Pidato Presiden

Sambutan Tabligh Akbar Menyambut Tahun Baru 1430 H

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
TABLIGH AKBAR MENYAMBUT TAHUN BARU HIJRIYAH
MESJID ISTIQLAL, JAKARTA
30 DESEMBER 2008



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya muliakan para Duta Besar Negara-negara Sahabat, para Gubernur, Kepala Daerah,
Yang saya muliakan para Pimpinan Majelis Ulama Indonesia, Imam Masjid Besar Istiqlal, saya ulangi Imam Besar Masjid Istiqlal, para Ulama,
Yang saya cintai Bapak Prof. Dr. Quraish Shihab, Kaum Muslimin dan Muslimat serta Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah SWT,

Marilah sekali lagi pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, dan semoga kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta, dan bahkan untuk ikut membangun tatanan dunia yang adil, yang damai, dan yang sejahtera.

Kita juga patut bersyukur ke hadirat Allah SWT, karena hari ini kita dapat beribadah bersama, berdzikir, dan berdoa, sekaligus memperingati jatuhnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1430 Hijriyah, yang bertepatan 2 hari lagi kita juga akan memasuki tahun baru Masehi 2009.

Hadirin-hadirat yang saya hormati,
Setiap pergantian tahun, kita senantiasa melakukan kegiatan yang baik, yang terpuji, yang penuh manfaat, yaitu melakukan refleksi, bertafakur disertai dengan dzikir dan doa. Dalam berbagi kesempatan saya katakan, refleksi dan tafakur adalah kegiatan dan tradisi yang baik, karena kita melihat masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Dalam dimensi keimanan, melihat masa lalu sebagai umat hamba Allah, kita patut memohon ampun, bertobat, karena kita tidak pernah luput dari kesalahan dan kekhilafan, dan selanjutnya melangkah ke depan memasuki tahun baru, kita mohon bimbingan, petunjuk dan lindungan, serta tuntunan Allah SWT agar hari esok kita lebih baik dari hari sekarang.

Pertama-tama tadi kita telah mendengarkan sambutan dari Saudara Menteri Agama Republik Indonesia Dr. Maftuh Basyuni yang menggambarkan tentang sebuah perjalanan besar atau kita kenal dalam istilah transformasi yang dilakukan oleh Rasulullah pada zamannya yang mengubah sejarah dan peradaban umat manusia di bawah kepemimpinan beliau. Setelah itu, kita mendengarkan tausiah, hikmah 1 Muharram dari Bapak Prof. Dr. Quraish Shihab yang juga mengingatkan dimensi waktu dalam kehidupan umat manusia, baik kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat. Beliau juga menjelaskan dengan gamblang kunci keberhasilan, persyaratan dasar, agar dalam sebuah perubahan besar yang dilakukkan sebuah bangsa itu berhasil mencapai tujuan dan sasarannya. Tentu saja sebab saya sebagai umaroh yang sedang mengemban amanah di negeri tercinta ini, mengajak Saudara semua untuk betul-betul merenungi apa yang disampaikan oleh kedua beliau tadi dan mari kita jalankan bersama dalam ibadah kita, dalam karya kita, dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Ijinkan saya menggarisbawahi beberapa hal dan sekaligus mengaktualisasikannya, mengimplementasikannya dalam kehidupan bersama kita untuk melanjutkan pembangunan bangsa dan negara. Pertama, benar bahwa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada zaman beliau adalah bukan sekedar reformasi, tapi hakekatnya adalah perubahan amat besar atau kita kenal dengan transformasi. Karena yang ingin dibangun oleh Rasulullah adalah sebuah peradaban, bukan hanya budaya, bukan hanya tatanan pemerintahan, bukan hanya kehidupan peradaban semata, tapi sebuah peradaban yang akhirnya menjadi peradaban Islam yang agung. Dalam membangun peradaban yang agung dan mulia itu, kita sama-sama mengetahui bahwa jalan yang di tempuh oleh Rasulullah adalah jalan yang tidak lunak, penuh dengan tantangan, rintangan dan persoalan yang berat, yang menguji kesabaran, ketegaran, ketabahan dari beliau selaku pemimpin umat yang agung.

Akhirnya, sejarah pulalah yang menunjukkan bahwa transformasi besar itu adalah contoh nyata keberhasilan kepemimpinan Rasulullah dan sekaligus keberhasilan perubahan dari zaman kegelapan jahiliyah menjadi zaman yang penuh dengan cahaya iman. Belajar dari semuanya itu, ada nilai-nilai yang luar biasa yang mesti kita petik dan insya Allah bisa kita tauladani, kita jalankan di negeri tercinta ini, karena kita sesungguhnya juga sedang membangun peradaban bangsa yang mulia menuju masa depan Indonesia yang aman dan damai, yang adil dan yang sejahtera.

Di antara sekian banyak pelajaran yang sangat berharga, saya ingin mengedepankan beberapa hal saja yang saya anggap sangat penting dan relevan dengan apa yang kita hadapi dan alami di negeri kita. Pertama, sebuah perubahan besar tidak bisa dan tidak mungkin dilakukan sekaligus. Tidak tepat pula kalau perubahan itu dilakukan secara revolusioner. Yang tepat adalah sebuah evolusi, sebuah perubahan bertahap atau yang kita kenal dengan perubahan yang gradual.

Dalam perubahan maha besar itu yang dicontohkan oleh Rasulullah adalah perubahan yang seimbang, yang balance dan segala bidang kehidupan. Sebab kalau tidak seimbang akan terjadi persoalan-persoalan yang bersifat fundamental. Dunia akhirat, keimanan, pengetahuan, ekonomi, politik, budaya dan sebagainya, semuanya berimbang, balance, serasi, selaras.

Pelajaran ketiga, Rasulullah dalam memimpin perubahan maha besar itu mengajak semuanya, perubahan yang inklusif, tidak ada yang dipinggirkan, tidak ada yang ditendang, tidak ada diskriminasi, semua diajak untuk melakukan sebuah perubahan, membangun nilai, watak, dan perilaku yang mulia. Rasulullah juga memberi contoh bagaimana mengajak semuanya menuju masa depan yang baik di jalan Allah SWT, yaitu yang disebut dengan daya persuasi, bukan cara-cara yang memaksa, apalagi dengan kekerasan dan intimidasi, mengajak, beliau memberi contoh, menjadi contoh. Akhirnya dengan kesukarelaan, semuanya mengikuti jejak perjalanan Nabi Muhammad SAW.

Dan yang lebih penting, karena luar biasa tantangan, ujian, dan cobaan, serangan bertubi-tubi yang ingin menggagalkan transformasi yang dilaksanakan oleh Rasulullah adalah karakter beliau yang luar biasa pula, sabar, tegar, tabah, tawakal, tidak pernah menyerah, yakin pada kebesaran Allah SWT, dan terus berikhtiar. Itu adalah sekelumit saja dari pelajaran maha besar yang dilakukan oleh pemimpin Islam yang Agung, Nabi Muhammad SAW pada saat beliau melakukan transformasi besar membangun peradaban Islam yang agung dan mulia.

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Mari sekarang kita implementasikan dalam kehidupan bangsa dan negara kita dewasa ini yang terus membangun dan membangun, yang baru saja 10 tahun yang lalu mengalami krisis yang dahsyat dan dalam, dengan berbagai persoalan, dan ujian dan tantangan, bagaimana kita melangkah ke depan. Kita harus berangkat dari satu keyakinan, sebagaimana keyakinan Rasulullah, bahwa peradaban Islam yang agung akan terwujud. Kita, seluruh rakyat Indonesia, kaum muslimin dan muslimat di negeri tercinta ini harus memiliki keyakinan. Insya Allah, dengan ridho Allah SWT, kita bisa menjadi negara yang maju, yang bermartabat, dan yang sejahtera di abad ke-21 ini. Mari kita bangun keyakinan diri disertai kerja keras, ikhtiar dan upaya kita semua. Intinya, saya setuju dengan Bapak Quraish Shihab adalah peradaban.

Pada Peringatan 1 Abad Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei yang lalu, saya menyampaikan ajakan kepada seluruh rakyat Indonesia, agar negara kita benar-benar menjadi negara yang maju, bermartabat, dan sejahtera di abad 21 ini, maka saya katakan ada dua syarat. Syarat yang pertama, kita harus terus membangun kemandirian, daya saing, dan peradaban bangsa yang terhormat, tinggi dan mulia. Syarat pertama, syarat yang fundamental.

Syarat yang kedua, dengan kekuatan atau pilar-pilar itu, mari kita bersatu, melangkah bersama, bekerja lebih keras untuk betul-betul mewujudkan cita-cita kita bersama, Indonesia yang aman dan damai, yang adil, yang bermartabat dan yang sejahtera.

Kalau saya ajak Saudara-saudara untuk bagaimana kita mengaplikasikan, mengimplementasikan nilai dan pelajaran besar yang dilakukan oleh Rasulullah pada zaman beliau memimpin transformasi di waktu itu, salah, akan banyak cobaan, tantangan, dan ujian yang menghadang perjalanan bangsa ini, sebagaimana yang dialami oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini yang berhasil membangun masa depannya. Menghadapi itu tidak perlu cemas, tidak perlu gamang, tidak perlu takut, tidak perlu saling menyalahkan di antara kita. Memang itulah menuju ke tujuan yang mulia, tidak pernah ada jalan yang lunak, tidak juga seperti berjalan di bawah bulan purnama. Sama, kita membangun dan membangun, melakukan perubahan secara bertahap, ada kalanya lebih cepat, ada kalanya perlu waktu, adakalanya perubahan itu mudah, adakalanya tidak semudah yang kita bayangkan, tapi terus harus kita lakukan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Seimbang berbagai aspek kehidupan di negeri kita, mari juga kita lakukan pembangunan yang seimbang, langkah inklusif, semua kita ajak seluruh rakyat Indonesia.

Dan berkali-kali saya mengajak dan berharap karena umat Islam di negeri ini adalah mayoritas bangsa kita, mari kita menjadi contoh, mari kita mengajak, mari kita mengayomi, sebagaimana yang ingin kita tuju bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam, yang membawa barokah, menjadi solusi dari semua persoalan yang dihadapi di Indonesia ini maupun di dunia. Persuasif kita tunjukkan arah yang benar, kita sampaikan, bagaimana kita membangun bangsa dengan benar, dengan cara-cara yang benar. Itu mulia karena semua akan ikhlas untuk mengikuti jalan yang kita tempuh dan kita capai.

Dan sama dengan yang dihadapi oleh Rasulullah beserta sahabat, beserta keluarga beliau menghadapi masa-masa yang sulit, yang sering disebut the impossible mission waktu itu adalah sekali lagi karakter jiwa yang kuat dan kokoh, sabar, tegar, tabah, tawakal, tidak pernah tidak bersyukur dan kemudian terus berikhtiar. Semua itu sudah ada contohnya, sudah ada teladan dari Nabi Muhammad SAW, mari kita jalankan, mari kita ikuti, mari kita lakukan jejak perjalanan sejarah seperti itu.

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Kemarin kita memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram 1430 Hijriyah dua hari lagi saya katakana kita akan memasuki Tahun Baru 2009. Tiga hal yang insya Allah akan terjadi di negeri kita setahun mendatang, pertama, kita memang masih terus melakukan transformasi, perkuat pembangunan kembali negeri ini pasca krisis, dan terus membangun peradaban mulia sebagaimana yang saya sampaikan tadi. Ini adalah agenda yang terus-menerus harus kita jalankan. Ini adalah misi, tugas, ibadah yang harus kita lakukan sampai negara kita benar-benar menjadi negara yang adil, makmur, aman dan sentosa.

Yang kedua, tahun depan pula kita harus lebih bersatu, lebih kompak, bekerja lebih keras untuk mengatasi dampak dari resesi perekonomian dunia, dampak dari krisis keuangan global. Akan kita lakukan langkah-langkah semestinya menghadapi ujian dan tantangan baru itu.

Dan yang ketiga, insya Allah negeri kita kembali akan melaksanakan pemilihan umum mulai bulan April, kemudian bulan Juli dan bisa jadi bulan September. Satu proses atau rangkaian pemilihan umum yang cukup panjang dibandingkan pemilihan umum di negara-negara lain. Tiga hal itu insya Allah akan terjadi, mari kita bersiap diri untuk menghadapinya, untuk menyukseskannya demi bangsa dan negara kita.

Berkaitan dengan itu, pada kesempatan yang baik ini, ajakan dan harapan saya adalah mari kita hadapi dan atasi krisis ekonomi dengan keyakinan, insya Allah kita bisa mengatasi. Pemerintah bersama komponen bangsa yang lain, sejak awal terus berupaya mengatasi dampak dari krisis perekonomian dunia ini. Pemerintah mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat. Alhamdulillah sejauh ini Pemerintah bisa mengelola keadaan, tetapi badai belum berlalu, resesi perekonomian global masih kita rasakan tahun depan, tanpa harus cemas, tanpa harus merasa takut, mari biarkan kita atasi bersama-sama dengan keyakinan dan insya Allah, kita bisa mengatasi semua tantangan dan permasalahan itu, dan kita bisa terus membangun kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Berkaitan dengan pemilihan umum tahun 2009, mari kita jalankan, kita sukseskan, pemilihan umum ini dengan penuh tanggung jawab, semua. Mari kita jalankan tugas untuk menyukseskan demokrasi, politik, dan pemilihan umum tahun 2009 mendatang itu dengan penuh amanah. Meskipun ada kompetisi di antara kita dan itu wajar dalam sebuah demokrasi, jangan pernah memutus tali silaturahim, jangan. Persaudaraan kita insya Allah abadi, sesama umat Islam, sesama sebangsa dan setanah air, sesama umat manusia sedunia, jangan kompetisi yang terjadi lima tahun sekali merusak semuanya, sendi-sendi persaudaraan dan tali silaturrahim itu.

Ketika kita berdemokrasi, melaksanakan pemilihan umum, mari kita jaga ketenteraman dan keamanan masyarakat kita. Pemilihan umum sangat bisa kita laksanakan dalam suasana yang damai, yang teduh, yang menghasilkan keamanan dan ketenteraman, sehingga semua memandang pemilihan umum itu mendatangkan kebaikan, manfaat dan bukan sebaliknya. Mari kita menghindarkan diri dan mencegah cara-cara, tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Jangan untuk mencapai tujuan, kita menghalalkan segala cara, itu bukan jalan yang islami, bukan jalan yang penuh dengan nilai-nilai peradaban yang baik. Dan yang terakhir, mari kita cegah dan hindari fitnah dan kekerasan.

Pemilu akan indah, kegiatan politik dan demokrasi akan penuh dengan manfaat, apabila kita dalam menggunakan hak kita, kebebasan kita tidak meninggalkan akhlak, penuh dengan tujuan yang baik, niat yang bersih untuk bersama-sama membangun kehidupan politik yang baik di negeri tercinta ini.

Itulah ajakan dan harapan saya pada Saudara semua, kaum muslimin dan muslimat di negeri tercinta dan seluruh rakyat Indonesia untuk melangkah ke depan tahun mendatang, tahun 1430 Hijriyah maupun tahun 2009 Masehi.

Yang terakhir, Hadirin-hadirat yang saya muliakan, kita berharap sesungguhnya memasuki tahun baru Islam ini, memasuki tahun tahun baru Masehi, dunia menjadi lebih damai, lebih aman, dan lebih teduh, tetapi kembali hati dan pikiran kita tergores oleh kejadian di berbagai tempat di dunia yang jauh dari peradaban umat yang kita dambakan.

Di dunia, di berbagai pelosok bumi masih terjadi tragedi-tragedi kemanusian, perang, misalnya perang yang masih berkecamuk di Irak, di Afganistan, di Palestina, di Afrika, dan konflik bersenjata, serta kekerasan di wilayah yang lain. Masih ada kelaparan dan kemiskinan yang ekstrim, yang menimpa saudara-saudara kita di berbagai wilayah dunia. Masih ada bencana, baik bencana, karena peristiwa alam murni atau bencana alam karena kesalahan umat manusia, kesalahan kita semua.

Kita dikejutkan beberapa hari yang lalu serangan Israel terhadap daerah Gaza di Palestina yang dilaksanakan secara eksesif, tidak proporsional, mendatangkan korban jiwa dan harta benda yang besar. Ini adalah tragedi di akhir dan awal tahun yang benar-benar sesuatu yang tidak kita harapkan. Sikap, posisi dan tindakan Indonesia jelas, sejak awal kita mengecam keras aksi-aksi militer Israel yang banyak menimbulkan korban jiwa, termasuk mereka yang tidak berdosa, kaum perempuan dan anak-anak yang sekarang aksi militer itu masih berlangsung.

Kemarin setelah saya berbicara dengan Menteri Luar Negeri, dengan Duta Besar kita yang ada di Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York setelah saya mendapat laporan apa yang terjadi di PBB, Dewan Keamanan PBB, maka kita memutuskan untuk saya menulis surat kepada Sekretaris Jenderal PBB, kepada Presiden Dewan Keamanan PBB, agar PBB, Dewan Keamanan segera mengambil langkah-langkah yang tegas, yang jelas dan bisa menghentikan aksi-aksi militer Israel.

Saya juga mengajak semua pihak di dunia ini untuk sungguh sangat peduli dan berbuat bersama memulihkan keadaan, menghentikan aksi-aksi militer Israel, melanjutkan proses damai untuk kebaikan semua. Kita terus mendukung perjuangan saudara-saudara kita di Palestina untuk menjadi negara yang berdaulat dan mandiri. Kita juga memberikan bantuan kemanusian berupa uang tunai 1 juta Dolar Amerika Serikat dan juga bantuan alat-alat kesehatan. Sejumlah langkah akan terus kita lakukan, karena ini adalah misi kemanusian, misi besar. Dan saya mengajak Saudara-saudara semua untuk mendoakan saudara-saudara kita yang ada di Palestina, yang menderita lahir dan batin sekarang ini agar dibebaskan, diberikan keselamatan oleh Allah SWT, dan rasa terketuk hati para pemimpin dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan siapa saja untuk betul-betul sangat serius mengakhiri tragedi yang ada di Palestina sekarang ini. Inilah tantangan baru di tingkat dunia, bersama-sama kita hadapi dan marilah Indonesia tetap menjalankan ibadah kita, amanah kita, peran kita di dunia internasional untuk tujuan yang baik dan mulia.

Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Akhirnya sebagai akhir dari sambutan saya ini, atas ijin para Ulama, saya ingin menggarisbawahi apa yang saya sampaikan pada Peringatan 1 Muharram 1428 Hijriyah yang lalu. Waktu itu, saya ajak rakyat Indonesia, kaum Muslimin dan Muslimat melakukan 3 hal memasuki tahun baru. Saya mengajak hal yang sama untuk setahun mendatang.

Pertama, segaris dengan apa yang dilakukan oleh, apa yang diceramahkan oleh Bapak Quraish Shihab tadi, mari kita tidak menyia-nyiakan waktu. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan untuk mengatasi berbagai persoalan di negeri tercinta ini, untuk terus melanjutkan pembangunan menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Kita sama-sama mengetahui firman Allah, bahwa demi waktu sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi, kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh dan kecuali mencari bagi yang saling berwasiat untuk kebenaran dan saling berwasiat untuk kesabaran. Mari kita menangkan waktu itu, tidak kita sia-siakan, agar kita tidak menjadi bangsa yang merugi.

Yang kedua, mari kita sungguh pedomani, hayati, dan jalankan bersama-sama bahwa sangat jelas dalam ajaran Islam, Tuhan tidak akan merubah nasib sebuah kaum, kecuali kaum itu mengubah perilaku hidupnya, mengubah dirinya, dan akhirnya membawa perubahan bagi bangsa dan negaranya. Masih relevan dan mari kita jalankan. Menghadapi krisis keuangan dunia tidak perlu kita menggantungkan diri dari bantuan-bantuan dunia. Kerjasama memang penting, kemitraan penting, tapi selebihnya kita sendiri yang harus mengatasinya dengan sekuat tenaga, insya Allah bisa kita lakukan.

Dan yang terakhir adalah sama dengan yang saya sampaikan 2 tahun yang lalu. Marilah kita bekerja dengan sungguh-sungguh, bekerja lebih keras, jangan menjadi bangsa yang lunak, jangan menjadi bangsa yang pesimis, yang permisif. Mari kita betul-betul melakukan segalanya dengan sekuat tenaga, sebagaimana tausiah dari Ulama, bahwa mari kita kejar dunia kita seolah-seolah kita akan hidup seribu tahun lagi. Dan marilah kita kejar akhirat kita seolah-olah esok kita akan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.

Itulah tiga ajakan dan harapan saya, Saudara-saudara. Dan akhirnya, marilah kita mohon doa kepada Allah SWT, agar perjalanan kita diberikan bimbingan, perlindungan dan tuntunan dari beliau. Mari kita melangkah bersama membangun hari esok yang lebih baik.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan