Pidato Presiden
Orasi Ilmiah Pada Acara Dies Natalis Ke-46 Unibraw Malang
TRANSKRIPSI
ORASI ILMIAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
DIES NATALIS KE- 46 UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG, 27 JANUARI 2009
Bismillahirrahmanirahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Pendidikan Nasional, dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Pejabat Gubernur Jawa Timur, dan para Pimpinan dan Pejabat Negara yang bertugas di Jawa Timur, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, maupun dari TNI dan POLRI,
Yang saya hormati Saudara Rektor Universitas Brawijaya, para Mantan Rektor dan Segenap Civitas Akademika Universitas Brawijaya, para Pimpinan Perguruan-perguruan Tinggi yang turut hadir dalam acara hari ini, para Dosen, para Mahasiswa yang saya cintai,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi, pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita semua masih diberikan kesempatan, kekuatan, dan semoga kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
Kita juga bersyukur ke hadirat Allah SWT, karena hari ini dapat berada di tempat ini, untuk saya dapat menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis Universitas Brawijaya yang ke-46. Atas nama negara, Pemerintah dan selaku pribadi, saya mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Universitas Brawijaya yang ke-46, semoga Universitas yang kita cintai bersama ini terus dapat meningkatkan darmabakti, partisipasi, dan kontribusinya untuk pembangunan bangsa di masa depan.
Sebagaimana yang tercatat abad di dalam sejarah kita, saya juga menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, atas semua yang telah dilakukan oleh Universitas Brawijaya sejak didirikannya hingga hari ini, yang sangat berarti bagi kemajuan kehidupan, bukan hanya bagi masyarakat Kota Malang, bukan hanya juga di Jawa Timur, tapi bagi keseluruhan bangsa Indonesia.
Saya mendengarkan tadi apa yang disampaikan oleh Saudara Rektor atas berbagai prestasi, capaian, dan hasil nyata yang dilakukan oleh putra-putri terbaik dari Universitas ini. Saya makin yakin, bahwa Universitas ini akan terus menjadi centre of excellence, akan terus meningkatkan kapasitas dan kualitasnya sebagai salah satu world class university. Boleh tepuk tangan. Tepuk tangan itu doa kepada Yang Maha Kuasa.
Dan saya juga yakin, sebagaimana disampaikan oleh Profesor Yogi Sugito tadi, insya Allah Universitas Brawijaya juga akan menjadi world class entrepreneurial university. Kalau melihat standing, prestasi dan achievement Saudara semua yang sekarang berjaket biru, pada saatnya nanti, insya Allah dengan ridho Allah SWT, akan menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang kita cintai.
Di berbagai cabang profesi, saya juga berdoa ke hadirat Allah, semoga ada salah satu, atau salah dua, putra-putri terbaik bangsa yang bisa berdiri seperti ini, menyampaikan orasi ilmiah ke hadapan civitas akademika. Insya Allah, Tuhan mengabulkan niat yang baik dari kita.
Saudara-saudara,
Saya mendapat kehormatan untuk menyampaikan pikiran dan pandangan saya yang barangkali sederhana, tetapi saya berharap bisa menggugah pikiran Saudara semua, bagaimana kita melangkah ke depan, terus membangun bangsa menuju hari esok yang lebih baik, utamanya dalam pembangunan perekonomian kita.
Oleh karena itu, saya memberi judul pidato ilmiah saya, ”Pembangunan ekonomi Indonesia dalam era globalisasi di Abad 21 ini”. Mengapa saya kaitkan dengan abad 21? Sebenarnya globalisasi telah lama berlangsung. Kalau para Guru Besar, para Dosen, dan para Mahasiswa melihat kembali sejarah perkembangan dunia, ada sejumlah revolusi yang terjadi, mulai dari katakanlah revolusi industri, revolusi kemerdekaan Amerika, revolusi Perancis dan revolusi-revolusi yang lain sebagai tonggak-tonggak sejarah dunia.
Abad ke-18 tentunya sudah ada format dari globalisasi, meskipun dalam bentuknya yang masih awal. Bumi terus berputar, kehidupan dunia terus berubah dan berkembang. Dan dewasa ini, kita berada dalam awal abad 21, dimana globalisasi mencapai tahapan tertentu, yang akhirnya semua yang terjadi di dunia ini memberikan dampak dan pengaruh kepada kehidupan masyarakat global. Ini perlu ditambahkan, kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Kita hidup bersama bangsa dan negara lain yang proses interaksinya, tentu akan mempengaruhi kehidupan bangsa lain, kehidupan negara lain.
Dengan untuk itu, saya ingin menyampaikan 3 agenda secara ringkas dan mudah-mudahan mudah dipahami. Mari kita sejenak melakukan satu refleksi kritis apa yang terjadi 10 tahun yang lalu, yang kita sebut dengan krisis nasional, bermula dari krisis moneter dan kemudian krisis ekonomi, yang sesungguhnya ekornya masih kita rasakan hingga dewasa ini. Kita harus tahu, negeri kita ini berada dimana, datang darimana dan akan menuju kemana. Pemahaman konteks waktu juga penting, melihat masa lalu untuk memetik pelajaran. Melihat masa kini, menjalankan apa yang harus kita lakukan dan melihat masa depan untuk melakukan perubahan-perubahan, dan akhirnya membangun masa depan yang kita cita-citakan bersama.
Yang kedua, mari kita juga sejenak memotret seperti apa sesungguhnya globalisasi sekarang ini, yang lebih saya fokuskan kepada krisis-krisis global, yang tengah berlangsung dewasa ini. Di dunia bukan hanya one single crisis, tetapi ada series of crisis yang tali-temali, susul-menyusul, yang barangkali tidak kita sadari yang semuanya itu berpengaruh kepada kehidupan semua bangsa, termasuk bangsa kita.
Dan yang ketiga agendanya, sebagaimana tema dari orasi ini adalah bagaimana kita membangun perekonomian Indonesia ke depan. Melihat pengalaman masa lalu, melihat perkembangan dunia dimana kita berada di dalamnya, sehingga insya Allah pembangunan perekonomian kita ke depan lebih tepat, dikaitkan dengan semua perubahan dan perkembangan keadaan ini.
Hadirin yang saya muliakan,
Mari kita masuk pada agenda pertama, tentang atau seputar Indonesia pasca krisis 1998. Kita merasakan, terutama tahun-tahun awal ketika kita mengalami krisis yang sungguh dalam dan dahsyat. Sebelum krisis, pertumbuhan kita 6 sampai 7%. Pada saat krisis, drop minus 13%. Kontraksi hampir 21% sangat dalam. Pengangguran tinggi, kemiskinan meningkat dengan tajam, hutang luar negeri membengkak. Tahun 2004 saja, ketika saya baru mulai mengemban amanah sebagai Presiden, rasio hutang terhadap pendapatan bruto nasional, itu sekitar 54%. Berarti kalau kita punya pendapatan, negara ini separuh lebih harus untuk menanggung hutang kita tetapi ingat, pada krisis memiliki masa yang paling berat itu di atas 70%. Alhamdulilah sekarang ini jumlahnya turun drastis menjadi 32%.
Lantas kita juga melihat. Terima kasih. Degradasi lingkungan meningkat. Itu dampak dari krisis yang kita alami. Dan Saudara bayangkan awal-awal itu, kehidupan kita berada dalam keadaan yang tidak stabil, baik secara politik, secara sosial, dan secara keamanan. Saya tidak ingin menguraikannya lagi, karena kita sama-sama merasakan.
Saudara-saudara,
Sejak itu kita sadar bangsa kita bersatu, diam di tempat untuk bersama-sama mengatasi krisis, bahu-membahu, bersama-sama. Ketika kita sedang secara gigih membangun kembali perekonomian kita pasca krisis, timbul yang saya sebut dengan goncangan-goncangan lain. Sebagian memang berasal dari negeri kita sendiri, sebagian menjadi bagian atau datang dari tingkat dunia. Goncangan dalam arti shocks atau distimulisis dalam teori sosiologi yang sama-sama kita kenal.
Shock yang pertama, negara kita mengalami bencana alam yang besar, tsunami, gempa bumi di Jawa Tengah dan Yogya, dan sejumlah bencana alam yang lain. Kemudian mulai akhir 2004 sampai awal 2005, harga minyak bumi meroket dengan tajam. Itu shock pertama yang sangat mengganggu upaya gigih kita untuk melakukan pembangunan kembali atau recovery dalam bidang perekonomian.
Saudara tahu, pasca pemilu 2004, ada sedikit turbulence yang mesti kita pulihkan bersama-sama. Keamanan belum baik benar, Aceh masih membara waktu itu, demikian keadaan di Poso, Maluku, Maluku Utara dan dalam batas tertentu di Papua. Ancaman terorisme masih tinggi sekali, korupsi masih meluas di berbagai sendi kehidupan kita dan kita bahkan mendapatkan embargo ataupun tekanan dari masyarakat dunia. Jadi sambil kita membangun kembali negeri kita pasca krisis, kita mesti mengatasi masalah-masalah baru. Alhamdulilah dengan kerja keras kita semua, seluruh rakyat Indonesia, satu demi satu masalah itu bisa kita selesaikan, meskipun masih banyak masalah yang masih menjadi PR kita, yang masih harus kita carikan jalan keluarnya.
Dalam keadaan seperti itu, muncul goncangan berikutnya lagi, another shocks, yaitu yang sekarang sama-sama kita alami, tiba-tiba dunia tidak bersahabat kembali, ditandai dengan yang disebut dengan krisis keuangan global dan kemudian resesi perekonomian dunia. Yang juga melanda dan dampaknya dirasakan oleh semua negara di dunia ini. Oleh karena itulah, mari kita pahami, bahwa tantangan yang kita hadapi memang sungguh berat.
Kalau saya ditanya oleh wartawan asing, ”Mr. President selama Anda memimpin hampir 5 tahun ini, tahun mana yang berat?” Saya katakan,
”Semua tahun berat, karena memang, disamping kita harus memulihkan negeri kita dari krisis 10 tahun yang lalu, persoalan-persoalan baru datang. Tapi semuanya tidak boleh menggoyahkan keyakinan kita, tidak boleh kita menyerah, tidak perlu kita menyalahkan siapapun. Tapi ini amanah, ini persoalan bangsa kita yang harus kita selesaikan bersama-sama, demi generasi yang akan datang, demi masa depan kita yang lebih baik.” Itulah kalau kita boleh memotret sejenak keadaan negara kita 10 tahun terakhir ini dan beberapa tenggang waktu 5 tahun terakhir ini.
Ketika negara kita sedang berkembang, berjuang dengan gigih untuk membangun kembali perekonomian kita, melanjutkan pembangunan bangsa, maka dunia juga tidak statis, dunia juga terus berubah dan berkembang dengan berbagai fenomena dan realitasnya. Marilah kita masuk pada agenda kedua, apa yang terjadi pada tingkat dunia.
Kita mulai dengan melihat perkembangan dan dinamika lingkungan, lingkungan strategis yang bersifat global. Mari kita bertanya bersama-sama, ada apa dengan bumi, earth, land, dan dunia kita? Saya berhadapan dengan civitas akademika, berhadapan dengan para intelektual. Oleh karena itu, pada kesempatan yang baik ini, saya ingin mengedepankan pandangan-pandangan dari tokoh-tokoh sejagad, yang berkaitan dengan apa yang dihadapi oleh manusia sejagad dewasa ini.
Pertama, mari kita ingat kembali apa yang disampaikan sejumlah cendekiawan besar di dunia. Saya kira sebagian besar dari Saudara sudah membaca buku-buku ini. Kalau belum, saya anjurkan untuk membaca. Pertama adalah Thomas Friedman yang menjabarkan dunia kita sekarang ini hot, flat, dan crowded. Hot, bumi makin panas, karena global warming, karena climate change, terjadi perubahan yang ekstrim dari tata iklim dunia. Dan mengapa crowded? Penduduk bumi sekarang jumlahnya 6,6 miliar, yang memerlukan lebih banyak makanan, energi, dan sumber-sumber yang lain. Baca itu supaya kita paham, bahwa memang ada masalah besar yang dihadapi oleh masyarakat dunia.
Yang kedua, saya juga menganjurkan untuk membaca tulisan Jeffrey Sachs, seorang ekonom dan penasihat Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan bukunya yang terbaru yang berjudul The Commonwealth. Untuk mencapai kemakmuran bersama, bangsa-bangsa harus bersatu dan mengatasi sejumlah persoalan kritis pada tingkat dunia sekarang ini.
Dan yang ketiga, ada buku yang ditulis oleh Al Gore, yang menerima Nobel Perdamaian pada tahun 2008 yang lalu, ulangi 2007 yang lalu, kebetulan berjudul An Inconvenient Truth. Kebetulan ketiga-tiganya saya sudah pernah bertemu, berdiskusi tentang topik-topik besar yang diangkat oleh beliau-beliau ini.
Kita simpulkan dari tiga buku yang sangat tersohor, yang laris sekali pada tingkat dunia sekarang ini, bahwa bumi kita menghadapi bahaya, karena perubahan iklim dan pemanasan global. Apabila kita sadar untuk bersatu, mengurangi dan mencegah pemburukan dari iklim dunia ini, maka masa depan kita akan berlalu. Itulah sebabnya, alhamdulilah di Bali, kita mengukir sejarah pada tahun 2007, akhir 2007 yang lalu, karena kita berhasil dalam Konferensi PBB tentang perubahan iklim. Tahun ini, dunia ditantang lagi untuk bisa menghasilkan hasil yang paling tidak sama dengan yang di Bali, syukur-syukur lebih baik, yaitu perlunya kerangka baru, new framework dari peran masyarakat global untuk mengatasi climate change sebagai pengganti Kyoto Protokol yang jatuh temponya adalah pada tahun 2012.
Hadirin yang saya hormati,
Yang kedua, tidakkah kita membaca selama ini, para dosen dan para mahasiswa berbagai buku, tulisan, pemikiran yang berkaitan dengan bahayanya globalisasi, tapi juga peluang globalisasi, runtuhnya kapitalisme global, bagaimana membikin globalisasi itu membawa manfaat bagi semua dan bukan hanya bagi bangsa-bangsa tertentu, bagaimana mengurangi kemiskinan global. Kemiskinan bukan hanya dihadapi oleh bangsa kita, tapi dihadapi oleh bangsa-bangsa lain di dunia, bahkan banyak negara yang mungkin ada lebih buruk dibandingkan dengan negara kita. Kemudian bagaimana pembangunan ekonomi kita lakukan tanpa merusak lingkungan.
Arti dari semua yang diangkat oleh tokoh-tokoh terkenal itu, keadaan dan tatanan perekonomian dunia sekarang, yang berlaku dewasa ini, dinilai tidak adil dan tidak menjadikan kemajuan dan kemakmuran bagi semua bangsa. Kalau kita nilai tidak adil, mesti kita lakukan perubahan, tidak boleh kita biarkan, tahu itu tidak membawa kebajikan bagi kehidupan umat di bumi ini.
Saudara-saudara,
Sedangkan yang ketiga, masih berkaitan bagaimana kita melihat dunia kita. Banyak pikiran yang diangkat di berbagai forum dunia, yang berkaitan dengan mengapa dunia dilanda krisis yang beruntun. Kita masih ingat ketika dunia dilanda yang disebut dengan the great depression, depresi besar pada tahun-tahun 1930-an sebelum perang dunia kedua. Kita masih ingat melahirkan seorang ekonom terkenal, John M. Keynes dan saya kira kita ketahui pandangan-pandangan dan ajarannya. Juga tidak terhitung banyaknya analisis, mengapa Asia, termasuk Indonesia 10 tahun yang lalu jatuh dalam krisis, ada apa sebenarnya? Jawabannya adalah ternyata sistem perekonomian dunia, arsitektur keuangan global dianggap tidak aman dan tidak stabil, not save, and not stable. Lagi-lagi kalau kita menyadari tidak aman dan tidak stabil, jangan dibiarkan, bangsa sebelumnya harus bersatu untuk masuk ke situ.
Itulah Saudara-saudara, alhamdulilah tahun-tahun terakhir Indonesia sudah diletakkan standing-nya pada tingkat yang terhormat. Dan pertama kali dalam sejarah, saya mewakili Saudara semua, mewakili rakyat Indonesia diundang untuk menghadiri Pertemuan Puncak G8 Plus 8 di Hokkaido, Jepang dan Pertemuan Puncak G-20, G Twentieth yang dilaksanakan di Washington DC. Yang dibicarakan antara lain, bagaimana kita bikin global economic order, dan global financial architecture itu betul-betul aman, betul-betul stabil dan membawa manfaat bagi semua bangsa.
Saudara-saudara,
Dengan cerita awal itu, dari what’s going on in our order, dalam dunia kita, maka kita bisa mengambil kesimpulan-kesimpulan besar. Apa kesimpulan besar itu? Pertama, saya ulangi lagi tadi, bahwa kita harus sungguh serius memikirkan bumi kita dengan cara bekerja bersama-sama, membangun kemitraan dan kerjasama untuk mangatasi permasalahan iklim di dunia ini. Itu yang pertama.
Kesimpulan yang kedua, saya katakan tadi, mari kita lebih bersatu untuk menata dan memperbaiki kembali tatanan perekonomian global. Kalau dibiarkan hampir pasti akan terjadi krisis-krisis baru di waktu yang akan datang. Kita tidak tahu krisis apa lagi yang melanda dunia.
Dari dua kesimpulan besar tadi, kita bertanya sekarang, mengapa dunia kita menjadi seperti ini? Mengapa rentan? Mengapa unstable? Mengapa unsave? Mengapa unpredictable? Mari kita lihat secara jernih, dengan menggunakan penalaran yang tinggi. Di dunia ini, ternyata ada ketimpangan besar, great imbalances, timpang, tidak seimbang. Ada negara kuat, negara kaya dan maju yang bergerak dengan kepentingan dan hukum-hukum, katakanlah begitu. Banyak negara yang lemah, miskin dan tertekan. Itu tidak nyaman, karena ada imbalances. Ada juga yang disebut dengan supply and demand, production and consumptions. Ternyata dalam banyak hal yang dikonsumsi oleh manusia, demand atau permintaan manusia jauh lebih tinggi dari yang mampu diproduksi. Dari yang ditawarkan atau dalam teori ekonomi, supply ini juga imbalances.
Ada juga ketidakmerataan sumber daya alam, teknologi, dan capital. Ada negara yang luar biasa teknologi dan modal finansialnya. Ada negara yang tidak punya, yang miskin, demikian juga sumber daya alam. Dan satu lagi untuk melengkapi, Saudara tahu yang namanya power arrangement ada negara-negara maju, G-7, G-8, OECD, ada multinational corporation, perusahaan-perusahaan multinasional yang kalau punya untung, untungnya luar biasa, yang menurut saya tidak adil, yang menguras sumber daya alam di banyak negara, keuntungannya kadang-kadang di luar kepatutan dan itu sesuatu yang kita tata lebih baik lagi. Di satu sisi sekali lagi, ada negara berkembang. Imbalances ini, ketimpangan yang besar ini harus diperbaiki. Tidak mungkin memperbaikinya seketika, tidak cukup pula setahun, dua tahun, tapi kita harus sungguh-sungguh melakukan upaya besar untuk memperbaiki ketimpangan-ketimpangan itu. Sebab pertama, kita tahu mengapa dunia kita jadi seperti ini, karena ada ketimpangan-ketimpangan ini.
Yang kedua, Saudara-saudara mengapa krisis terjadi beruntun, terutama krisis tahun lalu, yang kena krisis Amerika lagi, negara yang dianggap ekonominya paling kuat, merontokan Eropa, merontokan negara-negara lain. Alhamdulilah, negara kita meskipun kena imbasnya, kena banjir kiriman, kena tsunami tumpahan, tapi sejauh ini dampaknya bisa kita minimalkan, bisa kita kurangkan.
Apa yang menyebabkan? Ada yang disebut dengan bubble economy, ekonomi gelembung, ini ada yang menyalahkan, itulah salahnya IT. Ini ada Menteri Komunikasi dan Informatika. Sebetulnya IT itu bagus, kalau digunakan untuk tujuan-tujuan yang bagus, tapi kalau digunakan untuk kejahatan, atau untuk dijadikan instrumen yang tidak adil, memang dahsyat juga dampak yang tidak baik.
Begini, sekarang ini transaksi di dunia, trade, investment, capital market, money to market, exchange rate, itu banyak yang bersifatnya spekulasi yang disebut dengan money economy, dan bukan real economy. Ini lengkap. Yang kedua, saya katakan tadi spekulasi ini kadang-kadang luar biasa, keterlaluan sehingga the dangerous money speculacy dan kemudian banyak lagi menurunnya aktifitas ekonomi yang benar-benar tidak mencantumkan kemampuan, kekuatan atau real economy-nya. Namanya gelembung, tahu gelembungkan? Begitu pecah, des begitu, maka akan pecah dan berantakan, nggak ada yang tadinya besar, kempes. Itulah yang terjadi sekarang ini. Ternyata modal derivasi dari saham berbagai bentuk instrumen keuangan, karena takutnya gelembung, pecah, dan kemudian terjadi kerugian disorder, koreksi-koreksi yang sangat tajam. Itulah yang pertama.
Ternyata rules, governance, institution yang telah betul-betul berkembang sekarang ini, juga dimulainya dengan mengeluhkan pihak-pihak tertentu, ada yang mengatakan pemilik modal yang paling diuntungkan dan perusahaan multinasional. Kalau itu yang terjadi, ya akan berantakan, enggak jadi peluang.
Kemudian juga lembaga yang menjalankan rules ini dianggap juga tidak berhasil betul. Dulu Saudara ingat setelah perang dunia ke-2, ada yang disebut dengan Bretton Woods Instruments, yaitu IMF, World Bank dan WTO itu yang dihadapi juga tidak begitu berhasil, sehingga tidak bisa mengatasi permasalahan perekonomian di dunia. Tiga tahun itulah yang secara fundamental membikin perekonomian global unstable, penuh dengan kerawanan. Oleh karena itu, agenda kedua dari globalisasi dan krisis perekonomian global, mesti kita simpulkan bahwa we have to do something terhadap semuanya.
Saudara-saudara,
Setelah bagian pertama tadi, negara kita seperti apa pasca krisis dan target itulah saya katakan tadi, dunia kita juga seperti apa. Yang ketiga sebagai puncak dari pandangan sederhana saya, bagaimana kita ke depan, seperti apa, ya kebijakan, ya strategi, ya prinsip-prinsip dasar pembangunan perekonomian di negara kita. Mari kita lihat satu per satu. Meskipun secara singkat.
Tidak ada di antara kita di ruangan ini dan di seluruh rangka Indonesia yang ingin negaranya lemah. Ada tidak? Tidak ada. Kita ingin menjadi negara yang kuat, bangsa yang kuat, bangsa yang berketahanan dan maju. Kita ingin menjadi developed country di abad 21 ini. Apa yang sudah kita capai dan tuju sebagai negara maju dan negara yang kuat, strong nation.
Pertama, ya ekonomi dan kesejahteraan rakyat kita makin baik. Budaya dan teknologi makin berkembang. Persatuan dan harmoni sosial, kerukunan sosial makin kokoh. Negara kita majemuk, tapi tidak ada alasan untuk kita tidak bersatu, tidak rukun satu sama lain. Negara kita luas, luas lautannya, daratannya pun juga tidak kecil. Oleh karena itu, kita perlu kekuatan, pertahanan dan keamanan yang tangguh, tidak boleh satu negara pun menggali, mengambil satu jengkal tanah sekalipun dari negeri kita dari negeri kita. Ini juga ciri-ciri negara yang kuat. Jadi kita ingin, karena kita hidup dalam era globalisasi, ya kita jangan hanya jadi penonton, sambil menggerutu, sambil mengeluh, kita harus menjadi pemain dalam globalisasi, dan bukan hanya bisa bermain, we have to be a winner, pemenang, dalam globalisasi sekarang dan ke depan.
Saudara-saudara,
Apakah itu datang dengan sendirinya, apakah itu semudah membalik telapak tangan, apakah seperti jalan di bawah bulan purnama, tidak, tidak. Tidak ada jalan yang lunak untuk mencapai cita-cita yang besar. Oleh karena itu, kalau kita ditanya, terus saya ditanya, lantas bagaimana kita mencapai di situ? Ya instruksinya, mari kita membangun dan membangun, dan bekerja lebih keras lagi.
Kita melaksanakan pembangunan nasional sejak mendiang Bung Karno diteruskan mendiang Pak Harto, dilanjutkan Pak Habbibie, Gus Dur, Bu Mega, sekarang dan nanti ke depan pemimpin-pemimpin selanjutnya, termasuk insya Allah Saudara-saudara yang ada di ruangan ini. Mari kita lihat kembali, sudah benarkah paradigma pembangunan kita, kebijakan dan strategi pembangunan kita. Cara melihatnya adalah yang masih baik, yang diletakkan landasannya sejak Bung Karno, kita lanjutkan. Yang mesti harus kita ubah, karena zaman berubah, tantangan juga berubah, mari kita perbaiki bersama-sama. Itulah reformasi. Reformasi itu continuity and change, perubahan dan kesinambungan.
Saya mengedepankan 5 hal yang menurut saya menjadi koreksi dari pembangunan kita selama ini. Pertama, pembangunan ke depan ini harus untuk betul-betul pembangunan semesta di seluruh Indonesia. Jangan hanya yang bergerak di Jakarta, di Surabaya, di Malang, dan kota-kota yang lebih tersentuh dengan modernitas. Berdimensi kewilayahan, lihat keunggulan masing-masing Propinsi, Kabupaten dan Kota, dan kemudian mempertimbangan kelestarian lingkungan. Kita tidak boleh egois, menguras sumber daya alam, anak cucu kita dapat apa. Itu pertama.
Yang kedua, paduan dari resource based dengan knowledge based dan culture based. Dulu ada polemik, ada ekologi, debat, yang betul itu berbasis sumber daya alam atau berbasis pengetahuan. Enggak perlu dihadapkan, semuanya perlu, resources based, knowledge based and culture based development, resources based, knowledge based and culture based economic development. Itu yang kedua paradigmanya.
Yang ketiga, ke depan mari betul-betul kita pastikan pertumbuhan itu disertai pemerataan, growth with equity. ”Wah dulu kita sudah, Pak”. Dulu ada trilogi pembangunan, tapi dalam prakteknya tidak semuanya segaris dengan trilogi pembangunan. Sekarang kalau kita bersepakat, pertumbuhan harus ditambahkan secara adil sejak awal harus kita perhitungkan. APBN, APBD, investasi, pembangunan daerah disamping pertumbuhan, growth, beri kesempatan yang lain untuk juga mendapatkan manfaat dan kemajuan, riil. Kalau hanya mengejar pertumbuhan, barangkali bisa kita tetap tujuh, delapan persen lagi tahun-tahun mendatang setelah krisis dunia usai. Tapi apa artinya kita tumbuh tujuh persen, delapan persen, tapi rakyat kita, golongan yang lemah tidak mendapatkan apa-apa. Trickle down effect strategy does not work, tidak cocok untuk negara berkembang. Saya menolak seolah-olah... tunggu dulu, setelah itu nanti kan kita merasakan. Kapan? Sejak awal tumbuh, sekaligus merata.
Yang keempat, kita harus sangat serius untuk meningkatkan ketahanan dan kemandirian bangsa. Tetapi bukan soal terhadap dunianya, ketahanan dan kemandirian bangsa dalam kerangka kerjasama internasional yang membawa manfaat bagi bangsa kita. Mengapa saya menekankan kemandirian, Saudara-saudara?
Saudara tahu, tahun lalu ada krisis pangan. Saudara tahu harga pangan naiknya luar biasa. Saudara tahu beras pun jadi persoalan, kalau ada harga-harganya mahal. Bayangkan, kalau tahun lalu, tahun ini kita masih impor beras, apa jadinya. Alhamdulilah, berkat kerja keras kita, sekarang kita kembali berswasembada beras. Mari kita ketahui, mari kita lanjutkan supaya gonjang-ganjing, tantangan apapun, Insya Allah kita selamat. Saya menggarisbawahi kemandirian, kemandirian, kemandirian. Bayangkan kalau peralatan militer, semua harus kita beli dari luar negeri, begitu kita konflik, mereka kasih embargo, seperti apa kita mempertahankan negeri sendiri. Kita harus bisa bisa membangun peralatan militer, persenjataan yang bisa kita bangun di negeri tercinta ini. Ini contohnya.
Dan terakhir paradigma kelima, masih berkaitan dengan bagaimana membangun negara maju itu. Semua harus diajak, semua harus berpartisipasi, bukan hanya urusan Pemerintah Pusat, tetapi juga Pemerintah Daerah, bukan hanya urusan Pemerintah, tapi juga dunia usaha, perguruan tinggi, civil society, LSM, NGO dan sebagainya.
Saudara-saudara,
Itulah yang ingin kita tuju. Kalau saya boleh sedikit, lantas Saudara paling suka bicara visi. Apa sih visi? Okelah, saya tidak ingin mengajak diskusi tentang visi. Kalau kita boleh menengok begitu, mengintip Indonesia 10 tahun yang akan datang itu seperti apa? 20 tahun mendatang seperti apa? Gambaran itulah yang disebut dengan visi sebenarnya. Ya kembali kita ingin memiliki kualitas hidup yang lebih baik, ekonomi terus tumbuh, good governance, pemerintahan yang baik harus terbangun. Kalau pemerintahan buruk, korupsi merajalela, tidak gampang boros, planning-nya jelek, apalagi pelaksanaannya, gelap masa depan kita. Governance, government itu satu lembaga negara, executively harus menyikapi pusat dan daerah, semua bertanggung jawab. Hanya dengan pemerintahan yang baik, bebas dari korupsi dan pemborosan, ada kecerahan dalam kehidupan masa depan bangsa.
Rule of law, jangan menggunakan hukum rimba, kekerasan di sana, sini, serang sana, serang sini, bakar sana, bakar sini, rusak sana, rusak sini. Menangis kita. Rule of law. Dan kemudian Demokrasi harus tumbuh terus, kebebasan mekar, hak azasi manusia kita hormati, tapi tetaplah dengan akhlak, dengan tanggung jawab. Jangan menggunakan HAM, menggunakan kebebasan tanpa melihat kepentingan saudara-saudara kita yang lain, tanpa melihat bermanfaat atau tidak, membawa kebajikan atau tidak. Itulah kira-kira Saudara kalau kita mengintip 10, 20 tahun ke depan.
Kalau saya ditanya, ”Lantas Pak SBY prioritasnya apa?” Saya pun mengedepankan ke depan ini, dan saya minta Universitas Brawijaya dan perguruan tinggi yang lain, coba dibikin satu strategic plan, dibikin satu semacam blueprint, work map, bagaimana 10, 20 tahun ke depan kita mencapai kondisi seperti ini.
PR kita, prioritas kita, satu, terus mengurangi kemiskinan. Dua, terus meningkatkan lapangan pekerjaan. Tiga, meningkatkan kebutuhan ekonomi. Keempat, meningkatkan ketahanan pangan. Kelima, meningkatkan kecukupan dan ketahanan energi. Kelima, meningkatkan peran dan kapasitas pemerintahan daerah. Pemerintahan daerah harus tajam, harus efektif, harus penuh dengan inovasi, jangan masih mentalitas uang, semuanya tergantung pusat, tidak boleh. Sekarang sudah otonomi daerah, sekarang sudah desentralisasi. Fiskal pun, anggaran pun kita bagi-bagi, kewajibannya juga harus dijalankan. Dan disamping tugas itu tadi, kita ingin dalam negeri kita ke depan makin aman, makin tertib dan stabil.
Hadirin yang saya muliakan,
Pertanyaannya apakah kita bisa membangun masa depan seperti ini? Apakah kita mampu sebagai bangsa mewujudkan our dream, impian kita? Bisa tidak? Bisa tidak? Jawabannya dengan ridho Allah SWT, bangsa Indonesia bisa, asalkan, asalkan tidak gratis, not free. Mari kita kelola dan kita bangun negara kita dengan kita harus punya visi dan strategi yang tepat. Soal ini perguruan tinggi jagonya, silakan, seperti apa kebijakan, strategi, visi, ini, itu dan sebagainya.
Yang kedua, harus ada management, ada kepemimpinan yang efektif. Kepemimpinan bukan hanya Presiden, bukan hanya Menteri, semua pemimpin di negeri ini, Gubernur, Bupati, Walikota, Camat, Kepala Desa, organisasi politik, DPR, DPD, MK, MA, semua, ini negara kita, negara bersama-sama, bukan hanya urusan Pemerintah semata. Yang berikutnya lagi, ya kita harus bersatu, tidak boleh masing-masing, dan bekerja lebih keras lagi. Saya mengajak Keluarga Besar Universitas Brawijaya untuk menjadi bagian dari perubahan besar ini. Sanggupkah Saudara? Terima kasih.
Saya menerima surat, saya baca, dari Presiden Eksekutif Mahasiswa Brawijaya Adinda Nana Abdul Aziz. Saya terima suratnya. Isinya ada pandangan, ada kritik, ada rekomendasi. Pendidikan, kesehatan, pemberantasan korupsi, mengelola aset karena ini negara dirugikan, termasuk mengatasi lumpur Sidoarjo dan sebagainya. Saya katakan pandangannya dan suratnya bagus, bagus. Kritis, kritis, tetapi konstruktif. Dan ada juga ditawarkan bagaimana kalau begini, kalau begitu.
Saya hargai dan saya berikan penghargaan terhadap mahasiswa Universitas Brawijaya, termasuk surat yang disampaikan tadi. Dan Saudara, dalam salah satu kalimatnya, ”Kami juga ingin berperan di masa kini dan masa depan”. Sudah tahukah masa depan kita seperti apa? Tantangannya seperti apa? Jalannya juga seperti apa? Masuk dalam barisan, masuk ke sini. Kalau masuk mulai sekarang, dalam pikiran, dalam komitmen, dalam karya nyata, Saudara tidak akan tertinggal dan ini yang Saudara, para mahasiswa untuk menjadi putra-putri terbaik bangsa di masa depan, insya Allah akan terwujud.
Saudara-saudara,
Dari semuanya ini, saya ingin secara cepat sebagai bagian akhir, ini penting dan saya minta Universitas Brawijaya bisa menindaklanjuti nanti. Pak Rektor, para Guru Besar, segenap Pimpinan Rektorat, para Dosen, para Mahasiswa, tolong dibangun konstruksi perekonomian kita ke depan, yang pertama tadi, lakukan pendekatan sumber daya, pendekatan pengetahuan dan pendekatan budaya.
Yang kedua, bangun, bagaimana ekonomi kita ini sustainable, tapi juga agree. Agree dari arti ramah terhadap lingkungan. Lantas yang ketiga, jangan sampai terganggu, bias, disorientated, bahwa kita betul-betul ingin pertumbuhan disertai pemerataan.
Yang keempat, ini penting, kita tidak boleh hanya menggantungkan ekspor semata. Kita tidak cocok mengambil model Taiwan, model Korea Selatan, model Singapura, model Hongkong misalnya. Memang orientasinya ekspor, kita tidak boleh. Ekspor penting, tetapi mari kita perkuat ekonomi domestik, mari kita perkuat pasar domestik. Apakah bisa? Bisa. Penduduk kita 230 juta, daya belinya makin meningkat, income per kapita makin meningkat, sumber daya alam ada di tempat kita, apa saja dicari, minyak, gas, tambang yang lain, kehutanan, perikanan, pariwisata, perkebunan dan sebagainya. Manusianya ada, pasarnya ada, sumber daya alamnya ada, apa lagi yang dicari, we have to strengthen our domestic economy.
Kalau ekonomi domestik kuat, ada apa-apa di dunia, tidak usah takut, ada pembelinya, yang takut negara lain berjatuhan karena ekonominya. Berorientasi pada ekspor, negara-negara maju tidak mau membeli, sudah bangkrut, ekspornya balik kanan, tetap terjadi kebangkrutan sektror riil, PHK luar biasa dan sebagainya. Jangan kita di masa depan mengalami hal yang sama. Ekspor tetap kita tingkatkan, tetapi mari kita perbesar perekonomian dalam negeri.
Yang kelima, Pak Rektor, saya katakan tadi, hidupkan semua simpul di negeri ini, Kabupaten, Kota, Provinsi, dengan kekuatannya masing-masing. Papua keunggulannya apa, Kalimantan keunggulannya apa, Sulawesi apa, Jawa Timur apa, Sumatera apa, Nusa Tenggara apa dan seterusnya. Ingat dimensi kewilayahan.
Yang keenam, kita jangan hanya menggantungkan pinjaman luar negeri. Kita tidak boleh tergantung pada investor asing. Kita harus meningkatkan sumber pendanaan dari dalam negeri. Mari kita lebih rajin dalam menabung, saving. Saving itu kita gunakan untuk investment, investasi. Kalau itu terjadi, ada gejolak, gejolak pasar modal, pasar uang, enggak apa-apa, kita punya uang untuk membangun diri kita sendiri.
Yang ketujuh, pangan, energi dan ketahanan harus betul-betul mandiri. Yang kedelapan, dulu ada debat dengan para Profesor, para Dosen masih ingat? Yang penting itu apa? Keunggulan, apa namanya competitive, atau keunggulan comparative, mana yang lebih penting? Ya dua-duanya penting, enggak didikotomikan. Mari kita bangun dua-duanya.
Dan yang terakhir adalah, ini juga debat ideologis, saya tidak suka terlalu larut dalam debat ideologi yang kadang-kadang tidak terlalu perlu untuk rakyat, rakyat itu yang diinginkan ekonomi tumbuh, kesejahteraannya meningkat, mereka bisa merasakan. Dia tidak peduli ini ideologinya apa, yang ditampilkan apa dalam perekonomian. Tetapi saya sudah mengatakan berkali-kali, pilihan kita adalah ekonomi terbuka yang berkeadilan sosial. Kita memerlukan mekanisme pasar, agar efisien, tapi kita juga memperhatikan keadilan sosial, agar tidak larut dalam kapitalisme yang fundamental. Dan peran Pemerintah ini saya angkat, sebab kalau Pemerintah tidak berperan sama sekali, yang kuat akan menang, yang lemah akan kalah. Itu hukum kapitalisme. Kita menolak seperti itu. Mari kita anut ekonomi terbuka berkeadilan sosial, yang dimungkinkan market mechanism dengan government rules.
Saudara-saudara,
Itulah tiga hal besar. Itulah yang kira-kira bagaimana ke depan kita membangun perekonomian kita. Menutup orasi ini, Pak Rektor tadi mengatakan, sekarang yang kita kerjakan apa, dunia sedang gonjang-ganjing seperti ini. Saya minta lebih relaks, saya minta tidak perlu cemas, saya minta tidak terlalu gentar, karena kita terus bekerja dan bekerja, siang dan malam, kami mengatasi masalah ini, Pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha dan semua.
Bacalah komentar-komentar luar negeri. Minggu lalu, minggu sebelumnya, Indonesia dikatakan, “So far so good”, sejauh ini oke. Dikatakan Indonesia tetap kena dampak dari krisis dunia, tapi dampaknya tidak telak sekali dibandingkan dengan negara-negara lain. Kita syukuri, tapi belum selesai, karena badai masih belum usai pada tingkat global. Mari kita bersama-sama mengatasi masalah ini. Dan saya sudah menyatakan 7 prioritas, pertama, mari kita cegah PHK dan kalau PHK tidak bisa dihindarkan, bagaimana penanggulangannya.
Yang kedua, mari kita kelola, agar inflasi tidak menjadi-jadi. Mari kita jaga daya beli rakyat. Mari kita lindungi yang lemah atau yang miskin. Mari kita perhatikan masalah pangan dan energi. Dan kemudian, satu lagi sektor riil, kalau ada masalah-masalah Pemerintah bantu, jangan buru-buru, kasihan. Mari kita pecahkan bersama-sama Pemerintah dengan dunia usaha. Less but not least, kalau negara lain drop sekali pertumbuhannya, mudah-mudahan tahun ini pertumbuhan kita tidak terlalu jatuh. Pasti ada penurunan. Dua tahun terakhir di atas 6%, alhamdulillah. Kita berharap kalau turun, tidak terlalu jauh, sehingga kita bisa terus meningkatkan atau menjaga momentum pertumbuhan.
Itulah Saudara-saudara yang saya sampaikan. Dan sekali lagi, negara Indonesia adalah negara kita, bangsa ini adalah bangsa kita sendiri, yang bisa menyelesaikan masalah negara kita, kita sendiri. Memang ada kerjasama internasional, bantuan dunia. Tapi please, mari kita atasi persoalan negara ini, baik karena persoalan kita sendiri maupun sebagai juga persoalan dunia dengan cara mendayagunakan kemampuan sendiri dan bekerja lebih kompak, lebih keras lagi. Saya yakin, Allah SWT akan memberikan jalan kepada kita untuk mencapai tujuan itu.
Terima kasih, selamat berkarya.
Tuhan beserta kita.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



