Pidato Presiden

Sambutan Silaturahmi dengan Masyarakat Sorong, Papua Barat

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
SILATURRAHMI DENGAN MASYARAKAT
SORONG, PAPUA BARAT
21 JANUARI 2009



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,
Shalom,

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Panglima Tentara Nasional Indonesia, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, para Pimpinan Lembaga-lembaga Pemerintah Non Departemen, dan Pimpinan Badan-badan Usaha Milik Negara, Saudara Gubernur Provinsi Papua Barat, Saudara Ketua DPRD Papua Barat, para Pimpinan dan Pejabat Negara yang bertugas di Papua dan Papua Barat, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, maupun TNI dan POLRI,
Yang saya cintai dan saya muliakan para Pemuka Agama, para Pemuka Adat, para Tokoh Masyarakat, para Bupati dan Walikota, para Pimpinan Dunia Usaha,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan, dan Insya Allah kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.

Kita juga bersyukur meskipun negeri kita, tanah Papua, Papua Barat masih menghadapi ujian, tantangan dan cobaan, atas perkenan Tuhan Yang Maha Kuasa, hari ini kita dapat bertatap muka di tempat ini, mempertemukan wajah dengan wajah kita, dan semoga hati dengan hati kita, untuk melanjutkan upaya kita bersama membangun tanah Papua, dan tentunya Papua Barat menuju hari esok yang lebih baik.

Tadi Pak Bram, Saudara Gubernur mengatakan bahwa sudah agak lama saudara-saudara kami menunggu kunjungan saya. Sebenarnya Papua Barat tetap ada di hati kami, tulus, satu, dua kali jadwal yang telah kami tetapkan untuk berkunjung ke wilayah ini tidak terlaksana, ada dinamika baru, sehingga sempat tertunda dua kali. Alhamdulillah hari ini, kami telah berada di tengah-tengah Saudara kami terkasih, masyarakat Sorong. Insya Allah besok dan besok malam, kami berada di Manokwari, untuk setelah itu kami melanjutkan tugas di wilayah lain, di negeri tercinta ini.

Kami terus mengelola permasalahan negara, termasuk mencari solusi, mengembangkan kebijakan dan strategi, agar akselerasi pembangunan di Papua dan Papua Barat dapat dilaksanakan dengan baik. Bukan serba kebetulang setelah tahun 2001, kita keluarkan Undang-Undang tentang Otonomi Khusus, kemudian saya keluarkan Intruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2007 sedang kita design khusus untuk melakukan percepatan pembangunan di Papua dan Papua Barat, dan yang terakhir Undang-Undang Nomor 35 tahun 2008 tentang payung hukum Papua Barat sehingga sah, jelas, kokoh untuk menjadi Provinsi yang memiliki kesamaan dengan Provinsi-provinsi yang lain. Itu proses panjang dengan penuh komitmen, penuh kesungguhan, demi kasih sayang kami kepada saudara-saudara kami di Papua Barat. Oleh karena itu, kita tetap dekat di hati Pak Bram dan semoga persahabatan kita makin kokoh setelah kita bertemu dua hari dua malam dalam kunjungan ini.

Hadirin yang saya hormati,
Tadi saya sampaikan kepada Saudara Gubernur dan para pejabat yang memberikan laporan kepada saya, langkah-langkah tanggap darurat yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah berkenaan dengan bencana alam yang terjadi pada tanggal 4 dan 7 Januari yang lalu meskipun masih terus ada gempa, ada ratusan gempa besar, sedang, kecil, tapi kita tahu puncaknya tiga kali, 7,2 skala richter, 7,6 skala richter dan 6,1 skala richter yang tentu membawa duka nestapa dengan meninggalnya 4 orang saudara-saudara kita, dan terjadinya kerusakan harta benda di 3 Kabupaten dan Kota di Papua Barat ini.

Saya katakan tadi bahwa Indonesia yang kita cintai ini adalah tanah Tuhan, anugerah Allah SWT yang di satu sisi memang rawan dengan bencana alam, utamanya gempa bumi, tsunami dan letusan gunung berapi, tetapi di sisi lain kaya dengan sumber daya alam apabila disyukuri, dikelola dan dibangun dengan baik, tentu akan membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, saya mengajak kepada seluruh rakyat Indonesia, termasuk Saudara-saudara kami yang ada di Papua dan Papua Barat ini, marilah kita membiasakan diri hidup dengan realitas yang ada, living on the edge, edge dalam arti batas, karena negeri kita ada tiga lempeng tektonik, lempeng Australia, lempeng Asia, dan lempeng Pasifik. Lempeng tektonik itulah karena peristiwa alam, bumi berputar pada porosnya, kemudian mengelilingi matahari, yang bumi itu juga dikelilingi oleh bulan, dalam sebuah tata surya yang penuh dengan order dan certainty, terjadilah yang disebut dengan collation, gesekan benturan. Kalau yang benturan lempeng tektonik, yang terjadi adalah gempa, adakalanya gempa yang ada di laut episentrumnya, apabila terjadi dislokasi vertikal dengan skala richter 6,3 lebih lebih, maka kemungkinan terjadi tsunami besar.

Dan mengapa ada gunung berapi, karena ada ring of fire, yang membentang sepanjang Pulau Sumatera, Pulau Jawa terus sampai ke Sulawesi dan Filipina juga terus sampai ke wilayah Papua. Itu semua sekali lagi merupakan realitas bawaan dari negara kita. Namun akibat peristiwa alam itu, muncul berbagai anugerah yang Maha Kuasa, kekayaan tambang yang tiada tara. Oleh karena itu sekali lagi, marilah kita berpikir positif, bersikap optimis, melihat masalah apa adanya, disertai satu kecerdasan kita untuk bagaimana kita hidup dalam realitas ini, sambil kita mencari peluang-peluang yang bisa kita gunakan untuk sebesar-besar kesejahteraan dan kemakmuran rakyat kita.

Saudara-saudara,
Saya tadi memberikan apresiasi yang tinggi kepada Saudara Gubernur dengan seluruh jajaran, termasuk TNI dan POLRI, dan organisasi kemasyarakatan yang sangat cekatan melakukan reaksi cepat ketika gempa bumi kemarin datang. Akibat gerak cepat Saudara, akibat quick response Saudara, maka korban bisa diminimalkan dan kemudian dengan langkah-langkah tanggap darurat itu, maka cepat dikuasai keadaan untuk proses berikutnya lagi, yaitu rehabilitasi dan rekonstruksi.

Dini hari saya berkomunikasi dengan Pak Gubernur yang sedang mengatasi, sedang mengecek kerusakan-kerusakan yang ada. Dan beberapa jam setelah itu, para Menteri terbang dari Jakarta menuju ke tempat ini, menandakan bahwa sistem nasional pekerjaan, sistem daerah berjalan dengan baik. Kalau kita bisa terus menjaga berfungsinya sistem seperti ini, maka hampir pasti kita bisa meminimalkan korban yang terjadi dari setiap bencana alam. Marilah pelajaran yang baik ini kita petik, bahwa apabila kesiagaan kita tinggi, kesiapan manusia dan peralatannya juga tinggi, prosedur tetap berjalan, kepemimpinan baik, komunikasi berjalan dengan lancar, sinergi antara pusat dan daerah juga baik, maka semua yang ada dalam sistem, dalam aturan dapat kita jalankan dan hasilnya pasti baik. Sekali lagi, terimalah ucapan terima kasih dan penghargaan saya kepada daerah dan juga eselon pusat yang dengan cepat mengatasi masalah ini.

Sekarang ke depan adalah fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Saya sudah melihat tadi kerusakan yang ada, besok saya akan melihat di Manokwari, saya sudah berdialog dengan korban tadi. Tentunya di Manokwari saya juga akan bisa melihat seperti apa, baik korban jiwa, yang termasuk kecelakaan-kecelakaan luka, maupun kerusakan material untuk betul-betul kita bisa menyusun dengan cepat dan tepat rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa.

