Pidato Presiden
Ttanskripsi Sambutan Presiden RI pada Acara Pembukaan Konferensi FOrum Koordinasi Aceh-Nias IV
TRANSKRIPSI SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA PEMBUKAAN KONFERENSI FORUM KOORDINASI ACEH-NIAS IV
J C C, 13 FEBRUARI 2009
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang Mulia para Duta Besar Negara-negara Sahabat, para Tamu Kehormatan, para Pimpinan Organisasi-organisasi Internasional, Saudara Gubernur DKI Jakarta, para Gubernur dan para Pimpinan, Pejabat Daerah yang turut hadir pada kesempatan ini, Saudara Ketua BRR Aceh dan Nias dengan segenap jajaran, para Pimpinan dan Anggota Dewan Pengarah, para Pimpinan dan Anggota Dewan Pengawas BRR,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik ini, marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas perkenan rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan, dan semoga kesehatan untuk melanjutkan karya, tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara dan kepada dunia.
Kita juga bersyukur hari ini dapat menghadiri Konferensi Forum Koordinasi Aceh dan Nias yang ke-4, Coordination Forum for Aceh and Nias (CFAN 4) yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias. Semoga Konferensi ini dapat meningkatkan kerjasama dan koordinasi yang lebih baik dan lebih terarah, dalam upaya kita membangun kembali Aceh dan NIas.
Kita juga berharap acara konferensi yang juga disertai pameran, capaian, keberhasilan dari BBR di Aceh dan NIas ini, dapat dijadikan model bagi kita semua dan juga barangkali bagi negara-negara sahabat, dalam mengatasi situasi darurat akibat bencana yang mungkin terjadi di kemudian hari. Kita juga dapat mengambil model penanggulangan pasca bencana, bagaimana kondisi infrastruktur yang semula luluh lantak oleh bencana yang maha dahsyat, dalam waktu 4 tahun, melalui kerjasama yang baik antar negara, Alhamdulillah telah dapat kita bangun kembali dengan lebih baik.
Sebagaimana tema yang diangkat dalam konferensi ini, yaitu “Celeberiting humanity, the rebuild of Aceh and Nias” dan di belakang tertera tulisan “Aceh-Nias risen for from adversary, humanitarian journey of a united world”. Dengan tema itu, disertai rasa syukur yang mendalam atas keberhasilan pelaksanaan tugas kemanusiaan yang sangat berat ini, saya mengajak seluruh peserta konferensi dan Saudara-saudara semua untuk memberikan tanggapan yang konstruktif atas semua capaian yang telah diraih oleh BRR Nias dan Aceh.
Saya juga mengajak para Peserta untuk menyampaikan pemikiran dan masukan positif, terutama bagi kelanjutan koordinasi pembangunan di Aceh dan Nias pasca BRR, yang akan menyelesaikan tugasnya pada bulan April mendatang.
Penyelenggaraan CFAN ke-4, saya nilai sangat penting. Konferensi ini memiliki 3 tujuan besar. Pertama, pengakuan pencapaian dari seluruh pemangku kepentingan, sekaligus sebagai wadah akuntabilitas terhadap masyarakat yang telah memberikan kontribusi. Kedua, pengkonsolidasian semua proses pembelajaran yang dapat kita petik. Dan ketiga, memastikan koordinasi di wilayah Aceh dan Nias pasca berakhirnya masa tugas BRR di bulan April mendatang tetap dapat dilaksanakan dengan baik.
Saudara-saudara,
Masih segar dalam ingatan kita, lebih dari 4 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 26 Desember 2004, bencana tsunami terjadi di Aceh, yang disusul oleh gempa bumi di Nias pada tanggal 28 Maret 2005. Gempa bumi dan tsunami itu telah meluluhlantakkan Aceh dan Nias. Lebih dari 200 ribu orang meninggal dunia, hilang dan luka-luka. Bencana itu, juga telah memporakporandakan infrastruktur yang ada di sana. Bencana itu merupakan bencana terbesar di dunia pada awal abad ke-21 ini.
Tragedi yang maha dahsyat itu telah menarik simpati dan solidaritas seluruh umat manusia di muka bumi. Banyak negara, banyak organisasi, lembaga swadaya masyarakat nasional dan internasional, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang serentak dengan cepat mengulurkan tangan, memberikan bantuan.
Bagi Pemerintah Indonesia sendiri, operasi tanggap darurat itu merupakan sebuah upaya yang sangat besar. Pemerintah melakukan dengan mengerahkan seluruh kapasitas nasional, BAPPENAS segera menyiapkan rencana induk untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Pemerintah mobilisasi seluruh kekuatan nasional, bersatu padu untuk membantu masyarakat Aceh dan Nias. Pemerintah juga membuka akses untuk mengalirkan bantuan kemanusiaan dari berbagai negara ke lokasi bencana.
Secara keseluruhan operasi tanggap darurat di Aceh dan Nias telah melibatkan puluhan ribu relawan dari 34 negara. Dari kacamata pelibatan satuan-satuan militer, ini merupakan operasi militer selain perang terbesar yang tercatat dalam sejarah, the biggest military operation other than war.
Pada kesempatan yang baik ini, atas nama Pemerintah dan Negara Republik Indonesia sekali lagi, saya ucapkan terima kasih yang tulus atas bantuan, perjuangan dan kerelaan dari berbagai negara, organisasi, dan perorangan yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam operasi kemanusiaan di Aceh dan Nias.
Untuk memulihkan infrastruktur di Aceh dan Nias, Pemerintah telah membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi atau BRR Aceh dan Nias. Pendirian BRR merupakan sebuah keputusan penting. Pendirian BRR, utamanya ditujukan untuk mengkoordinasikan banyak sekali pemangku kepentingan, baik lokal, nasional, maupun internasional yang terlibat dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh dan Nias.
Melalui BRR, Pemerintah ingin memastikan, bahwa pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami dan gempa bumi dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, dan sinergis. Kita ingin mengejar ketertinggalan dari daerah lainnya untuk membangun kembali Aceh dan Nias dengan lebih baik, build back better.
Pemerintah menindaklanjuti pendirian BRR dengan pemberian komitmen pendanaan yang besar lebih dari 2,1 milyar Dollar Amerika serikat untuk membangun kembali Aceh dan Nias. Jumlah itu masih ditambah dengan kontribusi internasional yang dikemas dalam suatu kolaborasi berskala besar.
Setelah bekerja tidak kenal lelah, kita semua patut bersyukur dalam kurun waktu hampir 5 tahun, BRR Aceh dan Nias telah berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Program rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilaksanakan BRR Aceh dan Nias telah berhasil membangun kembali ratusan ribu unit rumah, ribuan sekolah, ribuan kilometer jalan, serta memulihkan ratusan ribu hektar lahan pertanian, sebagaimana yang tadi kita saksikan dalam tayangan yang disampaikan oleh BRR.
Pelaksanaan rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana ini, Alhamdulillah juga telah didukung oleh keadaan kemanan yang kondusif pasca perdamaian di Aceh. Bahkan di Pulau Nias, yang pada masa sebelumnya relatif belum sempat tersentuh pembangunan pasca rehabilitasi dan rekonstruksi yang dilakukan oleh BRR Aceh dan Nias, telah berhasil dicapai perkembangan pembangunan yang sangat cepat. Rumah-rumah dibangun, infrastruktur transportasi, seperti jalan dan jembatan diperbaiki dan dibangun dengan lebih baik.
Dengan kondisi perumahan infrastruktur serta sosial ekonomi yang berangsur pulih, Alhamdulillah saat ini saudara-saudara kita di Aceh dan Nias telah dapat menikmati kembali kehidupannya yang lebih baik. Masyarakat Aceh dan Nias telah sampai pada keadaan baru yang penuh harapan. Mereka juga telah siap untuk membangun wilayahnya secara lebih cepat, lebih baik, dan berkelanjutan.
Kita juga bersyukur, semua capaian yang diraih oleh BRR Aceh-Nias itu telah mendapatkan apresiasi dari kalangan masyarakat internasional. Proyek rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh dan Nias, telah diakui secara obyektif sebagai suatu proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana yang paling berhasil.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Dengan akan berakhirnya masa tugas BRR Aceh dan Nias, saya telah menandatangani Peraturan Presiden tentang pengakhiran masa tugas Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi wilayah dan kehidupan masyarakat Provinsi Aceh dan Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara, dan kesinambungan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah Aceh dan Nias. Peraturan ini disamping menentukan berakhirnya masa tugas BRR Aceh dan Nias pada tanggal 16 April 2009 mendatang, juga menegaskan, bahwa kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah pasca bencana di Aceh dan Kepulauan Nias, selanjutnya menjadi tanggung jawab Kementerian dan Lembaga, dan Pemerintah Daerah.
Disamping itu untuk menjamin kesinambungan dari rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah dilaksanakan selama ini, serta untuk menjamin sinkronisasi dan harmonisasi kegiatan perencanaan program, pemerintah membentuk Badan Kesinambungan Rekonstruksi di Aceh dan Kepulauan Nias. Dengan adanya badan ini, diharapkan pembangunan selanjutnya di kedua wilayah tersebut akan tetap dapat berlangsung secara terintegrasi, cepat, dan berkelanjutan. Saya juga sungguh berharap kelanjutan pembangunan kembali Aceh dan Nias pasca BRR tetap dilaksanakan dengan menegakkan kaidah-kaidah tata pemerintahan yang baik, good governance, dalam arti bersih, transparan, dan akuntabel.
Saudara-saudara,
Dibalik musibah dan semua keberhasilan kita itu, sesungguhnya banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik. Pelajaran berharga dalam mengelola keadaan pasca bencana alam, pelajaran berharga dalam mengelola kerjasama antar bangsa yang dengan kesetiakawanan yang tinggi telah dapat mengatasi musibah, akibat bencana alam yang dahsyat.
Kita sudah mendengar yang disampaikan oleh Dr. Kuntoro Mangkusubroto tadi, di antara banyak lesson to be learned, ada 3 pelajaran yang beliau kedepankan. Saya ingin juga menyampaikan 3 pelajaran yang dapat kita petik. Saya kira masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita temukan dalam upaya kita mengatasi daerah, baik di Aceh dan Nias pasca tsunami dan gempa bumi yang lalu.
Pelajaran pertama, dalam keadaan sulit, kita harus bersatu dan bertindak bersama, in critical times unity. Kita harus dapat menyampingkan kepentingan lain, kecuali bersatu dan bekerja bersama untuk mengatasi keadaan darurat itu.
Perlajaran kedua, dalam keadaan darurat kita harus bertindak cepat, tepat, dan mampu pula menjalankan manajemen krisis, crisis action management.
Pelajaran ketiga, terhadap musibah besar yang menimpa kita, kita harus menyambut baik semua bantuan dari pihak manapun, baik dari dalam maupun dari luar negeri untuk sebuah aksi kemanusiaan. Kita harus membuka diri terhadap bantuan kemanusiaan, humanitarian action to save more lifes. Kita harus menyelamatkan lebih banyak korban yang tertimpa bencana tanpa diskriminasi.
Kalau boleh saya tambahkan 2 pelajaran lagi, yang keempat, dalam pelaksanaan tanggap darurat, kita harus selalu sanggup memberikan pembekalan ulang, logistical resupply yang memadai, antara lain meliputi perawatan dan evakuasi medis, pemberian makanan dan air bersih, dan aksi-aksi tanggap darurat lainnya.
Dan kelima, yang terakhir, yang patut saya kedepankan adalah faktor kepemimpinan, leadership. Kepemimpinan menduduki peran yang sangat penting, baik pada tingkat puncak maupun pada level-level yang lain. Untuk membangkitkan semangat rakyat yang amat menderita oleh musibah bencana, serta untuk memberikan energi dan motivasi kepada semua jajaran Pemerintah yang amat terpukul, diperlukan kepemimpinan yang bisa mengatasi dan mengubah keadaan.
Pemimpin yang bersedia terjun langsung mengatasi krisis, crisis action leadership. Pemimpin yang bisa memberikan arahan dan keputusan yang tepat sesuai dengan situasi objektif di daerah bencana. Kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi kelanjutan dari langkah-langkah tanggap darurat, sebagaimana disampaikan utuh tadi oleh Ketua BRR, maka ada sejumlah nilai pula, sejumlah pelajaran yang bisa kita petik, karena akhirnya keseluruhan penyelesaian masalah Aceh dan Nias pasca bencana ditentukan oleh sukses dalam tindakan tanggap darurat dan sukses dalam rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana itu.
Saudara-saudara,
Berkaca pada kejadian bencana tsunami di Aceh dan gempa bumi di Nias, ke depan Pemerintah tentu akan memberikan perhatian yang lebih besar pada upaya penanggulangan bencana alam di tanah air. Indonesia bahkan telah memiliki Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana alam. Kita juga telah memiliki rencana aksi nasional pengurangan resiko bencana tahun 2006-2009.
Khusus untuk meminimalkan dampak bencana tsunami, Pemerintah Indonesia telah membangun sistem peringatan dini tsunami, tsunami early warning system di berbagai pelosok kepulauan nusantara. Pemerintah juga telah meningkatkan kapasitas tanggap bencana di kalangan masyarakat luas dengan penyelenggaraan berbagai drill dan latihan-latihan.
Pemerintah bersama dengan Pemerintah Daerah telah memfasilitasi berbagai upaya untuk menghadapi bencana, kesiagaan, kewaspadaan, readiness, termasuk drill-drill dan pelatihan yang saya sampaikan tadi, yang digelar secara teratur dengan tujuan, agar semua anggota masyarakat setiap saat siap menghadapi bencana.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Pada kesempatan yang baik ini, saya ingin menyampaikan beberapa pesan kepada seluruh peserta konferensi, baik dari dalam maupun dari luar negeri.
Pertama, belajar dari pengalaman merehabilitasi dan merekonstruksi Aceh dan Nias, marilah kita bangun solidaritas yang makin tinggi, baik pada tingkat nasional maupun internasional. Marilah kita bersama-sama memecahkan berbagai masalah di dunia ini dengan mengedepankan, saya ulangi dengan menyatukan sumber daya yang kita miliki, our resources. Bumi kita makin rentan terhadap bencana, termasuk dampak dari climate change. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa waspada dan memelihara solidaritas kita.
Kedua, mari kita berbagi pengalaman, sharing, dan menjadikan keberhasilan kita dalam bekerja sama merehabilitasi Aceh dan Nias ini sebagai modal bagi kita untuk bersama-sama menyelesaikan masalah global lainnya. Mari kita selamatkan bumi kita dari perubahan iklim, dari climate change dan global warming. Mari kita cari solusi untuk mengatasi konflik di berbagai negara. Mari kita bantu negara-negara yang mengalami kesulitan, mengatasi dampak krisis keuangan global, serta berbagai masalah-masalah lainnya yang dihadapi oleh bangsa-bangsa sedunia. Mari kita kedepankan soft power dan bukannya hard power.
Sebelum mengakhiri sambutan ini, kepada Pimpinan BRR Aceh dan Nias, Saudara Dr. Kuntoro Mangkusubroto beserta seluruh jajarannya, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas prestasinya yang gemilang, atas kerja keras dan jerih payah Saudara-saudara, selama memangku amanat yang berat tapi mulia itu. Saya berharap, Saudara-saudara dapat menuntaskan seluruh pekerjaan yang masih tersisa sampai dengan bulan April 2009 mendatang.
Saya juga ingin, sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada para Duta Besar Negara Sahabat, para pimpinan berbagai organisasi, saya ulangi Pimpinan Organisasi-organisasi Internasional, Pimpinan Organisasi Swadaya Masyarakat dari dalam dan luar negeri, serta semua pihak, termasuk pimpinan dunia usaha atas kontribusinya pada seluruh rangkaian program rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh dan Nias. Berkat kepercayaan dan keyakinan Saudara kepada Pemerintah dan masyarakat Indonesia, maka kita semua dapat mencapai keberhasilan dalam melaksanakn pekerjaan yang mulia ini.
Kepada Gubernur Provinsi Aceh dan Gubernur Provinsi Sumatera Utara, para Walikota dan Bupati, serta seluruh masyarakat Aceh dan Nias pada kesempatan yang baik ini, saya berpesan agar dapat memelihara dan memanfaatkan semua fasilitas infrastruktur, dan fasilitas lainnya yang telah dibangun oleh BRR Aceh dan Nias. Tanggung jawab selanjutnya atas pembangunan di Aceh dan Nias, sebagaimana yang telah saya sampaikan tadi ada di pundak Pemerintah Daerah masing-masing, tentunya dengan dukungan dan supervisi dari Kementerian dan Lembaga terkait.
Pertahankan suasana aman dan damai sekarang ini, khususnya di Aceh dan lanjutkan proses re-integrasi pasca konflik. Bertindaklah secara adil dan tegakkan tata pemerintahan yang baik. Jangan biarkan ada pihak-pihak yang mengganggu proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana, serta mengganggu proses re-integrasi pasca konflik di Aceh. Aceh dan Nias harus semakin maju dan sejahtera dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Demikianlah sambutan saya Saudara-saudara. Akhirnya dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT, serta dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim Konferensi Forum Koordinasi Aceh dan Nias ke-4 dengan resmi saya nyatakan dibuka.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



