jangan rakyat. Kalau rakyat nggak ada penghasilan, 1000, 2000, 10000, apa yang dia makan?. Jadi saya minta ini kewajiban moral kita, seluruh pemimpin, Ibu-ibu, semua, yang alhamdulillah barangkali taraf kehidupan Ibu-ibu lebih baik dibandingkan mereka. Marilah kita siang dan malam, tidak henti-hentinya mengatasi semua masalah ini, memelihara momentum pertumbuhan, menanggulangi kemiskinan, mengatasi dampak krisis keuangan untuk mereka semua.
Saya ingin menjelaskan tadi bahwa kita sendiri. Kemarin kami mengundang pimpinan dunia usaha, seluruhnya. Yang datang banyak sekali, saya ajak dunia usaha, saya tahu Bapak-ibu punya kesulitan sebagaimana pemerintah punya kesulitan, tapi ayolah, ayo bersama-sama ambil resiko, ayo bersama-sama mengumpulkan apa yang kita miliki, berikhtiar untuk memastikan sektor riil kita jangan sampai terhenti sama sekali. Saya tahu ada masalah, tapi mari kita jaga, untuk siapa Ibu-ibu? Sama, untuk rakyat kita, untuk Saudara-saudara kita yang memerlukan bantuan dari kita.
Ini adalah cara pandang, dan lagi-lagi salut saya, ini bukan lip service, bukan pujian yang tidak berdasar, karena Ibu-ibu memilih untuk menjadi contoh, Ibu memilih memberi contoh, apa yang bisa dilakukan dengan prakarsa ini, prakarsa tahun-tahun sebelumnya. Saya berharap bisa dilanjutkan dan saya berharap berhasil dengan baik. Kewajiban saya, saya mengajak seluruh jajaran Pemerintah, para Menteri, para pimpinan Lembaga, Pemerintah non-Departemen, pimpinan BUMN, para Gubernur, para Gubernur tolong sampaikan pada para Bupati dan Walikota, mari kita sukseskan gerakan Ibu-ibu ini di seluruh tanah air, karena Ibu-ibu telah memberi contoh dan menjadi contoh.
Dengan penjelasan, ajakan, dan harapan saya itu, maka akhirnya dengan terlebih dahulu memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa serta mengucapkan "Bismillahhirahmannirrahim", Konferensi Nasional dan Pameran Kearifan Lokal Perempuan Indonesia menuju Ketahanan Pangan Keluarga, dengan resmi saya nyatakan dibuka.
Sekian,
Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI



