Pidato Presiden

Sambutan Silaturahmi dengan Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURAHMI DENGAN FORUM SILATURAHMI KERATON
SE-NUSANTARA
ISTANA NEGARA, 29 NOVEMBER 2008



Bismilahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh

Selamat malam, salam sejahtera untuk kita semua,
Om Swastiastu,

Yang saya hormati Menteri Kourdinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Bapak Azwar Anas selaku sesepuh dan mantan Menko Kesra, Yang saya hormati pimpinan Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara Bapak Raja Ida Tjokorda Denpasar 9,
Yang saya cintai dan saya muliakan para Raja, para Sultan, para Sunan, para Panembahan, para Pengelisir dan para Pemangku Adat,
Yang saya hormati para Tamu kehormatan kita dari Belanda, dari Singapura dan dari Philipina,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,

Marilah pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke-hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan dan semoga kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada Bangsa dan Negara tercinta. Kita juga bersyukur pada malam hari ini dapat bertatap muka, bersilaturahim di Istana Negara ini dan semoga pertemuan kita malam hari ini membawa berkah dan kita semua dapat meningkatkan pengabdian kita kepada Bangsa dan Negara tercinta.

Tadi, Bapak Ida Tjokorda mengatakan bahwa di ruangan ini terpasang sejak tahun 2005 keenam gambar Presiden Indonesia, mulai dari Bung Karno Proklamator kita, pejuang kita, founding father kita, Pak Harto yang membangun negeri pada masa-masa yang sulit. Pak Habibie, Presiden ke tiga, Gus Dur, Ibu Megawati dan gambar saya. Beliau-beliau ini pendahulu-pendahulu saya, telah berbuat untuk bangsa dan negara yang kita cintai. Tantangan selalu berbeda diantara satu masa ke masa yang lain. Tetapi, Beliau-beliau ingin menyumbangkan yang terbaik untuk bangsa dan negaranya. Kewajiban saya meneruskan dan tentunya harapan kita, pemimpin-pemimpin yang akan datang terus melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa menuju masa depan Indonesia yang lebih aman, lebih damai, lebih adil, dan lebih sejahtera.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawan, pemimpin dan pendahulu-pendahulunya. Sebelum Bung Karno, kita mengenal banyak sekali pemimpin-pemimpin di negeri ini, di nusantara termasuk para raja, para sultan, para sunan, para panembahan dan semua yang telah memimpin manusia, komunitas, nenek moyang kita di waktu yang silam. Oleh karena itulah jangan pernah kita tidak menghormati para pendahulu kita, para pemimpin kita, para pahlawan-pahlawan kusuma bangsa.

Bapak-Ibu Hadirin yang saya muliakan,
Sebelum saya menyampaikan harapan, pesan, dan ajakan pada Bapak-Ibu sekalian, saya ingin memberikan pengantar secara singkat. Setiap saya bertemu dengan para pemimpin negara, pemimpin pemerintahan negara-negara sahabat, seperti kalau saya menerima tamu negara di Indonesia, Insya Allah lusa, saya akan menerima kunjungan Presiden India. Sebelumnya saya menerima kunjungan Presiden Madagaskar, dan tentu banyak pemimpin yang telah berkunjung ke Indonesia.

Minggu lalu saya berkunjung ke Lima, Peru, untuk menghadiri pertemuan puncak negara-negara ekonomi Asia Pasifik. Sebelumnya saya menghadiri pertemuan puncak G-20 di Washington DC untuk membahas bagaimana mengatasi krisis keuangan dan resesi ekonomi global. Sebelumnya sebulan yang lalu saya mengunjungi kegiatan atau pertemuan puncak di Beijing. Mempertemukan para pemimpin ASEAN, Asia dan Eropa. Dalam interaksi saya dengan Beliau-beliau itu, sering Beliau menanyakan lebih dalam tentang Indonesia. Yang diketahui sebagian besar, yang belum memahami secara mendalam negeri kita atau barangkali, bahkan belum pernah berkunjung ke negeri kita, yang dikenal adalah Indonesia itu negara dengan pulau yang banyak. Benar kadang-kadang. Lebih ke archipelago, archipelagic.

Beliau mengatakan Indonesia itu berpenduduk muslim terbesar, benar. Indonesia, penduduk muslimnya lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk di Timur Tengah misalnya. Tapi saya katakan lebih dari itu, Yang Mulia. Indonesia itu adalah negara yang sangat majemuk. memiliki keragaman seni, budaya, nilai, adat istiadat, heritage bahkan civilization. Dan Indonesia dalam transformasinya dari abad ke abad sesungguhnya pertemuan dari tiga peradaban besar.

Pertama adalah beradaban Asia, peradaban Timur, yang tentu saja ada akar-akar peradaban Hindu dan Buddha. Yang kedua, peradaban Islam yang datang setelah itu, yang tentu membawa nilai-nilai tersendiri, dan kemudian peradaban Barat yang datang pada abad 18 waktu itu, yang juga membawa nilai dan budayanya sendiri. Terjadi proses interaksi, yang menjadi bagian dari perjalanan bangsa kita. Oleh karena itu sesungguhnya Indonesia adalah tempat terjadinya akulturasi dari berbagai nilai, sistem, seni, dan berbagai aspek kebudayaan dan peradaban.

Kami ingin Indonesia tetap menjadi rumah yang teduh. Semuanya hidup berdampingan secara damai. Saling menghormati, rukun satu sama lain. Inilah yang sedang kita bangun dan insya Allah kami punya keyakinan Indonesia akan menjadi rumah besar, rumah yang indah dan rumah yang teduh itu.

Saya katakan seperti itu untuk melengkapi siapa itu Indonesia. Dengan pengantar itu, tepatlah kalau malam hari ini kita bertatap muka, insya Allah bukan hanya mempertemukan muka dengan muka kita. Tetapi hati dengan hati kita, karena kita sebagai bangsa, sebagai bangsa yang besar haruslah memiliki cara pandang yang sama, tekad yang sama, pikiran yang sama untuk memajukan kehidupan di negeri ini.

Forum malam hari ini, tentu bukan forum politik, lebih dari itu. Forum malam hari ini adalah forum peradaban, civilization, forum budaya. Forum kesejarahan, forum warisan atau heritage, yang semuanya itu sesungguhnya menunjukkan the greatness of our country, the greatness of our nation. Jangan direduksi menjadi urusan-urusan politik, urusan administrasi. Tetapi kita masuk dalam satu ranah, dalam satu wilayah yang lebih mulia karena berkaitan dengan peradaban sebuah bangsa.

Hadirin yang saya muliakan,
Tahun ini genap satu abad Kebangkitan Nasional, tahun ini genap 10 tahun kita melakukan reformasi atau perubahan di negeri kita. Tepat memperingati satu abad kebangkitan Nasional, tanggal 20 Mei tahun 2008, beberapa bulan yang lalu, sebagian dari Saudara mengikuti dalam pidato saya, saya mengingatkan, saya mengajak, saya menyadarkan bahwa Indonesia, insya Allah akan menjadi negara yang maju, yang sejahtera, yang bermartabat diabad 21 ini, asalkan saya punya keyakinan I believe very strongly bahwa Indonesia bisa menjadi negara maju developed country. Dengan syarat kita terus meningkatkan daya saing dan keunggulan kita sebagai bangsa. Kita terus meningkatkan kemandirian, dalam arti mendayagunakan, mengelola semua yang kita miliki, akhirnya menjadi self generating nation.

Dan yang ketiga, apabila kita terus mengembangkan peradaban Bangsa yang luhur our civilization, dan sesungguhnya akarnya itu, pada peradaban. Kalau peradaban kita benar, daya saing akan dapat kita tingkatkan ke depan. Kemandirian Bangsa akan juga dapat kita tingkatkan. Itu adalah prasyarat fundamental yang sedang dan terus kita perkuat dan kita bangun. Dan setelah itu, bangsa ini harus lebih bersatu. Memiliki tekad yang tinggi, bekerja keras untuk mencapai tujuan kita. Menjadi bangsa, menjadi negara yang maju di abad 21 ini. Lagi-lagi saya harus mengatakan bahwa diatas segalanya adalah peradaban bangsa, nilai-nilai, cara pandang, perilaku, kebersamaan, harmoni, toleransi, kerja keras, dan sejumlah elemen-elemen mendasar dari sebuah peradaban. Marilah benar-benar kita pahami dan kita bangun perabadan bangsa yang luhur dan mulia.

Bapak, Ibu, Hadirin yang saya hormati,
Oleh karena itu saya dalam kapasitas saya sebagai Kepala Negara, sungguh mengharapkan Bapak-Ibu sekalian, para Raja, para Sultan, para Sunan, para Panembahan, para Pengelisir, para Pemangku adat terus berperan, terus berperan untuk betul-betul melestarikan, membangun peradaban bangsa tadi. Termasuk budaya, adat istiadat, tradisi, heritage atau warisan dan aspek-aspek yang lain, akan sangat mulia dan kata itu akan terus dapat berperan untuk memasuki wilayah yang luas, penuh dengan tantangan. Tapi mesti kita gunakan dengan sebaik-baiknya itu. Peran pertama yang sungguh saya harapkan. Peran yang kedua, pembangunan yang kita lakukan akan terus berlanjut.

Persoalan dan tantangan datang dan pergi. 10 tahun yang lalu kita mengalami krisis, jatuh ekonomi kita, politik tidak stabil, hukum berantakan, harmoni sosial terkoyak, keamanan di banyak tempat di negeri kita ini sangat terganggu. Berat, sulit, tapi kita tidak pernah menyerah, kita terus berjuang bersama-sama mengatasi. Alhamdulillah, Indonesia sekarang ini berbeda dengan Indonesia 10 tahun yang lalu.

Ketika tahun ini terjadi serangkaian krisis pada tingkat dunia. Krisis harga minyak, krisis pangan, krisis iklim, sekarang krisis keuangan. Insya Allah kita akan bisa mengatasi, meskipun tentu ada pengaruhnya. Tetapi dengan semangat, dengan kebersamaan, dengan keuletan, dengan inovasi kita, kita akan terus melangkah ke depan. Mengatasi masalah-masalah yang timbul dan kemudian melanjutkan pembangunan bangsa.

Saya mohon Bapak-Ibu juga berkontribusi, berpartisipasi dalam pembangunan nasional, dalam segala bidang. Dua peran itu kalau dimainkan oleh para pimpinan dan kerabat keraton, dan entities yang sejenis, tentunya sumbangan kepada bangsa dan negara akan besar sekali.

Saya ingin memberikan satu contoh yang Bapak-Ibu bisa berkontribusi langsung. Yaitu, di bidang pembangunan ekonomi, sepertinya jauh, keraton yang urusannya kebudayaan, seni, adat istiadat, sejarah, kok tiba-tiba harus terkontribusi dan berpartisipasi di bidang ekonomi. Tidak, tetap relevan, tetap bisa berkiprah di bidang itu. Ekonomi yang kita kenal berbasiskan pada sektor pertanian, sektor industri, sektor jasa. Tapi ingat, bahwa makin ke depan dalam perkembangan jaman, maka makin mengemuka sektor yang disebut sekarang sektor unggulan, yaitu ekonomi warisan, heritage economy. Ekonomi yang berbasiskan budaya culture based economy, ekonomi wisata termasuk wisata sejarah tourism economy, ekonomi kreatif memadukan antara seni dengan teknologi.

Semua itu Indonesia memiliki modal, memiliki warisan, dan memiliki keunggulan. Dalam statistik, kontribusi ekonomi kreatif dan ekonomi kepariwisataan makin meningkat. Contoh, dalam keadaan dunia seperti apapun krisis pangan, krisis minyak, krisis iklim, wisatawan tahun ini adalah yang terbaik, puncak dalam 10 tahun terakhir.

Di Bali sebagai Presiden sudah tidak terhitung saya datang ke Bali, ke Tampak Siring, ke Denpasar dan ke tempat-tempat , tujuan saya apa, Bali ini barometer kepariwisataan Indonesia. Kalau Bali terus tumbuh, yang lain akan tumbuh. Oleh karena itu ketika ada musibah di Bali, pada tahun 2002 dan tahun 2005 kami bertekad mari kita pulihkan keamanan di Bali, agar dunia pariwisata segera tumbuh kembali. Kalau sudah datang ke Bali, wisatawan kita datang ke tempat yang lain, ke Sumatera, ke Jawa, ke Sulawesi dan tempat-tempat yang lain.

Harapan saya pariwisata di seluruh Indonesia terus berkembang. Ini menunjukkan bahwa wisata sejarah, berkunjung ke keraton, berkunjung ke peninggalan-peninggalan leluhur kita yang ada di nusantara. Itu adalah ekonomi masa kini, yang punya masa depan yang menjanjikan. Apalagi kalau ditata dengan baik, Pemerintah Daerah, Gubernur memiliki kepedulian yang baik, Bupati, Walikota, demikian juga, tentunya pihak Pemerintah Pusat, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Kami semua, kalau kita peduli semua untuk menatanya, Keraton dengan segala lingkungannya, kemudian yang tadi itu, yang peninggalan sejarah, yang merupakan heritage, yang adat istiadat, termasuk candi, termasuk masjid, termasuk apa saja, gereja, yang punya nilai-nilai sejarah, tentunya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi ekonomi kita.

Sebagai contoh Saudara-saudara, saya sering berkunjung ke tempat-tempat para pemimpin kita, misalkan di Bengkulu, itu ada rumah kecil, dimana dulu Bung Karno ada disitu, saya lihat rak bukunya, mejanya, mesin ketiknya, sepedanya, begitu. Kemudian, saya lihat Bung Hatta di Bukit Tinggi, kita dirikan perpustakaan disitu, apa yang dilakukan disitu. Saya lihat juga misalnya Panglima Sudirman yang memimpin gerilya ketika Bung Karno, Bung Hatta berdiplomasi. Kemudian, banyak sekali hambatan diperkuat dengan perang gerilya waktu itu, akhirnya berhasil, kita menjadi negara merdeka. Kita bangun tempat yang baik, Insya Allah, bulan depan akan diresmikan renovasi dari markas besar Panglima Sudirman dulu yang terletak di Desa Pakis, Kecamatan Nawangan Kabupaten Pacitan, perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ini menunjukkan, kita bikin satu tempat atau diorama, ada markas besar Beliau, ada tempat-tempat mengeluarkan perintah, ada sasanti-sasanti, ada wasiat-wasiat Beliau. Kalau semua kita hidupkan itu menjadi ajang, pokja dari wisata sejarah yang luar biasa.

Dengan kreatifitas, saya berharap bekerja sama dengan Pemerintah Daerah, gali, kembangkan semua kekuatan ini. Dengan demikian, di bidang ekonomi pun lingkungan Bapak-Ibu, Keraton, Kesultanan, Kesunanan dan apapun namanya bisa ikut memberikan andil. Dan itu juga bisa memberikan penerimaan, penghasilan, ekonomi untuk memelihara pusat-pusat sejarah dan budaya itu, karena juga memerlukan pembiayaan. Saya sangat yakin, bahwa pada saatnya ekonomi kreatif dapat kita kembangkan termasuk yang sangat berkaitan dengan Bapak, Ibu sekalian adalah ekonomi, produk budaya, ekonomi warisan, ekonomi sejarah, ekonomi wisata sejarah dan sebagainya.

Hadirin yang saya muliakan,
Sejenak kalau kita melakukan refleksi sejarah negara kita, nusantara, sebelum menjadi Indonesia, saya kira kita semua mengikuti masa pra sejarah dulu. Setelah itu sejarah awal Indonesia, manusia dengan komunitas manusia, Nusantara waktu itu. Bergeser pada masa kerajaan. Pertama-tama, kerajaan-kerajaan yang berbasis peradaban Hindu dan Budha. Kemudian muncul babak baru dari proses transformasi itu, kerajaan-kerajaan yang berbasis Islam. Lantas kemudian, pada abad 18 ada revolusi industri di Eropa, ada globalisasi tahap pertama, perekonomian global, datang bangsa-bangsa Eropa yang membawa peradaban yang juga juga antara lain berbasiskan budaya Barat, termasuk Kristiani. Semuanya itu merupakan proses besar dalam kehidupan di negeri kita ini.

Dulu sebelum terjadinya gerakan kebangsaan, akhirnya kita menjadi Indonesia, pada masa pemerintahan kolonial disebut Indonesia sebagai many kingdom one colony, waktu itu. Kemudian terus bergeser, akhirnya sekarang ini, paruh kedua abad 20, dan sekarang dan seterusnya kita menjadi one nation with diversity and growth civilizations. Itu kita, itu proses dari periode-periode kesejarahan.

Hubungan antar kerajaan, karena kerajaan kesultanan, apapun namanya, itu tersebar di seluruh nusantara. waktu itu ada hubungan antar kerajaan. Hubungan meskipun sekali-kali ada konflik, ada peperangan dan itu wajar di dunia manapun. Tapi banyak sekali benih-benih persahabatan, benih-benih kerukunan, benih-benih hubungan baik. Baik, pada masa yang berbasiskan Hindu dan Buddha maupun pada masa Islam dan seterusnya.

Saya ambil satu contoh, pada masa Islam abad ke 13 dan 14. Itu terjadi hubungan yang baik, antara Sultan Agung, Mataram Islam dengan kerajaan Cirebon. Hubungan yang baik dengan kerajaan yang ada di Makassar. Ada hubungan yang baik dengan kerajaan yang ada di Palembang, waktu itu. Dengan demikian, sebetulnya prinsip hubungan harmoni, toleransi itu ada dan waktu itu meskipun ada, strate sedikit, tapi sebetulnya saling menghormati, saling menyayangi, saling menghargai.

Oleh karena itu sekarangpun, dari apa yang menjadi warisan sejarah yang Bapak Pimpin semua ini, mestilah saling hormat menghormati setara satu sama lain dengan pilihan rajut kembali hubungan yang indah, yang terjadi di masa silam, bahkan sebelum Indonesia Merdeka. Dalam bentuk dan wujud barangkali berbeda. Dalam rangka melestarikan nilai, mempertahankan nilai-nilai budaya tadi, warisan dalam rangka memperkuat, mengembangkan peradaban Bangsa kita.

Kalau dulu memang hubungan antara kerajaan dengan Pemerintah Kolonial itu hubungan vertikal, waktu itu. Tetapi sekarang kita hidup dalam rumah besar Indonesia, dengan tatanan yang diatur dalam konstitusi dan Undang-undang. Tapi sekat-sekat, tidak perlu ada sekat-sekat ketika kita harus bersama-sama dalam membangun peradaban kita. Kita akan tahu tempatnya masing-masing. Mana wilayah yang diatur oleh sistem politik, sistem pemerintahan, mana-mana yang tidak menjadi wilayah itu yang kita bisa mengembangkan secara bersama-sama di rumah besar, rumah yang indah ini.

Akhirnya, Bapak, Ibu sekalian yang saya hormati,
Tugas kita, misi kita, peran kita ke depan adalah bagaimana kita membangun menjadikan Indonesia ini sekali lagi menjadi rumah bersama. Hidup dalam harmoni dan kerukunan di tengah-tengah perbedaan dan bagaimana kita semua dengan kerja keras, dengan kebersamaan membangun Indonesia menuju negara yang maju, bermartabat dan sejahtera di abad 21 ini, Insya Allah kita bisa. Indonesia bisa.Terima kasih. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menridhoi niat dan cita-cita baik kita dan membuka jalan yang baik bagi kita semua menyongsong hari esok yang lebih baik.

Sekian.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Om santi santi santi om


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan