Pidato Presiden
Sambutan Perayaan Natal Bersama Nasional 2008
SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERAYAAN NATAL NASIONAL 2008
JCC - Jakarta, 27 Desember 2008
Yang saya hormati Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Mufidah Jusuf Kalla,
Para Pimpinan dan Anggota Lembaga-lembaga Tinggi Negara,
Para Menteri dan Anggota Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang Mulia para Duta Besar Negara-negara Sahabat,
Saudara Gubernur DKI Jakarta,
Yang saya muliakan para Pemimpin dan Pemuka Agama,
Para Undangan,
Segenap Umat Kristiani di seluruh tanah air yang berbahagia, termasuk Umat Kristiani yang berkumpul dan menyaksikan Perayaan Natal Bersama ini dari Lapangan Universitas Sisingamangaraja, Silangit, Tapanuli Utara.
Syaloom,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan karunia-Nya, malam ini kita dapat kembali menghadiri Perayaan Natal Bersama Tingkat Nasional Tahun 2008. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini, untuk menyampaikan selamat dan salam bahagia kepada Umat Kristiani di seluruh pelosok tanah air, dengan harapan, mudah-mudahan Perayaan Natal tahun ini benar-benar dapat membawa kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan bagi Umat Kristiani.
Hadirin yang saya muliakan,
Tema perayaan Natal tahun ini adalah “Hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang”. Saya menganggap tema ini sangat tepat, ditengah upaya bangsa dan juga masyarakat dunia untuk menciptakan kehidupan yang damai dan penuh persaudaraan. Kita bersyukur, rangkaian perayaaan Natal tahun ini, yang diselenggarakan di berbagai tempat di tanah air, dapat berlangsung dalam suasana yang aman dan damai. Suasana yang kita bangun dari rasa saling percaya, dan kehidupan yang makin harmonis di antara kelompok masyarakat. Suasana yang memperkuat solidaritas dan toleransi. Dan suasana yang tercipta dari kehidupan antar umat beragama yang saling menghormati dan saling menghargai.
Kita menyadari bahwa rasa saling percaya dan harmoni antar kelompok dan golongan masyarakat, merupakan faktor yang sangat penting untuk menciptakan suasana kehidupan yang aman, tenteram dan damai.
Kita menyadari pula, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang majemuk. Bangsa yang memiliki keragaman agama, suku, etnis, daerah asal, serta bahasa dan budaya lokal. Tidak ada cara lain untuk menghadapi kemajemukan itu, kecuali kita membangun kebersamaan, saling hormat-menghormati, serta saling menghargai perbedaan masing-masing.
Kemajemukan bangsa kita, harus kita sikapi dengan penuh rasa syukur. Keragaman yang kita miliki harus kita terima sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Perbedaan agama dan juga paham keagamaan harus kita tempatkan sebagai sebuah keyakinan yang harus kita hormati dengan lapang dada. Kita tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain, apalagi melakukan tindakan anarkis dan perusakan kepada pihak yang berbeda keyakinan dan pemahaman keagamaan. Sudah saatnya kita membangun paham keagamaan dengan penuh toleransi, saling menghargai, dan saling menghormati. Dengan cara itu, kita dapat menerima pemahaman keagamaan dalam persepsi yang tepat. Dengan cara itu pula, kita dapat membangun sebuah peradaban unggul, mulia dan dihormati oleh bangsa – bangsa di dunia.
Saudara-saudara,
Saya baru saja kembali dari Manado, di samping untuk mengecheck kesiapan World Ocean Conference, dan Pertemuan Puncak Coral Triangle Initiative, serta untuk mengecheck kesiapan latihan menghadapi bencana tsunami (tsunami drill), saya juga menghadiri perayaan Natal bersama masyarakat Sulawesi Utara. Sungguh saya merasa terharu dan bangga melihat harmoni kehidupan antar umat beragama di daerah itu. Kehidupan antar umat yang tidak menonjolkan perbedaan. Kehidupan masyarakat yang membawa perbedaan sebagai kekuatan dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, serta lebih mengedepankan persamaan yang ada. Inilah sebuah contoh yang baik dalam kerukunan umat beragama. Sebagaimana dikatakan oleh saudara-saudara kita di Tanah Nyiur Melambai itu, torang samua basudara. Saya yakin semangat kehidupan bersama secara damai dan penuh toleransi seperti itu, juga dimiliki oleh saudara-saudara kita di seluruh tanah air. Semoga kehidupan bangsa kita semakin indah dan semakin rukun di masa depan.
Hadirin yang saya hormati,
Saya yakin, setiap umat beragama di negeri ini, tentu berkeinginan untuk membangun bangsa dan negara ke arah yang lebih baik. Setiap umat beragama pasti pula berkeinginan untuk menciptakan persatuan, keadilan, dan kesejahteraan. Salah satu upaya untuk mewujudkan itu semua adalah dengan meningkatkan pembangunan keagamaan. Arah pembangunan keagamaan sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, ditujukan untuk mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab. Pembangunan keagamaan diarahkan untuk memantapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan moral dan etika, dalam pembangunan akhlak yang mulia, memupuk etos kerja, dan menjadi kekuatan pendorong guna mencapai kemajuan bangsa kita. Dengan demikian, pembangunan keagamaan memiliki peran penting dalam mewujudkan kondisi moral, etika, serta spiritual bangsa kita, dan merupakan salah satu upaya pemenuhan hak dasar rakyat, dalam melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinannya.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan, bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, dan menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing, dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Oleh karena itu, pembangunan keagamaan bukan hanya upaya untuk mendukung peningkatan kualitas pelayanan, pemahaman, serta pengamalan ajaran agama, melainkan juga ditujukan untuk membangun masyarakat, agar memiliki kesadaran akan realitas sosial tentang nilai-nilai keberagaman dan kebhinnekaan.
Saudara-saudara,
Oleh karena itu, cita-cita untuk membangun Indonesia yang aman dan damai, Indonesia yang adil dan demokratis, serta Indonesia yang sejahtera, memerlukan keteguhan iman, keyakinan, dan kepercayaan diri dari bangsa kita, yang sedang melakukan perubahan besar dewasa ini. Jika keimanan, keyakinan, dan rasa percaya diri kita itu tidak kokoh dan tidak kuat, kita dapat menyerah dan gagal dalam mewujudkan harapan dan cita-cita yang kita inginkan. Di berbagai forum sering saya katakan, bahwa ” Layar sudah kita kembangkan, dan perahu kita telah berlayar jauh menuju pulau harapan. Pantang untuk menyerah, apalagi surut ke belakang”.
Kuncinya, adalah persatuan, kebersamaan dan kerja keras di antara kita semua, tanpa melihat perbedaan identitas kita. Mari kita satukan energi kita. Mari kita letakkan kepentingan bangsa kita di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan. Mari kita hormati konstitusi dan tatanan kehidupan bernegara yang demokratis.
Hadirin yang saya muliakan.
Perayaaan Natal kali ini, kita selenggarakan di tengah krisis keuangan global. Ini adalah ujian berat bagi perekonomian dunia. Dalam menyikapi krisis global itu, kita tidak perlu cemas dan takut. Kita harus menghadapinya dengan jiwa yang terang, pikiran yang positif, serta melihat ke depan dengan penuh semangat dan harapan. Kita harus tetap optimis. Kita harus yakin dan percaya, bahwa kita tidak akan terseret jauh dalam pusaran krisis-krisis global, jika kita sungguh-sungguh menjaga persatuan, melangkah bersama, mengembangkan segenap potensi yang kita miliki, dan bekerja lebih keras lagi.
Pemerintah dengan gigih, bersama komponen-komponen bangsa yang lain, telah dan terus berupaya mengatasi dampak krisis global ini. Berbagai keputusan, kebijakan dan aksi yang cepat dan tepat telah dilaksanakan pemerintah, untuk meminimalkan dampak krisis keuangan dan resesi perekonomian dunia ini, terhadap perekonomian kita. Justru dengan perayaan natal tahun ini, kita harus lebih optimis, bahwa kita bisa mengatasi krisis global ini, dan bahkan setelah itu kita akan menjadi lebih kuat lagi sebagai satu bangsa, sebagai satu negara.
Hadirin yang saya hormati,
Pada kesempatan yang baik ini, saya juga ingin menyampaikan kepada para Duta Besar Negara-negara sahabat dan para pimpinan organisasi-organisasi Internasional, bahwa semua bangsa menghadapi tantangan global yang berat dan serius. Selain dirundung masalah-masalah global seperti krisis finansial, krisis energi, krisis pangan serta perubahan iklim dan bencana alam, dunia kita masih terus dibebani oleh perang, konflik, terorisme, kemiskinan, kesenjangan, marginalisasi, eksploitasi, kelaparan, penyakit, kebodohan, ketidak-adilan, kebencian dan lain sebagainya. Karena itu, kita semua perlu meningkatkan semangat kebersamaan, semangat kemanusiaan dan semangat kesetia-kawanan, untuk dapat mengatasi berbagai tantangan global itu. Kita percaya, bahwa setiap krisis mengandung peluang, setiap masalah ada solusinya. Marilah kita semua, bangsa-bangsa di dunia ini, bekerja-sama lebih erat untuk memajukan perdamaian, keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Segenap umat Kristiani yang berbahagia,
Akhirnya, melalui Perayaan Natal, semoga saudara-saudara Umat Kristiani mampu memperbaharui semangat pengharapan di hati masing-masing, mampu merefleksikan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu membangun semangat kebersamaan dan toleransi di antara pemeluk agama yang berbeda. Natal juga harus disikapi sebagai upaya memotivasi pembaharuan iman, cinta kasih, kesederhanaan dan solidaritas sebagai cerminan kepatuhan. Semangat ini hendaknya dapat diabdikan, bukan hanya untuk Umat Kristiani saja, tetapi lebih jauh untuk bangsa Indonesia dan juga untuk umat manusia sejagad.
Demikianlah pesan, harapan dan ajakan saya pada kesempatan yang membahagiakan ini, untuk kita laksanakan bersama. Kepada Umat Kristiani di seluruh pelosok tanah air, pada kesempatan yang baik ini, sekali lagi, saya menyampaikan selamat Natal dan selamat menyongsong Tahun Baru 2009. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kasih sayangnya kepada kita semua, dalam membangun hari esok yang lebih cerah dan lebih baik.
Sekian. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Syaloom
Jakarta, 27 Desember 2008
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO



