Pidato Presiden
Sambutan Peresmian Museum Jenderal Besar Dr. AH Nasution
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN MUSEUM JENDERAL BESAR DR. A.H. NASUTION
JL. TEUKU UMAR NO. 40 MENTENG- JAKARTA PUSAT
3 DESEMBER 2008
Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia,
Yang sama-sama kita cintai Ibu Johana Sunarti Nasution,
Bapak Tri Sutrisno dan para Sesepuh dan Senior TNI, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Panglima TNI, Kapolri, Kepala Staf TNI Angkatan Darat dan para Pejabat Senior Jajaran TNI, saudara Wakil Gubernur DKI Jakarta, para Tamu Undangan,
Hadirin yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta.
Kita juga bersyukur ke hadirat Allah SWT karena pada sore hari ini kita dapat menyaksikan Peresmian Museum Jenderal Besar Doktor Abdul Haris Nasution sebagai satu monumen sejarah yang Insya Allah akan menjadi salah satu kebanggaan Bangsa Indonesia dan kebanggaan para prajurit Tentara Nasional Indonesia.
Hadirin yang saya hormati,
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para pahlawan dan pemimpin-pemimpinnya. Bangsa yang arif adalah bangsa yang memahami sejarah negaranya, termasuk yang mampu memetik pelajaran dari sejarah itu. Dan bangsa yang cerdas adalah bangsa yang mengambil pelajaran masa lalu untuk melangkah ke masa depan. Apa yang kita lakukan hari ini adalah bagian untuk menjadi bangsa yang besar, bangsa yang arif, dan bangsa yang cerdas.
Hadirin sekalian,
Kita semua mengenal almarhum Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Beliau adalah sosok besar dan salah satu putra terbaik bangsa. Beliau adalah seorang prajurit, seorang negarawan, dan seoranng pemikir, sekaligus intelektual. Ada baiknya bertepatan dengan 90 tahun kelahiran Jenderal Besar Doktor Abdul Haris Nasution, kalau kita melakukan refleksi lintasan pengabdian beliau kepada bangsa dan negara tercinta ini. Di lingkungan TNI Beliau memegang posisi-posisi yang amat penting pada jamannya. Yang kalau dapat saya sarikan antara lain adalah beliau memimpin divisi 3 Siliwangi. Ketika beliau menjadi Panglima Divisi Siliwangi itulah lahir pemikiran yang akhirnya menjadi doktrin teritorial yang sampai sekarang masih kita jalankan. Beliau kemudian juga memimpin Komando Jala yang dalam sejarah kita catat, beliau membantu Panglima Besar Sudirman di dalam merumuskan perintah siasat. Dan kemudian, dari situlah lahir pemikiran tentang perang rakyat semesta atau pertahanan rakyat semesta. Beliau menjadi KASAD selama 10 tahun, dalam 2 periode jabatan yang terpisah.
Ketika kita melaksanakan operasi pembebasan Irian Barat. Dibentuklah Komando Tertinggi, waktu itu Presiden Soekarno sebagai Panglima Komando Tertinggi, Jenderal Nasution waktu itu sebagai Wakil Panglima Komando Tertinggi, dan Mayor Jenderal Soeharto waktu itu sebagai Panglima Mandala. Kemudian Beliau menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata. Tentu banyak sekali yang beliau lakukan sebagai prajurit, sebagai komandan dan Panglima di lapangan, sebagai pemikir, sebagai konseptor yang ikut membidangi lahirnya TNI dan pengembangan TNI di masa-masa kemudian.
Kiprah beliau sebagai negarawan, kita semua masih ingat ketika Pak Nas menjadi Ketua MPRS, pada saat-saat yang critical, pada penggal sejarah yang sangat penting di Indonesia. Pak Nas kita kenal pemikiran-pemikirannya yang brilian dan kepeduliannya pada pendidikan dan dunia pengetahuan. Ada sejumlah buku dan artikel yang ditulis Beliau. Catatan saya ada 70 judul. Kemudian, diantara karya Beliau banyak yang kita baca, bahkan saya membaca beberapa buku beliau, beberapa kali, bukan hanya sekali. Misalnya buku yang berjudul "Tentara Nasional Indonesia”. Kalau tidak salah ada 2 jilid, Pokok-pokok Perang Gerilya yang itu diterjemahkan dalam 3 bahasa, "Fundamentals of Guerilla Warfare” dan buku itu menjadi salah satu referensi utama di Seskoad Amerika Serikat, Fort Leavenworth yang sering dirujuk ketika para siswa ingin mendalami tentang perang gerilya. Buku itu disetarakan dengan 2 buku yang lain, buku karya Mao Zedong dan buku karya Che Guevara. Bahkan pemikiran Pak Nas dan buku itu lahir mendahului bukunya Mao Zedong dan bukunya Che Guevara.
Kita belakangan juga membaca buku beliau yang berjudul ”Sekitar Perang Kemerdekaan” dan kemudian ”Memenuhi Panggilan Tugas”. Itu adalah sejumlah karya Beliau yang gemilang, yang insya Allah akan kita lihat nanti disalah satu ruang dari museum yang akan kita resmikan pada sore hari ini.
Bapak-Ibu hadirin sekalian yang saya muliakan,
Atas nama negara dan pemerintah dan secara pribadi, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Panglima TNI, kepada Kepala Staf TNI Angkatan Darat dan staf serta jajaran yang telah dapat menghadirkan museum yang Insya Allah akan segera kita resmikan sore ini.
Saya memahami bahwa tentu tidak semua lintasan dan jejak pengabdian Jenderal Besar Abdul Haris Nasution bisa diabadikan di museum ini. Tetapi paling tidak ada tonggak-tonggak penting yang dapat kita lihat pada sore hari ini, yang dapat dilihat oleh generasi muda kita, termasuk generasi muda TNI yang tentunya akan melanjutkan estafet kepemimpinan di jajaran TNI.
Hadirin sekalian,
Hari ini kita insya Allah meresmikan museum Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Tanggal 15 Desember mendatang, bertepatan dengan Hari Juang Kartika, Insya Allah kita akan meresmikan renovasi atau pembangunan lanjutan dari Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman yang nanti juga akan kita acarakan di desa Pakis, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Saya mengundang dan memohon para sesepuh dan senior yang bisa berkenan hadir pada acara yang penting nanti dapat hadir sebagai penghormatan kita kepada Panglima Besar Sudirman sebagaimana penghormatan kita kepada Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.
Tadi, Ibu Nasution ketika memberikan sambutan, Beliau didampingi oleh seorang pemuda yang ganteng, itu bernama Dimas, itu adalah cucu Panglima Besar Jenderal Sudirman. Beliau menikah dengan Ina, cucu dari Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Saya kira ini memberikan memori yang dalam bagi jajaran Tentara Nasional Indonesia.
Yang ingin saya sampaikan adalah kita memahami bahwa negara ini berdiri dan kemudian dipertahankan melalui pertautan antara langkah diplomasi dan langkah militer. Perjuangan politik dan perjuangan bersenjata. Kita memberikan penghormatan yang tinggi kepada sosok Bung Karno, Bung Hatta, Mohammad Roem, Ali Satro Amidjojo, Roeslan Abdul Gani, dan banyak lagi tokoh-tokoh politik, diplomat-diplomat yang akhirnya berjuang untuk mempertahankan kedaulatan negara kita. Tapi jangan lupa pula kita memiliki tokoh-tokoh besar di bidang militer sebagaimana yang saya sampaikan tadi antara lain Panglima Besar Sudirman, Jenderal Besar A.H. Nasution dan sejumlah prajurit-prajurit sejati, perwira-perwira terbaik yang ikut menyukseskan keberlanjutan dari kemerdekaan dan kedaulatan kita. Bangsa yang besar, marilah kita berikan penghormatan yang layak kepada semua, baik itu yang berjuang di bidang diplomasi, maupun yang berjuang secara militer.
Sebelum mengakhiri sambutan ini, Ibu Nasution yang sama-sama kita cintai, ijinkan saya secara amat singkat, menyampaikan memori pribadi, tentang Bapak Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Kami pertama kali bertemu dengan Beliau, Ibu, pada tahun 1972, waktu itu ada kegiatan leaderships training, dilaksanakan di puncak yang dihadiri oleh para mahasiswa, Universitas Indonesia, dan universitas-universitas terkemuka lainnya. Saya mendapat tugas dari Akademi Militer, saya tingkat 3 Sersan Mayor 2 Taruna, dengan teman saya waktu itu, Serma Datar Yudhi Makil Yusufu. Saya ikut di leadership training itu dan saya mengawal Beliau ketika Beliau melihat, apa namanya yang untuk melihat bintang di malam hari di puncak itu, teropong. Beliau sambil jalan menanyakan taruna, ”Apa kesanmu?” Kami menjawab, ”Siap Jenderal, menambah wawasan kami dan kami senang kalau bisa terus berkomunikasi dengan mahasiswa supaya tidak ada jarak, tidak ada gap karena tentu diperlukan kebersamaan dalam mengemban tugas”.
Kemudian, Ibu Nasution, saya bertemu kembali Beliau tahun 1989, saya bersama isteri sedang menunggui mertua saya Bapak Sarwo Edy Wibowo yang sedang dirawat di rumah sakit MMC Jakarta. Dalam keadaan tidak sadar Pak Nas datang, Beliau bertanya, ”Kamu siapa?” Saya sampaikan, ”Siap, saya menantu”. Waktu itu saya siswa Seskoad sedang libur hari minggu dan ini isteri saya Bapak, adalah salah satu putri Bapak Sarwo Edy Wibowo. Saya masih ingat kata-kata Beliau, ”Ayahmu ini banyak jasanya, mungkin tidak terhadap semuanya, tapi Allah SWT mencatat setiap jasa yang dilakukan oleh umatnya.” Saya ingat betul waktu itu.
Kemudian yang ketiga, saya bertemu dengan Beliau ketika para perwira senior dibawah pimpinan Pak Wiranto, waktu itu Beliau Panglima ABRI dan juga kita courtesy call ke kediaman. dan waktu itu Ibu masih ingat kita ingin membuat perpustakaan, library dan kemudian perpustakaan itulah yang akhirnya dibangun di Cilangkap Mabes TNI. Tentunya ini budaya yang baik, untuk mengetahui lintasan sejarah, termasuk pelaku-pelaku sejarah di masa silam. Itulah sekelumit memori pribadi saya, ibu. Saya yakin para sesepuh, para senior lebih banyak lagi memori Beliau di bawah kepemimpinan Bapak Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.
Bapak-Ibu Hadirin sekalian yang saya muliakan
Itulah yang dapat saya sampaikan pada acara yang sangat penting ini dan akhirnya dengan terlebih dahulu memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa seraya mengucapkan "Bismilahirrahmanirrahim" Museum Jenderal Besar Doktor Abdul Haris Nasution dengan resmi saya nyatakan dibuka. Sekian.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



