Pidato Presiden
Sambutan Acara Dzikir Bersama Menjelang Pemilu 2009
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
DZIKIR BERSAMA MENJELANG PEMILU TAHUN 2009
PURI CIKEAS, 8 APRIL 2009
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Hadirin-hadirat yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas perkenan rahmat ridho-Nya, kita semua masih diberi nikmat kesempatan, nikmat kekuatan, dan insya Allah nikmat kesehatan untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta.
Shalawat dan salam marilah sama-sama kita haturkan pada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikut-pengikut Rasulullah, insya Allah termasuk kita semua sampai akhir zaman. Atas nama sahibul bait, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas kehadiran Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian untuk memenuhi undangan saya pada malam hari ini, untuk berdoa dan berdzikir bersama, untuk kebaikan bangsa dan negara kita, utamanya dalam melaksanakan Pemilihan Umum tahun 2009 ini.
Meskipun di Pendopo Cikeas ini sudah kurang lebih satu bulan yang lalu, dilaksanakan acara dzikir dan doa, dan juga khataman Al-Qur’an pada hari-hari tertentu. Tetapi malam hari ini, saya mohonkan keikhlasan Saudara semua untuk berdzikir dan berdoa, khusus menghadapi perhelatan demokrasi, yang insya Allah besok akan memamsuki tahap yang menentukan yaitu pemungutan suara, Pemilihan Umum Legislatif yang akan dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan penting lainnya sampai saatnya nanti menuju ke Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, dan akhirnya diakhiri dengan perangkat penyelengaraan negara baru pilihan rakyat, hasil dari Pemilihan Umum tahun 2009 ini.
Sebelum saya mohonkan nanti, kita bersama-sama berdoa dan berdzikir, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang merupakan gambaran keadaan, proyeksi apa yang akan terjadi di hari-hari mendatang, tantangan yang kita hadapi bersama, dengan demikian harapan saya doa dan dzikir kita menjadi khusuk. Kalau kita sungguh memahami apa yang kita mohonkan kepada Allah SWT untuk dikabulkan, saya yakin doa kita akan khusuk, khusuknya suatu doa insya Allah Allah akan mengabulkan. Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan secara umum dan secara singkat gambaran keadaan tanah air kita, negeri kita mulai hari ke depan, khususnya berkenaan dengan Pemilihan Umum tahun 2009.
Saudara-saudara,
Tadi pagi saya berkomunikasi dengan seluruh Gubernur di seluruh tanah air didampingi oleh Kapolda, Pangdam, Kajati, KPUD, Panwaslu daerah dan semua, yang oleh Undang-Undang diamanahkan untuk menyelenggarakan Pemilihan Umum tahun 2009 ini. Saya didampingi oleh Wakil Presiden, para Menteri Anggota Kabinet Indonesia Bersatu yang juga mengemban amanah untuk menyukseskan Pemilu 2009 ini. Satu hal yang patut kita syukuri, adalah seluruh daerah yang tadi disampaikan oleh para Gubernur pada hakekatnya siap untuk melaksanakan pemungutan suara Pemilu Legislatif esok hari.
Meskipun tantangan dan persoalan yang dihadapi oleh Provinsi-provinsi tertentu tidak ringan, seperti Provinsi Papua misalnya, keadaan medan dan cuaca sangat memberikan tantangan dalam pendistribusian kotak suara dan surat suara. Untuk diketahui, logistik itu harus diangkut melalui helikopter dari satu tempat ke tempat yang lain. Helikopter sangat tergantung kepada keadaan cuaca. Bagi yang sering berkunjung ke Papua, perubahan cuaca berlangsung sangat cepat, dan dengan demikian pendistribusian logistik di Papua tidak semudah yang dilakukan di Provinsi-provinsi yang lain. Namun demikian, alhamdulillah di Papua pun, tadi pagi Gubernur Barnabas Suebu melaporkan kepada saya, bahwa hingga tadi pagi lebih dari 92% logistik itu sudah digelar dan sudah didistribusikan. Harapannya, hari ini semua sudah berada di TPS-TPS.
Demikian juga persoalan-persoalan teknis yang selalu terjadi dari satu Pemilu ke Pemilu yang lain, itu selalu ada. Tetapi yang melegakan dengan upaya yang sungguh-sungguh, kerja cepat dan kerja tepat dari seluruh penyelenggara Pemilu ini, apa yang dilaporkan kepada saya semuanya sudah dalam keadaan siap.
Sebelumnya saya menerima presentasi, laporan kesiapan dari jajaran polhukam, utamanya Kepolisian Negara Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia dan Badan Intelijen Negara, termasuk Departemen Dalam Negeri yang juga telah menyampaikan semua telah siap mengemban tugas. Bahkan mulai hari ini sudah digelar satuan-satuan pengamanan di seluruh Indonesia termasuk tempat-tempat yang diduga memiliki kerawanan tertentu untuk mulai hari ini melaksanakan tugas- tugas pengamanan pemilu.
Sebelumnya, kemarin saya juga menerima laporan dari Pimpinan KPU Pusat yang dihadiri pula oleh Bawaslu, yang juga dihadiri oleh Pimpinan DPR RI, Pimpinan Mahkamah Agung, Mahkamah Konstitusi dan jajaran Pemerintah yang dapat pula kita simpulkan, jajaran KPU, jajaran Bawaslu juga sudah siap untuk mengemban tugas negara menyelenggarakan Pemilu tahun 2009 itu.
Saudara-saudara,
Dua hari berturut-turut ini saya katakan bahwa bangsa kita sedang mengukir sejarah baru. Kita tengah membangun satu tatanan dan kehidupan demokrasi yang makin matang, tidak serta kebetulan kalau tahun-tahun terakhir ini, dunia memberikan apresiasi dan rekognisi, bahwa perkembangan demokrasi negeri kita berada dalam arah yang benar, dengan capaian yang nyata. Demikian pula reformasi, transisi untuk membangun tata pemerintahan yang baik, termasuk rekonstruksi ekonomi pasca krisis kitapun mendapatkan rekognisi dan penghargaan dari dunia dan negara-negara sahabat. Ini tidak perlu membuat kita menjadi takabur, tetapi kita bersyukur ke hadirat Allah SWT, karena semua ini terjadi atas rahmat dan ridho-Nya. Justru ketika kita mencapai capaian-capaian awal kepada kita diberikan amanah untuk melanjutkan capaian-capaian itu, sehingga mencapai capaian-capaian yang lebih besar.
Demikianlah hakekat kita menjalankan perubahan. Siapa pun nanti yang terpilih dalam Pemilihan Umum 2009 ini sebagai Presiden dan Wakil Presiden, partai-partai politik mana pun nanti yang akan mendapatkan mandat yang lebih besar dari rakyat, sehingga mereka akan berperan lebih besar lagi, baik di Lembaga Eksekutif maupun Legislatif, kita serahkan kepada sejarah, kita serahkan pada kebesaran Allah SWT. Tapi mereka semua memiliki tugas sejarah pula untuk terus mengembangkan kehidupan demokrasi di negeri ini ke arah yang lebih baik.
Saudara-saudara,
Menjadi tekad kita semua, termasuk yang hadir di pendopo ini, untuk membuat Pemilihan Umum tahun 2009 ini benar-benar menjadi Pemilihan Umum yang berkualitas. Untuk menghantarkan perjalanan demokrasi kita ke titik yang saya sebut dengan maturitas, kematangan, yang dalam istilah tertentu kita sebut demokrasi kita berada dalam titik atau point of no return. Kita syukuri, tapi di hadapan kita terbentang tantangan yang tidak ringan untuk kita jawab secara bersama, bahwa bangsa Indonesia mampu membangun hari esok yang lebih baik, mampu menghadirkan kehidupan demokrasi yang lebih baik, dan mampu pula menyelenggarakan rangkaian Pemilu tahun 2009 ini dengan baik pula.
Ada tiga sasaran yang hendak kita capai dalam rangkaian Pemilu tahun 2009 ini. Pertama, kita ingin Pemilu kita ini diselenggarakan dengan baik. KPU dengan jajarananya, Bawaslu dengan jajarannya berada di depan, karena ini wilayah administrasi dan manajemen dari Pemilu ini, meskipun Pemerintah memberikan bantuan penuh sesuai dengan amanah Undang-Undang.
Sasaran yang kedua, kita ingin Pemilu ini benar-benar berjalan secara jujur, adil, dan demokratis. Domain ini adalah domain politik yang kita semua bertanggung jawab, yang kita semua mengemban kewajiban untuk menyukseskannya, termasuk peserta Pemilu, partai-partai politik, calon-calon anggota DPD, tokoh-tokoh dan pimpinan parpol, dan semuanya untuk meyakinkan bahwa benar-benar Pemilihan Umum tahun 2009 ini sekali lagi, berlangsung secara jujur, adil dan demokratis.
Sedangkan sasaran yang ketiga, sebagaimana Saudara ketahui kita ingin pelaksanaan Pemilu ini benar-benar berjalan dengan aman, tertib dan lancar. Ini domain keamanan, wilayah keamanan. POLRI dibantu TNI, Lembaga Intelijen, Pemerintah Daerah, semua berkewajiban untuk memastikan, bahwa Pemilu yang kita selenggarakan itu betu-betul sekali lagi, berjalan secara aman, tertib, dan lancar.
Kita bersyukur bahwa sejak delapan bulan yang lalu, ketika kampanye terbatas, kampanye tertutup Pemilu Legislatif dijalankan, berlanjut dengan tiga minggu berselang, ketika kampanye terbuka dalam bentuk rapat-rapat umum dilangsungkan di seluruh tanah air semuanya berjalan dengan baik, aman, tertib dan lancar. Bertambah rasa syukur kita ke hadirat Allah SWT, bertambah terima kasih dan penghargaan saya kepada semua pihak, termasuk para pimpinan daerah yang benar-benar bisa mengawal bersama-sama jalannya kampanye Pemilu Legislatif ini.
Harapan kita adalah agar kelanjutan dari peran dan kegiatan Pemilu berikutnya lagi, besok pemungutan suara, dilanjutkan penghitungan suara, dilanjutkan dengan pengumuman hasil Pemilu Legislatif dan rangkaian berikutnya lagi, yang di sana sini kita mengetahui ada masa-masa yang rawan, ada masa-masa yang critical. Kita berdoa semoga, sebagaimana yang telah kita capai hingga hari ini, ke depan pun semuanya bisa berjalan dengan aman, tertib, dan lancar.
Doa kita yang pertama, saya mohonkan nanti bagi yang memimpin doa, kita mulai dari permohonan kepada Allah SWT, agar keseluruhan pelaksanaan Pemilu 2009 di tanah air kita ini, betul-betul mencapai tiga sasaran tadi, sehingga membawa manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia, mengukir sejarah bagi perjalanan demokrasi kita, menaikan kembali citra kita pada forum internasional. Itu konteks pertama yang mari kita bersama-sama dengan khusuk nanti kita memohon doa kepada Allah SWT.
Yang kedua, saya perlu mengangkat masalah ini, karena kalau tidak kita letakan dalam bingkai pemikiran yang jernih, yang rasional bisa menganggu pikiran sebagian di antara kita. Kewajiban saya sebagai Kepala Negara, sebagaimana yang saya sampaikan selama dua, tiga hari ini untuk mengangkat masalah ini, meletakannya dalam konteksnya yang benar. Sehingga tidak perlu menimbulkan kekhawatiran, kecemasan, kecurigaan di antara kita, yaitu isu yang tiba-tiba mencuat minggu-minggu terakhir ini tentang Pemilu bisa curang.
Saya mengatakan, kalau isu ini diangkat sebagai upaya kewaspadaan dengan niat yang baik, mari kita jalankan, kita selenggarakan Pemilu ini dan jangan sampai ada kecurangan, saya mendukung 100% itulah hati dan pikiran kita bersama, dan tentunya baik bagi semua untuk memastikan semuanya itu betul-betul berjalan dengan baik, tanpa kecurangan sedikit pun. Namun isu kalau kecurangan ini diangkat-angkat, dengan tujuan yang tidak sehat, disertai dengan provokasi dan agitasi menjadi tidak baik. Apalagi kalau belum-belum, ah pasti curang, yang curang Pemerintah dan seterusnya. Mengapa? Mari saya jelaskan keseluruhan tatanan Undang-Undang, mekanisme dan sisi-sisi teknis penyelenggaraan Pemilu ini.
Saudara-saudara,
Lembaga-lembaga yang bertugas KPU, KPUD dengan jajarannnya, Bawaslu, Panwaslu dengan jajarannya, lembaga-lembaga lain Mahkamah Konstitusi, Mahkamah Agung, Kepolisian, Kejaksaan, Pemerintah Daerah, semua menjalankan amanah Undang-Undang, Undang-Undang Pemilu. Undang-undang itu sendiri disusun secara bersama-sama, berbulan-bulan dibicarakan oleh Pemerintah dan Dwan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Siapa DPR RI itu? DPR RI adalah yang representasi dari partai-partai politik yang memiliki kepentingan agar pemilihan umum tahun 2009 ini berjalan baik, tanpa kecurangan. Structurally, fundemantally dari sisi instrumen awal, yaitu Undang-Undang yang disusun bersama-sama sudah dibuat sedemikian rupa untuk tidak ada ruang, tidak ada celah untuk terjadinya kecurangan.
Yang lain, kalau kita jernih, curangnya kira-kira dimana, jalan menuju kecurangan itu seperti apa pula. Kalau pemerintah kan bisa saja curang. Pemerintah ini siapa? Mungkin dulu sekali ketika pemerintahan itu berasal dari satu partai politik, misalnya, Presidennya, Wakil Presidennya, Menteri-menterinya, Gubernurnya, Bupatinya, Walikotanya, itu dari satu partai politik bisa saja orang berpikir, jangan-jangan ada rekayasa, jangan-jangan ada penyiasatan ini, itu, akhirnya hanya memenangkan oleh partai politik yang diawaki oleh Pemerintah. Meskipun main tuduh sembarangan juga bukan cerminan akhlak yang baik. Tapi barangkali masih ada mungkin juga masih ada yang seperti itu.
Sekarang Presiden dan Wakil Presiden berasal dari partai politik yang berbeda. Kalau pun ada niat, dan bagi saya sebagai orang muslim it is unthinkable, tidak ada niat, tidak ada pikiran, tidak ada hati untuk curang. Pertanggungjawaban di akherat nantinya luar biasa beratnya. Menteri-menterinya bermacam-macam partai politiknya, Gubernur, Wakil Gubernurnya bermacam-macam, Bupati, Wakil Bupati, Walikota, Wakil Walikota bermacam-macam. Jalan seperti apa, Pemerintah lantas dianggap curang? Itu dari segi kalau boleh dikatakan pikirannya, niat. Justru jajaran Pemerintah yang hampir semua partai politik ada, itu sudah merupakan penyeimbang, saling mengawasi, saling mengontrol, mungkin dalam arti yang lebih luas juga bagian check and balances yang lebih luas lagi.
Sekarang TPS katakanlah, penghitungan berlapis-lapis pengawasan di situ, ada unsur KPUD, ada unsur Bawaslu dan Panwaslu, ada unsur partai-partai politik peserta Pemilu sebagai saksi, ada unsur Kepolisian dan pemantau yang lain. Itu pun kalau ada kenekatan untuk melakukan kecurangan dan kecurangan itu dari siapa. Juga tidak semudah yang dibayangkan, naik ke Kecamatan dan seterusnya, dan seterusnya, semua ingin mengawal perolehan suaranya, terus sampai pada tingkat pusat.
KPU independen, Bawaslu independen. Dulu barangkali penyelenggaranya Pemerintah, Presiden, sekarang KPU tidak bertanggung jawab kepada Presiden. KPU tidak di bawah Presiden. KPU hanya melapor perkembangan kepada Presiden dan Ketua DPR begitu amanah Undang-Undang. Jadi dari situ terlalu latah, kalau ah pasti curang, curang, curang dan sebagainya. Ini sisi yang harus kita waspadai.
Ada juga, kalau saya harus jujur di hadapan Allah, mungkin ada sebagian yang, wah jangan-jangan kok meleset capaian yang ingin saya capai. Jangan-jangan perolehan partai politik saya kok kurang mencapai sasaran, bagaimana ini mungkin ada kenakalan, godaan, sebagian ah udah lah, kita bikin saja Pemilu curang ini.
Bisa saja, meskipun saya yakin semua saudara-saudara partai politik manapun, pemimpin manapun, tokoh manapun, apalagi jajaran Pemerintah Gubernur, Bupati, Walikota, mereka punya harga diri, mereka punya kehormatan, mereka punya moralitas, tidak semudah itu untuk mengatakan curang, curang, curang. Tetapi harus kita letakan semua dalam bingkai yang wajar. Oleh karena itu, doa yang kedua nanti, mari memohon kepada Allah ditiadakan betul kecurangan di negeri ini, sekhusuk-khusuknya dan ditiadakan saling curiga karena isu kecurangan ini. Marilah kita mohon betul-betul kepada Allah pada malam hari ini, supaya tidak ada keonaran di antara kita gara-gara isu yang dilemparkan dengan motif-motif yang menurut saya tidak baik, kalau tujuannya untuk mencari justifikasi, manakala perolehan suara peserta pemilu itu tidak memuaskan. Tapi kalau untuk kewaspadaan saya bersyukur ada yang mengingatkan di negeri ini, jangan sampai pemilu ini curang. Itu doa kedua yang mari secara khusuk nanti kita mohonkan.
Berkaitan dengan isu kecurangan itu, kita mendengar diberbagai kampanye saya mengikuti, website, internet, pernyataan, laporan perkembangan keadaan jajaran pemerintahan, Lembaga-lembaga Intelijen Negara, Kepolisian, ada kemungkinan gangguan keamanan, yang berkaitan dengan isu Pemilu curang ini. Saya telah mengatakan, janganlah kita biarkan negara kita mundur kembali. Bertahun-tahun kita membangun keamanan, stabilitas, ketertiban publik di negeri ini, untuk menimbulkan ketentraman bagi semua. Rakyat kita ingin hidup tentram, saudara kita ingin bekerja dari hari ke hari dengan baik, yang berdagang-berdagang, yang bersekolah bisa bersekolah, yang mengemudi taksi bisa mengemudi taksinya untuk kehidupan sehari-harinya, petani bertani, nelayan melaksanakan kegiatan mencari ikan dan sebagainya. Mereka sudah bersyukur dengan keadaan keamanan yang makin membaik di seluruh tanah air, termasuk kegiatan dunia usaha, kegiatan ekonomi yang tentunya juga makin tumbuh berkembang, kalau keamanannya ini baik. Citra kita di luar negeri, lihat itu Indonesia demokrasinya makin hidup, penghormatan pada hak asasi manusia tegak, rule of law dijalankan, pemberantasan korupsi berjalan, tetapi ekonominya juga tumbuh, karena stabilitas dan keamanan dalam negerinya pun makin membaik.
Akankah kita korbankan, semuanya ini dengan ketidakpuasan akibat Pemilu. Adalah tugas sejarah amanah bagi saya selaku Kepala Negara untuk melakukan semua upaya untuk mencegah, mencegah dan mencegah setiap pikiran, apalagi tindakan yang ingin mengganggu keamanan, ketertiban selama atau pasca Pemilu 2009 ini.
Tidakkah Undang-Undang kita mengatur dengan gamblang, apabila ada protes, apabila ada keberatan, apabila ada pengaduan dan lain-lain, mestinya cara-cara yang demokratis itu, cara-cara yang civilized itu, cara-cara yang bertumpu pada supremasi hukum, itulah yang harus kita jalankan, diwadahi semuanya.
Waktu saya menggelar pertemuan, konsultasi dan koordinasi di Istana Negara, semua sudah siap untuk memproses, untuk menangani perkara-perkara seperti itu, mulai dari Kepolisian, Kejaksaan, Mahkamah Konstitusi maupun Mahkamah Agung.
Tidak ada alasan apapun untuk memilih caranya sendiri, apalagi mengorbankan kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Saya memang mengatakan, kita pernah punya sejarah kelam dalam perjalanan kehidupan negeri ini, yaitu peristiwa mei 1998. Menangis kita, runtuh sudah bangunan peradaban kita, waktu itu, dunia mencatat ada satu sejarah kelam di Indonesia. Kita berusaha sekuat tenaga memulihkan keadaan, alhamdulilah berkat kerja keras kita semua, termasuk apa yang diupayakan oleh Presiden-Presiden sebelum saya. Kita semua telah bisa memperbaiki keadaan ini, haruskah kita harus lengah dan kemudian terjadi gangguan atau tragedi seperti itu? Mari benar-benar tanpa kita menyeram-nyeramkan keadaan, tapi kita tetap berpikir optimis, berpikir positif, tidak lengah dan mengawal keseluruhan proses Pemilu ini.
Oleh karena itu, doa yang ketiga, marilah kita mohonkan kepada Allah berikan keselamatan, sungguh-sungguh keselamatan dan keamanan bagi negeri kita dan jangan biarkan di antara kita akan berpikir anarkis, ada yang punya niat untuk melakukan kekerasan dan gangguan-gangguan keamanan yang mencoreng perjalanan demokrasi di negeri tercinta ini. Itu yang ketiga.
Yang keempat adalah Bapak, Ibu, hadirin-hadirat yang saya muliakan, dalam musim Pemilu seperti ini, biasanya ada godaan-godaan untuk menjalankan politik yang tidak amanah, menghalalkan segala cara, fitnah dan sebagainya. Minggu tenang tahun 2004, meskipun sebelumnya saya mendapatkan hujan fitnah, tapi justru pada minggu tenang ada sebuah buletin yang diedarkan secara luas, saya membacanya di Jawa Timur, ketika saya mohon restu Ibunda saya yang ada di Blitar waktu itu, yang mengabarkan berita yang seperti halillintar di siang bolong. Masih ingat, jangan pilih SBY begitu katanya, karena SBY sebelum masuk Akademi Militer sudah menikah dan punya dua orang anak. Harapanya rakyat balik kanan, dan kemudian tamatlah sudah riwayat SBY, fitnah.
Ternyata sebagian dari saudara kita masih tergoda untuk melaksanakan fitnah politik-politik yang mudah. Kalau negative campaign barangkali ya begitulah memang kompetisi suka keras. Black campaign itu sudah lampu kuning, apalagi fitnah lampu merah. Meskipun ini saya tidak ingin membicarakan di luar dan pers tolong tidak usah diangkat ini.
Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba di minggu tenang ini, gambar saya, gambar Edhie Baskoro masuk di berbagai media, termasuk saya lihat di media internasional dengan tuduhan money politics. Dua orang katanya menerima sepuluh ribu dan satu orang menerima lima puluh ribu.
Lagi-lagi sesuatu yang sangat menyakitkan di minggu tenang, tuduhan kepada hamba Allah yang jangankan berpikir, tidak pernah terlintas untuk memberi sepuluh ribu dan lima puluh ribu hanya untuk memenangkan Pemilu ini. Edhie Baskoro saya anggap wajar mengadukan kepada pihak yang berwajib, karena pencemaran nama ini sungguh luar biasa dan gambar saya pun ikut dipajang di situ ikut mencuat kemana-mana untuk mendapatkan keadilan.
Maksud saya ada fitnah juga sekarang ini. Alhamdulillah saya tahu bahwa, yang bersalah ini sesungguhnya ada dua, tiga orang di Ponorogo kebetulan dua-duanya berasal dari partai politik yang berbeda. Dan saya pelajari kasusnya, yaitu sesungguhnya tidak ada niat dari media massa, media massa tidak boleh dimasukan dalam wilayah seperti itu, karena saya selama ini kalau ada masalah dengan media massa, saya gunakan hak jawab, sebagaimana mekanisme jurnalisme. Oleh karena itu, saya bersyukur, saya pantau Kepolisian betul-betul tidak keluar dan tidak kemana-mana hanya mencari tahu seperti itu.
Kita serahkan kepada keadilan dan tegaknya hukum karena sangat menyakitkan, merusak kehormatan dan harga diri. Kami ini juga fitnah yang terjadi sekarang ini. Saya kira akan, ini bukan doa mungkin akan banyak lagi fitnah-fitnah di masa datang, bukan hanya kepada kami, kepada yang lain, kepada pihak lain, kepada negara, kepada Pemerintah, kepada siapa pun. Mari doa yang keempat, nanti benar-benar kita mohonkan, agar berikanlah ya Allah jalan yang benar, jalan yang diridhoi Allah bagaimana berpolitik yang baik, yang tidak menghalalkan segala cara yang jauh dari fitnah dan perilaku-perilaku buruk, serta tidak terpuji itu. Itulah yang keempat.
Dan khusus yang kelima ini, ijinkan saya berbicara secara terbatas dalam kapasitas saya sebagai salah satu anggota Keluarga Besar Partai Demokrat. Kalau ini doanya sunah, doanya bagi yang Keluarga Besar Partai Demokrat, yang lain 4 itu saja. Yang satu ini, mohon kepada Allah, agar perjuangan Partai Demokrat yang sudah berlangsung sekian lama, lima tahun, dua tahun terakhir, siang dan malam saya tahu kader-kader berjuang ke seluruh wilayah Indonesia semoga diridhoi oleh Allah SWT, dan semoga terus dibimbing untuk menjalankan politik yang baik, politik yang amanah, politik yang membawa kemaslahatan bagi kita semua.
Saya kira itulah yang ingin saya sampaikan. Tetapi khusus yang terakhir itu saya kira doa tambahan bagi Keluarga Besar Partai Demokrat. Tetapi yang wajib adalah yang empat tadi.
Demikianlah yang ingin saya sampaikan. Masa depan bangsa ini ada di tangan kita semua, bangsa Indonesia. Marilah kita selalau berserah diri ke hadirat Allah SWT, memohon petunjuk dan bimbingan, memohon ridho, diberikan jalan, jalan Allah, agar semua rintangan, godaan, tantangan dapat kita atasi dengan baik, dan bukan hanya Pemilu ini, tetapi kehidupan dan perjalanan kita bangsa mendapatkan jalan terbaik, sehingga insya Allah pada saatnya negara benar-benar jadi negara yang maju, negara yang bermartabat dan negara yang sejahtera.
Demikianlah saya persilakan setelah ini untuk dipimpin doa, dzikir bersama-sama. Dan kemudian setelahnya nanti sebagai tuan rumah, kami menyajikan nasi kotak, saya enggak tahu isinya apa ini. Dan setelah itu kita bisa kembali menjalani tugas konstitusi, jangan golput.
Para wartawan besok saya dengar juga akan memilih terlebih dahulu sebelum menyaksikan saya akan memilih di TPS, di Sekolah Alam jam 11 pagi, besok.
Dulu memang para wartawan memilih di sini sampai lebih 86, itulah ada isu politik ada penggelembungan 86 suara, padahal wartawan yang memilih di sebelah TPS itu. Sekarang tidak memungkinkan, karena cadangan kartu hanya 8. 8 itu bukan untuk yang pindah ke TPS, tetapi kalau ada kerusakan kartu diganti dengan itu.
Saya senang tadi dapat informasi bahwa para wartawan yang akan datang ke sini, pagi-pagi memilih dulu di tempatnya masing-masing, kemudian bisa datang ke sini untuk meliput aktivitas Pemilu di Cikeas dan sekitarnya ini. Demikianlah semoga sekali lagi, Tuhan Yang Maha Besar, Allah SWT selalu membimbing perjalanan kita semua menuju hari esok yang lebih baik.
Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



