Pidato Presiden

Sambutan Peresmian 100 Ribu Unit RSH Ke-3

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN 100.000 UNIT RUMAH SEDERHANA SEHAT (RSH) KE-3
YANG DIBANGUN OLEH ANGGOTA REALESTAT INDONESIA (REI)
SE-INDONESIA
LAMONGAN-SURABAYA, 17 FEBRUARI 2009



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat sore,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Panglima TNI, Kepala Staf TNI Angkatan Laut, para Pimpinan Komisi dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Saudara Gubernur Jawa Timur, Saudara Bupati Lamongan dan para Pimpinan dan Pejabat Negara yang bertugas di Jawa Timur, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif maupun TNI dan POLRI,
Yang saya hormati Saudara Ketua Real Estate Indonesia dengan segenap jajaran, para Pimpinan Badan-badan Usaha Milik Negara, para Pimpinan Dunia Usaha, khususnya para Pengembang,
Yang saya cintai para Ulama dan para Tokoh Masyarakat,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena kepada kita masih diberikan kesempatan, kekuatan, dan semoga kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta. Kita juga bersyukur ke hadirat Allah SWT, karena hari ini dapat bersama-sama menghadiri Peresmian Rumah Sederhana Sehat yang dibangun oleh REI yang genap berjumlah 114.000.

Saudara-saudara,
Saya sudah mempersiapkan sambutan. Sambutan ini tadi pagi saya cek. Sambutannya bagus, antara lain menjelaskan tentang kebijakan Pemerintah untuk membangun perumahan rakyat, diutamakan Rumah Sederhana Sehat, Rumah Susun Sederhana Milik dan Rumah Susun Sederhana Sewa bagi golongan menengah ke bawah.

Kebijakan apa saja yang kita berikan? Bantuan apa saja yang dikeluarkan Pemerintah, termasuk subsidi yang dari tahun ke tahun jumlahnya naik? Subsidi itu kita ambilkan dari APBN, kita berikan kepada rakyat yang memiliki kesulitan untuk menanggung atau membayar keseluruhan dari pembelian atau sewaan rumah itu. Jumlahnya tidak kecil, dari tahun 2004 naik 40 kali, yang Insya Allah tahun ini menjadi 2,5 trilyun. Meskipun belum 1%, sebagaimana diinginkan oleh Pimpinan REI tadi, 2,5 trilyun dari 1.000 trilyun itu cukup besar. Mengapa? 1.000 trilyun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara juga kita alokasikan untuk banyak hal, pendidikan, kesehatan, perumahan, usaha kecil, perikanan, kehutanan, semua memerlukan biaya. Oleh karena itu, agar adil kita tata, manakala nanti pendapatan negara makin tinggi, perekonomian kita tumbuh makin baik, maka subsidi yang kita berikan juga makin meningkat. Karena semuanya harus adil, semua penting di mata rakyat, semua penting dalam peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Demikian juga dalam sambutan ini, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada REI. REI ini kalau mau cari untung yang besar, lebih baik membangun rumah-rumah yang dibeli oleh golongan atas. Tetapi REI juga mau berkorban, membangun rumah yang keuntungannya sedikit demi golongan masyarakat menengah ke bawah. Oleh karena itu, saya minta Pemerintah, baik pusat maupun daerah juga memiliki komitmen dan kesungguhan untuk terus membangun perumahan rakyat, utamanya untuk golongan menengah ke bawah.

Banyak Bupati dan Walikota yang bagus. Saya acungi jempol. Banyak gubernur-gubernur yang bisa menjadi contoh dalam upaya memfasilitasi, memberikan kemudahan, membantu, agar pembangunan perumahan rakyat terus berjalan dengan baik di daerahnya masing-masing berupa infrastruktur, berupa kemudahan perijinan dan bantuan-bantuan lain. Namun masih ada sejumlah pimpinan daerah yang sepertinya biasa-biasa saja, padahal saya sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah yang saya tanda tangani, PP Nomor 38 Tahun 2007. Wajib hukumnya bagi Pemerintah Daerah untuk juga melakukan pembangunan perumahan rakyat, terutama untuk golongan menengah ke bawah.

Melalui forum ini, melalui mimbar ini, saya meminta kepada para Pimpinan Daerah, Bupati, Walikota di seluruh Indonesia lakukanlah percepatan dan peningkatan di dalam pembangunan perumahan rakyat ini bersama-sama dengan REI dan instansi-instansi lain yang juga memiliki kewajiban untuk terus melakukan pembangunan perumahan.

Banyak yang saya sampaikan di sini. Namun demikian, karena saya mencatat semua tadi yang disampaikan oleh Pimpinan REI, oleh Gubernur Jawa Timur, oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat, pada kesempatan yang baik ini, lebih baik saya merespon. Dengan demikian, Saudara mengetahui kebijakan Pemerintah seperti apa, kemampuan Pemerintah saat ini juga seperti apa, dan apa yang dapat kita lakukan di waktu yang akan datang.

Saya tidak suka berjanji, bahwa semua itu akan langsung didukung oleh Pemerintah, tetapi saya catat karena semua yang disampaikan itu baik dan penting, sehingga dengan sistem yang berjalan di jajaran pemerintahan, saya bisa mengambil keputusan, saya bisa menetapkan kebijakan yang bisa kita jalankan.

Ada yang memang segera bisa kita wujudkan tahun ini, tahun depan misalnya. Ada yang memerlukan waktu untuk melaksanakannya, dan harus kita cocokan dengan undang-undang yang lain, misalnya tadi tentang kepemilikan rumah bagi orang asing, hal-hal yang berkaitan dengan hukum agraria, kita rapikan dulu. Dengan demikian, pada saat kita keluarkan, maka ekonomi akan tumbuh, usaha perumahan juga meningkat, tapi tidak ada komplikasi dengan masalah-masalah yang lain. Itu contoh isu yang mesti kita rapikan dulu. Namun juga, ada yang memang di luar kemampuan kita untuk melaksanakannya, apalagi ketika dunia sedang mengalami krisis perekonomian dewasa ini.

Saudara-saudara,
Saya ingin merespon langsung apa yang tadi disampaikan oleh beliau-beliau. Tapi saya mulai dari tuan rumahlah, dari yang disampaikan Pak Karwo tadi. Biasanya Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih setelah dilantik oleh Mendagri, saya tunggu di Jakarta. Di situ saya berikan directions, saya berikan petunjuk, saya berikan arahan bagaimana mengemban tugas dengan baik, sekaligus saya akan mendapatkan laporan kondisi dan situasi provinsinya masing-masing. Kalau Jawa Timur, ya Jawa Timur. Namun karena hari ini sudah ketemu, lebih baik saya sampaikan sekarang saja.

Sama dengan yang lain Pak Karwo, Pak Saifullah Yusuf, atas nama negara dan Pemerintah, saya mengucapkan selamat atas terpilihnya Saudara menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur. Pertanggungjawabkan kehormatan, kepercayaan, dan amanah yang diberikan oleh rakyat Jawa Timur dengan cara bekerja sebaik-baiknya. Wajib bagi Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk mengayomi, memajukan kesejahteraan seluruh masyarakat Jawa Timur, termasuk barangkali yang kemarin tidak memilih Pak Karwo dan Pak Saifullah Yusuf. Begitu etika dan moralitas demokrasi. Sebaliknya rakyat Jawa Timur, termasuk yang di Lamongan wajib hukumnya mendukung dan menyukseskan Gubernur dan Wakil Gubernur, agar berhasil. Karena kalau beliau berdua berhasil, masyarakat Jawa Timur yang akan diuntungkan. Ini adalah sekali lagi, etika dalam kegiatan demokrasi. Dengan demikian, kehidupan akan baik, mengalir dengan baik, dan masyarakat Jawa Timur akan lebih bersatu lagi, lebih kompak, lebih giat untuk membangun daerahnya menuju masa depan yang lebih baik.

Yang kedua, ekonomi Jawa Timur memang termasuk andalan ekonomi Indonesia. Boleh tepuk tangan. Sebagaimana Lamongan juga salah satu ekonomi andalan di Jawa Timur. Kalau pertumbuhan perekonomian Jawa Timur agak turun sedikit, tidak perlu cemas, karena dunia sedang sakit. Sakitnya dunia namanya resesi perekonomian global. Banyak negara-negara jatuh dalam resesi ini, termasuk negara-negara yang maju. Pertumbuhannya bahkan ada yang minus. Tetangga kita Singapura tadinya tumbuh 7%, tahun lalu turun hanya menjadi 2% mungkin tahun ini akan minus. Banyak yang lebih buruk dibandingkan negara-negara yang bisa relatif bertahan.

Indonesia, dengan bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih kepada semua, meskipun kita juga kena dampak, kita juga terpukul, tetapi kita masih bisa mempertahankan pada tingkat tertentu. Tahun 2007 pertumbuhan kita 6,3%. Tahun 2008 yang lain jatuh, kita menurun memang menjadi 6,1%, turun 0,2. Mudah-mudahan tahun ini kita masih bisa mengelola, sehingga kalau terjadi penurunan perekonomian sedunia, semua bangsa-bangsa di dunia penurunannya untuk negara kita tidak terlalu tajam. Jangan kecil hati kalau tahun ini barangkali pertumbuhan Jawa Timur pun ikut turun. Yang penting, lakukan semua yang bisa dilakukan, agar kebutuhan sehari-hari masyarakat masih bisa dijangkau.

Saya setuju persoalan di sekitar Sidoarjo harus segera kita rampungkan. Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Pusat, pihak Lapindo, semuanya, karena kalau itu selesai, maka akan lebih meningkat lagi pertumbuhan di Jawa Timur, dan juga infrastruktur yang lain bukan hanya Sidoarjo. Jembatan Suramadu Insya Allah tahun ini bisa kita resmikan, beberapa pembangkit listrik yang ada di Jawa Timur bisa kita resmikan, demikian ruas-ruas jalan yang semuanya itu bisa menggerakan roda perekonomian di Jawa Timur.

Menyangkut pertanian, Saudara-saudara, Kita bersyukur kembali kepada Yang Maha Kuasa, ketika dunia mengalami krisis pangan, kita berswasembada beras tahun lalu. Insya Allah, kita bisa bertahan tahun ini. Mudah-mudahan tidak ada bencana yang luar biasa, dengan doa kita pada Allah, sehingga kita betul-betul bisa berswasembada dan bahkan surplus. Untuk memelihara itu, maka benar bahwa infrastruktur pertanian, irigasi, bendungan, benih, pupuk, semuanya kita kelola dengan sebaik-baiknya.

Saya baru saja memimpin Sidang Kabinet untuk memastikan pangan kita cukup, pupuk kita meningkat, benih kita meningkat, dan subsidinya itu juga belasan trilyun, tidak sedikit. Kita ingin sepanjang Bengawan Solo, itu kita tata dengan konstruksi menahan banjir, sekaligus untuk membangun tempat-tempat yang bisa mengairi sawah yang lebih luas lagi.

Saya berkata kepada Pak Bupati, tadi Pak Maskub, bahwa kemungkinan ada perlambatan 1, 2 tahun dari rencana nasional untuk membangun infrastruktur sepanjang Bengawan Solo, karena memang resesi dunia. Tetapi rencana itu masih tetap akan kita jalankan, dan saya minta Bapak Bupati nanti dengan Pak Gubernur, tolong bertemu dengan Menteri Pekerjaan Umum, tolong disampaikan apa namanya Bendungan Kuro tadi ya. Dan silakan bicarakan dengan baik, nanti kalau sudah dibicarakan laporkan kepada saya bagaimana cara membangunnya kapan, dengan biaya seperti apa. Yang paling baik biayanya itu, biaya Pemerintah Pusat, biaya Pemerintah Provinsi, biaya Pemerintah Daerah disatukan, dengan demikian lebih cepat pelaksanaannya.

Saudara-saudara,
Lamongan saya juga memiliki kesan, yang tadinya seperti Pacitan telah dianggap daerah yang terbelakang begitu, tapi kemajuannya pesat dari segi penurunan kemiskinan, dari segi kecukupan atau surplus beras, dari segi pariwisata dan usaha-usaha lain, tolong pertahankan. Saya ingin Jawa Timur, Kabupaten dan Kota di daerah yang dinamis ini, betul-betul menjadi contoh bagi pengembangan, bagi pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.

Ekspor, Bapak katakan ekspornya menurun. Memang turun semua. Ini negara-negara yang ekonominya digantungkan pada ekspor pada gulung tikar, karena ya pasar di Eropa, di Amerika itu lesu, yang beli tidak ada atau sedikit sekali, akhirnya pada parkir. Alhamdulillah, ekonomi kita tidak sangat tergantung pada ekspor. Ekonomi kita banyak yang menggunakan pasar dalam negeri. Inilah yang harus kita hidupkan, seperti kalau REI terus membangun rumah, maka usaha hilir akan tumbuh, downstream business, usaha semen, usaha paku, usaha reng, usaha pasir dan sebagainya. Contohnya seperti ini. Mari kita hidupkan perekonomian dalam negeri, meskipun dunia sedang flu, sedang sakit, sedang resesi tidak perlu terlalu takut menghadapinya.

Saudara-saudara,
Itu Jawa Timur, itu Lamongan dan saya ingin mendengar kabar yang baik di masa depan. Gubernur, ulangi, Jawa Timur pasca Pilkada ini akan bangkit kembali kemudian membangun kembali daerahnya untuk lebih maju lagi.

Sekarang akan saya respon yang disampaikan oleh Pimpinan REI tadi. Saya pikir memang tabungan wajib perumahan bagi PNS dan bagi TNI dan POLRI harus sudah naik. Mengapa? PNS golongan I tahun 2004, gajinya hanya sekitar hampir 700.000,-. Sekarang orang yang sama, gajinya 1,7 juta, sudah hampir naik, hampir tiga kali lipat. Mestinya tabungan wajib untuk Bapertarum harus juga sudah naik. Dengan demikian, maka uang muka akan lebih besar. Dengan demikian,
kemungkinan untuk mendapatkan rumah lebih nyata lagi.

Panglima TNI, Kapolri, saya persilakan nanti untuk melihat kembali berapa tabungan wajib untuk TWB, baik Tamtama, Bintara maupun Perwira, karena gajinya naik, logikanya mesti naik. Saya setuju, namun besarannya saya serahkan kepada Menteri teknis, kepada Panglima TNI, Kapolri untuk dirumuskan dengan baik.

Tentang usulan apakah kita perlu ada bank tabungan semacam bank tabungan perumahan, tolong dikaji. Kalau memang BTN bisa kita perluas fungsinya bagus. Seperti BRI, itu juga bisa memberikan kredit mikro untuk pertanian. Di luar negeri ada Bank of Agriculture, tapi apakah kita perlu atau tidak, ternyata bisa kita titipkan pada BRI misalnya. Yang penting bukan institusinya, tapi bagaimana management, financing ini bisa dilaksanakan dengan baik. Silakan dibicarakan nanti laporkan kepada saya mana yang akan kita pilih.

Subsidi perumahan sudah saya sampaikan tadi, doakan, dan mari kita bekerja keras, agar ekonomi terus naik, pendapatan negara naik, korupsi diberantas, usir ke laut sana korupsinya, supaya uang itu bisa untuk macam-macam, pendidikan, kesehatan, menolong yang miskin, mengangkat yang menganggur dan sebagainya. Jadi syaratnya kerja keras, inovatif, jangan terlalu banyak bicara, yang penting kerja kita, sambil melawan penyimpangan dan memberantas korupsi.

Listrik. Saudara-saudara, Saya sudah berapa kali menyampaikan masalah listrik ini, berkali-kali. Karena krisis 10, 11 tahun yang lalu, kita tidak terlalu banyak membangun pembangkit tenaga listrik. Padahal sebelum krisis jumlahnya juga sedikit. Awal saya menjalankan amanah sebagai Presiden, baru 25.000 Megawatt. Jaman dulu cukup, jaman sekarang sangat tidak cukup, kurang. Itulah kita lakukan 3 tahun ini pembangunan 10.000 Megawatt listrik. Tahun ini sudah mulai menyala. Tahun depannya lagi, tahun depannya lagi. Tapi itupun belum cukup. Kita sekarang tambah lagi, mulai tahun ini tender untuk membangun 10.000 Megawatt. Kalau 20.000 Megawatt tambahan sudah mulai kita resmikan, sudah mengalir kemana-mana, harapan kita mendekati cukup, dan kemudian kita tambah lagi, kita tambah lagi.

Oleh karena itu, yang penting perencanaan Pak Menteri Perumahan Rakyat, perencanaan REI, perencanaan Gubernur, Bupati dan Walikota, satukan pula dengan perencanaan peningkatan listrik, satukan pula dengan perencanaan pembangunan infrastruktur. Semua sinergi, semua apa namanya, integratif, dengan demikian tidak ada yang missed ini, rumahnya ada, listriknya tidak ada, listriknya ada, jalannya tidak ada. Susah. Jadi betul-betul harus terpadu satu sama lain.

Lantas masalah apakah orang asing bisa membeli properti, bisa membeli tanah, scheme-nya berapa, 75 tahun per marel atau 25 tahun diperbaharui. Saya sudah mengeluarkan instruksi kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional, Menteri Dalam Negeri dan Menteri terkait, tolong, lanjutkan. Dengan demikian, segera kita bisa putuskan mana yang lebih baik. Bagi saya policy itu yang penting menguntungkan negara, menguntungkan rakyat, baik bagi Pemerintah. Kalau itu ya, kita pilih. Tapi policy apapun indahnya di negara lain bagus, tapi kalau tidak cocok dengan negara kita, ya jangan buru-buru kita pilih policy itu. Untuk seperti pemilikan di apartemen, tempat-tempat bisnis, menurut saya sangat mungkin kita arahkan ke situ, dengan catatan sinkronisasikan dulu dengan kebijakan-kebijakan yang lain.

Saudara-saudara,
Yang terakhir, kepada para penghuni, saya berharap selamat menghuni rumah itu dan peliharalah baik-baik. Jangan kecil hati. Saya dulu pernah menempati rumah seperti tipe 36. Betul, anak saya yang pertama, yang sekarang menjadi Kapten, itu lahir di sebuah rumah yang luasnya mungkin tidak sampai 36. Saya pindah, anak saya kedua lahir pada tipe 45. Setelah saya jadi Kapten Senior, Menteri Perumahannya, Pak Cosmas Batubara, waktu itu, saya mencicil tipe 70, 10 tahun baru lunas. Jadi saya merasakan juga tinggal di rumah seperti itu. Rumah itu kalau hati kita sejuk, hati kita indah, rumah tangga kita bahagia, juga bahagia. Meskipun rumahnya tingkat 6, mobilnya 12, pesawatnya 4, kapalnya 3, tabungannya 1 trilyun, tapi kalau berantem terus enggak akan bahagia. Bikin yang indah. Senang saya akan dibikin tumbuh-tumbuhan yang bagus seperti itu, senang saya. Oleh karena itu, selamat, bangun rumah tangga yang bahagia, dengan demikian bersyukur, makin bersyukur, maka Allah SWT akan memberikan rezeki dan anugerah yang lebih besar lagi.

Itulah pesan dan harapan saya. Sekali lagi, terima kasih REI, terima kasih dunia usaha, terima kasih Kementerian Negara Perumahan Rakyat, terima kasih Jawa Timur, terima kasih Lamongan dan semuanya, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu membimbing perjalanan kita membangun hari esok yang labih baik.

Dengan pesan dan harapan itu, dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT dan dengan mengucapkan "Bismillahirrahmanirrahim", Pembangunan Rumah Sederhana Sehat yang ke-114.000 oleh REI di seluruh Indonesia dengan resmi saya nyatakan penggunaannya.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan