Pidato Presiden
Sambutan pada Pemakaman Almarhum Ali Alatas
SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
SELAKU INSPEKTUR UPACARA
PADA PEMAKAMAN ALMARHUM ALI ALATAS, SH.
DI TAMAN MAKAM PAHLAWAN KALIBATA
Jakarta, 12 Desember 2008
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Salam sejahtera untuk kita semua,
Hadirin sekalian yang saya muliakan.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Dengan penuh rasa duka yang amat dalam, pada hari ini, kita semua berkabung atas wafatnya Bapak Ali Alatas, SH., Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia.
Almarhum telah berpulang ke rahmatullah dengan tenang, kemarin, pada hari Kamis tanggal 11 Desember 2008. Beliau telah meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya, menghadap Sang Pencipta. Kita telah kehilangan salah seorang putera terbaik bangsa, diplomat cemerlang, tokoh internasional yang dihormati, dan sekaligus seorang negarawan terhormat.
Kita hadir di sini, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, untuk memberikan penghormatan terakhir melalui upacara kemiliteran. Upacara ini kita selenggarakan, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan dari negara dan pemerintah, atas jasa, darma bakti, dan pengabdian almarhum semasa hidupnya kepada bangsa dan negara.
Hadirin yang saya muliakan.
Kita sama-sama mengetahui, Almarhum, yang dilahirkan di Jakarta pada tanggal 4 November 1932, sepanjang hayatnya mengabdikan diri untuk bangsa dan negara. Almarhum telah menapaki karir di dunia diplomasi dan hubungan internasional. Beliau dikenal sebagai diplomat andal serta negosiator yang cerdas, tangguh dan piawai, dalam mewakili negara kita, di berbagai meja perundingan. Didasari oleh kecintaan kepada bangsa dan tanah air, almarhum amat gigih dalam memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia di pentas global dan regional.
Beliau sangat berhasil dalam mengemban tugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk PBB, dan kemudian almarhum mendapat posisi terhormat dan penting sebagai Menteri Luar Negeri selama kurang lebih 12 tahun, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dan Presiden B. J. Habibie.
Selama dua dasawarsa lebih, beliau telah memperlihatkan kelas tersendiri sebagai diplomat yang andal dan negarawan yang dihormati, baik di dalam maupun di luar negeri. Dari pengalaman dan dedikasi almarhum dalam mendarmabaktikan dirinya bagi nusa dan bangsa, Pemerintah memberikan kepercayaan kepada Almarhum Ali Alatas untuk mengemban tugas sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden sampai akhir hayatnya.
Sejarah telah mencacat dengan tinta emas sejumlah prestasi almarhum dalam dunia diplomasi dan politik luar negeri kita, antara lain : peran dan kontribusi almarhum dalam Normalisasi Hubungan Indonesia ~ Republik Rakyat Tiongkok tahun 1990; Pengakhiran Konflik Kamboja tahun 1991; Perundingan Damai Pemerintah Philippina dan MNLF; dan Upaya Penyelesaian Permanen masalah Timor Timur bersama PBB tahun 1999. Pada periode Kabinet Indonesia Bersatu almarhum mengemban peran penting, bersama diplomat senior negara-negara anggota ASEAN, dalam menyusun dan merumuskan Piagam Baru ASEAN yang telah disahkan pada tahun 2007 yang lalu.
Dalam kapasitas sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, almarhum dengan penuh semangat, tanggung jawab dan ketekunan yang tinggi telah memimpin dan memformulasikan segenap pemikiran anggota Wantimpres, dalam bentuk pertimbangan dan rekomendasi yang tajam, jernih dan kontekstual untuk disampaikan kepada Presiden. Saran dan pertimbangan tersebut amat penting dalam pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan saya, sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan.
To our international guests who have come to pay your last respect for Ali Alatas, let me say Indonesia has lost one of our great sons.
Alatas was a true nationalist, a great patriot, and he was also a passionate internationalist. He dedicated his whole life to serving his country, which he did with great distinction and elegance. He loved diplomacy—he lived and died for it. He was a tremendous force for peace and friendship. He was a man of principles. And he was a staunch steward of Indonesia’s independence and active foreign policy.
With the passing of Alatas, Indonesia has lost a national treasure. Ali Alatas was loved by all who knew him.
But his deeds will be forever remembered. History will be kind to him. He is a shining example to all of us. His love for his country, and his tireless struggle to serve the cause for peace, is an inspiration to us all. We pray that he will rest in peace Allah SWT.
Hadirin yang saya muliakan.
Pada kesempatan yang penuh duka dan khidmat ini, dengan hati yang tulus, marilah kita berdoa ke hadirat Allah SWT, semoga almarhum, diampuni atas segala kesalahan dan kekhilafannya. Dan semoga pula keikhlasan almarhum untuk mengabdi kepada negara dan segala amal ibadahnya, diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT.
Kepada Ibu Yunisa Alatas dan keluarga Almarhum yang ditinggalkan, kita mendoakan semoga Allah SWT senantiasa memberikan ketabahan dan kesabaran, serta dapat menerima kepergian Almarhum dengan tabah dan ikhlas.
Akhirnya, dengan rasa belasungkawa yang amat dalam, dan memohon ridho Allah SWT, marilah kita lepas kepergian beliau menghadap Sang Khaliq, Allah SWT, dengan tenang. Sekali lagi, marilah kita iringi dengan doa, semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya sesuai dengan perjuangan dan pengabdian panjang almarhum kepada nusa dan bangsa.
Terima kasih
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Jakarta, 12 Desember 2008
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO



