Pidato Presiden
Sambutan Peresmian Monumen Trikora dan Dwikora
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN MONUMEN TRIKORA DAN DWIKORA
MABES TNI - CILANGKAP, 26 FEBRUARI 2009
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Ibu Mufidah Jusuf Kalla,
Yang saya hormati para Menteri dan Anggota Kabinet Indonesia Bersatu, Panglima TNI dan para Kepala Staf Angkatan, Kapolri, Saudara Pimpinan Komisi dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, para Gubernur, Kepala Daerah,
Yang saya cintai dan saya muliakan para Sesepuh, para Senior TNI, Saudara-saudara, terutama yang sama-sama kita cintai para Veteran, Pejuang, para Pelaku Sejarah Operasi Trikora dan Operasi Dwikora, para Perwira, Bintara dan Tamtama TNI,
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini, marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas perkenan rahmat dan ridho-Nya, kita semua dapat bersama-sama menghadiri Peresmian Monumen Trikora dan Dwikora pada hari ini.
Di pelataran Mabes TNI Cilangkap, kini memiliki tiga monumen sejarah yang sangat penting. Dua diantaranya akan segera kita resmikan beberapa saat lagi. Monumen yang kita bangun, baik yang sudah kita bangun sebelumnya, maupun dua monumen terakhir hari ini adalah untuk mengenang dan menghormati para pahlawan kusuma bangsa.
Monumen ini juga kita bangun sebagai pengabadian nama-nama prajurit yang gugur di medan laga. Yang para hadirin akan bisa melihat setelah kedua monumen ini kita resmikan. Mereka yang mengorbankan jiwa dan raganya dalam operasi militer besar, Operasi Trikora dan Operasi Dwikora.
Di monumen inilah kita semua, segenap Keluarga Besar TNI, termasuk para keluarga pahlawan yang gugur ketika operasi tersebut, Operasi Trikora, Operasi Dwikora dan Operasi Seroja dapat secara hening mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan itu, seraya bertekad dan berikrar untuk meneruskan perjuangan mereka kepada nusa dan bangsa. Demikianlah karakter yang terus kita bangun untuk menjadi bangsa yang besar, yaitu bangsa yang menghormati pahlawan-pahlawannya.
Atas nama negara dan Pemerintah, pada kesempatan yang penting ini, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Panglima TNI dan segenap jajaran yang telah memiliki prakarsa dan membangun kedua monumen penting ini, Monumen Trikora dan Dwikora.
Hadirin yang saya muliakan,
Marilah kita sejenak melakukan kilas balik untuk mengingat kembali jalannya sejarah dan heroisme para prajurit TNI di medan lagi Trikora dan Dwikora. Pertama, marilah kita kenang kembali Operasi Trikora. Operasi Trikora kita kenal sebagai operasi pembebasan Irian Barat. Kita bertempur melawan penjajah Belanda. Dan dalam sejarah militer Indonesia, Operasi Trikora dirancang, dipersiapkan, dan sebagian telah dilakukan sebagai operasi amfibi terbesar.
Dengan gelar kekuatan yang besar waktu itu, ditambah dengan semangat, keberanian dan operasi-operasi khusus yang dilancarkan Indonesia, memaksa Belanda kembali ke meja perundingan. Perundingan dan diplomasi yang dilaksanakan di New York, yang akhirnya membuka jalan kembalinya Irian Barat ke pangkuan Republik Indonesia.
Dalam Operasi Trikora ini, kita mengenang telah terjadi peristiwa yang heroik yaitu pertempuran Laut Aru, yang ditandai gugurnya Komodor Yos Sudarso, yang memimpin pertempuran dari KRI Macan Tutul. Operasi ini dipimpin oleh Mayor Jenderal TNI Soeharto, waktu itu sebagai Panglima Mandala.
Hadirin sekalian,
Operasi Dwikora yang dilancarkan oleh Tentara Nasional Indonesia dan waktu itu ada elemen juga dari Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah merupakan bagian dari konfrontasi Indonesia–Malaysia. Indonesia menilai, bahwa pembentukan Federasi Malaysia waktu itu mengancam keamanan Indonesia, karena akan terjadi dominasi kekuatan yang tidak sejalan dengan kepentingan nasional Indonesia.
Sama dengan jalannya Operasi Trikora, operasi ini juga ditandai dengan pertempuran-pertempuran di perbatasan dan berbagai infiltrasi militer sebagai bentuk operasi khusus di wilayah Malaysia. Disamping menghadapi Federasi Malaysia, kita masih ingat, bahwa tentara Indonesia juga bertempur melawan tentara Inggris, tentara Australia dan tentara Selandia Baru yang berpihak pada Federasi Malaysia.
Konfrontasi berakhir di meja perundingan, di Bangkok seiring dengan perubahan politik di negeri kita. Kita mengenang gugurnya dua prajurit terbaik dari marinir kita, Sersan KKO Ustman dan Kopral KKO Harun. Dan akhirnya, perlu kita ingat kembali bahwa operasi Dwikora ini dipimpin oleh Laksamana Madya Oemar Dhani sebagai Panglima Komando Mandala Siaga. Itulah kilas balik apa yang dilaksanakan oleh Indonesia, oleh tentara kita dalam dua operasi besar bersejarah itu, yaitu Operasi Trikora dan Operasi Dwikora.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah kita berangkat dari pengalaman yang dilaksanakan oleh bangsa dan negara kita, serta operasi militer yang dijalankan oleh Tentara Nasional Indonesia waktu itu, kita melihat ke depan, berangkat dari refleksi kesejarahan dan bagaimana kita melanjutkan tugas negara, mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dua hal yang perlu kita ingat, pertama, Tentara Nasional Indonesia, prajurit-prajurit kita, bertempur dalam medan laga dimana pun adalah untuk menjalankan tugas negara. Apapun sebab dan latar belakang politik dilaksanakannya operasi militer itu. Hal yang kedua adalah perang, memang sangat dipengaruhi oleh keadaan dalam negeri suatu bangsa dan juga keadaan internasional pada saat yang bersangkutan, termasuk aspek-aspek geopolitik. Kita sering mendengar, bahwa perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain, war is a continuation of politic by other means.
Dari 2 hal penting itu, refleksi kesejarahan yang dapat kita lakukan berangkat dari konteks, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, dari ketiga operasi itu, yaitu Operasi Trikora, Operasi Dwikora dan Operasi Seroja adalah, pertama, ketiga operasi militer itu terjadi dan khusus untuk Operasi Tim-Tim sampai dengan 1991, sesungguhnya berada dalam situasi era perang dingin. Posisi negara lain, baik yang pro maupun kontra terhadap Indonesia, waktu itu sangat dipengaruhi oleh suasana perang dingin, termasuk kepentingan atau interest yang dimiliki oleh masing-masing negara.
Khusus masalah Timor Timur, Operasi Seroja terjadi dalam hubungan interaksi kepentingan era perang dingin. Setelah tahun 1991, setelah perang dingin berakhir, kita juga merasakan bahwa permasalahan berikutnya lagi diletakan dalam nuansa pasca perang dingin menandai dengan berlangsungnya era demokratisasi di seluruh dunia.
Konteks yang kedua adalah ketiga operasi militer itu, Trikora, Dwikora dan Seroja pada hakekatnya berada dalam semangat dan proses dekolonialisasi yang terjadi di seluruh dunia, demikian juga yang terjadi di Asia Tenggara dan di negara kita. Dalam konteks ini, variabel, semangat dan gerakan anti kolonialisme, kita merasakan waktu itu berpadu dengan anatomi konflik di era perang dingin. Akibatnya sejarah telah mencatat, posisi-posisi negara lain, negara-negara yang sama bisa berbeda-beda terhadap apa yang dilakukan Indonesia, baik pada saat kita melaksanakan Operasi Trikora, Operasi Dwikora maupun Operasi Seroja. Itu adalah kenyataan sejarah, sejarah dalam konteks.
Konteks yang ketiga adalah kalau kita ingin memetik pelajaran dan melihat ke depan, kita mesti melihat juga dari perspektif geopolitik yang tentu mewarnai bagaimana bangsa-bangsa melihat sebuah kawasan. Sejarah mencatat, bahwa negara-negara di dunia, khususnya negara-negara di Asia Pasifik mereka juga tidak luput dari pengamatan geopolitik terhadap konflik yang terjadi antara Indonesia dengan Malaysia pada saat kita membebaskan Irian Barat. Dan yang terakhir pada saat kita melaksanakan Operasi Seroja di Timor Timur.
Saudara-saudara,
Ke depan situasi dunia, termasuk kawasan dimana kita berada akan terus berubah dan berkembang. Oleh karena itu, mengambil pelajaran di waktu yang lalu, kita perlu terus melakukan pencermatan dan pembuatan perkiraan strategis secara terus-menerus. Kepentingan dan tugas negara tidak akan pernah berubah, tugas pokok TNI juga tidak akan pernah berubah, yaitu menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, apapun perkembangan yang terjadi pada tingkat dunia maupun tingkat kawasan.
Geopolitik Asia Tenggara memang telah berubah. Dewasa ini, kita memiliki komunitas ASEAN dengan piagam yang baru, yang di dalamnya kita sepakat untuk membangun yang disebut dengan ASEAN political security community, masyarakat bersama untuk memelihara keamanan di Asia Tenggara. Demikian juga kita melihat perubahan geopolitik di kawasan Pasifik Barat Daya. Namun perlu kita ingat, bahwa selalu terjadi perubahan dan perkembangan pada tingkat dunia kita.
Hal lain yang meski dicermati adalah hubungan antar bangsa pasca peristiwa 11 September 2001 di New York, Amerika Serikat juga melahirkan varian-varian baru dalam hubungan internasional dibandingkan dengan hakekat, dinamika dan anatomi hubungan antar bangsa era pasca perang dingin.
Ke depan Saudara-saudara, dalam kaitan ini, Indonesia mesti menjalankan 2 hal penting. Pertama, kita harus menjalankan diplomasi yang tepat, guna melindungi kepentingan nasional kita. Meskipun perang adalah jalan terakhir, jika tidak ada cara lain, dan Indonesia akan lebih menggunakan solusi damai atau soft power. Tetapi yang kedua, kita harus tetap membangun dan memelihara kekuatan pertahanan yang tangguh. Kalau kita ingin damai, kita harus siap berperang, manakala ada kekuatan lain yang mengancam kedaulatan dan keutuhan wilayah kita, if we want peace, prepare for war.
Itulah refleksi yang dapat kita lakukan. Itulah pesan, harapan dan ajakan saya untuk melihat ke depan, memahami konstelasi dan perkembangan dunia, memahami transformasi yang sedang kita laksanakan di negeri tercinta ini, untuk membangun masa depan yang lebih baik dan tetap menjaga, mempertahankan dan memelihara kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan itu semua, hadirin yang saya hormati, dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT dan dengan mengucapkan Bismilahirrahmanirrahim, Monumen Trikora dan Dwikora saya resmikan penggunaannya.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



