Pidato Presiden
Transkripsi Sambutan Presiden RI pada Acara Program Reformasi Birokrasi Polri
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PROGRAM REFORMASI BIROKRASI POLRI
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
MABES POLRI, JAKARTA
30 JANUARI 2009
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia, Saudara Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Saudara Jaksa Agung, Saudara Panglima TNI, Saudara Kapolri,
Yang Mulia para Duta Besar Negara-negara Sahabat, Saudara Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Banten, para Pimpinan dan Anggota Komisi Kepolisian Nasional, para Penasehat dan Staf Ahli Kapolri, para Pejabat Teras Jajaran POLRI
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan, dan kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta. Kita juga bersyukur hari ini dapat bersama-sama mengikuti Peluncuran Program Reformasi Birokrasi POLRI.
Saudara-saudara,
Kemarin di Istana Negara, di hadapan para peserta Rapim TNI dan Rakor POLRI, saya sampaikan beberapa pengarahan, directions saya untuk dijalankan oleh, baik jajaran TNI maupun jajaran POLRI. Kemarin juga saya ingatkan, bahwa sesuai dengan amanah Konstitusi, Undang-Undang Dasar 1945, pada prinsipnya POLRI mengemban tugas, satu, untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Dua, untuk melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. Dan yang ketiga, untuk menegakan hukum.
Saya juga ingatkan, sekaligus saya tekankan agar semua tugas itu dapat dilaksanakan dengan baik sekarang dan ke depan. Evaluasi yang kita lakukan kemarin adalah dari empat upaya untuk menangani ragam kejahatan secara umum, ada prestasi POLRI yang sangat baik di dalam mengatasi kejahatan itu, ada yang baik, ada yang belum baik, belum sepenuhnya berhasil. Saya beri contoh kemarin, di bidang mengatasi kejahatan konvensional, masyarakat masih ingin street crimes, kejahatan jalanan, kejahatan premanisme betul-betul bisa ditangani secara tuntas di masa depan, yang lainnya berjalan dengan baik.
Menangani kejahatan transnasional, termasuk terorisme, pada hakikatnya berjalan baik, kecuali kita belum sepenuhnya bisa mengatasi kejahatan narkotik. Alhamdulillah, saya mendapat good news, bahwa Kepolisian bisa lagi melakukan operasi yang gemilang, dengan ditemukannya satu tempat yang memproduksi shabu-shabu dalam jumlah yang besar. Dan sore ini, saya akan datang langsung untuk mengucapkan selamat dan memberi semangat bagi jajaran Kepolisian.
Yang ketiga, langkah Saudara untuk mengatasi kejahatan terhadap kekayaan negara berjalan makin baik, kecuali illegal fishing masih harus ditingkatkan lagi. Kemudian yang keempat, di dalam menangani kejahatan yang berimplikasi kontigensi, saya katakan relatif baik, cuma sering kita terlambat mengantisipasi, baik Kepolisian, Komando Teritorial TNI, Pemerintah Daerah dan tokoh-tokoh masyarakat, seringkali telah terjadi konflik komunal, baru kita lakukan langkah-langkah untuk mengatasinya. Empat ragam kejahatan itulah yang penting menjadi tugas utama Kepolisian untuk menanganinya dengan sungguh-sungguh sekarang dan di masa depan.
Saudara-saudara,
Bicara pelayanan, pelayanan publik, service, saya setuju, bahwa kita harus serius untuk meningkatkan kualitas pelayanan ini. Polisi adalah abdi negara, juga abdi masyarakat. Masyarakat harus kita layani sebaik-baiknya. Setiap saat kita berpikir bagaimana kita meningkatkan kualitas pelayanan itu. Pelayanan yang baik, pertama, harus cepat, quick. Yang kedua, harus murah, kalau itu memerlukan biaya atau cheap. Yang ketiga, harus mudah kalau ada proses yang harus dipenuhi, easy. Kemudian di atas segalanya bagus, akuntabel, hasilnya memang betul-betul mencermikan pelayanan yang baik.
Ke depan jajaran Kepolisian harus meningkatkan pelayanannya, better, quicker, cheaper, and easier. Kalau itu bisa dilakukan, makin bagus, makin cepat, makin mudah, makin murah, rakyat akan sangat berterima kasih dan bersyukur. Oleh karena itu, saya dukung upaya Kepolisian untuk meningkatkan kualitas pelayanan ini.
Tadi Kapolri menyampaikan kepada kita semua, yang disebut dengan Quick Wins, bahasa Indonesianya kira-kira apa ini ya, yang mudah diketahui oleh masyarakat gitu? Apa program jangka pendek atau program unggulan atau program prioritas? Cari, cari yang bagus kalau perlu konsultasi ahli bahasa. Temukan istilah yang cespleng, yang joss, bahasa Indonesia. Tapi saya mengerti maksudnya Quick Wins itu memang setuju empat-empatnya. Kalau kita tidak bisa merespon dengan cepat, terlanjur terjadi korban, kerusakan, trust dari masyarakat kepada Kepolisian, kepada Pemerintah, kepada kita semua akan turun. Mereka membayar pajak, dengan harapan pajak itu bisa digunakan oleh negara, untuk merespon dengan cepat kalau ada apa-apa dengan mereka. Quick response, respon cepat, kita akan lihat nanti display-nya, peragaannya.
Yang kedua adalah transparansi dalam proses hukum, utamanya penyidikan, saya senang. Sebab kadang-kadang tidak selalu dijelaskan kepada publik, timbul rumor, desas-desus, ketidakpercayaan, akhirnya ada gerakan masyarakat, bertindak sendiri, karena tidak dapat informasi sejauh mana proses penyidikan itu. Di sini transparansi menjadi penting supaya rakyat tahu, Kepolisian yang sudah bekerja siang dan malam, mereka tahu bahwa bekerja seperti itu. SIM, STNK, BPKB, saya sudah melihat kemajuan yang baik, tapi saya senang kalau justru ini ditingkatkan lagi kualitas pelayanannya itu. Apalagi kalau betul-betul cheaper, better, easier dalam memprosesnya itu.
Recruitment, sudah lama kita mendengar desas-desus menyangkut recruitment di lingkungan TNI dan POLRI, ada Panglima TNI di sini. Macam-macam isunya, ada yang dipungut bayaran yang tinggi, nyogok sana, nyogok sini katanya, harus pakai katebelece dan sebagainya. Saya melihat banyak kemajuan yang dilakukan oleh TNI dan POLRI menyangkut recruitment ini.
Tetapi yang penting, Saudara jelaskan. Banyak SMS yang masuk ke saya, terus terang bagi yang umumnya tidak lulus, apakah untuk masuk Tamtama, Bintara, Perwira, baik POLRI maupun TNI. Biasa kalau tidak berhasil lantas, “Habis Pak SBY, kami ndak punya uang.” Padahal saya denger ongkosnya sekian, denger-denger saja. Kemudian yang itu masuk, karena punya backing, punya sponsor begitu, setelah dicek, dicek ternyata memang tidak lulus, yang bersangkutan itu. Tetapi karena tidak dijelaskan, anda tidak lulusnya dimana, kesehatankah, kesemapaankah, psikoteskah, mental ideologi atau apapun, jelaskan. Sebab kalau dijelaskan, kalau fisiknya belum bagus, latihan, tahun depan bisa masuk. Kalau ada kesehatan yang belum prima, ya berobat, siapa tahu bisa masuk. Ini penting abad demokrasi, abad informasi, abad transparansi, lakukan komunikasi segamblang-gamblangnya dengan masyarakat luas, supaya tidak ada hal-hal yang tidak semestinya terjadi. Buruk sangkalah itu, wah pasti kalau masuk Polisi harus membayar uang banyak, masuk TNI demikian juga, padahal bukan itu masalahnya, karena kurangnya penjelasan yang baik.
Saya senang kalau Kepolisian betul-betul, guna mendapatkan putra-putri terbaik bangsa, mengawai jajaran Kepolisian menghadapi tantangan yang makin tidak ringan ke depan, memperbaiki, meningkatkan sistem recruitment-nya untuk kepentingan sumber daya manusianya.
Dari empat program unggulan tadi, Quick Wins tadi, saya berharap sungguh dijalankan, masyarakat menunggu, dan semuanya akan membawa kebaikan, baik bagi Kepolisian maupun bagi masyarakat luas.
Sebelum mengakhiri sambutan saya, ada dua hal yang saya ingin sampaikan. Ada falsafah yang baik, yang berkaitan dengan reformasi birokrasi, yang Pemerintah, Menpan dan semua Menteri juga gigih melaksanakan reformasi birokrasi, bureaucratic reform, membangun tata pemerintahan yang baik, good governance. Meskipun sudah banyak kemajuan, kita belum puas, we have to do more, kita harus berbuat lebih banyak lagi, agar governance kita di seluruh Indonesia betul-betul lebih responsif, lebih bersih, lebih akuntabel, lebih transparan, lebih berkemampuan dan sebagainya. Saya berharap itu bisa dilakukan ke depan.
Falsafahnya begini, atau metafornya begini, kita punya rumah, ada halaman, ada pohon, lebih baik kita bersihkan rumah kita sendiri, pekarangan kita dalam rumah kita, daripada dibersihkan orang lain. Pertama, kalau ingin membersihkan halaman rumah kita, mari kita gunakan sapu ataupun apa itu bahasa inggrisnya ... itu? Kalu sapu kan sapu lidi. Bahasa Indonesia itu, ya itulah ya. Pilih yang bersih, kalau itunya kotor, lantainya sudah lewati bersih malah ikut kotor. Yang kedua, sapunya harus bersih, pembersihnya harus bersih dibandingkan yang akan dibersihkan. Yang ketiga, tidak cukup sekali menyapu, harus berkali-kali, terus-menerus menyapu. Kita sapu, jendela terbuka daun masuk, mosok kita biarkan, nyapunya tahun depan. Sapu terus-menerus, begitulah membangun pemerintahan yang bersih, tata pemerintahan yang bagus. Kita bikin baik tindakan preventif, pencegahan. Kemudian kalau kita ingin bikin bersih, mari kita bikin bersih diri kita sendiri, organisasi kita sendiri. Dan di atas segalanya, membangun good governance itu unfinished action, long term process dan harus terus dilakukan.
Itu saya berharap bisa sama-sama kita jalankan, termasuk kami yang ada di Lembaga Kepresidenan, semua, tidak ada yang ingin lembaganya Pak Agung Laksono, DPR RI, para Anggota DPR juga ada di sini, beliau-beliau, MA, MK, Pengadilan Tinggi, Kejaksanaan, semua, Provinsi, Kabupaten, Kota harus melakukan reformasi, harus melakukan pembenahan, harus membangun good governance. Jangan mudah menuding, padahal rumah tangganya belum beres. Rakyat akan melihat satu demi satu, mana yang sungguh ingin memperbaiki diri dan mana yang sibuk menuding, “Ini nggak betul, ini jelek, ini salah dan sebagainya.” Itu saya kira yang harus kita lakukan.
Kejahatan jalanan. Saya sudah menginstruksikan kemarin, para Pimpinan POLRI juga hadir di Istana. Saya ingin dan ini keinginan rakyat, betul-betul lakukan perang melawan kejahatan jalanan, premanisme yang meresahkan masyarakat, yang membikin ekonomi kita menjadi sangat mahal. Kalau orang bilang jalan di tengah kota Tokyo, Tokyo down town, di tengah malam hari aman, mestinya jalan di Senen, jalan di Tanah Abang malam hari, jalan di Kampung Rambutan, dimana pun harus juga aman. Buktikan kepada rakyat, Kepolisian kita, kita semua bisa bikin aman jalan-jalan di Jakarta jam berapa pun, pagi, siang, sore, malam dan dini hari. Bukan sesuatu yang mustahil dilakukan bisa, Insya Allah bisa.
Saya senang, saya datang ke Provinsi, ada mobil untuk pemberantasan premanisme. Jalankan betul, jalankan, jangan ragu-ragu, negara tidak boleh kalah sama kejahatan, negara tidak boleh kalah sama premanisme, resikonya ada, tapi hadapi bersama-sama.
Yang terakhir kepada negara-negara sahabat yang selama ini membangun kerjasama dan kemitraan, saya mengucapkan terima kasih, karena kejahatan di universal, kejahatan transnasional datang dan pergi. Mari kita membangun kemitraan, dengan demikian kita ingin seluruh dunia menjadi aman. Tidak aman di Indonesia, tidak aman di Singapur, di Kuala Lumpur, di New York, di Tokyo, di London dan sebagainya. Demikian juga sebaliknya, banyak kejahatan terjadi di negara kita yang dilakukan oleh manusia, oleh penjahat sejagat, dengan network-nya. Oleh karena itu, the solution is our partnership, our cooperation, sehingga lebih efektif lagi kerjasama kita ke depan.
Demikianlah Saudara-saudara, pesan dan harapan saya, instruksi saya kepada jajaran Kepolisian. Saya berterima kasih, saya bangga atas prestasi selama ini, namun yang belum-belum baik, perbaiki.
Dan akhirnya dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, serta mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya luncurkan “Program Reformasi Birokrasi POLRI”.
Sekian.
Wassalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



