Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Perdagangan Hari Pertama Bursa Efek Indonesia 2009

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DALAM ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN PERDAGANGAN KE-1 BURSA EFEK INDONESIA 2009
GEDUNG BURSA EFEK INDONESIA, JAKARTA
TANGGAL 5 JANUARI 2009



Bismillaahi rahmanirahiim,
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,


Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua.
Yang saya hormati Saudari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan. Saudara Gubernur Bank Indonesia, dan para pimpinan dunia perbankan baik milik negara maupun swasta.
Yang saya hormati, para Menteri dan anggota Kabinet Indonesia Bersatu.
Saudara Gubernur DKI Jakarta. Saudara Ketua BPPM dan Saudara Direktur Utama PB Bursa Efek Indonesia dan segenap karyawan BEI.
Para pelaku industri pasar modal. Para pelaku dunia usaha.
Saudara pimpinan Bank Dunia untuk Indonesia

Hadirin sekalian yang saya hormati.
Marilah sekali lagi pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan karya, tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa dan negara tercinta.

Pada kesempatan yang baik ini saya juga mengucapkan selamat tahun baru 2009 kepada Saudara semua, dengan harapan semoga tahun ini lebih baik dari tahun yang lalu dan semoga pula perekonomian nasional dan dunia usaha kita tetap terjaga menghadapi resesi perekonomian global yang mulai kita rasakan sekarang ini.

Hadirin yang saya hormati,
Kurang lebih 2 minggu yang lalu, Ibu Ani datang kepada Saya di kantor, apakah saya bersedia untuk datang di BEI ini dan membuka perdagangan di hari pertama, untuk BEI sekaligus kembali berdialog dengan para pelaku usaha pasar modal Indonesia. Tentu saya katakan siap dan saya senang.

Barangkali ada pikiran beliau sebagaimana disampakan tadi kalau tahun lalu itu tahun yang menyenangkan karena tumbuh lebih dari 50% indeks harga saham gabungan kita. Tahun ini tahun yang kurang menyenangkan karena turun kurang lebih sama turunnya. Tapi saya katakan pada Bu Ani, performance atau kinerja Bursa Efek Indonesia ini seperti ini bukan karena kesalahan. BEI bukan karena kesalahan policy, tapi semua tahu ini bagian dari krisis keuangan global.

Oleh karena itu wajib hukumnya kita semua untuk datang ke tempat ini untuk tentunya memberikan semangat kepada BEI dan semua pelaku pasar modal dengan harapan, sekali lagi insya Allah, tahun ini kita bersama-sama bisa mengatasi keadaan dan terus bisa meningkatkan perekonomian dan dunia usaha kita.

Di banyak kesempatan Saudara-saudara dan ini penting karena Saudara-saudara semua ini pemimpin, bersama yang dipimpin, bersama anak buah kita harus tidak boleh melihat apakah situasinya menyenangkan bagi kita, bahkan suka dan duka kita harus bersama mereka.

Sebagai contoh, saudara kenal namanya perbulutangkisan Indonesia PBSI, ketika mendapat medli emas, prestasinya bagus saya kira mengelu-elukan, kita menyambut dengan baik, memuji. Tapi ketika sedang down, gagal untuk merebut target yang kita harapkan, biasanya tidak ada yang menyambut dengan baik. Tapi kami biasakan menang atau kalah dia datang ke Istana. Karena biasanya kekalahan itu kemenangan yang tertunda, dan ternyata betul kalau kita bersama mereka dalam suka dan duka maka memotivasi mereka untuk berprestasi yang lebih baik lagi di masa depan.

Olahragawan kita tentu ingin berbuat yang terbaik di berbagai pentas dunia, sehingga kalau tidak berhasil itu bukan karena mereka tidak ingin erhasil karena barangkali lawannya lebih tangguh, barangkali banyak faktor yang menyebabkan kita belum berhasil.

Ingat dulu waktu pertandingan sepak bola kita waktu Asia Cup dulu, hampir masuk final sepak bola kita, sehingga menyatukan nasionalisme kita waktu itu. Kemudian tidak berhasil, saya datang pada mereka, saya berkomunikasi dengan penuh kebanggaan dan ternyata mereka merasa tetap mendapatkan apresiasi.

Saya mengajak Saudara-saudara karena Saudara-saudara memimpin, entah perusahaan, entah pemimpin apapun mari kita biasakan kita selalu bersama mereka dalam keadaan apapun.

Hadirin yang saya hormati,
Tentu saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Saudara semua, kepada pimpinan Bursa Efek Indonesia dengan seluruh karyawannya, kepada para pelaku industri pasar modal atas kerja kerasnya, atas ketegarannya, atas keuletannya untuk bisa menjaga bisnis di wilayah ini. Dan memang tahun lalu adalah tahun yang penuh tantangan. Tahun sekarang pun tantngan masih kita hadapi dan syaratnya adalah semua harus bekerja lebih keras lagi, bersiaga, siap dengan contingency dan kemudian kita berbuat dan terus berbuat untuk mencapai kemajuan yang lebih baik lagi.

Saya tidak happy kemarin ketika mengikuti media massa sebagai contoh ada keterlambatan bahan bakar. Ada statement, entah itu hanya excuse saja, dari jajaran Pertamina, yang hari libur, ya kemudian mengenalkan sistem baru. Salah. Tidak ada hari libur kalau untuk melayani rakyat. Tidak berarti harus ngantor, tapi tidak ada excuse seperti itu, lantas lalai, lantas tidak berkomunikasi dengan rakyat, lantas tidak responsive. Keliru. Jadi, kita pun, kita semua. Justru ketika kita harus melayani rakyat kita, kita harus selalu berjaga, bersiaga, dan mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat. Saya katakan tidak harus ngantor. Tapi harus merespon pada saatnya. Negara tidak boleh tidur, the state that never sleeps, untuk menjalankan tugasnya, menjalankan roda pemerintahan, untuk melayani rakyat, dan ini berlaku bagi seluruh jajaran pemerintahan di seluruh tanah air. Ini berlaku bagi Pemerintahan Pusat, berlaku bagi Pemerintahan Daerah, Gubernur, bupati, walikota, dan semua jajaran pemerintah.

Saudara-saudara,
Ini sebagai contoh kemarin saya berterima kasih kepada pejabat pemerintah, para menteri yang cepat sekali melakukan langkah-langkah untuk mengatasi gempa bumi di Manokwari dan di Sorong. Saudara tahu, kemarin malam menjelang dini hari ada gempa dengan magnitude yang besar sekali 7,6 skala Richter di Papua Barat. Terjadi kerusakan infrastruktur dan beberapa bangunan.

Subuh sistem telah bekerja. Pagi hari saya sudah bisa bicara dengan Gubernur Papua Barat, dengan Menteri-menteri terkait, dan action. Jadi meskipun kemarin juga hari libur, libur nasional, tapi langkah-langkah yang cepat dan tepat itu mesti kita jalankan. Dan saya berterima kasih kemarin cukup cepat dan tepat meskipun saya masih menunggu sekarang ini, saya kira akan segera melapor dari Manokwari atau dari Sorong keadaannya sesungguhnya seperti apa, sehingga kita tidak terlambat dalam merespon seperti itu.

Saudara-saudara,
Tema dialog, saya senang, saya kira tepat “Building Confidence in the Global Market Turbulence”. Memang dalam keadaan tidak normal, dalam keadaan krisis yang harus kita jaga adalah confidence dan trust. Dan yang paling berbahaya adalah apabila terjadi the crisis of confidence and the crisis of trust.

Kalau itu terjadi panjang proses untuk memulihkannya kembali, recovery-nya menjadi panjang dan sukar. Karena dalam hati dan pikiran kita, kita tidak yakin apakah kita bisa mengatasi, kita tidak percaya pada yang lain, apakah mereka bisa memenuhi kewajibannya. Oleh karena itu sejak awal saya mengajak semua untuk memelihara keyakinan diri bahwa kita bisa, bukan hanya yakin tanpa pekerjaan. Kita yakin, sambil memohon ridho Allah karena kita bekerja, dan bekerja, dan bekerja, mengantisipasi, merespon, terus, mengelola dan mengendalikannya. Dan ini sejiwa dengan posisi Indonesia.

Pada bulan Oktober tahun lalu saya menghadiri Pertemuan Puncak ASEM (Asia-Europe Meeting) di Beijing. Itu sudah berbicara soal krisis keuangan global, sudah bicara tentang resesi perekonomian dunia. Bulan berikutnya lagi, sebagaimana Saudara ketahui, Indonesia diikutkan dalam Pertemuan Puncak G-20. Dalam Pertemuan G-20 Summit di Washington D.C. Saya juga mengulangi kembali pandangan Indonesia untuk mengatasi krisis keuangan global ini.

Di kedua forum itu saya sampaikan, pertama-tama, yang harus dilaksanakan oleh masyarakat dunia adalah to restore the confidence, terutama pada tingkat pasar, utamanya lagi pada pasar keuangan. Itu dulu, baru yang lain-lain. Menjaga real economy atau sektor riil, menjaga kerjasama trade and investment antarbangsa, antarnegara, sampai in the long run nanti melakukan perbaikan dari the global economic border, atau arsitektur keuangan global, lebih konkretnya lagi.

Apa yang kita lakukan, Saudara-saudara, empat bulan yang lalu sebenarnya kalau kita pertama kali melakukan pertemuan bersama, Pemerintah, Bank Indonesia, dan dunia usaha, termasuk para ekonom tanggal 6 Oktober di gedung Sekretariat Negara waktu itu yang saya pimpin. Sesungguhnya sebulan sebelum meeting itu kita sudah bekerja, beribadah, pertama kali kita beribadah bulan puasa, kita sudah bekerja. Tapi profile kita belum tinggi, tapi begitu sudah mulai mengalir dampak krisis keuangan global, segera kita menjalankan manajemen krisis, yang masih kita lakukan sampai sekarang ini.

Empat bulan pertama, September, Oktober, November, Desember. Kita semua, melakukan langkah-langkah bersama, bersinergi, berkoordinasi, berbagi dalam arti sharing. Maka semuanya itu dalam pikiran saya adalah untuk menjaga confidence kita, untuk menjaga mutual trust di antara kita. Dunia usaha kepada Pemerintah, Pemerintah – Bank Indonesia, Bank Indonesia – dunia usaha, dan seterusnya.

Mengapa 10 tahun yang lalu kita sama-sama mengalami krisis luar biasa. Catatan hitam dalam sejarah perekonomian negeri kita, bahkan catatan hitam dalam sejarah Indonesia. Di antara banyak sebab mengapa krisis 10 tahun yang lalu itu betul-betul dahsyat dan dalam dan untuk memulihkannya memerlukan waktu yang panjang, upaya yang luar biasa, resources yang besar, karena ada hal-hal yang mendasar, yang so fundamental yang sifatnya lebih banyak psychological, ya itu, lack of confidence sekali lagi, lack of trust, lack of coordination, lack of leadership. Leadership dari banyak level. Akibatnya? SDM, Selamatkan Diri Masing-masing.

Capital outflow terjadi luar biasa. Sebagian dari yang pergi ke luar negeri ada yang belum kembali, karena bingung kembalinya lewat mana. Itu semua gara-gara antara lain the crisis of confidence. Maka, kita mengantisipasi jangan sampai kondisi psikologi itu datang lagi. Saya berterima kasih, saya bersyukur kebersamaan kita selama empat bulan terakhir dalam mengelola krisis telah bisa meminimalkan. Saya tidak pernah mengatakan mencegah datangnya persoalan ekonomi karena resesi perekonomian global, tapi saya katakan meminimalkan, memoderatkan, mengurangi, Saudara-saudara.

Hadirin yang saya muliakan,
Tahun lalu di ruangan ini saya berdiri, juga di podium ini, tepatnya tanggal 2 Januari, Saudara masih ingat? 2 Januari tahun 2008. Prestasi Indonesia waktu itu, nomor tiga kita dari segi peningkatan IHSG, setelah ingatan saya, Shenzhen dan Shanghai waktu itu. Kita pertama 1800-an naik menjadi 2700-an. Naik 52%. Setelah saya menekan bel di atas, membuka waktu itu, saya katakan mari kita usahakan tahun ini, ini itu tahun 2008 yang lalu, kepada para pimpinan, kita bisa meningkat 30% lagi. Apa komentar beliau-beliau? Kenapa Pak hanya 30%? Sekarang saja 52%. Optimis. Tapi tiba-tiba mendung datang, hujan, kena kiriman banjir dari Amerika kita. Dan sekarang terpaksa turun. Saya hargai semangatnya, optimisme. Tapi Tuhan memberikan pelajaran, kita berencana, kita beroptimis, berikhtiar, Tuhan menentukan yang lain. Sehingga, turunnya, ini posisi 26 Desember, 51, sekarang berapa turunnya? 50.

Tetapi kata Bu Ani betul, bukan hanya Indonesia satu-satunya yang turun. Alhamdulillah tidak masuk 20 terburuk. Catatan saya per tanggal 26 Desember, Shanghai itu turun 65%, Shenzhen 61%, Mumbai 54%, Singapura 50%. Kalau nggak salah Singapura sekarang 49, kita 50, dekat-dekatan. Dan rata-rata koreksi indeks itu memang range-nya antara 50-65%. Jadi kita di tengah, kalau orang Jawa itu, masih lumayan di tengah. Diinjak kakinya satu, untung cuma satu yang diinjak, tidak dua-duanya.

Baik, Saudara-saudara,
Dari mimbar ini juga, setahun yang lalu, 2 Januari, saya menyampaikan hal-hal sebagai berikut. Saya punya transkripsi sambutan dan pidato saya seperti ini lengkap. Jadi kalau datang ke kantor saya, ada seperti ensiklopedia, itu berapa rak, semua statement saya, pidato saya, sambutan saya, press conference saya tercatat. Saya ingin konsisten, saya ingin diikuti, tentang pikiran, tentang policy, tentang keputusan, tentang actions, dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan.

Berbahaya kalau pemimpin, termasuk kita semua, orang Jawa mengatakan “esok dele, sore tempe”. Kemarin ngomong apa, sekarang ngomong apa, susah nanti. Kita harus banyak belajar bahwa konsistensi itu penting. Dan bagi yang sering Sidang Kabinet saya selalu ingatkan, tahun lalu ini yang saya sampaikan, dua tahun yang lalu ini yang saya sampaikan. Untuk menjaga kita pada track yang benar, dengan visi yang jelas, arah yang jelas, kalau ada dinamika tidak perlu gamang, tidak perlu cemas, tidak perlu disoriented karena kita bisa kembali pada track yang benar.

Yang saya sampaikan waktu itu, lihat catatan, transkripsi, catatan Saudara-saudara, saya mengajak untuk mengantisipasi dampak dari krisis supply mortgage di Amerika Serikat waktu itu, a year ago. Yang kedua, saya mengajak mari kita antisipasi kenaikan harga minyak mentah, crude Itu bulan Januari, bulan Mei terpaksa kita naikkan meskipun alhamdulillah sudah kita turunkan dua kali. Saya tidak tahu apakah masih ada ruang lagi untuk menurunkannya kembali, untuk meringankan beban saudara-saudara kita. Yang ketiga saya sampaikan, antisipasi kenaikan harga pangan global, menjaga stabilitas harga dalam negeri, menjaga tingkat inflasi yang wajar, waktu itu. Yang keempat, saya mengajak mengantisipasi cuaca yang sering ekstrim disertai dengan bencana-bencana alam karena perubahan iklim dan pemanasan global, waktu itu. Yang kelima, saya mengajak mengantisipasi tapi sekaligus memikirkan policy response terhadap sekarang ini yang kita alami, terjadinya resesi perekonomian global, terhadap, yang saya sampaikan waktu itu, growth, pertumbuhan, dan kemudian ekspor, dan di dalam negeri unemployment termasuk stabilitas harga kembali.

Setahun yang kita jalani, tahun lalu, sejak Januari sampai minggu lalu katakanlah begitu, sesungguhnya ya itu semua yang kita kerjakan. Yang awal tahun saya ajak untuk mengantisipasi, itu semua yang kita lakukan termasuk empat bulan terakhir kita mengelola krisis ini, dan berbagai keputusan, kebijakan, tindakan yang kita lakukan sejak itu ternyata telah secara relatif menjaga perekonomian nasional kita. Saya jelaskan secara singkat, apa yang saya maksudkan alhamdulillah kita bisa menjaga. Dan terakhir waktu itu saya sampaikan seruan saya, jangan terlalu cemas tetapi kita harus bekerja keras, silakan dicek catatannya karena akan datang pengaruh krisis keuangan global ke negara kita.

Saudara-saudara,
Sekarang kalau saya boleh menyampaikan secara sangat singkat, dari sejak kita mengantisipasi, kita melakukan aksi selama satu tahun, apa yang dapat kita hasilkan, the growth 2008. Diramalkan growth kita tahun lalu akan drop. Tidak. Memang target semula 6 koma sekian persen. Tahun lalu, 2007, pertumbuhan kita 6,3%. Diramalkan akan jauh di bawah 6%, insya Allah. Ini dalam penghitungan terakhir, pertumbuhan kita bisa berkisar antara 6 – 6,1 %. Hanya turun, katakanlah, dari pertumbuhan tahun lalu 0,2%. Angka ini termasuk yang tinggi di dunia.

Mari kita lihat, Amerika Serikat, tahun 2007 2%, tahun 2008 diperkirakan 1,2%. Inggris 3%, turun menjadi 0,8 persen, lebih dari dua digit. Jepang 2,4 menjadi 0,1, 2% lebih. Australia 4,1. Tahun 2008 menjadi 2,4. Malaysia 6,3 menjadi 5,5. Singapura 7,7 menjadi 2,1. Drop yang sangat signifikan. China, the fastest ekonomi yang tumbuh di seluruh dunia, dari 12% menjadi 10%, drop 2%, dan ingat Indonesia, dari 6,3 insya Allah menjadi 6,1. Ini semua tentu kerja keras kita semua, antisipasi kita semua. Ternyata yang terjadi tidak seburuk dari yang banyak diprediksi oleh kalangan-kalangan terutama di dalam negeri sendiri.

Yang kedua, masih hasil kerja keras kita yang saya perlu mengucapkan terima kasih kepada semua adalah kesediaan pangan dan harga pangan. Saya katakan mari kita antisipasi secara global harga pangan naik. Lebih naik lagi karena harga bahan bakar juga naik.

Memang 2008 terjadi kenaikan beberapa harga bahan pokok, ada, catatannya ada, tetapi sesungguhnya kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, lebih banyak lagi yang inflasinya lebih tinggi dibandingkan negara kita.

Sementara padi dan beras yang menjadi pilar, menjadi tumpuan dari semua kebutuhan pangan di negeri kita, dengan kerja keras kita justru mencapai produksi yang tinggi, pertumbuhan yang tinggi, hampir 6%. Dan kita telah berswasembada dengan kurang lebih 60 juta ton gabah kering giling. Alhamdulillah, tapi apa dampaknya? Keberhasilan pertanian kita, yang ini semuanya kita laksanakan semacam second green revolution, kebutuhan pupuk meledak, luar biasa.

Oleh karena itu kita pecahkan dengan cara menambah produksi, memperbaiki distribusi, menambah pasokan gas, dan untuk jangka pendek kita amankan stok dulu yang cukup. Ini terus terang konsekuensi dari produktivitas pertanian kita. Dari besarnya kebutuhan pada tingkat pertanian, baik yang pertanian dalam arti sempit maupun perkebunan. Tapi, itulah supply dengan price stability dari bahan pangan kita termasuk atau utamanya beras.

Saya lanjutkan lagi, masih bicara tentang bahan pokok, kebijakan dan aksi untuk stabilitas harga. Kita telah menurunkan harga BBM dua kali, dan itu tentu berdampak pada turunnya tarif angkutan. Sebagian sudah turun, sebagian belum. Ini sedang kita kaji, apa yang perlu kita lakukan, policy apalagi sehingga turunnya tarif angkutan itu lebih signifikan. Dengan penurunan BBM dua kali, tentu penurunan cost of production dari industri kita, sehingga mestinya bisa menjaga stabilitas harga secara lebih baik.

Dalam waktu dekat mudah-mudahan Menteri Perdagangan sudah bisa merealisasi karena sudah kita jadikan policy, untuk penurunan harga minyak goreng, karena secara reasonable memang harus turun. Kita sedang bergulat sekarang untuk mencari solusi penurunan harga daging sapi.

Saudara-saudara, dari sekian puluh harga bahan pokok, itu memang yang menjadi perhatian kami, BBM sendiri, minyak goreng, kemudian kalau jasa tarif angkutan, dan kemudian daging sapi. Daging sapi harus ada perubahan secara structural, terus terang, menyangkut policy. Harus kita tata supaya lebih murah lagi harga daging sapi di negeri kita.

Sedangkan yang lain-lain, cabai, bawang, sayur, mangga, itu relatif stabil dan itu untuk petani. Kalau naik sedikit, petani, dan itu terjangkau oleh rakyat kita karena juga ada kenaikan daya beli mereka semua. Saudara-saudara, ini saya mengambil potret 2008, dari antisipasi saya pilih saja pertumbuhan atau growth kemudian inflasi, stabilitas harga, dan upaya kita untuk menjaga semuanya itu.

Hadirin yang saya hormati,
Sekarang, karena ini masih harus ada kelanjutan dari mengelola perekonomian kita, maka untuk diingat kembali bahwa kita telah melakukan sejumlah policy response. Aksi, termasuk pada tingkat saya, sudah banyak instrumen yang saya keluarkan, termasuk peraturan pemerintah pengganti undang-undang untuk mengatasi gejolak perekonomian ini. Saudara sudah tahu, Saudara sudah mulai merasakan dampak dari instrumen kebijakan yang kita keluarkan itu, untuk mereview, untuk diingat bahwa kita telah meningkatkan likuiditas, baik yang dilakukan oleh Pemerintah, berarti fiscal policy, maupun yang dilakukan oleh Bank Indonesia, berarti monetary policy.

Satu, kita tahu, permasalahan pertama likuiditas, kita atasi dengan meningkatkan likuiditas. Yang kedua, pasar pernah goyang, bulan Oktober-November. Kita melakukan langkah-langkah untuk menjaga kepercayaan pasar, bukan hanya luar negeri, kita juga melakukan itu. Peraturan pemerintah pengganti undang-undang yang saya telah tanda tangani dan sejumlah lagi, antara lain untuk menjaga kepercayaan pasar. Saya tahu sektor riil terpukul sebagian, sebagian tidak, tidak bisa disama rata. Oleh karena itu, untuk meringankan kita berikan insentif fiskal, baik yang berkaitan dengan pajak, maupun berkaitan dengan kepabeanan, kita jalankan. Yang keempat, kita berikan stimulus fiskal untuk memacu pertumbuhan, syarat dari countercyclical policy. Dan ada good news, bahwa stimulus package yang semula kita perkirakan hanya sekitar katakanlah Rp 20 triliun, maka ternyata lebih dari itu dalam jumlah yang jauh lebih besar yang saya jelaskan nanti. Artinya, kita ingin ekspansi fiskal, artinya kita juga melakukan growth stimulation dengan mengalokasikan anggaran yang cukup untuk stimulus package.

Kita juga melaksanakan pengamanan produk dalam negeri. Saya tahu harus mendapatkan opportunity untuk terjaga. Menteri Perdagangan telah mengeluarkan sejumlah kebijakan dan langkah-langkah untuk itu. Kemudian credit financing kita berikan dengan sejumlah policy. Itu adalah kebijakan-kebijakan dasar, aksi-aksi utama yang sudah kita jalankan, dan masih kita jalankan, karena itu perlu untuk menjaga perekonomian kita. Jadi jangan kita silau dengan negara lain. Masing-masing negara memiliki policynya sendiri-sendiri. Tapi kita pilih, kita jalankan, kita lanjutkan policy yang menjadi solusi bagi perekonomian kita sendiri.

Saudara-saudara,
Akhirnya, bagian akhir dari sambutan saya bagaimana kita mengarungi kehidupan di negeri kita tahun ini. Bagaimana kita menyelamatkan dan menjaga perekonomian nasional kita. Di hadapan pejabat teras Departemen Keuangan tanggal 31 Desember yang lalu, sampai malam, menjelang malam tahun Baru, saya sampaikan ada tujuh prioritas atau agenda utama yang mari kita jalankan bersama-sama.

Pertama, mari kita melakukan upaya untuk mencegah, sejauh mungkin kita cegah, kalau tidak bisa kita cegah terpaksa harus terjadi, mengatasi kemungkinan pengangguran tambahan. Caranya sudah kita rumuskan, policynya ada, programnya ada, anggarannya ada. Misalkan pembangunan infrastruktur dengan jumlah yang besar, Departemen PU, Departemen Perhubungan, Departemen ESDM, Perumahan rakyat, termasuk swasta, public private partnership. Itu solusi yang cespleng untuk mengurangi pengangguran di samping usaha dari masing-masing dunia usaha untuk tidak buru-buru mem-PHK-kan para pekerja.

Ada masalah, konsultasi dengan Pemerintah, apa yang Pemerintah bisa bantu. Tentu tidak bisa Pemerintah menanggung seluruhnya. Dalam masa krisis harus ada sharing, berbagi. Apa yang bisa ditanggung Pemerintah, apa yang memang menjadi kewajiban dunia usaha itu sendiri. Itu namanya adil.

Yang kedua, menjaga pergerakan sektor riil. Itu connected to mencegah unemployment. Semua sudah kita jalankan. Mungkin masih akan ada lanjutannya, memberikan insentif fiskal, insentif perpajakan, dan lain-lain. Cukup banyak sehingga lebih berjaya sedikit dan dengan penurunan BBM dan lain-lain tadi mestinya kondisi dunia usaha better dibandingkan tidak ada sama sekali policy itu. Saya sengaja antara menjaga pengangguran dengan menjaga pergerakan sektor riil itu satu nafas.

Yang ketiga dan keempat adalah menjaga stabilitas harga atau inflasi. Saya katakan tadi upaya kita apa saja, policy-nya apa saja, menurunkan, menstabilkan, yang dalam kemampuan kita. Ada harga bahan pokok yang tidak mungkin kita melakukan karena itu betul-betul connected to global economy. Tetapi yang masih dalam jangkauan kita, kita jalankan. Apa itu for free? Tidak. Ada subsidi, ada uang yang kita keluarkan dari APBN untuk bikin harga itu stabil. Tidak ada yang free, tapi kita tempuh agar betul-betul ada stabilitas terutama pada bahan-bahan pokok tertentu.

Saya sekaliguskan nomor empat menjaga daya beli masyarakat. Di satu sisi stabilitas harga kita lakukan, di sisi yang lain rakyat kita bantu menjaga daya belinya. Bagi yang memiliki scheme gaji, pegawai negeri, prajurit TNI, polisi dan lain-lainnya, itu kita lakukan kenaikan gaji secara berkala, tiap tahun kita pertahankan, termasuk gaji ketiga belas. Bagi buruh, ada three partied, yang juga menjaga penyesuaian harga itu. Kita jalankan, meningkatkan daya beli pekerja kita, meningkatkan daya beli PNS kita. Yang non gaji, sejumlah program kita lakukan, Bantuan Langsung Tunai, Bantuan Langsung Tunai Bersyarat, program-program pendidikan bagi yang miskin, yang gratis itu, bantuan kesehatan bagi yang miskin dengan program asuransi, dan sebagainya. Semuanya itu meningkatkan, menjaga daya beli rakyat. Dengan demikian, stabilitas harga, diklopkan dengan peningkatan daya beli, menjadi fair, menjadi terjangkau. Melihatnya jangan sepotong, jangan hanya harga sembako saja, tidak dilihat peningkatan daya beli rakyat, tidak dilihat bantuan, kebijakan Pemerintah untuk meringankan beban mereka, menambah penghasilan mereka. Lihatlah sepasang, itu cerdas. Kalau tidak mesti tidak bisa dibaca.

Kemudian yang kelima, itu pun kita masih melindungi dan membantu rakyat miskin. Tidak perlu saya ulangi lagi. Ada bantuan langsung masyarakat, ada PNPM yang terus kita naikkan besarannya tiap tahun. Tahun ini kecamatan itu dapat Rp 3 miliar untuk PNPM. Jadi kalau ada kabupaten punya 10 kecamatan, ada Rp 30 miliar untuk kecamatan dan desa-desa itu. Jadi kalau saya dengar ada bupati yang menolak PNPM, dia menolak Rp 30 miliar untuk rakyatnya, untuk daerahnya. Mesti dijelaskan kepada saya mengapa menolak, kepada rakyatnya sendiri mengapa menolak.

Kredit Usaha Rakyat, tahun lalu sudah mengalir sekitar Rp 12 triliun. Terima kasih kepada bank-bank penyalur, ada BRI, ada Mandiri, ada BTN, ada Bukopin, ada Bank Syariah Mandiri. Tahun ini insya Allah akan ada Rp 2 triliun yang kita cadangkan. It means Rp 20 triliun akan kita alirkan tahun ini, supaya bergerak lagu usaha mikro, kecil, dan menengah dan koperasi.

Non-performing loan tahun lalu hanya 0,8%. 0,8% kredit macetnya dari KUR. Oleh karena itu tolong kita jalankan, kita sukseskan karena itu, bersama-sama dengan tadi itu, menjaga daya beli rakyat, meningkatkan daya beli rakyat, plus perlindungan bantuan rakyat miskin, plus stabilisasi harga, satu paket policy yang kita jalankan. Sekali lagi, ada yang dalam jangkauan kita. Ada yang betul-betul mekanisme pasar sedunia. Nggak bisa kita apa-apakan. Kita nggak bisa keluarkan Perpres mencegah growth tidak naik, itu tidak bisa. Tidak bisa. Dunia. Yang kita lakukan mencegah, meminimalkan, mengurangi dampaknya dengan policy-policy tertentu, dengan pilihan-pilihan tertentu yang ada juga cost-nya dari segi budget. Itu yang kelima.

Yang keenam prioritasnya menjaga ketersediaan dan keterjangkauan komoditas pangan dan energi. Saya ingatkan berkali-kali menteri-menteri terkait, direktur utama-direktur utama terkait, utamanya Pertamina dan kemudian PLN, untuk tahun ini jangan sampai ada yang miss, jangan sampai ada kelalaian, jangan sampai ada keteledoran. Pangan, Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, Kabulog, para Gubernur seluruh Indonesia menjaga pangan cukup, harganya dengan upaya stabilisasi, bisa dijangkau.

Energi, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Pertamina, dan PLN, menjaga jangan sampai ada langka-langkanya, ngantri-ngantrinya, kurang-kurangnya. Semua bisa direncanakan, semua bisa diolah. Kalau iklimnya jelek, kapal tidak bisa merapat, ombak tinggi, jelaskan. Jangan karena hari libur nggak mau menjelaskan. Jelaskan kepada rakyat. “Saudara-saudara di Belitung, minta maaf, terlambat satu hari karena kapal tidak bisa merapat tadi subuh, baru nanti sore karena ombak empat meter tingginya”. Jelaskan. Kalau tidak dijelaskan jadi provokasi, jadi agitasi. Salah sendiri kita, kok tidak dijelaskan oleh Pertamina, oleh Departemen terkait. Jadi saya berikan atensi betul untuk energi, untuk pangan tahun ini. Karena kita ingin menjaga semuanya.

Dan kemudian yang terakhir tujuh prioritasnya, yang ketujuh, sekuat tenaga, sekuat tenaga, mari kita jaga momentum pertumbuhan. Yang pesimis mengatakan mungkin kita akan tumbuh 4,5% tahun ini. Yang pesimis ya. Yang optimis mengatakan kita akan tumbuh 5,5%. Kalau saya, ya mari berusaha sekuat tenaga, all out, setinggi yang bisa kita capai. Di atas 5% alhamdulillah, mendekati 5 atau sampai 5,5% bagus. Ya pokoknya setinggi-tingginya. Tapi kita tahu, itu ada yang mengatakan, ya meskipun usaha kita maksimal 4,5%, tapi tidak, kita bisa 5,5%. Mari kita lakukan secara bersama.

Catatan akhir dari saya menutup sambutan ini, Saudara-saudara. Perekonomian nasional tahun 2008 baik, baik. Tidak seburuk yang diperkirakan banyak kalangan. Saya sudah bandingkan tadi growth dengan negara-negara tetangga. Ukurannya apa? Realisasi APBN tahun 2008. APBN-P 2008, penerimaan kita dihitung oleh Departemen Keuangan sampai dini hari itu 981 trilyun. Naik 10% dari target. 10% dari target.

Pengeluaran kita 985 trilyun atau spending dari pembelanjaan itu 99,6%, almost 100%. Bayangkan, pembelanjaannya pas, tapi penerimaannya naik 10%. Akhirnya defisit kita yang semula diperkirakan 2,1% diperkirakan menjadi 0,1%. Nominalnya Rp 4 triliun. Nanti akan dijelaskan. Bahkan beliau mengatakan kalau dari sisi ini ada surplus, kalau saya mudahnya ya balance lah, hampir balance. 0,1% budget kita.

Yang good news-nya adalah waktu hari Sabtu saya datang ke Jalan Wahidin ya? Berapa kira-kira karena penerimaan tinggi, pajaknya naik 13%, alhamdulillah. Ini berarti sektor riil kan jalan tahun lalu. Karena pajaknya sebegitu tinggi. Diperkirakan mungkin ada Silpa, Silpa itu singkatan dari apa? Sisa Lebih Pembayaran Negara. Bukan Sial, sisa anggaran lebih, bukan. Silpa, sisa anggaran lebih pembiayaan anggaran, Silpa. Diperkirakan hanya Rp 20 triliun, ternyata lebihnya Rp 38 triliun.

Bukan karena nggak dibelanjakan. Misalkan punya uang Rp 500 triliun, sisa Rp 10 triliun karena nggak dibelanjakan. Itu, handap itu. Sudah dibelanjakan semua masih lebih, penerimaannya lebih. Ini yang terjadi. Rp 38 triliun ditambah dengan Rp 12 triliun, on top yang sudah kita rencanakan untuk stimulus package, maka kita punya tahun ini Rp 50 triliun untuk stimulus package, hampir setara dengan US$ 5 billion, dan mari kita gunakan sebaik-baiknya betul-betul untuk countercyclical effort, jangan bagi-bagi sama rata sama rasa.

Departemen, kementerian, lembaga yang tidak perlu, jangan ngambil. Jangan. Betul-betul untuk menggerakkan perekonomian kita, untuk rakyat semuanya itu, sehingga kita hitung baik-baik. Biasanya kalau ada lebih banyak begini, banyak sekali proposal. Tujuannya baik, semua ingin tumbuh, tapi kan harus ada prioritas. Prioritas, mana yang kita perlukan tahun 2009, 2010 berubah lagi, 2011 berubah lagi, could be. Karena semua itu changing. KADIN bolak-balik tanya saya, pertanyaannya sudah tahu jawabannya sebetulnya, “kami ingin tahu apa rencana Pemerintah untuk mengeluarkan dana untuk stimulus package?” Berapa besar? Darimana? Sudah tahu sebenarnya, reserve kita tidak sebesar Republik Rakyat Tiongkok, bisa mudah. Tidak sebesar yang punya Petrodollar. Tapi kita mencari yang pas, tidak mungkin pinjam-pinjam terus. Sampai kapan kita pinjam terlalu besar, dan minjam jaman sekarang luar biasa mahalnya, bunganya. Jadi kita cari sumber pembiayaan dalam negeri yang kira-kira menjadi solusi, bukan masalah baru atau masalah nantinya. Tuhan Maha Besar, kerja keras kita semua, terima kasih pembayar pajak, terima kasih dunia usaha, akhirnya kita punya Rp 38 trilyin Silpa untuk tahun ini. Tepuk tangan lagi boleh.

Ini APBN. Saya belajar statistik dari BPS. Gimana potret 2008? Yang baik apa, ini, ini, ini. Yang kurang baik apa? Ini, ini, ini. Tantangan kita apa? Ini, ini. Nggak ada yang baik semua. Mesti ada yang kurang-kurang. Jadi kalau rapor itu, biru, ada juga yang masih merah, PR kita tantangan kita, harus kita akui.

Saya punya tradisi Bapak, Ibu, karena ini tahun baru bolehlah saya berbagi pengalaman. Saya tiap tahun itu mesti datang kalau nggak ke Ancol ke Taman Mini, kemarin ini ke Ragunan. Saya ingin melihat seberapa banyak saudara kita bisa berlibur di situ, seberapa banyak perputaran uang di situ, seperti apa daya beli rakyat kita. Apalagi dikatakan dalam keadaan ekonomi sulit seperti ini.

Ketiga pimpinan, Pimpinan Taman Mini Indonesia Indah, Pimpinan Impian Jaya Ancol, Pimpinan Taman Margasatwa Ragunan melapor kepada saya, semuanya naik. Ragunan itu, tahun baru tahun lalu itu pengunjungnya 85.000. Kemarin saya datang, pengunjungnya puncaknya 113.000, naik 40%. Itupun hari hujan, jadi lebih banyak. Karcisnya 3000 dan 4000. Memang masih disubsidi oleh Pak Fauzi Bowo. Tapi nggak apa-apa, untuk rakyat. Nggak usah dinaikkan tiketnya. Tetapi beliau dapat bonus dari Taman Impian Jaya Ancol. Rp 100 miliar profit after tax, karena tahun ini mencapai 295.000 pengunjungnya, karcisnya Rp 12.000. Tahun lalu hanya 260-an ribu pengunjung atau berapa. Naik. Taman Mini naik, tapi sedikit. Poin saya, alhamdulillah rakyat masih bisa berlibur. Lebih banyak yang berlibur berarti punya sesuatu untuk membeli dan ini harus kita jaga. Di seluruh Indonesia. Insya Allah makin naik, makin baik, makin baik dengan kerja keras kita.

Saudara-saudara,
Dan akhirnya, meskipun alhamdulillah tahun lalu terjaga perekonomian kita, tetapi sekali lagi, badai krisis keuangan global belum berlalu. Badai resesi perekonomian dunia juga belum berlalu. Solusinya, saya tidak ingin ada yang takut di sini, yang cemas, yang gamang. Kalau Bapak Ibu takut, sudah kalah sekarang. Bapak Ibu cemas sekarang, nggak akan pernah bisa mengatasi masalah. Mari kita bersama-sama, yakin kita bisa mengatasi, dengan syarat, mari kita bekerja keras, bekerja lebih keras, all out.

Perlu sinergi dan sharing, antara kami, Pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, ekonom, dan semua komponen di negeri ini yang menjadi pelaku perekonomian nasional. Mari kita selalu siap dengan kontigensi, bisa ada perubahan-perubahan mendadak, ada shock, ada discontinuities namanya, dalam teori futurology. Kalau itu datang jangan gagap. Kita merespon lagi. Oleh karena itu manajemen krisis ada satu set kontigensi. Kalau minyak bumi naik sekian atau turun sekian, apa respon kita. Kalau pangan tiba-tiba begini apa respon kita, kalau nilai tukar seperti ini, apa respon kita. We have to have a set of contingency.

Jangan terdadak, karena sudah bisa kita antisipasi. Makin tinggi posisi kita, harus makin bisa melihat ke depan, mengantisipasi. Sekarang semua bisa diantisipasi, meskipun selalu ada discontinuities. Dan saya masih mengatakan manajemen yang kita gunakan masih manajemen krisis secara terbatas. Sekali lagi tidak ada istilah hari libur, kerja kita. Kerja tidak harus di kantor, di manapun tapi jangan kita tidak merespon sesuatu dengan cepat dan tepat.

Dan yang terakhir, berhubung tahun ini tahun pemilu, saya kira sudah merasakan kehangatan situasi politik, tetapi saya mengajak, dan ini kepada seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya Saudara-saudara, politik itu bisa indah, pemilu itu bisa damai, kompetisi itu tidak harus disertai dengan permusuhan. Letakkan secara wajar. Pemilu adalah regularitas demokrasi. Tiap lima tahun sekali kita lakukan. Tujuannya adalah untuk katakanlah menyusun kepemimpinan nasional lima tahun mendatang dalam arti luas, Pemerintah, DPR, DPD, dan seterusnya. Jangan kita seram-seramkan, jangan kita jadikan beban secara berlebihan. Mari kita jalani dengan penuh semangat, niat yang baik, perilaku politik yang baik pula.

Dan karena tahun 2009 tahun politik tapi juga tahun ekonomi, kan harus kita kelola semuanya tadi, maka saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, segenap komponen bangsa, mari kita jaga stabilitas politik. Pasti ada eskalasi suhu politik, tapi jangan sampai terguncang. Kalau terguncang, rugi. Rugi anak cucu kita, rugi masa depan kita.

Keamanan dan ketertiban masyarakat, mari kita jaga, jangan hanya diserahkan kepada Kapolri. Kita semua menjaga. Boleh pemilu, boleh kampanye, boleh ada panggung, boleh bendera, kaos, segala macam. Tapi jangan ada kerusuhan, jangan ada kekerasan, yang tidak puas ada proses hukum. Jangan dengan tindak-tindakan yang mengguncangkan keamanan dan ketertiban publik, mengguncangkan stabilitas politik secara nasional. Kalau itu terjadi, berat langkah-langkah kita menjaga perekonomian kita.

Dan ingat, kita semua bertanggung jawab kepada diri kita sendiri, kepada rakyat, kepada Tuhan, kepada masa depan. Jadi mari, kita, Saudara-saudara, melangkah ke depan ditahun yang khas ini, tahun 2009, paduan dari tahun politik dan juga tahun ekonomi. Dengan pesan dan harapan itu, saya akhiri, saya minta maaf agak panjang yang saya sampaikan tadi, kesempatan yang baik bagi saya bertemu dengan Saudara awal tahun supaya Saudara mengerti pikiran saya, pikiran Pemerintah dan apa yang akan dilaksanakan oleh kita semua ke depan. Sekian. Terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.