Sebagaimana yang kita lakukan di Provinsi yang lain, manakala terjadi gempa, maka selalu ada sinergi, koordinasi dan sinkronisasi apa yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten Kota. Sistem kita juga mengatur dengan gamblang seperti apa kerusakan itu disebut ringan, kemudian disebut sedang, dan disebut berat. Demikian juga berapa yang berlaku secara nasional untuk melakukan rehabilitasi dan rekontruksi itu dari segi dana, anggaran. Selama ini kerusakan-kerusakan yang ringan sifatnya dan mampu ditangani oleh Kabupaten dan Kota, tentu Kabupaten dan Kota yang menangani. Kerusakan-kerusakan yang sedang, atau beberapa yang berat yang mampu ditangani oleh Provinsi, Provinsi yang menangani, dan selebihnya yang memang mesti dibantu oleh Pemerintah Pusat, kami membantunya. Ini sekali lagi perlu sinergi dan koordinasi yang baik.

Saya pesan tadi kepada Saudara Menko Kesra dengan jajaran, ingat ketika mengalokasikan anggaran, pertimbangkan kemahalan dari segi material yang ada di Papua Barat ini, bisa saja jenis materialnya sama, jumlahnya sama, tapi kalau di Jawa atau di Sumatera mungkin lebih murah dibandingkan Papua dan Papua Barat. Silahkan ditata dengan baik, yang penting anggaran milik rakyat yang satu rupiah pun harus kita pertanggungjawabkan, harus dapat digunakan secara tepat sasaran. Ini adalah ciri-ciri dari pemerintahan yang baik, baik pemerintah pusat maupun pemerintahan daerah.

Saya sudah membaca rencana anggaran sementara. Saya juga sudah mendapatkan laporan dari Menko Kesra misalnya, pusat misalnya, sekarang ini sedang mempersiapkan sekitar Rp. 510 Milyar untuk membantu mengatasi korban atau kerusakan di Papua Barat. Silakan dimatangkan bersama-sama Pemerintah Daerah, agar secara bertahap bisa dibangun kembali. Ingat prioritasnya mana yang didahulukan, kemudian mana yang sesudah itu.

Tadi saya bertemu dengan sejumlah pengungsi mestinya, karena beliau sedang mengungsi, ya diprioritaskan pembangunan rumah-rumah saudara kita yang di pengungsian, rumah ibadah, sekolah, Puskesmas seperti-seperti itu mesti menjadi prioritas. Silahkan diatur sendiri, ada pemerintah daerah dalam arti Eksekutif dan juga ada Legislatif rencanakan dengan baik, kemudian Pemerintah akan memberikan bantuan sebagaimana yang telah saya sampaikan tadi.

Hadirin yang saya hormati,
Malam ini adalah kesempatan yang baik bagi saya, disamping menyampaikan tadi duka cita dan apa langkah-langkah kita ke depan menyusul terjadinya musibah bencana di Provinsi ini, saya ingin menyampaikan kepada Saudara semua khususnya yang bertugas di wilayah ini, perkembangan keadaan negeri kita secara sangat singkat, sekarang dan ke depan sebagaimana harapan saya, bagaimana Papua Barat dapat dikelola, dipimpin dan dibangun untuk menuju masa depannya yang lebih baik, dalam konteks dunia yang juga terus berubah.

Saya mulai dari lingkungan yang lebih luas, yaitu perkembangan dunia. Saudara-saudara dunia kita telah berubah dan akan terus berubah. Tatanan dunia, situasi dunia, permasalahan dunia, sekarang ini berbeda dengan hal serupa 10 tahun yang lalu, apalagi 20 tahun yang lalu, barangkali juga karena ada perkembangan baru 10 tahun dari sekarang, dan juga 20 tahun dari sekarang dan seterusnya. Tapi yang jelas, sebagaimana Saudara ikuti dari berbagai media massa, dunia tempat kita hidup sekarang ini masih memiliki berbagai permasalahan yang mendasar, isu-isu critical dan boleh disebut krisis, crisis.

Contoh, karena kelalaian umat manusia revolusi industri abad ke-18 yang lalu, terjadilah secara sistematis dan kian memuncak pada tingkatan yang tidak baik, yaitu perubahan iklim dan pemanasan global, ada the crisis of environment, climate change dan global warming. Akibatnya terjadi perubahan yang dramatis dari tata iklim dan tata cuaca, deregularitas, iklim yang ekstrim yang juga mengganggu pola pertanian kita, yang akhirnya muncul krisis yang lain, yaitu krisis pangan, the crisis of food.

Disamping penduduk dunia makin bertambah, sekarang jumlahnya 6,6 milyar dan masih akan bertambah lagi, mereka mengkonsumsi pangan yang lebih besar lagi, buminya tidak berubah, apalagi ada kerusakan-kerusakan alam yang berdampak negatif pada pertanian tadi. Itu kita hadapi.

Yang kedua, perkembangan kehidupan yang mengkonsumsi bahan bakar yang juga terus berkembang secara dramatis, perekonomian, industri, transportasi, dan kepentingan lain, maka juga terjadi pengurasan sumber energi dan terjadi ketidakseimbangan, mismatch imbalances, antara supply dengan demand, antara produksi dengan komsumsi pada tingkat energi dunia. Itulah yang disebut the crisis of energy.

Tiba-tiba, yang tanda-tandanya sudah muncul di tahun-tahun terakhir, tahun lalu terjadi krisis baru, kita sudah tahu semuanya, krisis keuangan global yang diikuti dengan resesi perekonomian dunia, yang dampaknya dirasakan oleh semua negara, besar atau kecil dampak itu, langsung atau tidak langsung, termasuk negara kita. Dan sebagaimana disaksikan ternyata dunia belum aman, dunia belum damai, dunia belum adil, ada lagi krisis keamanan dan perdamaian internasional, sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah, di Afrika, dan di tempat-tempat yang lain. Kita hidup dalam lingkungan dunia seperti itu. Oleh karena itu, di satu sisi, negara kita juga harus ikut serta dalam membangun dunia yang adil, yang damai, yang sejahtera bagi semua, bukan hanya bagi sekelompok bangsa, kita tentu harus bergulat, bekerja sangat keras untuk mengelola dan melanjutkan pembangunan di negeri ini menuju keberhasilan di waktu yang akan datang. Oleh karena itu, focus akhirnya titik berat kita lakukan membangun negeri sendiri. Ketika krisis-krisis global tadi berpengaruh kepada perkembangan keadaan negara kita, tugas kita meminimalkan dampaknya, tugas kita mengurangi dampak negatif dari semuanya itu, yang sekarang ini sedang kita kerjakan.

Alhamdulillah dari penilaian dunia, bukan penilaian SBY, bukan penilaian di antara kita, tapi saya ikuti terus karena kadang-kadang kita perlu bercermin, apakah yang dilakukan di negeri ini tepat, berada pada arah yang benar dengan hasil yang makin nyata. Dalam upaya kita mengatasi krisis, dampak krisis keuangan global ini, resesi perekonomian dunia, Indonesia dianggap pada track yang benar. Baca misalkan minggu lalu, ada majalah yang berjudul “The Economist” sudah saya katakan kemarin di Batam, dikatakan so far so good. Juga majalah “News Week”, yang saya baca kemarin malam yang mengatakan Indonesia is on track, dan publikasi-publikasi serupa dari masyarakat internasional. Tapi ingat so far so good, badai ini belum berlalu, masalah masih kita hadapi, resesi perekonomian dunia masih terjadi, oleh karena itu apa yang telah kita lakukan, terutama empat bulan terakhir, dengan gaya manajamen krisis yang kita kelola, yang saya pimpin langsung, kita teruskan, agar sekali lagi apapun gonjang-ganjing pada tingkat dunia kita bisa meminimalkan dampaknya, bisa mengurangi pengaruh negatifnya.

Lantas apakah yang ada di Indonesia ini sepenuhnya atau seluruhnya dipengaruhi oleh perkembangan dunia, tidak. Disamping dunia sedang tidak bersahabat seperti itu, negeri kita pun masih menghadapi tantangan dan berbagai permasalahan yang mendasar. Mengapa? Pertama, ingat 10 tahun yang lalu, negara kita mengalami krisis yang dahsyat, yang negara lain tidak waktu itu. Itulah yang sedang kita pulihkan tahun demi tahun. Kita merangkak, kembali memulihkan, membangunnya sampai pada tingkatan yang lebih baik selama 10 tahun terakhir ini, dan itu bukan tanpa tantangan, bukan tanpa upaya, bukan tanpa anggaran, bukan tanpa sumber daya yang kita mobilisasikan untuk mengatasi masalah itu. Hasilnya dilihat sendiri, dengan ukuran yang obyektif yang rasional dan yang jujur dari segi ekonomi, dari segi penegakan hukum, dari segi pemberantasan korupsi, dari keamanan seluruh tanah air, dari peran internasional kita, dari peningkatan pendidikan, peningkatan kesehatan, usaha mikro kecil dan menengah dan sebagainya, dan sebagainya. Sebagai upaya berlanjut, upaya terpadu, upaya menyeluruh untuk memulihkan keadaan, membangun kembali tanah air kita setelah dihantam krisis 10 tahun yang lalu.

Apakah juga hanya itu? Tidak, Indonesia negara berkembang, meskipun Alhamdulillah sekarang kita disebut emerging economy, emerging nation, bukan kebetulan untuk pertama kali, Indonesia diundang pada forum yang prestigious di tingkat global. Saya di undang di G-8 Plus 8 untuk pertama kali dalam sejarah kita, di Jepang misalnya. Belum lama ini, saya juga diundang, wakil Indonesia tentunya pada forum G-20 di Washington DC, 20 negara mewakili bangsa-bangsa sedunia, bukan tanpa alasan. Itu maknanya kita juga dianggap sebagai negara yang patut diperhitungkan, bukan serba kebetulan OECD datang ke saya beberapa bulan yang lalu memasukan Indonesia sebagai partner OECD bersama-sama China, India, Brazil dan Afrika Selatan, 5 negara, termasuk kita.

Jadi benar kita bersyukur, saya berterima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia atas kebersamaan dan kerja keras, kita dianggap sekarang emerging economy, emerging nation. Tetapi kita masih negara berkembang, kita masih menghadapi tantangan untuk mengurangi kemiskinan, meskipun angka kemiskinan tahun lalu terbaik selama 10 tahun, tetapi masih harus bekerja keras lagi untuk menurunkannya secara terus-menerus. Demikian juga fundamental ekonomi yang lain, demikian juga lapangan pekerjaan, demikian juga untuk memeratakan pembangunan di seluruh tanah air, masalah-masalah atau isu-isu fundamental sebagaimana lagi layaknya yang dihadapi oleh negara berkembang. Itu juga masalah, itu juga challenge bagi negara kita, yang harus kita atasi secara bersama di seluruh tanah air.

Jadi saya mengatakan itulah yang kita lakukan tahun-tahun ini, bekerja sangat keras mengatasi masalah yang merupakan bagian dari persoalan masa lalu yang mengalir, sekaligus mengatasi masalah yang datang dari luar negeri dan sekaligus mengatasi tantangan-tantangan baru, tantangan-tantangan yang eksis menyertai dinamika dari perkembangan sebuah negara berkembang, developing country. Memang masih banyak pekerjaan rumah kita. Tapi percayalah karena track-nya sudah benar, the policy and strategy sudah benar, program kita makin terarah, anggaran dan uang rakyat makin baik kita kelola, makin kita perangi kebocoran-kebocoran dan korupsi dan lain-lain, percayalah, bahwa kalau kita terus mengelola semuanya ini, tahun demi tahun negara kita akan makin baik.

Dan ini amanah bagi kita semua, tugas seluruh pemimpin di negeri ini siapapun, siapapun, politisi, pejabat publik yang dipilih oleh rakyat bisa datang dan pergi, demikian regularitas demokrasi, seperti pemilihan umum yang akan dilaksanakan oleh bangsa kita tahun ini. Tetapi komitmen, tanggung jawab, kreativitas, kesungguhan, tetap bekerja sangat keras untuk memperbaiki keadaan membangun negeri menuju masa depan yang lebih baik akan abadi dan tidak boleh terganggu oleh satu perhelatan-perhelatan demokrasi. Ini amanah, abadi, selamanya yang harus kita jalankan dan kita tegakkan.

Saudara-saudara,
Yang terakhir, Papua adalah tanah yang menjadikan harapan. Papua Barat tanah yang indah, tanah yang diberkati Tuhan, yang apabila kita kelola dengan baik, dikelola terutama oleh yang sedang mengemban amanah di Provinsi ini untuk memiliki masa depan yang baik, saya punya keyakinan yang tinggi. Oleh karena itulah, Inpres No.5 Tahun 2007 yang saya keluarkan itu adalah not only new deal policy, percepatan pembangunan membantu secara khusus, tapi juga seluruh design dari konstruksi otonomi khusus yang ada di Papua dengan anggaran yang besar, semata-mata untuk betul-betul mengurangi ketertinggalan, kemudian memacu percepatan pembangunan. Sumber daya alam di tanah ini begitu besar, marilah kita kelola dengan baik. Kita sudah mengoreksi kesalahan masa lalu, ketika pemerintahan sangat konsentrik dan sentralistik. Kita telah menganut sekarang otonomi daerah, telah menganut desentralisasi pemerintahan. Dan khusus Papua dan Papua Barat, kita masuk otonomi khusus, wide ranging autonomy. Agar para pemimpin di Papua Barat dengan masyarakat, memiliki ruang untuk mengatur kehidupan yang ada di Provinsi ini lebih luas lagi. Peluang ada pada Bapak, Ibu sekalian yang sedang memimpin Provinsi Barat ini. Sumber daya alam ada di tempat ini, Pemerintah Pusat akan mendorong, memberikan kemudahan, memberikan fasilitas, memberikan payung policy and strategy, supaya semua pembangunan dapat dilaksanakan dengan baik. Waktunya telah tiba untuk betul-betul tidak menyia-nyiakan momentum.

Pak Gubernur tadi berbicara dengan saya memahami bahwa sesungguhnya resources yang dimiliki oleh kedua Provinsi ini, Papua dan Papua Barat cukup memadai untuk secara bertahap digunakan, untuk digunakan pembangunan secara bertahap menuju sekali lagi kesejahteraan dan perekonomian Papua dan Papua Barat yang lebih baik. Jalankan amanah itu. Teruslah kita melakukan sinergi, kembangkan kreativitas dan inovasi, bangun tata pemerintahan yang baik, bangun kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, cegah berbagai penyimpangan yang mungkin terjadi, lakukan kerjasama dengan pihak-pihak yang bisa mempercepat pembangunan ini. Saya katakan dengan mitra-mitra di luar negeri pun silahkan, tentu beritahu saya, beritahu Pemerintah Pusat sepanjang itu untuk mempercepat pembangunan ekonomi, menganut konstitusi dan Undang-Undang yang berlaku. Apalagi kerjasama, kemitraan di antara Papua Barat dengan Provinsi lain di negeri kita ini. Peluangnya begitu besar.

Dan di atas segalanya sudah terjadi satu design tata pemerintahan yang memungkinkan, daerah sendiri bisa berbuat lebih banyak dibandingkan di waktu yang lalu. Oleh karena itu, apa yang sudah Saudara rencanakan, Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Walikota, Pimpinan DPRD, semua yang di sini jalankan dengan sebaik-baiknya. Tuhan akan memberkati, rakyat akan mendukung dan dengan harapan yang baik, dan kami yang di Jakarta akan membantu tentu untuk memberikan supervisi, untuk meyakinkan bahwa semuanya berjalan dengan baik dalam bangun Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dasar negara yang sama-sama kita anut, sehingga tanah Papua makin maju, Merah Putih berkibar dengan megahnya di persada ini.

Selamat bertugas.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan